Anda di halaman 1dari 7

POLITIK HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA TENTANG HAK-HAK

POLITIK PEREMPUAN DI INDONESIA

Oleh:
Giskha Nurhabiba
08011281621029
Matematika, FMIPA, Universitas Sriwijaya
Email: giskahabiba@gmail.com

Hak asasi manusia merupakan isu yang pesat berkembang pada akhir abad
20 dan permulaan abad ke-21 ini, baik secara nasional maupun secara
internasional. Hak asasi manusia telah menjadi salah satu topik besar yang
dibahas dari waktu ke waktu di lembaga dunia, yakni Perserikatan Bangsa-
Bangsa. Oleh karena hak asasi manusia telah menjadi milik bersama dan tanggung
jawab bersama semua masyarakat dunia yang tergabung dalam PBB sejak
dikeluarkannya Universal Declaration of Human Rights tahun 1948.

Membahas tentang hak asasi manusia, hak asasi manusia itu sendiri adalah
hak-hak yang telah dipunya seseorang sejak ia besar dan merupakan pemberian
dari tuhan bahkan sejak lahir dan dianggap sebagai manusia. Atau hak asasi
manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan
bahkan sejak dalam kandungan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat
diganggu oleh sisapapun. Bukti konkrit yang terdapat dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 tentang pengakuan hak asasi manusia adalah dalam
pernyataan Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan
peri kemanusiaan dan peri keadilan. Pernyataan tersebut telah mengisyaratkan
bahwa hak asasi manusia itu sangat dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia.

Terlepas dari itu dalam ketentuan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan
bahwa, segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya. Ini menjelaskan bahwa tidak adanya diskriminasi dalam hukum
dan pemerintahan yang ada di Indonesia, tidak terkecuali laki-laki dan perempuan,
suku-suku, agama, adat istiadat maupun ras akan tetapi porsi bagi setiap warga
Negara dalam hukum dan pemerintahan adalah sama.

Hal ini diperjelas lagi dalam Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 (amandemen II),
setiap warga Negara memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
Ini menunjukkan bagi warga Negara apakah laki-laki ataupun perempuan tetap
mempunyai kesempatan yang sama dalam hal pemerintahan. Dalam era reformasi
sekarang ini keterlibatan perempuan dalam hal pemerintahan sudah sangat
mewarnai Negara Indonesia, hal ini terbukti dengan Negara Indonesia sudah
pernah dipimpin oleh seorang wanita yakni Megawati Soekarno Putri sebagai
Kepala Negara yang sekaligus sebagai Kepala Pemerintahan.

Sesungguhnya, hak asasi Perempuan merupakan bagian dari Hak asasi


manusia. Penegakan hak asasi perempuan merupakan bagian dari penegakkan hak
asasi manusia. Sesuai dengan komitmen internasional dalam Deklarasi PBB
1993 , maka perlindungan, pemenuhan dan penghormatan hak asasi perempuan
adalah tanggung jawab semua pihak baik lembaga-lembaga Negara ( eksekutif,
legislatif, yudikatif) maupun Partai politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM). Bahkan warga Negara secara perorangan punya tanggung jawab untuk
melindungi dan memenuhi hak asasi perempuan. Dilihat dari berbagai kajian
tentang perempuan, terlihat bahwa kaum perempuan sudah lama mengalami
diskriminasi dan kekerasan dalam segala bidang kehidupan . Berbagai bentuk
diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan telah memperburuk kondisi
kehidupan perempuan dan menghambat kemajuan perempuan.

Sejarah dunia telah menuliskan berbagai diskriminasi laki-laki terhadap


perempuan, yang dapat dilihat dalam kehidupan keluarga, sosial, politik, ekonomi
bahkan dalam kepemimpinan. Wanita seakan hanya dijadikan sebagai objek hidup
semata. Perempuan sering kali hanya diposisikan sebagai pelengkap seperti
makhluk berkasta nomor dua. Dalam kehidupan keluargapun, perempuan hanya
diposisikan sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya hanya untuk mengurus
suami, anak dan kebutuhan rumah tangga. Tidak pernah ada kesempatan yang
diberikan pada kaum perempuan untuk mengatur sesuatu yang krusial dan
fundamental, apalagi menjadi seorang pemimpin (nurhidayatuloh,2011).

Hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai bahwa manusia pada dasarnya
diciptakan dalam kedudukan yang sama seperti yang telah dijaskan sebelumnya.
Tidak ada yang lebih unggul antara perempuan dan laki-laki. Tidak pula
diciptakan untuk lebih mendominasi antara laki-laki dan perempuan itu sendiri.
Laki-laki dan perempuan pada dasarnya diciptakan untuk saling melengkapisatu
sama lain, tidak ada memungkiri bahwa laki-laki membutuhkan perempuan
ataupun sebaliknya. Mereka memiliki peran masing-masing yang harus dihormati
bukan malah saling mendominasi dan bahkan bertujuan untuk saling
mengalahkan.

