Anda di halaman 1dari 9

MENGAPA RAYKAT PAPUA INGIN BERPISAH DARI NKRI?

JAKARTA - Semua orang Indonesia yang cinta Papua boleh-boleh saja tidak rela,
apabila pulau di ujung Timur Nusantara itu lepas dari NKRI. Masyarakat Papua sendiri,
belum tentu semuanya ingin lepas dari NKRI. Akan tetapi salah satu persoalan yang cukup
mendasar adalah bagi rakyat Papua keinginan memisahkan diri itu dianggap sebagai pilihan
yang jauh lebih baik. Penyebabnya menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) selama 50 tahun terakhir ini, tidak membuat kehidupan masyarakat Papua di pulau
nan kaya itu, lebih baik dan sejahtera. Marginalisasi terhadap Papua dan masyarakatnya jauh
lebih menonjol dibanding usaha-usaha memperbaikan kehidupan lebih sejahtera.
Gejolak-gejolak yang muncul di Papua belakangan ini, coba ditangani oleh Unit Kerja
Khusus yang dibentuk Presiden SBY. Unit kerja itu dikepalai oleh Bambang Darsono,
seorang jenderal TNI AD berpengalaman di bidang teritorial dan juga merupakan salah
seorang jenderal yang dipercaya SBY. Tapi Darsono pun tampaknya tidak bisa berbuat
maksimal. Darsono memiliki keterbatasan. Entah keterbatasan dana operasi, staf pendukung
atau bahkan mungkin kewenangan. Kehidupan masyarakat Papua terutama yang berada di
daerah yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang atau jalan kaki, tak ubahnya
dengan kehidupan di jaman primitif.
Ironisnya kehidupan yang serba minim ini, tak pernah terpikirkan oleh para
pengambil keputusan di Jakarta apalagi dihayati. Semakin jauh letak daerah yang memiliki
permasalahan - dengan Jakarta sebagai pusat pengambilan semua keputusan terpenting,
semakin jauh kepedulian para birokrat itu. Apalagi masih banyak birokrat yang berpikir untuk
kepentingan diri sendiri termasuk mereka senang melakukan korupsi atas uang rakyat.
Johanes Lokobai dari desa Megapura misalnya, saking miskinnya sehingga tidak
pernah bisa mengenyam pendidikan, tidak tahu berapa sebenarnya usianya. Johanes tidak
tahu kapan dia lahir dan dimana dilahirkan. Kedengarannya absurd, tetapi itulah salah satu
karikuatur kehidupan rakyat Papua.
"Saya cuma tahu, bahwa usia saya sudah tua," katanya seperti dilaporkan Michael Bachalard,
wartawan Australia yang bertugas di Indonesia untuk media dari kelompk Fairfax, Sydney
Morning Herald.
Michael dalam laporannya 4 Maret 2013 dengan judul "They Are Taking Our
Children", secara gamblang menulis sebuah "operasi cuci otak" yang dilakukan oleh sebuah
lembaga terhadap ribuan anak-anak Papua.
Laporan ini sekilas, berat sebelah. Menunjukkan keberpihakan media Barat
khususnya Australia terhadap Papua dan penduduknya aslinya yang dianggap masih bertautan
dengan warga Australia, etnik Aborigin. Laporan ini, jika tidak dibaca dengan tenang apalagi
tidak menggunakan hati sebagai pisau analisa, akan dilihat sebagai sebuah laporan yang
memprovokasi.
Untuk akuntabilitas laporan tersebut, Michael menemui sejumlah nara sumber yang
kredibel termasuk membuat foto-foto yang mendukung laporannya tersebut. Michael juga
memasukkan pengalaman pribadinya, yang diancam agar tidak melaporkan apa yang sedang
dia investigasi.
Laporan wartawan Australia itu dengan cepat menyebar, setelah Rianti Amelia, salah
seorang Facebooker yang mengunduhnya kemudian menyebarkan kepada ribuan sahabatnya.
Rianti membumbuhi catatan, bahwa laporan yang dibuat wartawan Australia itu, tidak akan
bisa ditemukan di media-media Indonesia, sebab wartawan Indonesia tidak punya keberanian
seperti jurnalis Australia.
Secara implisit Rianti Amelia menyindir semua tulisan atau laporan yang diturunkan
media di Indonesia. Wartawan Indonesia tidak memahami keadaan yang sesungguhnya yang
terjadi di perut pulau Papua. Sehingga persepsi dan perspektif yang didapat pembaca
(Indonesia) tentang persoalan Papua, keluar dari konteks.
