Anda di halaman 1dari 5

PERKAWINAN DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN

NEGARA

Anisa
Matematika, FMIPA,Universitas Sriwijaya
Email: annisamasrianat2@gmail.com

A. Pendahuluan
Perkawinan adalah hal yang bukan main-main yang harus dijalankan dengan
sungguh-sungguh oleh manusia. Perkawinan di bawah umur adalah ikatan lahir
batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk keluarga yang kekal dan bahagia yang dilaksanakan
oleh calon suami dan atau istri yang usianya masih belum mencapai usia yang
telah ditetapkan dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1974.
Oleh karena itu, undang-undang benar-benar mengatur siapa saja orang yang
memasuki jenjang perkawinan atau yang harus melaksanakan perkawinan
tersebut. Melalui Undang-undang nomor 1 tahun 1974, hukum membatasi
bolehnya melaksanakan perkawinan untuk calon suami istri yang sudah berumur
19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Jadi menurut hukum
yang berlaku bahwa perkawinan dibawah umur tersebut dilarang untuk
melaksanakan perkawinan kecuali ada penyimpangan yang bersifat darurat.
Undang-undang dimaksudkan agar tidak terjadi kerusakan rumah tangga
akibat umur para calon mampelai yang masih terlalu dini yang notabene masih
berjiwa labil dan juga untuk menjaga kesehatan reproduksi mereka. Perkawinan di
bawah umur bukan lagi hal yang asing untuk di dengar khususnya didaerah Jawa.
Bahkan sering kali mendengar pihak wanita hamil di luar nikah atau hamil
duluan, itu karena pergaulan yang terlalu bebas dan kurangnya perhatian dari
orang tua, maka dalam keadaan yang seperti ini mereka dapat meminta dispensasi
ke PA untuk digunakan sebagai pelengkap pesyaratan nikah di KUA.
Perkawinan di bawah umur, usia dewasa pada hakekatnya mengandung unsur
yang berkaitan dengan dapat atau tidaknya seorang mempertanggungjawabkan
atas perbuatan hukum yang telah dilakukannya, yang menggambarkan kecakapan
seseorang untuk bertindak dalam lau lintas hukum perdata1. Pengaturan dewasa
lazim disimpulkan dengan pasal 47 dan 50 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974
tentang perkawinan.
______________________
1
Wahyono Darmabrata, Tinjauan Undang-Undang nomor 1 tahun 1974
tentang Perkawinan Beserta Undang-Undang dan Peraturan Pelaksananya
(cet.ke-2, CV.Gitamaya Jaya,2003), hal. 19.
B. Perkawinan Di Bawah Umur Menurut Agama
Hukum islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap
agama, jiwa, keturunan, harta dan akal. Dari kelima nilai universal islam ini, satu
diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan(hifdzu al nasl). Oleh karena
itu, syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab
tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui
pernikahan. Seandainya agama tidak mensyariatkan pernikahan, niscaya
geneologi(jalur keturunan) akan semakin kabur.
Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai perkawinan di bawah
umur. Perkawinan yang dilakukan melewati batas minimal Undang-undang
perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah perkawinan di bawah
umur menurut negara dibatasi dengan umur, sedangkan perkawinan di bawah
umur menurut agama ialah perkawinan yang dilakukan oleh orang yang belum
baligh.
Dalam hukum islam untuk melaksanakan perkawinan tidak disebutkan
dengan pasti, hanya disebutkan bahwa baik pria maupun wanita supaya sah
melaksanakan akad-nikah harus sudah baligh(dewasa) dan mempunyai kecakapan
sempurna. Ukuran baligh atau dewasa ini menurut pandangan islam yaitu pria
ditandai dengan telah mengalami suatu mimpi basah dan bagi wanita ditandai
dengan dia telah menstruasi atau datang bulan.
Walaupun hukum islam tidak menyebutkan secara pasti batas umur tertentu,
ini tidak berarti bahwa hukum islam memperbolehkan untuk kawin pada umur
muda karena ini menyangkut tujuan perkawinan yang hendak dicapai, jika
perkawinan dilangsungkan menyimpang dari tujuan perkawinan maka perkawinan
tersebut merupakan perkawinan yang dilarang.
Allah swt mensyariatkan perkawinan kepada umat manusia dan menetapkan
