Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peta topografi adalah suatu peta dengan penyajian yang menggunakan


skala tertentu dan memiliki sebuah garis yang disebut dengan garis kontur,
dimana setiap garis kontur tersebut mewakili nilai-nilai elevasi tertentu.
Dalam peta topografi tersaji unsur-unsur alam alami seperti pohon, sungai
semak semak serta unsur-unsur alam buatan manusia seperti jalan, gedung,
bendungan yang terletak diatas permukaan bumi.

Pada pelaksanaan pengukuran survei topografi dapat dilakukan dengan


dua metode yaitu terestris dan ekstraterestris. Metode terestris adalah suatu
metode pengukuran dengan melakukan pengukuran langsung diatas
permukaan tanah, sedangkan metode ekstraterestris adalah suatu metode
pengukuran tanpa melakukan pengukuran langsung diatas permukaan bumi.
Pada praktikum kali ini metode yang dilakukan merupaakan metode terestris.
Dalam pengukuran di lapangan selalu diperoleh kesalahan-kesalahan yang
disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu : alat, manusia, alam. Oleh karena itu,
dalam pengukuran harus terukur seteliti mungkin.

Pada pengukuran peta juga terdapat kerangka kontrol peta yaitu titik
tetap sebagai acuan penggambaran peta. kerangka kontrol peta dibagi menjadi
dua yaitu kerangka kontrol vertikal dan kerangka kontrol horisontal. Kerangka
kontrol vertikal adalah titik acuan untuk mewakili elevasi titik tertentu pada
permukaan bumi, sedangkan kerangka kontrol horisontal adalah titik acuan
untuk mewakili koordinat titik tertentu pada permukaan bumi.

1
1.2 Maksud dan Tujuan
Dalam praktikum memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut :
1.2.1 Maksud Praktikum
Maksud dilaksanakan praktikum Survei Topografi adalah :
1. Untuk mendapatkan bayangan yang sebenarnya di lapangan.
2. Menambah wawasan kepada praktikan mengenai jenis pekerjaan
dan segala permasalahan yang terdapat dalam praktikum.
3. Untuk mempraktekan materi-materi perkuliahan Survei Topografi.
1.2.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakan praktikum Survei Topografi adalah :
1. Dapat mengoperasikan alat-alat ukur tanah dengan baik.
2. Dapat mengolah data dari pengukuran lapangan.

1.3 Volume Pekerjaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama praktikum meliputi :


1. Persiapan praktikum.
2. Pengecekan alat yang digunakan.
3. Orientasi Lapangan.
4. Kerangka Kontrol Horisontal.
5. Kerangka Kontrol Vertikal.
6. Pengukuran detail
7. Proses Data Lapangan.
8. Penggambaran Peta.

2
BAB 2
DASAR TEORI
2.1 Survei Topografi
Survei topografi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk
menentukan posisi tanda-tanda (features) buatan manusia maupun alamiah di
atas permukaan bumi. Survei topografi berguna untuk mengumpulkan data
yang diperlukan dalam penggambaran peta topografi. Gambar peta dari
gabungan data akan membentuk suatu peta topografi. Peta topografi
memperlihatkan karakter vegetasi dengan memakai tanda-tanda yang sama
seperti halnya jarak horisontal diantara beberapa features dan elevasinya
masing-masing diatas datum tertentu.
Proses pemetaan adalah proses pemetaan yang pengukurannya
langsung dilakukan di permukaan bumi dengan peralatan survei terestris.
Teknik pemetaan mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan
ilmu dan teknologi. Dengan perkembangan alat ukur tanah secara elektronis
maka pengukuran menjadi semakin cepat dengan tingkat ketelitian yang
tinggi.

2.2 Kerangka Kontrol Peta

Kerangka kontrol peta adalah suatu titik acuan yang digunakan untuk
mengkontrol titik hasil pengukuran. Kerangka kontrol peta tentu sangat
dibutuhkan dalam proses pembuatan peta, Ada dua jenis kerangka kontrol
peta, yaitu :

2.2.1 Kerangka Kontrol Horisontal

Kerangka kontrol horisontal adalah titik acuan kontrol untuk


mewakili koordinat titik tertentu pada permukaan bumi. Pengukuran
Kerangka kontrol horisontal memiliki beberapa metode, yaitu :

a. Metode Triangulasi adalah rangkaian segitiga untuk Kerangka Kontrol


Horisontal dengan diketahui sudutnya.

