Anda di halaman 1dari 102

PANDANGAN YUSUF QARDHAWI TENTANG

ZAKAT PROFESI
( Studi Hadis-hadis Dalam Kitab Fiqh al-Zakat )

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I.)

Oleh :

Anwar Mustaqim
NIM: 102034024801

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS


FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010
PANDANGAN YUSUF QARDHAWI TENTANG ZAKAT PROFESI
( Studi Hadis-hadis Dalam Kitab Fiqh al-Zakat )

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat


Untuk Memenuhi Persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh :

Anwar Mustaqim
NIM : 102034024801

Di Bawah Bimbingan

Muslih, M.Ag.
NIP : 19721024 200312 1 002

JURUSAN TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1431/2010
PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul PANDANGAN YUSUF QARDHAWI TENTANG ZAKAT PROFESI


Studi Hadis-Hadis Dalam Kitab Fiqh al-Zakat, Telah diujikan dalam sidang Munaqasah
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 18 Maret
2010. Skripsi ini telah diterimaa sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Program
Strata 1 (S1), pada Jurusan Tafsir Hadis.

Jakarta, 18 Maret 2010

Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris

Dr. Bustamin, M. Si. Rifqi Muhammad Fathi, MA.


NIP. 19630701 199803 1003 NIP. 19710816 199703 2002

Anggota,

Dr. Bustamin, M. Si. Dr. M. Isa HA Salam, MA.


NIP. 19630701 199803 1003 NIP. 19531231 198603 1 010

Muslih, M. Ag.
NIP. 19721024 200312 1 002
ABSTRAK

Rukun Islam yang dijelaskan salah satunya adalah tentang zakat. Zakat

sebenarnya dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah zakat tentang harta dan

yang kedua zakat pertanian. Zakat ini berupa emas, perak, hasil pertanian (tanaman

dan buah-buahan), barang dagangan, ternak, hasil tambang, barang temuan, dan jasa

propesi.

Masalah zakat profesi, memang baru muncul pada zaman sekarang, hal ini

disebabkan banyaknya ahli-ahli tertentu yang mendapat penghasilan dari keahliannya

tersebut. Namun perlu diketahui bahwa di zaman Rosulullah Saw telah ada beragam

profesi, namun kondisinya berbeda dengan zaman sekarang dari segi penghasilannya.

Di zaman itu penghasilan yang cukup besar dan dapat membuat seseorang menjadi

kaya bertolak belakang dengan zaman sekarang.

Kondisi tersebut menimbulkan permasalahan apakah penghasilan yang

diperoleh mereka dapat dikenakan zakat? permasalahan ini telah dijawab oleh para

ulama tradisional maupun modern

Berkenaan dengan zakat terhadap harta penghasilan di atas apakah sama wajib

dizakati seperti halnya harta benda yang telah jelas dalilnya?, bila merujuk pada kitab-

kitab klasik tidak akan ditemukan dalil yang sharih (jelas), tentang zakat propesi

sehingga mereka (ulama modern), mengistinbat hukum dengan mencari kiasan pada

al-Quran dan hadis

Maka dari itu penulisan ini, diarahkan pada penilitian terhadap hadis-hadis

zakat propesi untuk mengetahui kehujjahan suatu hadis.

i
PEDOMAN TRANSLITERASI

- d

b t

t z

ts a

j gh

h f

kh q

d k

dz l

r m

z n

s w

sy H

s Y

BACAAN PANJANG

(a dibaca panjang Contoh, - al-Mlik

(i dibaca panjang Contoh, - al-Rahm

(u dibaca panjang) Contoh, al-Ghafr

ii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Tiada kata yang paling mulia kecuali ucapan syukur kepada Allah SWT Maha
pencipta alam semesta. Atas rahmat dan karunia-nya, serta tak henti-hentinya Dia menyinari
penulis sehingga skripsi yang berjudul : PANDANGAN YUSUF QARDHAWI

TENTANG ZAKAT PROFESI( Studi Hadis-hadis Dalam Kitab Fiqh al-


Zakat ) ,akhirnya dapat terselesaikan walaupun ada sedikit kendala. Salawat serta salam,
penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW juga Rasul pilihan rahmat bagi seluruh
alam. Begitupun bagi keluarga, sahabat-sahabatnya dan umatnya hingga akhir zaman.
Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi dan melengkapi persyaratan

mencapai gelar sarjana (S1) pada jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan filsafat

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa suksesnya penulisan skripsi iniu bukan

semata-mata atas upaya penulis sendiri, akan tetapi juga karena bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan

ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :

1. Kedua orang tua tercinta, yang senantiasa mencurahkan doa, dan kasih sayangnya

kepada penulis. Dan selalu memberikan dukungan yang tidak ternilai baik moril

maupun materiil.

2. Bapak Dr. H. Muhammad Amin Nurdin, M.A., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin

dan Filsafat.Bapak Dr.Bustamin, MBA., Selaku Ketua Jurusan Tafsir Hadis, dan

Sekretaris Jurusan Tafsir Hadis Bapak Dr. Edwin Syarif, M.A. beserta para dosen dan

staf Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya

serta pelayanan dalam proses penyusunan skripsi ini.

iii
3. Bapak Muslih. M.Ag, selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan

waktunya di tengah-tengah kesibukan beliau. Untuk membimbing serta memberikan

masukan pada penulis dalam menyusun skripsi ini.

4. Staf Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Fakultas

Ushuluddin dan Filsafat, dan Perpustakaan Iman Jama yang telah memberikan

pelayanan dalam memberikan literatur kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

5. Kakanda Siti Arfiyah, Titi Tartila, Nur hasanah dan juga adik penulis Siti Khodijah,

yang telah men-Support kepada penulis sehingga skripsi ini selesai.

6. Teman-teman jurusan Tafsir Hadis angkatan 2002, khususnya teman-teman KKN

Sukabumi : Nurohman, Junaidi Ismail, Salman Al-Farisi, Muhyidin, Husni

Mubarraq, Miftah, Juman, Sholahuddin, haidar Dan teman-teman kelas yang penulis

tidak dapat sebutkan satu per satu tapi tidak sedikitpun menghilangkan rasa hormat

penulis kepada mereka.

7. Kawan-kawan seperjuangan di KMB (Komunitas Mari Berbagi) : Muhyiddin, Zaky

Amany, Anwar Turis, Sahrul, Pujo dan teman-teman kostan Nyonk, Idris, Jayadi

Amin, Miftah, Amin Medan, Agil, Tio, Ahmad Baihaqi, Asok, lain-lain.

8. Kawan-kawan di Rock n Scooter Zein Fathir, Babay, Indra doyok, Babay, Ijal Jali,

dan lain-lain.

9. Kawan-kawan di band NEBULA Wira, Aris, Sarah, Reza, Sykron. Serta Kawan-

kawan di Yess n Roll Tsabit, Markel, Bung Roy dan Damsyit. Kapan kita ngejam

lagi.

Hasrat untuk menyajikan skrifsi ini dengan baik dan sempurna telah penulis

upayakan secara sungguh-sungguh dan maksimal. Namun, penulis menyadari sepenuh

hati, bahwa hasil yang dicapai masih jauh dari keinginan dan harapan semua pihak.

iv
Oleh karena itu, kritik dan saran konstruktif guna menyempurnakan karya ini sangat

penulis harapkan dan akan diterima dengan hati lapang.

Semoga karya yang sederhana ini dapat berguna bagi perkembangan ilmu

pengetahuan, khususnya perkembangan ilmu Tasir dan Hadis di masa yang akan

datang, amien.

Jakarta, 02 Maret 2010

Penulis

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................... i

TRASNLITRASI ................................................................................................. ii

KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii

DAFTAR ISI........................................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.................................................................... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah................................................. 4

C. Tinjauan Pustaka. .............................................................................. 4

D. Tujuan Penelitian ............................................................................. 6

E. Metodologi Penelitian........................................................................ 6

F. Sistematika Penulisan ........................................................................ 7

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ZAKAT

A. Pengertian ...................................................................................... 8

1. Menurut bahasa (etimologi)....................................................... 8

2. Menurut istilah (terminologi) .................................................... 10

B. Pembagian zakat............................................................................. 11

C. Tujuan dan manfaaat zakat.............................................................. 15

BAB III HADIS-HADIS TENTANG ZAKAT PROFESI

A. Redaksi Hadis..................................................................................... 21

B. Kritik Sanad dan Matan Periwayatan Hadis ........................................ 24

1. Kritik Sanad. ................................................................................... 25

2. Kritik Matan ................................................................................... 57

vi
C. Skema Hadis....................................................................................... 57

BAB IV KAJIAN HADIS-HADIS TENTANG ZAKAT PROFESI

A. Subtansi Dasar Zakat Profesi .............................................................. 61

B. Hadis-hadis Zakat Profesi ................................................................... 64

C. Pendapat Para Ulama Tentang Zakat Profesi....................................... 69

D. Analisis .............................................................................................. 72

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................................... 84

B. Saran ................................................................................................. 86

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 88

vii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam mempunyai pondasi rukun imam dan rukun Islam yang diyakini

sebagai tolak ukur beragama yang baik dalam ajaran Islam. Sebagai mana firman

Allah Swt :

....Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah


dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama
yang lurus[, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;
dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 98/5).

Rukun Islam yang dijelaskan salah satunya adalah tentang zakat. Zakat

sebenarnya dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah zakat tentang harta

dan yang kedua zakat pertanian.1 Zakat ini berupa emas, perak, hasil pertanian

(tanaman dan buah-buahan), barang dagangan, ternak, hasil tambang, barang

temuan, jasa profesi.2

Bentuk penghasilan yang paling menyolok pada zaman sekarang ini adalah

apa yang diperoleh dari pekerjaan dan profesinya. Pekerjaan yang menghasilkan

uang ada dua macam, pertama adalah pekerjaan yang dikerjakan sendiri, tanpa

tergantung pada orang lain berkat kecekatan tangan ataupun otak. Pengahasilan

1
Agil Munawar, Ilmu Fiqh dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos, 2001), Cet. I, h. 243.
2
Said Sabiq, Zakat dan Pembangiannya,( Bandung; Maarif, 1983), cet.II, h. 286.

1
2

yang diperoleh dengan cara ini, merupakan penghasilan profesional seperti

penghasilan seorang dokter, insiyur, advokat seniman, penjahit, tukang kayu dan

lain-lainnya. Yang kedua adalah pekerjaan yang dikerjakan seseorang buat pihak

lain-baik pemerintah, perusahaan, maupun perorangan dengan memperoleh upah

yang diberikan dengan tangan, otak ataupun kedua-duanya.3

Masalah zakat profesi, memang baru muncul pada zaman sekarang, hal ini

disebabkan banyaknya ahli-ahli tertentu yang mendapat penghasilan dari

keahliannya tersebut. Namun perlu diketahui bahwa di zaman Rosulullah Saw

telah ada beragam profesi, namun kondisinya berbeda dengan zaman sekarang

dari segi penghasilannya. Di zaman itu penghasilan yang cukup besar dan dapat

membuat seseorang menjadi kaya bertolak belakang dengan zaman sekarang.

Diantaranya adalah berdagang, bertani, dan berternak. Sebaliknya, di zaman

sekarang ini berdagang tidak otomatis membuat pelakunya menjadi kaya,

sebagaimana juga bertani dan berternak. Bahkan umumnya petani dan peternak di

negeri kita ini termasuk kelompok orang miskin yang hidupnya masih

kekurangan. Sebaliknya, profesi-profesi tertentu yang dahulu sudah ada, tapi dari

sisi pendapatan saat itu tidaklah merupakan kerja yang mendatangkan materi

besar. Di zaman sekarang ini justru profesi-profesi inilah yang mendatangkan

sejumlah besar harta dalam waktu yang singkat. Seperti Dokter Spesialis, Arsitek,

Komputer Programer, Pengacara, dan sebagainya. Nilainya bisa ratusan kali lipat

dari petani dan peternak miskin di desa-desa.

3
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat,(Bandung:Mizan,1996), Cet. IV, h.459.
3

Perubahan Sosial inilah yang mendasari ijtihad para ulama saat ini untuk

melihat kembali cara pandang kita dalam menentukan; siapakah orang kaya dan

siapakah orang miskin? intinya zakat itu adalah mengumpulkan harta orang kaya

untuk diberikan pada orang miskin. Dizaman dahulu, orang kaya identik dengan

Pedagang, Petani, dan Peternak. Akan tetapi di zaman sekarang ini, orang kaya

adalah para profesional yang bergaji besar. Zaman berubah namun prinsip zakat

tidak berubah. Yang berubah adalah realitas di masyarakat. Tapi intinya orang

kaya menyisihkan uangnya untuk orang miskin. Dan itu adalah intisari Zakat.

Dengan demikian, zakat profesi merupakan ijtihad para ulama di masa kini yang

nampaknya berangkat dari ijtihad yang cukup memiliki alasan dan dasar yang

juga cukup kuat.

