Anda di halaman 1dari 6

DAMPAK PERNIKAHAN DINI

PADA PERTUMBUHAN ANAK

Bella Juwita Rezky


Matematika, FMIPA, Universitas Sriwijaya
Email: bella.juwita21@gmail.com

Abstrak
Pernikahan yang sukses pasti membutuhkan kedewasaan dan tanggungjawab
secara fisik maupun mental untuk bisa mewujudkan harapan yang ideal dalam kehidupan
berumah tangga. Fenomena pernikahan dibawah umur menimbulkan kontroversi di
masyarakat karena adanya sudut pandang yang berbeda. Pernikahan di bawah umur yang
terjadi dalam masyarakat disebabkan oleh berbagai masalah antara lain masalah
keagamaan, ekonomi dan sosial. Faktor penyebab terjadinya pernikahan di bawah umur
juga dapat ditinjau dari pelaku dan orangtua pelaku. Dari pelaku disebabkan karena
pergaulan bebas dan maraknya pornografi yang mudah diakses. Faktor dari orangtua
kurang perhatian dari orangtua terhadap anak karena orangtua sibuk bekerja, orangtua
single parent karena perceraian dan orangtua menikah lagi, minimnya pengetahuan
agama dan pengamalan karena lingkungan tempat tinggal kurang mendukung. Banyak
dampak negatif akibat pernikahan anak ini, mulai dari masalah psikologis pada anak
tersebut sampai rusaknya hubungan yang telah terjalin.

