Anda di halaman 1dari 6

DAMPAK BAGI YANG MELAKUKAN PERKAWINAN DIBAWAH UMUR

Khusnul Latiffah
FMIPA Matematika Universitas Sriwijaya
e-mail : khusnul.latiffah@yahoo.com
Abstrak
Perkawinan di bawah umur adalah ikatan lahir
batin antara seorang laki-laki dengan seorang
perempuan sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga yang kekal dan bahagia yang
dilaksanakan oleh calon suami dan atau istri yang
usianya masih belum mencapai usia yang telah
ditetapkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974
tentang perkawinan yakni umur 19 tahun bagi pria dan
umur 16 tahun bagi wanita. Istilah ini lebih sering
dikenal masyarakat dengan sebutan perkawinan dini.
Perkawinan dibawah umur biasanya menjadi cemoohan
dari masyarakat. Perkawinan dibawah umur membuat
masa depan remaja menjadi suram. Namun pada
zaman modern seperti sekarang perkawinan dibawah
umur sudah menjadi hal yag lumrah. Pada karya ilmiah
ini akan membahas beberapa dampak atau akibat dari
perkawinan dibawah umur.

Kata-kata Kunci : Masa depan, Dampak, Perkawinan dibawah umur.

Pendahuluan
Usia dewasa seseorang pada hakekatnya mengandung unsur yang berkaitan
dengan dapat atau tidaknya seseorang mempertanggungjawabkan atas perbuatan
hukum yang telah dilakukannya, yang menggambarkan kecakapan seseorang
untuk bertindak dalam lalu lintas hukum perdata.
Undang-Undang Perkawinan memberikan toleransi bagi setiap warga
Negara yang batas usianya belum mencukupi dengan Surat Dispensasi dari
pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria
maupun wanita (Pasal 7 ayat 2 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan). Pelaku
dan para pihak yang terlibat dalam pernikahan di bawah umur akan sulit
dikriminalkan tanpa melihat aspek sebab-sebab (alasan), proses dan tujuan dari
pernikahannya.
Pembahasan
Menurut Fauzia dalam Prakoso dan I Ketut (1987: 2), perkawinan
merupakan suatu ikatan yang sah untuk membina rumah tangga dan keluarga
sejahtera, bahagia dimana kedua suami istri memikul amanah dan tanggung
jawab, si istri oleh karenanya akan mengalami suatu proses psikologi yang berat
yaitu kehamilan dan melahirkan yang meminta pengorbanan. Menentukan batas
umur dalam melangsungkan perkawinan sangatlah penting. Ini dimaksudkan agar
perkawinan yang dilaksanakan dapat menciptakan keluarga yang sejahtera,
bahagia, sehat dan kekal. Pada dasarnya kematangan jiwa dan fisik seseorang
sangat besar artinya untuk memasuki gerbang rumah tangga. Karena perkawinan
di usia muda sering kali menimbulkan masalah dibelakang hari, bahkan tidak
sedikit berantakan ditengah jalan. Kasus perkawinan dibawah umur, masih kerap
terlihat di daerah pedesaan dengan berbagai faktor yang melatar belakanginya.
Desa Sumberejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang merupakan desa
terpencil dengan kualitas (Sumber Daya Manusia) SDM yang masih rendah dan
masih kental menjalankan adat budaya yang ada. Dimana peran orang tua dalam
menentukan jodoh dan perkawinan bagi keturunannya sangat besar sekali
pengaruhnya. Perkawinan dijadikan alternatif utama sebagai jalan pintas untuk
menyelesaikan permasalahan dalam keluarga. Sehingga hal ini menambah
semakin panjangnya kasus perkawinan di bawah umur yang terjadi di desa
tersebut. Dengan Semakin meningkatnya kasus perkawinan di bawah umur dari
tahun ketahun di Desa Sumberejo. Timbul suatu pemikiran dari penulis guna
mengadakan penelitian dalam bentuk skripsi, untuk mengetahui faktor apa saja
yang melatar belakangi terjadinya perkawinan dibawah umur dan dampaknya
terhadap kesejahteraan keluarga. Disamping itu upaya upaya apa, yang
dilakukan oleh Kepala Desa dalam menanggulangi peningkatan kasus perkawinan
dibawah umur. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian
deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan sifat penelitiannya eksplorasi dan
klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial. Teknik pengumpulan
data yang dipakai adalah wawancara atau interview, observasi dan dokumentasi.
Sedangkan teknik analisa data dan penyajian data penelitian dengan pendekatan
kualitatif, pada prinsipnya berproses dalam bentuk induksi, interpretasi dan
konseptualisasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan
kasus perkawinan dibawah umur yang terjadi di Desa sumberejo Kecamatan
Poncokusumo Kabupaten Malang. Disebabkan oleh faktor ekonomi yang menjadi
faktor utama, bahwa perkawinan di bawah umur dilakukan sebagai alternatif
untuk meringankan beban perekonomian keluarga. Dan faktor pendidikan yang
rendah, membuat pola pikir dan perilaku mereka masih primitif dan kurang
berkembang. Disamping itu masih berlakunya kebiasaan tradisional masyarakat,
dengan melakukan perjodohan dan peminangan sejak kecil pada keturunan
mereka. Ini dimaksudkan untuk menghindari dari perbuatan zina dan
mengantisipasi pandangan masyarakat terhadap keturunan mereka, akan dijuluki
perawan tua. Kian merebaknya free seks dikalangan remaja akibat semakin
mengendornya kontrol sosial dalam masyarakat, karena adanya pergeseran nilai
budaya yang ada. Kurang siapnya mental dan fisik mereka dalam berumah tangga,
mengakibatkan keharmonisan dalam rumah tangga terganggu. Seringnya terjadi
pertengkaran yang berujung pada kasus perceraian dan (Kekerasan Dalam Rumah
Tangga) KDRT yang dampaknya dirasakan juga oleh keturunan mereka.
Akibatnya terjadi penelantaran dan pola asuh yang salah sehingga berpengaruh
pada perkembangan dan masa depan anak. Perekonomian yang kian terpuruk
akibat penghasilan yang minim, berdampak buruk bagi keluarga. Mereka tidak
dapat memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga. Serta terganggunya kesehatan
ibu dan anak akibat kurang kesiapan fisik dan psikologi mereka, sehingga
berpengaruh terhadap proses persalinan dan kesahatan bayi. Dengan labilnya usia
mereka sehingga seringnya mengalami frustasi sehingga berdampak pada
psikologis. Mengakibatkan timbulnya tekanan batin, strees dan depresi. Sehingga