seperangkat ketentuan(syuruth dan arkan) untuk mengokohkan institusinya. Di
samping itu dia juga memperindahnya dengan etik dan tuntunan-tuntunan
moral(adab dan fadhail). Allah swt telah menjadikan utusannya, Nabi
Muhammad saw sebagai uswah hasanah yang sepatutnya di teladani, dimana dia
terekam dalam lembaran-lembaran sejarah menikahi gadis perawan(bikr) dan
janda(thayyib), dan juga pernah mengawini wanita muda(saghirah) dan wanita
tua(kabirah).
Keseluruhan istrinya itu terpilih atas pertimbangan-pertimbangan ilahiyah
yang jauh dari kalkulasi-kalkulasi fisik dan materi 2. Dalam perjalanannya perilaku
Nabi Muhammad telah diikuti oleh umat dan menimbulkan banyak persepsi
tentang kebenarannya. Ada yang membenarkan kebenaran sejarah yang tertulis
dan ada juga yang berpendapat lain. Menyikapi perkawinan Nabi Muhammad saw
dengan Aisyah ra yang dinyatakan oleh seluruh literatur hadist kanonik terjadi
ketika putri Abu Bakar itu masih kanak-kanak.
_________________________
2
Yusuf Hanafi, Kontroversi Perkawinan Di Bawah Umur(Malang: Mandar
Maju, 2011), hal. 37.
Sejarah inilah yang menimbulkan berbagai persepsi dari aliran-aliran yang
ada belakangan setelah zaman Nabi Muhammad saw. Sejujurnya jika menengok
sejarah maka hal itu tidaklah begitu dibahas secara intens. Fuqaha berpendapat
tidak ada masalah apa pun dalam perkawinan suci tersebut. Secara umum dalam
menjawab hukum perkawinan dibawah umur, pendapat para fuqaha dikategorikan
menjadi tiga kelompok. Pertama, pandangan jumhur fuqaha, yang membolehkan
perkawinan di bawah umur. Walaupun demikian, kebolehan ini serta
membolehkan adanya hubungan badan.
Jika dihubungkan dengan berhubungan badan akan mengakibatkan dlarar,
maka hal itu terlarang, baik perkawinan di bawah umur maupun dewasa. Kedua,
pandangan yang dikemukakan oleh Ibnu syubrumah dan Abu Bakar Al-Asham,
menyatakan bahwa perkawinan di bawah umur hukumnya terlarang secara
mutlak. Ketiga, pandangan yang dikemukakan oleh Ibn Hazm. Beliau memilah
antara perkawinan anak lelaki kecil dan anak perempuan kecil. Jika perkawinan
anak perempuan kecil oleh bapaknya diperbolehkan, sedangkan perkawinan anak
lelaki kecil dilarang.
Argumen yang dijadikan landasan adalah zhahir perkawinan Aisyah ra
dengan Nabi Muhammad saw3. Komilasi hukum islam menurut aturan yang
kurang lebih sama dengan aturan yang dimuat oleh Undang-Undang Perkawinan.
Batas usia kawin dalam pasal 15 KHI sama dengan pasal 7 Undang-Undang
Perkawinan. Demikian halnya dengan dispensasi kawin. Bedanya, dalam KHI
disebutkan alasan mengapa dispensasi kawin itu diberikan, yaitu untuk
kemaslahatan keluarga dan rumah tangga4.
Dari sudut pandang kedokteran, perkawinan di bawah umur mempunyai
dampak negatif bagi ibu dan anak. Menurut psikolog, ditinjau dari sisi sosial,
perkawinan dibawah umur dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini
disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang
belum matang. Melihat pernikahan di bawah umur memang menimbulkan sisi
negatif dari segala aspek maka pemerintah menetapkan usia kawin untuk laki-laki
19 tahun dan wanita 16 tahun. Dalam hal ini kompilasi hukum islam
menselaraskan dengan peraturan tersebut dalam pasal 15 KHI.
Pada hakikatnya, perkawinan dibawah umur juga mempunyai sisi positif.
Kita tahu saat ini pacaran yang ddilakukan oleh pemuda-pemudi seringkali tidak
mengidahkan normal-normal agama. Kebebasannya sudah melampaui batas,
dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di
masyarakat. fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah mencapai taraf
yang sangat memprihatinkan. Perkawinan di bawah umur juga merupakan upaya
untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Walaupun seperti yang
disebutkan diatas, bahwa dalam satu sisi perkawinan di bawah uur ada positifnya
namun kenyataannya perkawinan di bawah umur banyak mudharatnya daripada
manfaatnya.
_________________________
3
Asrorun Niam, Pernikahan Usia Dini dalam Perspektif Fikih Munakahah,
dalam Ijma Ulama, 2009, Majelis Ulama Indonesia, hal. 214-218.
4
Kompilasi Hukum Islam, Fokus Media, 2005, pasal 15, hal. 10.

