Anda di halaman 1dari 13

Elektrokardiogram IPD 15

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sistematika pembacaan EKG :


1. Irama
2. Rate
3. Axis
4. Gelombang P
5. Interval PR
6. Kompleks QRS
7. Segmen ST
8. Gelombang T
1. Irama Sinus dan Frekuensi
Hal yang pertama kali harus dilihat dalam membaca ekg adalah irama jantung, apakah irama
sinus atau tidak. Irama jantung dikatakan sinus apabila
- Gelombang P positif di lead II negative di aVR, selalu diikuti gelombang QRS
- Frekuensi jantung 60-100 kali/menit ( <60 bradikardi; >100 takikardi)
- PR Interval : 0.12-0.20s dan konstan dari beat to beat
- Durasi QRS < 0.10s

2. Normal Axis QRS


Dapat dilakukan dengan menghitung jumlah resultan defleksi positif dan negative QRS rata-
rata dari lead I (sumbu x) dan lead aVF (sumbu Y). Gambar dibawah menunjukan axis
jantung.
3. Gelombang P
- tinggi < 2,5s dan lebarnya <0.12s
- paling jelas terlihat pada lead I dan II
- bentuknya bulat dan tidak tajam
- jika bentuknya tinggi lancip disebut P Pulmonale didapat pada hipertropy atrial kanan
- jika gelombang melebar dari ukuran normal dikatakan sebagai P Mitral didapat pada
pembesaran atrial kiri

4. PR Interval
PR interval adalah jarak dari awal gelombang P sampai awal komplek QRS. Normalnya 0,12
0,20 detik (3 5 kotak kecil). Jika memanjang, berarti ada blokade impuls. Misalkan pada
pasien aritmia blok AV dan jika memendek didapat pada sindrom WPW

5. Komples QRS
- lebarnya 0.06-0.12s
- jika didapat gelombang QRS yang melebar kemungkinan dapat terjadi right or left bundle
branch block, ventricular rhythm, hyperkalemia, dll
- Perhatikan apakah ada Q patologis
- Ada/tidaknya hipertrofi ventrikel kiri atau kanan

Right bundle branch block

- Adanya gelombang R' sekunder pada lead prekordial kanan ( V1-2 ) atau kita kenal
sebagai gelombang rSR' atau "M" Shaped QRS complex

- Adanya gelombang S yang lebar dan dalam pada lead lateral ( V5-6, I, aVL )
- Apabila durasi gelombang QRS > 120 ms atau 3 kotak kecil dikatakan Complete RBBB,
sebaliknya dikatakan Incomplete RBBB
- Abnormalitas sekunder ST/T ( ST depresi atau T inversi ) pada lead prekordial sebelah kanan

Left bundle branch block


- Gelombang R yang tinggi dan lebar pada lead lateral (V5, V6, I, aVL) yang biasa disertai notching atau
membentuk huruf M

o Gelombang S yang lebar dan dalam di lead V1-V3


o Apabila durasi gelombang QRS > 120 ms atau 3 kotak kecil dikatakan Complete LBBB,
sebaliknya dikatakan Incomplete LBBB
o Abnormalitas ST/T, bisa terdapat ST elevasi di lead prekordial kiri dan T inversi serta ST
depresi di lead lateral
o Tidak terdapat gelombang Q pada lead lateral

Right Ventrikuler Hipertrofi

- Gelombang R yang Dominan pada V1 dan V2 ( > 7 mm / Rasio gelombang R/S > 1 )
- Gelombang S yang dalam pada V5 dan V6
- Pelebaran kompleks QRS ( umumnya < 0.12 s kecuali ada gangguan konduksi )
- Depresi Segmen ST dan Inversi gelombang T atau biasa dikenal dengan Strain Pattern pada
Lead V1, V2 dan II, III, aVF
- Right Axis Deviation
- Kadang ditemukan Right Atrial Enlargement dan Right Bundle Branch Block yang
inkomplit
Left Ventrikel Hipertrofi
o Gelombang S V1/V2 + Gelombang R V5/V6 > 35 mV
o Gelombang R aVL > 11mV
o Bila memenuhi salah satu kriteria diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada ekg tersebut
terdapat LVH

o Perhatikan Gelombang R di V5 dan V6 serta S di V1 dan V2.


