Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PSK, DRUG ABUSE, DAN PEREMPUAN DI REHABILITASI

A. PSK (Pekerja Seks Komersial)

Sebelum istilah PSK diperkenalkan, dahulu istilah yang kita kenal adalah pelacuran.
Namun, oleh kalangan feminis di ubah untuk mencoba mengangkat posisi sosial pelacur menjadi
setara dengan orang pencari nafkah lainnya, dan berlaku tidak hanya bagi perempuan saja tetapi
juga laki-laki,kaum transvertit dan laki-laki homoseks. Transvertit adalah seseorang yang secara
anatomis laki-laki, tetapi secara sikologis merasa dan menganggap dirinya sebagai perempuan.

PSK adalah suatu pekerjaan dimana seorang perempuan menggunakan atau


mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang.

Saat ini tingkat kemoralan bangsa indonesia semakin terpuruk, hal ini terbukti dengan
tingginya jumlah PSK. Akibatnya semakin banyak ditemukan penyakit menular seksual. Profesi
sebagai PSK dengan penyakit menular seksual merupakan satu lingkaran setan. Biasanya
penyakit menular seksual ini sebagian besar diidap oleh PSK, dimana dalam menjajakan dirinya
terhadap pasangan kencan yang berganti-ganti tanpa menggunakan pengaman seperti kondom A.

Permasalahan yang berkenaan dengan PSK di Indonesia adalah tingkat perekonomian yang
semakin mencekik kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat
miskin, yang memaksa mereka untuk menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhan
hidup.

1. Faktor-Faktor Penyebab Adanya PSK


a. Kemiskinan
Diantara alasan penting yang melatarbelakangi adalah kemiskinan yang bersifat
structural. Struktur kebijakan tidak memihak kepada kaum yang lemah sehingga yang
miskin semakin miskin, sedangkan orang kaya semakin menumpuk harta kekayaannya.
Kebutuhan yang semakin banyak pada seorang perempuan memaksa dia untuk
mencari sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang memuaskan namun kadang dari
beberapa mereka harus bekerja sebagai PSK untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.

1
b. Kekerasan Seksual
Penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab perempuan menjadi PSK di
antaranya kekerasan seksual seperti perkosaan oleh bapak kandung, paman, guru dan
sebagainya.
c. Penipuan
Faktor lain yaitu, penipuan dan pemaksaan dengan berkedok agen penyalur kerja.
Kasus penjualan anak perempuan oleh orang tua sendiri pun juga kerap ditemui.
d. Pornografi
Menurut definisi undang-undang antipornografi, pornografi adalah bentuk ekspresi
visual berupa gambar, lukisan, tulisan, foto, film atau yang dipersamakan dengan film,
video, tayangan atau media komunikasi lainnya yang sengaja dibuat untuk memperlihatkan
secara terang-terangan atau tersamar kepada publik alat vital dan bagian-bagian tubuh serta
gerakan-gerakan erotis yang menonjolkan sensualitas dan atau seksualitas, serta segala
bentuk perilaku seksual dan hubungan seks manusia yang patut diduga menimbulkan
rangsangan nafsu birahi pada orang lain.

2. Persoalan- persoalan psikologios


a. Akibat gaya hidup modern
Seorang perempuan pastinya ingin tampil dengan keindahan tubuh dan barang-
barang yang dikenakannya. Namun ada dari beberapa mereka yang terpojokkarena masalah
keuangan untuk pemenuhan keinginan tersebut maka mereka mengambil jalan akhir
dengan menjadi PSK untuk pemuasan dirinya.
b. Broken home
Kehidupan keluarga yang kurang baik dapat memaksa seseorang remaja untuk
melakukan hal- hal yang kurang baik di luar rumah dan itu dimanfaatkan oleh seseorang
yang tidak bertanggung jawab dengan mengajaknya bekerja sebagai PSK.

c. Kenangan Masa Kecil yang Buruk


Tindak pelecehan yang semakin meningkat pada seorang perempuan bahkan adanya
pemerkosaan pada anak kecil bisa menjadi faktor dia menjadi seorang PSK.

