Anda di halaman 1dari 8

1

PENTINGNYA PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP PERNIKAHAN


DI USIA DINI

Mita Pratiwi
Matematika, FMIPA, Universitas Sriwijaya
Email: mitapratiwi820@gmail.com
Abstrak
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya
melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Sementara itu, dilain pihak para
orang tua memiliki pemikiran yang lain tentang pendidikan. Para orang tua
memiliki rasa enggan untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah
dikarenakan menganggap dapat mengurangi tenaga kerja, menghabiskan uang
dan lain sebagainya. Remaja yang melakukan pernikahan dini sebelum usia
biologis maupun psikologis yang tepat, sangat rentan menghadapi dampak
buruknya. Terdapat bebrapa faktor yang mempengaruhi pernikahan dini yaitu,
faktor ekonomi, selain faktor ekonomi, pernikahan di usia dini ini juga
dipengaruhi pendidikan. Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan
bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa,
dan berkakhlak mulia, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradad
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pernikahan dini dapat
di atasi dengan cara memberikan pendidikan kepada perempuan. Agar para
perempuan memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi sehingga tidak
dipandang sebelah mata oleh orang lain terutama kaum pria.

Kata Kunci : perempuan, pernikahan dini, pendidikan

A. Pendahuluan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya
melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah
bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap
pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berfikir, merasa, atau
tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap
seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan
tinggi, universitas atau magang.
Pendidikan pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan dari hidup dan
kehidupan manusia sehari-hari. Pendidikan merupakan proses pengalihan
(transfer) kebudayaan yang berlaku pada individu atau kelompok masyarakat di
daerah terbuka (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1994:69). Ini
bearti bahwa kebudayaan diperoleh melalui proses belajar, sebagai hasil interaksi
2

antara anggota kelompok (Suparlan, 1984:82 dalam Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan RI, 1994:70).1
Sementara itu, dilain pihak para orang tua memiliki pemikiran yang lain
tentang pendidikan. Para orang tua memiliki rasa enggan untuk mengirimkan
anak-anak mereka ke sekolah dikarenakan menganggap dapat mengurangi tenaga
kerja, menghabiskan uang dan lain sebagainya. Kalaupun mereka mengirim anak-
anaknya ke sekolah, biasanya tidak sampai ke jenjang SMP maupun SMA. Di sisi
lain, anak-anak membutuhkan pendidikan agar masa depan mereka lebih terarah
dan tertuju kepada apa yang mereka cita-citakan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1994:122) menyatakan bahwa
Pada masa yang lalu, usia perkawinan di daerah penelitian relatif rata-rata usia
muda terutama anak-anak wanita. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI
(1994:96) juga menyatakan ...masyarakat di daerah penelitian pada zaman
dahulu, usia kawin para jejaka dan gadis rata-rata antara 16 sampai 17 tahun.
Bahkan di beberapa daerah tertentu seperti pada masyarakat Melayu tradisional
yang bermukim di Dompak Seberang, usia kawin bisa mencapai 13 tahun untuk
perempuan dan 15 tahun untuk laki-lai (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
RI, 1995:37).2
Remaja yang melakukan pernikahan dini sebelum usia biologis maupun
psikologis yang tepat, sangat rentan menghadapi dampak buruknya. Pada saat itu
kedua belah pihak belum siap untuk menghadapi tanggung jawab yang harus
diemban seperti orang dewasa. Faktanya pernikahan itu terjadi apabila kedua
belah pihak sudah siap untuk menghadapi berbagai masalah baik permasalahan
ekonomi, pasangan maupun anak. Sementara itu, mereka yang menikah dini
umumnya belum cukup mampu menyelesaikan permasalahan secara matang dan
seringkali timbulnya tindak kekerasan. Tindak kekerasan atau violence
didefinisikan sebagai an ambiguous term whose meaning is established throught
political process (Skolncik dikutip Pasalbessy, 2010:3).3 Dalam arti tingkah laku,
menyebutkan kekerasan sebagai ...its content and cuase are socially
constructed (Levi dikutip Pasalbessy, 2010:3).4 Dari pandangan demikian,
tampaknya perumusan tindakan kekerasan sangat terkait dengan tingkah laku
manusia yang bersifat kejam dan tidak manusiawi.
Kondisi kematangan psikologis ibu menjadi hal utama karena sangat
berpengaruh terhadap pola asuh anak di kemudian hari. Dalam mendidik anak
dibutuhkan sikap pendewasaan diri karena dalam mendidik atau mengasuh anak
dibutuhkan sikap yang sabar dan dewasa. Jika tidak, maka sang ibu hanya akan
merasa terbebani sebab di satu sisi masih ingin menikmati indahnya masa muda
dan di sisi yang lain, sang ibu harus mengurusi keluarganya sehingga arti atau
gambaran tentang kasih sayang akan rusak, akibat belum pahamnya sebuah
lembaga pernikahan tersebut.
Seiring dengan adanya kemajuan dalam segala bidang dewasa ini terutama
dalam bidang pendidikan, hal tersebut sudah banyak berubah dari kebiasaan-
3

