Anda di halaman 1dari 6

Ciri-ciri bayi baru lahir normal:

1. Keadaan umum: bayi sehat tampak kemerah-merahan, aktif, tonus otot baik, menangis
keras, minum baik.

2. Suhu rectal diukur setiap 30 menit sampai suhu tubuh diatas 36

3. Tiga hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkanair kencing dan
mekonium, sedangkan cairan yang masuk belum cukup.Pada hari ke empat berat badan
akan naik lagi

4. Mekonium berwarna hijau tua yang telah berada di saluran pencernaansejak berumur 16
minggu, akan mulai keluar dalam waktu 24
jam, pengeluaran ini akan berlangsung sampai hari ke 2-3. Pada hari ke 4sampai 5 tinja
menjadi coklat kehijauan. Selanjutnya warna tinjatergantung jenis susu yang
diminumnya.

5. Denyut jantung menit pertama 180 kali/menit lalu turun sampai 140kali/menit 120
kali/menit pada waktu bayi berumur 30 menit.

6. Pernafasan cepat pada menit-menit pertama (kira-kira 80 kali/menit)

(Wahidiyat, 2007)

Menurut dr. Agus Harianto SpA(K) dari Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSUD dr.
Soetomo, bayi dikatakan mengalami asfiksia apabila saat lahir bayi tidak bernapas secara
spontan, adekuat, dan teratur. Bila bayi tidak langsung menangis setelah dilahirkan, biasanya ini
disebabkan karena bayi mengalami kekurangan oksigen akibat paru-paru bayi yang tidak
berkembang dengan baik.

Berikut ini adalah kondisi yang dapat menyebabkan bayi baru lahir mengalami kondisi tidak
menangis atau asfiksia:

Sebelum persalinan
Kondisi ibu sebelum persalinan dapat menjadi penyebab mengapa bayi baru lahir tidak
bernafas dan tidak menangis. Kondisi yang dimaksud diantaranya adalah:
1. Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus
2. Ibu memiliki panggul sempit
3. Terjadi perdarahan antepartum (pendarahan semasa sebelum melahirkan)
4. Ibu mengalami anemia dan penyakit-penyakit infeksi yang mengakibatkan janin
dalam kandungan menderita Retardasi Pertumbuhan dalam Rahim (IUGR)
5. Air ketuban hijau kental
6. Air ketuban bercampur mekoneum
7. Preeklamsia (keracunan kehamilan). Preeklamsia ditandai dengan peningkatan
tekanan darah pembengkakan, dan terjadinya proteinuria.
Asfiksia bisa juga terjadi apabila bayi memiliki kelainan bawaan sejak dalam
kandungan, kehamilan kelebihan bulan, dan malnutrisi di dalam kandungan (intrauterine
growth retardation).
Pada saat persalinan
Bayi juga dapat mengalami kesulitan bernapas dan tidak menangis ketika dilahirkan jika bayi
lahir sungsang dan jalan lahir ibu sempit. Penekanan tali pusar oleh bagian tubuh bayi, bentuk
rahim tidak normal, bayi kembar, dan tumor di rahim juga dapat mengganggu pernapasaan
bayi. Asfiksia juga dapat terjadi jika plasenta atau ari-ari lepas lebih terlebih dulu dan bayi
terlilit tali pusar. Kejadian seperti itu dikenal dengan istilah kalung usus.
Setelah persalinan
Resiko asfiksia atau bayi yang ketika terlahir tidak bernapas secara spontan, rupanya tidak
berakhir dengan sendirinya setelah bayi lahir. Setelah persalinan, asfiksia kemungkinan terjadi
apabila bayi memiliki tumor di paru, menderita penyakit paru berat, terjadi kelainan pada
jantung atau bayi menderita sepsis.
Cara mengatasi
Bila bayi baru lahir tidak menangis dan disertai apnea, maka dokter dapat melakukan tindakan
awal seperti :
1. Menjaga kehangatan bayi dengan cara mengeringkan dan menyelimuti tubuh bayi
2. Menempatkan posisi kepala bayi dengan benar dan membersihkan jalan napas dari lendir,
darah dan air ketuban (yang kadang-kadang bercampur mekonium) sehingga jalan napas
terbuka dan udara yang mengandung O2 dapat masuk ke paru-paru dengan baik.
3. Lakukan rangsangan taktil yakni dengan menepuk atau menyentil telapak kaki dan
menggosok punggung bayi untuk merangsang pernapasan.
Tindakan awal ini harus dilakukan secara sempurna untuk mempertahankan kelangsungan hidup
bayi dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin terjadi. Hal ini penting karena bila bayi
mengalami gangguan pernapasan, pasokan oksigen ke jaringan dan organ tubuh lainnya dapat
terganggu.

