Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Osteoarthritis merupakan penyakit tipe paling umum dari arthritis, dan

dijumpai khusus pada orang lanjut usia atau sering disebut penyakit degeneratif.

Osteoarthritis merupakan penyakit persendian yang kasusnya paling umum dijumpai

di dunia. Berdasarkan National Centers for Health Statistics, diperkirakan 15,8 juta

(12%) orang dewasa antara usia 25-74 tahun mempunyai keluhan osteoarthritis.

Prevalensi dan tingkat keparahan osteoarthritis berbeda-beda antara rentang dan

lanjut usia.12

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2004, diketahui bahwa

osteoarthritis diderita oleh 151 juta jiwa di seluruh dunia dan mencapai 24 juta jiwa di

kawasan Asia Tenggara. Osteoarthritis adalah penyakit kronis yang belum diketahui

secara pasti penyebabnya, akan tetapi ditandai dengan kehilangan tulang rawan sendi

secara bertingkat. Penyakit ini menyebabkan nyeri dan disabilitas pada penderita

sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.19

Di Inggris, sekitar 1,3-1,75 juta mengalami gejala osteoarthritis sementara di

Amerika Syarikat, 1 dari 7 orang dewasa menderita osteoarthritis. Osteoarthritis

menempati tempat urutan kedua setelah penyakit kardiovaskular sebagai akibat dari

ketidakmampuan fisik di dunia barat. Secara keseluruhan, sekitar 10 sampai 15%

1
orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun menderita osteoarthritis. Dampak

ekonomi, psikologi dan sosial dari osteoarthritis sangat besar, tidak hanya untuk

penderita, tetapi juga keluarga dan lingkungan.12

Prevalensi osteoarthritis total di Indonesia 34,3 juta orang pada tahun 2002

dan mencapai 36,5 juta orang pada tahun 2007. Diperkirakan 40% dari populasi usia

diatas 70 tahun menderita osteoarthritis, dan 80% pasien osteoarthritis mempunyai

keterbatasan gerak dalam berbagai derajat dari ringan sampai berat yang berakibat

mengurangi kualitas hidupnya karena prevalensi yang cukup tinggi. Oleh karena

sifatnya yang kronik-progresif, osteoarthritis mempunyai dampak sosio-ekonomi

yang besar, baik di Negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan 1

sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena osteoarthritis.

Prevalensi osteoarthritis lutut pada pasien wanita berumur 75 tahun ke atas dapat

mencapai 35% dari jumlah kasus yang ada.15

Sampai saat ini masih belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan

osteoarthritis. Pengobatan yang ada hingga saat ini hanya berfungsi untuk

mengurangi nyeri dan mempertahankan fungsi dari sendi yang terkena. Ada tiga

tujuan utama yang ingin dicapai dalam proses terapi osteoarthritis, yaitu untuk

mengontrol nyeri dan gejala lainnya, untuk mengatasi gangguan pada aktivitas sehari-

hari, dan untuk menghambat proses penyakit. Pilihan pengobatan dapat berupa

olahraga, kontrol berat badan, perlindungan sendi, terapi fisik dan obat-obatan. Bila

2
semua pilihan terapi tersebut tidak memberikan hasil, dapat dipertimbangkan untuk

dilakukan tindakan pembedahan pada sendi yang terkena.11,12

Prosedur pembedahan (misal osteotomi, pengangkatan sendi, penghilangan

osteofit, artroplasti parsial atau total, joint fusion) diindikasikan untuk pasien dengan

rasa sakit parah yang tidak memberikan respon terhadap terapi konservatif atau rasa

sakit yang menyebabkan ketidakmampuan fungsional substansial dan mampu

mempengaruhi gaya hidup. Gambaran karakteristik pasien dan pola pengobatan

osteoarthritis dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan

medis terhadap pasien osteoarthritis serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.11

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Hip Joint

Hip joint adalah sambungan tulang yang terletak diantara pinggul dan pangkal

tulang paha atas. Hip joint pada manusia terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: femur,

femoral head, dan rounded socked.