Kondisi tersebut menimbulkan permasalahan apakah penghasilan yang


diperoleh mereka dapat dikenakan zakat? permasalahan ini telah dijawab oleh
para ulama tradisional maupun modern.
Berkenaan dengan zakat terhadap harta penghasilan di atas apakah sama

wajib dizakati seperti halnya harta benda yang telah jelas dalilnya?, bila merujuk

pada kitab-kitab klasik tidak akan ditemukan dalil yang sharih (jelas)4, tentang

zakat profesi sehingga mereka(ulama modern), mengistinbat hukum dengan

mencari kiasan pada al-Quran dan hadis.

Maka dari itu penulisan ini, diarahkan pada penilitian terhadap hadis-hadis

zakat profesi untuk mengetahui kehujjahan suatu hadis. Berkaca pada latar

belakang masalah diatas penulis memberikan tema pada karya ini Analisa Hadis-

4
Sharih adalah suatu penjelaskan kepada hal-hal sesuatu. Lih Ali, Atabik dan Ahmad
Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1999)
Cet.III. h. 432.
4

hadis tentang Zakat Profesi. Sehingga kita dapat mengambil sikap terhadap hadis

tersebut, apakah hadis tersebut dapat diamalkan atau ditinggalkan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Sebagaimana yang telah kami ungkapkan pada latar belakang masalah di

atas, permasalahan yang akan kami bahas dalam penelitian ini berkisar pada :

Analisa hadis-hadis Tentang Zakat Profesi yang menimbulkan perdebatan dari

golongan ulama tradisional mapun modern, dari segi periwayatannya juga dari

segi penafsiran hadis.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang akan

dibahas dalam penelitian ini adalah (bagaimana kehujjahan hadis-hadis tentang

zakat profesi? )

C. Tinjauan Pustaka

Telah ditemukan empat skripsi yang membahas tentang zakat profesi;

pertama, dengan judul skripsi "Zakat Profesi Sebagai Salah Satu Usaha Untuk

Memberdayakan Ekonomi Umat" yang ditulis oleh Ahmad Sofyan Hasibuan. 5

Kedua, Judul skripsi "Peranan Zakat Profesi Terhadap Pengendalian Sosial

Umat": (Studi Kasus Masyarakat Mampang Jakarta Selatan) merupakan karya

Shafaul Bariyah. 6 Ketiga, Ketentuan Nisab Dan kadar Zakat Profesi Serta

Kaitannya Dengan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat yang ditulis oleh

Amrina.7 Keempat, dengan judul skripsi Pengeloalaan zakat Profesi: Studi di

5
Ahmad sofyan Hasibuan, Zakat Profesi Sebagai Salah Satu Usaha Untuk
Memberdayakan Ekonomi Umat, (Jakarta: Fakultas Syariah UIN Syahid, 2005).
6
Shafaul Bariyah, Peranan Zakat Profesi Terhadap Pengendalian Sosial Umat,: Studi
Kasus Masyarakat Mampang Jakarta Selatan, (Jakarta, Fakultas Syariah UIN Syahid, 2004).
7
Amrina, Ketentuan Nisab Dan kadar Zakat Profesi Serta Kaitannya Dengan
Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat, (Jakarta, Fakultas Syariah UIN Syahid, 2005).
5

Kantor DEPAG Kotamadya Pemalang Siantar Sumatera Utara merupakan karya

M. Rifai Fajrin yang juga pernah membahas tentang zakat profesi.8 Keempat

skripsi ini menjelaskan tentang Zakat Profesi Dalam Islam, dan dilengkapi

dengan hadis dan ayat yang berkaitan dengan zakat.

Sebuah penelitian dengan judul analisis hadis-hadis zakat profesi yang

akan dibahas yang berhubungan dengan zakat profesi. Dalam hal ini peneliti

mengamati zakat profesi dari segi analisis hadis. Penelitian ini menjelaskan

tentang kajian analisis hadis-hadis zakat profesi dan mencoba memaparkan

konsep zakat profesi dengan menggunakan pendapat para pakar di bidangnya,

selain itu juga penelitian ini mencoba untuk mengungkap pendapat para ulama

tentang kehujjahan hadis-hadis zakat profesi. Konsep zakat profesi digunakan

untuk melihat bagaimana zakat profesi itu diberdayakan, sehingga diperoleh

pengetahuan kenapa ada istilah zakat semacam itu.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa dengan menggunakan

analisis hadis, kita akan mengetahui bukan hanya bagaimana cara mengeluarkan

zakat, tetapi bagaimana zakat profesi itu diperintahkan (Asbb al-Wurd). Bahkan

lebih jauh lagi bisa mengungkap hadis-hadis yang kuat untuk dijadikan dalil.

Penelitian ini dilengkapi dengan Asbb al-Wurd tentang hadis-hadis

zakat profesi serta dilengkapi dengan analisis sanad dan matan yang ada

hubungannya dengan penelitian ini.

D. Tujuan Penelitian

8
M. Rifai Fajrin, Pengeloalaan zakat Profesi,: Studi di Kantor DEPAG Kotamadya
Pemalang Siantar Sumatera Utara, (Jakarta: Fakultas Syariah UIN Syahid, 2007).
6

Dalam segala bentuk penelitian, tujuan merupakan landasan utama

yang dijadikan ukuran. Tanpa tujuan yang jelas, maka akan simpang siurlah

pelakasanaan kegiatan penelitian ini, tujuan yang jelas akan mempermudah cara

dan upaya dalam pencapaiannya.

Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui kehujahan hadis-hadis tentang zakat profesi.

2. Untuk memenuhi persyaratan Program Sarjana S1

E. Metode Penelitian

Dalam penyusunan skrpsi ini penulis melakukan penelitian kepustakaan

(Library Research), dengan merujuk kepada buku-buku, yang mendukung

masalah yang dibahas baik sumber primer dari kitab Sulaiman bin Asy-ats Abu

Daud Assajastan Al-Azdi, Sunan Abu Daud (Bairut: Dar Al-Fikri, 1999), juz 2,

Bab Zakat asimah, Muhammad bin Yazid bin Abdullah Al-Quzwaini, Sunan

Ibnu Mjah (Bairut: Dar Al-Fikri, 2004), juz 2, Bab Man Istifada Mlan, Hukum

Zakat, Yusuf Qardawi,Cet. IV 1996.

Juga dalam penyusunan skripsi ini penulis melakukan penelitian kritik

hadis.hal ini dilakukan sebagai langkah awal penelitian guna untuk mengetahui

kualitas dari hadis tersebut, yang pada akhirnya akan menentukan apakah hadis

tersebut laiak atau tidak untuk dijadikan sebagai hujjah suatu hukum

Sedang data skunder merupakan sumber pendukung yang masih ada

relevansinya dengan pembahasan skripsi ini.


7

Dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan metode deskripsi

Analitis, yakni melalui pengumpulan data dan pendapat muhadditsin, untuk

kemudian dianalisis.

Adapun tehnik penulisan skripsi ini, penulis mengacu kepada buku

Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang disusun oleh tim UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta 2008, juga Rujukan Penulisan Ayat-ayat Al-Quran

DEPAG RI.

F. Sistematika Penulisan

Ada lima bab dalam penulisan ini. Setiap bab terdiri dari sub-sub bab,

sebagai penjelasan yang memiliki korelasi dengan pembahasan bab-bab tersebut.

Adapun sistematika penulisan ini adalah:

Bab pertama adalah bab Pendahuluan yang terdiri dari: Latar Belakang

Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,

Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan, dan Sistematika Penulisan.

Bab kedua menjelaskan Seputar Tentang Zakat Profesi, Pengertian

(Menurut bahasa (etimologi), Menurut istilah (terminologi), Pembagian Macam-

macam Zakat, Tujuan dan manfaaat Zakat.

Bab ketiga menjelaskan, Hadis-Hadis Tentang Zakat Profesi, Redaksi

Hadis, Riwayat Hadis, Perbandingan Sanad dan Matan Hadis, Skema Hadis..

Bab empat menjelaskan, Analisa Hadis-Hadis Tentang Zakat Profesi ,

Subtansi Dasar Zakat Profesi , Hadis-hadis Zakat Profesi, Pendapat Para Ulama

Tentang Zakat Profesi.


BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG ZAKAT

A. Pengertian Zakat

1. Menurut Bahasa (etimologi)

Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat mempunyai beberapa arti, yaitu al-

barakatu "keberkahan", al-namaa, "pertumbuhan dan perkembangan", al-

Tahrah, 'kesucian, dan al-Salh, "keberesan".1 Dan menurut Abu Malik Kamal

bin Al-Sayyid Salim yang dimaksud dengan zakat secara bahasa adalah bentuk

Mashdar dari kata"zak al-Syai, apabila ia tumbuh dan bertambah. Karena itu
2
zakat juga berarti keberkahan, pertumbuhan, kesucian dan kebaikan. sedang

menerut Imam Taqiyuddin Abubakar bin Muhammad al-Husaini dalam kitabnya

Kifayatul Akhyar (terj), lafadz zakat menurut bahasa berarti tumbuh dan berkah

serta banyaknya kebajikan. Dikatakan zakaz-zar'u tatkala tanaman itu tumbuh.

Dan apa bila dikatakan zakaa fulaanun berarti si fulan itu banyak kebajikannya.3

Sedangkan pula menurut pendapat Hasbullah Bakry dalam bukunya yang

berjudul Pedoman Islam di Indonesia yang dimaksud zakat menurut bahasa dari

awal kata zakka, tuzakki, tazkiyah, zakat yang mempunyai arti membersihkan

1
Majma Lughah al-Arabiyyah, al-Mu'jam al-Wasith, (Mesir: Daar al-Ma'arif, 1972), Juz.
I, h.396.
2
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Moderen,(Jakarta: Gema Insani,2002),
Cet.II, h.7
3
Imam Taqiyuddin Abubakar bin Muhammad al-husaini, Kifayatul Akhyar(terj),
(surabaya:Bina Iman,2003), cet. VI, h.386

8
9

atau menyucikan harta kita yang lebih yang bukan haknya.4 Sebagaimana firman

Allah Swt dalam Al-Qur'an yang berbunyi:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu


kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk
mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi
mereka. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(al-
Taubah:103)

Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang

berlebih-lebihan kepada harta benda. Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-

sifat kebaikan (solidaritas, kasih saying) dalam hati mereka dan

memperkembangkan harta benda mereka.

Kalau diartikan secara bahasa zakat propesi di kaitkan menjadi dua

elemen. Pertama zakat itu sendiri yang artinya telah penulis utarakan diatas,

kedua adalah kata propesi bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian

(keterampilan, kejuruan, yang terkait dengan jasa, yang diusahakan oleh

manusia, baik itu perorangan juga secara perkelompok, grup seperti dokter,

insinyur, disainer, konsultan hukum dan lainnya.5

4
Hasbullah Bakry, Pedoman Islam di Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1988), cet.V, h. 243
5
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahsa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2007), cet.III, h. 897.
10

2. Menurut Istilah (terminologi)

Sedangkan kalau dilihat dari Istilah (syari'at), adalah bagian harta wajib

yang telah ditentukan baik waktunya (nisab), dan pembagiannya kepada orang-

orang yang berhak menerimanya. Sedangkan menurut para ulama zakat yang

diartikan Istilahan biarpun pendapatnya berbeda redaksi tetapi sama maksudnya

ialah harta yang wajib dikeluarkan pada nisabnya dan pembagiannya pun diatur

kepada orang-orang yang berhak menerimanya semua itu diatur oleh syari'atnya.

Imam Taqiyuddin dalam kitab syarah kifayatul akhyar menembahkan bahwa zakat

menurut syara ialah nama dari sejumlah harta yan tertentu yang diberikan kepada

golongan tertentu dengan syarat-syarat tertentu. Dinamakan zakat, karena harta itu

akan bertambah (tumbuh) disebabkan berkah dikeluarkan zakatnya dan do'a dari

orang yang menerimanya.

Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam al-Qur'an:

Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia


bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi
Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan
untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah
orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Sedangkan yang dimaksud dengan zakat profesi menurut Yusuf Qardhawi

ialah zakat yang berasal dari penghasilan dan pendapatan yang diusahakan

melalui keahliannya, baik keahlian yang dilakukan sendiri maupun bersama-sama


11

juga berkelompok dan sebagainya melalui system upah dan gaji, yang sampai

nisabnya wajib dikeluarkan6.

B. PEMBAGIAN ZAKAT

Kita ketahui awal mulanya zakat dalam garis besarnya terbagi menjadi dua

bagian, karena perkembangan fiqh dan syar'inya dalam ijma ulama zakat tumbuh

dan berkembang menjadi banyak macamnya.

Kedua zakat tersebut ialah zakat tentang harta pribadi berupa(barang

berharga, emas,uang, perak, dan perhiasan lainnya) dan zakat pertanian(berupa

beras, gandum, kurma, perternakan hewan dan hasil pertanian lainnya. Ijma ulama

mengembangkan dunia zakat menjadi bermacam-macam bentuknya sebagai mana

ulama sepakat diantaranya ialah:7

1. Zakat Harta dan Barang Berharga

Zakat ini berpusat kepada harta yang dianggap berharga baik barang

seperti emas, perak, logam mulia, intan permata, mata uang, rumah, mobil

dan motor surat-surat berharga terbagi menjadi beberapa bagian

diantaranya adalah:

a. zakat mata uang

b. zakat perhiasan

c. zakat saham dan obligasi

d. zakat property dan kendaraan bermotor

2. Zakat Pertanian dan perternakan

6
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Moderen, h. 90.
7
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Moderen, h. 93-121
12

Zakat ini menghubungkan kepada sektor hasil-hasil perdagangan dari

pertanian dan juga pemeliharaan, penjualan hewan ternak yang jatuh

nisabnya.

