Anda di halaman 1dari 24

BAB I

MAKSUD DAN TUJUAN


A1 : Agar Praktikan mengetahui dan memahami suatu larutan, apakah asam atau basa dengan
menggunakan indikator MM, MO, Penolftalin, kertas lakmus merah dan biru serta universal
indikator pH.
A2 : Membuat larutan baku primer asam oksalat (sudah tersedia)
A3 : Dengan larutan baku primer, maka akan mendapatkan titar dari NaOH dengan menggunakan
indikator PP.
A4 : Menentukan kadar asam asetat/cuka (CH3COOH) mereaksikannya dengan NaOH 0.1 N dengan
menggunakan indikator PP dan tentukan dalam %
A5 : Membuat larutan bahan baku primer boraks (sudah tersedia)
A6 : Dengan larutan bak primer boraks, akan di dapat titar dari HCl dengan titrasi menggunakan
indikator MO
A7 : Menentukan kadar NaHCO3 (basa lemah dengan asam kuat) dengan menggunakan indikator
MO
A8 : Menentukan kadar titrasi dari larutan campuran Na2CO3 dan NaHCO3 (campuran basa lemah
dengan asam kuat) dengan indikator PP dan MO
A9 : Menentukan kadar titrasi dari larutan campuran NaOH dan Na2CO3 dengan indikator PP dan
MO
BAB II
TEORI DASAR
1. Teori Dasar Asam Basa
Asam dan basa ataupun netral merupakan sifat suatu larutan, sedangkan menurut teori para
ahli, asam dan basa adalah sebagai berikut :
Arrhenius
Asam adalah zat yang melarut ke dalam air memberikan ion-ion H +, dan basa adalah zat yang
melarut dalam air untuk memberikan ion-ion OH-.
Bronsted Lowry
Asam : adalah zat yang memberikan proton
HCl --------------- H + Cl
asam proton
Basa : adalah zat yang menerima proton
NH3 ---------------- NH4
basa proton
Lewis
Asam adalah zat yang dapat menerima sepasang electron sunyi dan basa adalah zat yang dapat
memberikan sepasang electron sunyi.

Suatu larutan dapat diketahui apakah asam atau basa dengan menambahkan indikator yang
merupakan zat organik yang mempunyai warna asam atau basa yang berbeda dengan warna
ionnya.
Indikator suatu larutan bersifat asam ialah kemampuan larutan itu mengubah kertas lakmus
biru menjadi merah, sedangkanpada lakmus merah tidak bereaksi. Suatu larutan bersifat basa
apabila larutan tersebut mampu mengubah kertas slakmus merah menjadi lakmus biru,
sedangkan pada lakmus biru tidak bereaksi.
Beberapa contoh indikator yang biasa dipakai untuk mengetahui jenis larutan
antara lain :
No Indikator Trayek pH Warna Asam Warna Basa
1. Metil Orange (MO) 3,1 - 4,4 Merah Sindur/jingga
2. Metil Merah (MM) 4,2 6,2 Merah Kuning
3. Lakmus 5,0 - 8,0 Merah Biru
4. Phenoftalin (PP) 8,2 10,0 Tak berwarna Merah

Universal indikator pH yang berbentuk stick/ paper mampu menunjukkan nilai ph dari 1-14,
dengan cara mencelupkan kertas tersebut kedalam larutan lalu dilihat warna yang muncul dan
kemudian samakan dengan warna yang terdapat dalam kemasan.