Gambar 1: Anatomi Hip Joint

Di dalam hip joint yang normal (Gambar 1) terdapat suatu jaringan lembut

dan tipis yang disebut dengan selaput synovial. Selaput ini membuat cairan yang

melumasi dan hampir menghilangkan efek gesekan di dalam hip joint. Permukaan

tulang juga mempunyai suatu lapisan tulang rawan (articular cartilage) yang

4
merupakan bantalan lembut dan memungkinkan tulang untuk bergerak bebas dengan

mudah. Lapisan ini mengeluarkan cairan yang melumasi dan mengurangi gesekan di

dalam hip joint. Akibat gesekan dan gerak yang hampir terjadi setiap hari, maka

articular cartilage akan semakin melemah dan bisa menyebabkan arthritis seperti

ditunjukkan pada gambar 2. Selain menimbulkan rasa sakit, juga menyebabkan

gerakan hip joint menjadi tidak lancar, kadang-kadang berbunyi, dan bahkan dapat

menimbulkan pergeseran dari posisi normalnya. Selanjutnya, hip joint perlu diganti

dengan tulang pinggul buatan (artificial hip joint).16,18

Gambar 2: Perbandingan Normal Hip dan Hip dengan Arthritis

2.2 Definisi Osteoarthritis

Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti tulang,

arthro yang berarti sendi, dan itis yang berarti inflamasi meskipun sebenarnya

penderita osteoartritis tidak mengalami inflamasi atau hanya mengalami inflamasi

ringan. Osteoarthritis ialah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai oleh adanya

kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya. Tulang rawan

(kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi ujung dari tulang, untuk

5
memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan pada kartilago akan berakibat tulang

bergesekan satu sama lain, sehingga timbul gejala kekakuan, nyeri dan pembatasan

gerakan pada sendi.12,17

American College of Rheumatology, mengartikan osteoarthritis sebagai

sekelompok kondisi heterogen yang mengarah kepada tanda dan gejala sendi.

Penyakit ini ditandai oleh adanya abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang

baru yang irreguler pada permukaan persendian. Nyeri merupakan gejala khas pada

sendi yang mengalami osteoarthritis. Rasa nyeri semakin berat bila melakukan

aktivitas dengan penggunaan sendi dan rasa nyeri diakibatkan setelah melakukan

aktivitas dengan penggunaan sendi dan rasa nyeri semakin ringan dengan istirahat.1

Kejadian osteoarthritis banyak pada orang yang berusia di atas 45 tahun. Laki-

laki di bawah umur 55 tahun lebih sering menderita penyakit ini dibandingkan

dengan wanita pada umur yang sama. Namun, setelah umur 55 tahun prevalensi

osteoarthritis lebih banyak wanita dibandingkan pria. Hal ini diduga karena bentuk

pinggul wanita yang lebar dapat menyebabkan tekanan yang menahun pada sendi

lutut. Osteoartritis juga sering ditemukan pada orang yang kelebihan berat badan dan

mereka yang pekerjaanya mengakibatkan tekanan yang berlebihan pada sendi-sendi

tubuh.2,8

6
2.3 Epidemologi

Osteoartritis merupakan penyebab ketidakmampuan pada orang Amerika

dewasa. Prevalensi osteoartritis di Eropa dan America lebih besar dari pada

prevalensi di negara lainnya. The National Arthritis Data Workgroup (NADW)

memperkirakan penderita osteoartritis di Amerika pada tahun 2005 sebanyak 27 juta

yang terjadi pada usia 18 tahun keatas. Data tahun 2007 hingga 2009 prevalensi naik

sekitar 1 dari 5 atau 50 juta jiwa yang didiagnosis dokter menderita osteoartritis.10,6

Estimasi insiden osteoartritis di Australia lebih besar pada wanita

dibandingkan pada laki-laki dari semua kelompok usia yaitu 2,95 tiap 1000 populasi

dibanding 1,71 tiap 1000 populasi. Di Asia, China dan India menduduki peringkat 2

teratas sebagai negara dengan epidemiologi osteoartritis tertinggi yaitu berturut-turut

5.650 dan 8.145 jiwa yang menderita osteoartritis lutut.10

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 hasil dari wawancara

pada usia 15 tahun rata-rata prevalensi penyakit sendi/rematik sebesar 24,7%.