Sebagaimana dalam firman Allah Swt:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)


sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang
Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang
buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri
tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata
terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.(al-Baqarah:267).

Dan ayat lainnya yang artinya:

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan


yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-
macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya)
dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam
itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya
(dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-
lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-
lebihan.

Sedangkan dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang zakat peternakan


terdapat dalam:
13

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan


melihat (balasan)nya.

Kemudian pada surat al-Nahl ayat 10 sebagai berikut:

Dia-lah, yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu,
sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan)
tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu.

Kemudian juga pada surat al-Nahl ayat 68-69

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-


bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".
"kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan
Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman
(madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang
menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
14

3 Zakat Profesi atau Keahlian dan Jasa

Zakat profesi terdiri dari dua suku kata yakni zakat dan profesi.

Mengenai pengertian tentang kata zakat baik itu dari segi bahasa maupun

istilah, penulis telah menjelaskan pada pembahasan-pembahasan

sebelumnya. Sedangkan profesi menurut bahasa adalah bidang pekerjaan

yang dilandasi pendidikan, keahlian (keterampilan, kejuruan) tertentu.

Mengenai zakat profesi para ulama menyebutkan nash-nash yang

bersifat umum untuk dijadikan hujjah tentang keberadaan zakat profesi,

diantaranya adalah firman Allah dalam surat al-Taubah ayat 103, al-

Baqarah ayat 267, dan adz-Dzaariyaat ayat 19 yang berbunyi:

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang
meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.

Sayyid Quthub (wafat 1965 M) dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur'an

ketika menafsirkan tiga ayat tersebut menyatakan bahwa nash-nash itu

mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik dan halal dan mencakup

pula seluruh hasil pertanian, juga pertambangan seperti minyak. Nash ini

mencakup semua harta, baik yang terdapat di zaman rasulullah Saw

maupun zaman sesudahnya. Semua ini menurut Sayyid Quthub wajib

dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan kadar yang ditentukan oleh hukum

syara' baik secara langsung maupun yang dikiaskan kepadanya.


15

Al-Qurthubi (wafat 671 H) dalam tafsir al-Jaami' li Ahkaam al-

Qur'an menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata-kata haqun ma'lum

(hak yang pasti) pada surat adz-Dzaariyaat ayat 19 adalah zakat yang

diwajibkan, bagi semua harta yang dimiliki dan semua penghasilan yang

didapat dan dicari jika telah memenuhi syarat nisab zakat maka wajib

dikeluarkan zakatnya.8

C. Tujuan dan Manfaat Zakat

1. Tujuan dari zakat

Sebagaimana yang telah kita ketahui, zakat adalah salah satu

sebagian dari ibadah, dalam rukun Islam yang ke empat. Unsur dari

zakat mempunyai tujuan yang paling dasar dan mulia disisi

manusia itu sendiri dan tuhan-Nya. Secara global tujuan utama dari

zakat adalah mensejahterakan masyarakat khususnya masyarakat

islam dan melancarkan sifat pertukaran ekonomi global, dan

menciptakan tujuan kasih saying dan iba kepada kaum dluafa.

2. Hikmah dan Manfaat Zakat

Sesuatu hal yang baik mempunyai hikmah dan manfaat yang

ditujunya. Tak lain zakat pun demikian, hikmah dan manfaat dari

zakat ialah :9

Pertama, sebagai perwujudan keimanan kepada Allah Swt dan

mensyukuri nikmat-Nya, dan menumbuhkan akhlak mulia dengan

8
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Moderen, hal 94-95
9
Didin Hafidhuddin zakat Dalam Perekonomian Moderen, hal. 9-15.
16

rasa kemanusiaan yang tinggi batau kesolidaritasan,

menghilangkan sifat kikir, rakus, dan materealistis yang

berlebvihan. Semua itu mengembangkan dan menumbuhkan

ketenangan hidup, membersihkan diri dari harta yang bukan

miliknya. Sebagaimana firman Allah dalm al-Qur'an surat Ibrahim

ayat 7:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Kedua, karena zakat
merupakan hak Mustahik atau delapan ashnaf maka zakat
berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka dari
kemiskinan. Dan zakat mengarah kepada kehidupan yang lebih
baik, layak dan sepadan dengan perekonomian yang memadai dan
menghindarkan dari bahaya kekufuran yang nyata menghilangka
iri dengki dan hasad dari mereka yang kaya. Selanjutnya fungsi
zakat bukan sekedar memenuhi kebutuha para mustahik melainkan
memberikan rasa setara dan seimbang dengan si kaya kearah
kesejahteraan kehidupan. Sebagaimana firman Allah Azza Wa
Jalla dalm surat al-Nisa ayat.: 7

Yang ketiga, sebagai pilar amal bersama(jamai) antara orang-orang

kaya yang berkecukupan hidupnya dan para mujahid yang seluruh

waktunya digunakan berjihad di jalan Allah.

Kesibukan tersebut tidak dia miliki waktu dan kesempatan untuk

berusaha dan berikhtiar mencari nafkah diri dan keluarganya. Allah

berfirma dalam surat al-Baqarah ayat 273


17

" (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan
Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu
menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta.
kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta
kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha
Mengatahui".

Disamping itu sebagai fungsi social yang kongkrit yang di syariatkan pleh

agama islam sebagai tolong menolong kepada sesama. Sebagaimana

firman Allah Swt dalam surat al-Midah ayat 2:


18

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar


Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalid,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila
kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat
aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Keempat, sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan

Negara juga sarana prasarana yang harus dimiliki oleh umat islam seperti

masjid, tempat pendidikan, kesehatan, jalan dan jembatan yang semua ini

didanai oleh sumber dana dari zakat.

Kelima, untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, sebab

zakat itu bukanlah membersihkan harta yang kotor saja melainkan bagian

dari hak orang lain dengan cara itu kita mengusahakan beretika ekonomi

yang baik dan benar. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah

ayat 267:
19

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)


sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang
Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang
buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri
tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata
terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Keenam, sebagai pembangunan untuk mensejahterakan pemerataan

masyarakat umat islam yang dikelola oleh baitul mal dan baitul zakat

seperti Baziz hal ini mencegah terjadinya akumulasi harta dalam satu

tangan dan kesenjangan social yang dapat menghancurkan sistim umat,

bangsa dan Negara. Sebagaimana firman Allah dalam

surat al-Hasyr ayat 7:

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada


RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka
adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-
orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu
jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang
20

diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya


bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

Adapun yang terakhir sebagai dorongan ajaran Islam yang begitu

kuat kepada orang yang beriman untuk berzakat, berinfak, bersedekah dan

menunjukan umat Islam mampu bekerja keras dan berusaha untuk

berlomba-lomba menjadi yang terbaik.


BAB III

HADIS-HADIS TENTANG ZAKAT PROFESI

Adapun para ulama yang sepakat tentang perlunya zakat profesi di

berlakukan pada saat ini menggunakan landasan hukum, baik itu dari nash al-

Quran maupun hadis rasulullah. Berkenaan hujjah atau landasan hukum para

ulama tersebut tentang masalah ini, penulis akan memaparkan hadis-hadis yang di

jadikan hujjah oleh mereka. Para ulama menggunakan dua tema yang berbeda

untuk mendukung pendapatnya, diantaranya al-Haul dan al-Mustafda.

A. Redaksi Hadis

1. Pertama hadis yang diriwayatkan oleh Ab Dud dari jalurAl Ra,

yaitu:

21
22

1
( ) .

Telah memberitahu kami Sulaiman bin Dawud Mehri kepada Ibnu Jarir
bin memberiku sebuah kabar dari seorang bernama Ishaq Abu Asim al-Harits bin
Damra dan Haris al-Awar dari Ali ra bahwa Nabi saw bersabda jika kamu
memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun lalu maka wajib di zakati
sebesar lima dirham, dan tidak ada kewajiban membayar zakat bagi hartamu yang
berbentuk emas, sehingga kamu memiliki dua puluh dinar dan satu tahun telah
berlalu kepemilikannya, maka di dalamnya terdapat kewajiban membayar zakat
setengah dinar begitu pula kelipatannya,
(perawi berkata) aku tidak tahu kata Fabihisabi zalika; apakah Ali yang
mengatakan kata tersebut atau di nisbahkan kepada Nabi saw.
dan tidak wajib zakat pada harta kecuali telah sampai satu tahun masa
kepemilikan telah berlalu
Jarir berkata bahwa Ibn al-Wahab menambahkan dalam hadis Nabi saw ini
kata-kata tidak dalam zakat uang sampai satu tahun telah berlalu

2. Kedua hadis yang diriwayatkan oleh Druqutn dari jalur Ibn Umar

Ra, yaitu:

1
Sulaiman bin Asy-ats Abu Daud Assajastan Al-Azdi, Sunan Abu Daud (Bairut: Dar Al-
Fikri, 1999), juz 2, Bab Zakat asimah, hal. 100.
23

(2 )
Kami telah mendapati kabar dari Hassan bin Ahmed bin Saleh Al-Halabi, dari
Said Bin Utsman al-wariqy dari Abu at-Tuqa Hisyam bin Abdul Malik Idari Baqiyyah dari
Ismail Iyas dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi dari Umar berkata Rasulullah SAW
bersabda tidak ada zakat pada harta kalian sehingga sampai satu tahun telah berlalu
masa kepemilikannya Diriwayatkan oleh Mutamir dan perawi lain lain dari Ubaidullah dan
hadis ini Mauquf

3.Ketiga hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mjah dari jalur isyah Ra,

Yaitu:


:
3
. :

Hadis dari Nashr bin Ali al-Jahdhami, dari Syuja bin Al-Walid dari Haritsah bin

Muhammad dari Amrah dari Aisyah berkata saya mendengar Rasulullah SAW bersabda

tidak ada kewajiban zakat dalam suatu harta hingga berlalu satu tahun kepemilikan

4. Keempat hadis yang diriwayatkan oleh Druqutn dari jalur Anas Ra,

yaitu:



2
Al bin Amr Ab al-Hasan al-Druqutn al-Bagdd, Sunan al-Druqutn, (Bairut: Dr
al-Marifah, 1986), Juz II, h.90.
3
Muhammad bin Yazid bin Abdullah Al-Quzwaini, Sunan Ibnu Mjah (Bairut: Dar Al-
Fikri, 2004), juz 2, Bab Man Istifadu Mlan, hal. 571.
24

:
4
( )

Hijau berkata kepada kami al-Hasan bin Ishaq meriwayatkan mekkah menilai
Yunus bin Ibrahim bin Muhammad bin Suleiman berhala al-Asadi EAC Hassan Bin Siah
konstan dari Anas bahwa Rasulullah dan saw bersabda: Tidak ada zakat uang sampai
satu tahun telah berlalu

B. Kritik Sanad dan Matan riwayat Hadis


a. Hadis Ab Dud jalur Al

No Nama-nama Sanad Periwayatan


1 Ke-1

2 Ke-2

3 Ke-3

4 Ke-4

5 Ke-5

6 Ke-6

7 Ke-7

1. Sulaimn bin Dud al-Mahriy.(256 H).5

Nama lengkap beliau adalah

4
Al bin Amr Ab al-Hasan al-Druqutn al-Bagdd, Sunan al-Druqutn, Juz. II, h. 92.
5
Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml, (Bairut:
Muassasah al-Risalah, 1980), Juz.IV, 388.
25

a) Guru-gurunya adalah:

b) Murid-muridnya adalah:

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

: " " "

Al-Zahab berkata;

" " "

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Sulaimn bin Dud al-Mahriy, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan

kota tempat beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi

diatasny, dengan demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah

menerima hadis diatas dari Ibnu Wahbi dengan lambang yang berarti

sanadnya bersambung.