2. Teori Dasar Titrimetri

Titrimetri atau volumetrik adalah cara analisa jumlah berdasarkan pengkuran volume
larutan pereaksi yang mempunyai kepekaan tertentu dan direaksikan dengan larutan contoh yang
sedang ditetapkan kadarnya. Cara ini disebut titrasi atau penitaran.
Titrasi merupakan metode analisis kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam
laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volum memainkan
peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisis volumetrik. Analisis
titrimetri merupakan satu dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan
hubungan stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Analisis cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia
seperti: aA + tT hasil dengan keterangan:
(a) molekul analit A bereaksi dengan
(t) molekul pereaksi T.
Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret,
dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan yang disebut belakangan
disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan suatu proses standardisasi.
Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah ditambahkan.
Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran
berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang
bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Indikator asam basa terbuat
dari asam atau basa organik lemah, yang mempunyai warna berbeda ketika dalam keadaan
terdisosiasi maupun tidak. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik
ekivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan
suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator
untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya)
merupakan salah satu aspek penting dari analisis titrimetri. Istilah titrasi menyangkut proses ntuk
mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Selama bertahun-tahun
istilah analisis volumetrik sering digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat dari segi
yang ketat, istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran volum tidak perlu
dibatasi oleh titrasi.

Cara titrasi ini mempunyai beberapa keuntungan diantaranya :

1. Pengerjaannya lebih sederhana, cepat dan kemungkinan timbulnya kesalahan relatif kecil.

2. Penggunaan pereaksi / zat kimia lebih hemat.

Metode Titrasi
1. Titrasi dapat dilakukan dengan berbagai metoda, diantaranya yaitu :
2. Titrasi asam dan basa ( Asidimetri dan Alkalimetri ).
3. Titrasi Oksidimetri.
4. Titrasi Reduktometri.
5. Titrasi Pengendapan (presipitasi).
6. Titrasi Kompleksometri.
Ada 3 jenis dalam titrasi asam basa
Dalam penggunaan metoda titrasi, yang pertama kali diuji dalam metoda titrasi asam-basa.
1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Contoh titrasi asam kuat dengan basa kuat adalah titrasi 25 mL larutan HCl 0,1 M dengan NaOH
0,1M. Kurva titrasinya akan akan memperlihatkan bahwa di sekitar titik ekivalen terlihat garis
kurva naik tajam,yang mengartikan bahwa pada daerah tersebut, penambahan sedikit NaOH
telah menimbulkan perubahan pH yang besar. Oleh karena itu, indikator dimasukkan pada
larutan asam yang akan dititrasi bukan pada larutan basa
2. Titrasi asam lemah dengan basa kuat
Contoh titrasi asam lemah dengan basa kuat adalah titrasi 25 mL CH3COOH 0,1 M dengan
larutan NaOH 0,1. Kurva titrasi memperlihatkan bahwa setelah titik ekivalen, pH larutan
cenderung naik
3. Titrasi basa lemah dengan asam kuat
Contoh titrasi antara basa lemah dengan asam kuat adalah titrasi 25 mL NH4OH dengan HCl
0,1M. Titrasi ini mirip dengan titrasi asam lemah dengan basa kuat, tetapi kurva yang terjadi
kebalikannya, cenderung turun.
Cara Menghitung Hasil Titrasi
Normalitas (N)
Jumlah gram setara zat yang dititar = jumlah gram setara larutan baku.
Rumus Umum :
N1 x V1 = N2 x V2
Dimana : N1 = Normalitas yang dititar
N2 = Normalitas penitar
V1 = Volume yang dititar
V2 = Volume penitar
V1 + N1 dan V2 diketahui maka N2 dapat dicari dengan rumus :

jumlah milligram setara


jumlah mol
jumlah milligram setara = jumlah mL x N
Pengenceran
Bila suatu larutan diencerkan volumenya akan bertambagh sedangkan kepekatannya akan
berkurang, tetapi jumlah bobot yang dilarutkan akan tetap. Dalam perhitungan, pengenceran
dinyatakan dengan P = faktor pengenceran.
Pada percobaan A7, A8, dan A9 pengenceran dilakukan dengan menggunakan air suling yang
tidak mengandung CO2, sedangkan pada percobaan A3, A4, dan A6 menggunakan air suling
biasa.

