Anda di halaman 1dari 16

PENGENALAN JAMUR MAKROSKOPIS, MIKROSKOPIS DAN

JEJAK SPORA

Nama : Safia
NIM : B1J014042
Kelompok :2
Rombongan : III
Asisten : Safira Oki Safitri

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fungi (Jamur) merupakan organisme tidak berklorofil yang
mempunyai empat sifat yaitu, heterotrof, saprofit, mutualistik dan parasit
(Suparti et al., 2016). Beberapa fungi khusus bersel tunggal, namun sebagian
besar memiliki tubuh multiseluler yang kompleks, yang banyak kasus
mencakup struktur-struktur yang kita kenal. Fungi merupakan heterotrof yang
memperoleh makanan melalui absorpsi. Kebanyakan ahli mikologi mengakui
lima filum fungi, walupun kitrid mungkin merupakan kelompok parafiletik
(seperti yang diindikasikan oleh garis-garis paralel) yakni Kitrid, Zigomisetes
(1.000 spesies), Glomeromisetes (160 spesies), Askomisetes (65.000 spesies)
dan Basidiomisetes (30.000 spesies). Basidiomisetes meliputi anggota dari
cendawan, puffball, dan shel fungi (Campbell et al., 2008).
Basidiomycota merupakan kelompok jamur yang mempunyai tingkat
perkembangan yang tinggi bila dibandingkan dengan kelompok jamur lainya.
Jamur ini bersifat makroskopis dengan tubuh buah yang besar (mudah dilihat
dengan mata telanjang). Hifanya bersekat dengan sambungan apit (clamp
connection). Tubuhnya bersel banyak (multiseluler). Miseliumnya memasuki
ujung atau seluruh subtract (Suriawiria, 1986).
Jamur tidak mempunyai batang, daun, dan akar serta tidak
mempunyai sistem pembulu seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Jamur
umumnya berbentuk seperti benang, bersel banyak, dan semua dari jamur
mempunyai potensi untuk tumbuh, karena tidak mempunyai klorofil yang
berarti tidak dapat memasak makanannya sendiri, maka jamur memanfaatkan
sisa-sisa bahan organik dari makhluk hidup yang telah mati atau disebut
dengan organisme saprofit maupun yang masih hidup atau yang disebut
dengan organisme parasit (Pracaya, 2007).
B. Tujuan
Tujuan acara praktikum pengenalan jamur makroskopis, mikroskopis
dan jejak spora adalah
1. Mengenal berbagai macam jamur makroskopis dan mikroskopis dan
mengetahui karakteristiknya
2. Mengetahui jejak spora dan cara pembuatanya
II. TELAAH PUSTAKA