2. Ibnu Wahbi.(197 H).6

6
Tahzb al-Kaml, Juz. 16, h.277.
26

Nama lengkap beliau adalah:

a) Guru-gurunya adalah:

b) Murid-muridnya adalah:

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Ibnu Wahbi, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau

lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Jarr bin Hzim dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

1. Jarr bin Hzim. (170 H).7

Nama lengkap beliau adalah:

7
Tahzb al-Kaml, Juz.31, h. 121.
27


( )

d) Guru-gurunya adalah:

e) Murid-muridnya adalah:

f) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Jarr bin Hzim, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Ab Ishq dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

3. Ab Ishq(129 H)8

Nama lengkap beliau adalah:


8
Tahzb al-Kaml, Juz. 22, h. 103.
28

a) Guru-gurunya adalah:

b) Murid-muridnya adalah:

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Ab Ishq, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau

lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari sim bin Damrah dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.
29

4. sim bin Damrah dan al-Hrits bin al-Awar9

Nama lengkap beliau adalah:

."( : ) "
) "
."(

a) Guru-gurunya adalah:

b) Murid-muridnya adalah:

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

sim bin Damrah, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasnya, dengan

9
Tahzb al-Kaml, Juz. 13, h. 496.
30

demikian periwayatan yang menyatakan bahwa beliau telah menerima hadis diatas

dari Al Ra, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

5. Al bin Ab Tlib.(40 H).10

Nama lengkap beliau adalah:

)
(

a) Guru-gurunya adalah:

( )

b) Murid-muridnya adalah:

, ,

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

( : )

Al-Zahab berkata;

( : )

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Al Ra, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau lahir

juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan demikian

10
Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, Juz. I, h.85.
31

periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis diatas dari

Nabi Saw., dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

b. Hadis Ibnu Mjah dari jalur isyah Ra:

No Nama nama Sanad Periwayatan

1 Ke-1

2 Ke-2

3 Ke-3

4 Ke-4

5 Ke-5

1. .(250 H).11

Nama lengkap beliau adalah


( )

d) Guru-gurunya adalah:

11
Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, Juz. VII, h. 341.
32

e) Murid-muridnya adalah:

(" " )
,

f) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

" "

Al-Zahab berkata;

" : "

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Nasir bin Al, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau

lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Syaj dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

. 2 (204 H).12

Nama lengkap beliau adalah:

)
(

12
Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, Juz. I, h.90
33

g) Guru-gurunya adalah:

h) Murid-muridnya adalah:

i) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Syaj bin al-Wald, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dariUmarah binti Abdul al-Rahman dengan lambang yang berarti

sanadnya bersambung.

. 3 (98-106H).13

Nama lengkap beliau adalah:

13
Tahzb al-Kaml, Juz. 13, h. 235
34

j) Guru-gurunya adalah:

, :

k) Murid-muridnya adalah:

l) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Umarah, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau lahir

juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan demikian

periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis diatas dari

Hrisah dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

4. (148 H)14

Nama lengkap beliau adalah:

14
Tahzb al-Kaml, Juz. 13, h. 451
35

a. Guru-gurunya adalah:

b. Murid-muridnya adalah:

c. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Hrisah, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau lahir

juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan demikian

periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis diatas dari

isyah Ra, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

5. ( 57-58 H)15

Nama lengkap beliau adalah:

15
Tahzb al-Kaml, Juz. 13, h. 421
36

) : "

a. Guru-gurunya adalah:

b. Murid-muridnya adalah:

c. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

: )

Al-Zahab berkata;

: )

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

isyah Ra, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau

lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan
37

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Nabi Saw, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

2. Hadis dari Druqutni jalur Ibnu Unar Ra:

No Nama nama Sanad Periwayatan

1 Ke-1

2 Ke-2

3 Ke-3

4 Ke-4

5 Ke-5

6 Ke-6

7 Ke-7

8 Ke-8

3. 16

Nama lengkap beliau adalah

m) Guru-gurunya adalah:

n) Murid-muridnya adalah:

16
Tahzb al-Kaml, Juz. 13, h. 121
38

o) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

" "

Al-Zahab berkata;

" : "

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela al-

Hasan bin Ahmad, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Sad bin Utsman al-Warq dengan lambang yang berarti

sanadnya bersambung.

. 2 (204 H).17

Nama lengkap beliau adalah:

p) Guru-gurunya adalah:

q) Murid-muridnya adalah:

r) Pernyataannya Para kritikus hadis:

17
Tahzb al-Kaml, Juz. 13, h. 478
39

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Sad bin Utsman al-Warq , dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan

kota tempat beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi

diatasny, dengan demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah

menerima hadis diatas dari Ab al-Taqi Hisym dengan lambang yang

berarti sanadnya bersambung.

. 3 (98-106H).18

Nama lengkap beliau adalah:

s) Guru-gurunya adalah: -

t) Murid-muridnya adalah: -

u) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

18
Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml, (Bairut:
Muassasah al-Risalah, 1980), Juz. 30, h.223.
40

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Ab al-Taqi Hisym, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Baqiyah dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

6. ( 148 H)19

Nama lengkap beliau adalah:

a. Guru-gurunya adalah:

b. Murid-muridnya adalah:

c. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

19
Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml, Juz.4,
h.192.
41

: :

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Baqiyah, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau lahir

juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan demikian

periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis diatas dari

Isml bin Aysy, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

7. (57-58 H)20

Nama lengkap beliau adalah:

a. Guru-gurunya adalah:

b. Murid-muridnya adalah:

c. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

20
Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, (Bairut: Dr al-Fikr, 1980), Juz.
9, h. 51
42

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Isml bin Aysy, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Ubaidillah bin Umar, dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

4. (w. tidak disebutkan)21

Nama lengkap beliau adalah:

( )

d. Guru-gurunya adalah:

e. Murid-muridnya adalah:

f. Pernyataannya Para kritikus hadis:

21
. Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml, Juz.19,
h. 124.
43

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Ubaidillah bin Umar, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota

tempat beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny,

dengan demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima

hadis diatas dari Nfi, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

8. (w. tidak ditemukan)


22

Nama lengkap beliau adalah:

) "

a. Guru-gurunya adalah:

b. Murid-muridnya adalah:

22
Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, juz. I, h. 996.
44

c. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Nfi, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau lahir

juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan demikian

periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis diatas dari

Ibnu Umar, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

9.
23

Nama lengkap beliau adalah:

a. Guru-gurunya adalah

23
Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml, Juz. IV,
h. 296.
45

b. Murid-muridnya adalah:

c. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:


Al-Zahab berkata;

": : )
( "

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Ibnu Umar, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat beliau

lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Nabi Saw, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

e. Hadis dari Druqutni jalur Anas Ra:

No Nama nama Sanad Periwayatan

1 Ke-1

2 Ke-2

3 Ke-3

4 Ke-4

5 Ke-5

6 Ke-6
46

1 .

Nama lengkap beliau adalah

a) Guru-gurunya adalah:

b) Murid-muridnya adalah:

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Abu Ali al-Hasan, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Ishq bin Ibrhm dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

.2

Nama lengkap beliau adalah:


47

d) Guru-gurunya adalah:

e) Murid-muridnya adalah:

f) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Ishq bin Ibrhm, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Muhammad bin Sulaimn al-Asad dengan lambang yang

berarti sanadnya bersambung.

. 3 (98-106H).

Nama lengkap beliau adalah:

g) Guru-gurunya adalah:

h) Murid-muridnya adalah:
48

i) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Muhammad bin Sulaimn al-Asad, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya

dan kota tempat beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi

diatasny, dengan demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah

menerima hadis diatas dari dengan Hasn bin Sih lambang yang berarti

sanadnya bersambung.

4.

Nama lengkap beliau adalah:

d. Guru-gurunya adalah:

e. Murid-muridnya adalah:

f. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:


49

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Hasn bin Sih, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Tsbit bin Aslam, dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

5.

Nama lengkap beliau adalah:

g. Guru-gurunya adalah:

h. Murid-muridnya adalah:

i. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:


Al-Zahab berkata;


50

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Tsbit bin Aslam, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Anas bin Mlik, dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

6.

Nama lengkap beliau adalah:

j. Guru-gurunya adalah:

k. Murid-muridnya adalah:

l. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:


Al-Zahab berkata;
51

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

Anas bin Mlik, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari Nabi Saw, dengan lambang yang berarti sanadnya bersambung.

Dibawah ini adalah hadis-hadis yang berkenaan dengan al-Amwl al-

Mustafda. Di antaranya adalah:

7. Hadis riwayat pertama.

)
.(
Beritahu kami Yahya bin Musa bin Saleh Haroun kepada kami Ettalhi sipil Abdul
Rahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Ibnu Umar berkata:
"Rasulullah saw saw manfaat dari uang zakat tidak sampai satu tahun telah berlalu ketika
pintu Tuhan dengan sukacita gadis Nabhan Ghannoip (Sunan At-Tirmidzi).

No Nama nama Sanad Periwayatan

1 Ke-1

2 Ke-2

3 Ke-3
52

4 Ke-4

5 Ke-5

1. (w. 240 H)

Nama lengkap beliau adalah


( )
a) Guru-gurunya adalah:

,( )

b) Murid-muridnya adalah:

c) Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota

tempat beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny,
53

dengan demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima

hadis diatas dari dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

2. (w. 220 H)

Nama lengkap beliau adalah:

a. Guru-gurunya adalah:

,( )

a. Murid-muridnya adalah:

b. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan
54

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari dengan lambang yang berarti

sanadnya bersambung.

3.

Nama lengkap beliau adalah:

( )

b. Guru-gurunya adalah:

,( )( )

c. Murid-muridnya adalah:

,( )

d. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;
55

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota

tempat beliau lahir juga wafatnya akan tetapi ada kejanggalan dengan perawi

diatasnya, walaupun demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah

menerima hadis diatas dari dengan lambang yang berarti

sanadnya bersambung.

4.
Nama lengkap beliau adalah:


( )
c. Guru-gurunya adalah:

,( )( )

e. Murid-muridnya adalah:

f. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

Al-Zahab berkata;
56

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

6. (w. 23 H).

Nama lengkap beliau adalah:

( )

d. Guru-gurunya adalah:

,( )

g. Murid-muridnya adalah:

, ,

h. Pernyataannya Para kritikus hadis:

Ibnu Hajar berkata beliau:

( : )

Al-Zahab berkata;

( : )
57

Dari pernyataan kritikus hadis diatas, tidak seorangpun yang mencela

, dan apabila dilihat dari tahun kelahirannya dan kota tempat

beliau lahir juga wafatnya tidak ada kejanggalan dengan perawi diatasny, dengan

demikian periwayatan yang menyatakan bahawa beliau telah menerima hadis

diatas dari dengan lambang yang berarti sanadnya

bersambung.

c. Kritik Matan
Dalam kritik Matan ini, penulis harus menjabarkan sebelumnya pada

bagaimana matan itu dianggapa sebagai matan yang shahih atau tidak, dari itu ada

beberapa syarat yang harus diikuti sebagai berikut:24

1. Membandingkan matan hadis tidak bertentangan dengan al-Quran.

2. Matan hadis tidak bertentangan dengan hadis Sahih lainnya

3. Makna matan hadis tidak bertentangan dengan akal sehat dan sejarah

Nabi Saw.

4. Makna matan hadis tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan

modern.

a. Matan hadis tidak bertentangan dengan al-Quran

Kalau dilihat dengan seksama bahwa hadis zakat profesi yang penulis

analisa sangat tidak bertentangan dengan al-Quran yang mana sumber

24
Syuhudi Ismail, Metode Penelitian Hadis, (Jakarta:Bulan Bintang, 1996), h. 128 cet.
IV.
58

pertama dari hukum Islam tersebut, yang mana dijelaskan dalam al-Quran

yang artinya:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan
Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Maksudnya dari ayat tersebut ialah: zakat itu membersihkan mereka

dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda yang

mereka punya.

Hal lain dari maksudnya ayat tersebut ialah: zakat itu menyuburkan

sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda

mereka.

Dan pada ayat lain juga dikuatkan bahwa zakat profesi sangatlah

berguna dari harta mereka yang diusahakan sebagaimana dalam al-Quran

Q.S. al-Baqoroh: 267 yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)


sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang
kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang
buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri
tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata
terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
59

b. Matan hadis tidak bertentangan dengan hadis Sahih lainnya

Memang dalam analisis zakat profesi ini matan hadis-hadis diatas tidak

berbertolak belakang, dengan hadis sahih lainnya akan tetapi mempunyai

perbedaan dalam penentuan kapan zakat profesi itu dikeluarkan sebagai

mana hadis yang dimaksud adalah:

( ) ." "
Hadis ini dalam penetapan zakat profesi yang dimaksud adalah:

" "

Sedangkan dalam hadis lain ada makna berbeda yaitu:

( )

Hadis ini dalam penetapan zakat profesi yang dimaksud adalah:

" "

c. Makna matan hadis tidak bertentangan dengan akal sehat dan sejarah

Nabi Saw.

Dalam hadis zakat profesi ini makna-makna matan hadis tersebut diatas

setelah dianalisa tidak sama sekali bertentangan dengan akal sehat dan
60

sejarah Nabi Saw, juga perkembangan dunia Islam, malah sebaliknya searah

dengan hakekat perkembangan pemikiran dan keilmuan Islam pada zaman

modern sekarang khususnya dalam memberantas kemiskinan.

d. Makna matan hadis tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan

modern.

Kalau di kaji bahwa matan hadis zakat profesi mempunyai arah yang

sama dalam pengetahuan modern khususnya dalam keilmuan sosial dan

kebudayaan yang mana memberikan sebuah kemajuan dalam memberantas

kemiskinan dan ketimpangan yang tajam dalam struktural sistem

masyarakat.
BAB IV

KAJIAN HADIS-HADIS TENTANG ZAKAT PROFESI

A. Subtansi Dasar Zakat Profesi

Zakat profesi atau zakat penghasilan sebenarnya telah dikenal sejak lama.

Beberapa riwayat menjelaskan hal tersebut, diantaranya adalah riwayat dari Ibnu

Mas'ud, Mu'awiyah dan Umar bin Abdul Aziz yang menjelaskan bahwa beliau

mengambil zakat dari a'thoyat, jawaiz (hadiah) dab al-madholim (barang ghasab

yang dikembalikan). Abu Ubaid meriwayatkan, "Adalah Umar bin Abdul Aziz

memberi upah kepada pekerjaannya dan mengambil zakatnya, dan apabila

mengembalikan al-madholim (barang ghasab yang dikembalikan) diambil

zakatnya, dan beliau juga mengambil zakat dari a'toyat (gaji rutin) yang diberikan

kepada yang menerimanya".