Menghitung Kadar Zat


Percobaan A3, A4, dan A6, A7
dalam gram/Liter
Kadar = ml x N x BE x fP
dimana :
ml = larutan penitar
N = Normalitet larutan penitar
BE = Bobot setara zat yang ditetapkan
fP = Faktor pengenceran
Percobaan A8 dan A9
Kadar Kadar Na2CO3 = ( 2 x a ) ml x N x P x BE
Kadar NaHCO3 = ( b a ) ml x N x P x BE
Kadar Kadar NaOH = ( a b ) ml x N x P x BE
Kadar NaHCO3 = ( 2 x b ) ml x N x P x BE
BAB III
ALAT DAN PEREAKSI

1. Alat

1. Neraca analitik
2. Corong gelas
3. Labu ukur 100 ml
4. Erlenmeyer 250 ml
5. Pipet volume 10 ml dan 25 ml
6. Buret 50 ml
7. Piala gelas 100 ml

2. Pereaksi

A1 ( Larutan Asam Basa)


1. asam khorida (HCl) 0,1 N . 1 N
2. asam sulfat (H2SO4) 0,1 N . 1 N
3. asam asetat (CH3COOH) 0,1 N . 1N
4. asam oksalat (H2C2O4) 0,1 N . 1N
5. asam nitrat (HNO3) 0,1 N . 1N
6. natrium hidroksida (NaOH) 0,1 N . 1N
7. natrium karbonat (Na2CO3) 0,1 N . 1N
8. natrium bikarbonat (NaHCO3) 0,1 N . 1N
9. natrium khorida (NaCl) 0,1N. 1N
10. amonium hidroksida (NH4OH) 0,1 N . 1N
A3 (Menetapkan titar NaOH dengan larutan baku Asam Oksalat 0,1000 N)
1. NaOH dengan N dicari
2. Asam Oksalat 0.1000 N
3. Indikator PP
A4 (Menetapkan kadar Asam Asetat (cuka) dengan NaOH)
1. NaOH 0.1 N
2. Asam asetat (cuka)
3. Indikator PP
A6(Menetapkan Titar HCl dengan larutan baku Boraks 0,1000N)
1. HCl 0.1 N
2. Boraks 0.1000 N
3. Indikator MO
A7 (Menetapkan kadar NaHCO3)
1. NaHCO3 0.25 N
2. HCl 0.1 N
3. Indikator MO
A8 (Menetapkan kadar campuran NaHCO3 dan Na2CO3)
1. Larutan contoh NaHCO3 + Na2CO3
2. Larutan HCl 0.1 N
3. Indikator PP dan MO
A9 (Menetapkan kadar campuran NaOH dan Na2CO3)
1. Larutan Contoh NaOH + Na2CO3
2. Larutan HCl 0.1 N
3. Indikator PP dan MO
BAB IV
REAKSI
A3 (Menetapkan titar NaOH dengan larutan baku Asam Oksalat 0,1000 N)
(COOH2)2 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O

A4 (Menetapkan kadar Asam Asetat (cuka) dengan NaOH)


NaOH + CH3COOH CH3COONa + H2O

A6 (Menetapkan Titar HCl dengan larutan baku Boraks 0,1000N)


2HCl + Na2B4O7 2NaCL + H2B4O7

A7 (Menetapkan kadar NaHCO3)


CO2

NaHCO3 + HCl NaCl + H2CO3

H2O

A8 (Menetapkan kadar campuran NaHCO3 dan Na2CO3)


Na2CO3 + HCl NaHCO3 + NaCl

CO2

Dengan + HCl NaCl + H2CO3

H2O
A9 (Menetapkan kadar campuran NaOH dan Na2CO3)
- Dengan indikator PP terjadi reaksi:
NaOH + HCl NaCl + H2O

Na2CO3 + HCl NaHCO3 + NaCl

- Dengan indikator MO terjadi reaksi:


