Anda di halaman 1dari 7

Inspeksi aurikula, posisi telinga, dan mastoid.

Pemeriksaan meatus
auditorius externus, membran timpani dengan otoskop (4A)

1. Menyapa pasien
2. Perkenalkan Diri
3. Tanya identitas pasien
4. Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan
5. MInta pasien mengikuti instruksi yang diberikan
6. Siapkan alat yaitu otoskop
7. Cuci tangan
8. Gunakan Handschoen
9. Minta pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa, dengan kaki kanan
pemeriksa menyentuh kaki kanan pasien.
10. Periksa telinga yang sehat
terlebih dahulu. Jika telinga kiri, maka minta pasien menoleh ke kanan
11. Inspeksi telinga luar yaitu
pinna/daun telinga. Perhatikan ukuran, bentuk, posisi (harusnya di
tengah, jika bengkok/terdorong kedepan mungkin ada abses/tumor),
ada tidaknya deformitas (jaringan parut, nodul seperti tofi pada gout,
lesi, perubahan warna), ada tidaknya cairan keluar (serous, mucous,
purulen, bau/tidak)
12. Inspeksi mastoid: ada tidak
perubahan warna, abses, fluktuasi, fistula
13. Palpasi struktur telinga luar
dengan menarik pinna kearah posterosuperior dengan menggunakan
ibujari dan telunjuk pemeriksa. Nilai nyeri tekan, benjolan, jaringan
parut. Jika ada nyeri tekan kemungkinan besar infeksi telinga luar.
Palpasi juga telinga posterior, tarqus dan ujung tulang mastoid.
14. Pemeriksaan otoskopi : untuk
memeriksa telinga tengah
- Periksa telinga satu persatu. Minta pasien menoleh ke sisi yang
tidak diperiksa.
- Jika memeriksa telinga kanan, tangan kiri pemeriksa menarik pinna
ke posterosuperior dan tangan kanan memegang otoskop dan
memasukkan ke lubang telinga. Pada anak-anak kanal harus
diluruskan dengan menarik pinna posteroinferior. Pegang otoskop
seperti pensil (otoskop diantara ibu jari dan telunjuk, sedangkan sisi
ulnar tangan bersandar di wajah pasien.
- Inspeksi kanalis eksternus/liang telinga: nilai lapang/sempit, ada
tidaknya tanda radang yaitu bengkak, kemerahan/eritema,
ekskoriasi. Perhatikan dinding kanalis apakah ada corpus
alienum/benda asing, serumen, bekuan darah, tumor, jamur. Nilai
tumor: permukaan licin/berdungkul, ukuran, mobile/tidak, mudah
berdarah/tidak.
- Jika ada serumen yang menyumbat lubang telinga harus
dikeluarkan. Jika konsistensinya cair bisa dibersihkan dengan pelilit
kapas. Jika konsistensi lunak atau liat dibersihkan dengan pengait
serumen. Jika berbentuk lempengan dikeluarkan dengan pinset. Bila
serumen sangat keras dan menyumbat seluruh lubang telinga,
dilunakkan dulu dengan minyak atau karbogliserin.
- Inspeksi membrane timpani: Catat warna, keutuhan, transparansi,
posisi bagian penting membrane timpani. Normalnya berbentuk
oval selaput utuh/intak, transparan, abu-abu/putih mengkilat seperti
mutiara. Jika membrane timpani menjadi pudar, merah, kuning ini
menandakan abnormalitas. Jika membrane timpani ada perforasi
(sentral, marginal) menandakan ada trauma atau infeksi. Posisi
normal membrane timpani adalah miring terhadap kanalis
eksternus. Penonjolan membrane timpani menandakan ada cairan
atau pus di dalam telinga tengah (otitis media). Retraksi membrane
timpani menandakan tekanan ruang intratimpani berkurang
misalnya karena tuba eustakius tersumbat. Refleks cahaya
normalnya ada. Pada telinga kanan reflex cahaya ditemukan pada
arah jam 5, sedangkan pada telinga kiri ditemukan pada arah jam 7.
- Periksa telinga kiri dengan memegang otoskop menggunakan
tangan kiri, dan tangan kanan menarik pinna ke posterosuperior.
15. Ketajaman pendengaran:
- Tes bisik: minta pasien menutup mata. Dekatkan jam tangan ke
salah satu telinga yang diperiksa. Tanya pasien apakah mendengar
sesuatu atau tidak.
- Tes Rinne
- Tes Weber
- Tes Swabach
Inspeksi bentuk hidung dan lubang hidung, Rinoskopi Anterior, Transluminasi sinus (4A), Rinoskopi
Posterior (3)

1. Menyapa pasien
2. Perkenalkan Diri
3. Tanya identitas pasien
4. Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan
5. MInta pasien mengikuti instruksi yang diberikan
6. Siapkan alat yaitu lampu kepala, speculum hidung
7. Cuci tangan
8. Gunakan Handschoen
9. Minta pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa, dengan kaki kanan
pemeriksa menyentuh kaki kanan pasien.