Jamur merupakan organisme eukariotik, tidak berklorofil, dinding sel jamur


mengandung kitin. Kitin adalah polisakaria yang terdapat pada kulit kepiting dan
udang-udangan (jika dipanaskan berubah warna menjadi kemerahan). jamur
multiseluler terbentuk dari rangkaian sel yang membentuk benang seperti kapas yang
disebut hifa. Dilihat dari mikroskop hifa ada yang bersekat-sekat melintang. Tiap-
tiap sekat mempunyai satu sel denagn satu inti atau bebrpa inti sel. Terdapat pula hifa
yng tidak bersekat melintang dan mengnadung benyak inti. Kumpulan hifa
membentuk jaringn benang yang disebut miselium (Suriawiria, 1986).
Jamur secara morfologi dibagi menjadi dua jenis yaitu jamur makroskopik dan
jamur mikroskopik. Jamur makroskopik adalah sekelompok jamur yang mempunyai
tubuh buah berukuran besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang, dapat
dipetik oleh tangan, berada diatas tanah (epigean) atau didalam tanah (hypogean),
tidak selalu berdaging, tidak selalu dapat dimakan (edible), dan tidak hanya termasuk
ke dalam Basidiomycetes tetapi ada juga yang Ascomycetes (Gunawan, 2005). Jamur
mikroskopik merupakan jamur yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang sehingga
membutuhkan bantuan mikroskop. Jamur atau fungi dari sistem pembentukan spora,
dibedakan menjadi 5 kelas, yaitu kelas Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes,
Basidiomycetes, dan Deuteromycetes (Hendritomo, 2010).
Jamur makroskopis merupakan organisme eukariotik yang dapat membentuk
tubuh buah sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang dan dapat dipetik dengan
tangan (Chang & Miles, 1989). Habitat jamur makroskopis secara umum terdapat di
darat dan di tempat yang lembab. Tubuhnya terdiri atas bagian yang tegak yang
berfungsi sebagai penyangga dan tudung. Tudung berbentuk mendatar atau
membulat. Morfologi jamur bervariasi didasarkan pada bentuk tudungnya. Jamur
makroskopis dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu jamur pangan (edible
mushroom), jamur yang memiliki khasiat obat dan dipakai untuk pengobatan
(medicinal mushroom), jamur beracun (poisonous mushroom), dan jamur yang tidak
tergolong kategori sebelumnya dan umumnya beragam jenisnya (Wasser & Weis,
2002).
Jamur makroskopis digolongkan menjadi 4 kategori berdasarkan khasiatnya,
yaitu jamur yang dapat dikonsumsi (edible mushroom), jamur yang berkhasiat obat
(medicinal mushroom), jamur beracun (poisonous mushroom ) serta jamur yang
belum diketahui khasiatnya (miscellaneous mushroom). Contoh jamur yang termasuk
edible mushroom seperti Hypsizygus ulmarius (Jamur Tiram Putih). Contoh dari
jamur yang berkhasiat sebagai obat seperti Ganoderma lucidum (Jamur Ling-zhi)
(Chang & Miles, 1989).
Jamur berkembang biak dengan dengan spora dan umunya secara seksual
ataupun aseksual. Semula jamur dianggap sebagai tumbuhan. Klasifikasi yang
memasuki fungi kedalam dunia karena beralasan karena keasaman dalam hidupnya,
habitat hidupnya pada umumnya di tanah. Fungi yang mengahasilkan tubuh buah
seperti hal pertumbuhan lumut (Subandi, 2010).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah cawan petri
berukuran besar dan kecil, object glass, cover glass, mikroskop, kamera/
handphone, kertas karbon dan alat tulis
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
Pleurotus ostreatus, Trametes versicolor, Auricularia auricula, Agaricus
bisporus, Ganoderma lucidum, Fusarium sp. Puccinia graminis, Aspergillus
sp. Phytophtora infestans dan Pyricularia sp.
B. Metode
1) Pengenalan Jamur Makroskopis dan Mikroskopis

Digambar dan Difoto bagian dorsal dan


diberi keterangan ventral (jika
bagian-bagianya makroskopis difoto di
mikroskop)
2) Pembuatan Jejak Spora

Cawan petri disiapkan Jamur P. ostreatus


dan dialasi bagian diletakkan di dalam
dalamnya dengan cawan petri dengan
menggunakan kertas posisi dorsal menghadap
ke atas

