Anda di halaman 1dari 6

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Pembahasan
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pembangunan
2.2. Isu pembangunan bandara di pulau kangean
2.3. Dampak adanya pembangunan bandara
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Pembangunan Daerah merupakan suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku,
baik umum, pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan yang
berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik, sosial ekonomi
dan aspek lingkungan lainnya sehingga peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat daerah dapat ditangkap secara berkelanjutan.

Dasar konseptual pembangunan daerah umumnya tidak dijelaskan secara eksplisit.


Pengertiannya lebih bermakna praktis (utilitarian), di mana pembangunan daerah di anggap
mampu secara efektif menghadapi permasalahan pembangunan di daerah. Pembangunan
daerah melalui mekanisme pengambilan keputusan otonomi diyakini mampu merespons
permasalahan aktual yang akan sering muncul dalam keadaan masih tingginya intensitas
alokasi sumber daya alam dalam pembangunan. Otonomi dalam administrasi pembangunan
ini dirasakan makin relevan sejalan dengan keragaman sosial dan ekologi (bio-social
diversity) pada suatu wilayah.
Pengertian dan penerapan pembangunan daerah umumnya dikaitkan dengan kebijakan
ekonomi atau keputusan politik yang berhubungan dengan alokasi secara spasial dari
kebijakan pembangunan nasional secara keseluruhan. Dengan demikian, kesepakatan-
kesepakatan nasional menyangkut sistem politik dan pemerintahan, atau aturan mendasar
lainnya, sangat menentukan pengertian dari pembangunan daerah.
Di Indonesia sendiri banyak pembangunan daerah dalam bidang apapun, khususnya
dalam bidang infrastruktur berupa bandara khususnya di kabupaten sumenep. Di kabupaten
sumenep tepatnya di pulau kangean akan di bangun bandara yang terletak di desa Pasareman,
akan tetapi pembangunan tersebut tidak terealisasi dengan tepat.
1.2. Rumusan Masalah
1. Mengapa pembangunan Bandara di Kangean tidak bisa dilaksanakan dengan cepat?
2. Apa dampak dari adanya pembangunan Bandara?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab pembangunan Bandara di Kangean tidak bisa
dilaksanakan dengan cepat.
2. Untuk mengetahui dampak dari pembangunan Bandara.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Pembangunan


Pembangunan merupakan upaya atau cara yang terkoordinasi secara efektif dan efisien
guna mencapai keadaan yang lebih baik. Pembangunan menurut siagian (1974) merupakan
sebagai suatu arah atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan
dilakukan suatu bangsa, negara dan pemerintah secara sadar menuju modernitas dalam
rangka pembinaan bangsa. Pembangunan di sini memiliki unsur utama yaitu:
1. Perubahan , yaitu perubahan dari sesuatu yang dianngap masih kurang menuju yang
lebih sempurna.
2. Tujuan, diarahkan dari, oleh dan untuk rakyat agar kelangsungan hidup berjalan
lebih baik.
3. Potensi, potensi masyarakat yang ada digunakan untuk mendukung pelaksanaan
perencanaan pembangunan.
2.2. Pengertian Bandara
Bandara atau pelabuhan udara merupakan sebuah fasilitas tempat pesawat terbang
dapat lepas landas dan mendarat. Bandar udara yang paling sederhana minimal memiliki
sebuah landas pacu namun bandara-bandara besar biasanya dilengkapi berbagai fasilitas lain,
baik untuk operator layanan penerbangan maupun bagi penggunanya.
Menurut Annex 14 dari ICAO(International Civil Aviation Organization): Bandar udara
adalah area tertentu di daratan atau perairan (termasuk bangunan, instalasi dan peralatan)
yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan
dan pergerakan pesawat.
Sedangkan definisi bandar udara menurut PT (persero) Angkasa Pura adalah "lapangan
udara, termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupakan kelengkapan minimal untuk
menjamin tersedianya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat".

2.3. Isu Pembangunan Bandara di Pulau Kangean


Pembangunan infrastruktur berupa bandara merupakan salah satu upaya untuk
mensejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik.Pemerintah berencana membangun
bandara kepulauan pada tahun 2017.Pembangunan bandara ini terletak di Desa Pasareman
kec. Arjasa.Pembangunan bandara baru ini didasari karena wilayah kepulauan di Sumenep
masih belum berkembang, sehingga mereka masih mengandalkan kapal penyebrangan yang
bergantung dengan kondisi cuaca dan ombak yangtidak menentu. Akan tetapi pembangunan
bandara tersebut dipastikan tidak bisa dibangun dan harus menunggu tahun 2016. Padahal
rencana pembangunan bandara itu sejak tahun 2014.