Bila asfiksia (kesulitan bernapas di sekitar kelahiran) dibiarkan maka dapat mempengaruhi
fungsi-fungsi tubuh yang lainnya antara lain seperti jantung, otak, pembuluh darah, ginjal dan
organ vital yang lain. Gangguan pada organ tubuh akibat asfiksia dapat timbul 12-24 jam
pertama setelah bayi dilahirkan. Organ tubuh yang paling sering mengalami gangguan adalah
otak dengan gejala utama kejang.

Kekurangan pasokan oksigen juga dapat menyebabkan pembengkakan otak pada bayi. Jika
proses ini tidak ditangani dengan tepat dan berlanjut, maka akan terjadi penyusutan volume
(atropi) otak, ukuran otak menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran otak normal. Kondisi ini
dikenal dengan sebutan mikrosefali. Selain itu, otak dapat pula membubur
(periventrikulerlekomalacia), terutama bila asfiksia terjadi pada bayi prematur yang disertai
dengan kelainan jantung.

Akibat lain yang bisa terjadi pada bayi yang tidak menangis secara spontan saat dilahirkan
adalah pendarahan otak dan hidrosefalus. Apabila terjadi pendarahan otak, maka bayi dapat
mengalami kelumpuhan tipeplastik (kaku). Kelumpuhan dapat berpengaruh pada dua anggota
gerak atau keempat anggota gerak.
Ada lima kriteria untuk menetapkan nilai APGAR dengan skala penilaian dari 0 sampai 2. Lima
kriteria tersebut adalah:

A : Appearance atau warna kulit


P : Pulse (Heart Rate) atau detak jantung
G : Grimace (Reflex Irritability) respon refleks
A : Activity (Muscle Tone) atau tonus otot
R : Respiration atau pernapasan

Maksimum semua nilai dari kelima kriteria tersebut adalah 10.

Bila total nilai APGAR 7 10 bayi masuk ke kategori baik (bayi normal). Nilai APGAR 4 6
maka bayi masuk ke kategori agak rendah (memerlukan tindakan medis segera seperti pemberian
oksigen untuk bantuan bernafas). Bila nilai APGAR kurang dari 4 maka dianggap buruk (bayi
memerlukan perawatan medis yang lebih intensif lagi.

Contohnya perhitungannya:
A : warna kulit tubuh kemerah-merahan namun tangan dan kakinya biru, nilainya 1
P : detak jantung lebih dari 100 per menit nilainya 2
G : bayi meringis dan menangis lemah saat diberi stimulasi maka nilainya 1
A : bayi bergerak namun gerakannya sedikit maka nilainya 1
R : pernafasan bayi lemah dan tidak teratur maka nilainya 1.
Sekarang total dari semua nilai APGAR nya adalah 1 + 2 + 1 + 1 + 1 = 6 (bayi masuk dalam
kondisi agak rendah dan butuh pertolongan medis segera).

Lebih lanjut mengenai nilai APGAR akan dibahas di artikel lain tersendiri.

Bila bayi yang dilahirkan tidak menangis tetap tidak menampakkan usaha napas dan tetap tidak
menangis, maka dokter harus segera melakukan upaya Resusitasi Neonatus yakni pemberian
Ventilasi Tekanan Positif (VTP) dengan menggunakan alat balon dan sungkup oksigen atau tuba
endotrakheal selama 15 detik sambil terus memonitor dan memeriksa denyut jantung bayi serta
warna kulit.