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi dengan prevalensi OA

tertinggi yaitu sekitar 33,1% dan provinsi dangan prevalensi terendah adalah Riau

yaitu sekitar 9% sedangkan di Jawa Timur angka prevalensinya cukup tinggi yaitu

sekitar 27%. Sekitar 32,99% lansia di Indonesia mengeluhkan penyakit degeneratif

seperti asam urat, rematik/radang sendi, darah tinggi, darah rendah, dan diabetes. 56,

7% pasien di poliklinik rheumatologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

didiagnosis menderita osteoartritis.15

7
Gejala OA lutut lebih tinggi terjadi pada wanita dibanding pada laki-laki yaitu

13% pada wanita dan 10% pada laki-laki. Murphy, et.al mengestimasikan risiko

perkembangan OA lutut sekitar 40% pada laki-laki dan 47% pada wanita. Oliveria

melaporkan rata-rata insiden OA panggul, lutut dan tangan sekitar 88, 240,

100/100.000 disetiap tahunnya. Insiden tersebut akan meningkat pada usia 50 tahun

keatas dan menurun pada usia 70 tahun.15

Studi kohort di Framingham, 6,8% orang berusia 26 tahun ke atas memiliki

gejala osteoartritis pada tangan dengan rata-rata laki-laki 3,8% dan wanita 9,2%.

NADW memperkirakan 13 juta populasi di Amerika yang berusia 26 tahun keatas

memiliki gejala OA pada tangan, OA pada lutut diperkirakan sebanyak 9,3 juta

(4,9%) dan OA pada panggul sebanyak 6,7%. Johnston Country Osteoarthritis (JoCo

OA) Project, sebuah studi tentang OA pada lutut dan panggul 43,3% pasien

mengeluhkan rasa nyeri dan kekakuan pada sendi. Hal ini disebabkan penebalan pada

kapsul sendi dan perubahan bentuk pada osteofit.3,15

2.4 Klasifikasi Osteoarthritis

Pada umumnya diagnosis osteoarthritis didasarkan pada gabungan gejala

klinik dan perubahan radiografi. Gejala klinik perlu diperhatikan, oleh karena tidak

semua pasien dengan perubahan radiografi osteoarthritis mempunyai keluhan pada

sendi. Terdapat 4 kelainan radiografi utama pada osteoarthritis, yaitu: penyempitan

rongga sendi, pengerasan tulang bawah rawan sendi, pembentukan kista di bawah

8
rawan sendi dan pembentukan osteofit, sendi yang dapat terkena osteoarthritis antara

lain:

1. Osteoarthritis sendi lutut.

2. Osteoarthritis sendi panggul.

3. Osteoarthritis sendi-sendi kaki.

4. Osteoarthritis sendi bahu.

5. Osteoarthritis sendi-sendi tangan.

6. Osteoarthritis tulang belakang.

Namun ada pula yang membagi klasifikasi osteoarthritis berdasarkan primer

dan sekunder. Pembagian osteoarthritis berdasarkan patogenesisnya dibagi menjadi

osteoarthritis primer yang disebut juga osteoarthritis idiopatik adalah osteoarthritis

yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik

maupun proses perubahan lokal pada sendi. Sedangkan osteoarthritis sekunder adalah

osteoarthritis yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolik,

pertumbuhan dan imobilisasi yang lama. osteoarthritis primer lebih sering ditemukan

dari pada osteoarthritis sekunder.11

2.5 Faktor Resiko

Faktor-faktor yang telah diteliti sebagai faktor risiko osteoarthritis lutut antara

lain usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin perempuan, ras / etnis, genetik, kebiasaan

merokok, konsumsi vitamin D, obesitas, osteoporosis, diabetes melitus, hipertensi,

9
hiperurisemi, histerektomi, menisektomi, riwayat trauma lutut, kelainan anatomis,

kebiasaan bekerja dengan beban berat, aktivitas fisik berat dan kebiasaan olah raga.