Kata kunci: Dampak, Pernikahan, Pertumbuhan, Anak

A. Pendahuluan
Pernikahan merupakan sebuah komitmen yang serius antara pria dan wanita
yang diakui secara sosial untuk melegalkan hubungan seksual, melegitimasi, dan
membesarkan anak, serta membangun pembagian peran diantara sesama pasangan.
Pernikahan sah apabila dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan (Pasal 7 ayat 1) bahwa pernikahan hanya diijinkan jika pihak
pria sudah mencapai umur 19 tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16
tahun. Dalam prakteknya, masih banyak dijumpai pernikahan pada usia muda atau di
bawah umur. Sementara pernikahan yang sukses pasti membutuhkan kedewasaan dan
tanggungjawab secara fisik maupun mental untuk bisa mewujudkan harapan yang
ideal dalam kehidupan berumah tangga. Fenomena pernikahan dibawah umur
menimbulkan kontroversi di masyarakat karena adanya sudut pandang yang berbeda.
Tradisi nikah usia dini ini masih berlangsung sampai sekarang, meskipun beberapa
tahun terakhir jumlahnya semakin sedikit. Muncul berbagai permasalahan, karena
pasangan tersebut secara psikologis belum siap untuk menghadapi kehidupan baru
dalam sebuah rumahtangga.
Kegagalan suatu rumah tangga disebabkan oleh berbagai macam, sebagian
besar disebabkan oleh kurangnya saling pengertian, penerimaan terhadap
pasangannya, tidak ada kepercayaan, tidak ada kebersamaan dalam menerima kondisi
dan permasalahan yang dihadapi keluarga, ketidakcocokan dan ingin saling
menguasai sehingga menimbulkan percekcokan dengan pasangannya. Hilangnya
peran dari salah satu pasangan hidup yang disebabkan karena sakit, meninggalkan
keluarga tanpa ada kabar berita, meninggalkan tanggung jawab menjadi indikator
ketidakharmonisan dalam keluarga. Remaja yang nakal relatif lebih mungkin berasal
dari rumah tangga yang bercerai daripada yang utuh. Anak-anak dari rumah tangga
seorang janda atau duda hampir 50% kemungkinan menjadi nakal daripada rumah
tangga yang utuh. Selanjutnya anak-anak dari rumah tangga yang terpisah akan
menghasilkan remaja nakal hampir dua kali lebih tinggi daripada kemungkinan
bahwa suatu rumah tangga yang utuh akan menghasilkan seorang remaja yang nakal.
Negara secara jelas telah mengatur batas umur bagi seseorang yang ingin menikah,
yang tertuang dalam Udang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 pasal 7 ayat 1.
Batasan usia yang ditetapkan tidak sama dengan batasan yang dipakai ukuran
para ulama. Di samping itu lingkungan tempat tinggal juga berpengaruh terhadap
kebiasaan nikah. Adat perkawinan satu daerah dengan daerah lain ada yang memiliki
kemiripan dan ada yang berbeda. Di suatu daerah pernikahan usia muda sudah
membudaya, namun di daerah lain pernikahan usia muda jarang terjadi. Pengaruh
pesatnya perkembangan industri di suatu daerah menyebabkan kecenderungan orang
untuk menunda perkawinan, pada umumnya ini terjadi di perkotaan. Pada komunitas
ini pernikahan di bawah umur dilakukan karena akibat pergaulan bebas, sehingga
hamil, dan terpaksa kawin untuk menutup aib keluarga. Bila sudah demikian, harus
segera dicari jalan keluar, pemecahan masalah adalah proses dimana berusaha
menemukan cara-cara mencapai suatu tujuan yang tampaknya tidak langsung didapat.
Dalam kehidupan rumah tangga cara penyelesaian masalah adalah jalan atau
upaya yang ditempuh oleh suami/istri untuk dapat seiring sejalan mewujudkan
kehidupan yang harmonis, saling memahami, saling pengertian, saling percaya dan
dapat berbagi dalam rasa maupun pekerjaan, saling menghargai dan menghormati,
bersama-sama dalam penyelesaian urusan keluarga, baik keluarga inti maupun
keluarga luasnya atau sebaliknya cara penyelesaian masalah karena salah satu di
antara suami/ istri merasa tidak bisa hidup bersama lagi. Pola pengambilan keputusan
melalui proses, bisa dalam waktu singkat suatu persoalan bisa teratasi, bisa juga
memakan waktu cukup lama dan berbeli-belit. Dalam keluarga inti pola pengambilan
keputusan cenderung lebih gampang mencapai kesepakatan dalam pengambilan
keputusan dibanding keluarga luas, karena dalam keluarga luas lebih banyak
pertimbangan.
B. Faktor Pendorong Pernikahan Anak
Pernikahan anak merupakan masalah sosial dan ekonomi, yang diperumit
dengan tradisi dan budaya dalam kelompok masyarakat. Beberapa orang memandang
bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Tuhan, termasuk dalam hal rezeki.
Asalkan orang mau bekerja, pasti akan ada rezeki. Pandangan ini berimplikasi pula
dalam praktik perkawinan. Orang tua menjadi cenderung membiarkan anak untuk
memutuskan memilih menikah dibandingkan melanjutkan pendidikan. Orang tua
percaya, asalkan anak-anak mereka mau berusaha dan bekerja apapun, maka pasti
akan ada jalan rezeki bagi mereka.
Sebagian masyarakat yang tinggal pada lingkungan dengan hasil bumi
melimpah akan lebih memilih untuk turun menggali hasil bumi dibandingkan
sekolah, yang dipandang hanya menghabiskan uang dan waktu saja. Karena kondisi
alamyang sangat memanjakan inilah masyarakat tidak memiliki kekhawatiran
terhadap masa depan anak-anak mereka meskipun tidak mengenyam pendidikan. Hal
ini juga mendorong terjadinya pernikahan di bawah umur. Banyak di antara mereka
yang tidak selesai sekolah, karena memilih bekerja di pengolahan bumi bagi yang
laki-laki, maupun dinikahkan bagi yang perempuan.
Pernikahan di bawah umur banyak dilakukan oleh masyarakat yang pada
umumnya berpendidikan rendah. Orang tua sama sekali tidak melarang ketika anak-
anak mereka memilih untuk bekerja atau menikah di usia muda. Anak-anak yang
bekerja merasa telah memiliki penghasilan, maka tidak menjadi masalah untuk
menikah muda.
Perkawinan di bawah umur dipicu oleh adanya toleransi terhadap
penyimpangan aturan dalam perkawinan, di mana sesuai aturan, pasangan calon
pengantin yang sekurang-kurangnya berusia 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun
bagi perempuan, disiasati dengan mengubah data diri. Toleransi ini dilakukan oleh
petugas baik di kelurahan maupun di KUA karena adanya tekanan dari masyarakat