o Bila dijumlahkan Gelombang S di V2 dan R di V5 maka hasilnya didapatkan sebesar 35 kotak
kecil atau setara dengan 35 mV.
o Terdapat juga ST depresi dan Inversi T di Lead V5,V6,I dan aVL yang dinamakan Strain
Pattern pada LVH

6. Segmen ST
- ST Segmen merupakan Segmen waktu di antara gelombang QRS dan gelombang T
- ST Segmen mempresentasikan waktu diantara depolarisasi ventrikel dan repolarisasi
ventrikel
- Segmen ST normalnya Flat, isoelektrik diantara akhir gelombang S ( J Point ) dan
awal gelombang T
- Penyebab kelainan ST Segmen Utama ( Elevasi atau Depresi ) adalah Iskemia dan Infark
Miokardium
- Kelainan Segmen ST :
o ST Elevasi : Merupakan Peningkatan Segmen ST di atas Garis Isoelektrik Baseline yang
diukur dari J Point ( Awal dari Akhir kompleks QRS )
o ST Depresi : Merupakan Penurunan Segmen ST di bawah Garis Isoelektrik Baseline yang
diukur dari J Point ( Awal dari Akhir kompleks QRS )

Atrial Fibrilasi

- Karakteristik EKG untuk Atrial Fibrilasi sebagai berikut :


o Irregularly Iregular Rhytm atau irama yang irreguler dan sama sekali tidak mempunyai pola
o Tidak terdapat gelombang P yang jelas atau yang terlihat merupakan gelombang fibrilasi
o Gelombang fibrilasi terkadang kasar, terkadang halus dan terkadang juga terlihat mirip seperti
gelombang P, hanya saja gelombangnya tidak teratur dan tidak konstan terhadap semua
gelombang QRS
7. Gelombang T
o Positif di semua lead kecuali aVR dan V1
o Amplitudo umumnya tidak melebihi 2/3 gelombang R atau < 5 mm di limb lead dan < 15 mm
di prekordial lead
o Durasi lihat interval QT
Kelainan Gelombang T :
- Gelombang T-Tall atau Peaked T Waves :
o Hiperkalemia
o Hyperacute T waves ( Stadium awal STEMI )

T-Tall pada Hiperkalemia


T-Tall pada Hiperakut gelombang T dengan STEMI

Gelombang T Inversi :
o Normal pada Anak-anak
o Abnormalitas Sekunder dari Bundle branch block dan hipertrofi ventrikel
o Iskemia dan Infark Miokardium
o Myoperikarditis
o Penggunaan Digoxin
o Penyakit Sistem Saraf Pusat ( perdarahan subarachnoid )

Inversi gelombang T pada Infark Miokard


Elektrokardiogram IPD 14

8 hal yang perlu kita nilai dan perhatikan dalam membaca EKG:

1. Irama

Pada EKG normal, hampir semua gelombang positif kecuali pada lead AVR. Irama jantung yang normal disebut
sebagai irama sinus. Karakteristik irama sinus adalah:

each P followed by QRS complex


P wave normal for the subject
P wave rate 60-100 bpm with <10% variation ; if >10% : arrhythmia

Irama dengan variasi melebihi 10% disebut sebagai sinus aritmia


Irama pada laju < 60bpm, sinus bradikardi
Irama pada laju >100bpm,sinus takikardi.

Gangguan Irama Jantung :Atrial Fibrilasi (AF)

AF biasa ditemukan jika ada gangguan pada katub mitral (MI dan MS). Pada AF ditemukan ritme irreguler,
tidak ada gelombang P, tidak ada isoelektrik baseline, variabel ventricular rate, pulse devisit (jumlah nadi lebih
sedikit dari heart rate). Rate tidak bisa dihitung dari EKG, harus dihitung langsung dari nadinya. AF terdiri dari
normal respond dan rapid respond. Rapid respond harus dikendalikan menjadi normal respond agar tidak terjadi
gagal jantung. Pada AF dengan rapid respond dapat diberikan digoxin.