Mengatasi hal ini, di perlukan berbagai instrumen nasional tentang


perlidungan hukum terhadap hak asasi perempuan. Di level Perserikatan Bangsa-
Bangsa masalah perlindungan hak asasi perempuan sudah sangat dipahami antara
lain melalui Deklarasi Beijing Platform, pada tahun 1995 yang melahirkan
program-program penting untuk mencapai keadilan gender. Di Indonesia,
sesungguhnya sudah cukup banyak perlindungan hukum terhadap hak asasi
perempuan, baik dalam bentuk peraturan perundang-undangan maupun dalam
bentuk kebijakan-kebijakan negara. Namun hak asasi perempuan masih belum
terlindungi secara optimal.

Pengaturan secara spesifik tentang hak asasi perempuan secara de jure juga
telah dituangkan dalam beberapa konvensi mengenai penjaminan hak asasi
manusia terhadap perempuan yaitu seperti dalam konvensi mengenai hak politik
wanita yang menyebutkan dalam Pasal 1 bahwa wanita hendaknya diberi hak
untuk memilih dalam semua pemilihan dengan persyaratan yang sama dengan
laki-laki, tanpa diskriminasi dan pada Pasal 3 menyatakan wanita hendaknya
diberi hak untuk memegang jabatan umum dan melakukan semua fungsi umum
yang dibentuk dengan hukum nasional dengan persyaratan yang sama seperti laki-
laki, tanpa diskriminasi.

Kemudian ditegaskan kembali pula dalam ICCPR. Negara-negara Pihak


Kovenan ini berjanji untuk menjamin hak yang sama laki-laki dan perempuan
untuk menikmati semua hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam Kovenan ini.
Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
yang telah diratifikasi dan disetujui oleh Resolusi Majelis Umum 34/180 pada 18
Desember 1979. Dalam pasal 2 konvensi disebutkan bahwa :
Negara-negara pihak mengutuk diskriminasi terhadap perempuan dalam
segala bentuknya, dan bersepakat dengan segala cara yang tepat dan tanpa
ditunda-tunda, untuk menjalankan suatu kebijakan yang menghapus diskriminasi
terhadap perempuan, dan untuk tujuannya berusaha untuk :
(a) Memasukkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam
undang undang dasar mereka atau perundang-undangan lainnya yang layak
apabila belum dimasukkan ke dalamnya, dan untuk menjamin realisasi praktis
pelaksanaan dari asas ini, melalui hukum dan cara-cara lain yang tepat.
(b) Membuat peraturan perundang-undangan yang tepat dan upaya
lainnya, dan di mana perlu termasuk sanksi-sanksi, yang melarang semua
diskriminasi terhadap perempuan (nurhidayatuloh,2011).

ICCPR (Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik) telah


mencantumkan hak-hak yang setara antara laki-laki dan perempuan untuk
menikmati hak sipil dan politik antara lain sebagai berikut :
1. Hak hidup
2. Hak bebas dari perbudakan dan perdagangan
3. Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi
4. Hak diperlakukan secara manusiawi dalam situasi apapun
5. Hak atas kebebasan bergerak, memilih tempat tinggal
6. Hak mendapat kedudukan yang sama di depan hukum
7. Hak diakui sebagai seorang pribadi di hadapan hukum
8. Hak tidak dicampuri masalah pribadinya
9. Hak atas kebebasan berpikir,berkeyakinan dan beragama
10. Hak untuk bebas berpendapat
11. Hak untuk berserikat dan bergabung dengan serikat pekerja
12. Hak dalam perkawinan
13. Hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam pemerintahan
14. Hak mendapatkan perlindungan yang sama dalam perlindungan hukum

Namun, karena pengaruh budaya yang cukup besar, hak-hak yang sederajat
antara laki-laki dan perempuan sebagaimana disebutkan di atas menjadi sulit
untuk diraih perempuan. Oleh karena itu, CEDAW (Konvensi Internasional
tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan)
meletakkan ulang beberapa hak yang kelihatannya akan sulit diraih oleh
perempuan mengingat konstruksi budaya yang meletakkan perempuan sebagai
pihak yang subordinat. Pendekatan yang dipakai adalah prinsip non diskriminatif
dan persamaan menuju kesetaraan.

Selain itu, Hak Perempuan dalam Kehidupan Politik dan Kemasyarakatan


negaranya, diatur di dalam Pasal 7 CEDAW. Termasuk di dalamnya adalah:
1. Hak untuk memilih dan dipilih
2. Hak untuk berpartisiapsi dalam perumusan kebijaksanaan pemerintah
dan implementasinya
3. Hak untuk memegang jabatan dalam pemerintah dan melaksanakan
segala fungsi pemerintahan di segala tingkat
4. Hak berpartisipasi dalam organisasi-organisassi dan perkumpulan-
perkumpulan nonpemerintah yang berhubungan dengan kehidupan
masyarakat dan politik negara.