Diinkubasi 1 x 24 jam

Diamati sporanya

A. Pembahasan
Praktikum Kali ini menggunakan preparat beberapa spesies jamur Makroskopis
dan jamur Mikroskopis antara lain :
1. Jamur Tiram (P. ostreatus)
Klasifikasi P. ostreatus menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Fil lum : Basidiomycota
Kelas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Tricholomataceae
Genus : Pleurotus
Spesies : Pleurotus ostreatus
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur pangan
kedua yang paling banyak dibudidayakan di dunia setelah Agaricus bisporus.
Jamur ini memiliki nilai ekonomis dan ekologi serta dapat dijadikan sebagai
obat. P. ostreatus memiliki waktu tumbuh paling pendek jika dibandingkan
dengan jamur lain. Jamur tiram atau oystermushroom mempunyai bentuk
tudung agak membulat, lonjong, dan melengkung seperti cangkang tiram.
Jamur tiram putih merupakan salah satu jenis jamur kayu dari famili
Agaricaceae yang relatif mudah dibudidayakan karena daya adaptasinya yang
cukup baik terhadap lingkungan. Budidaya jamur tiram merupakan alternatif
terbaik untuk produksi jamur dibandingkan dengan jamur lain. Jamur tiram
mengandung protein, karbohidrat, mineral (kalsium, fosfor, dan besi), dan
vitamin (thiamin, riboflavin, dan niasin) dalam jumlah yang tinggi. P.
Ostreatus mengandung protein sebesar 27%, lemak 1,6%, karbohidrat 58%,
serat 11,5%, abu 9,3% dan kalori 265 kkal (Ayunin et al., 2016).
Pleurotus sp. mengandung -(1,3)- dan -(1,6)-glucan yang memiliki
peran penting karena sifatnya yang dapat dijadikan sebagai obat. Jamur tiram
juga memiliki aktifitas hipoglisemik, antitrombotik, antitumor, antiinflamasi,
dan antimikroba, mampu mengatur sistem imun, menurunkan tekanan darah
dan kolesterol. Tubuh buah dan miselium jamur mengandung senyawa
dengan tingkat aktivitas antimikroba yang tinggi. Jamur tiram kaya akan
sumber antibiotik alami, dimana glucan dinding sel diketahui memiliki sifat
pengatur imun, dan banyak metabolit sekunder yang mampu melawan
bakteri, fungi (jamur), dan virus, oleh sebab itu, jamur tiram putih memiliki
peran penting dalam memenuhi kebutuhan gizi dan obat bagi masyarakat
(Ayunin et al., 2016)..
2. Jamur Pelapuk Kayu (Trametes versicolor)
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Hymenomycetes
Ordo : Agaricales
Family : Agaricaceae
Genus : Trametes
Spesies : T. versicolor
T. versicolor adalah white rot fungi yang mampu mendegradasi dan /
atau mineralisasi berbagai polutan yang tahan terhadap mikroorganisme lain,
seperti pewarna, polychlorobiphenyls (PCB), hidrokarbon aromatik polisiklik
(PAH), pestisida, pentachlorophenols dan endokrin. T. versicolor mengobati
mengobati vinasse, untuk aplikasi industri perlu mengevaluasi kinerja
degradasi vinasse bioreaktor. Borras et al., dalam Espana-Gamboa, et al.
(2017), mengembangkan suatu proses secara terus menerus untuk
menurunkan Gris Lanaset G (pewarna tekstil nyata) dan penelitiannya telah
berpengalaman dalam mendegradasi jenis lain dari polutan, seperti endokrin,
obat-obatan, air limbah perkotaan dan air limbah rumah sakit menggunakan
T. versicolor dalam bentuk pelet di tempat tidur bioreaktor fluidized (Espana-
Gamboa, et al., 2017).
3. Jamur Kuping (A. auricula)
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Fillum : Basidiomycota
Kelas : Agarimycetes
Ordo : Auriculariales
Famili : Auriculariaceae
Genus : Auricularia
Spesies : A. Auricula