CO2

NaHCO3 + HCl NaCl + H2CO3

H2O

BAB V
CARA KERJA
Cara Kerja A1
1) Siapkan tabung reaksi (3 buah) yang bersih, beri tanda atau nomor agar zat yang diamati tidak
tertukar, kemudian ketiganya diisi dengan larutan yang akan diamati sifat dari larutan tersebut
kira-kira 1-2 ml.
2) Diteteskan ke dalam masing-masing tabung reasi indikator PP selanjutanya amati perubahan
yang terjadi.
3) Kemudian cuci masing-masing tabung reaksi, percobaan diulangi pengerjaannya seperti yang
diatas tetapi dengan mempergunakan indicator yang lain, yakni Metyl Merah (MM), amati warna
yang terjadi. Selanjutnya lakukan pengerjaan dengan indicator Metyl Orange (MO).
4) Selanjutnya tes dengan kertas lakmus merah dan biru, caranya yakni dengan menggunakan pipet
tetes kemudian meneteskan masing-masing 1 tetes larutan pada kedua lakmus, amati perubahan
warna yang terjadi.
5) Untuk mengetahui berapa nilai pH masing-masing larutan dapat digunakan kertas Universal
indicator pH, yakni dengan mencelupkan kertas pH tersebut ke dalam larutan, kemudian
bandingkan warna yang dihasilkan dengan standar warna pada pack atau kemasan kertas
Universal indicator pH.
Cara Kerja A2 (larutan telah tersedia)
Cara Kerja A3
1). Buret dibersihkan dan dibilas dengan air suling
2). Buret dibilas dengan lar NaOH ..N, diisi hingga penuh dan dihimpitkan digaris
(skala) nol.
3). Lar baku (COOH)2 0,1000N dipipet 10ml kedalam Erlenmeyer dan dibubuhi 2 tetes
indicator PP
4). Kemudian dititar dengan lar NaOH dari buret hingga titik akhir berwarna merah
muda
5). Titar NaOH dihitung kadarnya dalam g/l
Cara Kerja A4
1). Buret dibersihkan dan dibilas dengan air suling
2). Buret dibilasi dengan lar NaOH 0,1N lalu di isi hingga penuh dan di himpitkan di garis (skala)
nol.
3). Asam Asetat dipipet 25ml kedalam labu ukur 100ml, diencerkan sampai garis dan dikocok 12
kali
4). Lar encer dipipet 10 ml kedalam Erlenmeyer dan dibubuhi 2 tetes indicator PP
5). Kemudian dititar dengan lar NaOH dari buret hingga titik akhir berwarna merah muda dan
kadar asam asetat dihitung dalam % atau g/l
Cara kerja A5 (larutan telah tersedia)
Cara Kerja A6
1). Buret dibersihkan dan dibilas denagn air suling.
2). Buret dibilas dengan HCl dan di isi hingga penuh dan dihimpitkan digaris (skala) nol.
3). Lar baku boraks dipipet 10ml kedalam Erlenmeyer
4). Dibubuhi 2-3 tetes indicator MO.
5). Kemudian dititar dengan lar HCl dari buret hingga titik akhir berwarna jingga.
6). Titar HCl dihitung kadarnya dalam g/l
Cara Kerja A7
1). Buret dibersihkan dengan air suling.
2). Buret diisi dengan HCl 0,1N (yang diketahui titarnya) di isi hingga penuh dan dihimpitkan
digaris (skala) nol.
3). 25ml lar NaHCO3 0,25N dipipet kedalam labu ukur 100ml lalu diencerkan dgn
air suling (yang tidak mengandung CO2) sampai tanda garis, kocok 12 kali. Air suling yang
dipakai tidak mengandung CO2
4). 10ml larutan encer dipipet kedalam Erlenmeyer lalu dibubuhi 2 tetes indikator
MO, kemudian dititar dengan HCl hingga titik akhir berwarna orange.
5). Hitung kadar NaHCO3 asal.
Cara Kerja A8 dan A9
1). Membersihkan buret dengan air suling.
2). Mengisi buret dengan HCl 0,1N (yang diketahui titarnya).
3). 25ml lar contoh dipipet dan diencerkan dengan air suling tak mengandung CO2, kocok 12 kali .
4). 10ml lar dipipet kedalam Erlenmeyer lalu dibubuhi 2 tetes PP.
5). Lalu dititar dengan lar HCl dari buret, larutan tetap tidak berwarna .
6). kemudian dibubuhi 2 tetes MO dan titrasi diteruskan lagi sampai berwarna orange.
7). Kadar Na2CO3 dan NaHCO3 masing-masing dihitung dan prosentase campuran
Tersebut untuk A8.
8). Kadar Na2CO3 dan NaOH masing-masing dihitung dan prosentase campuran
Tersebut untuk A9.
BAB VI
DATA PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN
Data dan Perhitungan A1
n Indicator Lakmus pH Ket
Larutan
o PP MO MM merah biru paper
1 HCl 0.1 N Tb O M M M 1 Asam
2 HCl 1 N Tb O M M M 1 Asam
3 H2SO4 0.1 N Tb M M M M 1 Asam
4 H2SO4 1 N Tb M M M M 1 Asam
5 CH3COOH 0,1 N Tb O M M M 4 Asam
6 CH3COOH 1 N Tb O M M M 3 Asam
7 H2C2O4 0,1 N Tb O M M M 1 Asam
8 H2C2O4 1 N Tb O M M M 1 Asam
9 HNO3 0.1 N Tb O M M M 1 Asam
1 Asam
Tb O M M M 1
0 HNO3 1 N
11 NaOH 0.1 N M O K B B 12 Basa
1 Basa
M O K B B 14
2 NaOH 1 N
1 Basa
Tb O K B B 10
3 Na2CO3 0,1 N
1 Basa
M O K B B 11
4 Na2CO3 1 N
1 Basa
M O K B B 10
5 NaHCO3 0.1 N
1 Basa
M O K B B 11
6 NaHCO3 1 N
1 Garam
- - - B M 7
7 NaCl 0.1 N
1 Garam
Tb O M B M 7
8 NaCl 1 N
1 Basa
Tb O K B B 10
9 NH4OH 0.1 N
2 Basa
Tb O M B B 10
0 NH4OH 1 N
Ket : tb = tidak berwarna M = merah O = orange K = kuning B = biru

