Anda di halaman 1dari 17

TUGAS INDIVIDU

KEBIJAKAN DAN STANDAR AKUNTANSI

KARAKTERISTIK KUALITATIF INFORMASI AKUNTANSI:


SEBUAH PERBANDINGAN ANTARA ASOBAT, APB
STATEMENT 4, SFAC NOMOR 2, DAN SFAC NOMOR 8

NAMA : SUMIATI
NIM : 041524253001

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016
PENDAHULUAN
Di Amerika Serikat sebelum tahun 1930, akuntansi sebagian besar tidak diatur. Praktik

dan prosedur akuntansi yang dijalankan oleh perusahaan pada umumnya dianggap rahasia.

Sehingga suatu perusahaan memiliki sedikit informasi tentang prosedur akuntansi yang

dijalankan oleh perusahaan lain. Hal tersebut menyebabkan terjadinya ketidakseragaman praktik

dan prosedur akuntansi yang dijalankan oleh setiap perusahaan dalam suatu industri yang sama

(Wolk et al. 2013:63). Sehingga dengan adanya ketidakseragaman tersebut menyebabkan

terjadinya kesulitan dalam membandingkan dan menilai kualitas informasi akuntansi yang

disajikan dalam laporan keuangan antar perusahaan.

Seiring dengan perkembangan kondisi sosial dan ekonomi Amerika yang semakin

membaik, banyak perusahaan mulai berkembang pesat dan masyarakat yang melakukan investasi

semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan para pelaku bisnis membutuhkan informasi

akuntansi yang akurat. Sehingga informasi akuntansi menjadi sangat dibutuhkan dan memainkan

peranan penting dalam pengambilan keputusan bisnis. Namun permasalahan yang terjadi pada

saat itu adalah bahwa praktik dan prosedur akuntansi belum diatur dengan baik dan tertinggal

jauh dibelakang kebutuhan para pelaku bisnis.

Pada tahun 1929, Amerika mengalami krisis yang luar biasa akibat terjadi crash di pasar

saham. Para investor bereaksi dan mempertanyakan praktik akuntansi dan pelaporan keuangan

yang dijalankan oleh perusahaan. Praktik dan prosedur akuntansi yang bervariasi yang dijalankan

perusahaan pada saat itu menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan investor dan calon

investor (Wolk et al. 2013:64). Mereka mulai berfikir bahwa praktik akuntansi tersebut perlu

diatur sedemikian rupa demi terciptanya praktik bisinis yang baik. Sehingga pada tahun 1930,

Accounting Institute of Certified Public Accountants (AICPA) memulai upaya bersama dengan
New York Stock Exchange (NYSE) untuk memprakarsai penyiapan salah satu dokumen paling

penting dalam perkembangan pembuatan peraturan akuntansi. Komite khusus AICPA yang

bekerjasama dengan Komite NYSE mengembangkan prinsip akuntansi untuk memberikan solusi

terbaik terkait dengan penggunaan berbagai macam praktik akuntansi yang kemudian diikuti

oleh semua perusahaan yang terdaftar di bursa (Wolk et al. 2013:66)

Komite AICPA menyiapkan draft formal "five broad accounting principles" yang

disetujui oleh komite NYSE pada tahun 1932. Dokumen tersebut mewakili upaya formal

pertama untuk mengembangkan Generally Accepted Accounting Principles (GAAP). Upaya

bersama yang dilakukan NYSE dan AICPA tersebut memiliki pengaruh besar dalam pembuatan

kebijakan akuntansi di Amerika Serikat selama 50 tahun ke depan.

Untuk mempermudah langkah penyusunan prinsip ataupun standar akuntansi, Kongres

Amerika membentuk Securities Exchange Commision (SEC) pada tahun 1934 yang ditugaskan

untuk membuat undang-undang sekuritas (securities act). SEC kemudian merekomendasikan

profesi akuntansi untuk membuat prinsip ataupun standar akuntansi. Selanjutnya muncullah

beberapa Komite/Dewan yang membuat prinsip ataupun standar akuntansi seperti: Committee on

Accounting Procedure/CAP (1936-1959), Accounting Principles Board/APB (1959-1971), dan

Financial Accounting Standards Board/FASB (1971-Sekarang). Selama masa tersebut, banyak

prinsip maupun standar akuntansi yang diterbitkan, diantaranya adalah: A Statement of Basic

