Anda di halaman 1dari 6

BUDIDAYA BURUNG WALET RUMAHAN

Muhammad Khoiruddin

Selasa, 09 Juni 2015

Burung walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur.

Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap

berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung

ini tidak pernah hinggap di pohon.

Hasil dari peternakan walet adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Berdasarkan

penelitian para ahli gizi, sarang walet mengandung glycoprotein yang sangat bagus bagi perkembangan

tubuh. Departemen Kesehatan RI dalam penelitannya juga mencatat bahwa kandungan sarang burung

walet terdiri dari sebagian besar protein, karbohidrat, lemak dan abu. Sarang burung walet juga

mengandung protein yang berbentuk glycoprotein yang merupakan komponen terbesar selain

karbohidrat, lemak, dan air jumlahnya mencapai 50 %. Di tubuh, protein berperan sebagai zat

pembangunan. Protein membentuk selsel dan jaringan baru dalam tubuh serta berperan aktif selama

metabolise. Berdasarkan hasil penelitian salah satu senyawa turunannya azitothymidine telah diteliti

bisa melawan AIDS. Istimewanya lagi sarang walet sumber asam amino yang lengkap. Tercatat sekitar

17 asam amino esensial, semi esensial dan non-esensial yang dimiliki. Salah satunya kini

dikembangkan oleh peneliti-peneliti di barat sebagai pelawan stroke dan kanker. Mineral-mineral

sarang walet tak kalah manjurnya untuk mendukung aktivitas tubuh. Sarang walet mengandung lima

mineral yang sudah diketahui seperti kalsium, besi, phospor, kalium dan natrium karena alasan

kesehatan inilah yang menyebabkan harga sarang burung walet sangat tinggi di pasaran dunia.
Sejarah Budidaya Burung Walet

Berdasarkan buku Pedoman Budidaya Walet yang diterbitkan oleh Dinas Kehutanan dan

Perkebunan Kabupaten Blitar, sarang burung walet ditemukan di Indonesia di daerah Kebumen, Jawa

Tengah pada tahun 1720 oleh seorang lurah yang bernama Sadrana. Suatu hari, saat Sadrana berenang

di pantai, dia melihat banyak burung walet beterbangan dan kemudian masuk ke dalam sebuah gua.

Sadrana dan teman-temannya memasuki gua tersebut dan menemukan sarang burung walet di dinding-

dinding gua yang berwarna putih keperak-perakan. Kemudian, mereka mengambil beberapa sarangnya

dan dibawa kepada Sultan Katasura. Sultan Katasura sangat menyukai sarang burung walet tersebut

setelah dimasak. Sejak saat itulah, sarang burung walet menjadi komoditas yang sangat berharga dan

hanya dimakan oleh orang-orang yang sanggup membeli sarang tersebut. Walaupun cerita ini

menggambarkan awal mula konsumsi sarang burung walet di Indonesia, namun kita juga harus

mempertimbangkan pengaruh kebudayaan Cina terhadap kebudayaan Indonesia terutama dibidang

pengobatan tradisional. Ini berdasarkan fakta bahwa di Cina orang-orang mulai memakan sarang

burung walet ratusan tahun sebelum Sadrana memperkenalkan sarang burung walet kepada Sultan

Katasura.

Menurut Agromedia Indonesia, sarang burung walet mulai dibudidayakan pada tahun 1980 di

pulau Jawa ketika seorang muslim yang bernama Tohir Sukarama pulang ke kampung Sedaya, Gresik

setelah beberapa tahun tinggal di tanah suci Mekah. Dia mendapati rumahnya telah menjadi tempat

bersarang walet. Karena dia sudah mengetahui bahwa nilai ekonomi sarang burung walet sangat tinggi,

maka dia pindah ke rumah yang baru dan mulai memelihara burung walet di rumah lamanya. Karena

teknik budidaya walet dengan cara ini berhasil, beberapa orang kemudian mengikuti teknik tersebut,

tetapi hanya orang yang berhubungan dekat dengan Sukarama. Kemudian setelah beberapa tahun

teknik merumahkan walet mulai tersebar luas. Pada akhir tahun 1980 para ilmuwan pun mulai

melakukan penelitian mengenai walet dan teknik-teknik merumahkannya. Sejak saat itu, teknik

budidaya walet mulai banyak dipublikasikan lewat buku panduan manual, pelatihan, seminar, dan
agen-agen konsultan. Pada tahun 1989, berbagai pihak yang berkecimpung dalam budidaya walet

bertemu dalam seminar budidaya walet. Termasuk dalam pihak-pihak ini adalah pemerintah, peneliti

dan para praktisi dari Indonesia dan luar negeri. Seminar ini membahas tentang teknik budidaya burung

walet yang masih tersembunyi dan tersebar sehingga industri tersebut bisa berkembang.

Jenis-jenis Burung Walet


Spesies walet umumnya dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, warna bulu, dan bahan yang

dipakai untuk membuat sarang. Menurut klasifikasi walet termasuk ke dalam family Apodidae, kakinya

lemah, tidak dapat bertengger. Berdasarkan pembagian secara biologi burung walet terbagi atas enam

jenis yaitu, Collocalia Fuciphagus (walet putih), Collocalia gigas (walet besar), Collocalia maxima

(walet sarang hitam), Collocalia brevirostris (walet gunung), Collocalia vanikorensis (walet sarang

lumut), Collocalia esculenta (walet sapi). (Nugroho, 2009)

Dari keenam jenis walet di atas tidak semua sarangnya dapat di konsumsi. Jenis walet yang

menghasilkan sarang tidak dapat dimakan adalah walet gunung, walet besar, walet sarang lumut dan

walet sapi. Sementara walet sarang hitam masih dapat dimakan sarangnya setelah telebih dahulu

dibersihkan dari bahan lain yang terdapat di dalamnya. Walet putih menghasilkan sarang burung yang

seluruhnya terbuat dari air liur.