3
b. Metode Trilaterasi adalah rangkaian segitiga untuk Kerangka Kontrol
Horisontal dengan diketahui jaraknya.
c. Metode Poligon adalah rangkaian titik-titik yang membentuk segi
banyak dengan diketahui sudut dan jaraknya.
Dalam laporan praktikum ini pengukuran kerangka kontrol
horisontal menggunakan metode poligon. Poligon merupakan
rangkaian titik-titik yang membentuk segi banyak. Rangkaian titik
tersebut dapat diguakan sebagai kerangka kontrol peta. Koordinat titik
tersebut dapat dihitung dengan menggunakan data hasil dari
pengukuran sudut dan jarak. Posisi titik-titik di lapangan dapat
ditentukan dengan mengukur jarak dan sudut dengan acuan titik
kontrol. Posisi titik-titik kontrol haruslah mempunyai ketelitian yang
tinggi dan distribusinya dapat menjangkau semua titik. Pada
praktikum kali ini poligon yang digunakan adalah poligon tertutup.
Poligon tertutup merupakan poligon dengan titik awal dan titik
akhir berada pada titik yang sama sehingga bentuk poligon tersebut
tertutup.

Gambar 2.1 bentuk polygon tertutup

Syarat-syarat Poligon Tertutup :


Untuk sudut dalam : + f n
Untuk sudut luar : + f n +
Dalam pengukuran dengan menggunakan metode poligon
terdapat tiga data, yaitu: sudut, jarak, azimuth. Berikut adalah

4
pengukuran-pengukuran dari tiga data yang diperoleh dari metode
poligon.

1. Pengukuran sudut.

Sudut adalah bentuk besaran rotasi suatu ruas garis dari satu
titik pangkalnya ke posisi yang lain dan memiliki sebuah nilai. Metode
pengukuran sudut dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

Sudut tunggal
Pada pengukuran sudut tunggal hanya didapatkan satu data
ukuran sudut horisontal. Pengukuran dilakukaan dengan satu kali
pembacaan dari titik backsight.

Gambar 2.2 bentuk sudut tunggal

Sudut ganda
Pengukuran Sudut ganda didapatkan dari dua data ukuran
sudut, yaitu data ukuran sudut pada kedudukan biasa dan data ukuran
sudut pada kedudukan luar biasa. Kedudukan biasa adalah kedudukan
sudut dalam kondisi normal sedangkan kedudukan luar biasa adalah
kedukukan sudut dalam kondisi teropong diputar 180 dari kondisi
normal.

5
Gambar 2.3 bentuk sudut ganda

2. Pengukuran jarak.
Pengukuran jarak untuk kerangka kontrol horisontal dapat
dilakukan dengan pengukuran langsung menggunakan roll meter atau
dengan pengukuran menggunakan alat alat optis seperti waterpass dan
theodolite. untuk mendapatkan data jarak yang lebih teliti
dibandingkan dengan dua cara yang ada, data jarak didapat juga
dengan alat pengukur jarak elektonis EDM ( Elektro Distance
Measure ).

3. Pengukuran azimuth.
Pengukuran azimuth pada praktikum kali ini dilakukan melalui
melakukan perhitungan dengan koordinat BM yang dihitung
menggunakan Software Microsoft Excel.

2.2.2 Kerangka Kontrol Vertikal.


Kerangka kontrol vertikal adalah titik acuan untuk mewakili
elevasi titik tertentu pada permukaan bumi. Pengukuran kerangka
kontrol vertikal biasanya memiliki beberapa metode, yaitu

a. Barometris adalah pengukuran beda tinggi yang memiliki lokasi yang


sangat jauh dengan menggunakan perbedaan tekanan udara.
b. Tachimetris adalah pengukuran beda tinggi dengan menggunakan
perhitungan sipat datar trigonometri.

6
c. Sipat datar/waterpass adalah pengukuran beda tinggi dengan
menggunakan alat waterpass untuk mengetahui beda tinggi masing-
masing titik.

Dalam laporan praktikum ini pengukuran kerangka kontrol vertikal


menggunakan metode sipat datar/waterpass.

1. Pengukuran Sipat Datar/waterpasas.


Pengukuran beda tinggi menggunakan waterpass dilakukan
dengan penentuan beda tinggi suatu titik yang akan ditentukan
ketinggiannya berdasarkan suatu sistem referensi atau bidang acuan.
Sistem referensi yang dipergunakan adalah tinggi permukaan air laut
rata-rata (mean sea level) atau sistem referensi lain yang dipilih. Pada
cara ini didasarkan atas kedudukan garis bidik teropong yang dibuat
horisontal dengan menggunakan gelembung nivo.