Accounting Theory (ASOBAT), Accounting Principles Board (APB) Statement No. 4, Statements

of Financial Accounting Concepts (SFAC), etc. Dalam paper ini, penulis akan membahas dan

membandingkan secara lebih spesifik terkait dengan karakteristik kualitatif informasi akuntansi

yang terdapat dalam ASOBAT, APB Statement 4, SFAC Nomor 2, dan SFAC Nomor 8.
A. A STATEMENTS OF BASIC ACCOUNTING THEORY (ASOBAT)

Pada tahun 1966, American Accounting Association (AAA) menerbitkan suatu kerangka

dasar teori akuntansi yang disebut A Statements of Basic Accounting Theory (ASOBAT). Komite

dari AAA tersebut diberikan tanggungjawab untuk mengembangkan sebuah pernyataan terpadu

terkait dasar teori akuntansi yang akan berfungsi sebagai panduan bagi pendidik, praktisi, dan

kelompok lain yang berkepentingan dalam akuntansi. Pernyataan tersebut harus mencakup

dukungan yang memadai untuk setiap posisi yang diambil dan penjelasan yang cukup untuk

memberikan kejelasan (AAA 1966 dalam Sterling, 1967).

ASOBAT mendefinisikan akuntansi sebagai:

The process of identifying, measuring and communicating economic information to permit


informed judgments and decisions by users of the information (Ibid dalam Wolk et al. 2013)

Wolk, Dodd, and Rozycki, 2013, mengatakan bahwa definisi yang dikemukakan oleh

ASOBAT secara khusus terkonsentrasi pada pembuatan kerangka kerja untuk mengevaluasi

pendekatan-pendekatan sistematis untuk mencatat transaksi dan presentasi laporan keuangan

yang disusun untuk pengguna. Sehingga konsentrasinya adalah terkait dengan meta-teori

akuntansi, yang merupakan bagian paling penting dari struktur teori untuk tujuan dan sasaran

informasi akuntansi. Tujuan (objectives) akuntansi yang dirumuskan oleh ASOBAT yaitu: (1)

untuk membuat keputusan tentang penggunaan sumberdaya yang terbatas dan untuk menentukan

tujuan dan sasaran; (2) mengarahkan dan mengontrol sumberdaya manusia dan material

organisasi secara efektif; (3) mempertahankan dan melaporkan pertanggungjawaban

sumberdaya; dan (4) memfasilitasi fungsi dan kontrol sosial.

ASOBAT mengeluarkan empat standar informasi akuntansi yang kemudian menjadi

pedoman untuk mengkomunikasikan informasi akuntansi, dan tujuan (objectives) tersebut dapat

dipandang sebagai bagian dari meta-teori akuntansi. Standar tersebut adalah: Relevance,
Verifiability, Freedom from Bias, dan Quantifiability. Empat standar tersebut dimaksudkan untuk

mengevaluasi informasi laporan keuangan yang diterbitkan oleh suatu perusahaan.

Standar relevance (relevansi) terkait dengan kegunaan dalam membuat keputusan di

tangan. Hal tersebut muncul secara langsung dari keempat tujuan yang dikemukakan ASOBAT

untuk berbagai macam tipe informasi (Wolk et el. 2013). Standar Relevance yang dikemukakan

ASOBAT merupakan standar utama dimana suatu informasi yang relevan akan sangat berguna

dalam pengambilan keputusan. Sementara itu, standar verifiability (dapat diverifikasi) memiliki

kesamaan dengan objektifitas. Verifiability merupakan aspek pengukuran. Pengukuran harus

dipertimbangkan sebagai aspek teori akuntansi yang penting walaupun beberapa orang percaya

bahwa mereka melibatkan domain yang berbeda. Pemilihan sistem penilaian dan juga aturan

individu untuk sub sistem harus berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan relevansi. Akan tetapi,

aspek pengukuran juga harus dipertimbangkan karena sistem dan metode penilaian yang

memiliki konsensus yang rendah (dalam hal kesepakatan antar pengukuran) mungkin harus

dilewati melalui pendekatan-pendekatan yang kurang bermanfaat (Wolk et al. 2013). Menurut

Suwardjono, 2012, verifiability lebih berkaitan dengan meminimkan bias dalam proses

pengukuran (measurer bias) daripada dengan menentukan ketepatan dasar pengukuran

(measurement bias), sehingga verifiablity tidak dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa dasar

pengukuran relevan dengan keputusan yang dituju.