3. Dampak yang Ditimbulkan Bila Seseorang Bekerja sebagai PSK


a. Keluarga dan masyarakat tidak dapat lagi memandang nilainya sebagai seorang
perempuan.
b. Stabilitas sosial pada dirinya akan terhambat, karena masyarakat hanya akan selalu
mencemooh dirinya.
c. Memberikan citra buruk bagi keluarga.

2
d. Mempermudah penyebaran penyakit menular seksual seperti gonore, klamidia,
herpes kelamin, sifilis, hepatitis B, HIV/AIDS.

4. Penanganan Masalah PSK:


a. Keluarga
Meingkatkan pendidikan anak-anak terutama mengenal pendidikan seks secara dini
agar terhindar dari perilaku seks bebas.
Meningkatkan bimbingan agama sebagai tameng agar terhindar dari perbuatan dosa.
b. Masyarakat
Meningkatkan kepedulian dan melakukan pendekatan terhadap kehidupan PSK.
c. Pemerintah
Memperbanyak tempat atau panti rehabilitasi.
Meregulasi undang-undang khusus tentang PSK
Meningkatkan keamanan dengan lebih menggiatkan razia lokalisasi PSK untuk
dijaring dan mendapatkan rehabilitasi.

5. Aspek Kesehatan Reproduksi


Tidak dapat disangkal bahwa masalah PSK sangat erat kaitannya dengan kesehatan
reproduksi dan masalah ketimpangan status sosial kaum perempuan. Perilaku seksual yang selalu
berganti pasangan membuat para PSK mempunyai risiko yang tinggi untuk tertulari dan
menularkan penyakit seksual.
Di sebagian besar lokalisasi, pemeliharaan kesehatan bagi pekerjanya dilakukan oleh
paramedis atas inisiatif sendiri.
Mengingat kualitas paramedis Indonesia pada umumnya, sangat sulit diharapkan bahwa
mereka akan melakukan penyuluhan dan konseling tentang penyakit menular seksual ke lokasi-
lokasi PSK. Pengabaian terhadap masalah ini hanya karena PSK secara resmi dianggap tidak
ada padahal pengabaian ini akan memperbesar risiko mereka dan para pelanggan mereka untuk
tertular penyakit seksual. Pada gilirannya para pelanggan akan menularkan penyakit pada
keluarganya sendiri. Pemerintah sendiri mengalami kesulitan untuk mendeteksi perilaku seksual
masyarakat, terutama kaum remaja, yang mencari pemuasan seksual dengan PSK.
Ada hal yang menarik untuk dicatat dari laporan MHR Sianturi, yang mengungkapkan
bahwa di antara remaja putri berusia 11-15 tahun, yang ditelitinya,ada beberapa yang mengidap
penyakit menular seksual Trikhomonas dan Human Papilloma Virus. Ini mengisyaratkan bahwa
kalangan remaja putri dalam usia yang masih sangat muda sudah melakukan hubungan seks
dengan laki-laki, bahkan tertular penyakit. Yang lebih menarik lagi adalah penelitian ini
dilakukan di klinik spesialis swasta. Ini menunjukkan bahwa mereka yang datang di sana adalah
kalangan menengah ke atas. Kembali hendak dikemukakan di sini, bahwa bukan masalah
3
ekonomi yang mendorong remaja putrid menjadi PSK, tetapi karena lebih pengaruh selera
hedonistic. Dampak perilaku seksual yang sudah merambah dalam usia yang masih sangat muda
ini akan mempengaruhi kondisi kesehatan reproduksi mereka dikemudian hari. Akibatnya bisa
terjadi kemandulan atau beberapa penyakit saluran reproduksi lainnya, terutama mereka yang
sudah terinfeksi HPV.

B. Drug abuse

Penyalahgunaan obat (Drug abuse) dalam dua tiga dekade terakhir bertambah gawat secara
global dan juga sudah mencapai keadaan serius di Indonesia.

Penyalahgunaan obat dimaksud bila suatu obat digunakan tidak untuk tujuan mengobati
penyakit, akan tetapi digunakan dengan sengaja untuk mencari atau mencapai kesadaran
tertentu karena pengaruh obat pada jiwa.