Gambar 2.4 pengukuran waterpass

Pada gambar 2.4 diketahui bahwa rumus untuk beda tinggi titik A dan
titik B adalah :

Hab = BTa BTb

Syarat-Syarat Waterpass adalah:

1. Garis bidik sejajar dengan garis arah nivo.

2. Garis arah nivo tegak lurus pada sumbu satu.

7
3. Garis mendatar diafragma tegak lurus sumbu satu.

2.3 Pengukuran detail

Pengukuran detail adalah penentuan posisi semua benda-benda di


lapangan yang merupakan kelengkapan daripada sebagian permukaan bumi
baik alamiah maupun buatan manusia. penggambaran kembali sebagian
permukaan bumi dengan segala perlengkapan termasuk tujuan dari
pengukuran detail, yang akhirnya berwujud suatu peta. Berhubung dengan
bermacam-macam tujuan dalam pemakaian peta, maka pengukuran detail pun
menjadi selektif, artinya hanya detail-detail tertentu yang diukur guna
keperluan suatu macam peta.

2.3.1 Pengukuran detail vertikal.

Pengukuran detail dilakukan dengan menggunakan alat


theodolite dengan mendapatkan data sudut dan bacaan benang. Bacaan
benang inilah yang digunakan untuk pengukuran detail vertikal.

Gambar 2.5 pengukuran detail vertikal

2.3.2 Pengukuran detail horisontal.

Pengukuran detail dilakukan dengan menggunakan alat


theodolite dengan mendapatkan data sudut dan bacaan benang. Data
sudut dan bacaan benang yang telah dihitung sehingga memperoleh

8
hasil data jarak inilah yang digunakan untuk pengukuran detail
horisontal.

Gambar 2.6 pengukuran detail horisontal

9
BAB 3

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Lokasi Pengukuran

lokasi pengukuran : Gedung teknik informatika kampus II ITN Malang

Koordinat BM2 : Utara = 9124462 m

Timur = 680060 m

9124462

CP3

CP2

CP4
CP1
BM1

BM2 680060 m

Gambar 3.1 lokasi pengukuran

3.2 Peralatan Yang Digunakan


Berikut peralatan yang digunakan dalam praktikum :

Waterpass 1 buah
Theodolite 1 buah
Statif 2 buah
Roll Meter 1 buah
Patok 5 buah
Paku 5 buah
Payung 1 buah
Table 3.1 alat-alat yang digunakan selama praktikum

10
3.3 Diagram Alir Pengkuran

Persiapan praktikum

Pengecekan alat yang digunakan

Orientasi lapangan

Pengukuran

Kerangka Kontrol Horisontal Kerangka Kontrol Vertikal Pengukuran Detail

Pengolahan Data

Pengecekan Data

Penggambaran peta

11
3.4 Penjelasan Tahapan Pekerjaan
Pada pelaksanaan praktikum kali ini memilik beberapa tahapan
pekerjaan yaitu :

1. Persiapan Praktikum
Persiapan praktikum merupakan langkah-langkah untuk
mempersiapkan serta memahami apa saja yang dibutuhkan saat praktikum
seperti alat-alat pengukuran. Persiapan praktikum dilakukan sebulan
sebelum melakukan praktikum.

2. Pengecekan alat yang digunakan


Sebelum memulai praktikum dilakukan terlebih dahulu pengecekan
alat-alat yang akan digunakan untuk mengetahui alat-alat yang sedang
mengalami kerusakan agar tidak terjadi hambatan saat melakukan
pengukuran di lapangan.

3. Orientasi Lapangan

Sebelum melaksanakan kegiatan pengukuran, pengecekan lapangan


yang akan diukur perlu diorientasikan terlebih dahulu untuk mempermudah
pelaksanaan dalam pekerjaan praktikum di lapangan.

4. Kerangka Kontrol Horisontal

Kerangka kontrol horisontal adalah titik acuan kontrol untuk


mewakili koordinat titik tertentu pada permukaan bumi. Kerangka Kontrol
horisontal akan dipasangi patok kayu yang di atasnya akan diberi paku
untuk membuat ketelitian yang tinggi. Metode Kerangka kontrol horisontal
yang digunakan dalam praktikum adalah metode poligon dimana metode
poligon tersebut menggunakan poligon tertutup, yaitu titik awal dan titik
akhir merupakan titik yang sama. Pengukuran kerangka kontrol horisontal
dilakukan dengan melakukan pengukuran sudut dan jarak.