Dengan persepsi yang keluar konteks tersebut, kontrol sosial media-media Indonesia,
tidak akan pernah efektif. Hasilnya, pemerintah apakah itu Presiden SBY atau aparat yang
lebih rendah, tidak akan bisa tampil dengan solusi yang tepat. Dengan kata lain, jika
masyarakat internasional pada akhirnya mendukung perjuangan OPM agar pulau itu menjadi
sebuah negara merdeka, hal tersebut bukan sebuah kesalahan.
Keberpihakan kepada OPM justru lebih masuk akal. Sebab organisasi yang dituduh
Indonesia sebagai gerakan separatis itu lebih jelas dan fokus perjuang mereka. OPM tidak
sekadar memperjuangkan sebuah negara merdeka, tetapi memperjuangkan kemerdekaan yang
paling azasi dari setiap anak manusia. Masyarakat internasional mendukung OPM sebab
mereka lebih memiliki informasi yang komprehensif dibanding masyarakat Indonesia sendiri.
Dalam laporannya Michael tidak menyinggung sama sekali tentang perjuangan OPM.
Tetapi melihat jarak waktu antara tanggal laporan itu diturunkan dengan tanggal pembukaan
kantor perwakilan OPM di Oxford, Inggris, pertengahan April lalu, bukan mustahil, keduanya
saling memiliki keterkaitan. Secara politik Inggris tetap mengakui kedaulatan Indoneisa atas
seluruh wilayah Papua. Tetapi pejabat-pejabat pemerintah Inggris sebagai manusia beradab
dan berbudaya juga tidak bisa menutup telinga dan mata atas laporan berupa "second
opinion" tentang Papua.
Dalam arti pemerintah Inggris sendiri, tidak bisa melarang warga Oxford untuk
memberikan izin pembukaan kantor OPM di salah satu wilayah Inggris. Karena
pertimbangannya lebih didasarkan pada alasan kemanusiaan. Bahwasanya Inggris mengakui
Papua sebagai bagian dari NKRI, tetapi juga berharap dari Indonesia agar pengakuan itu
dibarengi dengan perlakuan yang berkeadaban terhadap seluruh rakyat Papua.
Bagi Indonesia laporan yang mengungkapkan tentang penderitaan yang melampaui
batas menurut standar peradaban bangsa Barat (Inggris), hanya dianggap sebagai sebuah
persoalan biasa yang memerlukan perhatian "hari ini juga". Perbedaan-perbedaan persepsi
inilah yang nampaknya membuat masalah Papua berkembang seperti yang terjadi selama ini.
Ditambah lagi ada kesan media-media Indonesia, kurang berani melaporkan keadaan yang
sesungguhnya tentang apa yang dialami dan dirasakan oleh rakyat Papua.

Sumber : http//waspadaonline.com yang diperoleh tanggal 21 November 2013

Analisa Peristiwa

Peristiwa di atas pada dasarnya menjelaskan mengenai disintegrasi NKRI (Negara


Kesatuan Republik Indonesia) atau yang dapat dikatakan sebagai sparatisme. Nampaknya
bukan kali pertama Indonesia mengalami kasus seperti ini. Pada tahun 1998 tepatnya pada
masa pemerintahan B.J Habibie satu daerah di Indonesia melepaskan diri dari NKRI, yaitu
timor-timor yang kini dikenal dengan nama Timor Leste. Bukan hanya itu saja, banyak sekali
kasus-kasus terkait gerakan sparatisme di Indonesia, misalnya GAM (Gerakan Aceh
Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan) dan masih banyak lagi gerakan sparatisme yang
mengatasnamakan suku, ras dan agama.
Banyak sekali alasan yang mungkin menjadi sebab daerah-daerah tersebut untuk
memisahkan diri dari NKRI. Hal tersebut dapat ditinjau dari segi politik, ekonomi, sosial,
maupun budaya. Ketidakadilan dan ketidakmerataan distribusi faktor-faktor dari bidang-
bidang yang telah disebutkan sebelumnya mungkin menjadi salah satu hal utama yang
menjadi alasan bagi terbentuknya gerakan-gerakan sparatisme di Indonesia.