Data dan Perhitungan A2 dan A3


Titrasi Vawal Vakhir Volume
I 0,0 ml 16,5 ml 16,5 ml
II 0,0 ml 16,8 ml 16,8 ml
Volume rata-rata = = = 16.65 ml

dik: V1 = 25 ml V2 = 16,65 ml
N1 = 0,1000 N BE = 40
dit: NNaOH ?
jwb : V1. N1= V2 . N2
25 x 0,1000 = 16,65 x N2
N2 =

= 0,1501 N
N NaOH = 0,1501 N
kadar NaOH = NNaOH x BE NaOH
= 0,1501 x 40 = 6,004 g/l
Data dan Perhitungan A4
Titrasi V awal V akhir Volume
I 0.0 ml 31.7 ml 31.7 ml
II 0.0 ml 31,6 ml 31.6 ml
Volume rata-rata = = = 31.65 ml

P = faktor pengenceran, untuk pemipetan 25ml :


P= x = 160

dik: N NaOH = 0.15


BE CH3COOH = 60
dit: kadar?
Kadar = Vrata-rata . N NaOH . BE CH3COOH . P mg/l
= 31.65 . 0.15 . 60 . 160 mg/l
= 45576 mg/l
= 45,576 g/l
CH3COOH % = x 100%

= x100% = 4.5576 %

Data dan Perhitungan A5 dan A6


Titrasi Vawal Vakhir Volume
1 0.0 ml 28.7 ml 28.7 ml
2 0.0 ml 28.6 ml 28.6 ml
Volume rata-rata = = = 28.65 ml

dik : N Boraks = 0.1000 N


BE Boraks = 190.6
dit : kadar HCl?
jwb: VBoraks . NBoraks = VHCl . NHCl
25 . 0.1000 = 28.65 . NHCl
NHCl =