Terjadi peningkatan dari angka kejadian osteoarthritis selama atau segera

setelah menopause karena faktor hormon seks.

Menurut Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal yang disusun oleh Helmi

tahun 2012, terdapat beberapa faktor resiko yang terdiri dari 7:

1. Peningkatan Usia

Osteoarthritis biasanya terjadi pada usia lanjut, jarang dijumpai penderita

osteoarthritis yang berusia di bawah 40 tahun. Usia ratarata laki yang

mendapat osteoartritis sendi lutut yaitu pada umur 59 tahun dengan

puncaknya pada usia 55 - 64 tahun, sedang wanita 65,3 tahun dengan

puncaknya pada usia 65 74 tahun. Presentase pasien dengan osteoarthritis

berdasarkan usia di RSU dr. Soedarso menunjukan bahwa pada usia 43-48

tahun (13,30%), usia 49- 54 tahun (16,06%), dan usia 55- 60 tahun meningkat

(27,98%).7

2. Obesitas

Membawa beban lebih berat akan membuat sendi sambungan tulang

bekerja dengan lebih berat, diduga memberi andil pada terjadinya

osteoarthritis. Setiap kilogram penambahan berat badan atau masa tubuh dapat

meningkatkan beban tekan lutut sekitar 4 kilogram. Dan terbukti bahwa

10
penurunan berat badan dapat mengurangi resiko terjadinya osteoarthritis atau

memperparah keadaan steoarthritis lutut.7

3. Jenis Kelamin Wanita

Angka kejadian osteoartritis berdasarkan jenis kelamin didapatkan

lebih tinggi pada perempuan dengan nilai persentase 68,67% yaitu sebanyak

149 pasien dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki nilai persentase

sebesar 31,33% yaitu sebanyak 68 pasien.7

4. Riwayat Trauma

Cedera sendi, terutama pada sendi sendi penumpu berat tubuh

seperti sendi pada lutut berkaitan dengan risiko osteoartritis yang lebih tinggi.

Trauma lutut yang akut termasuk robekan terhadap ligamentum krusiatum dan

meniskus merupakan faktor timbulnya osteoartritis lutut.7

5. Riwayat Cedera Sendi

Pada cedera sendi perat dari beban benturan yang berulang dapat

menjadi faktor penentu lokasi pada orang-orang yang mempunyai predisposisi

osteoarthritis dan berkaitan pula dengan perkembangan dan beratnya

osteoarthritis.7

6. Faktor Genetik

Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis. Adanya

mutasi dalam gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur

11
tulang rawan sendi seperti kolagen dan proteoglikan berperan dalam

timbulnya kecenderungan familial pada osteoartritis.7

7. Kelainan Pertumbuhan Tulang

Pada kelainan kongenital atau pertumbuhan tulang paha seperti

penyakit perthes dan dislokasi kongenitas tulang paha dikaitkan dengan

timbulnya osteoarthrtitis paha pada usia muda.7

8. Pekerjaan Dengan Beban Berat

Bekerja dengan beban rata-rata 24,2 kg, lama kerja lebih dari 10 tahun dan

kondisi geografis berbukit-bukit merupakan faktor resiko dari osteoarthritis

lutut. Dan orang yang mengangkat berat beban 25 kg pada usia 43 tahun,

mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadinya osteoarthritis dan akan

meningkat tajam pada usia setelah 50 tahun.7

9. Tingginya Kepadatan Tulang

Tingginya kepadatan tulang merupakan salah satu faktor yang dapat

meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis, hal ini mungkin terjadi akibat