Tubuh buah kenyal atau seperti gelatin jika dalam keadaan segar dan
menjadi keras seperti tulang jika kering, berbentuk mangkuk atau kadang-
kadang seperti kuping yang berasal dari titik pusat perlekatan, tipis
bergading, dan kenyal. Permukaan luar steril, sering kali berurat, berbulu
sangat kecil atau berambut, cokelat muda sampai cokelat, menjadi kehitaman
jika mengering. Permukaan dalam fertil, licin sampai agak berkerut,
bergelatin jika basah, berwarna kuning cokelat, cokelat keabu-abuan, cokelat,
ungu, dan menjadi hitam jika kering. Spora putih; spora berada di permukaan
dan biasanya pada permukaan bagian bawah, berukuran 12-8 x 4-8 mikron,
berbentuk sosis, licin. Basidium mempunyai sekat melintang sebanyak tiga
buah (Hendritomo, 2010).
Jamur lebih banyak dijual dalam bentuk kering dan harus direndam
dalam air sebelum dimasak. Jamur yang telah dimasak mempunyai tekstur
garing dan tidak mempunyai rasa. Jamur kuping hitam juga sering digunakan
sebagai bahan obat tradisional karena diketahui mempunyai sifat
antikoagulan (Hendritomo, 2010).
4. Jamur Kancing (A. bisporus)
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Homobasidiomycetes
Ordo : Agaricales
Family : Agaricaceae
Genus : Agaricus
Spesies : A. Bisporus
Jamur kancing atau champignon adalah jamur pangan yang berbentuk
hampir bulat seperti kancing berwarna putih bersih, krem, atau coklat muda.
Jamur kancing merupakan jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia.
Penamaan dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white
mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Jamur kancing
dipanen sewaktu masih berdiameter 2-4 cm. Tubuh buah dewasa dengan
payung yang sudah mekar mempunyai diameter sampai 20 cm. Sayangnya,
jamur ini masih sulit dibudidayakan, karena hanya bisa hidup di daerah
bersuhu rendah berkisar 17 derajat - 20 derajat celcius. Jamur ini banyak
dicari karena selain tekstur dan rasanya yang lezat, juga berkhasiat
mengurangi resiko Penyumbatan pembuluh darah akibat kolesterol, juga
sebagai bahan baku kosmetik. Pasarnya selain untuk konsumsi dalam negeri,
juga untuk ekspor (Hendritomo, 2010).
5. Jamur Ling-Zhi (G. lucidum)
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Agargeomycetes
Ordo : Polyporales
Family : Ganodermataceae
Genus : Ganoderma
Spesies : G. Lucidum
Bentuknya seperti sinduk atau alat untuk mengambil sayur. Jenis
jamur ini memiliki tangkai yang menancap ke dalam media atau substrat
dengan ukuran panjang antara 3-10 cm. Di ujung tangkai terdapat tubuh buah
berbentuk seperti setengah lingkaran yang melebar dengan garis tengah antara
10-20 cm. Tubuh buah mula-mula berwarna kekuning-kuningan saat masih
muda, yaitu pada umur 1-2 bulan, kemudian berubah menjadi merah atau
cokelat tua. Tubuh buah inilah yang kemudian dipanen untuk dijadikan bahan
baku pembuat obat-obatan, termasuk jamur (Hendritomo, 2010).
Manfaat Ling Zhi untuk kesehatan dan kebugaran tubuh antara lain:
1. Memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap gangguan
penyakit.
2. Menjaga dan mempertahankan vitalitas tubuh sehingga tetap sehat dan
segar.
3. Meningkatkan dan memelihara metabolisme di dalam tubuh.
4. Memperkuat kerja jantung.
5. Mencegah sedini mungkin terjadinya proses kanker atau tumor akibat
senyawa karsinogen.
6. Fusarium sp.
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Deuteromycota
Kelas : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Tuberculariaceae