kebiasaan yang berlaku. Pada zaman dahulu, anak perempuan sedikit dibedakan
dengan anak laki-laki dalam menuntut ilmu pengetahuan namun dewasa ini, anak
laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam mengenyam ilmu
pendidikan disekolah. Yang menyebabkan, perubahan pola pikir para orang tua
yang ingin menikahkan anaknya di usia dini. Dapat dikatakan bahwa dalam masa
perkembangan pendidikan dewasa ini, kesadaran masyarakat tentang arti
pendidikan nampak semakin jelas.

B. Perempuan dalam Pandangan Islam


Perempuan merupakan makhluk lemah lembut dan penuh kasih sayang
karena perasaannya yang halus. Secara umum sifat perempuan yaitu keindahan,
kelembutan serta rendah hati dan memelihara. Demikianlah gambaran perempuan
yang sering terdengar di sekitar kita. Perbedaan secara anatomis dan fisiologis
menyebabkan pula perbedaan pada tingkah lakunya, dan timbul juga perbedaan
dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan-kegiatan intensional yang
bertujuan dan terarah dengan kodrat perempuan. Dengan sifat inilah, seringkali
timbul ketidakadilan terhadap perempuan. Terkadang perempuan dianggap lebih
rendah derajatnya dibandingkan laki-laki sehingga mereka tidak berhak untuk
melakukan hal-hal yang setara dengan laki-laki seperti bekerja, sekolah, maupun
menggapai cita-cita.
Menurut Nurhidayatuloh (2011:80) beberapa dekade terakhir ini, wanita
menjadi sorotan dunia internasional bahkan sampai ke PBB (Perserikatan
Bangsa-Bangsa). Hal ini berkaitan dengan perjuangan mereka terhadap
kesetaraan gender yang sempat membooming di negara-negara yang di pahami
mempunyai kebijakan yang kebanyakan mendeskriditkan wanita, terutama
negara-negara yang sudah dianggap terkontaminasi dengan doktrin agama,
khususnya Islam.5
Kenyataannya semua agama yang ada dimuka bumi ini mengajarkan
keadilan. Begitu juga dengan agama Islam yang sangat menekankan pentingnya
keadilan tersebut, seperti firman Allah SWT yang berbunyi :
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
mengakkan(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.(Q.S. Al Maidah:8).
Menurur Umar (1998) Al-Quran, sebagai prinsip-prinsip dasar atau
pedoman moral tentang keadilan tersebut, mencakup berbagai anjuran untuk
menegakkan keadilan teologis (agama), ekonomi, politik, budaya, kultural
termasuk gender. Secara diskrit, didunia ini yang diakui sebagai manusia
4

lumrah adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.


Meskipun menyandang predikat sebagai manusia lumrah, akan tetapi terdapat
ketimpangan di antara keduanya, represi (penindasan) yang sungguh luar biasa.
Laki-laki menguasai perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, ini adalah
realitas yang tidak bisa ditolak oleh siapapun.6