= 0.0872 N
kadar HCl = NHCl . BE
= 0.0875 . 36.5
= 3.1828 g/l
Data dan Perhitungan A7
Titrasi Vawal Vakhir Volume
1 0.0 ml 8.0 ml 8.0 ml
2 7.9 ml 15.9 ml 8.0 ml
3 0.0 ml 7.9 ml 7.9 ml
4 7.8 ml 15.6 ml 7.8 ml
Volume rata-rata = = = 7.925 ml

dik : N HCl =0.87 N


BE NaHCO3 = 84
fP =

dit : kadar NaHCO3


jwb: NaHCO3 = x ml x N HCl x BE x fP
= 7.925 x 0.087 x 84 x 400
= 23116,36 gr
= 23,11636 gr/l
V1.N1= V2 . N2
N1 =

= 0.027579 N
N1 =

gr = N . BE
= 0.027579 . 84
= 2.316636 gr
Di kalikan dengan pengenceran 2.316636 x = 23.16636 gr/l

Data dan Perhitungan A8


Titrasi Vawal Vakhir Volume
PP 0.0 ml 1.9 ml 1.9 ml
I
MO 1.9ml 5.8 ml 3.9ml
PP 6.0 ml 7.8 ml 1.8 ml
II
MO 7.8 ml 11.7 ml 3.9 ml
Vrata-rata (a) = = 1.85 ml

Vrata-rata (b) = = 3.9 ml

PP :
BE Na2CO3 = 53
fP = = 400 ml

NHCl = 0.0995 N
kadar Na2CO3 = ( 2 x a ) ml x NHCl x BE Na2CO3 mg/l x fP
= ( 2 x 1.85) . 0.0995 . 53 . 400 mg/l
= 7804,78 mg/l
= 7,80478 g/l
MO :
BE NaHCO3 = 84
fP = = 400 ml
NHCl = 0.0995 N
kadar NaHCO3 = ( b - a ) ml x NHCl x BE NaHCO3 mg/l fP
= (3.9 1.85) . 0.0995 . 84. 400 mg/l
= 6853,56 mg/l
= 6,85356 g/l
% kadar Na2CO3 = x 100%

= x 100%

= 53.244 %
% kadar NaHCO3 = x 100%

= x 100%

= 46.755 %
Perbandingan Na2CO3 : NaHCO3 = 7.8 : 6.8
= 3.9 : 3.4

Data dan Perhitungan A9


Titrasi Vawal Vakhir Volume
PP 9.0 ml 17.8 ml 8.8 ml
I
MO 17.8 ml 19.9 ml 2.1 ml
PP 32.0 ml 40.6 ml 8.6 ml
II
MO 40.6 ml 42.9 ml 2.3 ml
PP 0.0 ml 8.9 ml 8.9 ml
III
MO 8.9 ml 11.2 ml 2.3 ml
PP
Vrata-rata (a) = = 8.76 ml

MO
Vrata-rata (b) = = 2.23 ml

kadar NaOH
BE NaOH = 40
fP = = 400 ml

NHCl = 0.0995 N
kadar NaOH = ( a - b ) ml x NHCl x BE NaOH x fP mg/l
= (8.76 2.23) . 0.0995 . 40 . 400 mg/l
= 10395.76 mg/l
= 10.39576 g/l
kadar Na2CO3
BE Na2CO3 = 53
fP = = 400 ml

NHCl = 0.0995 N
kadar Na2CO3 = ( 2 x b ) ml x NHCl x BE Na2CO3 x fP mg/l
= ( 2 x 2.23) . 0.0995 . 53 . 400 mg/l
= 9407.924 mg/l
= 9.407924 g/l

