Anda di halaman 1dari 12

KUNJUNGAN DI ARMATIM

06 Januari 2017

Disusun Oleh :

Nama : Meilani Sita Dewi


Pridi : S1-3A
NIM : 141.0061

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGIL ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2017

KRI YOS SUDARSO 353

KRI Yos Sudarso (353) merupakan kapal ketiga dari kapal perang kelas Perusak Kawal
Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Dinamai menurut Yos Sudarso, salah
seorang pahlawan nasional yang gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran laut Aru
pada masa kampanye Trikora.
KRI Yos Sudarso merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (F803) yang kemudian
dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander
dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse
Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum
berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah
pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral
menggantikan Sea Cat. Penggantian juga dilakukan pada senjata rudal yang semula
menggunakan 8x Harpoon Mc Douglas buatan USA diganti dengan C-802 buatan Tiongkok.
Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan
anti pesawat udara.
Termasuk dalam kelas Ahmad Yani bersama KRI Yos Sudarso antara lain KRI Ahmad
Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Oswald Siahaan (354) KRI Abdul Halim Perdana
Kusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356).
KRI Yos Sudarso memiliki berat 2,941.9 ton. Dengan dimensi 113,42 meter x 12,51
meter x 4,57 meter. Ditenagai oleh mesin diesel 2 x Caterpillar CAT DITA 3616, Reintjes WAV
1000 P gearboxes dengan kekuatan 16000hp. Repowering mesin penggerak dilakukan oleh PT
PAL yang semula menggunakan mesin boiler.
KRI Yos Sudarso dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk
mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah:
a) 4 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan China Aerospace Science and Industry
Corporation (CASIC) C-802 dengan jangkauan maksimum 120 Km , berkecepatan
jelajah 0,8-0,9 mach, berpemandu inertial/GPS dan terminal active radar dengan hulu
ledak seberat 150 Kg.
b) 4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda
sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut),
berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg. Berkemampuan anti pesawat udara,
helikopter dan rudal.
c) 1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan
tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12 Km untuk target
udara.
d) 2 Senapan mesin 12.7mm
e) 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung)
dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan
anti kapal selam dan kapal permukaan.
KRI Yos Sudarso diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga
diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat
perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL.
Memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS.1 (kini pensiun)
dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Digantikan dengan NBO-105 untuk penindakan
ringan dan angkut serbaguna. Setelah 11 helikopter Eurocopter AS565 Panther pesanan TNI-AL
diserahkan, Panther akan menggantikan NBO-105 untuk angkut, penindakan, dan peperangan
anti kapal selam.
Spesifikasi KRI Yos Sudarso 353
Produksi : Belanda
Pengguna : TNI AL
Panjang : 113,4 meter
Lebar : 12,5 meter
Daya muat : 5,8 meter
Berat standar : 2.200 ton
Berat penuh : 2.850 ton

Jelajah 12 Knot
Kecepatan :
Maksimum + 24 Knot

Jumlah awak : 180


Jarak jelajah : 8.100 km dengan kecepatan 12 knots

2 x Caterpillar CAT DITA 3616, Reintjes WAV 1000


P gearboxes
Mesin pendorong :
16000 hp (5.450 kW)

Radar : LW-03, DA-02, M45, M44


Sensor dan sistem
: Sonar : Types 170B, 162
pemroses
Combat system : SEWACO V

Persenjataan :
1 x Oto Melara 76 mm

4 x Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur


Simbad laras ganda

4 x C-802 (rudal anti kapal permukaan)

2 x triple Mk 32 anti submarine torpedo tubes

2 x Senapan Mesin Berat browning kaliber 12,7 mm

Fasilitas penerbangan : Deck Helikopter dan Hangar


MONJAYA (MONUMEN JALESVEVA JAYAMAHE)