C. Faktor dan Dampak Pernikahan di Usia Dini


Sebelum kita membahas tentang faktor pernikahan di usia dini, sebaiknya
kita akan membicarakan tentang dampaknya terlebih dahulu. Menurut
Atmodiharjo (2008), Ada 3 hal mendasar yang patut menjadi perhatian dalam
pernikahan usia dini. Pertama aspek fisik, kedua aspek mental, dan ketiga faktor
ekonomi.7 Yustiana (2008) menambahkan dengan menyatakan, Organ
reproduksi memang telah matang, tetapi secara seksual/perkembangan fisik untuk
hamil belum matang.8 Dengan demikian, dengan melakukan pernikahan dini
bearti melakukan pemaksaan akan kematangan dan kedewasaan fisik dan mental
anak.
Setelah sekian banyak dampak diakibatkan dari pernikahan dini namun
masih banyak saja masyarakat yang masih melakukan pernikahan dini. Hal ini
membuktikan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai
dampak dan akibat dari pernikahan dini tersebut. Kemungkinan lain, pengetahuan
mengenai kesehatan reproduksi masih sangat kurnag di daerah pedesaan.
Adapun faktor lain yang membuat masyarakat desa menikah muda yaitu
faktor ekonomi. Koenjaraningrat (1984:36) dalam Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI (1996:50) menuturkan:
Anak dalam masyarakat petani di desa dianggap mempunyai nilai
sosial dan ekonomi yang besar, karena dapat menambah gengsi dan
hubungan sosial orang tuanya pada waktu menikahkan anak gadisnya,
dan menambah penghasilan rumah tangga apalagi kemudian
dipekerjakan...9
Seorang anak perempuan yang sudah tidak bersekolah lagi apabila dilamar oleh
seorang pemuda, maka orang tua sang perempuan tidak keberatan untuk
menikahkannya, walaupun saat itu usia masih belasan tahun. Hal ini dikarenakan
orang tua sang perempuan menganggap beban keluarganya telah berkurang.
Selain faktor ekonomi, pernikahan di usia dini ini juga dipengaruhi
pendidikan. Tugas seorang anak adalah sekolah dengan baik. Namun faktor
ekonomi seringkali terjadinya putus sekolah. Karena tidak sekolah dan tidak ada
kegiatan positif yang bisa ia lakukan, maka ketika datang sesorang yang mau
melamar akan langsung diterima tanpa memikirkan efek yang akan terjadi ke
depannya. Padahal dengan pendidikan, kehidupan anak akan menjadi jauh lebih
baik. Sudah menjadi kewajiban orang tua agar anak mendapatkan pendidikan
5

yang layak, seberat apapun masalah yang dihadapinya. Maka, daripada itu
pendidikan sangatlah penting bagi seorang anak.

D. Solusi dengan Pendidikan


Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan
berkakhlak mulia, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam
mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradad berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Selain itu, terdapat pendapat lain dari tujuan pendidikan nasional menurut
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Pasal 3 yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.10
Tujuan pendidikan bisa didefinisikan sebagai salah satu unsur dari
pendidikan yang berupa rumusan tentang apa yang harus dicapai oleh para
peserta didik. Fungsi dari tujuan pendidikan ini adalah untuk memberikan arahan
serta pedoman bagi semua jenis pendidikan yang dilakukan. Sementara tujuan
pendidikan secara umum adalah untuk mengubah segala macam kebiasaan buruk
yang ada di dalam diri manusia menjadi kebiasaan baik yang terjadi selama masa
hidup, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang
mmapu bersaing dan menjawab berbagai tantangan di masa depan.
Untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan
relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan
sehingga mampu mengahadapi tantangan sesuai dengan tuntutan dan perubahan
kehidupan lokal, nasional, dan global khususnya peran perempuan sebagai bagian
dari pelaku pembangunan, maka disini diperlukanlah pendidikan.
Pendidikan merupakan hak setiap individu, kaya-miskin, lemah-kuat, pandai-
bodoh, laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, pendidikan adalah
kebutuhan bagi semua tanpa memandang latar belakang. Salah satu penyebab
penindasan, peminggiran, subordinasi, pernikahan dini bahkan perlakuan kasar
terhadap perempuan adalah kemiskinan pendidikan yang dialami oleh kaum
perempuan. Salah satu bagian dari Hak Asasi Manusia yang dimiliki manusia
sejak lahir, dimanapun dan dalam waktu apapun, harus diberikan bahkan tidak
boleh dihalangi adalah hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Oleh karena itu, pembekalan kaum perempuan dengan pendidikan dalam
konteks sekarang sangat penting, bahkan menjadi kewajiban, karena kepribadian
umat dan bangsa ditentukan anaknya. Maka, pendidikan pada kaum perempuan
dimulai proses pendidikan mental, demokrasi dan pembentukan kepribadian
6