untuk mengikuti kehendak mereka.
Perkembangan teknologi modern ke lingkungan masyarakat cukup
mempengaruhi pergaulan remaja. Orang tua merasa kesulitan untuk mengawasi
pergaulan anak-anak mereka. Hal ini mendorong orang tua segera menikahkan anak-
anak mereka dari pada terlibat pergaulan yang lebih bebas. Orang tua merasa lebih
baik anak-anak mereka dinikahkan, meskipun masih belia, dari pada terjebak
pergaulan yang melanggar norma-norma agama.
Pola keluarga besar yang dianut kebanyakan masyarakat, yakni dalam satu
lingkungan keluarga terdiri dari beberapa rumah tangga dari anak-menantu mereka
juga berpengaruh terhadap praktik perkawinan di bawah umur. Keluarga-keluarga
muda merasa nyaman hidup dalam lingkungan orang tua atau mertua mereka. Pola
kekeluargaan yang demikian ini mendorong pula remaja berani memutuskan untuk
menikah muda.
C. Dampak Pernikahan Anak
Menurut Nurhidayatuloh dan Leni Marlina dalam studi kasus di desa
Bulungihit Sumatra Utara, pernikahan di usia muda tidak hanya menimbulkan
dampak negative, namun juga mempunyai dampak positif, seperti anak dapat
meringankan beban orang tua dari segi ekonomi, hilangnya kekhawatiran orang tua,
terhindar dari perbuatan zina, dan kesempatan melahirkan lebih panjang waktunya.
Namun, pernikahan usia muda ini sangat banyak menimbulkan dampak negative,
diakui oleh orangtua yang mengalami problem terkait dengan perkawinan anaknya yang
dilaksanakan secara terpaksa, setelah anaknya menikah merasa lega, terlepas dari
beban moral yang menghimpitnya, tidak lagi menjadi gunjingan para tetangga dan
tanggung jawab pengasuhan anak sudah berkurang karena ada yang bertanggung
jawab terhadap anaknya. Kehadiran cucu dapat meluluhkan hatinya dan mengikis
rasa kecewa yang kadang muncul karena pernikahan anaknya sebenarnya tidak
kehendaki. Bagi suami maupun istri yang masih relative muda mereka masih banyak
membutuhkan dukungan dan bantuan orangtua, mereka belum bisa sepenuhnya
mandiri dalam pengasuhan anak. Perempuan yang menikah diusia 14-15, rasa jenuh,
kadang muncul rasa penyesalan karena tidak lagi bisa leluasa bisa pergi seperti teman
sebayanya yang masih bisa bebas ke mana-mana, sementara dia harus tinggal di
rumah mengurus anak.
Rata-rata nikah di usia muda secara ekonomi belum mapan, suami sebagai
pencari nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga dan mengasuh anak, sehingga
orangtua mereka masih belum melepas sepenuhnya. Pada umumnya setelah menikah
mereka tinggal di rumah orangtua pihak perempuan sehingga suami mengikuti istri
tinggal serumah dengan mertua. Kalaupun ada yang tinggal di rumah orangtua laki-
laki atau mengikuti suaminya tetapi itu sangat jarang. Latar belakang orangtua
mereka tak semuanya orang mampu sehingga ada yang terpaksa mencari pinjaman
atau berhutang ketika mereka harus menikahkan anak secara mendadak. Sehingga tak
banyak keuntungan dari pernikahan anaknya, bahkan beban ekonomi menjadi
bertambah dengan kehadiran cucu, terutama orangtua dari anak perempuan.
Kehadiran menantu dan cucu terjadi perubahan bentuk keluarga dari keluarga inti
menjadi keluarga luas dengan adanya dua keluarga dalam satu rumah. Keterlibatan
orangtua pada umumnya terhadap keluarga muda dalam masalah ekonomi bukan
hanya dominasi keluarga muda dari pernikahan di bawah umur tetapi banyak
keluarga muda yang masih ditopang orangtua mereka, karena masih kuliah dan belum
mapan secara ekonomi. Pada kalangan keluarga muda ini tidak semuanyatinggal
bersama orangtuanya, kalaupun ada paling lama 1 tahun, setelah itu kontrak rumah
atau dibuatkan rumah oleh orangtuanya.
Dampak psikologis bagi orangtua adalah kekecewaan yang cukup mendalam,
karena harapan untuk menikahkan anaknya sebagaimana orangtua lainnya sudah
hilang. Rasa tertekan sangat dirasakan oleh para orangtua terutama ayah dari anak
perempuan yang terpaksa menikah karena hamil. Kekecewaan itu selalu muncul dan
sulit untuk menghilangkan setiap melihat anaknya yang terpaksa kawin muda dan
terpaksa menikah tidak seperti teman yang lainnya. Bagi pelaku perkawinan di bawah
umur secara psikologis menikah di bawah umur belum siap, karena pada usia tersebut
mereka pada dasarnya masih ingin bebas seperti teman-teman yang lain, pergi
sekolah atau bekerja tanpa ada beban tanggung jawab terhadap suami ataupun anak.
Mereka masih labil sehingga kadang merasa resah dan marah-marah tanpa alasan.
Pernikahan usia muda rentan terhadap perselisihan atau percekcokan karena masing-
masing ingin eksistensinya diakui pasangannya.
Disamping itu masing masing ingin diperhatikan dan dimanjakan, ketika
harapan itu tidak terpenuhi maka akan mudah muncul pertengkaran. Perkawinan usia
dini membutuhkan tanggung jawab dan kesabaran, sebab permasalahan kecil dalam
keluarga bisa menimbulkan kesalahpahaman yang berlanjut dengan percekcokan dan
berakhir meninggalkan pasangannya kembali ke rumah orangtuanya dan bisa terjadi
perceraian. Sebagai seorang ibu belum siap, dalam pengasuhan anak mereka belum
bisa mandiri, kewajiban merawat anak masih di tangan orangtuanya. Hubungan
antara suami istri tampak kurang harmonis, setelah menikah dia jarang bepergian dan
bahkan bisa dibilang tidak pernah pergi ke mana-mana. Dia harus pandai-pandai
mengatur uang karena hanya mengandalkan penghasilan suaminya. Suaminya masih
terlalu muda sehingga egonya masih tinggi, dialah yang harus mengalah dan pasrah
dengan keadaan. Terjadinya pernikahan di bawah umur karena kuatnya pengaruh
lingkungan pergaulan, sementara orangtua kurang perhatian terhadap anaknya.
Banyak orangtua yang sibuk bekerja sehingga pengasuhan anak diserahkan kepada
orang lain dan pengawasan kepada anak-anak yang telah menginjak dewasa kurang.
Kebanyakan orang-tua setelah anaknya menginjak remaja atau selepas tamat SD,
orientasi mereka cenderung membekali anak-anaknya dengan memberi les
pendukung pelajaran sekolah, sementara pengetahuan agama tidak lagi diberi ruang.
Padahal, menurut tokoh agama, pendidikan agama di sekolah belum cukup.