Genus : Fusarium
Spesies : Fusarium sp.
Menyebabkan penyakit layu pada tomat, patogen akan menyerang
pembuluh xylem tanaman tomat sehingga tanaman kehilangan turgor dan
layu. Jika dibelah pembuluh di dalam berwarna coklat (Martoredjo &
Sebastian, 1989). Jamur mengadakan infeksi melalui akar, terutama melalui
luka-luka, atau melalui luka pada akar yang terjadi akibat munculnya akar
lateral. Jamur memakai bermacam-macam luka untuk jalan infeksinya,
misalnya luka karena pemindahan bibit. Jamur dapat menginfeksi buah,
sehingga terdapat kemungkinan bahwa jamur terbawa oleh biji. Jamur
tersebar setempat-setempat karena pengangkutan bibit, tanah yang terbawa
angin atau air oleh alat pertanian (Semangun, 1994). Jamur Fusarium
oxysporum, jamur ini merupakan patogen asal tanah yang penting secara
ekonomi, karena dapat menyebabkan busuk dan layu Fusarium pada akar,
batang dan kecambah pada lebih dari 100 jenis tanaman. Pengendalian
penyakit ini sulit dilakukan karena jamur dapat bertahan lama di tanag
sebagai saprofit (Yurnaliza, 2011).
Salah satu penyakit yang disebabkan oleh cendawan adalah penyakit
layu Fusarium yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum. Adanya
serangan cendawan ini menjadikan salah satu faktor yang menyebabkan
terjadinya penurunan produksi kacang hijau. Penyebaran cendawan Fusarium
sangat cepat dan dapat menyebar ke tanaman lain dengan cara menginfeksi
akar tanaman dengan menggunakan tabung kecambah atau
miselium. Akar tanaman dapat terinfeksi langsung melalui jaringan akar, atau
melalui akar lateral dan melalui luka-luka, yang kemudian menetap dan
berkembang di berkas pembuluh. Setelah memasuki akar tanaman, miselium
akan berkembang hingga mencapai jaringan korteks akar. Pada saat miselium
cendawan mencapai xylem, maka miselium ini akan berkembang hingga
menginfeksi pembuluh xylem. Miselium yang telah menginfeksi pembuluh
xylem, akan terbawa ke bagian lain tanaman sehingga mengganggu peredaran
nutrisi dan air pada tanaman yang menyebabkan tanaman menjadi layu
(Semangun, 2005 dalam Herawati , 2015).
7. Aspergillus sp.
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Eurotiomycetes
Ordo : Eurotiales
Famili : Trichocomaceae
Genus : Aspergillus
Spesies : Aspergillus sp.
Aspergillus sp. tumbuh secara cepat, menghasilkan hifa aerial dengan
panjang ciri struktur konidia yang khas, konidiofora panjang dengan vesikel
terminal yang fialidnya menghasilkan rantai konidia yang bertumbuh secara
basipetal. Kondisi iklim tropis sangat sesuai dengan pertumbuhan kapang
khususnya Aspergillus flavus atau Aspergillus parasiticus yaitu dua jenis
kapang yang memproduksi berbagai jenis aflatoksin. Aflatoksin dapat
mengakibatkan kerusakan hati, organ tubuh yang sangat penting dan juga
berperan dalam detotsikasi aflatoksin itu sendiri. Apabila aflatoksin
dikonsumsi dalam jumlah yang kecil tetapi terus menerus maka dapat
menyebabkan kanker hati. Kemampuan aflatoksin untuk menginduksi kanker
hati diduga karena aflatoksin dapat terikat oleh makro molekul dari jaringan
hati. Enzim yang berperan dalam perusakan aflatoksin dalam hati adalah
enzim dari jenis oksidoreduktase. Seperti telah dikemukakan sebelumnya,
berbagai jenis kapang dapat menimbulkan penyakit atau gangguan bagi
kesehatan manusia dan hewan ternak. Penyakit yang disebabkan oleh kapang
dapat dibedakan atas infeksi dan mikosis, alergi dan mikotoksikosis atau
intoksikasi (Syarief et al., 2003).