dalam keluarga. Selanjutnya, mempersiapkan mereka menjadi sumberdaya


manusia yang unggul dan sempurna.
Pendidikan juga sangat penting agar mengurangi tingkat diskriminasi
terhadap perempuan. Menurut Nurhidayatuloh (2011:80) Diskriminasi terhadap
wanita disinyalir karena imbas dari kultur di beberapa negara yang memposisikan
wanita hanya sebagai obyek hidup. Mereka bahkan dianggap sebagai makhluk
berkasta nomor dua dengan kedudukan di bawah laki-laki.11
Dan juga dengan adanya pendidikan bagi perempuan, para masyarakat yang
memiliki pemikiran yang terbelakang atau tidak memperdulikan pentingnya
pendidikan akan berangsur-angsur mengubah cara pandang mereka bahwa
pendidikan itu sangat penting bagi keluarganya. Dengan demikian, masalah
pernikahan dini akan berangsur-angsur hilang dari kebiasaan mereka.
D. Hak Asasi Pendidikan
Hak atas pendidikan sebagai bagian dari hak asasi manusia di Indonesia tidak
sekadar hak moral melainkan juga hak konstitusional. Dalam UUD 1945
(pascaperubahan), khususnya Pasal 28 C ayat (1) yang menyatakan, Setiap
orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan
dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia.12 Selain ketentuan di atas, Pasal 31 ayat (2) UUD
1945 (pasca perubahan) juga merumuskan bahwa setiap warga negara wajib
mengikuti pendidikan dasar, sedangkan pemerintah wajib membiayainya. 13 Dan
pemerintah memiliki kewajiban untuk mengusahakan penyelenggaraan
pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan
memprioritaskan anggaran sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) yang terkandung dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4).14
Selain ketentuan diatas, terdapat ketentuan tentang hak asasi manusia yang
menegaskan jaminan hak atas pendidikan. Dan hak untuk memperoleh
pendidikan sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya. Dengan demikian,
perempuan memiliki hak asasi pendidikan tanpa terkecuali. Perempuan
diwajibkan untuk mendapatkan pendidikan dasar yang layak agar dapat
menunjang kehidupannya tanpa bergantung kepada siapapun. Dan dengan adanya
hukum yang mengatur hak atas pendidikan perempuan, dapat menjamin
kehidupan perempuan yang lebih layak dan mengubah cara pandang para orang
tua terhadap pernikahan dini.

E. Penutup
Perempuan adalah makhluk yang lemah lembut dan seringkali dipandang
sebelah mata oleh orang lain sehingga perempuan sering mengalami diskriminasi
7

dan penindasan baik secara mental maupun fisik. Dengan keaadaan inilah
seringkali kebanyakan perempuan yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi
dengan ekonomi yang rendah akan melakukan pernikahan dini.
Pernikahan dini merupakan momok bagi para penerus bangsa ini terutama
perempuan. Pernikahan dini memiliki faktor yang mempengaruhinya diantaranya
faktor ekonomi dan faktor pendidikan. Selain itu, terdapat dampak dari
pernikahan dini diantaranya terhadap fisik maupun mental. Pernikahan dini dapat
di atasi dengan cara memberikan pendidikan kepada perempuan. Agar para
perempuan memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi sehingga tidak dipandang
sebelah mata oleh orang lain terutama kaum pria. Selain itu, mengubah cara
pandang para orang tua betapa pentingnya pendidikan saat ini bagi kaum
perempuan agar kelak dapat menjadi perempuan yang memiliki kedudukan setara
dengan kaum pria.

Catatan Akhir
1
Suparlan, 1984:82 dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1994:70
2
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1995:37
3
Skolncik dikutip Pasalbessy, 2010:3
4
Levi dikutip Pasalbessy (2010:3)
5
Nurhidayatuloh (2011:80)
6
Umar (1998)
7
Atmodiharjo (2008)
8
Yustiana (2008)
9
Koenjaraningrat (1984:36) dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1996:50)
10
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3
11
Nurhidayatuloh, Perkawinan Dibawah Umur Perspektif HAM (Jurnal Al-Mawarid Volume XI Nomor 2, September-
Januari 2011).
12
UUD 1945 Pasal 28C ayat (1) tentang Hak Asasi Manusia
13
UUD 1945 Pasal 31 ayat (2) tentang Pendidikan dan Kebudayaan
14
UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4) tentang Pendidikan dan Kebudayaan
Daftar Pustaka

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3


UUD 1945 Pasal 28C ayat (1) tentang Hak Asasi Manusia
UUD 1945 Pasal 31 ayat (2) tentang Pendidikan dan Kebudayaan
UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4) tentang Pendidikan dan Kebudayaan
Nurhidayatuloh. 2011. Politik Hukum Tentang Hak-Hak Politik Perempuan Indonesia.
Nurhidayatuloh dan Leni Marlina, Perkawinan Dibawah Umur Perspektif HAM (Jurnal Al-Mawarid Volume XI
Nomor 2, September-Januari 2011).