Dari segi hukum obat-obat yang sering disalahgunakan dapat dibagi dalam dua
kelompok,yaitu:

a. Narkotika/obat bius
b. Bahan psikotropika

Untuk mencegah penyalahgunaan obat, pemerintah baru-baru ini telah mengesahkan


undang-undang penting, yaitu:

1) Undang-Undang Republik Indonesia No 5 Tahun 1997 tanggal 11 Maret 1997


tentang Psikotropika
2) Undang-Undang Republik Indonesia No 22 Tahun 1997 tanggal 1 September 1997
tentang Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Contohnya adalah opium, morphine, cocaine, ganja/marihuana, dan sebagainya.

Narkotika dibedakan menjadi:

4
a. Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
b. Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan
sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
ketergantungan.
c. Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

Bahan psikotropika adalah bahan/obat yang mempengaruhi jiwa atau keadaan jiwa yaitu:

a. Keadaan kejiwaan diubah menjadi lebih tenang, ada perasaan nyaman, sampai
tertidur.
b. Dalam hal ini pemakai menjadi gembira, hilang rasa susah/sedih, capek/depresi.
c. Bahan memberi halusinasi, yaitu si pemakai melihat/merasakan segala sesuatu lebih
indah dari yang sebenarnya dihadapi.

Menurut undang-Undang No 5/1997, Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah
maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psiko aktif melalui pengaruh selektif susunan
saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan


digolongkan menjadi:

a. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk


tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi
amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
b. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
c. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.

5
d. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketegantungan.

Pembentukan Komisi Nasional Penanggulangan Narkoba dapat memperlihatkan


bagaimana gawatnya persoalan yang dihadapi oleh semua orang terutama bagi para remaja
bahkan wanita hamil dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi. Dimana salah satu akibatnya
adalah tertular penyakit IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS. Faktor yang sangat
berpengaruh pada penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks berisiko tinggi, maraknya industri
seks kian banyak penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA), suntikan serta
faktor kemisikinan.

Adanya peningkatan jumlah pengguna narkoba pada perempuan, biasanya 8-20% dari total
keseluruhan, walaupun penggunaan narkoba laki-laki tetap yang tertinggi. Organ reproduksi
perempuan lebih rentan tertular HIV/AIDS dibandingkan organ reproduksi laki-laki karena
berada dibagian dalam tubuh. Bagian dalam vagina berselaput lendir memliki lipatan-lipatan
yang membuat penampang vagina menjadi lebih luas sehingga lebih rentan terinfeksi HIV/AIDS
dibandingkan organ reproduksi laki-laki. Hubungan sekual melalui vagina disertai kekerasan
lebih berpotensi lebih menimbulkan luka pada organ reproduksi perempuan. Luka itu menjadi
pintu masuk bagi HIV yang berada dalam cairan sperma ke tubuh perempuan. Statistik
memperlihatkan, perempuan 2-4 kali lebih rentan tertular HIV/AIDS daripada laki-laki.

1. Bahaya atau dampak negatif penggunaan obat terlarang

Adanya tindak penyalahgunaan obat terlarang membawa dampak yang membahayakan bgi
tubuh penderita dan orang lain.

Dari segi hukum, tentunya tindakan ini merupakan tindak pidana yang betentangan dengan
UU. Dalam UU Narkotika dan UU Psikotropika disebutkan bahwa semua yang telibat baik
produsen, penyalur, pemakai dapat dikenakan sanksi berupa hukuman penjara, denda, bahkan
hukuman mati. Orang yang mempersulit upaya penyidikanpun dikenai sanski denda maksimal
Rp 750 juta dan hukuman maksimal adalah mati.

6
Dari segi kesehatan, sangat bervariasi tergantung dari jenis obat yang dipakai. Namun,
semua obat tersebut membawa efek ketergantungan, ketagihan, rasa terus membuthkan oleh
pemakai, dan adiksi serta gejala putus obat apabila dihentikan pemakaiannya. Intoksikasi yang
umumnya menyebabkan kematian pun sering terjadi karena timbul sebagai akibat dari
pemakaian dosis yang berlebihan. Gejala terganggunya funsi normal tubuh (witerhadaprawal
syndrome), misal berkeringat, nyeri seluruh tubuh, demam, mual sampai muntah dapat terjadi
bila pemakaian obat terlarang tersebut dihentikan. Bila tidak mengkonsumsi obat tersebut, gejala
ini akan makin hebat sehingga hanya akan menghilang bila akan diberikan lagi obat tersebut.

