Anda di halaman 1dari 9

KHASIAT BUAH PALA

Indonesia merupakan salah satu Negara pengguna tumbuhan obat terbesar di


dunia bersama negara lain di Asia seperti Cina dan India. Hal ini sangat erat
kaitannya dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dan keragaman
budaya yang terpelihara sampai saat ini. Kekayaan alam hutan tropis Indonesia
menyimpan beribu-ribu tumbuhan berkhasiat obat dan dihuni oleh berbagai suku
dengan pengetahuan pengobatan tradisional yang berbeda-beda. Di Indonesia
masih banyak jenis tumbuhan obat yang belum dibudidayakan sehingga
ketersediaannya masih tergantung pada alam. Sampai saat ini, beberapa dari ribuan
tanaman tersebut belum diketahui dengan jelas manfaat dan khasiatnya bagi
kesehatan (Hidayat, 2005).Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional
ternyata telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia jauh sebelum pelayanan
kesehatan menggunakan obat-obatan sintetik. Peningkatan penggunaan obat-
obatan herbal seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap dampak
negative dari penggunaan obat sintetik. Masyarakat kembali memilih tumbuhan
obat sebagai alternatif terhadap penyembuhan berbagai penyakit. Selain itu, efek
samping yang ditimbulkan juga lebih kecil (Adipratama,2009).
Obat tradisional merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang yang
berakar kuat dalam budaya bangsa. Oleh karena itu, baik dalam ramuan maupun
dalam penggunaannya sebagai obat tradisional masih berdasarkan pengalaman
yang diturunkan dari generasi ke generasi baik secara lisan maupun tulisan.
Dewasa ini pemanfaatan obat tradisional oleh masyarakat digunakan sebagai
pengobatan alternatif untuk dirisendiri. Pemanfaatan obat tradisional untuk
menanggulangi penyakit rakyat dalam pelayanan kesehatan formal masih kurang
atau belum digunakan dalam pelayanan kesehatan formal (Riswan dan
Andayaningsih, 2008).
Tumbuhan obat adalah tanaman/bagian tanaman yang digunakan sebagai
bahan obat tradisional atau jamu, atau sebagai bahan pemula bahan baku obat
(prokursor), atau tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut
digunakan sebagai obat. Salah satu jenis tanaman obat adalah tanaman
pala(Myristica fragrans) (Riswan dan Andayaningsih, 2008).
Klasifikasi Pala

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Magnoliales
Famili : Myristicaceae
Genus : Myristica
Spesies : Myristica fragransHout
Kandungan kimia Daging buah pala seberat 100 g kira-kira
terkandung air 10 g, protein 7 g, lemak 33g, minyak yang menguap dengan
komponen utama mono terpene hydrocarbons (61 - 88% seperti alpha pi nene, beta
pinene, sabinene), asam monoterpenes (5 - 15%), aromatik eter (2 - 18% seperti
myristicin, elemicin). Pada arillus terdapat minyak atsiri, minyak lemak, zat samak,
dan zat pati. Pada bijinya terdapat minyak atsiri, minyak lemak, saponin, miristisin,
elemisi, enzim lipase, pektin, hars, zat samak, lemonena, danasam oleanolat. Kulit
buah mengandung minyak atsiri dan zat samak. Setiap 100 g bunga kira-kira
mengandung air 16 g, lemak 22 g, minyak yang menguap 10 g, karbohidrat 48
g,fosfor 0,1 g, zat besi 13 mg. Warna merah dari fulinya adalah lycopene yang
sama dengan warna merah pada tomat.6, 9. (Riswan dan Andayaningsih, 2008).
Kegunaan pala