2. QRS Rate/Frekuensi

Beberapa cara menghitung rate pada EKG, yaitu :


300/RR (kotak besar)
1500/RR (kotak kecil)

3. Aksis

Aksis normal : gelombang positif pada sadapan I dan aVF


Aksis deviasi ke kiri (LAD) : gelombang negatif pada aVF dan positif pada I
Aksis deviasi ke kanan (RAD) : gelombang negatif pada sadapan I dan positif pada aVF

RAD

Penting dalam klinis adalah aksis deviasi ke kanan (RAD). Pada RAD, terdapat penyakit yang terkait jantung
kanan akibat penyakit paru. Maka kondisi penyakit yang menyebabkan RAD adalah PPOK, RVH, cor
pulmonale dan decomp kanan.

PPOK = Bronkitis Kronik, Emfisema.

Gejala klinis seperti PPOK (tetapi bukan Bronkitis kronik dan emfisema) adalah Bronkiektasis, asma kronik dan
Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT ). Penyakit penyakit ini memiliki kriteria gejala klinis seperti
PPOK yaitu yang bersifat progresif, obstruksi dan irreversible.

Sekiranya PPOK, bronkiektasis, asma kronik dan SOPT dibiarkan tanpa diobati, terus menerus dibiarkan terjadi
obstruksi, maka pada akhirnya akan berakibat kepada gagal jantung.
Hipoksia kronis (paru) -> Hipertensi pulmonal -> Hipertrofi kanan jantung (RVH) -> Cor pulmonale ->Gagal
jantung Kanan

Pada Cor pulmonale telah terjadi kelainan struktur dan haemodinamik. Perbedaan antara cor pulmonale dan
gagal jantung kanan adalah pada cor pulmonale tidak terdapat oedema dan pada gagal jantung terdapat oedema.

LAD

Axis kekiri biasa pada Myocardial Infarction(MCI) inferior dan hiperkalemi.

4. Gelombang P

Gelombang P paling jelas dibaca di sadapan I dan II. Normal tinggi gelombang P <2,5 mm pada lead II, lebar
gelombang P <0,11 mm pada lead II. Pada gelombang P, terdapat 2 kelainan yang diperhatikan :

P-Pulmonale : gelombang P lebih tinggi dan lancip dari gambaran normal.

Sering pada hipertrofi atria kanan (RAH), cor pulmonale dan gagal jantung kanan yang merupakan kelainan
akibat komplikasi jantung karena penyakit paru yang lama. Contoh penyakit paru yang lama adalah PPOK
,bronkiektasis, asma kronik, dan Sindrom Obstruksi Post TB (SOPT). Setelah RAD, muncul P pulmonale karena
atrial ikut hipertrofi akibat dari tingginya hipertensi pada pulmonal.

P-Mitral : gelombang P lebih lebar dengan puncaknya bergelombang.

Apabila terjadi hipertrofi pada atrium kiri (LAH), maka gangguan katup mitral akan ditemukan.Atrium kiri
berdepan dengan tekanan tinggi dari sistemik menyebabkan terjadi LAH sehingga muncul gelombang p-mitral.
Gejala klinis yang bisa ditemukan pada P-mitral karena gangguan pada katub mitral adalah sesak, takikardi,
gallop, ronki basah halus. Pada thorax foto biasa ditemukan kardiomegali dan oedem paru.

Kanan = Pulmonal, Kiri = Sistemik


Pada P-pulmonale, pikirkan PPOK -> RVH -> RAV -> cor pulmonale -> Gagal jantung kanan
Pada P-mitral, pikirkan LAH -> Gagal jantung kongestif

5. PR Interval

Normal PR interval 0,12-0,20 (3-5 kotak kecil pada EKG).

Interval PR memanjang pada AV Blok derajat 1.

Masih ringan tetapi sudah menggambarkan gangguan yang mengancam pada pasien.

Interval PR memendek pada wolff-parkinson-white (WPW) syndrom.