Selain itu implementasi dari adanya otonomi daerah nampaknya belum mampu
menyelesaikan masalah ini. Justru yang terlihat bahwa otonomi daerah akan memicu
terjadinya disintegrasi NKRI. Hal tersebut dapat kita simak dari peristiwa di atas yang
menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat papua yang tidak mampu mengenyam
pendidikan padahal jika dilihat secara geografis papua termasuk daerah yang memilki sumber
daya alam yang melimpah. Kekayaan alam yang seharusnya mampu menyejahterakan
masyarakat papua justru dinikmati oleh kalangan-kalangan yang dapat dikatakan mampu
sedangkan papua tetap menjadi daearah yang kurang menjadi perhatian pembangunan negara
ini.
Jika menyimak kembali peristiwa di atas selain faktor internal (dalam negeri), faktor
eksternal (luar negeri) juga turus mempengaruhi terbentuknya gerakan sparatisme di papua
(OPM). Dijelaskan bahwa inggris sangat mendukung jika papua menjadi negara yang
merdeka. Melihat hal ini Indonesia seharusnya bisa mengambil tindakan agar nantinya
kejadian 15 tahun silam tidak terulang kembali. Biar bagaimanapun juga Papua sendiri masih
merupakan bagian dari NKRI yang mana jika daerah yang memilki potensi alam luar biasa
ini lepas dari Indonesia nantinya akan memperburuk hakikat atau esensi dari NKRI itu sendiri
di samping segala bentuk dampak yang akan diperoleh Indonesia
Setelah menyimak peristiwa di atas setidaknya ada dua faktor utama yang
mempengaruhi terbentuknya gerakan sparatisme di tanah Papua (OPM), yaitu:
1. Faktor Internal (dalam negeri)
Faktor internal sendiri meliputi banyak hal yang dapat kita lihat dari berbagai sudut
pandang, antara lain politik, ekonomi, sosial, dll. Dari segi politik misalnya jika kita lihat
tidak banyak orang papua yang mampu duduk di parlemen maupun jabatan jabatan
pemerintahan hal ini yang membuat aspirasi masyarakat papua kurang tersalurkan karena
memang sedikit sekali orang yang menyampaikan aspirasi masyarakat papua. Dari segi
ekonomi banyak sekali kasus yang dapat kita ambil sebagai contoh misalnya kurang
meratanya distribusi pembangunan dari pusat ke tanah papua sehingga mengakibatkan
pembangunan kesejahteraan masyarakat papua kurang merata. Sedangkan jika dari segi sosial
sendiri misalnya ketika kita melihat kurangnya sarana pendidikan dan kesehatan yang
mengakibatkan banyak masyarakat papua yang tidak memperoleh hak-haknya secara penuh.
2. Faktor Eksternal (luar negeri)
Jika melihat dari kasus atau peristiwa di atas maka yang menjadi faktor eksternal adalah
faktor yang muncul dari negara lain. Negara lain dapat mendukung terjadinya sparatisme atau
disintegrasi di suatu negara melalui berbagai cara, antara lain materi, ideologi, media, dll.
Negara yang sering melakukan hal ini adalah negara adikuasa yaitu Amerika Serikat.
Amerika Serikat telah berhasil memecah belah negara-negara di dunia ini seperti libya, mesir,
suriah, dll.
Dari kasus yang telah dipaparkan di atas mengenai gerakan sparatisme yang terjadi di
Papua menjelaskan bahwa hal tersebut telah melahirkan suatu penyelewengan terhadap nilai-
nilai dalam pancasila. Jika kita menelaah lebih dalam, dari peristiwa tersebut dapat dikatakan
bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sudah tidak relevan lagi dengan
implementasi di masyarakat Indonesia. Pancasila yang seharunya mampu menjadi identitas
nasional sebagai asas persatuan, kesatuan damai, kerjasama, hidup bersama dari bangsa
Indonesia yang warga-warganya sebagai manusia memang mempunyai kesamaan dan
perbedaan justru hanya mampu menjadi sebuah simbol yang seakan tidak ada artinya. Dari
sini saya akan mencoba untuk menganalisis satu persatu dari sila-sila yang terdapat dalam
pancasila yang tidak relevan dengan kasus atau peristiwa di atas. Hal-hal dari kasus di atas
yang tidak relevan dengan sila-sila pancasila, antara lain:
Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab)
Melihat peristiwa tersebut banyak sekali kasus yang tidak relevan lagi dengan sila ke-2
dari Pancasila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pada dasarnya makna dari istilah adil
dan beradab pada sila tersebut adalah bahwa yang dimaksud adil yaitu bahwa keadilan
manusia itu sendiri terhadap diri sendiri, orang lain dan tuhan sedangakan istilah beradab
sendiri mempunyai makna terlaksananya penjelasan daripada unsur-unsur hakekat manusia,
jiwaraga, akal rasa, kehendak serta sifat kodrat seseorang sebagai makhluk tuhan dengan kata
lain adalah terpenuhinya hak-hak asasi manusia.