Prosedur selanjutnya, sesuai indikasi ditambah dengan kompresi dada dan pemberian obat-
obatan seperti Ephinefrin. Hal ini dilakukan sesuai dengan prosedur resusitasi ABCD. A=airway
(jalan napas), B=breathing (pernapasan), C=circulation (sirkulasi) dan D=drugs (obat-
obatan).Apabila cara ini tidak pula berhasil, maka penyebabnya masih harus terus dicari. Bila
perlu dipasang CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) dan ventilator di ruang intensif.

Pencegahan
Upaya pencegahan yang bisa ibu hamil lakukan agar bayi yang dilahirkan menangis ketika
dilahirkan antara lain adalah :
Mendeteksi dan mengobati penyakit ibu selama hamil,
Melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur,
Melakukan proses persalinan yang aman dan bersih (clean dan safe),
Melakukan penanganan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan perinatal.
Setelah tanda-tanda vital stabil, selanjutnya dapat diupayakan stimulasi ke bayi. Stimulasi bisa
dilakukan dengan berbagai macam cara, bisa melalui indera pendengaran, perabaan, penglihatan
dan keseimbangan.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) adalah :

1. Faktor Ibu
Gizi saat hamil yang kurang
Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok)
Faktor pekerja yang terlalu berat
2. Faktor Kehamilan
Hamil dengan hidramnion
Hamil ganda
Perdarahan antepartum
Komplikasi hamil : pre-eklampsia / eklampsia, ketuban pecah dini.
3. Faktor Janin
Cata bawaan
infeksi dalam rahim
4. Faktor yang masih belum diketahui
1. Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan
dalam:
Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gram
Bayi berat lahir sangar rendah (BBLSR) berat lahir <1500 fram
Bayi berat lahir eksterm rendah (BBLER), berat lahir <1000 gram
2. Berdasarkan berat badan menurut usia kehamilan dapat digolongkan:
1. Prematuritas murni.
Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai
dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa
Kehamilan ( NKBSMK).

2. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan,
dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga:
Neonatus Kurang Bulan Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK).
Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil
Masa Kehamilan (NLB- KMK ).

C. Klasifikasi
1. BB < 2500 gr, PB < 45 cm, lingkar kepala < 33 cm, lingkaran dada <30 cm.
2. Kepala >dari dada
3. Pernafasan belum teratur dan sering mengalami apneu
4. Pernafasan sejajar 45-50 kali permenit
5. Frekuensi nadi 100 140 x permenit.
6. Bayi laki-laki testis sudah turun
7. payudara dan puting sesuai masa kehamilan
8. Menghisap cukup kuat.
9. Gerakannya cuku aktif, tangis cukup kuat
D. Masalah Pada BBLR
1. Suhu tubuh
Pusat pengatur nafas badan masih belum sempurna
Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah
Otot bayi masih lemah
Lemak kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan
Kemampuan metabolisme panas masih rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu
banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar 36o sampai 37o.
2. Pernafasan
Pusat pengatur pernafasan belum sempurna
Surfaktan paru-paru masih kurang sehingga perkembangannya tidak sempurna
Otot pernafasan dan tulang iga lemah
Dapat disertai penyakit-penyakit maka maun membrane, mudah infeksi paru-paru, gagal
pernafasan.
3. Alat pencernaan makanan
Belum berfungsi sempurna, sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah /
kurang baik.
Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna, sehingga pengosongan
lambung berkurang
Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi pneumonia.
4. Hepar yang belum matang (immatur)
Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi
hiperbilirubinemia (kuning) sampai kena uterus.
5. Ginjal masih belum malang (immature)
Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna
sehingga mudah terjadi edema.
6. Perdarahan dalam otot
Pembuluh darah bayi premature masih rapuh dan mudah pecah
Sering mengalami gangguan pernafasan, sehingga memudahkan terjadi perdarahan dalam
otak.
Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi
Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan
nekrosis