Gangguan tidur dapat diatasi tanpa harus ke dokter, apalagi mengkonsumsi obat
penenang. Ranah tanaman Indonesia mengenal beberapa tanaman yang bisa di
budidayakan untuk menyamankan tidur. Weiss E.A. menyebutkan bahwa senyawa
aromatic myristicin, elimicin, dan safrole sebesar 2 - 18% yang terdapat pada biji
dan bunga pala bersifat merangsang tidur berkhayal (halusigenik) dengan dosis
kurang dari 5g.9 Di beberapa negara Eropa, biji pala di gunakan dalam porsi
sedikit sebagai bumbu masakan daging dan sup. Fulinya (kulit pembungkus biji
pala) lebih disukai digunakan dalam penyedap masakan, acar, dan kecap. Minyak
yang mudah menguap dari biji, fuli,kulit, kayu, daun, dan bunga hasil sarinya
sebagai oleoresins sering digunakan dalam industry pengawetan minuman ringan
dan kosmetik.
Minyak pala secara luas digunakan sebagai bahan penyedap pada produk
makanan dengan dosis yang dianjurkan sekitar 0,08%. Minyak ini memiliki
kemampuan mematikan serangga (insektisidal), antijamur (fungisidal), dan
antibakteri. Sebagai obat, pala berkhasiat sebagai bahan perangsang (stimulan),
mengeluarkan angin (karminatif) 20 menciutkan selaput lendir atau pori-pori
(astrinjen), dan mengatasi lemah syahwat (afrodisiak).
Mekanisme Kerja
Kandungan ekstrak biji pala (Myristica fragransHoutt) memiliki pengaruh pada
reseptor GABAA (gamma-aminobutyric acid subtype A). Biji pala (Myristica
fragransHoutt) berpengaruh pada komponen presinaptik dari neuron GABA-ergik
yang mempengaruhi pelepasan sinaptomal GABA. Selain itu biji pala (Myristica
fragrans Houtt) juga menghambat reuptake GABA dan menghambat katabolisme
GABA dengan menghambat enzim GABA transaminase. Efek sedasi biji pala
( Myristica fragransHoutt) berhubungan dengan reseptor GABAA. Reseptor
GABAA merupakan target penting untuk komponen hipnotik-sedatif, anestesi
umum, benzodiazepin dan barbiturat. Reseptor GABAA diekspresikan di region
anatomi yang melibatkan proses tidur.
Khasiat Pala
Buah pala banyak digunakan untuk menghilangkan rasa mual atau gejala
mabuk saat berkendara. Pasalnya, buah yang memiliki nama latin Myristica
Fragrans Houtt itu, memiliki sifat antiemetik yaitu senyawa kimia yang bermanfaat
antara lain mengatasi rasa mual mau muntah. Senyawa kimia buah pala tersebut
terdapat di kulit, daging, biji pala hingga bunganya. Misalnya, kandungan minyak
atsiri dan zat samak terdapat pada kulit dan daging buah pala. Sedangkan fuli atau
bunga pala mengandung minyak atsiri, zat samak dan zat pati. Sedangkan dari
bijinya sangat tinggi kandungan minyak atsiri, saponin, miristisin, elemisi, enzim
lipase, pektin, lemonena dan asam oleanolat.
Senyawa- senyawa kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan,
diantaranya dapat membantu mengobati di antaranya masuk angin, insomnia
(gangguan susah tidur), bersifat stomakik untuk memperlancar pencernaan dan
meningkatkan selera makan, karminatif untuk memperlancar buang angin,
antiemetik untuk mengatasi rasa mual mau muntah,nyeri haid dan rematik.
Sementara itu, daging buah pala biasa diolah menjadi manisan atau bahan sirup,
sementara bijinya seringkali digunakan untuk bumbu masak. Bunga pala atau fuli
banyak digunakan sebagai bumbu masakan atau diekstrak sarinya menjadi bahan
baku kosmetika dan parfum.(Ardian. 2010)
Masalah yang sering timbul di masyarakat adalah masalah kekurangan
darah,dan yang lebih sering menjadi keluhan adalah kurangnya eritrosit dalam
tubuh atau lebih dikenal dengan anemia. Menurut Ardian(2010) bahwa jumlah
eritrosit normal dalam tubuh sekitar 5 juta sel dan jumlah leukosit sekitar 6000-
9000 sel. Apabila kedua jumlah sel darah tersebut menurun, maka akan
menimbulkan gangguan misalnya anemia dan turunnya sistem kekebalan tubuh.
Kedua penyakit ini tergolong penyakit ringan, akan tetapi jangan dianggap sepele,
karena apabila tidak dicegah atau diobati maka akan menimbulkan penyakit yang
lebih fatal lagi seperti kanker. Sebagian orang cenderung merasa aman dengan
menggunakan obat sintetik tanpa memperhatikan efek negative yang ditimbulkan.
Padahal ada beberapa obat tradisional yang dapat mencegah penyakit tersebut.
Menurut penelitian Arifani (2006) bahwa salah satu obat tradisional yang
terbukti dapat meningkatkan jumlah eritrosit yaitu buah merah (Pandanus
conoideusLam). Buah merah mengandung banyak asam oleat, asam linolenat,
dekanoat, serta omega 9 dan omega 3, sebagai asam lemak tak jenuh, yang
berfungsi memperlancar proses metabolism untuk menyerap protein, dimana
protein ini merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan eritrosit.
Selain itu, menurut penelitian Adipratama (2009), bahwa salah satu obat tradisional
yang dapat meningkatkan jumlah leukosit yaitu temulawak (Curcuma xanthorriza).
Komponen utama yang berkhasiat sebagai obat dalam rimpang temulawak adalah
kurkuminoid dan minyak atsiri yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari
tanaman ini.
Dari kedua penelitian tersebut diperoleh beberapa komponen yang dapat
meningkatkan jumlah eritrosit dan leukosit diantaranya minyak atsiri, asam oleat
dan asam linoleat. Ketiga komponen ini juga dimiliki oleh tanaman biji pala
(Myristica fragrans). Menurut Hari (2012), bahwa biji pala merupakan tanaman
yang mengandung minyak atsiri, minyak lemak, saponin, miristisin, elemisi, enzim
lipase, pektin, hars, zat samak, lemonena, asam oleat dan asam linoleat.
Kandungan biji pala yang lebih berkhasiat adalah minyak atsiri.
Cara Pembuatan Simplisia Biji Pala
1. Simplisia Rajangan

