Anda di halaman 1dari 9

# Definisi Epidemiologi

Kata epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Epi= pada/ diantara, Demos=
penduduk/ rakyat, dan Logos= ilmu. Jadi epidemiologi sebenernya berarti: ilmu mengenai hal-
hal yang terjadi pada rakyat . Ruang lingkup epidemiolgi yang semula mempelajari penyakit
menular lambat laun diperluas, sehingga epidemiologi menjadi ilmu yang mempelajari faktor-
faktor yang menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada rakyat. Bila ilmu kedokteran
klinik mempelajari penyakit pada individu-individu, epidemiologi mempelajari penyakit dan
lain-lain keadaan yang berhubungan dengan kesehatan pada masyarakat. (Noor,2008).
(Dapus : Noor, N.N. 2008. Epidemiologi. Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta)

# Elemen Epidemiologi
Di dalam batasan epidemiologi sekurang-kurangnya mencakup tiga elemen, yaitu:
a. Masalah kesehatan
Epidemiologi mempelajari semua masalah kesehatan termasuk penyakit, baik
penyakit infeksi, seperti TB Paru, Flu burung dll maupun penyakt non-infeksi seperti
kanker, kecelakaan, sakit jiwa dll.
b. Populasi
Epidemiologi memusatkan perhatiannya pada distribusi masalah kesehatan
pada populasi (masyarakat) atau kelompok.
c. Pendekatan ekologi
Pendekatan ekologi dalam epidemilogi mengkaji frekuensi dan distribusi
masalah kesehatan berdasarkan keseluruhan lingkungan manusia baik lingkungan
fisik, biologis mauoun sosial (Maryani, Dkk., 2010).

(Dapus : Maryani, Lidya dan M. Rizki. 2010. Epidemiologi Kesehatan. Yogyakarta : Graha
Ilmu).

Manfaat Epidemiologi

Ada tujuh manfaat epidemiologi dalam bidang kesehatan masyarakat yaitu:

a. Mempelajari riwayat penyakit


Ilmu epidemiologi bermanfaat untuk mempelajari tren penyakit untuk memprediksi tren
penyakit yang mungkin akan terjadi. Hasil penelitian epidemiologi tersebut dapat digunakan
dalam perencanaan pelayanan kesehatan dan kesehatan masyarakat.
b. Diagnosis masyarakat
Epidemiologi memberikan gambaran penyakit, kondisi, cedera, gangguan, ketidakmampuan,
cacat, atau defek apa saja yang menyebabkan kesakitan, masalah kesehatan, atau lkematian
didalam suatu komunitas atau wilayah.
c. Mengkaji resiko yang ada pada setiap individu karena mereka dapat mempengaruhi
kelompok maupun populasi.
Epidemiologi memberikan manfaat dengan memberikan gambaran faktor resiko, masalah,
dan perilaku apa saja yang mempengaruhi suatu kelompok atau suatu populasi. Setiap kelompok
dikaji dengan melakukan pengkajian terhadap faktor resiko dan menggunakan tehnik
pemeriksaan kesehatan, misalnya resiko kesehatan, pemeriksaan, skrining kesehatan, tes
kesehatan pengkajian penyakit, dan sebagainya.
d. Pengkajian, evaluasi, dan penelitian.
Epidemiologi memberikan manfaat dalam menilai sebaik apa pelayanan kesehatan
masyarakat dan pelayanan kesehatan dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan
populasi atau kelompok. Epidemiologi juga berguna untuk mengkaji keefektifan: efisiensi;
kualitas; akses; ketersedian layanan, mengendalikan atau mencegah penyakit; cedera;
ketidakmampuan; atau kematian.
e. Melengkapi gambaran klinis
Ilmu epidemiologi berguna dalam proses identifikasi dan diagnosis untuk menetapkan
bahwa suatu kondisi memang ada atau bahwa seseorang memang menderita penyakit tertentu.
Epidemiologi juga berguna untuk menentukan hubungan sebab akibat, misalnya: radang
tenggorokan dapat menyebabkan demam rematik.
f. Identifikasi sindrom
Dalam hal ini, ilmu epidemiologi membantu dalam menyusun dan menetapkan criteria untuk
mendefinisikan sindrom, misalnya: sindrom down, fetal alcohol, kematian mendadak pada bayi.
g. Menentukan penyebab dan sumber penyakit
Temuan epidemiologi, memberikan manfaat untuk memungkinkan dilakukannya
pengendalian, pencegahan, dan pemusnahan penyebab penyakit, kondisi, cedera,
ketidakmampuan dan kematian.