% kadar NaOH = x 100%

= x 100%

= 52.49 %
% kadar Na2CO3 = x 100%
= x 100%

= 47.5 %

BAB VII
DISKUSI
Percobaan A1
Sifat asam atau basa suatu larutan dapat di uji dengan beberapa cara, contohnya dengan
meneteskan larutan PP, MO, atau MM. Dimana PP hanya akan bereaksi dalam larutan yg bersifat
basa, MO akan bereaksi dalam asam dengan berwarna merah, dan begitu pula dengan MM akan
bereaksi dengan berwarna merah pada keadaan Asam. Sehingga hanya pada fenoftalin yang akan
berwarna merah di saat larutan bersifat basa. Dan sesuai data yang di dapat bila larutan bersifat
netral makan akan berwarna sesuai dengan warna indikator tersebut.
Bila larutan di uji dengan lakmus, maka larutan asam akan memerahkan lakmus, dan basa
akan membirukan lakmus, baik lakmus merah maupun lakmus biru. Ketelitian harus di
perhatikan pada pengujian indikator universal, di karenakan dengan indikator ini menentukan
berapa nilai pH larutan tersebut, dimana penyamaan warna harus teliti, penyamaan ini disamakan
dengan warna indikator yang sudah di sediakan dan dapat menentukan nilai ph dimana di bawah
7 adalah asam tepat 7 adalah garam dan di atas 7 merupakan larutan basa.
Percobaan A2 dan A3
Pada percobaan ini yang harus di perhatikan adalah dalam proses penitaran NaOH pada
larutan baku primer asam oksalat yang sudah di sediakan, dalam penitaran yang harus di
perhatikan adalah dalam proses menitar, perbedaan yang seharusnya adalah 0.1 mm antara titar 1
dan dapat kurang tepat dimana perbedaan yang di peroleh adalah 0.3 mm, bila terjadi masalah
seperti ini maka percobaan di lakukan lagi beberapa kali agar perhitungan lebih akurat. Sehingga
pada saat perhitungan kadar dari NaOH dan Normalitas yang di cari akan lebih dapat mendekati
dengan ketepatanya.
Percobaan A4
Percobaan ini sama dengan yang sebelumnya, namun yang menjadi pembeda adalah
adanya faktor pengenceran, dimana 25 ml larutan asam asetat diencerkan dengan labu ukur 100
ml. dan di dapatlah faktor pengenceran sebesar 160. Karena larutan bersifat asam maka penitaran
di gunakan basa kuat yakni NaOH, dengan penambahan indikator PP pada latutan encer asam
asetat. Faktor pengenceran akan memengaruhi hasil dari kadar titrasi asam asetat maka
pengambilan larutan asam asetat dan saat pengenceran perlu di perhatikan, maka dapat di dapat
ketelitian dalam menghitung dan menentukan kadar asam asetat.
Percobaan A5 dan A6
Percobaan ini hamper sama dengan percobaan sebelumnya dimana menitrasi larutan
bahan baku primer yang sudah di sediakan namun ini merupakan larutan baku primer boraks.
Dan perbedaan yang lainnya dalah penggunaan indikator MO, indikator ini di pakai karena titar
yang di pakai adalah larutan HCl dimana MO akan bekerja pada suasana asam (3,1-4,4 pH),
maka pada larutan ini di pakai indikator MO, sehingga proses penitaran dapat di ketahui dengan
perubahan yang menunjukan warna orange/sindur.
Yang membedakan pada percobaan ini adalah pada saat pengenceran harus menggunakan
air suling yang tidak mengandung CO2 hal ini di maksudkan agar larutan tidak mengalami reaksi
dengan carbon dioksida sehingga dapat mempengaruhi proses titrasi. Dan menggunakan
menggunakan MO karena di titar oleh HCl yang merupakan asam kuat.
Percobaan A8
Indikator yang di pakai pada percobaan ini adalah 2 indikator yakni indikator PP dan
indikator MO, pada titrasi ini memakai campuran 2 larutan basa yakni basa lemah dan basa kuat.
Dimana larutan camputan tersebut telah tersedia dan bila di beri PP akan berwarna merah karena
dalam kondisi basa sehingga menggunakan penitar asam yakni HCl, setelah berwarna bening
maka di beri MO dan di titar kembali menjadi berwarna orange.
Pada perubahan volume pertama di maksudkan untuk mencari kadar dari Na2CO3, dan
yang kedua untuk mencari NaHCO3. Perubahan kedua akan lebih besar dari yang pertama karena
ini merupakan pengaruh dari bassa kuat yang membutuhkan asam kuat lebih banyak agar
mendapatkan nilai yang netral (garam)
Percobaan A9
Sama halnya dengan A8 namun ini adalah campuran larutan basa kuat, basa lemah dan
asam kuat. Dan terjadi 3 reaksi kimia yang berbeda dan proses titrasi sama dengan percobaan
sebelumnya yakni menghitung perubahan pertama dengan pemberian PP dan kedua dengan
pemberian MO, namun proses pertama harus lebih besar dari yang kedua hal ini adalah faktor
dari basa kuat yang di reaksikan dengan asam kuat, dan yang kedua adalah basa lemah dengan
asam kuat, maka pada perhitungan akan berbeda karena terjadi 3 reaksi yang berlangsung dalam
percobaan ini.