8. Puccinia graminis
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Class : Pyrenomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Pucciniaceae
Genus : Puccinia
Spesies : P. graminis
Penyakit Karat pada tanaman kacang tanah disebabkan oleh cendawan
Puccinia arachidis. Gejala pada daun terdapat bercak-bercak coklat muda
sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Menurut
Purnomo (2006), mutabilitas patogen atau kemudahan patogen mengalami
mutasi. Ketahanan vertikal agak tidak berarti terhadap patogen yang
mempunyai mutabilitas vertikal yang tinggi. Mutabilitas vertikal dapat terjadi
pada patogen tipe bunga tunggal maupun tipe bunga majemuk. Diantara
penyakit tipe bunga majemuk Puccinia graminis mempunyai mutabilitas
vertikal yang lebih rendah (Semangun, 1994).
9. Phytophthora infestans
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Oomycota
Class : Oomycetes
Ordo : Phytiales
Family : Phytiaceae
Genus : Phytophthora
Spesies : P. infestans
Memiliki karakter antara lain : Konidiofor keluar dari mulut kulit,
berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yang
khas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 m, berinti banyak 7-32.
Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk hifa
(benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk spora kembara,
konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium.
Cendawan ini dapat membentuk oospora meskipun agak jarang. Cendawan
Phytophthora infestans menyebar melalui udara dan air (Semangun, 1994).
Jamur ini merupakan patogen tanaman terkenal yang menyebabkan
penyakit pada tanaman kentang, pertumbuhan Phytophthora infestans
Didukung adanya musim panceklik (Goss et al., 2014). Menurut Semangun
(1994), busuk daun kentang (late blight) yang sering juga disebut sebagai
hawar daun adalah penyakit yang terpenting pada tanaman kentang. Ciri
yang khas untuk mengenal sebagian besar Phycomycetes ialah miselliumnya
yang tidak bersekatsekat. Warna misellium putih, jika tua mungkin agak
coklat kekuningkuningan; kebanyakan sporangium berwarna kehitam
hitaman. Hifanya berkembang sempurna. Phytopthora memiliki sporangium
yang berbentuk bulat telur. Phytophthora infestans memproduksi spora
aseksual yang disebut sporangia.
10. Pyricularia sp.
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Amastigomycota
Kelas : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Moniliaceae
Genus : Pyricularia
Spesies : Pyricularia sp.
Jamur ini dapat menyebabkan penyakit bercak daun pada jagung.
Gejala dapat ditunjukkan dari bercak coklat tua mengering. Bercak daun
mempunyai tepi yang jelas, bergelang, berwarna coklat muda kekuningan,
agak basah, lalu mengering menjadi berwarna coklat keputihan dan berbintik
hitam. Serangan parah penyakit ini menyebabkan kenatian pada tanaman
(Semangun, 1994).
Para ahli mikologi dapat menggunakan spora atau lebih tepatnya jejak
spora yang dapat membantunya untuk mengidentifikasi ribuan spesies jamur
yang memiliki tudung. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah
besar. Hal ini bisa diperoleh dengan meletakkan tudung dengan himenium
menghadap ke bawah pada selembar kertas putih atau sepotong kaca. Setelah
beberapa jam, terkadang tidak sampai esok harinya, lapisan spora akan
terkumpul. Jadi terbentuknya spora tidak lebih dari satu hari. Warna spora
terbagi ke dalam 4 atau 5 tipe umum, yaitu: putih, merah muda, kuning tanah
dan ungu kehitaman, namun kelompok terakhir dapat dibedakan lagi menjadi
ungu dan hitam. Warna spora kadang-kadang dapat dilihat secara visual