Biasanya langsung masuk ICU

6. QRS Complex

Normal QRS <0,12 detik (3 kotak kecil). QRS kompleks abnormal pada :

blok jantung (RBBB dan LBBB),

RBBB : akan ditemukan m-shape, rsR/RsR pada V1 dan V2. Penyebab RBBB contohnya CAD (Coroner
Arterial Dissease terutama pada right ventricle) dan RVH.
CAD adalah penyempitan pada coronary artery disebabkan sekelompok
penyakit.Penyempetin terjadi karena ada gangguan di endotel yaitu atherosclerosis. Semua
kondisis yang menyebabkan atherosclerosis akan meyebabkan CAD. Antara faktor resiko
terjadinya CAD adalah merokok, hipertensi, DM dan kolesterol.

RVH menghadapi tekanan tinggi di pulmonal (karena PPOK).

RBBB dengan faktor resiko CAD dibilang RBBB karena CAD (Paru tetap normal). RBBB
dengan PPOK dikatakan RBBB karena RVH (Faktor resiko CAD tidak ada)

LBBB : ditemukan gelombang S yang dominan pada V1, ST-elevasi yang landai pada V1 dan
V2. Penyebab LBBB contohnya CAD (Coroner Arterial Dissease terutama pada left
ventricle) dan LVH (contohnya pada hipertensi).

Sama seperti RBBB, LBBB juga bisa disebabkan oleh CAD karena penyakit CAD ini
menyeluruh mengenai jantung,

LVH menghadapi tekanan yang tinggi di sistemik (karena hipertensi).

Pada LBBB selain gelombang S yang dominan pada V1, turut ditemukan ST-elevasi.Penyakit
yang bersangkutan dengan ST-elevasi adalah myocardial infarction. Tetapi apabila ada St-
elevasi pada kondisi block maka diagnosis myocardial infarction tidak dapat ditegakkan
berdasarkan EKG. Sekiranya ada ST-elevasi pada kondisi block, maka hanya menjadi dasar
untuk mendiagnosis myocardial infarction.

Untuk menegakkan diagnosis myocardial infarction diperlukan 3 parameter yaitu enzim


(troponin,LDH,CKMB tetapi troponin sering digunakan karena reaksi yang cepat), nyeri
tipikal (seperti ditindih beban berat sehingga sesak, lemas dan bisa menjalar ) dan EKG.2/3
krteria ada, maka tertegak diagnosis Myocardial Infarction.

hipertrofi (LVH dan RVH).

LVH : R (V5 atau V6) + S (V1) = >35mm / >7 kotak besar. Ditemukan biasanya pada
pasien hipertensi (HHD)

Sekiranya ditemukan hipertensi dan EKG nya LVH, maka diagnosisnya adalah HHD

RVH : Dihitung rasio R/S pada :


V1 : > 1 (normalnya ke bawah)
V5,V6 : <1 (normalnya ke atas)

Q patologis

Q patologis adalah kondisi dimana gelombang Q tidak diikuti oleh gelombang R (QS),
menandakan old MCI.

Jika Q patologis hanya ditemukan pada V1 saja, masih dianggap normal.


Q patologis pada V1-V2 menandakan terdapat old MCI anteroseptal.
Q patologis pada V1-V4 menandakan terdapat old MCI anterior.
Q patologis pada I, V5-V6 menandakan terdapat old MCI lateral.
Q patologis pada aVF, lead II dan lead III menandakan terdapat old MCI inferior.

Ekstrasistole

Pada ekstrasistole, sentiasa ada ritma dasar tetapi ada gelombang QRS yang loncat mendahului.Gelombang
QRS itu lebih besar dari normal dan lebih lebar. Ekstrasistole dibagi menjadi 2 yaitu VES (Ventrikular Ekstra
Sistole) dan SVES (Supra Ventrikular Ekstra Sistol).

Pada perabaan denyut nadi, akan ditemukan nadi prematur atau nadi yang muncul lebih cepat dari yang
seharusnya. VES dan SVES hanya dapat dideteksi melalui EKG, tetapi jumlah nadi prematurnya hanya dapat
dideteksi lewat pemeriksaan fisik. VES mengganggu hemodinamik, jika VES muncul > 6x dalam 1 menit atau
bigemini atau trigemini dapat terjadi VT dan VF yang beresiko terjadi cardiac arrest.