tulang yang lebih padat atau keras tak membantu mengurangi benturan beban

yang diterima oleh tulang rawan sendi.7

10. Gangguan Metabolik Menyebabkan Kegemukan

Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan

mekanik pada sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan

osteoartritis lutut. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan

12
osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tetapi juga dengan

osteoartritis sendi lain, diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang berperan

pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung koroner, diabetes

melitus dan hipertensi.7

2.6 Patofisiologi Osteoarthritis

Rawan sendi dibentuk oleh sel tulang rawan sendi (kondrosit) dan matriks

rawan sendi. Kondrosit berfungsi mensintesis dan memelihara matriks tulang rawan

sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik. Matriks rawan sendi

terutama terdiri dari air, proteoglikan dan kolagen.3

OA terjadi karena degradasi pada rawan sendi, remodelling tulang, dan

inflamasi. Terdapat 4 fase penting dalam proses pembentukan osteoartritis yaitu fase

inisiasi, fase inflamasi, nyeri, fase degradasi.3,5

- Fase inisiasi : Ketika terjadi degradasi pada rawan sendi, rawan sendi berupaya

melakukan perbaikan sendiri dimana khondrosit mengalami replikasi dan

memproduksi matriks baru. Fase ini dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan suatu

polipeptida yang mengontrol proliferasi sel dan membantu komunikasi antar sel,

faktor tersebut seperti Insulin-like growth factor (IGF-1), growth hormon,

transforming growth factor b (TGF-b) dan coloni stimulating factors (CSFs). Faktor-

faktor ini menginduksi khondrosit untuk mensintesis asam deoksiribo nukleat (DNA)

13
dan protein seperti kolagen dan proteoglikan. IGF-1 memegang peran penting dalam

perbaikan rawan sendi.

- Fase inflamasi : Pada fase inflamasi sel menjadi kurang sensitif terhadap IGF-1

sehingga meningkatnya pro-inflamasi sitokin dan jumlah leukosit yang

mempengaruhi sendi. IL-1(Inter Leukin-1) dan tumor nekrosis faktor- (TNF-)

mengaktifasi enzim degradasi seperti collagenase dan gelatinase untuk membuat

produk inflamasi pada osteoartritis. Produk inflamasi memiliki dampak

negatif pada jaringan sendi, khususnya pada kartilago sendi, dan menghasilkan

kerusakan pada sendi.

- Fase nyeri: Pada fase ini terjadi proses peningkatan aktivitas fibrinogenik dan

penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses ini menyebabkan penumpukan trombus dan

komplek lipid pada pembuluh darah subkondral sehingga menyebabkan terjadinya

iskemik dan nekrosis jaringan. Hal ini mengakibatkan lepasnya mediator kimia

seperti prostaglandin dan interleukin yang dapat menghantarkan rasa nyeri. Rasa

nyeri juga berupa akibat lepasnya mediator kimia seperti kinin yang dapat

menyebabkan peregangan tendo, ligamen serta spasme otot-otot. Nyeri juga

diakibatkan oleh adanya osteofit yang menekan periosteum dan radiks saraf yang

berasal dari medulla spinalis serta kenaikan tekanan vena intramedular akibat stasis

vena pada pada proses remodelling trabekula dan subkondrial.

- Fase degradasi : IL-1 mempunyai efek multipel pada sel cairan sendi yaitu

meningkatkan sintesis enzim yang mendegradasi rawan sendi. Peran makrofag

14
didalam cairan sendi juga bermanfaat, yaitu apabila terjadi jejas mekanis, material

asing hasil nekrosis jaringan atau CSFs akan memproduksi sitokin aktifator

plasminogen (PA). Sitokin ini akan merangsang khondrosit untuk memproduksi

CSFs. Sitokin ini juga mempercepat resorpsi matriks rawan sendi. Faktor

pertumbuhan dan sitokin membawa pengaruh yang berlawanan selama

perkembangan OA. Sitokin cenderung merangsang degradasi komponen matriks

rawan sendi sedangkan faktor pertumbuhan merangsang sintesis.