dengan melihat lamela pada jamur dewasa, tetapi kadang-kadang warna dari
lamela menyembunyikan warna sporanya (Sunawiria, 1986).
Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan konidi. Askus-
askus dapat terbentuk dalam suatu badan buah yang disebut askokarp. Sebuah
askokarp, atau askoma (jamak: ascomata), adalah badan berbuah (sporokarp)
dari sebuah jamur. Terdiri dari hifa yang terjalin sangat erat dan mungkin
berisi jutaan ascus. Askokarps paling sering berbentuk mangkuk. Askokarp
diklasifikasikan sesuai dengan penempatan. Apabila askokarp tumbuh di atas
tanah disebut epigeous, sementara apabila tumbuh di bawah tanah disebut
hypogeous. Ada empat macam tipe askokarp, yaitu (Syarief et al., 2003) :
a) Apotesium
Tipe ini juga disebut diskokarp. Askokarp seperti cawan atau
mangkok yang terbuka, kadang hanya satu tubuh buah atau
membentuk koloni. Askus-askus dibentuk di atas (apo) dasar tubuh
buah. Tipe ini banyak di temukan pada fungi Ascomycetes. Contoh :
Morachella sp., Helvella sp. dan Gyromitra sp.
b) Peritesium
Tipe ini juga disebut pirenokarp. Askokarp seperti periuk,
boto, latau berbentuk seperti termos berleher sempit atau laboratorium
beaker, dengan mulut termos (atau bagian atas ketel) yang membuka
ke arah udara dan menonjol sedikit dari ascocarp. Baris kamar-kamar
permukaan sehingga askokarp permukaan tubuh menonjol, masing-
masing dengan lubang (mengarah ke kamar) di tengah. Lubang ini
dikenal sebagai ostiole, yang merupakan tempat keluarnya spora.
Dinding tubuh buah seolah-olah di tepi (perifer) askus-askus. Tipe ini
memiliki pori-pori kecil dan spora dilepaskan satu demi satu ketika
masak (berbeda dengan apothecia yang dilepaskan bersama-sama).
Tipe ini ditemukan misalnya pada Xylaria sp., Nectria sp., dsb.
c) Kleistotesium
Askokarp seperti bola, askus-askus tertutup (Kleistos) oleh
dinding tubuh buah. dalam hal ini ascocarp bulat dengan hymenium
tertutup, sehingga spora tidak secara otomatis terbentuk, dan jamur
dengan cleistothecia harus cara lain untuk untuk menyebarkan spora
mereka. Cleistothecia banyak ditemukan di jamur yang memiliki
ruang kecil yang tersedia untuk ascocarps mereka, seperti
pada Arthroderma sp. dan Tuber melanosporum.
d) Tidak mempunyai Askokarp (Askostroma)
Tipe ini banyak ditemukan pada jamur-jamur mikroskopis.
Tidak ada bentuk nyata dari adanya akskokarp, namun tetap dapat
melakukan repsroduksi. Seperti pada Neorospora crassa.
Puccinia graminis memiliki 4 siklus hidup yakni (Semangun, 1994) :
a. Picnia
Spora jamur masid berada di luar epidermis belum menyentuh
sel epidermis.
b. Aecia
Basidiospora seksual dihasilkan dengan menginfeksi inang.
Spermogonium adalah struktur reproduksi yang dihasilkan pada
permukaan atas daun barberry. Spermogonium menghasilkan
Spermatia bersel tunggal dan hifa reseptif. Kontak hifa Spermatia
menerima dan bergabung membentuk dikaryon. Dikaryon
menghasilkan struktur reproduksi aseksual, aecium, di bawah daun
inang.
c. Uredia
Esiospora dikaryotic menginfeksi gandum. miselium
Dikaryotic pada gandum menghasilkan struktur reproduksi yang
disebut uredinium, yang menghasilkan aseksual, urediniospora
dikaryotic yang dapat menginfeksi ulang gandum.
d. Telia
Akhirnya, dikaryon pada gandum menghasilkan struktur
reproduksi disebut Telia. Teliospora diproduksi secara aseksual dan
struktur over wintering dikaryotic. Pada musim semi, inti dalam
teliospora (karyogami), menghasilkan basidium, menjalani meosis,
dan menghasilkan basidiospora yang menginfeksi inang.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Beberapa spesies jamur Makroskopis antara lain : Pleurotus ostreatus,