Secara farmakologi, efek yang ditimbulkan dibagi menjadi depresan, stimulan dan
halusinogen.

a. Depresan
Obat terlarang yang akan menyebabkan depresi (menekan) aktifitas susunan saraf
pusat. Efek yang dirasakan oleh pemakai adalah menjadi tenang pada awalnya, kemudian
apatis, mengantuk dan tidak sadarkan diri. Semua gerak refleks menurun, mata menjadi
sayu, daya penilaian menurun, gangguan terhadap sistem kardiovaskuler (jantung dan
pembuluh darah). Termasuk kelompok depresan ini adalah:
1) Opioid seperti heroin, morfin dan turunannya.
2) Sedativa seperti barbiturat dan diazepam, nitrazepam dan turunannya.
b. Stimulan
Memiliki efek dapat merangsang fungsi tubuh. Pada awalnya pemakai akan merasa
segar, penuh percaya diri, kemudian berlanjut menjadi susah tidur, perilaku hiperaktif,
agresif, denyut jantung menjadi cepat, dan mudah tersinggung. Contohnya: kokain,
amfetamin, ekstasi dan kafein.
c. Halusinogen
Kelompok obat yang menyebabka penyimpangan persepsi termasuk halusinasi
seperti mendengar suara atau melihat sesuatu tanpa ada rangsang, dan sering menjadi
aneh. Paea pemakai menjadi psikopat (curiga berlebihan), mata menjadi merah dan
agresif serta disorientasi. Termasuk dalam kelompok ini ialah LSD, meskalin,
mariyuana/ganja.

Pemakaian dari obat tersebut bervariatif mulai dari oral juga suntikan. Bila melalui
suntikan, bahaya yang dapat terjadi adalah timbulnya infeksi ditempat suntikan, tertularnya

7
radang hati (hepatitis B) dan HIV/AIDS. Sedang yang dihirup lewat hidung dapat menyebabkan
peradangan hidung (epistaksis).
Selain obat terlarang, pemakaian tembakau dan alkohol memiliki dampak yang buruk
bagi kesehatan. Penelitian ilmiah menunjukan bahwa 3000 macam, termasuk nikotin, tar, CO 2,
CO, hidrogen sianida, dan tembaga. Seorang perokok dihadapkan pada risiko rusaknya jaringan
paru-paru, sesak nafas, kanker paru dan penyakit jantung koroner. Pada intoksitasi akut dapat
menyebabkan kematian. Banyak negara melarang pemakaian tembakau di depan umum dan
dalam setiap bungkus rokok tercantum bahaya yang mungin ditimbulkan rokok.
Alkohol memiliki kandungan zat etanol yang berfungsi menekan sistem susunan saraf
pusat. Pemakaian dengan dosis rendah akan membuat tubuh menjadi segar karena memiliki efek
merangsang. Namun, pada dosis tinggi atau lebih besar akan menimbulkan gangguan berupa
rusaknya jaringan otak, gangguan daya ingat, gangguan jiwa, mudah tersinggung, menurun
koordinasi otot (jalan sempoyongan), reaksi refleks menurun, kelumpuhan, bahkan kematian.
Dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja antara lain:
a. Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian.
b. Sering membolos, menurunnya kedisipilan dan nilai pelajaran.
c. Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah.
d. Sering menguap, mengantuk dan malas.
e. Tidak mempedulikan kesehatan diri.
f. Suka mencuri untuk membeli narkoba.

2. Cara pencegahan tindak penyalahgunaan obat terlarang

Adanya dampak negatif atau bahaya yang ditimbulkan dari pemakaian dari obat terlarang
baik bagi diri sendiri maupun orang lain perlu diminimalisir. Pencegahan dini yang perlu
dilakukan adalah mulai dari keluarga, karena keluarga merupakan sumber pendidikan yang
pertama dan utama. Berbagai alasan pengguna memakai obat tersebut, sangat bervariatif mulai
dari kurangnya kasih sayang sampai terpengaruh bujukan teman.
Penggunaan obat terlarang tersebut sudah melanggar hukum, agar generasi muda tidak
semakin terjerumus maka perlu adanya pencegahan.
Upaya-upaya yang dapat ditempuh antara lain:
a. Melakukan kerjasama dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan
tentang bahaya narkoba. Misalnya dengan mengadakan seminar, maupun temu
wicara antara gerakan anti nakoba dengan para pelajar, penyuluhan kepada
masyarakat umum maupun sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba.
b. Mengadakan razia mendadak secara rutin. Razia ini pelu dilakukan agar para
pengedar, pengguna dapat terjaring disaat tanpa mereka ketahui (saat transaksi jual