5. Kerangka Kontrol Vertikal

12
Kerangka Kontrol Vertikal adalah titik acuan untuk mewakili
elevasi titik tertentu pada permukaan bumi. Metode Kerangka Kontrol
Vertikal yang digunakan adalah metode waterpass memanjang. Pengukuran
Kerangka Kontrol Vertikal dilakukan menggunakan waterpass dengan
melakukan pengukuran beda tinggi pada masing masing patok yang telah
dipasang.

6. Pengukuran detail.
Pengukuran detail adalah penentuan posisi semua benda-benda di
lapangan yang merupakan kelengkapan daripada sebagian permukaan bumi
baik alamiah maupun buatan manusia. penggambaran kembali sebagian
permukaan bumi dengan segala perlengkapan termasuk tujuan dari
pengukuran detail, yang akhirnya berwujud suatu peta. Pengukuran detail
dilakukan dengan membaca bacaan sudut untuk menentukan posisi
horizontal dan bacaan benang untuk menentukan posisi vertikal dari objek.

13
7. Proses Pengolahan Data Lapangan
Setelah melakukan pengukuran survei topografi selanjutnya
dilakukan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan Software Microsoft Excel. Dimana setiap ada perubahan
angka dapat mempermudah pengguna dengan tidak menghitung ulang dari
awal. Dengan memasukan rumus-rumus yang sudah ditetapkan kedalam
Software Microsoft Excel.

Gambar 3.2 pengolahan data pada software

8. Penggambaran Peta

Setelah semua data pengukuran selesai diolah hingga memiliki data


yang benar benar akurat langkah selanjutnya adalah melakukan
penggambaran peta. penggambaran peta dilakukan dengan beberapa tahapan
berikut:

a. Penyiapan grid peta


Penyiapan nilai absis (x), dan ordinat (y) dari grid-grid peta.

b. Plotting titik-titik kerangka kontrol peta


Koordinat titik-titik poligon (KKH).
Elevasi titik poligon (KKV).

14
c. Plotting titik-titik detail
Plotting titik-titik detail dapat dilakukan dengan cara plotting titik
dengan menggunakan sistem koordinat yang sudah disesuaikan dengan
skala peta yang ditentukan.

d. Penggambaran obyek (detail)


Setelah melakukan plotting titik-titik detail dilakukan penarikan
garis untuk menggambar objek detail yang disesuaikan dengan sketsa
pengukuran yang telah dibuat saat pengukuran.

e. Penggambaran Kontur
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang
mempunyai ketinggian yang sama di permukaan bumi, atau dengan kata lain
garis permukaan tanah yang mempunyai ketinggian tertentu. Pada peta garis
kontur, kontur digambarkan sebagai garis lengkung yang menutup artinya
garis kontur, kontur digambarkan sebagai garis lengkung yang menutup
artinya garis kontur tersebut tidak mempunyai ujung pangkal akhir. Interval
garis kontur tergantung oleh skala peta tersebut.

Skala
Interval Kontur =
2000

15
BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Perhitungan

Penghitungan data merupakan bagian terpenting dalam pengolahan data


yang didapat dari berbagai pengukuran di lapangan.

4.1.1 Perhtungan Azimuth

Perhitungan azimuth dilakukan dengan menggunakan BM yang


sudah disediakan dengan menggunakan persamaan dasar :

azimuth = tan x2 - x1
y2 - y1

Namun pada pelaksanaan praktikum kali ini perhitungan


menggunakan Software Microsoft Excel.

X (m) Y (m)

BM 1 680060 9124462

BM 2 680153,000 9124436,000

Sigma 125,000 -26,000

Azimuth BM 12 105,619392

Tabel 4.1hasil perhitungan azimuth melalui BM

16
4.1.2 Perhitungan Poligon.