Trametes versicolor, Auricularia auricula, Agaricus bisporus, Ganoderma
lucidum, dan Jamur Mikroskopis antara lain : Fusarium sp. Puccinia
graminis, Aspergillus sp. Phytophtora infestans dan Pyricularia sp.
2. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa diperoleh
dengan meletakkan tudung dengan himenium menghadap ke bawah pada
selembar kertas putih atau sepotong kaca.
B. Saran

a. Sebaiknya jejak spora dibuat untuk setiap rombongan praktikum, sehingga


praktikan dapat mengamati langsung jejak spora bukan hanya kertas
karbon dan jamur P. Ostreatus yang telah layu.
b. Sebaiknya preparat jamur mikroskopis disediakan dalam keadaan yang
jelas dengan perbesaran mikroskop 100 X dan fokus yang tinggi, sehingga
foto yang dihasilkan lebih dapat menginterpretasu preparat yang
digunakan
DAFTAR PUSTAKA

Ayunin, A. Q., Nawfa, R., & Purnomo, A. S. 2016. Pengaruh Tongkol Jagung
sebagai Media Pertumbuhan Alternatif Jamur Tiram Putih(Pleurotus ostreatus)
terhadap Aktivitas Antimikroba. Jurnal SAINS DAN SENI ITS. 5(1) : 2337.
Alexopoulus, C. J., Blackwell, M., & Mims, C.W., 1996. Introductory
Mycology.New York: 4th Ed. Johon Wiley & Sons, Inc.
Campbell, .N. A., Reece, J. B., Urry, L. S., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky,
P. V., & Jacckson, R. B. 2008. Biologi : Edisi kedelapan, Jilid 2. Jakarta :
Erlangga.

Chang, S. T. & Miles, P. H., 1989. Edible Mushroom and The Cultivation. Florida:
CRC Press Boca Ratoon.
Espana-Gamboa, E, Vicent, T., Font, X., Dominguez-Maldonado, J., Canto-Canche,
B., & Alzate-Gaviria, L. 2017. Pretreatment of vinasse from the sugar refinery
industry under non-sterile conditions by Trametes versicolor in a fluidized bed
bioreactor and its effect when coupled to an UASB reactor. Journal Biological
Engineering. 11(2017) : 2.
Gunawan, A.W., 2005. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Goss, E. M., Javier F. Tabimab., David .E. L. Cookec ., Silvia, R.,William, E. F,
Gregory A. F.,Valerie J. F., Martha, C., & Niklaus J. 2014. Grnwald. The
Irish Potato Famine Pathogen Phytophthora Infestans Originated In Central
Mexico Rather Than the Andes. PNAS. 111 (24) : 8791 8796.

Hendritomo, H. I., 2010. Biologi Jamur Pangan. Jakarta: Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Bio Industri.
Herawati, D., Djauhari, S., & Cholil, A. 2015. Eksplorasi Jamur Endofit Pada Daun
Kacang Hijau (Phaseolus radiotus L.) Dan Uji Antagonis Terhadap Jamur
Fusarium oxysporum. Jurnal HPT. 3(3) : 97.

Martoredjo, T, 1989. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian Dari Perlindungan


Tanaman. Yogyakarta : Andi Offset.
Pracaya, 2007. Hama Dan Penyakit Tanaman. Jakarta : Penebar Swadaya.

Semangun, H., 1994 Penyakit-penyakit Tanaman Hortikutura di Indonesia. :


Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Subandi, 2010, Mikrobiologi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Suparti, Kartika, A. A., & Ernawati, D. 2016. Pengaruh Penambahan Leri dan
Enceng Gondok, Klaras, Serta Kardus Terhadap Produktivitas Jamur Merang
(Volvariella volvacea) pada Media Baglog. Bioeksperimen. 2(2) : 130.

Suriawiria, U. 1986. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung : Penerbit Angkasa.

Suriawiria, U. 1986. Pengantar untuk Mengenal dan Menanam Jamur. Bandung :


Penerbit Angkasa.

Stamets, P. 2000. Growing Gourmet and Medical Mushrooms, Third


Editions.Toronto : Ten Speed Press.
Syarief, R., Ega, L., & Nurwitri, C. 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. Bogor : IPB
Press.
Wasser. S. P., & Weis, A. L., 2002. Medicinal mushrooms as a source of antitumor
and immunostimulating polysaccharides. Applied Microbiology and
Biotechnology. 60 : 258 74.

Yurnaliza, & Sebastian, M. 2011. Kemampuan Kitinase Streptomyces Rkt5 sebagai


Antijamur terhadap Patogen Fusarium Oxysporum. Jurnal Natur Indonesia.
10(11) : 42-46.