Dapus : Firma Oktaviana. 2008. Pola cedera kecelakaan. FKM UI.

Manfaat Epidemiologi

Ada tujuh manfaat epidemiologi dalam bidang kesehatan masyarakat yaitu:

h. Mempelajari riwayat penyakit


Ilmu epidemiologi bermanfaat untuk mempelajari tren penyakit untuk memprediksi tren
penyakit yang mungkin akan terjadi. Hasil penelitian epidemiologi tersebut dapat digunakan
dalam perencanaan pelayanan kesehatan dan kesehatan masyarakat.
i. Diagnosis masyarakat
Epidemiologi memberikan gambaran penyakit, kondisi, cedera, gangguan, ketidakmampuan,
cacat, atau defek apa saja yang menyebabkan kesakitan, masalah kesehatan, atau lkematian
didalam suatu komunitas atau wilayah.
j. Mengkaji resiko yang ada pada setiap individu karena mereka dapat mempengaruhi
kelompok maupun populasi.
Epidemiologi memberikan manfaat dengan memberikan gambaran faktor resiko, masalah,
dan perilaku apa saja yang mempengaruhi suatu kelompok atau suatu populasi. Setiap kelompok
dikaji dengan melakukan pengkajian terhadap faktor resiko dan menggunakan tehnik
pemeriksaan kesehatan, misalnya resiko kesehatan, pemeriksaan, skrining kesehatan, tes
kesehatan pengkajian penyakit, dan sebagainya.
k. Pengkajian, evaluasi, dan penelitian.
Epidemiologi memberikan manfaat dalam menilai sebaik apa pelayanan kesehatan
masyarakat dan pelayanan kesehatan dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan
populasi atau kelompok. Epidemiologi juga berguna untuk mengkaji keefektifan: efisiensi;
kualitas; akses; ketersedian layanan, mengendalikan atau mencegah penyakit; cedera;
ketidakmampuan; atau kematian.
l. Melengkapi gambaran klinis
Ilmu epidemiologi berguna dalam proses identifikasi dan diagnosis untuk menetapkan
bahwa suatu kondisi memang ada atau bahwa seseorang memang menderita penyakit tertentu.
Epidemiologi juga berguna untuk menentukan hubungan sebab akibat, misalnya: radang
tenggorokan dapat menyebabkan demam rematik.
m. Identifikasi sindrom
Dalam hal ini, ilmu epidemiologi membantu dalam menyusun dan menetapkan criteria untuk
mendefinisikan sindrom, misalnya: sindrom down, fetal alcohol, kematian mendadak pada bayi.
n. Menentukan penyebab dan sumber penyakit
Temuan epidemiologi, memberikan manfaat untuk memungkinkan dilakukannya
pengendalian, pencegahan, dan pemusnahan penyebab penyakit, kondisi, cedera,
ketidakmampuan dan kematian.

Dapus : Firma Oktaviana. 2008. Pola cedera kecelakaan. FKM UI.