Sila kedua ini juga mengandung makana bahwa warga negara Indonesia mengakui
adanya manusia yang bermartabat dan memperlakukan manusia secara adil dan sesuai
dengan kodratnya di mana manusia memilki daya cipta, rasa, niat dan keinginan.
Implementasi dari sila kedua tersebut antara lain:
Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban antar sesama manusia
Butir ini menghendaki bahwa setiap manusia mempunyai martabat, sehingga manusia
tidah boleh dihalangi untuk hidup secara layak, serta menghormati kepunyaan atau milik
orang lain dan menghormati hak-hak asasi manusia lain seperti hak hidup, rasa aman, dan
hidup layak.

Hal tersebut sangat bertentangan dengan kasus atau peristiwa yang terjadi di daerah-
daerah terluar Indonesia yang jauh dari pusat pemerintahan. Setiap warga negara yang
seharusnya mendapatkan perlakuan yang sama dalam hal hak-haknya seperti kehidupan
layak, kesehatan, pendidikan, dll justru tidak diperoleh oleh warga negara yang tinggal di
daerah-daerah yang jauh dari pusat. Kurangnya pemerataan distribusi pembangunan menjadi
salah satualasan yang menyebabkan hal ini. Oleh sebab itu, jangan heran ketika banyak
daerah-daerah terluar Indonesia yang mana mereka menuntut untuk lepas dari NKRI. Mereka
merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah atas hak-haknya. Padahal tidak sedikit
pendapatan negara yang diperoleh dari hasil alam di daerah mereka. Dengan melepaskan diri
dari NKRI harapannya bahwa mereka akan sejahtera dengan sumber daya alam yang mereka
miliki untuk kepentingan masyarakat mereka.
Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
Pada butir ini dijelaskan bahwa setiap warga negara Indonesia harus menjunjung
tinggi dan melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan dengan baik seperti, mengakui adanya
masyarakat yang majemuk, saling menghargai perbedaan baik itu ras, suku dan agama,
melaksanakan perbuatan atas dasar kejujuran dan kompetisi yang sehat serta memperhatikan
kehidupan yang layak antar sesama, dan melakukan kerjasama dengan itikad baik dan tidak
curang.
Namun faktanya yang terjadi di Indonesia nampaknya berkata lain. Hal tersebut dapat
dilihat pada kasus sparatisme yang dipaparkan di atas. Bahwa yang terjadi di Indonesia saat
ini bukanlah yang dicita-citakan pancasila. Banyak sekali pelanggaran yang terjadi dalam
peristiwa tersebut, misalnya pada kasus sparatisme tersebut biasanya rakyat papua dianggap
sebagai masyarakat yang terbelakang dan kurang dihargai oleh karena itu tidak banyak orang-
orang papua yang mampu mengemukakan pendapatnya di pemerintahan. Selain itu antar
warga negara sendiri nampaknya kurang terjadi adanya kerjasama, bahkan ketika orang jawa
bertemu dengan orang-orang papua dalam benaknya mereka adalah orang yang masih
primitif dan kurang berpendidikan.
Berani Membela Kebenaran dan Keadilan
Butir ini menghendaki bahwa setiap warga negara Indonesia hendaknya mempunyai
hati yang mantap dan kepercayaan diri untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Contoh
perbuatan dari butir tersebut misalnya perbuatan melawan tindakan korupsi, nepotisme,
ketidakadilan, dll. Selain itu sikap diskriminatif terhadap suatu golongan hendaknya harus
kita lawan. Jangan sampai kita hanya bersikap acuh terhadap hal tersebut.
Melihat peristiwa yang terjadi di Papua tersebut hendaknya mereka kita bela. Mereka
juga masih termasuk dalam warga negara indonesia yang patut kita perjuangkan hak-haknya.
Sikap diskriminatif yang ditunjukkan pemerintah terhadap masyarakat papua hendanya kita
lawan. Kita jangan hanya melihatnya sebagai sebuah masalah sepele dan mengacuhkan
begitu saja. Jika nantinya Papua benar-benar lepas dari NKRI jangan hanya menyalahkan
pemerintah dan masyarakat papua. Kita juga harus menyadari bahwa kita juga tidak mampu
menjaga papua untuk tetap berada dalam NKRI.