mengancam kebahagiaan, kesejahteraan dan kelangsungan hidup keluarga.
Kurang adanya dukungan dan kerja sama yang baik antara pihak desa dengan
masyarakat, serta kurangnya ketegasan, pengayoman dan kebijakan dari kepala
desa utamanya dalam hal sosialisasi sadar hukum. Khususnya Undang undang
Perkawinan No 1 Tahun 1974, yang mengatur tentang batas umur dalam
melangsungkan perkawinan. Membuat kasus perkawinan di bawah umur di Desa
Sumberejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang kian meningkat dengan
tidak adanya titik terang jalan penyelesaiannya.
Di sisi lain, secara filsafati juga merupakan pemberian Tuhan kepada
setiap makhluknya yang dapat ditinggalkan dengan lasan apapun. Hak asasi
manusia ini antara lain meliputi hak untuk hidup, hak untuk beragama, hak untuk
membina rumah tangga satu sama lain, dll. Terdapat berbagai aturan main untuk
membina rumah tangga secara baik. Pada ranah internasional, hak asasi yang
berkenaan dengan pengaturan untuk membina rumah tangga secara baik terdapat
dalam Deklarasi Universal HAM dan di Indonesia juga terdapat dalam Undang-
undang tentang HAM dan UU Nomor 1 tahun 1974. Sedangkan mengenai
pembatasan umur usia kawin di sesuaikan dengan budaya di daerah masing-
masing. Undang-undang ini dianggap telah mencerminkan kondisi dan nilai-nilai
masyarakat setempat baik dari segi budaya, kultur dan agama yang ada di
Indonesia. (Nurhidayatuloh dan Marlina, 2011:212)
Dampak adalah suatu akibat dari perbuatan yang kita lakukan. Dampak
terbagi ke dalam dua hal, yaitu dampak negatif dan dampak positif. Dampak
negatif adalah suatu akibat buruk yang akan kita dapatkan dari perbuatan yang
akan ataupun telah kita lakukan. Sedangkan dampak positif adalah suatu akibat
baik yang akan kita dapatkan dari perbuatan yang akan ataupun telah kita lakukan.
Sebelum mengerjakan sesuatu biasanya seseorang selalu memikirkan dua hal
tersebut. Seseorang biasanya menimbang-nimbang kedua dampak tersebut
sebelum mengerjakan sesuatu yang dianggap dapat memberikan dampak yang
besar bagi kehidupannya. Contohnya saja dengan melakukan perkawinan dibawah
umur. Seseorang yang melakukan hal tersebut akan menerima dampak positif dan
negatif dari perbuatannya tersebut.
Dampak positif dari perkawinan dibawah umur yaitu, dengan menikah di
usia dini dapat meringankan beban ekonomi keluarga menjadi lebih menghemat
atau ringan. Apabila pernikahan dini ini memang sudah terencana dan direstui
oleh kedua belah pihak keluarga. (Novi astuti, 2013)
Menurut Novi astuti (2013,1) selain dampak positif terdapat dampak
negatif dari pernikahan dibawah umur. Dampak negatif dari perkawinan dibawah
umur antara lain ditinjau dari beberapa segi.
Dilihat dari segi pendidikan
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa seseorang yang
melakukan pernikahan terutama pada usia yang masih muda, tentu akan
membawa berbagai dampak, terutama dalam dunia pendidikan. Dapat diambil
contoh, jika seseorang yang melangsungkan pernikahan ketika baru lulus SMP
atau SMA, tentu keinginannya untuk melanjutkan sekolah lagi atau menempuh
jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak akan tercapai atau tidak akan terwujud.
Hal tersebut dapat terjadi karena motivasi belajar yang dimiliki seseorang
tersebut akan mulai mengendur karena banyaknya tugas yang harus mereka
lakukan setelah menikah. Dengan kata lain, pernikahan dini merupakan faktor
menghambat terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran. Selain itu belum lagi
masalah ketenaga kerjaan, seperti realita yang ada didalam masyarakat, seseorang
yang mempunyai pendidikan rendah hanya dapat bekerja sebagai buruh, Dengan
demikian dia tidak dapat mengeksplor bakat dan kemampuan yang dimilikinya.
Apabila seseorang tidak menikah dini mungkin dapat menjadi generasi
penerus bangsa yang tangguh dan dapat mengisi kemerdekaaan dengan baik.
Dari segi kesehatan
Menurut buku kesehatan yang saya baca perempuan yang menikah di usia
dini kurang dari 15 tahun memiliki banyak resiko, sekalipun ia sudah mengalami
menstruasi atau haid. Ada dua dampak medis yang ditimbulkan oleh pernikahan
usia dini ini, yakni dampak pada kandungan dan kebidanannya. Penyakit
kandungan yang banyak diderita wanita yang menikah usia dini, antara lain
infeksi pada kandungan dan kanker mulut rahim. Hal ini terjadi karena terjadinya
masa peralihan sel anak-anak ke sel dewasa yang terlalu cepat. Padahal, pada
umumnya pertumbuhan sel yang tumbuh pada anak-anak baru akan berakhir pada
usia 19 tahun. Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh para
ahli, rata-rata penderita infeksi kandungan dan kanker mulut rahim adalah wanita
yang menikah di usia dini atau dibawah usia 19 tahun. Untuk resiko kebidanan,
wanita yang hamil di bawah usia 19 tahun dapat beresiko pada kematian, selain
kehamilan di usia 35 tahun ke atas. Resiko lain selanjutnya, hamil di usia muda
juga rentan terjadinya pendarahan, keguguran, hamil anggur dan hamil prematur
di masa kehamilan. Selain itu, resiko meninggal dunia akibat keracunan
kehamilan juga banyak terjadi pada wanita yang melahirkan di usia dini. Salah
satunya penyebab keracunan kehamilan adalah tekanan darah tinggi atau
hipertensi. Dengan demikian dilihat dari segi kesehatan atau medis, pernikahan
dini akan membawa banyak kerugian. Oleh karena itu, orang tua wajib berpikir
masak-masak jika ingin menikahkan anaknya yang masih di bawah umur. Bahkan
pernikahan dini bisa dikategorikan sebagai bentuk kekerasan psikis dan seks bagi
anak yang kemudian dapat mengalami trauma.
Dari segi psikologi
Menurut para psikolog, ditinjau dari sisi sosial pernikahan dini dapat
mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih
labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan
dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh
karenanya, dalam hukum perdata telah diatur bahwa pernikahan seseorang harus
diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