Kemudian setandar selanjutnya yaitu standar freedom from bias merupakan pelengkap

(complementary) dari karakteristik netralitas dalam kerangka konspetual. Netralitas mengacu

pada orientasi lembaga-lembaga pengaturan-standar, dimana freedom from bias terkait dengan

penyiapan laporan keuangan (Wolk et al. 2013). Standar ini perlu karena permasalahan

keberagaman pengguna dan juga hubungan yang potensial antara manajemen dan pengguna
eksternal. Bias mungkin susah digambarkan dan dipecahkan. Contohnya, demi relevansi dan

keterbukaan, sebuah perusahaan diminta untuk menghitung laporan keuangan atau catatan-

catatan jumlah dari penilaian yang diharapkan dalam kasus hukum. Keinginan sebuah

perusahaanyang meminimalisir kerusakan hukumakan bertentangan dengan standar relevansi

dan keterbukaan karena keputusan pengadilan bisa dipengaruhi oleh pengakuan perasaan

bersalah perusahaan didalam laporan keuangan (Wolk et al. 2013).

Standar terakhir yang diungkapkan dalam ASOBAT adalah quantifiability.

Quantifiability sangat dekat hubungannya dengan teori pengukuran. Standar quantifiability

mengatakan bahwa suatu informasi akuntansi harus dapat dikuantitatifkan. Sterling, 1967,

mengatakan bahwa elaborasi dari quantifiability tampaknya diarahkan pada dua ujung: (1)

Akuntansi tidak perlu dibatasi untuk kuantitas "nilai", dan (2) kuantifikasi data menambah

kegunaan.

B. ACCOUNTING PRINCIPLES BOARD (APB) STATEMENT NO. 4

APB Statement 4 merupakan pernyataan yang dikeluarkan oleh komite APB pada tahun

1970 sebagai akibat dari penolakan profesi akuntansi terhadap Accounting Research Studies

(ARS) 1 dan 3 yang telah dikeluarkan sebelumnya oleh APB. Dari penolakan tersebut kemudian

APB mengeluarkan ARS 7 yaitu Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for

Business Enterprises oleh Paul Grady. Selanjutnya berdasarkan ARS 7 yang dinilai sukses dan

diterima oleh kalangan profesi akuntansi, komite APB menyusun APB Statement 4 tentang

Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statements of Business

Enterprises.
Pernyataan APB Statement 4 memiliki dua tujuan, yaitu: (1) Menyediakan suatu dasar

untuk mengevaluasi praktik akuntansi saat ini, membantu memecahkan permasalahan akuntansi,

serta menjadi panduan dalam pengembangan akuntansi keuangan di masa yang akan datang; (2)

Meningkatkan pemahaman terhadap tujuan akuntansi keuangan, sifat dari proses dan kekuatan

yang membentuknya, serta potensi keterbatasan laporan keuangan dalam menyediakan informasi

yang dibutuhkan (The CPA letter, 1970, dalam Wolk et al. 2013).

Sementara itu, pada bab pertama dari statement tersebut menyatakan dua tujuan yaitu

tujuan pendidikan (educational purpose) dan tujuan pengembangan (developmental purpose).

Tujuan pendidikan adalah untuk memberikan suatu dasar untuk meningkatkan pemahaman

dasar-dasar yang luas dari akuntansi keuangan. Sedangkan tujuan pengembangan adalah untuk

memberikan suatu dasar dalam memandu pengembangan akuntansi keuangan dimasa depan

(Schattke, 1972).

APB Statement 4 mengawali pernyataanya terkait dengan definisi akuntansi. Menurut

APB Statement 4 akuntansi adalah suatu aktifitas jasa yang fungsinya adalah untuk memberikan

informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomi yang ditujukan

untuk menjadi berguna dalam pembuatan keputusan ekonomi (AICPA, 1970, dalam Wolk et al.

2013).

Dalam APB Statement 4 juga mengadopsi pernyataan ASOBAT yang sangat menekankan

pada keberagaman pengguna. Pengguna informasi keuangan dikelompokkan menjadi dua, yaitu

pengguna dengan kepentingan langsung dan pengguna dengan kepentingan tidak langsung (Wolk

et al. 2013). Menurut APB Statement 4, pengguna harus memiliki pengetahuan serta memahami

karakteristik dan keterbatasan laporan keuangan. APB Statement 4 juga melihat laporan

keuangan memiliki tujuan umum, tidak ditujukan untuk kalangan pengguna yang terbatas saja.
Ada aspek yang menarik dari APB Statement 4 yaitu tentang pernyataan bahwa akuntansi

adalah disiplin pengukuran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang tertulis dalam ASOBAT.

Standar dan panduan untuk informasi akuntansi yang dalam APB Statement 4 disebut qualitative

objective juga hampir sama dengan yang ditulis oleh ASOBAT. Qualitative objective (Schattke,

1972) menghubungkan akuntansi pada pengguna informasi keuangan dan perhatiannya terhadap

kegunaan data untuk suatu keputusan. Qualitative objective yang tertera pada APB Statement 4

terdiri atas relevance, understandability, verifiability, neutrality, timeliness, comparability, dan

completeness.