Tidak Semena-mena terhadap orang lain
Semena-mena yang dimaksud di sini adalah sewenang-wenang, berat sebelah dan
tidak seimbang. Oleh sebab itu butir ini menghendaki, perilaku setiap manusia terhadap orang
lain haruslah menjunjung hak dan kewajiban. Karena pada hakikatnya manusia mempunyai
martabat dan berhak untuk hidup yang layak. Termasuk juga daerah-daerah di pinggiran atau
terluar wilayah NKRI yang pelu mendapat perhatian khusus dari pemerintah.
Sikap pemerintah terhadap daerah-daerah terluar tersebut nampaknya sudah dapat
dikatakan sebagai perbuatan semena-mena. Bagaimana tidak, jika kita melihat lebih seksama
distribusi pembangunan yang terbesar adalah diberikan kepada daerah-daerah pusat seperti
jawa, bali, madura dan sumatra. Sedangkan daerah-daerah terluat seperti Papua hanya
mendapatkan bagian yang kecil dari APBN negara. Terlihat jelas bahwa pemerintah telah
berat sebelah dan tidak seimbang dalam hal ini. Hal inilah yang sering menjadi alasan Papua
ingin lepas dari NKRI.
Sila ke-3 (Persatuan Indonesia)
Kasus sparatisme yang dikemukakan di atas sesungguhnya paling tidak relevan jika kita
kaitkan dengan pancasila terutama sila ketiga ini. Pancasila yang seharusnya mampu menjadi
pemersatu bangsa justru tidak bisa mengatasi masalah-maslah yang berkaitan dengan
disintegrasi negara. Sila ketiga ini merupakan penjabaran dari dua sial sebelumnya yaitu sila
pertama dan kedua. Hakekat setiap manusia termasuk warga Indonesia adalah manusia
merupakan makhluk tuhan dalam kesatuan hubungan dengan sesama manusia sebangsa yang
tercakup dalam kesatuan hubungan dengan sesama umat manusia sebagai makhluk tuhan.
Sila ke tiga ini sebenarnya cakupannya lebih sempit jika dibandingkan sila pertama dan
kedua. Karena pada sila ketiga ini yang disinggung adalah persatuan Indonesia, sedangakan
sila pertama dan kedua lebih memilki makna yang luas.
Sila persatuan Indonesia pada dasarnya merujuk pada persatuan yang utuh dan tidak
terpecah belah. Perbedaan-perbedaan yang ada di negara ini baik itu perbedaan agama, suku,
dan ras bukanlah menjadi penghalang bagi bangsa Indonesia untuk bersatu. Selain itu
wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan jangan sampai pula menjadi penghambat bagi
terciptanya persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Persatuan tersebut dapat tercipta jika
setiap warga negara memilki cita-cita dan tujuan yang sama yaitu untuk mencapai kehidupan
kebangsaan yang bebas, negara yang berdaulat, memajukan kesejahteraan umum, dan
mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan perdamaian abadi. Jika cita-cita ini
merupakan tujuan yang sama-sama dijunjung oleh setiap warga negara Indonesia maka
bukanlah yang sulit untuk menciptakan persatuan di bumi pertiwi ini.
Adapun butir-butir implementasi dari sila ketiga ini, antara lain:
Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan serta keselamatan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi atau golongan.
Pada butir ini mengharapkan bahwa pada implementasinya pancasila hendaknya
mampu menciptakan suatu pola pemikiran setiap manusia untuk mementingkan kepentingan
umum atau negara di atas kepentingan pribadi. Kepentingan umum ialah segala bentuk
kepentingan yang mana tujuan dan dampaknya lebih besar bagi masyarakat atau warga
negara sedangkan kepentingan pribadi hanyalah suatu kepentingan yang didasarkan pada
tujuan pribadi maupun golongan tertentu. Jika hal tersebut dapat ditanamkan kepada setiap
warga negara termasuk pemerintahan maka hal-hal seperti korupsi, kolusi, nepotisme, perang
antar suku, perang antar agama, dll tidak akan terjadi.