Dasar pengenaan zakat profesi diantaranya adalah QS Al- Baqarah, ayat 267:

............

" Hai orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari (hasil) usaha

kamu yang baik .".

Kemudian juga dijelaskan QS At Taubah : 103. yang berbunyi:

61
62

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu

membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka.

Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Fatwa Ulama pada Mu'tamar Internasional I tentang zakat di Kuwait (30

April 1984 M), antara lain juga menyebutkan obyek zakat yang tidak secara

spesifik disebutkan dalam hadist yaitu : zakat profesi, perusahaan, dan kegiatan

usaha lainnya.1

Berbagai ulama berpendapat bahwa pengenaan zakat profesi dapat

diqiyaskan atau dianalogkan dengan dua jenis zakat sekaligus yaitu zakat

pertanian dan zakat uang/ emas. Dianalogkan dengan zakat pertanian, karena

zakat profesi tidak mempunyai haul. Artinya kalau zakat pertanian wajib

dikeluarkan saat panen (QS 6:141), maka zakat profesi juga wajib dikeluarkan

saat kita menerima hasil usaha (jerih payah) kita.

Dianalogkan dengan zakat uang/emas, karena penghasilan yang kita terima

berupa uang tidak dalam bentuk natura. Zakat profesi dianalogkan dengan zakat

pertanian untuk nishabnya, yaitu setara dengan 524 kg beras, sehingga jika harga

beras Rp 5.000,00/kg berarti nishob zakat profesi sebesar Rp 2.620.000,00 per

bulan. Untuk prosentasenya, mengikuti zakat uang/ emas yaitu 2,5% dari hasil

yang diterima (bruto).

Beberapa alasan Kewajiban Zakat Profesi, antara lain:

1
Halqaad-Dirasah al-Ijtimaiyyah hal :248
63

Ayat-ayat Qur'an yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta

dikeluarkan zakatnya.

Berbagai pendapat para ulama terdahulu maupun sekarang, meskipun

dengan menggunakan istilah yang berbeda. Sebagian dengan menggunakan istilah

yang bersifat umum yaitu al-amwaal, sementara sebagian lagi secara khusus

memberikan istilah dengan istilah al-mustafad seperti terdapat dalam fiqh zakat

dan al-fiqh al-Islamy wa 'Adillatuhu.

Dari sudut keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam penetapan

kewajiban zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas,

dibandingkan dengan hanya menetapkan kewajiban zakat pada komoditas-

komoditas tertentu saja yang konvensional. Petani yang saat ini kondisinya secara

umum kurang beruntung, tetapi harus berzakat, apabila hasil pertaniannya telah

mencapai nishob. Karena itu sangat adil pula, apabila zakat inipun bersifat wajib

pada penghasilan yang didapatkan para dokter, para ahli hukum, konsultan dalam

berbagai bidang, para dosen, para pegawai dan karyawan yang memiliki gaji

tinggi, dan profesi lainnya.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan ummat manusia, khususnya

dalam bidang ekonomi, kegiatan penghasilan melalui keahlian dan profesi ini

akan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan akan menjadi kegiatan

ekonomi yang utama, seperti terjadi di negara-negara industri sekarang ini.

Penetapan kewajiban zakat kepadanya, menunjukkan betapa hukum Islam sangat

aspiratif dan responsif terhadap perkembangan zaman. Afif Abdul Fatah Thabari

menyatakan bahwa aturan dalam Islam itu bukan saja sekedar berdasarkan pada
64

keadilan bagi seluruh ummat manusia, akan tetapi sejalan dengan kemaslahatan

dan kebutuhan hidup manusia, sepanjang zaman dan keadaan, walaupun zaman

itu berbeda dan berkembang dari waktu ke waktu.

B. 1. Hadis-hadis zakat profesi

Ketentuan setahun itu ditetapkan berdasarkan hadis-hadis dari empat

sahabat, yaitu Ali, Ibnu Umar, Anas dan Aisyah r.a. Tetapi hadis-hadis itu

lemah, tidak bisa dijadikan landasan hukum. Diantaranya:

1. HADIS DARI ALI

Hadis dari Ali diriwayatkan oleh Abu Daud tentang Zakat Ternak.

"Kami diberitahu oleh Sulaiman bin Daud al-Mahri, oleh Ibnu Wahab, oleh Jarir

bin Hazim, yang lain mengatakan dari Abu Ishaq, dari Ashim bin Dzamra dan

Haris 'A'war, dari Ali r.a., dari Nabi s.a.w. Bila engkau mempunyai dua ratus

dirham dan sudah mencapai waktu setahun, maka zakatnya adalah 5 (lima)

dirham, dan tidak ada suatu kewajiban zakat yaitu atas emas-sampai engkau

mempunyai dua puluh dinar dan sudah mencapai masa setahun, yang

zakatnya adalah setengah dinar. Lebih dari itu menurut ketentuan di atas, Abu

Daud berkata, "Saya tidak tahu apakah Ali yang mengatakan "Lebih dari

itu menurut ketentuan" tersebut ataukah yang mengatakannya Nabi sendiri.

Begitu juga tentang ketentuan masa setahun bagi wajib zakat, selain ucapan

Jarir, "Hadis dari Nabi tersebut bersambung dengan "Tidak ada kewajiban zakat

atas satu kekayaan sampai melewati waktu setahun." Demikian hadis Ali yang

diriwayatkan oleh Abu Daud2

2
Abu Daud, Sunan Abu Daud , Beirut 1994 Hal:145
65

2. HADIS DARI IBNU UMAR

Mengenai hadis dari Ibnu Umar, Ibnu Hajar berkata bahwa hadis yang

diriwayatkan oleh Daruquthni dan Baihaqi, didalamnya terdapat Ismail bin

Iyasy yang menerima dari sumber bukan penduduk Syam, adalah lemah.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Numair, Mu'tamar, dan lain-lain dari gurunya,

yaitu Ubaidillah bin Umar, yang meriwayatkan dari Nafi' kemudian terputus,

yang dibenarkan oleh Daruquthni dalam al-'Ilal bahwa hadis tersebut memang

mauquf.3

3. HADIS DARI ANAS

Mengenai hadis dari Anas, Daruquthni meriwayatkan yang didalamnya

ada Hasan bin Siyah yang lemah yang telah meriwayatkan sendiri saja dari

Sabit (Talkhish: 175) bahwa Ibnu Hiban berkata dalam kitab adz-Dzu'afa' bahwa

ia meragui hadis itu yang tidak diperbolehkannya untuk landasan hokum karena

ia meriwayatkannya sendiri saja.4

4. HADIS DARI AISYAH

Hadis dari Aisyah diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Daruquthni, Baihaqi,

serta Uqaili dalam adz-Dzu'afa' bahwa didalamnya terdapat Harisha bin Abur

Rijal, yang lemah.5

B.2. HADIS-HADIS TENTANG "HARTA PENGHASILAN"

Hadis khusus tentang "harta penghasilan" diriwayatkan oleh Turmizi

dari Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam dari bapanya dari Ibnu Umar,

3
Daruquthni, al-ilal, Beirut 1990 Hal. 312
4
Nushbu ar-riwayah, Mesir, 1997 Hal 97
5
Imam ad-Dzahabi, Talhis al Mustadrak, Beirut, 213
66

"Rasulullah s.a.w. bersabda, "Siapa yang memperoleh kekayaan maka tidak ada

kewajiban zakatnya sampai lewat setahun di sisi Tuhannya."

Hadis yang diriwayatkan oleh Turmizi juga dari Ayyub bin Nafi, dari

Ibnu Umar, "Siapa yang memperoleh kekayaan maka tidak ada kewajiban zakat

atasnya dan seterusnya," tanpa dihubungkan kepada Nabi s.a.w.

Turmizi mengatakan bahwa hadis itu lebih shahih daripada hadis Abdur

Rahman bin Zaid bin Aslam, Ayyub, Ubaidillah, dan lainnya yang lebih dari

seorang meriwayatkan dari Nafi, dari Ibnu Umar secara mauquf. Abdur Rahman

bin Zaid bin Aslam lemah mengenai hadis, dianggap lemah oleh Ahmad bin

Hanbal, Ali Madini, serta ahli hadis lainnya, dan dia itu terlalu banyak

salahnya. Hadis dari Abdur Rahman bin Zaid juga diriwayatkan oleh

Daruquthni dan al-Baihaqi, tetapi Baihaqi, Ibnu Jauzi, dan yang lain

menganggapnya mauquf, sebagaimana dikatakan oleh Turmizi. Daruquthni

dalam Gharaibu Malik meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim Hunaini dari Malik

dari Nafi' dari Ibnu Umar begitu juga Daruquthni mengatakan bahwa hadis

tersebut lemah, dan yang shahih menurut Malik adalah mauquf. Baihaqi

meriwayatkan dari Abu Bakr, Ali, dan Aisyah secara mauquf, begitu juga dari

Ibnu Umar. Ia mengatakan bahwa yang jadi pegangan dalam masalah tersebut

adalah hadis-hadis shahih dari Abu Bakr ash-Shiddiq, Usman bin Affan,

Abdullah bin Umar, dan lain-lainnya.6

6
Lihat as-Sunan al-Kubra Jilid 4 Hal.:95
67

Dengan penjelasan ini jelaslah bagi kita bahwa mengenai persyaratan

waktu setahun (haul) tidak berdasar hadis yang tegas dan berasal dari Nabi

s.a.w, apalagi mengenai "harta penghasilan" seperti dikatakan oleh Baihaqi.

Bila benar berasal dari Nabi s.a.w., maka hal itu tentulah mengenai kekayaan

yang bukan "harta penghasilan" berdasarkan jalan tengah dan banyak dalil

tersebut. Ini bisa diterima, yaitu bahwa harta benda yang sudah dikeluarkan

zakatnya tidak wajib zakat lagi sampai setahun berikutnya. Zakat adalah

tahunan tidak bisa dipertengahan lagi. Dalam hal ini hadis itu bisa berarti bahwa

zakat tidak wajib atas suatu kekayaan sampai lewat setahun. Artinya tidak ada

kewajiban zakat lagi atas harta benda yang sudah dikeluarkan zakatnya sampai

lewat lagi masanya setahun penuh. Hal ini sudah kita jelaskan dalam fasal pertama

bab ini.

Petunjuk lain bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan tentang ketentuan

setahun atas "harta penghasilan" itu adalah ketidak-sepakatan para sahabat

yang akan kita jelaskan. Bila hadis-hadis tersebut shahih, mereka tentu akan

mendukungnya.

Ketidak-sepakatan para Sahabat dan Tabi'in dan Sesudahnya tentang

Harta Benda Hasil Usaha Bila mengenai ketentuan setahun tidak ada nash yang

shahih,

Tidak pula ada ijmak qauli ataupun sukuti, maka para sahabat dan tabi'in

tidak sependapat pula tentang ketentuan setahun pada "harta penghasilan."

Diantara mereka ada yang memberikan ketentuan setahun itu, dan ada pula

yang tidak dan mewajibkan zakat dikeluarkan sesaat setelah seseorang


68

memperoleh kekayaan penghasilan tersebut. Ketidak-sepakatan mereka itu tidak

berarti bahwa pendapat salah satu pihak lebih kuat dari pendapat yang lain.

Persoalannya harus diteropong dengan nash-nash lain danaksioma umum

Islam seperti firman Allah, "Bila kalianberselisih dalam sesuatu,

kembalikanlah kepada Allah dan Rasul." (Quran, 4:59). Qasim bin

Muhammad bin Abu Bakr ash-Shiddiq mengatakan bahwa Abu Bakr ash-

Shiddiq tidak mengambil zakat dari suatu harta sehingga lewat setahun. Umra

binti Abdir Rahman dari Aisyah mengatakan zakat tidak dikeluarkan sampai

lewat setahun, yaitu zakat "harta penghasilan." Hadis dari Ali bin Abi Thalib,

"Siapa yang memperoleh harta, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakatnya

sampai lewat setahun." Demikian pula dari Ibnu Umar.7

Hadis-hadis dari para sahabat itu menunjukkan, bahwa zakat tidak wajib

atas harta benda sampai berada pada pemiliknya selama setahun, meskipun harta

penghasilan. Namun sahabat lainnya tidak menerima pendapat tersebut, dan

tidak memberikan syarat satu tahun atas zakat harta penghasilan. Ibnu Hazm

mengatakan bahwa Ibnu Syaibah dan Malik meriwayatkan dalam al-

Muwaththa dari Ibnu Abbas, bahwa kewajiban pengeluaran zakat setiap harta

benda yang dizakati adalah yang memilikinya adalah seseorang Muslim.8

Mereka yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas tersebut bahwa zakat dari

harta penghasilan harus segera dikeluarkan zakatnya tanpa menunggu satu

tahun adalah lbnu Mas'ud, Mu'awiyah dari sahabat, Umar bin Abdul Aziz,

7
Ibnu Hazm meriwayatkan dalam al-Muhalla, jilid 5 hal :276
8
Abu Ubaid, Al-Muhalla, Beirut, Jilid 4:83
69

Hasan, dan az-Zuhri dari kalangan tabi'in, yang akan kita jelaskan dalam fasal-

fasal berikut.