Monumen Jalesveva Jayamahe yang terletak diujung Utara Surabaya menampilkan


sosok. Perwira TNI Angkatan Laut berpakaian PDU - 1 lengkap dengan pedang kehormatan
menatap ke arah laut berdiri tegak di atas bangunan gedung dengan ketinggian keseluruhan
mencapai 60,6 m. Menggambarkan generasi penerus dengan penuh keyakinan dan kesungguhan
siap menerjang ombak badai menuju arah yang telah ditunjukkan yaitu cita-cita bangsa
Indonesia.
Kata Jalesveva Jayamahe itu sendiri merupakan semboyan dari TNI-AL yang memilki
arti di laut kita jaya. Material monumen terbuat dari tembaga dan arsiteknya adalah I Nyoman
Nuarte. Seniman yang juga menggubah patung Garuda Wisnu Kencana di Bali. Bangunan
pondasi Monjaya terdiri dari 4 lantai. Yang paling atas adalah di tempat menapaknya kaki patung
perwira. Dari sana kita bisa melihat dengan lapang seluruh dermaga Tanjung Perak.
Di depan Monumen Jalesveva Jayamahe terdapat sebuah Gong ukuran raksasa bernama
Kyai Tentrem. Berdiameter 6 meter dan beratnya 2 ton. Bahan-bahan tembaga yang tersisa dari
proses konstruksi patung akhirnya dibuatkan gong untuk acara peresmiannya.
Monumen dengan ketinggian 31 meter ini berdiri di atas bangunan setinggi 29 meter,
bukan hanya sekedar sebagai pemanis aja loh. Tapi Patung itu juga berfungsi sebagai mercusuar
pemandu bagi kapal kapal yang melintas di laut sekitarnya. Monjaya dibangun sejak 1990
dengan biaya Rp. 27 Milyar. Sang Kolonel itu berangka baja dan berkulit tembaga, dirancang
oleh pematung kenamaan asal Bandung, Nyoman Nuarta.
Ada juga maket Koarmatim dengan skala 1 : 1200. Sebanyak tujuh buah maket kapal
dengan berbagai ukuran diletakkan di ruangan bundar tersebut. Salah satunya Kapal Selam KRI
Pasoepati yang kini di gunakan sebagai Monumen Kapal Selam (Monkasel) di Jalan Pemuda
Surabaya. Memasuki Lantai dua, Koleksi yang ditampilkan lebih beragam. Tembok sisi timur
dihiasi pigura berukuran 10 dan 12 R, yang ada gambarnya seluruh kapal perang yang ada di
Koarmatim. Di lantai itu juga ada ruang berisi foto foto khusus kesatuan.
Gedung penopang dibuat dari beton bundar empat lantai. Pada bagian dinding gedung itu,
dibuat diorama sejarah kepahlawanan TNI AL sejak zaman prarevolusi fisik sampai 1900-an.
Fungsinya adalah sebagai museum TNI AL sekaligus tempat rapat. Saat ini, baru dua lantai
yang sudah berfungsi sebagai museum. Di lantai satu, pengunjung bisa melihat poster poster
tentang pembangunan Monjaya.
Melalui jalan darat, Monjaya bisa diakses lewat 2 jalur. Pertama lewat Jl. Perak Timur
menuju Jembatan Petekan, sedangkan jalur kedua lewat Jl. Sidotopo. Kedua jalur ini akan
berujung di Pintu Gerbang Armatim Disarankan sebelum mengunjungi kawasan Monjaya ini
terlebih dulu menghubungi pihak Dinas Pembinaan Potensi Maritim Armatim (DISPOTMAR
KOARMATIM). Tidak kalah dengan New York MONJAYA ini tertinggi ke 2 setelah patung
LIBERTY. Dipilihnya area dermaga Ujung Surabaya karena manjadi saksi sejarah atas peristiwa
perebutan KAigun SE 21/24 Butai tanggal 3 oktober 1945 yang ditandai dengan sumpah
Bahariawan Penataran Angkatan Laut (PAL) Saya rela dan ikhlas mengorbankan harta dan
benda maupun jiwa raga untuk Nusa dan Bangsa.
Bangunan ini dan gong besar tersebut di arsiteki oleh Drs. Nyoman Nuarta dari Bali pada
tahun 1990 dibangun, dan bertepatan pada hari Armada RI tanggal 5 Desember 1996 MONJAYA
di resmikan oleh Presiden Soeharto.
KRI DEWARUCI

KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI
Angkatan Laut. Kapal ini berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki
TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa,
yaitu Dewa Ruci.
Kapal berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dari kelas Barquentine ini dibangun oleh
H. C. Stlcken & Sohn Hamburg, Jerman dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi
produk galangan kapal itu pada 1952 yang masih laik layar dari tiga yang pernah diproduksi.
Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena saat Perang Dunia II
galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952
dan diresmikan pada tahun 1953.
Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H. C. Stlcken & Sohn Hamburg, Jerman Barat,
pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953, dan pada bulan Juli nya dilayarkan ke
Indonesia oleh taruna AL dan kadet ALRI. Setelah itu KRI Dewaruci yang berpangkalan di
Surabaya, ditugaskan sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan juga ke luar
negeri. KRI Dewaruci juga pernah mengelilingi dunia 2 kali yaitu pada tahun 1964 dan 2012.
Ukuran kapal Panjang total 58,30m, Lebar lambung 9,50m , Draft 4,50m . Bobot mati
847 ton. Kapal ini memiliki 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna serta memiliki
16 layar. Dan memiliki layar dengan Type: Barquentin, 16 layar dengan luas total 1091 m2,

Tiang depan (35,25 m) Tiang Utama (35,87 m) Tiang akhir (32,50 m)

1. Flying Jib, 1. Main top gallant 1. Mizzen top sail,


sail,
2. Outer Jib, 2. Mizzen sail.
2. Main top mast
3. Middle Jib, stay sail,

4. Inner Jib, 3. Main stay sail,

5. Royal Sail, 4. main top sail,

6. Top Gallant sail, 5. Main sail,

7. Upper top sail,

8. Lower top sail,

9. Fore sail,

Selain menggunakan layar, KRI Dewaruci juga menggunakan mesin 986 PK Diesel sebagai alat
gerak dengan satu propeler berdaun 4. Kecepatan penuh 10,5 knot dengan mesin, 9 knot dengan
layar.

Karier (ID)
Produksi H. C. Stlcken & Sohn
Hamburg, Jerman

Mulai dibuat 1952

Diluncurkan 24 Januari 1953

Ditugaskan 1953

Status Purna tugas

Pelabuhan utama Armada Timur TNI-AL

Karakteristik umum

Berat benaman 847 ton

Panjang 58.3 meter (191.27 ft)

Lebar 9.50 meter (31.17 ft)

Draft 4.05 meter (13.29 ft)

Tenaga 1 unit Diesel 986 HP,


penggerak dengan satu propeler
berdaun 4

Kecepatan 10,5 knot dengan mesin


9 knot dengan layar

Awak kapal 75 orang


Di Bidang Kesehatan :
1. Penyakit yang sering ditemui di kapal tersebut adalah mabuk laut, demam, pilek, dan flu.
Dalam kapal tersedia 1 dokter dan 1 perawat yang diambil dari RSAL dan 1 anggota
DEPKES tergantung dari bahaya medan yang diarungi kapal tersebut

2. Di dalam kapal ini juga banyak sekali kegiatan baksos seperti digelarnya donor darah di
atas geladak kapal perang tersebut.

3. Untuk penyakit yang berbahaya, tidak ada yang menimpa awak kapal dikarenakan
sebelum keberangkatan satu per satu awak kapal akan diseleksi terlebih dahulu seprti
pembinaan kesehatan dan jasmani serti berolahraga rutin. Apabila terdapat bahaya
penyakit serius yang mengancam salah satu awak kapal akan di periksa terlebih dahulu
dengan dokter dan perawat yang tersedia, apabila tidak bisa ditangani kapal akan
berlabuh di suatu tempat untuk mendapat pertolongan kesehatan apa bila tidak bisa awak
kapal tersebut akan di pulangkan ke Surabaya menggunakan Helikopter agar
mendapatkan pertolongan lebih lanjut

4. Untuk sanitasi perawatan kapal agar tehindar dari hama hama seperti tikus dan lain lain.
KRI ini ada alat khusus seprti pembasmi hama disebut dengan cara di seprotkan. Dan
awak juga melakukan perawatan supaya terhindar dari hama tersebut contohnya dengan
menjaga kebersihan kapal, membersihkan karat karat yang di kapal dan untuk
memutuskan mata rantai penularan penyakit
5. Kebersihan awak kapal sendiri, untuk kegiatan bersih diri itu terdapat alat fermentasi
untuk merubah air laut dirubah menjadi air tawar