10. Pasang lampu kepala
11. Inspeksi hidung bagian luar: nilai
bentuk (kelainan anatomi/tidak), simetrisitas, ada deviasi/tidak, ada
hidung pelana/tidak, perubahan warna, nodul, lesi, jaringan parut,
lubang hdung, secret yang keluar
12. Palpasi:
- Hidung: pada tulang rawan hidung ada krepitasi/tidak
- Sinus: Palpasi daerah maksilaris dan frontalis dengan ibu jari dan
dinilai ada tidak nyeri tekan. Jika ada menunjukkan tanda inflmasi
(sinusitis). Palpasi juga os nasal apakah ada krepitasi dan nyeri tekan
13. Pemeriksaan dalam/rinoskopi
anterior
- Minta pasien mendongakkan kepala sedikit tapi pemeriksa dominan
yang bergerak, periksa hidung satu persatu.
- Gunakan speculum hidung dipegang dengan tangan kiri (baik saat
periksa hidung kiri dan kanan) dengan posisi horizontal.
- Masukkan speculum perlahan-lahan ke hidung pasien dalam kondisi
tertutup. Setelah di dalam hidung, buka perlahan-lahan. Jari
telunjuk kiri pemeriksa diletakkan di puncak hidung untuk fiksasi.
- Arahkan lampu kepala ke dalam hidung
- Periksa cavum nasi (lapang/sempit, perdarahan, corpus alienum).
Jika sempit, perlu dimasukkan kapas tampon adrenalin pantokain
selama beberapa menit untuk mengurangi edema mukosa
- septum nasi melihat adanya deviasi/tidak (bentuk C, S) dan
perforasi. Ada tidak spina (tonjolan pendek tidak sampai ke
belakang, bisanya di inferior kalau mengupil bisa berdarah) dan
krista (tonjolan bisa lancip/tumpulsampai ke belakang)
- warna membran mukosa
merah muda normalnya
ungu/hiperemis dari mukosa sekitar karena hipervaskulariasi
pucat karena kurangnya vaskularisasi,
- adanya ?ecret (serous/encer, mucous/kental, purulen/nanah)
- konka:
dekongesti (normal),
kongest (akut)i: jika konka >1/3 kavum nasi, hidung
tersumbat, konka mulus tidak bergerigi, jika diberi
vasokontriktor akan mengecil
hipertrofi (kronis): jika jika konka >1/3 kavum nasi, hidung
tersumbat, konka bergerigi ada benjol2, jika diberi
vasokontriktor tidak mengecil
- massa (misal polip sering di meatus media, warnanya putih,
permukaan licin)
- Saat mengeluarkan speculum jangan ditutup di dalam hidung agar
tidak terjepit bulu hidungnya.
14. Transluminasi Sinus/Dianoskopi
(jarang dilakukan)
- Dilakukan jika pasien menunjukkan masalah sinus
- Pemeriksaan dilakukan di kamar gelap
- Sumber cahaya diletakkan di mulut pasien disisi palate durum lalu
bibir dikatupkan. Normalnya akan terlihat sinar samar-samar bentuk
bulan sabit dibawah kedua mata (sinus maksilaris). Jika ada cairan,
massa, penebalan mukosa maka sinarnya berkurang.
- Cara lain memeriksa sinus maksilaris adalah pasien diminta buka
mulut. Arahkan lapu senter kebawah di sinus maksilaris (bagian
pipi dibawah mata). Lihat apakah ada sinar di palatum durum.
Normalnya ada
- Pemeriksaan sinus frontalis dilakukan dengan meletakkan lampu
senter keatas pada bagian bawah alis mata. Lihat sinarnya diatas
mata.
15.Rinoskopi posterior: untuk memeriksa bagian belakang hidung dan nasofaring
- Siapkan spatula lidah, kaca nasofaring, spiritus
- Hangatkan kaca nasofaring diatas api spiritus (tidak boleh lebih dari 3
detik) untuk mencegah udara pernapasan mengembun pada kaca
- Tes suhu kaca dengan meletakkan pada bagian belakang tangan kiri
pemeriksa
- Minta pasien membuka mulut dan lidah 2/3 anterior ditekan dengan
spatula lidah yang dipegang dengan tangan kiri ( cara memegang : ibu
jari dibawah spatula dan jari lain diatas
- Minta pasien bernapas lewat mulut agar uvula terangkat keatas
- Kaca nasofaring yang menghadap keatas dimasukkan dibawah uvula dan
masuk ke nasofaring. Jangan sampai mengenai faring karena aka nada
refleks muntah
- Setelah kaca berada di nasofaring, minta pasien bernafas dengan hidung
agar uvula turun sehingga rongga nasofaring terbuka lagi
- Arahkan cahaya lampu kepala kea rah kaca nasofaring
- Nilai septum, koana dan adenoid. Apakah ada secret, masa,
pembengkakan. Putar kaca nasofaring kaearah lateral untuk menilai konka
superior, media dan inferior serta meatus superior dan media.