C. Perkawinan Di Bawah Umur Menurut Negara


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia yang berlaku hingga
sekarang, pengertian dewasa dan belum dewasa ada pengertiannya. Undang-
Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, hanya mengatur tentang, izin
orang tua bagi orang yang akan melangsungkan perkawinan apabila belum
mencapai umur 21 tahun(pasal 6 ayat 2) artinya laki-laki maupun wanita yang
ingin menikah harus mendapat izin orang tua apabila belum genap 21 tahun, umur
minimal untuk diizinan melangsungkan perkawinan, yaitu laki-laki 19 tahun dan
wanita 16 tahun(pasal 7 ayat 2), anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau
belum pernah kawin, berada dalam kekuasaan orang tua(pasal 47 ayat 2), anak
yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin, berada di bawah
kekuasaan orang tuanya, berada dibawah kekuasaan wali(pasal 50 ayat 1).
Di dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 terdapat aturan untuk
membina rumah tangga secara baik. Sedangkan mengenai pembatasan umur usia
kawin disesuaikan dengan budaya di daerah masing-masing juga. Undang-
Undang ini dianggap telah mencerminkan kondisi dan nilai-nilai masyarakat
setempat baik dari segi budaya, kultur dan agama yang ada di Indonesia.
Contohnya melihat fenomena yang terjadi di Desa Bulungihit, Labuhan Batu,
Sumatera Utara yakni banyaknya perkawinan pada usia relatif muda, bahkan bisa
dikatakan di bawah umur usia kawin, terutama dari pihak calon istri.
Disinyalir tidak sedikit perkawinan yang terjadi atau terlaksana di tempat
tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena keinginan orang tua
dalam arti mereka dijodohkan, kurangnya pendidikan, dan keterbatasan ekonomi
dan sebagainya. Para orang tua menganggap seorang perempuan jika sudah bisa
membaca dan menulis sudah dianggap cukup. Tidak harus untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang berikutnya, sebab anak perempuan kelak pada akhirnya
akan kembali ke dapur rumah5. Orang tua menganggap bahwa anak perempuan
tidak perlu sekolah sampai keperguruan tinggi.
_________________________
5
Ke dapur rumah maksudnya adalah menurut para orang tua, seorang anak
perempuan tidaklah harus disekolahkan sampai jenjang tertinggi(kuliah) sebab
anak perempuan nanti akan kembali kepada kodratnya yaitu menjadi ibu rumah
tangga, yang tugasnya mendampingi suami dan mengurus anak, memasak
makanan keseharian mereka, dll.
Dalam hukum hak asasi manusia internasional pada dasarnya tidak
membatasi secara langsung umur usia kawin seorang anak. Hal ini ditentukan oleh
perundang-undangan negara masing-masing disesuaikan dengan kondisi
masyarakat di daerah tersebut. Ketentuan hukum adat juga tidak menentukan
secara detail mengenai batasan umur kedewasaan anak untuk melakukan
perkawinan, kedewasaan seseorang dalam hukum adat diukur dengan tanda-tanda
perkembangan tubuh seseorang, apabila seorang wanita sudah mengalami
menstruasi berarti anak tersebut sudah dianggap dewasa, dan bagi anak laki-laki
diukur dan dilihat salah satunya dari berubahnya suara, maka anakmtersebut
sudah dianggap dewasa6.
Agar perkawinan tidak berakhir pada suatu perceraian harus dicegah adanya
perkawinan antara calon suami dan istri yang masihndi bawah umur. Karena
perkawinan itu mempunyai hubungan dengan masalah kependudukan, maka
untuk mengerem laju kelahiran yang lebih tinggi harus dicegah terjadinya
perkawinan antara calon suami dan istri yang masih di bawah umur. Batas umur
yang lebih rendah bagi seorang wanita untuk kawin mengakibatkan laju kelahiran
yang lebih tinggi dibandingkan dengan batas umur yang lebih tinggi.
Dengan batas umur yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang perkawinan
bagi pria dan wanita untuk melkaukan perkawinan, maka tujuan perkawinan akan
terwujud. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang
bahagia, kekal dan sejahtera. Untuk itu suami istri perlu saling membantu dan
melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya
membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.
Pembatasan umur minimal untuk kawin bagi warga negara pada prinsipnya
dimaksudkan agar orang yang akan menikah diharapkan sudah memiliki
kematangan berpikir, kematangan jiwa dan ekuatan fisik yang memadai.
Kemungkinan keretakan rumah tangga yang berakhir dengan perceraian yang
dapat dihindari, karena pasangan tersebut memiliki kesadaran dan pengertian yang
lebih matang mengenai tujuan perkawinan yang menekankan pada aspek
kebahagiaan lahir dan batin.
_________________________
6
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundang-
Undangan, Hukum Adat, Dan Hukum Agama, (Bandung: Mandar maju, 1990),
hal. 53.