Relevance. Merupakan tujuan kualitatif yang utama yang terkait dengan bagaimana suatu

informasi benar-benar dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan bagi pengguna

laporan keuangan.
Understandability. Informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja yang penting tetapi juga

harus informasi yang dimengerti para pemakainya.


Verifiability. Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang akan menghasilkan

pendapat yang sama.


Neutrality. Laporan akuntansi itu netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
Timeliness. Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila

diserahkan pada saat yang tepat.


Comparability. Informasi akuntansi harus dapat saling dibandingkan, artiya akuntansi harus

memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
Completeness. Informasi akuntansi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan yang

layak dari para pemakai.

APB Statement 4 juga sepakat dengan ASOBAT tentang kemungkinan konflik yang

terjadi diantara tujuan-tujuan (objectives) (misalnya relevansi dan reliabilitas) dimana konflik

yang terjadi merupakan sebuah masalah yang rumit yang harus diselesaikan dalam kerangka

konsep metateori. Ketika APB Statement 4 setuju dengan ASOBAT tentang kebutuhan untuk
finite uniformity, APB Statement 4 mengakui tentang kesulitan dalam mencapai tujuan tersebut.

Namun terlepas dari itu semua, APB Statement 4 lebih berkonsentrasi pada pengembangan

pendekatan user-oriented (Wolk et al. 2013).

C. STATEMENT OF FINANCIAL ACCOUNTING CONCEPT (SFAC) NO. 2

SFAC Nomor 2 Qualitative Caracteristics of Accounting Information, menjelaskan

tentang karakteristik informasi akuntansi agar bisa digunakan dalam pembuatan keputusan. Para

pembuat keputusan membutuhkan informasi untuk digunakan dalam keputusan investasi, kredit,

dan keputusan yang serupa lainnya. SFAC ini diterbitkan oleh FASB pada tahun 1980. Dalam

Statement ini terdapat dua karakteristik utama yang membuat informasi akuntansi bermanfaat

dalam pembuatan keputusan, yaitu relevance dan reliability.

Menurut statement ini, informasi yang relevan harus tepat waktu dan harus memiliki nilai

prediktif atau nilai umpan balik atau keduanya. Sementara informasi yang reliabel harus

memiliki representational faithfulness dan harus dapat diverifikasi dan netral. Disisi lain,

statement ini juga memasukkan comparability yang mencakup consistency sebagai kualitas

skunder yang berhubungan dengan relevance dan reliability untuk mendukung kegunaan

informasi.

Relevance

Menurut FASB dalam SFAC nomor 2:

Relevant accounting information is capable of making a difference in a decision by helping users


to form predictions about the outcomes of past, present, and future events or to confirm or
correct prior expectations. Information can make a difference to decisions by improving decision
makers' capacities to predict or by providing feedback on earlier expectations.

(Informasi akuntansi yang relevan adalah mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan
dengan membantu pengguna untuk membentuk prediksi tentang hasil dari peristiwa masa lalu,
sekarang, dan masa depan atau untuk mengkonfirmasi atau membenarkan harapan sebelumnya.
Informasi dapat membuat sebuah perbedaan terhadap keputusan dengan meningkatkan kapasitas
pembuat keputusan untuk memprediksi atau dengan memberikan umpan balik terhadap harapan
sebelumnya).

Dalam SFAC nomor 2, informasi yang relevan harus memiliki: feedback value, yakni

mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu; predictive value, yakni

dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan dating; dan

timeliness, yakni informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu

kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan

Reliability

Reliabilitas tersusun dari tiga bagian yaitu verifiability, representational faithfulness, dan

neutrality. Menurut FASB dalam SFAC nomor 2, Reliabilitas suatu ukuran bertumpu pada

kesetiaan (faithfulness) dimana ia mewakili apa yang dimaksudkan untuk diwakili, ditambah

dengan sebuah jaminan bagi pengguna, yang datang melalui verifikasi, bahwa ia memiliki

kualitas representational.

Verifiability. Verifiabilitas dalam SFAC nomor 2 didefinisikan sebagai kualitas yang dapat

ditunjukkan dengan menjamin sebuah tingkat konsensus yang tinggi antara pengukur

independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.


Neutrality. Netralitas berarti bahwa dalam merumuskan atau menerapkan standar, perhatian yang

utama seharusnya pada relevansi dan reliabilitas informasi yang dihasilkan, bukan pada

pengaruh standar atau aturan yang memiliki kepentingan tertentu.