Sejarah & Tokoh Penting Ilmu Epidemiologi


1. John Graunt, 1662

Menganalisa laporan mingguan kelahiran dan kematian di London, dalam bukunya The Nature
and Political Observations Made Upon the Bills of Mortality. Inilah untuk pertama kalinya pola
penyakit penduduk diukur. Ia mencatat besarnya perbedaan kelahiran dan kematian antara laki-
laki dan perempuan, besarnya kematian bayi menurut musim, menekankan pentingnya
pengumpulan data penyakit secara rutin, yang menjadi dasar bentuk epidemiologi modern. Ia
juga sebagai pencipta dua prosedur dasar biostatistik, yaitu estimasi populasi dan konstruksi
tabel kehidupan. John Graunt merupakan orang yang pertama melakukan kuantifikasi atas
kejadian kematian dan kesakitan.

2. Antonio van Leeuwenhoek (1632-1723)

Leeuwenhoek adalah seorang warga negara Belanda, dilahirkan di Delft, 24 Oktober 1632 dan
meninggal pada tanggal 24 Agustus 1723. Dia seorang ilmuwan amatir yang menemukan
mikroskop, penemu bakteri dan parasit (1674), penemu spermatozoa (1677). Penemuan bakteri
telah membuka tabir suatu penyakit yang akan sangat berguna untuk analisis epidemiologi
selanjutnya.

3. Robert Koch (1882)

Nama Robert Koch tidak asing lagi jika dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis pada tahun
1882. Selain itu Koch berperan memperkenalkan tuberkulin pada tahun 1890 yang dianggapnya
sebagai suatu cara pengobatan TBC. Konsep tes tuberkulin selanjutnya dikembangkan oleh Von
Pirquet di tahun 1906 dan PPD diperkenalkan oleh siebart pada tahun 1931. Dewasa ini tes
tuberkulin dipakai untuk mendeteksi adanya riwayat infeksi tuberkulosis sebagai perangkat
diagnosis TBC pada anak-anak. Selain itu Koch juga terkenal dengan Postulat Koch, yang
mengemukakan konsep tentang cara menentukan kapan mikroorganisme dapat dianggap sebagai
penyebab suatu penyakit.

4. William Farr, 1839


Mengembangkan sistem pengumpulan data rutin tentang jumlah dan penyebab kematian,
sekaligus penerapan data statistik vital untuk mengevaluasi problem-problem kesehatan
masyarakat. Dengan teori miasma (udara buruk) beliau mengemukakan bahwa dataran rendah
lebih berpotensi untuk terjangkit kolera karena ada polusi udara yang menyebabkan penyediaan
air terpolusi. Ide-ide kreatif ini yang membuat beliau menjadi bapak Surveilans Modern.

5. John Snow, 1849

Namanya sudah tidak asing dalam dunia kesmas dalam upaya yang sukses mengatasi kolera
yang melanda London. Yang perlu dicatat disini bahwa John Snow yang bekerja sama dengan
william farr, dalam analisis masalah penyakit kolera, mempergunakan pendekatan epidemiologi
dengan menganalisis faktor tempat, orang, dan waktu. Dia dianggap The Father of
Epidemiology.

6. James Lind, 1747

Dia berhubungan dengan sejarah hubungan kekurangan vitamin C dengan scurvy (kekurangan
vitamin C). cerita penemuannya sederhana, dimana dia mengamati bahwa ada kelompok tertentu
dari mereka yang dalam pelayanan dengan kapal yang mereka tumpangi dalam suatu pelayaran
panjang yang mengalami scurvy. Mereka menderita kekurangan vitamin C karena mereka
semuanya memakan makanan kaleng. Dia dikenal sebagai bapak Trial Klinik.

7. Dool dan Hill, 1950

R. Doll dan A.B. Hill adalah dua nama yang berkaitan dengan cerita hubungan merokok dan
kanker paru. Keduanya adalah peneliti pertama yang mendesain penelitian yang melahirkan
bukti adanya hubungan antara rokok dan kanker paru. Keduanya adalah pelopor penelitian di
bidang Epidemiologi Klinik.

Dapus: Hikmawati, Isna. 2011. Buku Ajar Epidemiologi. Mulia Medika: Jogja.