6. Konsumsi sehari sehari kami terdapat bagian sendiri sendiri untuk memasak. Bahan
bahan sebeluh layar kami sudah menyiapkan seperti beras, buah, lauk pauk, dan sayur
untuk keperluan 1-2 minggu. Apanila habis kami akan menepi untuk berbelanja
kekurangan . tidak hanya bidang makanan, dalam kesehatan juga contoh obat obatan

7. KRI ini juga sudah mendapatkan banyak sekali sertifikat contahnya sebagai berikut ini

a. Sertifikat Sanitasi Kapal (SSCEC/SSCC)

b. Buku Kesehatan Kapal (Helath Book)

c. Sertifikat P3K

d. Sertifikat Free Pratique

e. PHC (Port Health Clearence)

8. Untuk kamar awak kapal tersedia ventilasi dan penerangan yang cukup serta kebersihan
dapat menjamin kesehatan serta kesejahteraan awak. Bila penerangan secara alami tidak
mencukupi, maka diberikan penerangan secara mekanis dengan menggunakan lampu
neon. Alat penerangan di dalam kapal tidak boleh menggunakan lilin atau lampu minyak.
Tujuan adanya ventilasi adalah untuk memasukkan udara segar dan mengeluarkan udara
yang kotor. Bila kamar tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik, akan menimbulkan
beberapa keadaan yang dapat merugikan kesehatan seperti sesak nafas.

9. Kamar Mandi dan Kakus sebaiknya setiap waktu dalam keadaan bersih. Di dalam kamar
mandi juga sebaiknya tersedia pembersih lantai atau kreolin 5% dalam larutan air dan
selalu tersedia air bersih yang cukup serta memenuhi syarat kesehatan. Diusahakan agar
penyaluran air kotor lancar. Diusahakan agar penyaluran air kamar mandi dan kakus tidak
diperkenankan sebagai tempat penyimpanan. Di samping itu, kran harus berfungsi
dengan baik, lantai tidak boleh licin dan tidak diperkenankan para penumpang untuk
mencuci alat makan dalam kamar mandi / kakus.

10. Dapur merupakan tempat penyimpanan dan tempat pencucian alat-alat dapur (alat
makan / minum, dan sebagainya). Makanan dan minuman yang disediakan, diolah,
disimpan dan disajikan harus secara hygienis untuk memperkecil kemungkinan
timbulnya penyakit seperti disentri, cholera, typus, keracunan dan sebagainya.
11. Kamar Pendingin, thermometer ditempatkan di kamar pendingin dengan suhu ruangan
100C.
12. Tempat Penyimpanan Makanan yang tak membusuk: Selain bersih tempat
penyimpanan makanan juga memerlukan ventilasi yang cukup, makanan yang berserakan
akan menarik tikus dan serangga; Pengaturan barang harus sedemikian rupa, sehingga
tikus tidak bersembunyi / bersarang di antara barang-barang; Pestisida dan sejenisnya
dilarang disimpan di tempat penyimpanan makanan.
13. Pengelola makanan: Mempunyai perilaku hygienis dan saniter yaitu: selalu mencuci
tangan bila kotor, menutup hidung dan mulut sewaktu batuk / bersin dan tidak merokok
sewaktu bertugas; Personal hygienis harus diperhatikan yaitu: tidak menderita penyakit
menular, berpakain bersih, badan, rambut tangan dan kuku bersih; Bila ada pengelola
makanan yang terdapat dibebaskan sementara dari food handling, maka pengelola
tersebut tidak dapat mengelola makanan sampai ia tidak lagi merupakan sumber
penularannya.
14. Persediaan air bersih: Air bersih sangat diperlukan dalam berbagai kegiatan di kapal
untuk kegiatan memasak air minum dan makanan, mencuci, keperluan mandi dan
sebagainya. Diantara kegunaan-kegunaaan air tersebut, yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum (termasuk untuk
masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan
penyakit bagi manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen PPM dan PLP Depkes RI, 1989, Manual Kantor Kesehatan Pelabuhan, Jakarta.

Permenkes No.356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor


Kesehatan Pelabuhan, Jakarta.

Permenkes No. 530/Menkes/Per/VII/1987, tentang Sanitasi kapal, Jakarta.


Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut.

WHO, 2005, Internasional Health Regulation (IHR), Geneva, Swiss.

_____, 2007, International Health Regulation Guide to Ship Sanitation Third Edition,
Version 10, Geneva, Swiss.