Pembuatan simplisia biji pala meliputi beberapa tahapan sebagai berikut :

a. Menyiapkan alat dan bahan untuk pembuatan simplisia biji pala

b. Pemilihan bahan baku biji pala yaitu dengan memilih buah yang sudah masak.
Serta memperhatikan kondisi tanaman yang segar supaya mendapatkan hasil
yang maksimal
c. Pencucian biji pala
d. Pengubahan bentuk (tergantung bahan tanaman yang dipakai) seperti :
1. Pemotongan
2. Penyerutan
3. Perajangan
4. Pengupasan
e. Karena yang digunakan penelitian kali ini adalah biji pada pala maka
digunakan cara perajangan ,yaitu dengan cara kita merajang biji tadi sebelum di
ekstraksi .
f. Sortasi basah (pemilihan hasil bahan ketika masih segar)
g. Pengeringan (ada 2 cara yaitu : hanya diangin-anginkan dengan panas
matahari atau menggunakan oven dengan suhu rendah 25-35 c)
h. Sortasi kering (pemilihan bahan setelah pengeringan )
i. Penyimpanan (masukkan simplisia ke dalam toples kecil)
j. Beri label pada toples
2. Serbuk Simplisia
Pembuatan simplisia biji pala meliputi beberapa tahapan sebagai berikut :

a. Menyiapkan alat dan bahan untuk pembuatan simplisia biji pala


b. Pemilihan bahan baku biji pala yaitu dengan memilih buah yang sudah masak.
Serta memperhatikan kondisi tanaman yang segar supaya mendapatkan hasil
yang maksimal
c. Pencucian biji pala
d. Pengubahan bentuk (tergantung bahan tanaman yang dipakai) seperti :
1. Pemotongan
2. Penyerutan
3. Perajangan
4. Pengupasan
e. Karena yang digunakan penelitian kali ini adalah biji pada pala maka
digunakan cara perajangan ,yaitu dengan cara kita merajang biji tadi sebelum di
ekstraksi .
f. Sortasi basah (pemilihan hasil bahan ketika masih segar)
g. Pengeringan (ada 2 cara yaitu : hanya diangin-anginkan dengan panas
matahari atau menggunakan oven dengan suhu rendah 25-35 c)
h. Sortasi kering (pemilihan bahan setelah pengeringan )
i. Haluskan bahan, dengan menggunakan mortir atau blender
j. Lakukan pengayakan untuk menghasilkan serbuk simplisia yang halus
k. Penyimpanan (masukkan simplisia ke dalam toples kecil)
l. Beri label pada toples

DAFTAR PUSTAKA

Arifani, N. 2006. Pengaruh Pemberian Buah Merah (Pandanus conoideusLam)


Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang:

Ardian. 2010.Jumlah Eritrosit dan Leukosit.[Online] Tersedia:


http://repository.ipb.ac.Id/bitstream/handle/1234567 89/51319/Bab%20II%20Tipus
%2D10zpe-4.pdf?sequence=6.html[20 Januari 2013]
Riswan, S dan Andayaningsih, D.(2008).Keanekaragaman Tumbuhan Obat Yang
Digunakan Dalam Pengobatan Tradisional Masyarakat . Jurnal Farmasi
Indonesia. [Online], Vol. 4 No. 2, 8halaman. Tersedia:
http://jfi.iregway.com/index.php/jurnal/article/view/16 [30 Juni 2013]

TUGAS
FITOKIMIA II
NAMA : ZULHIKMA UKRATALO

NIM : 14-3145-201-042

KELAS : A (S1 FARMASI)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

MEGA REZKY MAKASSAR

2017
.