Hal ini bertentangan dengan peristiwa atau kasus yang telah dipaparkan di atas terkait
sparatisme. Banyak pejabat pemerintahan yang justru melakukan tindakan korupsi dan
kurang memperhatikan daerah-daerah terluar Indonesia termasuk papua. Unsur-unsur rasisme
kadangkala juga masih banyak terjadi. Banyak orang yang masih melihat orang lain dari sisi
golongannya apakah itu orang beragama A, suku B, ras C, dll. Hal inilah yang senantiasa
mewarnai distribusi pembanguna di daerah-daerah terluar Indonesia.
Tak hanya pemerintah saja, kita sebagai warga negara yang seharusnya bisa
membantu kesejahteraan masyarakat papua cenderung masih terkesan acuh dengan mereka.
Kita masih memandang diri kita lebih unggul dari mereka. Hal ini dapat terlihat ketika ada
orang yang akan ditempatkan untuk bertugas atau bekerja di daerah papua mungkin dia akan
berpikir dua kali untuk hal tersebut dengan berbagai alasan.
Cinta tanah air dan bangsa
Pada butir ini mengehndaki bahwa setiap warga negara harus memilki rasa cinta tanah
air dan bangsa, bukan hanya cinta atas daerah, suku, maupun golongannya. Kecintaan akan
tanah air dan bangsa dapat dilakukan dengan banyak cara seperti, mengembangkan
kemampuan untuk berprestasi, melestarikan budaya, menjaga sumber daya alam,
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dll. Namun semua hal tersebut tidak akan
berjalan tanpa dukungan sarana dan prasaran dari pemerintah.
Jika menilik dan bertanya kepada masyarakat papua mungkin mereka akan merasa
cinta terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. Namun nampaknya Indonesia tidak cinta
terhadap papua. Begitulah mungkin kata yang dapat dilukiskan untuk menggambarkan
keadaan papua saat ini. Papua hanya memberikan segala kekayaan alamnya untuk Indonesia,
namun Indonesia belum mampu memberikan kesejahteraan kepada semua masyarakat papua.
Banyak rakyat papua yang masih hidup terbelakang dan di bawah garis kesejahteraan.
Contoh kecilnya dapat dilihat dari proyek Freport di tanah papua yang mana pemlik gunung
emas tersebut (rakyat papua) tidak mampu menikmati hasil dari alam mereka justru orang
asing yang tak henti-hentinya mengeruk kekayaan mereka.
Memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa yang berbhineka tunggal ika.
Butir ini menghendaki adanya kerjasama antar semua suku, bangsa, dan agama di
bebagai bidang baik itu ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Sehingga nantinya akan
tercipta kerukunan, perdamaian dan kesejahteraan bersama. Kesejahteraan bersama akan
tercipta karena pada dasarnya setiap suku, daerah, maupun bangsa memilki potensi dan
keunggulan yang berbeda-beda. Jadi nantinya ketika terjadi kerjasama mereka dapat saling
tukar-menukar potensi yang nantinya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal yang terjadi di peristiwa di atas bukanlah demikian. Proses kerjasama dan tukar
menukar potensi yang dimiliki daerah tidak berlaku untuk papua dan daerah-daerah terluar di
Indonesia. Potensi alam yang melimpah di tanah papua nampaknya hanya dikeruk dan
digerogoti pihak asing dan dinikmati hasilnya oleh daerah-daerah pusat. Sedangkan papua
sendiri tidak memperoleh balas jasa dari yang mereka berikan. Hal ini dibuktikan dengan
tingkat kesejahteraan yang rendah di tanah papua. Layanan kesehatan, pendidikan, dan
pembangunan yang rendah menjadi cerminan nyata betapa kesengsaraan masyarakat papua di
negaranya sendiri. Oleh karena itu, hal ini semakin mempertegas alasan mengapa Papua ingin
memerdekakan diri dari NKRI.
Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan
Perwakilan)
Sama halnya dengan sila ketiga, sila keempat ini juga tidak mencakup keseluruhan
manusia. Sila keempat yang berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan ini mempunyai dua istilah utama yakni kerakyatan dan
musyawarah. Kerakyatan mengandung arti bahwa negara adalah alat bagi keseluruhan rakyat
serta pula demokrasi sosial-ekonomi sedangkan demokrasi atau demokrasi politiksebagai
cita-cita bersama.
Sila keempat juga mempunyai makna bahwa indonesia memiliki asas demokrasi dan
kedaulatan rakyat, artinya bahwa segala kebijakan yang dibuat oleh wakil-wakil rakyat di
parlemen adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga pada akhirnya
kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Jadi dengan kata lain DPR sebagai pihak yang
mempunyai wewenang mengambil sebuah kebijakan haruslah memperhatikan aspirasi-
aspirasi rakyatnya. Jangan sampai amanah yang diberikan kepada para anggota DPR ini tidak
dilaksanakan secara tanggung jawab.