C. Pendapat Para Ulama Tentang Zakat Profesi

C.1. Pandangan Fikih Tentang Penghasilan Dan Profesi Pendapat Mutakhir

Guru-guru seperti Abdur Rahman Hasan, Muhammad Abu Zahrah dan

Abdul Wahab Khalaf telah mengemukakan persoalan ini dalam ceramahnya

tentang zakat di Damaskus pada tahun 1952. Ceramah mereka tersebut sampai

pada suatu kesimpulan yang teksnya sebagai berikut:

"Penghasilan dan profesi dapat diambil zakatnya bila sudah setahun dan

cukup senisab. Jika kita berpegang kepada pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf,

dan Muhammad bahwa nisab tidak perlu harus tercapai sepanjang tahun,

tapi cukup tercapai penuh antara dua ujung tahun tanpa kurang di tengah-

tengah kita dapat menyimpulkan bahwa dengan penafsiran tersebut

memungkinkan untuk mewajibkan zakat atas hasil penghasilan setiap tahun,

karena hasil itu jarang terhenti sepanjang tahun bahkan kebanyakan mencapai

kedua sisi ujung tahun tersebut. Berdasar hal itu, kita dapat menetapkan hasil

penghasilan sebagai sumber zakat, karena terdapatnya illat (penyebab), yang

menurut ulama-ulama fikih sah, dan nisab, yang merupakan landasan wajib

zakat."

"Dan karena Islam mempunyai ukuran bagi seseorang untuk bisa

dianggap kaya - yaitu 12 Junaih emas menurut ukuran Junaih Mesir lama maka

ukuran itu harus terpenuhi pula buat seseorang untuk terkena kewajiban zakat,
70

sehingga jelas perbedaan antara orang kaya yang wajib zakat dan orang miskin

penerima zakat.

Dalam hal ini, mazhab Hanafi lebih jelas, yaitu bahwa jumlah senisab itu

cukup terdapat pada awal dan akhir tahun saja tanpa harus terdapat di

pertengahan tahun. Ketentuan itu harus diperhatikan dalam mewajibkan zakat

atas hasil penghasilan dan profesi ini, supaya dapat jelas siapa yang tergolong

kaya dan siapa yang tergolong miskin, seorang pekerja profesi jarang tidak

memenuhi ketentuan tersebut."

Mengenai besar zakat, mereka mengatakan, "Penghasilan dan profesi,

kita tidak menemukan contohnya dalam fikih, selain masalah khusus mengenai

penyewaan yang dibicarakan Ahmad. Ia dilaporkan berpendapat tentang

seseorang yang menyewakan rumahnya dan mendapatkan uang sewaan yang

cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika

menerimanya tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya

menyerupai mata penghasilan, dan wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah

mencapai satu nisab."

Hal itu sesuai dengan apa yang telah kita tegaskan lebih dahulu, bahwa

jarang seseorang pekerja yang penghasilannya tidak mencapai nisab seperti

yang telah kita tetapkan, meskipun tidak cukup di pertengahan tahun tetapi

cukup pada akhir tahun. Ia wajib mengeluarkan zakat sesuai dengan nisab yang

telah berumur setahun.


71

C.2.GAJI DAN UPAH ADALAH HARTA PENDAPATAN

Akibat dari tafsiran itu, kecuali yang menentang, - adalah bahwa zakat

wajib dipungut dari gaji atau semacamnya sebulan dari dua belas bulan. Karena

ketentuan wajib zakat adalah cukup nisab penuh pada awal tahun atau akhir

tahun.

Yang menarik adalah pendapat guru-guru besar tentang hasil penghasilan

dan profesi dan pendapatan dari gaji atau lain-lainnya di atas, bahwa

mereka tidak menemukan persamaannya dalam fikih selain apa yang dilaporkan

tentang pendapat Ahmad tentang sewa rumah diatas. Tetapi sesungguhnya

persamaan itu ada yang perlu disebutkan di sini, yaitu bahwa kekayaan tersebut

dapat digolongkan kepada kekayaan penghasilan, "yaitu kekayaan yang

diperoleh seseorang Muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai dengan

syariat agama. Jadi pandangan fikih tentang bentuk penghasilan itu adalah,

bahwa ia adalah "harta penghasilan."

Sekelompok sahabat berpendapat bahwa kewajiban zakat kekayaan

tersebut langsung, tanpa menunggu batas waktu setahun. Diantara mereka

adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Mu'awiyah, Shadiq, Baqir, Nashir, Daud, dan

diriwayatkan juga Umar bin Abdul Aziz, Hasan, Zuhri, serta Auza'i.

Pendapat-pendapat dan sanggahan-sanggahan terhadap pendapat-pendapat itu

telah pernah ditulis dalam buku-buku yang sudah berada di kalangan para

peneliti, misalnya al-Muhalla oleh Ibnu Hazm, jilid 4: 83 dan seterusnya al-

Mughni oleh Ibnu Qudamah jilid 2: 6 Nail-Authar jilid 4: 148 Rudz an-Nadzir

jilid 2; 41 dan Subul as-Salam jilid 2: 129.


72

D. Analisis

Yang mendesak, mengingat zaman sekarang, adalah menemukan hukum

pasti "harta penghasilan" itu, oleh karena terdapat hal-hal penting yang perlu

diperhatikan, yaitu bahwa hasil penghasilan, profesi, dan kekayaan non-

dagang dapat digolongkan kepada "harta penghasilan" tersebut. Bila

kekayaan dari satu kekayaan, yang sudah dikeluarkan zakatnya, yang di

dalamnya terdapat "harta penghasilan" itu, mengalami perkembangan, misalnya

laba perdagangan dan produksi binatang ternak maka perhitungan tahunnya

disamakan dengan perhitungan tahun induknya. Hal itu karena hubungan

keuntungan dengan induknya itu sangat erat.

Berdasarkan hal itu, bila seseorang sudah memiliki satu nisab binatang

ternak atau harta perdagangan, maka dasar dan labanya bersama-sama dikeluarkan

zakatnya pada akhir tahun. Ini jelas. Berbeda dengan hal itu, "harta penghasilan"

dalam bentuk uang dari kekayaan wajib zakat yang belum cukup masanya

setahun, misalnya seseorang yang menjual hasil tanamannya yang sudah

dikeluarkan zakatnya 1/10 atau 1/20, begitu juga seseorang menjual produksi

ternak yang sudah dikeluarkan zakatnya, maka uang yang didapat dari harga

barang tersebut tidak dikeluarkan zakatnya waktu itu juga. Hal itu untuk

menghindari adanya zakat ganda, yang dalam perpajakan dinamakan "Tumpang

Tindih Pajak."

Yang kita bicarakan disini, adalah tentang "harta penghasilan,"

yang berkembang bukan dari kekayaan lain, tetapi karena penyebab bebas,
73

seperti upah kerja, investasi modal, pemberian, atau semacamnya, baik dari

sejenis dengan kekayaan lain yang ada padanya atau tidak.

Berlaku jugakah ketentuan setahun penuh bagi zakat kekayaan hasil kerja

ini? Ataukah digabungkan dengan zakat hartanya yang sejenis dan ketentuan

waktunya mengikuti waktu setahun harta lainnya yang sejenis itu? Atau wajib

zakat terhitung saat harta tersebut diperoleh dan susah terpenuhi syarat-

syarat zakat yang berlaku seperti cukup senisab, bersih dari hutang, dan

lebih dari kebutuhan kebutuhan pokok?

Yang jelas ketiga pendapat tersebut diatas adalah pendapat ulama- ulama

fikih meskipun yang terkenal banyak di kalangan para ulama fikih itu adalah

bahwa masa setahun merupakan syarat mutlak setiap harta benda wajib zakat,

harta benda perolehan maupun bukan. Hal itu berdasarkan hadis-hadis

mengenai ketentuan masa setahun tersebut dan penilaian bahwa hadis-hadis

tersebut berlaku bagi semua kekayaan termasuk harta hasil usaha.

Di bawah ini dijelaskan tingkatan kebenaran hadis-hadis tentang

ketentuan setahun tersebut dan sejauh mana para imam hadis membenarkannya.

Setelah diperbandingkan pendapat-pendapat di atas dengan alasan masing-

masing, diteliti nash-nash yang berhubungan dengan status zakat dalam

bermacam-macam kekayaan, diperhatikan hikmah dan maksud pembuat syariat

mewajibkan zakat, dan diperhatikan pula kebutuhan Islam dan umat Islam pada

masa sekarang ini, maka saya berpendapat harta hasil usaha seperti gaji

pegawai, upah karyawan, pendapatan dokter, insinyur, advokat dan yang lain
74

yang mengerjakan profesi tertentu dan juga seperti pendapatan yang diperoleh

dari modal yang diinvestasikan di luar sektor perdagangan,

seperti pada mobil, kapal, kapal terbang, percetakan, tempat- tempat

hiburan, dan lain-lainnya, wajib terkena zakat persyaratan satu tahun dan

dikeluarkan pada waktu diterima.

Sebagai penjelasan dari pendapat kami dalam masalah yang sensitif itu,

kami mengemukakan beberapa butir alasan di bawah ini, supaya kebenaran

dapat jelas yang dikuatkan dengan dalil:

1. Persyaratan satu tahun dalam seluruh harta termasuk harta penghasilan tidak

berdasar nash yang mencapai tingkat shahih atau hasan yang darinya bisa diambil

ketentuan hukum Syara' yang berlaku umum bagi umat. Hal itu berdasarkan

ketegasan para ulama hadis dan pendapat sebagian para sahabat yang diakui

kebenarannya sebagaimana telah kita terangkan.

2. Para sahabat dan tabi'in memang berbeda pendapat dalam harta penghasilan:

sebagian mempersyaratkan adanya masa setahun, sedangkan sebagian lain tidak

mempersyaratkan satu tahun itu sebagai syarat wajib zakat tetapi wajib pada

waktu harta penghasilan tersebut diterima oleh seorang Muslim. Perbedaan

mereka itu tidak berarti bahwa salah satu lebih baik daripada yang lain, oleh

karena itu maka persoalannya dikembalikan pada nash-nash yang lain dan kaedah-

kaedah yang lebih umum, misalnya firman Allah: "Bila kalian berbeda pendapat

tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Quran) dan kepada Rasul

(hadis)." (An-Nisa,: 59).


75

3. Ketiadaan nash ataupun ijmak dalam penentuan hukum zakat harta penghasilan

membuat mazhab-mazhab yang ada berselisih pendapat tajam sekali, yang

mengakibatkan Ibnu Hazm sampai menilainya sebagai dugaan-dugaan saja,

merupakan pertentangan-pertentangan dan bagian- bagian yang saling

bertentangan yang tidak ada dasar kebenarannya, tidak dari Quran atau hadis

shahih atau riwayat yang ada cela sekalipun, maupun dari Ijmak dan Qias, dan

dari pemikiran dan pendapat yang kira-kira dapat diterima. Saya sudah melakukan

penjajagan atas perbedaan-perbedaan pendapat antara mazhab-mazhab, metode

dan perbedaan pentashihan dan pentarjihan masing-masing mazhab. Saya

menemukan pula berpuluh-puluh persoalan dan persoalan lebih jauh yang

ditimbulkannya mengenai harta penghasilan itu, digabungkankah penghasilan itu

dengan harta induknya atau tidak, ataukah sebagian digabungkan dan sebagian

lagi tidak. Penggabungan tersebut dalam hal nisab, tahun, ataukah dalam

keduanya. Beberapa diskusi berkisar mengenai masalah itu dalam hal zakat

binatang, zakat uang, zakat perdagangan, dan persoalan-persoalan kecil lainnya

Semuanya itu membuat saya menilai bahwa adalah tidak mungkin syariat yang

sederhana dan berbicara untuk seluruh umat manusia membawa persoalan-

persoalan kecil yang sulit dilaksanakan sebagai kewajiban bagi seluruh umat.

4. Mereka yang tidak mempersyaratkan satu tahun bagi syarat harta penghasilan

wajib zakat lebih dekat kepada nash yang berlaku umum dan tegas di atas

daripada mereka yang mempersyaratkannya, karena nash-nash yang mewajibkan

zakat baik dalam Quran maupun dalam sunnah datang secara umum dan tegas

dan tidak terdapat di dalamnya persyaratan setahun. Misalnya, "Berikanlah


76

seperempat puluh harta benda kalian," Harta tunai mengandung kewajiban

seperempat puluh dan dikuatkan oleh keumuman firman Allah "Hai orang-orang

yang beriman keluarkanlah sebagian hasil usaha kalian." (al-Baqarah: 267) Kata

ma Kasabtum merupakan kata umum yang artinya mencakup segala macam

usaha: perdagangan, atau pekerjaan dan profesi. Para ulama fikih berpegang

kepada keumuman maksud ayat tersebut sebagai landasan zakat perdagangan,

yang oleh karena itu kita tidak perlu ragu memakainya sebagai landasan zakat

penghasilan dan profesi. Bila para ulama fikih telah menetapkan setahun sebagai

syarat wajib zakat perdagangan, maka itu berarti bahwa antara pokok harta

dengan laba yang dihasilkan tidak boleh dipisahkan karena laba dihasilkan dari

hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Lain halnya dengan gaji atau sebangsanya

yang diperoleh secara utuh, tertentu dan pasti.