1 Perhitungan Jarak

Jarak = d1+d2+d3d+d4+d5

= 220.5 m

2 Perhitungan Sudut

Rata Rata Perhitungan Sudut


Target
Target Depan Berdiri Alat ' " Desimal
Belakang
P1 cp1 P2 140 21 54 140.365

P2 CP2 CP1 112 33 45 112.563

CP1 CP3 CP2 101 55 3.5 101.918

CP2 CP4 CP3 95 47 14 957.875

CP3 P2 CP4 115 4 30.5 115.075

CP4 CP1 P2 114 39 45 114.659

Total 540 0 6.5 540.002


Tabel 4.2 perhitungan rata-rata sudut

Koreksi terhadap sudut rata-rata horisontal :


s = ( n - 2 ) * 180o
= ( 5 - 2 ) * 180o
= 54000

17
Sedangkan jumlah sudut rata_rata horisontal adalah 540 0 6.5,
jadi besar kesalahan sudut dalam horisontalnya :
f(s) = 54000 - 1439 0 6.5
= 0o 0 6.5
Maka besar koreksi untuk tiap sudutnya adalah :

0o 0 6.5
Koreksi = = 0o 0 1.0833
6

setelah melakukan perhitungan sudut selanjutnya dilakukan


perhitungan koordinat dengan mengggunakan azimuth dan jarak.

JARAK
AZIMUTH
DATAR

(d) ' " Deg.

101 44 59,941 101,749984


41.5 62 6 52,641 62,1146225
40.5 354 40 36,341 354,676761

55.9 276 35 38,541 276,594039

42.6 192 22 52,241 192,381178

40 127 27 21,441 127,455956

41.5 62 6 52,641 62,1146225

Table 4.3 perhitungan jarak dan azimuth di patok melalui software Microsoft excel

18
KOREKSI
d.sin.a (m) d.cos.a (m) X (m) Y (m) Desk.
d.sin.a (m) d.cos.a (m)

680060 9124462 BM P1

37.9074305 16.8901366 0.005118 0.04096 680153 9124436 BM P2

-1.0275417 40.4869628 0.004995 0.039973 680190.902 9124452.847 CP1

-54.970437 10.1518991 0.006894 0.055172 680189.869 9124493.29 CP2

-11.921135 -40.8980018 0.005254 0.042045 680134.8931 9124503.398 CP3

30.0388753 -26.4133673 0.004933 0.039479 680122.9666 9124462.457 CP4

37.9074305 16.8901366 0.005118 0.04096 680153 9124436 P2

0.0271924
0.02719244 0.21762948 0.21762948
4
Table 4.4 perhitungan koordinat menggunakan software microsoft excel

Maka nilai koreksi X dan Y, jika diketahui jumlah X sebesar


-0,027 jumlah Y sebesar -0,21 dan jumlah jarak sebesar 220.5
meter :

f(X12) = - [ ( D12 D ) X ]
= - [ ( 41.5 220.5 ) 0.02719244 ]
= 0.005118

f(Y12) = - [ ( D12 D ) Y ]
= - [( 41.5 220.5 ) 0,21762948 ]
= 0.04096

19
Misal ditentukan koordinat awal XP2 = 680153 m dan koordinat
YP1= 9124436 m dengan nilai koreksi f(X12) = 0,00544 dan
dengan nilai koreksi f(Y12) = 0,04096. Maka koordinat titik
poligon 2 dapat dihitung dengan dengan cara :
Xcp1 = ( X1 + X12 ) + f(X12)
= ( 6800153 + (37.90743) ) + 0.00544
= 680190.902
Ycp1 = [ Y1 + Y12 ] + f(Y12)
= ( 9124436 + ( 16.89014) + 0.04096
= 9124452.85

Untuk ketelitian linear dalam pengukuran ini dilakukan perhitungan


dengan rumus :

D Cd = X + Y
Cd
KL =

Perhitungan ketelitian linear dalam praktikum ini dilakukan


menggunakan Software Microsoft Excel. Berikut adalah hasil
perhitungan melalui software.

SYARAT SUDUT 540 0 0 540

KESALAHAN SUDUT 0 0 6.5 0.0018056

KESALAHAN JARAK ( m ) 0.219321721

KETELITIAN LINEAR 1 1005.372379

Tabel 4.5 perhitungan ketelitian linear

20
4.1.3 Perhitungan Detail.