Implementasi yang seharusnya dilakukan atas dasar sila keempat ini antara lain,
terciptanya pemerintahan yang jujur, bersih, dan bebas dari KKN, tersalurnya berbagai
aspirasi rakyat di tingkat-tingkat daerah kepada pusat, tercapainya keputusan-keputusan
melalui musyawarah untuk mufakat bukan melalui sistem voting, musyawarah yang
dilakukan didasarkan atas akal sehat dan hati nurani bukan atas unsur paksaan dan suap.
Adapun butir-butir dari implementasi sila keempat yang sekiranya sudah tidak relevan
dengan kasus sparatisme di atas, antara lain:
Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat
Dalam butir ini menghendaki bahwa segala keputusan yang dibuat oleh wakil-wakil
rakyat adalah bertujuan untuk kepentingan negara dan masyarakat. Oleh karenanya wakil-
wakil rakyat yang duduk di DPR adalah pilihan rakyat sendiri melalui proses pemilu. Selain
itu pemilu juga digunakan sebagai alat untuk menentukan wakil-wakil rakyat agar nantinya
pada saat pengambilan keputusan wakil rakyat ini tidak memihak golongan tertentu atau
partai politik tertentu.
Sedangkan fenomena yang terjadi dan sering kita lihat di parlemen adalah wakil-
wakil rakyat yang cenderung mengutamakan kepentingan pribadi maupun golongan dan
parpol tertentu. Mereka kurang memperhatikan kepentingan negara dan masyarakat. Ini
terlihat dari kondisi mereka ketika mengikuti sidang-sidang DPR, banyak dari mereka yang
tidur, ngobrol, bahkan absen tanpa keterangan. Aspirasi rakyat pun tidak tersalurkan
sebagaimana mestinya. Apalagi masyarakat papua yang berada jauh dari pusat kota,
masyarakat yang masih berada di pusat kota pun kurang diperhatikan.
Hal ini menegaskan bahwa pelaksanaan sila keempat sudah tidak relevan lagi.
Dampaknya pun adalah masyarakat-masyarakat indonesia sendiri terutama masyarakat yang
berada di daerah terluar Indonesia yang mana mereka akan sulit untuk melakukan
pengawasan kepada wakil-wakil rakyatnya di parlemen. Akhirnya kesejahteraan masyarakat
di luar daerah Indonesia termasuk Papua akan terabaikan oleh para wakil mereka di
parlemen. Sehingga semakin kuat pula alasan mereka untuk memisahkan diri dari NKRI jika
perwakilan mereka di DPR tidak berubah.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan
keadilan.
Keputusan-keputusan yang dibuat oleh wakil-wakil rakyat di parlemen hendaknya
menjunjung tinggi asas-asas kebenaran dan keadilan. Keputusan tersebut hendaknya tidak
merugikan salah satu pihak maupun membela pihak atau golongan tertentu. Selain itu
keputusan yang telah dibuat harus dapat dipertanggungjawabkan dan tidak melaggar hak-hak
asasi manusia.
Sedangkan yang terjadi di Papua sendiri adalah kebijakan atau keputusan yang dibuat
selalu mengesampingkan dan merugikan masyarakat papua. Hal nyata yang dapat kita lihat
adalah terkait proyek atau industri Freeport yang secara jelas sangat menguntungkan pihak
asing dan pemerintah pusat. Kebijakan lainnya adalah terkait distribusi faktor-faktor
pembangunan yang bahkan tidak pernah memihak masyarakat papua. Sehingga munculnya
gerakan sparatisme di tanah papua bukanlah suatu hal yang tabu, memang benar ketika suatu
daerah tidak mendapatkan hak-haknya bukan tidak mungkin mereka akan melawan. Melihat
hal demikian memang kembali menegaskan bahwa pemerintah memilki andil yang besar
terhadap kasus ini.
Sila ke-5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia)
Ketika membicarakan mengenai sila kelima, maka sila terakhir ini dapat dikatakan
sebagai sila yang paling istimewa karena sila ini merupakan tujuan akhir dari keempat sila
sebelumnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan dari rakyat atau negara Indonesia adalah
membentuk suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila keadilan sosial memilki
prinsip atau mengandung makna bahwa setiap warga negara di Indonesia akan mendapat
perlakuan yang adil dalam berbagai bidang, baik itu politik, ekonomi, sosial maupun budaya.