BAB VIII
KESIMPULAN
Kesimpulan A1
Beberapa ciri jika suatu larutan bersifat :
1. Asam :
a. ditambah PP menjadi tidak berwarna
b. ditambah MO menjadi orange
c. ditambah MM menjadi merah
d. tidak mengubah warna lakmus merah
e. memerahkan lakmus biru
2. Basa :
a. ditambah PP menjadi pink
b. ditambah MO menjadi orange
c. ditambah MM menjadi kuning
d. membirukan lakmus merah
e. tidak mengubah warna lakmus biru
3. Netral :
a. ditambah PP menjadi tidak berwarna
b. ditambah MO menjadi kuning
c. ditambah MM menjadi orange
d. tidak mengubah warna lakmus merah
e. tidak mengubah warna lakmus biru
Secara Teoritis
No Indikator Trayek Ph Warna Asam Warna Basa
1. Metil Orange (MO) 3,1 - 4,4 Merah Sindur/jingga
2. Metil Merah (MM) 4,2 6,2 Merah Kuning
3. Lakmus 5,0 - 8,0 Merah Biru
4. Phenoftalin (PP) 8,2 10,0 Tak berwarna Merah

Kesimpulan A2 dan A3
Jadi, dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan normalitas NaOH sebesar 0.1501 N

dan kadar NaOH nya sebesar 6.0040 .

Kesimpulan A4
Jadi, dari percobaan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa kadar CH 3COOH dalam

adalah 45.576 dan dalam % sebesar 4.5576 %.

Kesimpulan A5 dan A6
Jadi, dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan normalitas HCl sebesar 0.0872 N

dan kadar HCl sebesar 3.1828 .

Kesimpulan A7
Jadi, dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa kadar NaHCO 3 adalah

23.16636 dan normalitas NaHCO3 sebelum diencerkan adalah 0.027579 N.

Kesimpulan A8
Jadi, dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa kadar Na 2CO3 [A] adalah

7.80478 dan kadar NaHCO3 [B] adalah 6.85356 dengan perbandingan 3.9 : 3.4 .

Persentase Na2CO3 sebesar 53.224 % dan NaHCO3 46.755%.


Kesimpulan A9
Jadi, dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa kadar NaOH [A] adalah

10.39576 dan kadar Na2CO3 adalah 9.407924 . Persentase NaOH sebesar 52.49 %

dan persentase Na2CO3 sebesar 47.5 %.


DAFTAR PUSTAKA

Juhana AT, Juju. 2003. Pedoman Praktikum Kimia Umum. Bandung: STT Tekstil.
Ramadhani, Silvy. 2015. Jurnal Praktik Kimia Umum I. Bandung: STT Tekstil.
http:///TitrasiWikipediabahasaIndonesia,ensiklopediabebas.htm
http:///PRAKTIKUM/IDENTIFIKASIASAMBASA&PENENTUAN/PH/LARUTAN/Jenggalu_
Chemistry.htm