Pada Pasal 8 Negara-negara Pihak harus mengambil semua upaya-upaya


yang tepat untuk memastikan agar perempuan memiliki kesempatan untuk
mewakili Pemerintah mereka pada tingkat internasional dan untuk berpartisipasi
dalam pekerjaan organisasi-organisasi internasional, atas dasar persamaan
dengan laki-laki dan tanpa diskriminasi apapun. Beberapa peraturan hukum
internasional tersebut di atas mewajibkan para pihaknya untuk mematuhi
perjanjian yang mereka sepakati sebagai bangsa yang beradab, sesuai dengan asas
hukum pacta sunt servanda. Oleh karena itu berdasarkan peraturan di atas terlihat
jelas bahwasanya beberapa ketentuan menghendaki adanya HAM dengan strandar
internasional yang dapat dijadikan konstitusi atau masuk dalam ruang lingkup
Undang-Undang Dasar setiap negara anggota PBB, termasuk Indonesia.

Meskipun Pemerintah Republik Indonesia telah membuat Undang-Undang


No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala
Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, akan tetapi penerapan Konvensi
tersebut sangat lemah karena terbentur pada relativisme nilai yang berlaku di
Indonesia. Penjelasan UU No. 7 Tahun 1984 menyatakan bahwa ...dalam
pelaksanaannya ketentuan dalam Konvensi ini wajib disesuaikan dengan tata
kehidupan masyarakat yang meliputi nilai-nilai budaya, adat-istiadat serta
norma- norma keagamaan yang masih berlaku dan diikuti secara luas oleh
masyarakat Indonesia.

Sistem Pemilu di Indonesia pada era refomasi adalah bersifat langsung,


yakni, rakyat memilih secara langsung calon anggota legislatif (DPR, DPRD, dan
DPD) serta Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Baik itu pemilu legislatif
maupun pemilu presiden yang diadakan 5 tahun sekali adalah langkah awal bagi
pemerintahan Indonesia. Oleh karana itu harapan untuk pemilihan sosok orang
yang tepat sangatlah dituntut karena menentukan masa depan Indonesia lima
tahun ke depan, baik itu dalam hal integritas, kapabilitas, loyalitas, dan lainnya.
Dalam kaitannya dengan perempuan, ini tidak dapat terlepas dari isu gender
dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan belum adanya
kesetaraan gender dapat terwujud dengan melihat prosentase perempuan dalam
kursi legislatif (DPR & DPRD) maupun eksekutif (kursi menteri).

Pada zaman modern seperti ini perjuangan perempuan sudah mengarah


pada usaha ikut serta dalam pembangunan Indonesia, hak-hak inilah yang
dimaksudkan dengan hak-hak asasi aktif atau demoratis, adapun dasar hak-hak ini
adalah keyakinan akan kedaulatan rakyat yang menuntut agar rakyat memerintahi
dirinya sendiri dan setiap pemerintah berada di bawah kekuasaan rakyat. Hak-hak
itu disebut aktif karena merupakan suatu aktifitas manusia, yaitu hak untuk ikut
menentukan arah perkembangan masyarakat.

Dimulai dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1950 Tentang Pemilu, yaitu


untuk memilih anggota konstituante dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, hak
memilih diberikan kepada seluruh warga Negara Indonesia yang sudah berumur
18 tahun atau sudah kawin (Pasal 1 Ayat (1)) yang tidak diperkenankan memilih
hanyalah mereka yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih. Keterlibatan
perempuan dalam bidang politik sudah ditunjukkan dalam UU tersebut, meskipun
tidak dinyatakan secara jelas, akan tetapi dapat ditarik ratio yang terkandung
dalam Pasal 1 Ayat (1) tersebut.

Keterlibatan perempuan dalam bidang politik sebagai motor dalam


pemerintahan juga sangat mendukung perempuan ikut serta didalamnya, hal ini
tercermin dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai
Politik yang menyatakan bahwa, memberikan hak rekrutmen dalam hal pengisian
jabatan politik yang memperhatikan kesetaraan gender. Dalam aturan tersebut
ditetapkan kesetaraan gender dalam artian yang bukan asasi akan tetapi gender
yang ditentukan oleh Undang-Undang.

Gender yang oleh sebagian besar para perempuan telah banyak


menimbulkan kesalah tafsiran, gender dalam Kamus Bahasa Inggris merupakan
jenis kelamin, namun dalam pengertian secara etimologi dapat dipahami sebagai
pembagian peran yang diberikan masyarakat kepada laki-laki dan perempuan
yang oleh karena itu ia akan berbeda dari suatu masyarakat dengan masyarakat
yang lainnya, dari suatu wilayah dengan wilayah lainnya dan juga akan berbeda
dari waktu ke waktu.