Jika dikaitkan dengan kasus sparatisme yang terjadi di Indonesia nampaknya
implementasi dari nilai-nilai sila keadilan ini sudah dapat dikatakan tidak relevan lagi.
Pasalnya yang terjadi justru munculnya sparatisme mayoritas didasari pada penyelewengan
sila ini. Dengan kata lain penyelewengan sila kelima merupakan awal terbentuknya
organisasi-organisasi sparatisme di Indonesia termasuk OPM (Organisasi Papua Merdeka)
yang bermarkas di tanah Papua.
Adapun sila ini memilki penjabaran dalam butir-butir yang cukup banyak, berikut
adalah sebagian butir-butir implementasi dari sila kelima yang berkaitan dengan kasus
sparatisme di atas:
Bersikap adil
Butir ini menghendaki terciptanya pelaksanaan kegiatan antar manusia untuk tidak
saling pilih kasih. Adil sendiri juga dapat diartikan sebagai kebutuhan manusia untuk hidup
layak, tidak diskriminatif terhadap sesama manusia. Hal ini justru terlihat kontras dengan apa
yang terjadi di Indonesia. Sikap diskriminatif pemerintah terhadap suatu daerah kadang
sering terjadi terutama pada daerah-daerah terluar yang jauh dari pusat pemerintahan dan
industri. Daerah terluar ini sering kurang mendapat perhatian dari pemerintah baik itu bidang
politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Meskipun indonesia melaksanakan sistem otonomi daerah yang memungkinkan
daerahnya untuk dapat mandiri dengan potensi-potensi yang dimilkinya seakan tidank sejalan
dengan yang terjadi di Papua. Tanah papua yang kaya akan sumber daya alam seperti emas,
tembaga, dll justru tidak mampu menikmatinya. Hasil alam mereka hanya digerogoti oleh
pemerintah pusat untuk membangun industri-industri di daerah yang sudah dapat dikatakan
maju. Sedangkan papua tetap dengan keterbelakangan dan tingkat kesejahteraan yang rendah.
Hal ini sungguh ironis dengan bunyi sila kelima yang merupakan cita-cita bangsa ini untuk
mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Pada butir ini menghendaki adanya suatu usaha bersama antar bebagai pihak negara
dalam mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Kerjasama tersebut dapat
dilakukan antara pemerintah pusat daerah maupun antar pemerintah daerah tak terkecuali
dengan pemerintah asing. Dengan kerjasama ini nantinya diharapkan akan tercipta kemajuan
yang merata di setiap daerah-daerah di Indonesia. Sehingga mengurangi kesenjangan sosial
yang terjadi di masyarakat Indonesia terutama antara masyarakat pusat dengan pinggiran.
Dengan berlakunya otonomi daerah di Indonesia bukan berarti setiap daerah harus
menutup diri dengan daerah lain. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap
daerah memilki potensi masing-masing. Dengan potensi ini maka diharapkan setiap daerah
mampu tukar menukar untuk kemajuan bersama dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Bukan malah sebaliknya, yang terjadi di Indonesia sendiri justru banyak daerah yang
telah berkembang dan maju tidak mau dan terkesan menutup diri dengan daerah yang masih
tertinggal termasuk Papua sendiri. Sehingga hal inilah yang menjadikan papua merasa
sebagai anak tiri di negeri Ini.
Dari beberapa penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka saya selaku penulis
menyimpulakn bahwasannya kasus ini tidak relevan dengan implementasi pancasila. Banyak
sekali nilai-nilai pancasila yang diselewengakan pada kasus ini. Pemerintah hendaknya
berebenah diri dan melakukan evaluasi jika tidak mau negara yang merupakan penghasil
emas dan tembaga yang besar tersebut harus lepas dari NKRI. Jika kita bertanya pada
masyarakt papua apakan mereka cinta dan bangga dengan negara Indonesia tentu mereka
akan menjawab bahwa mereka cinta dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Sekarang
tinggal bagaimana langkah pemerintah dan kita untuk menjaga keutuhan NKRI. Kita tentu
tidak mau jika kejadian tahun1998 terulang kembali. Bahkan banyak situs yang menyatakan
wacana tentang banyaknya daerah-daerah terluar Indonesia yang ingin memproklamasikan
diri dan merdeka dari NKRI dengan alasan karena pemerintah indonesia yang terkesan
kurang adil dan diskriminatif.