Pemeriksaan Mulut dan Tenggorok
1. Menyapa pasien
2. Perkenalkan Diri
3. Tanya identitas pasien
4. Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan
5. MInta pasien mengikuti instruksi yang diberikan
6. Siapkan alat yaitu lampu kepala, spatula lidah
7. Cuci tangan
8. Gunakan Handschoen
9. Minta pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa, dengan kaki kanan
pemeriksa menyentuh kaki kanan pasien.
10. Pasang lampu kepala
- Gunakan lampu kepala dengan menyesuaikan sabuk lampu kepala
sesuai ukuran
- Posisikan tabung diantara kedua mata
- Kunci sabuk lampu kepala
- Nyalakan lampu kepala dengan kekuatan 6 volt
- Letakkan telapak tangan pada jarak 30 cm di depan mata
- Atur proyeksi cahaya + 1 cm bentuk bulat
- Tempatkan proyeksi cahaya dan proyeksi tabung medial saling
bersinggungan
11. Periksa mulut dan orofaring
- Nilai ada tidak sianosis di wajah, ada dispnea, stridor, suara
- Periksa adanya trismus (kesulitan membuka mulut)
- Periksa adanya ptialismus (hipersaliva)
- Periksa gerakan bibir dan sudut bibir (nervus fasialis): nilai adanya
sianosis, lesi bibir,
- Periksa gigi-gigi dan geraham (oral hygiene, caries, calculus,
perubahan warna, gigi tanggal)
- Inspeksi gusi: pendarahan, pembengkakan, perubahan warna
abnormal
- Inspeksi mukosa pipi:
- Periksa lidah: paresis nervus XII, atrofi aptae, inspeksi papil lidah
tumor (observasi saat relaks dan saat terjulur baik diatas dan
dibawah lidah)
- Periksa palatum durum, palatum molle, dinding faring, peritonsil,
tonsil palatine dengan menggunakan spatula lidah saat lidah tidak
terjulur. Nilai apakah ada discharge, massa, ulkus, plak putih,
pembengkakan, letak uvula. Minta pasien buka mulut dan
mengatakan aaaa. Pemeriksaan dilakukan dengan lidah tidak
terjulur. Spatula lidah dipegang dengan tangan kanan dan ditekan
di sepertiga tengah lidah.
Nilai tonsil palatin: ukuran T1 (<25%), T2 (25-50%), T3 (50-
75%), T4 (>75%). Permukaan rata atau ada detritus (bercak
putih), warna hiperemis/merah mua, simetrisitas kiri dan
kanan
Nilai dinding belakang : adanya granula hipertrofi, ada post
nasal drip
Nilai mukosa: apakah merah muda/hyperemia
- Palpasi lidah jika ada ulkus. Tangan kiri memegang lidah agar tetap
terjulur di dalam kasa sedangkan tangan kanan yang mempalpasi.
Angkat lidah dan palpasi bagian bawah lidah. Nilai apakah ada
indurasi/ pengerasan,
- Lakukan perkusi pada gigi dan geraham dengan spatula lidah. Nilai
adanya nyeri ketok
- Periksa mobilitas tonsil dengan 2 spatula lidah
12.Laringoskopi Indirek (tidak langsung lewat cermin )
- Siapkan kaca laing, spiritus
- Hangatkan kaca laring diatas api spiritus dan coba di kulit tangan kiri
pemeriksa
- Jika sudah siap, minta pasien buka mulut dan julurkan lidah lalu suruh
benapas lewat mulut agar uvula bergerak keatas
- Lidah dipegang dengan tangan kiri memakai kain kasa agar radiks linguae
bergerak ke ventral
- Kaca laring dimasukkan dengan arah kaca kebawah ke dalam mulut
dibawah uvula seperti memegang pensil
- Arahkan cahaya ke kaca laring dan lihat daerah hipofaring dan laring.
untuk melihat subglotik pasien diminta inpispirasi dalam. Untuk menilai
pergerakan pita suara, penderita diminta fonasi/inspirasi
- Nilai epiglottis (otot lemah/tidak, hyperemia/tidak), aritenoid, plika
ventrikuloris, plika vokalis (gerak normal/tidak, ada nodul/tidak),
rimaglotis (rongga sebagai pintu masuk)