2.7 Manifestasi Klinis

Menurut Australian Physiotherapy Association (APA), penyakit osteoarthritis

mempunyai gejala-gejala yang biasanya menyulitkan bagi kehidupan penderitanya.

Adapun gejala tersebut antara lain7,8,9:

1. Nyeri sendi (recurring pain or tenderness in joint)

Keluhan nyeri merupakan keluhan utama yang sering-kali membawa

penderita ke dokter, walaupun mungkin sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah

bentuknya. Biasanya nyeri sendi bertambah dikarenakan gerakan dan sedikit

berkurang bila istirahat. Pada gerakan tertentu (misal lutut digerakkan ke tengah)

menimbulkan rasa nyeri. Nyeri pada osteoarthritis dapat menjalar kebagian lain,

misal osteoarthritis pinggang menimbulkan nyeri betis yang disebut sebagai

claudicatio intermitten. Korelasi antara nyeri dan tingkat perubahan struktur pada

15
osteoarthritis sering ditemukan pada panggul, lutut dan jarang pada tangan dan sendi

apofise spinalis.

2. Kekakuan (stiffness)

Pada beberapa penderita, kaku sendi dapat timbul setelah duduk lama di kursi,

di mobil, bahkan setelah bangun tidur. Kebanyakan penderita mengeluh kaku setelah

berdiam pada posisi tertentu. Kaku biasanya kurang dari 30 menit.

3. Hambatan gerakan sendi (inability to move a joint)

Kelainan ini biasanya ditemukan pada osteoarthritis sedang sampai berat.

Hambatan gerak ini disebabkan oleh nyeri, inflamasi, sendi membengkok, perubahan

bentuk. Hambatan gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari kursi, bangun

dari tempat berbaring, menulis atau berjalan. Semua gangguan aktivitas tergantung

pada lokasi dan beratnya kelainan sendi yang terkena.

4. Bunyi gemeretak (krepitasi)

Sendinya terdengar berbunyi saat bergerak. Suaranya lebih kasar

dibandingkan dengan artritis reumatoid dimana gemeretaknya lebih halus. Gemeretak

yang jelas terdengar dan kasar merupakan tanda yang signifikan.

16
5. Pembengkakan sendi (swelling in a joint)

Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh radang sendi dan

bertambahnya cairan sendi atau keduanya.

6. Perubahan cara berjalan atau hambatan gerak

Hambatan gerak atau perubahan cara berjalan akan berkembang sesuai

dengan beratnya penyakit. Perubahan yang terjadi dapat konsentris atau seluruh arah

gerakan maupun eksentris atau salah satu gerakan saja.

7. Kemerahan pada daerah sendi (obvious redness or heat in a joint)

Kemerahan pada sendi merupakan salah satu tanda peradangan sendi. Hal ini

mungkin dijumpai pada osteoarthritis karena adanya sinovitis, dan biasanya tanda

kemerahan ini tidak menonjol dan timbul belakangan.

2.8 Diagnosis Osteoarthritis

Wahyuningsih (2009) menyatakan bahwa kriteria diagnosis untuk

osteoarthritis digunakan kriteria menurut American College of Rheumatology, yaitu12:

Tabel 1. Kriteria Diagnostik menurut American College of Rheumatology12

Klinis dan laboratoris Klinis dan radiologis Klinis


Nyeri lutut ditambah Nyeri lutut ditambah Nyeri lutut ditambah
sedikitnya lima dari sedikitnya satu dari tiga sedikitnya tiga dari enam
sembilan hal berikut ini: hal berikut ini: hal berikut ini:
- a. Usia >50 tahun - a. Usia >50 tahun - a. Usia > 50 tahun
- b. Kekakuan <30 menit - b. Kekakuan <30 menit - b. Kekakuan <30 menit
- c. Krepitasi - c. Krepitasi + osteofit - c. Krepitasi

17
- d. Nyeri tulang - d. Nyeri tulang
- e. Pembengkakan tulang - e. Pembengkakan tulang
- f. Perabaan tidak hangat - f. Perabaan tidak hangat
- g. LED <40 mm/jam
- h. RF < 1:40
- i. Tanda cairan sinovia OA
92% sensitif 91% sensitive 95% sensitif
75% spesifik 86% spesifik 69% spesifik
Keterangan : LED: laju endap darah (Westergen); RF: rhematoid factor, tanda
cairan sendi osteoarthritis adalah jernih, viskus, atau hitung sel darah putih kurang
dari 2.000/mm3

Diagnosis osteoarthritis selain berdasarkan gejala klinis juga didasarkan pada

hasil radiologi. Namun pada awal penyakit , radiografi sendi seringkali masih normal.