Ukuran Epidemiologis
Ukuran dasar yang digunakan dalam epidemiologi mencakup angka (rate), rasio dan proporsi.
Ketiga bentuk perhitungan ini digunakan untuk mengukur dan menjelaskan peristiwa kesakitan,
kematian dan nilai statistik vital lainnya. Mislanya kesakitan bisa diukur dengan angka insidensi,
prevalensi, dan angka serangan, sedangkan kematian bisa diukur dengan angka kematian
(Maryani, 2010).
Ukuran epidemiologis selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor person atau
orang, yang dinilai disini adalah dari aspek jumlah atau frekuensi orang yang berkaitan dengan
suatu peristiwa, selain itu faktor place atau tempat adalah faktor yang berkaitan dengan darimana
orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut berasal. Faktor time atau waktu adalah periode
atau waktu kapan oarang-orang tersebut mengalami suatu peristiwa (Maryani, 2010).
a. Angka (Rate)
Angka (rate) adalah suatu jumlah kejadian dihubugkan dengan populasi yang bersangkutan.
Peristiwa yang biasanya diukur dalam bentuk angka diantaranya adalah kesakitan, dimana yang
digunakan untuk perhitungan kasus adalah insidence rate, prevalence rate (point prevalence
rate), periode prevelence rate, attack rate dan dalam hubungan dengan kematian akan
dibicarakan crude death rate, age specific death rate, cause disease specific death rate (Maryani,
2010).
1. Incidence Rate (Angka Insidensi)
Incidence Rate (Angka Insidensi) adalah jumlah kasus baru penyakit tertentu yang terjadi di
kalangan penduduk pada suatu jangka waktu tertentu (umumnya satu tahun) dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan tahun
jangka waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil (Maryani, 2010).
Rumus:
Jumlah kasusbaru suatu penyakit
selama periode tertentu
Incidence rate= xK
populasi yang mempunyai resiko

Untuk pengukuran incidenci diperlukan penentuan waktu atau saat timbulnya


28 penyakit.
Penentuan incidence rate ini tidak begitu sulit berhubung terjadinya dapat diketahui pasti atau
mendekati pasti, tetapi jika penyakit timbulnya tidak jelas, disini waktu ditegakkan diagnosis
dapat diartikan sebagai waktu mulai penyakit.Kegunaan incidence rate adalah dapat mempelajari
faktor-faktor penyebab dari penyakit yang akut maupun kronis. Incidence rateadalah suatu
ukuran langsung dari kemungkinan atau probalitas untuk menjadi sakit (Maryani, 2010).
2. Attack Rate (Angka Serangan)
Angka serangan adalah jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada satu saat
tertentu dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada
saat yang sama dalam persen atau permil. Angka serangan diterapkan terhadap populasi yang
sempit dan terbatas pada suatu periode, misalnya dalam suatu wabah (Maryani, 2010).
Rumus :
jumlah kasus selama epidemi
Attack Rate= xK
populasi yang mempunyai resikoresiko

3. Sekunder Attack Rate (Angka Serangan Sekunder)


Sekunder Attack Rate (Angka Serangan Sekunder) adalah jumlah penderita baru suatu penyakit
yang mendapat serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi jumlah orang
yang telah pernah terkena pada serangan pertama dalam persen atau permil (Maryani, 2010).
Rumus :
jumlah penderita baru pada serangan kedua
Sekunder Attack Rate= xK
jumlah penduduk yang terkena serangan pertama

4. Point Prevalence Rate


Prevalensi adalah gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada
waktu jangka tertentu disekelompok masyarakat tertentu. Point Prevalence Rate mengukur
jumlah penderita lama dan baru yang ditemukan di sekelompok masyarakat tertentu pada satu
titik waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk saat itu dalam persen atau permil. Point
Prevalence Rate biasa juga disebut Prevalence Rate saja (Maryani, 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi prevalence rate, yaitu (Maryani, 2010):
a. Frekuensi orang atau person yang telah sakit pada waktu yang lalu.
b. Frekuensi orang atau person yang sakit yang baru ditemukan
c. Lamanya atau time menderita sakit.
Rumus :
jumlah kasus penyakit yang ada
pada satu titik waktu
Point Prevelence Rate= xK
jumlah penduduk seluruhnya