8
beli obat teelarang). Razia dapat dilakukan di sekolah, diskotik, club malam, cafe,
maupun tempat-tempat sunyi yang diduga sebagai tempat transaksi.
c. Pendampingan dari orang tua siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan
kasih sayang. Salah satu penyebab banyaknya remaja terjerumus dalam pemakaian
obat terlarang adalah kurangnya kasih sayang dari keluarga, sebab mereka berpikir
tidak perlu lagi ada beban pikiran keluarga ketika mereka memakai obat tersebut.
d. Pihak sekolah harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak
didiknya, karena biasanya penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar
lingkungan sekolah.
e. Pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada siswa, karena salah
satu penyebab terjerumusnya anak-anak ke dalam lingkaran setan ini adalah
kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang mereka serap, sehingga perbuatan
tercela seperti ini pun akhirnya mereka jalani.

3. Solusi atau cara mengatasi tindak penyalahgunaan obat terlarang


Pemakaian obat terlarang semakin marak terjasi di masyarakat baik di kalangan pelajar
maupun orang tua. Himpitan ekonomi, tekanan keluarga, ketidakpuasan merupakan pemicu
untuk adanya tindakan ini. Berbagai cara ditempuh untuk mencegah terjadinya tindak
penyalahhunaan obat ini. Namun, apabila sudah tidak dapat dicegah, maka cara mengatasilah
yang merupakan pilihan utama untuk keluar dari penggunaan obat ini.
Berbagai solusi ataupun cara mengatasi yang dapat ditempuh baik oleh individu itu sendiri,
keluarga, masyarakat, (institusi) antara lain:
a. Membawa anggota keluarga (pemakai) ke panti rehabilitasi untuk mendapatkan
penanganan yang memadai.
b. Pembinaan kehidupan beragama, baik disekolah, keluarga dan lingkungan.
c. Adanya komunikasi yang harmonis antara remaja dan orang tua, guru serta
lingkungannya.
d. Selalu berperilaku positif dengan melakukan aktifitas fisik dalam penyaluran energi
remaja seperti berolahraga.
e. Perlunya penegmbangan diri dengan berbagai program atau hobi baik di sekolah
maupun di rumah dan lingkungan sekitar.
f. Mengetahui secara pasti gaya hidup sehat sehingga mampu mengangkal pengaruh
bujukan memakai obat terlarang.
g. Saling menghargai sesama remaja (peer group) dan anggota keluarga.
h. Penyelesaian berbagai masalah dikalangan remaja/ pelajar secara positif dan
konstruktif.

9
C. Wanita di Pusat Rehabilitasi
Pusat rehabilitasi wanita meliputi :
a. Masalah social, contohnya PSK
b. Masalah pisikologis, misalnya trauma pada korban kekerasan
c. Masalah drug abuse

Rehabilitasi bagi para PSK dilakukan :


a. Di luar panti di tempat lokalisasi
b. Di dalam panti

Upaya rehabilitasi yang dilakukan meliputi :


a. Bimbingan agama
b. Bimbingan social
c. Latihan keterampilan
d. Pendidikan kesehatan
e. Pendidikan dan kesejahteraan pribadi

Rehabilitasi wanita korban kekerasan trauma psikologis


Upaya yang dilakukan dengan mengembangkan dan membangkitkan rasa percaya diri.
Salah satu cara dengan terapi psikologis. Mereka membutuhkan pendampingan agar bisa kembali
pada keadaan semula. Upaya rehabilitasi korban kekerasan tercantum dalam UUPKDRT.

DAFTAR PUSTAKA

Widyastuti,Yani dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Penerbit Fitramaya.

10