Adapun gambaran radiologis sendi yang menyokong diagnosis osteoarthritis adalah:

a) Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang

menanggung beban).

b) Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral.

c) Kista tulang.

d) Osteofit pada pinggir sendi.

e) Perubahan struktur anatomi sendi.

Pada hasil radiografi pasien ditemukan adanya osteofit. Pemeriksaan

penunjang laboratorium osteoarthritis biasanya tidak banyak berguna. Darah tepi (hb,

leukosit, laju endap darah) dalam batas batas normal kecuali osteoarthritis

generalisata yang harus dibedakan dengan artritis peradangan.13,14

18
2.9 Derajat Osteoarthritis

Menurut Kellgren dan Lawrence osteoartritis dalam pemeriksaan radiologis

diklasifikasikan sebagai berikut9:

Grade 0 : Normal, Tidak tampak adanya tanda-tanda OA pada radiologis.

Grade 1 : Ragu-ragu, tanpa osteofit.

Grade 2 : Ringan, osteofit yang pasti, tidak terdapat ruang antar sendi.

Grade 3 : Sedang, osteofit sedang, terdapat ruang antar sendi yang cukup besar.

Grade 4 : Berat atau parah, osteofit besar, terdapat ruang antar sendi yang lebar

dengan sklerosis pada tulang subkondral.

Gambar 3: Kellgren and Lawrence Radiographic Criteria for Assesment Of OA

2.10 Penatalaksanaan Osteoarthritis

Tujuan pengobatan pada pasien osteoarthritis adalah untuk mengurangi gejala

dan mencegah terjadinya kontraktur atau atrofi otot. Penanganan pertama yang perlu

19
dilakukan adalah dengan memberikan terapi non farmakologis berupa edukasi

mengenai penyakitnya secara lengkap, yang selanjutnya adalah memberikan terapi

farmakologis untuk mengurangi nyerinya yaitu dengan memberikan analgetik lalu

dilanjutkan dengan fisioterapi9,4.

2.10.1 Terapi Non Farmakologis

Tabel 2. Rekomendasi Non Farmakologis untuk Manajemen OA Lutut


Sangat Direkomendasikan pada Tidak
direkomendasikan kondisi tertentu direkomendasikan
- Berpartisipasi dalam - Berpartisipasi dalam - Partisipasi dalam
kardiovaskular program manajemen diri latihan
(aerobik) dan/atau - Menerima terapi manual keseimbangan, baik
latihan resistensi dikombinasi dengan latihan sendiri atau
- Berpartisipasi dalam yang diawasi bersamaan dengan
olahraga air - Menerima intervensi latihan penguatan
- Menurunkan berat psikososial - Mengenakan sol
badan (untuk individu - Menggunakan medially lateral terjepit
dengan berat badan directed patellar taping - Menerima terapi
berlebih) - Mengenakan medially manual saja
wedges insoles pada OA - Memakai
kompartemen lateral penyangga lutut
- Mengenakan laterally - Menggunakan
wedges subtalar strapped laterally directed
insoles pada OA patellar taping
kompartemen medial
- Diinstruksikan penggunaan
agen termal
- Menerima alat bantu
berjalan, sesuai kebutuhan
- Berpartisipasi dalam
program tai chi
- Diobati dengan akupuntur
tradisional Cina*
- Diinstruksikan penggunaan
stimulasi listrik transkutan*

20
* Modalitas ini bersifat kondisional, direkomendasikan hanya jika pasien
memiliki OA lutut dengan nyeri kronis sedang sampai berat dan merupakan
indikasi untuk artroplasti total lutut tetapi tidak mau menjalani prosedur,
memiliki komorbiditas medis lain, atau sedang mengonsumsi obat yang
mengarah kepada kontraindikasi mutlak atau relatif untuk operasi atau dokter
bedah tidak merekomendasikan prosedur.