5. Disamping nash yang berlaku umum dan mutlak memberikan landasan kepada

pendapat mereka yang tidak menjadikan satu tahun sebagai syarat harta

penghasilan wajib zakat, qias yang benar juga mendukungnya. Kewajiban zakat

uang atau sejenisnya pada saat diterima seorang Muslim diqiaskan dengan

kewajiban zakat pada tanaman dan buah-buahan pada waktu panen. Maka bila

kita memungut dari petani meskipun sebagai penyewa, sebanyak sepersepuluh

atau seperdua puluh hasil tanaman atau buah-buahannya, mengapakah kita tidak

boleh memungut dari seorang pegawai atau seorang dokter, umpamanya,

sebanyak seperempat puluh penghasilannya? Bila Allah menyatukan penghasilan

yang diterima seseorang Muslim dengan hasil yang dikeluarkan Allah dari tanah

dalam satu ayat, yaitu "Hai orang- orang yang beriman keluarkanlah sebagian
77

penghasilan kalian dan sebagian yang kami keluarkan untuk kalian dari tanah,"

mengapakah kita membeda-bedakan dua masalah yang di atur Allah dalam satu

aturan sedangkan kedua-duanya adalah rezeki dan nikmat dari Allah?

Benar, bahwa nikmat Allah dalam hasil tanaman dan buah-buahan lebih

kentara dan mensyukurinya lebih wajib, namun demikian tidak berarti bahwa

salah satu pendapatan tersebut tegas wajib zakat sedangkan yang satu lagi tidak.

Perbedaannya cukup dengan bahwa pembuat syariat mewajibkan zakat dari hasil

tanah sebesar sepersepuluh atau seperdua puluh sedangkan pada harta penghasilan

berupa uang atau yang senilai dengan uang-sebanyak seperempat puluh.

6. Pemberlakuan syarat satu tahun bagi zakat harta penghasilan berarti

membebaskan sekian banyak pegawai dan pekerja profesi dari kewajiban

membayar zakat atas pendapatan mereka yang besar, karena mereka itu akan

menjadi dua golongan saja: menginvestasikan pendapatan mereka terlebih dahulu

dalam berbagai sektor, atau berfoya-foya bahkan menghamburkan semua

penghasilannya itu kesana-sini sehingga tidak mencapai masa wajib zakatnya.

Itu berarti hanya membebankan zakat pada orang-orang yang hemat dan ekonomis

saja, yang membelanjakan kekayaannya seperlunya, tidak berlebih-lebihan tetapi

tidak pula kikir, yang berarti mereka menyimpan penghasilan mereka sehingga

mencapai masa zakatnya. Hal itu jauh sekali dari maksud kedatangan syariat

yang adil dan bijak, yaitu memperingan beban orang-orang pemboros dan

memperbuat beban orang-orang yang hemat.

7. Pendapat yang menetapkan setahun sebagai syarat harta penghasilan jelas

terlihat saling kontradiksi yang tidak bisa diterima oleh keadilan dan hikmat Islam
78

mewajibkan zakat Misalnya: Seorang petani yang menanam tanaman pada tanah

sewaan, hasilnya dikenakan zakat sebanyak 10% atau 5% bila sudah mencapai 50

kila Mesir, berdasarkan fatwa-fatwa dalam mazhab-mazhab yang ada, sedangkan

pemilik tanah yang dalam sejam kadang-kadang memperoleh beratus-ratus atau

beribu- ribu dinar berupa uang sewa tanah tersebut, tidak dikenakan zakat,

berdasarkan fatwa-fatwa dalam mazhab-mazhab yang ada, karena adanya

persyaratan setahun bagi penghasilan tersebut sedangkan jumlah itu jarang bisa

terjadi di akhir tahun. Begitu pula halnya dengan seorang dokter, insinyur,

advokat, pemilik mobil angkutan, pemilik hotel, dan lain-lainnya. Sebab

pertentangan itu adalah sikap yang terlalu mengagungkan pendapat-pendapat

fikih yang tidak terjamin dan tidak terkontrol berupa hasil ijtihad para ulama. Kita

tidak yakin, bila mereka hidup pada zaman sekarang dan menyaksikan apa yang

kita saksikan, apakah mereka akan meralat ijtihad mereka dalam banyak masalah,

seperti yang hanyak kita temukan dalam riwayat para imam .

8. Pengeluaran zakat penghasilan setelah diterima, diantaranya gaji, upah,

penghasilan dari modal yang ditanamkan pada sektor selain perdagangan, dan

pendapatan para ahli, akan lebih menguntungkan fakir miskin dan orang yang

berhak lainnya, menambah besar perbendaharaan zakat, disamping menambah

perbendaharaan negara dan pemiliknya dapat dengan mudah mengeluarkan

zakatnya. Hal itu dengan pemungutan zakat gaji para pegawai dan karyawan

tersebut oleh pemerintah atau yayasan-yayasan melalui cara yang dinamakan

oleh para ahli perpajakan dengan "Penahanan pada Sumber," seperti yang

dilakukan oleh Ibnu Mas'ud dan Mu'awiyah serta Umar bin Abdul Aziz dalam,
79

memotong pemberian yang mereka berikan. Maksud kata "pemberian" disini

adalah gaji para tentara dan orang-orang yang di bawah kekuasaan negara pada

masa itu. Abu Walid Baji mengatakan bahwa "Pemberian menurut syara' adalah

pemberian dari kepala negara kepada seseorang dari Baitul-mal berbentuk nafkah

hidup (gaji). Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Hubaira bahwa Ibnu Mas'ud

memotong pemberian yang mereka terima sebesar dua puluh lima dari tiap seribu.

Hal itu diriwayatkan pula oleh at-Tabrani darinya juga. Dari'Aun dari

Muhammad, "Saya melihat para penguasa bila memberikan gaji, memotong

zakatnya. Dari Umar bin Abdul Aziz, bahwa ia mengeluarkan zakat pemberian

dan hadiah. Malik meriwayatkan dalam al-Muwaththa dari Ibnu Syihab, bahwa:

Orang yang pertama kali memungut zakat dari pemberian adalah Mu'awiyah bin

Abi Sufyan. Tampaknya yang ia maksudkan adalah khalifah pertama yang

memungut zakat pemberian, sedangkan sebenarnya sudah ada orang yang

mengambil zakat pemberian sebelum itu, yaitu Abdullah bin Mas'ud sebagaimana

kita jelaskan.

9. Menegaskan bahwa zakat wajib atas penghasilan sesuai dengan tuntunan Islam

yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, kemauan berkorban, belas kasihan dan

suka memberi dalam jiwa seorang Muslim, sesuai pula dengan kemanusiaan yang

harus ada dalam masyarakat, ikut merasakan beban orang lain, dan menanamkan

agama tersebut menjadi sifat pribadi unsur pokok kepribadiannya. Allah

berfirman tentang sifat-sifat orang yang bertakwa, "Dan sebagian apa yang kami

berikan kepada mereka, mereka nafkahkan.


80

" Allah juga berfirman, "Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah sebagian

apa-apa yang kami berikan kepada kalian.".

Untuk itu Nabi s.a.w. mewajibkan kepada setiap orang Muslim mengorbankan

sebagian hartanya, penghasilannya, atau apa saja yang ia korbankan. Bukhari

meriwayatkan dari Abu Musa Asyari dari Nabi s.a.w.:

"Setiap orang Muslim wajib bersedekah." Mereka bertanya, "Hai Nabi Allah,

bagaimana yang tidak berpunya? Beliau menjawab, "Bekerjalah untuk mendapat

sesuatu untuk dirinya, lalu bersedekah." Mereka bertanya, "Kalau tidak punya

pekerjaan?" Beliau bersabda, "Tolong orang yang meminta pertolongan."

Mereka bertanya, "Bagaimana bila tidak bisa?" Beliau menjawab, "Kerjakan

kebaikan dan tinggalkan kejelekan, hal itu merupakan sedekahnya."

Pembebasan penghasilan-penghasilan yang berkembang sekarang tersebut dari

sedekah wajib atau zakat dengan menunggu masa setahunnya, berarti membuat

orang-orang hanya bekerja, berbelanja, dan bersenang-senang, tanpa harus

mengeluarkan rezeki pemberian Tuhan dan tidak merasa kasihan kepada orang

yang tidak diberi nikmat kekayaan itu dan kemampuan berusaha.

10. Tanpa persyaratan setahun bagi harta penghasilan akan lebih menguntungkan

pemasukan zakat secara pasti dan pengelolaannya dilihat dari pihak orang yang

wajib mengeluarkan zakat dan dari segi administrasi pemungutan zakat. Hal itu

oleh karena bagi yang berpendapat satu tahun sebagai syarat zakat, menyebabkan

setiap orang yang mendapatkan penghasilan sedikit atau banyak berupa gaji,

honorarium atau penghasilan kekayaan tak bergerak, atau jenis pendapatan yang
81

lain-harus menentukan masa jatuh tempo pengeluaran setiap jumlah kekayaannya

lalu bila sampai masa tempo setahunnya itu dikeluarkanlah zakatnya. Ini

berarti, bahwa seorang Muslim kadang-kadang bisa mempunyai berpuluh-puluh

masa tempo masing-masing kekayaan yang diperoleh pada waktu yang berbeda-

beda. Ini sulit sekali dilakukan, dan sulit pula bagi pemerintah memungut dan

mengatur zakat yang dengan demikian zakat tidak bisa terpungut dan sulit

dilaksanakan.

7.Pendapat Ulama Masa Modern

Adalah bijaksana bila kita menyebutkan disini, bahwa seorang penulis Islam

yang terkenal, Muhammad Ghazali, telah membahas masalah ini dalam

bukunya Islam wa al-Audza' al-Iqtishadiya. Lebih daripada dua puluh tahun

yang lalu. Setelah menyebutkan bahwa dasar penetapan wajib zakat dalam Islam

hanyalah modal, bertambah, berkurang atau tetap, setelah lewat setahun,

seperti zakat uang, dan perdagangan yang zakatnya seperempat puluh, atau

atas dasar ukuran penghasilan tanpa melihat modalnya seperti zakat pertanian

dan buah buahan yang zakatnya sepersepuluh atau seperdua puluh, maka beliau

mengatakan; "Dari sini kita mengambil

kesimpulan, bahwa siapa yang mempunyai pendapatan tidak kurang dari

pendapatan seorang petani yang wajib zakat, maka ia wajib mengeluarkan zakat

yang sama dengan zakat petani tersebut, tanpa mempertimbangkan sama sekali

keadaan modal dan persyaratan- persyaratannya." Berdasarkan hal itu,

seorang dokter, advokat, insinyur, pengusaha, pekerja, karyawan, pegawai,

dan sebangsanya wajib mengeluarkan zakat


82

dari pendapatannya yang besar. Hal itu berdasarkan atas dalil:

1. Keumuman nash Quran: "Hai orang-orang yang beriman keluarkanlah

sebagian hasil yang kalian peroleh." (al-Baqarah: 267)

Tidak perlu diragukan lagi bahwa jenis-jenis pendapatan di atas termasuk hasil

yang wajib dikeluarkan zakatnya, yang dengan demikian mereka masuk dalam

hitungan orang-orang Mu'min yang disebutkan Quran: "Yaitu orang-orang yang

percaya kepada yang ghaib, mendirikan salat, serta mengeluarkan sebagian yang

kami berikan." (al-Baqarah: 3).

2. Islam tidak memiliki konsepsi mewajibkan zakat atas petani yang memiliki

lima faddan (1 faddan = 1/2 ha). Sedangkan atas pemilik usaha yang memiliki

penghasilan lima puluh faddan tidak mewajibkannya, atau tidak mewajibkan

seorang dokter yang penghasilannya sehari sama dengan penghasilan seorang

petani dalam setahun dari tanahnya yan atasnya diwajibkan zakat pada waktu

panen jika mencapai nisab.

Untuk itu, harus ada ukuran wajib zakat atas semua kaum profesi, dan pekerja

tersebut, dan selama sebab (illat) dari dua hal memungkinkan diambil hukum qias,

maka tidak benar untuk tidak memberlakukan qias tersebut dan tidak meneriina

hasilnya.

Dan kadang-kadang dipertanyakan, bagaimana kita menentukan besar

zakatnya? Jawabnya mudah, karena Islam telah menentukan besar zakat

buah-buahan antara sepersepuluh dan seperdua puluh sesuai dengan ukuran


83

beban petani dalam mengairi tanahnya. Maka berarti ukuran beban zakat setiap

pendapatan sesuai dengan ukuran beban pekerjaan atau pengusahaannya.

Persoalan tersebut sebenarnya dapat diterangkan sejelas-jelasnya, bila

pokok persoalan yang sensitif tersebut sudah duduk. Tetapi persoalan tersebut

tidak bisa dijelaskan dengan pemikiran seseorang, tetapi membutuhkan kerja

sama para ulama dan ilmuwan.