Dengan demikian gender tersebut bukanlah merupakan hak asasi yang


kodrati, yakni hak-hak yang dibawa sejak lahir akan tetapi ia merupakan hak-hak
asasi yang diberikan kepada individu oleh hukum. Gender yang dimaksudkan
disini dapat dilihat dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008
Tentang Pemilu, yakni Pasal 15 huruf d surat keterangan dari pengurus pusat
partai politik tentang penyertaan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya
30% (tiga puluh perseratus) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Namun apabila kita menganalisa ketentuan tersebut telah menunjukkan


dukungan yang sangat kuat dari pemerintah untuk perempuan untuk ikut dalam
pembangunan Negara, ini merupakan sisi positif dari aturan tersebut, meskipun
dalam kenyataannya kuota tersebut tidak semua partai politik peserta Pemilu
tahun 2009 belum dapat memenuhinya, hal ini dapat dipahami karena di Indonesia
minat kaum perempuan dalam perpolitikan belum sama dengan perempuan-
perempuan di Negara barat, jadi meskipun telah ditentukan oleh UU tentang
aturan tersebut masih ada partai yang belum dapat memenuhinya (wati,2013).

Disisi yang lain aturan yang sudah ditetapkan tersebut memiliki sisi yang
menurut penulis, karena dengan aturan itu telah memaksa bagi partai politik untuk
memenuhi kuota 30% itu, jadi beberapa partai politik harus memaksakan untuk
terpenuhi terlepas dari apakah perempuan tersebut tertarik atau tidak dengan
partai politik bukanlah merupakan suatu hambatan, karena yang terpenting adalah
kuota itu harus terpenuhi. Namun meskipun demikian kiprah perempuan dalam
perpolitikan sudah harus disetarakan dengan laki-laki karena, setiap warga Negara
memiliki hak yang sama tanpa memandang jenis kelamin dan yang lain-lain.
(thalib,2014)

Aturan lain yang memberikan kesetaraan antara hak laki-laki dan


perempuan adalah dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
Tentang Hak Asasi Manusia. Yakni pada bagian kesembilan dari pasal 45 sampai
dengan pasal 51, yang mengatur tentang hak wanita. Pasal 46 Sistim pemilihan
umum, kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif dan sistim pengangkatan
di bidang eksekutif, yudikatif, harus menjamin keterwakilan wanita sesuai
persyaratan yang ditentukan. Dan dalam Pasal 49 ayat (1) Wanita berhak untuk
memilih, dipilih, diangkat dalam pekerjaan, jabatan dan profesi sesuai dengan
persyaratan dan peraturan perundang-undangan. Semua aturan-aturan tersebut
telah menunjukkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam bidang politik dan
pemerintahan. Selain daripada aturan-aturan yang telah dicantumkan dalam
tulisan ini masih banyak aturan-aturan lain yang menentukan kesetaraan antara
laki-laki dan perempuan dalam bidang yang dimaksud.

Jadi, intinya setiap orang baik laki-laki dan perempuan memiliki hak asasi
manusia yang sama, namun kembali pada individu masing-masing untuk saling
menghargai satu sama lainnya. Tidak dipungkiri bahwa laki-laki merupakan imam
bagi seorang perempuan, tapi tidak dipungkiri juga bahwa perempuan juga
memiliki keahlian yang dapat berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa dan
bangsa. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika laki-laki dan perempuan saling
bekerja sama dalam pembangunan bangsa agar lebih baik lagi. Keikut sertaan
perempuan dalam politik indonesia bukan menjadikan suatu penghalang bagi laki-
laki untuk dapat membuat negara indonesia lebih maju. Namun, keikut sertaan
perempuan dalam politik indonesia dapat dijadikan suatu pengaruh positif yang
dapat meningkatkan mutu bangsa agar tidak kalah tertinggal dari negara-negara
lain. Perempuan juga punya bakat, keinginan dan keahlian untuk memajukan
indonesia agar indonesia dapat dilihat dunia dan memiliki bangsa yang memiliki
dedikasi tinggi dan mutu sumber daya manuasia yang baik.

Sumber :

- Thalib, nur asiqin. 2014. Hak politik perempuan pasca putusan mahkamah
agung. Jurnal. Kaltim.
- Nurhidayatuloh. 2011. Politik hukum ham di indonesia. Jurnal. Universitas
sriwijaya : indralaya.
- Wati, evi purnama.2013. hak-hak perempuan di bidang politik dan
pemerintahan.(online)(http://evilaws.blogspot.co.id).