2.10.2 Terapi Farmakologis

Secara garis besar, ACR 2012 merekomendasikan terapi farmakologis untuk

OA lutut sebagai berikut:

Tabel 4. Rekomendasi Farmakologis untuk Manajemen OA Lutut


Direkomendasikan Tidak Tidak
pada kondisi direkomendasikan direkomendasikan
tertentu pada kondisi
tertentu

- Asetaminofen - Chondroitin sulfat - Hyaluronat


- OAINS oral - Glucosamine intraartikuler
- OAINS topikal - Capsaicin topikal - Duloxetine
- Tramadol - Analgesik opioid
- Injeksi
kortikosteroid
intraartikuler

Asetaminofen, atau yang lebih dikenal dengan nama parasetamol dengan

merupakan analgesik pertama yang diberikan pada penderita OA karena cenderung

aman dan dapat ditoleransi dengan baik, terutama pada pasien usia tua. Dengan dosis

maksimal 4 gram/hari, pasien perlu diberi penjelasan untuk tidak mengonsumsi obat-

obat lain yang mengandung asetaminofen, termasuk obat flu serta produk kombinasi

dengan analgesik opioid.6,8

21
Apabila penggunaan asetaminofen hingga dosis maksimal tidak memberikan

respon klinis yang memuaskan, golongan obat anti inflamasi non steroid (OAINS)

atau injeksi kortikosteroid intraartikuler dapat digunakan. OAINS bekerja dengan

cara menghambat enzim siklooksigenase (COX) sehingga mengganggu konversi

asam arakidonat menjadi prostaglandin, yang berperan dalam inflamasi dan nyeri.

Terdapat 2 macam enzim COX, yaitu COX-1 (bersifat fisiologis, terdapat pada

lambung, ginjal dan trombosit) dan COX-2 (berperan pada proses inflamasi). OAINS

yang bekerja dengan cara menghambat COX-1 dan COX-2 (non selektif) dapat

mengakibatkan perdarahan lambung, gangguan fungsi ginjal, retensi cairan dan

hiperkalemia. Sedangkan OAINS yang bersifat inhibitor COX-2 selektif akan

memberikan efek gastrointestinal yang lebih kecil dibandingkan penggunaan OAINS

yang non selektif. Pada penggunaan OAINS jangka panjang perlu dipertimbangkan

pemberian proton-pump inhibitor untuk mengurangi risiko komplikasi traktus

gastrointestinal.16,17

Untuk pasien berusia >75 tahun, penggunaan OAINS topikal lebih dianjurkan

dibanding OAINS oral. Pada kasus ini, penggunaan tramadol atau injeksi

kortikosteroid intraartikuler dapat dianjurkan. Tramadol sama efektif dengan morfin

atau meperidin untuk nyeri ringan sampai sedang, tetapi untuk nyeri berat atau kronik

lebih lemah. Dosis maksimum per hari yang dianjurkan untuk tramadol adalah 400

mg. Injeksi kortikosteroid intraartikuler dapat diberikan bila terdapat infeksi lokal

atau efusi sendi.16,17

22
2.10.3 Terapi Pembedahan

Tindakan operasi seperti arthroscopic debridement, joint debridement,

dekompresi tulang, osteotomi, dan artroplasti merupakan tindakan yang efektif pada

penderita dengan OA yang sudah parah. Tindakan operatif ini dapat menghilangkan

nyeri pada sendi OA, tetapi kadang fungsi sendi tersebut tidak dapat diperbaiki secara

adekuat, sehingga terapi fisik pre dan pasca operatif harus dipersiapkan dengan baik.
16

23