D. Kesimpulan
Pernikahan pada usia muda dapat berakibat buruk pada psikologis dan
kehidupan anak yang mengalaminya. Seorang anak yang belum cukup umur belum
dapat mengemban tanggung jawab untuk membina rumah tangga, apalagi jika sudah
memiliki anak. Anak yang seakan-akan terkejut dengan status barunya akan bingung
dalam bertindak dan mengatur dirinya. Sepasang suami-istri yang berusia muda pun
akan rentan terlibat pertengkaran. Sifat anak-anak dan rasa ingin menang sendiri
masih kuat dalam diri anak di bawah umur. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk
menghindari pernikahan di bawah umur ini karena dampak negatif yang ditimbulkan
pada pasangan tersebut dan orang sekitarnya.
Daftar Pustaka
Nurhidayatuloh dan Leni Marlina. 2011. Perkawinan di Bawah Umur Perspektif
HAM: Studi Kasus di Desa Bulungihit, Labuhan Batu, Sumatra Utara. Jurnal
Al-Mawarid. Vol. XI, No. 2.

Sulaiman. 2012. Dominasi Tradisi dalam Perkawinan Bawah Umur. Jurnal Analisa.
Vol. 19, No. 01.

Mawardi, Marmiati. 2012. Problematika Perkawinan di Bawah Umur. Jurnal Analisa.


Vol. 10, No. 02.

Haryanto, Joko Tri. 2012. Fenomena Perkawinan di Bawah Umur: Studi Kasus pada
Masyarakat Cempaka Banjarbaru Kalimantan Selatan. Jurnal Analisa. Vol.
19, No. 01.

Nurhidayatuloh. 2011. Politik Hukum HAM tentang Hak-Hak Politik Perempuan di


Indonesia. Yogyakarta.

Fadlyana, Eddy dan Shinta Larasaty. 2009. Pernikahan Dini dan Permasalahannya.
Jurnal Sari Pediatri. Vol. 11, No. 2.