Pedoman Teknis

Tempat Tinggal Walet

Rumah walet dapat dibangun dimana saja sepanjang masih didaerah lingkungan (rentang)

ekologinya. Lingkungan sekitar rumah walet seyogyanya didukung oleh habitat yang diharapkan

sebagai penghasil pakan walet serta memberikan lingkungan fisik yang nyaman bagi walet, seperti

kecepatan angin, kelembaban, kemudahan untuk terbang, dan masuk ruang, bebas perdator, parasit dan

penyakit. Rumah buatan yang digunakan untuk budidaya walet sebaiknya dekat dengan tempat yang
sesuai habitat burung walet berupa tegalan, hutan, sawah, sehingga populasi serangga cukup melimpah.

(Marolop, 2010)

Perlengkapan yang cukup penting adalah dibuatnya papan-papan yang ditempelkan pada plafon

atau langit-langit rumah walet. Perlengkapan ini diperuntukkan guna walet dalam menempelkan atau

membuat sarang. Berbagai jenis bahan dapat digunakan seperti jenis kayu lunak, contohnya kayu

randu, sengon, suren atau bahkan dapat pula digunakan bambu yag sudah dianyam. Agar sarang yang

dihasilkan bersih dapat pula digunakan sirip-sirip yang terbuat dari plat alumunium. Ukuran sirip

sekitar lebar 20 cm, dengan tebal 2 atau 1,5 cm bila digunakan bahan kayu, sedangkan alumunium

lebar 2 cm namun tebal sekitar 2 atau 3 mm. Pengaturan jarak dapat diatur 1 x 8 m atau lebih,

tergantung panjang gedung yang dibangun. (Setiawan, 2013)

Memancing Walet
Sesudah gedung siap digunakan untuk peternakan walet, ada beberapa metode untuk

memancing burung yang berasal dari gua, gedung lain atau burung yang sudah bersarang ditempat lain

sehingga burung tersebut mau bersarang didalam gedung baru. Metode yang paling mudah dan murah

adalah dengan menggantungkan daun pinus pada langit-langit gedung baru, dimana burung walet

sangat menyukai daun pinus. Sistem lain yang dapat dimanfaatkan adalah hexagonal tweeter yang

digunakan untuk memancing burung dari kejauhan, tweeter ini dipasang diatap gedung walet dan

suaranya sangat kuat sehingga burung walet yang sedang terbang di kejauhan bisa mendengarnya.

Selain menggunakan daun pinus dan tweeter, metode lain yang dapat dilakukan adalah dengan

menggunakan aroma walet, biasanya metode ini hanya dipakai digedung walet yang kosong dan

dengan aroma walet ini dapat memncing burung untuk menghuni gedung tersebut. (Nugroho, 2009).

Pemeliharaan Gedung Walet


Agar diperoleh sarang walet yang baik dalam kualiatas dan kuantitas diperlukan pengelolan,

perawatan dan pemeliharaan gedung. Usaha-usaha perawatan tersebut meliputi beberapa hal berikut ini

1) Mengatur dan mempertahankan gedung sebaik mungkin. Kondisi dalam gedung walet perlu

diperhatikan agar kepadatan walet tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan sarang walet saling

berhimpitan dan bentuknya tidak sempurna.

2) Melakukan pemberantasan dan pencegahan serangan hama yang dapat mengganggu kehidupan walet.

Dengan demikian, walet dapat hidup tenang dan aman serta sarang walet yang dihasilkan tidak rusak

oleh pengganggu tersebut.

3) Keamanan di sekitar gedung walet harus lebih di perketat karena gedung walet yang sudah

menghasilkan sarang rawan pencurian. (Saputra, 2015)

Pola Panen

Pola panen yang baik harus memperhatikan waktu yang tepat agar walet tidak mengalami

setres. Ada 4 cara memanen walet yaitu panen tetasan, panen rampasan,panen buang telur dan panen

pilihan: (Nugroho, 2009)

Panen tetasan, panen tetasan dilakukan setelah sarang terbentuk sempurna dan telur telah

menetas, sarang dipetik setelah anak walet sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini mutu sarang rendah

karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotoran maupun bulu walet. Sedangkan keuntungannya

adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga populasi walet dapat

meningkat.

Panen rampasan, cara ini dilakukan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan

walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat,

kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara

ini tidak baik dalam pelestarian burung walet karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena
terus-menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya merosot menjadi

kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pamacuan waktu untuk membuat

sarang dan bertelur.

Panen buang telur, cara ini dilakukan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir.

Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam

setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkanpun baik yaitu besar dan

tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya dan

populasi walet menjadi lambat karena penambahan walet hanya bergantung pada walet baru hasil

pancingan.

Panen pilihan, merupakan cara panen yang paling disarankan karena cara panen ini lebih

memilih memanen sarang yang tidak ada telur walet dan menyisakan sadikit sarang untuk membuat

walet lebih betah dan akan kembali lagi kesarang dan tidak membiarkan walet untuk bertelur berulang-

ulang didalam satu sarang yang sama.

http://heldajayapuspita.blogspot.co.id/2015/06/budidaya-burung-walet-rumahan.html