Penutup
Perkawinan dibawah umur atau sering disebut dengan pernikahan dini
lebih banyak dampak negatif dibandingkan dengan dampak positifnya. Bukan
hanya membuat masa depan menjadi suram, namun juga dapat menimbulkan
beberapa hal negatif baik itu secara pendidikan, psikologis dan kesehatan. Maka
dari itu peulis menyarankan agar pernikahan dini sebaiknya tidak terjadi,
menikahlah di umur yang sudah mapan agar dapat menjalin rumah tangga yang
baik dalam segala segi.

Daftar Pustaka

Astuti, Eka Novi. 2015. Dampak Negative dan Positive


Pernikahan Dini, online,
(http://www.kompasiana.com/ekanovias/melihat-dampak-
negative-dan-posi tive-pernikahan-
dini_552025208133115c719de36c, diakses pada 30 Maret
2017 pukul 23.13 WIB).

Fauzia, Irma. 2016. Dampak Perkawinan Dibawah Umur Terhadap


Kesejahteraan Keluarga (Studi di Desa Sumberejo
Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang), online,
(https://Www.Researchgate.Net/Publication/50432033_DAMP
AK_PERKAWINAN_DIBAWAH_UMUR_TERHADAP_KESEJAHTERA
AN_KELUARGA_Studi_di_Desa_Sumberejo_Kecamatan_Ponco
kusumo_Kabupaten_Malang, diakses pada 30 Maret 2017
pukul 21.18 WIB).

Nurhidayatulloh dan Leni Marlina. 2011. Perkawinan di Bawah Umur: Studi


Kasus di Desa Bulunghinit, Labuhan Batu, Sumatera Utara. UII:
Yogyakarta.
Risky. 2015. Perkawinan dibawah umur, online, (http://www.landasanteori.
com/2015/10/perkawinan-dibawah-umur-menurut-hukum.html, diakses
pada 1 April 2017 pukul 20.03 WIB).