Penyebab ekstrasistole adalah CAD, imbalance electrolyte (hypokalemia), intoksikasi (obat-obat anti-aritmia
seperti digoxin)

7. ST Segmen

Normalnya segmen ST datar, pada garis isoelektrik. 2 kelainan yang terjadi pada segmen ST:

ST depresi : menandakan miokard iskemik atau efek dari digoksin atau hipertrofi ventrikular.
sekiranya terjadi pada V2-V5, menandakan terjadinya Unstable Angina Pectoris (UAP). Pada
UAP sebaiknya diberikan terapi yang adekuat untuk mencegah terjadinya infark.

ST elevasi : menandakan MCI akut atau LBBB. Ini sebabnya pada blokade jantung sulit
dibedakan ada tidaknya infark.Sekiranya terjadi pada VI-V2, menandakan terjadi pada area
anteroseptal, dan pada V1-V4 pada area anterior.

Nyeri tipikal, muncul ketika lari didiagnosa sebagai angina pectoris. Penegakan diagnose angina pectoris
cukup dengan anamnesis.

3 bulan kemudian, nyeri tipikal, muncul ketika istirahat didiagnosa sebagai unstable angina pectoris
(UAP). UAP adalah kondisi peralihan.Sekiranya diobati, bakal kembali ke angina pectoris.Sekiranya tidak
diobati bakal menjadi MCI.

EKG pada UAP akan ditemukan ST depresi (Iskemik) dan pada MCI akan ditemukan St elevasi. Tetapi untuk
menegakkan diagnosis MCI diperlukan 3 parameter yang telah disebutkan.

Lokasi terjadinya iskemik atau infarct :

1, avr =lateral
2,3, avf = inferior
V1-V2= anterior septal
V1-V4= anterior
V1-V6= anterior extensive

Pengobatan penyakit jantung koroner ini harus dimulai dengan mengendalikan faktor risiko.

Pemberian Isosobide dinitrate untuk mencegah dan menghilangkan serangan angina pectoris.Efek samping dari
pemberiannya bisa menyebabkan sakit kepala.Angina pectoris terjadi karena supply oxygen tidak cukup akibat
dari penyempitan di pembuluh darah coroner. Maka diperlukan obat vasodilator untuk melebarkan
penyempitan yang berlaku. Contoh vasodilator adalah amlodipine.
Pada pasien unstable angina pectoris harus ditambah pemberian antiplatelets seperti aspirin untuk mencegah
thrombosit seterusnya ikut menempel.Antiplateletes bekerja dengan cara menghambat hemostasis primer. Untuk
menghambat hemostasis skunder, bisa diberikan heparinagar tidak terbentuk fibrin yang memperparah
thrombus. Thrombus inilah yang membuat nyerinya tidak hilang.(Diberi pada pasien lebam, biru-biru).

Pada kombinasi 2 antipletelets seperti aspirin dan clopidogrel penggunaan pada jangka panjang menyebabkan
melena. Pertimbangan pemberian 2 antiplatelets ini adalah untuk mencegah efek yang lebih fatal yaitu kematian
akibat myocardial infarction berbanding efek melena.

Pada pasien dengan myocardial infarction (MI), bisa dilihat ejection fractionnya berkurang pada pemeriksaan
echocardioagram.Ejection fraction berkurang karena kerusakan otot jantung yang menyebabkan daya pompanya
berkurangan.Maka harus diberikan terapi kausatif dari awal serangan yaitu thrombolytics.

Thrombolytics seperti streptokinase dapat mennghancurkan thrombus yang terbentuk. Tetapi streptokinase harus
diberikan pada golden periodnya yaitu 4-6 jam dari waktu serangan MI. Obat seperti heparin dan aspirin tidak
dapat menghilangkan thrombus yang telah terbentuk, hanya mencegah pembentukan plaque yang baru.

8. Gelombang T

Terdapat dua kondisi pada gelombang T.

Small, flattened, inverted T : iskemia, efek digoksin, LVH


Tall T : hiperkalemi, MI hiperakut

Jadi ada 2 kondisi yang menunjukkan iskemia, yaitu inverted T dan ST depresi