Sub bab ini menampilkan beberapa contoh perhitungan data


pengukuran titik detail pada formulir data pengukuran situasi.
1. Menghitung Jarak Miring (Dm)
Rumus : Dm = ( Ba - Bb ) x 100 Sin
2. Menghitung Jarak Datar (Dd)
Rumus : Dd = Dm Sin2
3. Menghitung Beda Tinggi Titik Detail (h),(Apabila Ti Bt)
Rumus : h = Ti + ( Dm Cos ) - Bt

4. Menghitung Elevasi Titik Detail (H)


Rumus: Hn = hn1,n + Hn1
FORMULIR PENGUKURAN DETAIL
Laboratorium Ukur
Halaman :
Tanah
Institut Teknologi
Dihitung :
Nasional
Malang Diperiksa :
Ke
No. Titik Target Koordinat Elevasi
t
X (m) Y (m) (m) P1
680153,2 9124436,
P2 CP1 60
43 337
680130,6 9124432, 60,095
1,5 1 1
941 966 78
680129,7 9124439, 60,207
2 2
142 917 85
680129,3 9124440, 59,470
3 3
715 308 26
680133,2 9124432, 60,027
4 4
089 493 08
680144,0 9124432, 60,035
5 5
423 42 13
680169,0 9124447, 59,734
6 6
229 619 85
7 680157,9 9124439, 59,435 7

Tabel 4.6 hasl perhitungan detail menggunakan software microsoft excel


21
06 785 48
4.1.4 Perhitungan Waterpass.

Perhitungan waterpass dihitung menggunakan microsoft excel.

PERGI
Targ Jarak Ting
STA Bacaan Benang Dh Koreksi
et (m) gi
1,19
60
5
1,09
P2 20,4
3
0,99
1
A -
1,63 59,5
0,43 -0,001
4 63
6
CP1 1,52
21
9
1,42
4
1,71
8
1,59
CP1 25,1
2
1,46
7
B
1,33 59,9
0,35 -0,001
6 12
1,24
CP2 18,8
2
1,14
8
1,64
5
1,53
CP2 21,1
9
1,43
4
C
1,47 0,24 60,1
-0,001
2 6 57
1,29
CP3 35,8
3
1,11
4
D CP3 1,93

22
5
1,81
24,5
2
1,69
1,57 0,32 60,4
-0,001
5 7 83
1,48
CP4 18
5
1,39
5
1,45
5
1,37
CP4 16,6
2
1,28
9
E -
1,98
0,48 -0,001 60
3
2
P2 1,85
25,8
4
1,72
5
0,00
227,1
5

Table 4.7 perhitungan waterpass pergi

PULANG
Targ Jarak(
STA Bacaan Benang Dh Koreksi Tinggi
et m)
1,98
60
3
1,85
P2 25,8
4
1,72
5
A
1,45 0,48 60,48
-0,0016
5 2 04
1,37
CP4 16,6
2
1,28
9
B CP4 1,59
5

23

Tabel 4.8 hasil perhitungan waterpass memanjang (pulang)


1,50
17,1
9
1,42
4
-
1,96 60,15
0,32 -0,0016
3 18
7
CP3 1,83
17,4
6
1,78
9
1,50
1
1,33
CP3 33,4
5
1,16
7
C -
59,90
1,7 0,24 -0,0016
12
9
CP2 1,58
22,4
4
1,47
6
1,57
5
1,47
CP2 20,3
4
1,37
2
D
-
1,92 59,56
0,33 -0,0016
1 36
6
CP1
1,81 22,2
1,69
9
E 1,72
8
1,61
CP1 23,1
2
1,49
7
P2 1,26 0,43
-0,0016 60
4 8
1,17
17,9
4
1,08

24
5
0,00
216,2
8

Tabel 4.8 perhitungan waterpass pulang

25
BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pelaksanaan praktikum ini,dapat disimpulkan bahwa dalam


pengukuran ini adalah sebagai berikut :

1) Dengan melihat garis kontur dapat diketahui kondisi suatu daerah.

2) Kesalahan dan hambatan dalam melakukan pengukuran :


a. Kurang teliti dalam mengambil data.
b. Alat yang dipakai tidak dikoreksi dengan baik.
c. Keadaan alam dan cuaca yang kurang mendukung.

3) Terjadinya penyimpangan bedat tinggi antara titik awa dan titik akhir:
a. Kesalahan pengiraan/pembacaan bacaan pada rambu ukur.
b. Tidak tegaknya rambu ukur pada saat pembacaan.

5.2 Saran

Dalam laporan kali ini penulis dapat menyarankan :

1. Gunakan alat yang sesuai dengan kegunaannya serta memenuhi syarat.

2. Periksa alat ukur sebelum ke lokasi, untuk memastikan apakah alat ukur
tersebut siap untuk digunakan atau tidak di lapangan nantinya.

3. Persiapkan formulir ukur dan alat yang diperlukan dalam pengukuran di


lapangan.

26