Diskusi-diskusi tentang hal itu menarik sekali, yang menunjukkan bahwa

mereka memiliki pemahaman yang tajam terhadap dasar-dasar ajaran Islam.

Dua landasan yang dikemukakan oleh Muhammad Ghazali tidak ada

kelemahannya, karena beliau telah menggunakan landasan keumuman nash Quran

dan qias. Tetapi pendekatan yang kita pergunakan dalam memakai landasan-

landasan itu disini lebih mendasar ke sumbernya dari pendekatan

Muhammad Ghazali, yaitu memakai pendapat para sahabat, tabiiin dan para ahli

fikih sesudah mereka.

Dan bila hal itu berlainan dari pendapat empat mazhab yang ada, maka tidak satu

pun nash dari Allah atau dari Rasul s.a.w. tidak pula dari imam- imam

mazhab tersebut yang mewajibkan pendapat mereka diikuti sepenuhnya,

mengekor kepada mereka, dan melarang orang berlainan pendapat dari ijtihad

mereka. Tetapi mereka sebaliknya, melarang orang mengekor mereka,

sebagaimana telah kita sebutkan dalam pendahuluan buku ini.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah diperbandingkan pendapat-pendapat di atas dengan alasan

masing-masing yang sudah kami paparkan dalam beberapa bab di atas, dan

setelah meneliti nash-nash yang berhubungan dengan status zakat dalam

bermacam-macam kekayaan, diperhatikan hikmah dan maksud pembuat syariat

mewajibkan zakat, dan diperhatikan pula kebutuhan Islam dan umat Islam pada

masa sekarang ini, kesimpulan yang bisa dipaparkan dalam skripsi ini adalah:

1. Persyaratan satu tahun dalam seluruh harta termasuk harta penghasilan tidak

berdasar nash yang mencapai tingkat shahih atau hasan yang darinya bisa

diambil ketentuan hukum Syara' yang berlaku umum bagi umat.

2. Hadis- hadis yang berbicara tentang harus adanya haul sebagai syarat untuk

mengeluarkan zakat, semuanya memiliki kualitas yang lemah dari sisi sanad.

Akan tetapi, dikarenakan hadis-hadis tersebut saling mendukung satu sama

lainnya, maka penulis menyimpulkan bahwa hadis-hadis tersebut naik

tingkat menjadi hasan lighairihi dan berhujjah dengannya adalah boleh.

3. Para sahabat dan tabi'in memang berbeda pendapat dalam harta penghasilan

oleh karena itu maka persoalannya dikembalikan pada nash-nash yang lain

dan kaedah- kaedah yang lebih umum, misalnya firman Allah: "Bila kalian

berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah

(Quran) dan kepada Rasul (hadis)." (An-Nisa,: 59).

84
85

4. Mereka yang tidak mempersyaratkan satu tahun bagi syarat harta

penghasilan wajib zakat lebih dekat kepada nash yang berlaku umum dan

tegas di atas daripada mereka yang mempersyaratkannya, karena nash-nash

yang mewajibkan zakat baik dalam Quran maupun dalam sunnah datang

secara umum

5. Pemberlakuan syarat satu tahun bagi zakat harta penghasilan berarti

membebaskan sekian banyak pegawai dan pekerja profesi dari kewajiban

membayar zakat atas pendapatan mereka yang besar, karena mereka itu

akan menjadi dua golongan saja: menginvestasikan pendapatan mereka

terlebih dahulu dalam berbagai sektor, atau berfoya-foya bahkan

menghamburkan semua penghasilannya itu kesana-sini sehingga tidak

mencapai masa wajib zakatnya. Itu berarti hanya membebankan zakat pada

orang-orang yang hemat dan ekonomis saja, yang membelanjakan

kekayaannya seperlunya, tidak berlebih-lebihan tetapi tidak pula kikir, yang

berarti mereka menyimpan penghasilan mereka sehingga mencapai masa

zakatnya. Hal itu jauh sekali dari maksud kedatangan syariat yang adil dan

bijak, yaitu memperingan beban orang-orang pemboros dan memperbuat

beban orang-orang yang hemat.

6. Pengeluaran zakat penghasilan setelah diterima, diantaranya gaji, upah,

penghasilan dari modal yang ditanamkan pada sektor selain perdagangan,

dan pendapatan para ahli, akan lebih menguntungkan fakir miskin dan

orang yang berhak lainnya.


86

7. Menegaskan bahwa zakat wajib atas penghasilan sesuai dengan tuntunan

Islam yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, kemauan berkorban, belas

kasihan dan suka memberi dalam jiwa seorang Muslim, sesuai pula dengan

kemanusiaan yang harus ada dalam masyarakat, ikut merasakan beban orang

lain, dan menanamkan agama tersebut menjadi sifat pribadi unsur pokok

kepribadiannya.

B. Saran

Pembahasan dalam skripsi ini adalah menegaskan bahwa zakat wajib atas

penghasilan sesuai dengan tuntunan Islam yang menanamkan nilai-nilai kebaikan,

kemauan berkorban, belas kasihan dan suka memberi dalam jiwa seorang Muslim,

sesuai pula dengan kemanusiaan yang harus ada dalam masyarakat, ikut

merasakan beban orang lain, dan menanamkan agama tersebut menjadi sifat

pribadi unsur pokok kepribadiannya. Allah berfirman tentang sifat-sifat orang

yang bertakwa, "Dan sebagian apa yang kami berikan kepada mereka, mereka

nafkahkan.

" Allah juga berfirman, "Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah sebagian

apa-apa yang kami berikan kepada kalian.".

Untuk itu Nabi s.a.w. mewajibkan kepada setiap orang Muslim mengorbankan

sebagian hartanya, penghasilannya, atau apa saja yang ia korbankan. Bukhari

meriwayatkan dari Abu Musa Asyari dari Nabi s.a.w.:

"Setiap orang Muslim wajib bersedekah." Mereka bertanya, "Hai Nabi Allah,

bagaimana yang tidak berpunya? Beliau menjawab, "Bekerjalah untuk mendapat

sesuatu untuk dirinya, lalu bersedekah." Mereka bertanya, "Kalau tidak punya
87

pekerjaan?" Beliau bersabda, "Tolong orang yang meminta pertolongan."

Mereka bertanya, "Bagaimana bila tidak bisa?" Beliau menjawab, "Kerjakan

kebaikan dan tinggalkan kejelekan, hal itu merupakan sedekahnya."

Pembebasan penghasilan-penghasilan yang berkembang sekarang tersebut dari

sedekah wajib atau zakat dengan menunggu masa setahunnya, berarti membuat

orang-orang hanya bekerja, berbelanja, dan bersenang-senang, tanpa harus

mengeluarkan rezeki pemberian Tuhan dan tidak merasa kasihan kepada orang

yang tidak diberi nikmat kekayaan itu dan kemampuan berusaha.


DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Quran al-Karim, Departemen Agama RI, tahun2000.

2. Ali, Atabik dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia,

(Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1999) Cet.III. h. 432.

3. al-Qordawi, Yusuf, Hukum dan Fungsi Zakat, (Bandung: Mizan,1991), Cet. I.

4. ........................., Fatwa-fatwa Kontemporer, (Bandung: Mizan 1996)Cet. V

5. al-Thayyib, Muhammad Syams al-Haq al-Adlzim Abbadi Abu, Aun al-Ma'bud

Syarh Sunan Abi Dawud, Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1415 H.

6. Laporan III Majlis Tarjih Muhammadiyah.Tentang ZIS (2005).

7. Muhammad bin Yazid bin Abdullah Al-Quzwaini, Sunan Ibnu Mjah (Bairut:

Dar Al-Fikri, 2004), juz 2, Bab Man Istifadu Mlan.

8. Sabiq, Said, Zakat dan Pembagiannya, (Bandung; Maarif, 1983), Cet.II

9. Surat Keputusan Dewan Hisbah Persis, Tentang ZIS,(2003).

10. Hafiduddin, Didin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, Jakarta: Gema

Insani, 2002.

11. Hasan, Adi, Zakat Dan Infak Salah Satu Solusi Mengatasi Probelematika Sosial

Di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2006.

12. Permono, Sechjul Hadi, Sumber-Sumber Penggalan Zakat, Jakarta, Pustaka

Firdaus, 1993.

13. Azzuhaili, Wahbah, Zakat Kajian Madzhab, Bandung: Remaja Rosdakarya,

1997.

88
89

14. Syauqi Ismail Syahhatih, Al-Thathbiq al-Ma^ashir li al-Zakat, Penerapan Zakat

di Dunia Moderen,terjemahan : Ansari Umar Sitanggal, Jakarta : Pustaka

Media dan Antar Kota, 1987.

15. Ahmad Warson Al-Munawwir, Al-Munawwir Ibrahim Mustafa dkk, Mu^jam al-

Wasit, Tehran : Al-Maktabah al-Ilmiyah, Yusuf al-Qardhawi, Fiqh al-

Zakah , Beirut : Muassasah al-Risalah, 1994, Juz I.

16. Didin Hafiduddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, dan Sedekah,

Jakarta : Gema Insani Press, 2001.

17. M.Amin Rais, Cakrawala Islam Antara Cita dan Fakta, Bandung : Mizan, 1999.

18. Abdullah, Syarifuddin, Zakat Profesi, Jakarta: PT. Moyo Segoro Agung, 2003.

19. Afzalurrahman. Doktrin Ekonomi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996.

20. Baqai, Muhammad Yusuf. 1995. al-Qamus al-Muhith. Beirut: Dar al-Fikri.

21. Baqi, Muhammad Fuad Abdul. 1994. al-Mujam al-Mufahris li Alfadh Al-

Quran. Cet. IV. Beirut: Dar al-Fikr.

22. Membangun Ekonomi Umat Melalui Pengelolaan Zakat. Jakarta: Nuansa

Madani.

23. Analisa Peringkat Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten/Kota. Ekonomi dan

Keuangan Indonesia, Vol. XIX No. 4.

24. Al-Junaidal, Hamad Ibn Abdirrahman, Manahij al-Bahisin fi al-Iqtisad al-

Islami, Riyad: Syarikan al-al-Abikan, cet. I,


90

25. Mannan, Teori Wakaf dan Praktik Ekonomi Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti

1997.

26. Al-Qardhawi,Yusuf`, Fiqhu al-Zakat (Dirasah Muqaranah Liahkamiha wa

Falsafatiha fi Dhau al-Quran wa al-Sunnah, Beirut: Muassasah al-

Risalah, , 1997. Cet. XXIV.

27. Al-Qosimi, Mujahid al-Islam, Buhus Fiqhiyah min al-Hind, Beirut: Dar al-

Kutub al-Ilmiyah, 2003, Cet. I.

28. Sumarto, Sudarno. Tata Kelola Pemerintahan dan Penanggulangan

Kemiskinan: Bukti-Bukti Awal Desentralisasi di Indonesia. Kertas Kerja

SMERU. 2004

29. Syaltut, Muhammad. Aqidah dan Syariah Islam. Terj. Fachruddin Hs dan

Nashruddin Thaha, Jakarta: Bumi Aksara,1994.

30. Yafie, Ali. Menggagas Fiqih Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1994.

31. Al-Zarqa Mustofa Ahmad, al-Madkhal al-Fiqhi al-Am, Beirut: Dar al-Fikr,

1387.

32. Sulaiman bin Asy-ats Abu Daud Assajastan Al-Azdi, Sunan Abu Daud (Bairut:

Dar Al-Fikri, 1999), juz 2, Bab Zakat asimah, hal. 100.

33. Al bin Amr Ab al-Hasan al-Druqutn al-Bagdd, Sunan al-Druqutn,

(Bairut: Dr al-Marifah, 1986), Juz II, h.90.

34. Muhammad bin Yazid bin Abdullah Al-Quzwaini, Sunan Ibnu Mjah (Bairut:

Dar Al-Fikri, 2004), juz 2, Bab Man Istifadu Mlan, hal. 571.

35. Al bin Amr Ab al-Hasan al-Druqutn al-Bagdd, Sunan al-Druqutn, Juz.


91

II.

36. Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml,

(Bairut: Muassasah al-Risalah, 1980), Juz.IV

37Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml,

Beirut:1996.

38. Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml,

Juz. 4.

39. Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, (Bairut: Dr al-Fikr,

1980), Juz. 9

40. Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml,

Juz.19

41. Ahmad bin Al bin Hajar al-Qaln, Tahzb al- Tahzb, juz. I

42. Ysuf bin al-Zakk Abdu al-Rahmn Ab al-Hajjj al-Miz, Tahzb al-Kaml,

Juz. IV

43. Syuhudi Ismail, Metode Penelitian Hadis, (Jakarta:Bulan Bintang, 1996)

44. Halqaad-Dirasah al-Ijtimaiyyah

45. Abu Daud, Sunan Abu Daud , Beirut 1994

46. Daruquthni, al-ilal, Beirut 1990

47. Nushbu ar-riwayah, Mesir, 1997

48. Imam ad-Dzahabi, Talhis al Mustadrak, Beirut: 1982

49. Lihat as-Sunan al-Kubra Jilid 4.


92

50. Ibnu Hazm meriwayatkan dalam al-Muhalla, jilid 5.

51. Abu Ubaid, Al-Muhalla, Beirut:1985, Jilid 4.