5. Periode Prevalence Rate


Periode Prevalence Rate adalah jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang ditemukan
pada suatu waktu jangka tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan jangka
waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil. Periode Prevalence terbentuk dari Periode
Prevalence Rate ditambah incidence rate dan kasus-kasus yang kambuh selama periode
observasi (Maryani, 2010).

jumlah penderita lama dan baru


Period Prevalence Rate= xK
jumlah penduduk pertengahan
6. Crude Death Rate (Angka Kematian Kasar)
Crude Death Rate (Angka Kematian Kasar) adalah jumlah semua kematian yang ditemukan pada
satu jangka waktu tertentu (satu tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk pada pertengahan
waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil. Crude Death Rate digunakan untuk
perbandingan angka kematian antar berbagai penduduk yang mempunyai susunan umur yang
berbeda-beda tetapi tidak dapat secara langsung melainkan harus melalui prosedur penyesuaian
(adjusment). Crude Death Rate digunakan secara luas karena sifatnya yang merupakan summary
rate dan dapat dihitung dengan adanya informasi yang minimal (Maryani, 2010).

pertengahan

tahun, didaerahdan tahun yang sama

jumlah penduduk ratarata
jumlah kematiandi kalangan penduduk
di suatudaerah dalam1 tahun
Crude Death Rate=

7. Cause Disease Specific Death Rate (Angka Kematian Penyebab Khusus)


Cause Disease Specific Death Rate adalah jumlah keseluruhan kematian karena suatu penyebab
khusus dalam satu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan
waktu yang bersangkutan dalam persen atau permil (Maryani, 2010).

Jumlah kematiankarena
penyebab khusus
Cause Specific Death Rate= xK
jumlah penduduk pertengahan

8. Age Specific Death Rate (Angka Kematian Pada Umur Tertentu)


Age Specific Death Rate adalah jumlah keseluruhan kematian pada umur tertentu dalam satu
jangka waktu tertentu (satu tahun) dibagi dengan jumlah penduduk pada umur yang
bersangkutan pada daerah dan tahun yang bersangkutan dalam persen atau permil (Maryani,
2010).
jumlah kematianantara umur 15
tahundi suatu daerah
dalam waktu 1tahun
Age Specific Death Rate= xK
jumlah penduduk berumur antara
15 tahun pada daerah
dan tahun yang sama
b. Proporsi
Proporsi merupakan hubungan antar jumlah kejadian dalam kelompok data yang mengenai
masing-masing kategori dari kelompok itu atau hubungan antara bagian dari kelompok dengan
keseluruhan kelompok yang dinyatakan dalam persen. Proporsi umumnya digunakan jika tidak
mungkin menghitung angka indensi, karena itu proporsi tidak dapat menunjukkan perkiraan
peluang keterpaparan atau infeksi, kecuali jika banyaknya orang dimana peristiwa dapat terjadi
adalah sama pada setiap sub kelompok (Maryani, 2010).
c. Rasio
Rasio adalah suatu pernyataan frekuensi perbandingan peristiwa atau orang yang memiliki
perbedaan antara suatu kejadian terhadap kejadian lainnya. Dalam hal ini pernyataan yang
penting dalam epidemiologi adalah jumlah orang sakit dibandingkan dengan jumlah orang sehat,
misalnya rasio orang sakit kanker dibandingkan dengan orang sehat (Maryani, 2010).

DAPUS :
Maryani, Lidya dan M. Rizki. 2010. Epidemiologi Kesehatan, Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal:
12; 25-30; 47-50; 89-95; 178-180; 250.