Salah satu faktor penghambat pembangunan tersebut yaitu terkendala pembebasan


lahan. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep Moh. Fadillah menyatakan, untuk
merealisasikan rencana transportasi udara ke Pulau Kangean, pemerintah mengalokasikan
dana Rp 19,1 miliar. Perinciannya, Rp 1,1 miliar untuk pembebasan lahan, sedangkan Rp 18
miliar untuk pembangunan fasilitas. Dari rencana awal 18 hektare, pemerintah telah
melakukan pembebasan lahan seluas 11 hektare. Sisanya, yakni 7 hektare, baru dibebaskan
pada tahun anggaran 2016. Lokasi yang dipilih untuk fasilitas tersebut yaitu Desa Paseraman,
Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Harganya 10 ribu per meter. Pembayaran akan dilakukan
pada Oktober mendatang. Pemerintah akan melanjutkan ke tahap pembangunan.
Pembangunan fasilitas seperti runway, terminal, lokasi parkir, dan ruang tunggu penumpang
bakal direalisasikan pada 2016. Setelah pembebasan lahan selesai, kami fokus ke
pembangunan sarana dan prasarana yang lain.

APBD sudah menyiapkan dana untuk pembebasan lahan tahap pertama senilai Rp
1,1 miliar untuk lahan seluas 7,1 hektare. Akan tetapi, saat ini bandara yang diperkirakan
membutuhkan lahan seluas 18 hektar tersebut masih belum ada perkembangan yang
signifikan. Secara keseluruhan yang sudah diselesaikan dari tahap rencana pembangunan
Bandar Udara tersebut baru mencapai 10%. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Kepala Dinas
Perhubungan Kabupaten Sumenep Muhammad Fadillah. Pihaknya mengaku dari anggaran
Rp 9 miliar untuk pembebasan lahan tahap kedua seluas 9 hektare baru terlealisasi Rp 974
juta atau untuk lahan sekitar 1 hektare. Hanya saja harga lahan setiap tahun mengalami
peningkatan, sehingga pemilik tanah mematok harga tanah yang tinggi.Tapi pihaknya
mengaku akan berupaya menuntaskan proses pembebasan lahan karena sudah menjadi
tanggung jawab Pemkab Sumenep bersama Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur. Di sisa
waktu tahun anggaran 2016, ia mengaku akan berupaya merealisasikan anggaran pembebasan
lahan yang masih banyak. Fadillah juga menyampaikan, tahun 2017 mendatang Pemprov
Jatim akan menyiapkan dana pembangunan fisik. Tapi dana itu akan disesuaikan dengan hasil
Feasibility Studies (FS) dan Detail Engineering Design (DED) yang disusun Pemprov Jatim.
Setelah dokumen perencanaan selesai, Pemprov baru melakukan estimasi anggaran. Lalu
diajukan kepada Kementerian Perhubungan guna memperoleh rekomendasi penetapan lokasi
bandara, spesifikasi teknis dan izin operasional. Dana fisik sudah dipersiapkan dari Pemprov
Jatim. Pemkab Sumenep hanya diminta persiapan pembebasan lahan cuma belum selesai.
Dalam pembebasan lahan kami koordinasikan titik koordinatnya dengan Dinas Perhubungan
Provinsi, urainya.
2.4. Dampak Adanya Pembangunan Bandara
Dampak positif dari adanya pembangunan bandara di kangean yaitu masyarakat sekitar
bisa mempercepat jarak tempuh transportasi dengan cepat , sehingga tidak lagi menggunakan
transportasi laut. Dengan adanya bandara tersebut, pulau kangean bisa maju misalnya kalau
ada pengunjung dari luar sumenep mereka bisa kesana dengan jalur udara,tanpa
menggunakan jalur darat lagi.
Dampak negatif dari adanya pembangunan bandara tersebut yaitu masyarakat yang
biasanya menggunakan jalur transportasi darat beralih menggunakan jalur transportasi udara,
sehingga penumpang jalur transportasi darat berkurang.

Bab III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dengan adanya pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa
dalam isu pembangunan tersebut salah satu faktor yang menjadi penyebab tidak
terlaksananya adalah terkendala pembebasan lahan. Yang mana pembebasan lahan
tersebut tidak di ijinkan oleh masyarakat tersebut, disamping itu juga karena
masyarakat mematok harga yang tinggi terhadap harga tanah tersebut. Sehingga
anggaran pemerintah tidak cukup.
3.2. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam menulis makalah ini jauh dari kata sempurna.
Penulis akan lebih detail lagi dalam mencari sumber yang lebih banyak yang dapat
dipertanggungjawabkan.

Daftar Pustaka
Suryono, agus.2010. dimensi-dimensi prma teori pembangunan.malang: UB Press
https://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_udara di akses tanggal 23 pukul 10.05 wib
http://m.pojokpitu.com/baca.php?
idurut=25902&&top=1&&ktg=Jatim&&keyrbk=Metropolis&&keyjdl=bandara di
akses tanggal di akses tanggal 23 pukul 10.05 wib
http://www.mediakangeann.com/2016/10/bandara-di-kepulauan-kangean-
terkendala.html di akses tanggal 23 pukul 10.05 wib