Representational Faithfulness, adalah korespondensi atau kesepakatan antara suatu ukuran atau

deskripsi dan fenomena yang dimaksudkan untuk diwakili. Dalam akuntansi, fenomena yang

diwakili adalah sumberdaya ekonomi dan kewajiban serta transaksi-transaksi dan kejadian yang

mengubah sumberdaya dan kewajiban tersebut.


Kemudian, dalam SFAC nomor 2 disebutkan terdapat secondary and interactive qualities

yaitu Comparability (Including Consistency). Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika

dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri

yang sama (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode

yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.

Dalam definisi lebih luas, SFAC nomor 2 mendefinisikan komparabilitas sebagai kualitas

atau pernyataan yang memiliki karakteristik umum. Jadi perbandingan normal komparabilitas

merupakan suatu perhitungan atas karakteristik yang umum. Hal itu mengakibatkan

perbandingan valid hanya dimungkinkan apabila pengukuran yang digunakan, yaitu kuantitatif

atau rasio, secara nyata mewakili karakteristik dari subjek yang diperbandingkan.

Konsistensi dalam penerapan metode akuntansi selama suatu rentang waktu mengacu

pada kualitas penting yang memungkinkan angka-angka akuntansi menjadi lebih berguna. Dalam

format standar laporan auditor menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan sesuai

dengan prinsip akuntansi yang lazim yang secara konsisten diterapkan. Konsistensi penggunaan

prinsip akuntansi dari suatu periode ke periode yang lain mendukung kegunaan laporan

keuangan bagi pemakai melalui wacana analisis dan pemahaman atas data komparatif.

Sebagaimana komparabilitas, konsistensi lebih merupakan suatu kualitas dari

keterhubungan antara dua angka akuntansi daripada suatu kualitas angka dengan dirinya sendiri,

dalam konteks nilai relevan dan reliabilitas. Penggunaan yang konsisten dari suatu metode

akuntansi, apakah dari suatu periode ke periode yang lain pada suatu perusahaan, atau dalam

suatu periode meliputi beberapa perusahaan, adalah suatu kebutuhan tetapi bukan merupakan

suatu syarat cukup dari komparabilitas.


Karakteristik terakhir yang disebutkan dalam SFAC nomor 2 adalah materiality yang

merupakan bagian sifat ambang batas untuk pengakuan (threshold for recognition). Materialitas

adalah sebuah konsep luas yang berhubungan dengan karakteristik kualitatif, terutama relevansi

dan keandalan. Materialitas dan relevansi keduanya didefinisikan dalam hal apa yang

mempengaruhi atau membuat suatu perbedaan bagi pembuat keputusan. Sebuah keputusan untuk

tidak mengungkapkan informasi yang pasti mungkin bisa dibuat, karena investor tidak memiliki

kebutuhan informasi semacam itu (tidak relevan) atau karena jumlah yang terlibat terlalu kecil

untuk membuat perbedaan (tidak material). Suatu item akan dianggap material jika pencantuman

atau pengabaian item tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan

keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus dipertimbangkan dalam

menentukan apakan suatu item material atau tidak.

D. STATEMENT OF FINANCIAL ACCOUNTING CONCEPT (SFAC) NO. 8

SFAC Nomor 8 tentang Conseptual Framework for Financial Reporting. Penjelasan

dalam SFAC ini dibagi kedalam tiga chapter yaitu: Chapter 1, The Objective of General Purpose

Financial Reporting; Chapter 2, (masih kosong/dalam pembahasan); dan Chapter 3, Qualitative

Characteristics of Useful Financial Information.

SFAC nomor 8 ini diterbitkan oleh FASB pada tahun 2010 yang merupakan pengganti

dari SFAC nomor 1 dan 2. Langkah awal dari diterbitkannya statement ini adalah sebagai hasil

dari kerjasama yang dilakukan antara FASB dan IASB sejak tahun 2004 sebagai sebuah

tambahan terhadap Norwalk Agreement, dimana kerjasama tersebut merupakan suatu upaya

untuk melakukan konvergensi masing-masing kerangka konseptual FASB-IASB (Wolk, et al.

2013).
SFAC nomor 8 ini merupakan sebuah statement yang dimaksudkan untuk menetapkan

tujuan dan konsep fundamental yang akan menjadi dasar bagi pengembangan akuntansi

keuangan dan panduan pelaporan. Dalam chapter 1 tentang kerangka konseptual pelaporan

keuangan, tujuan umum pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan

tentang pelaporan entitas yang berguna bagi investor dan calon investor, pemberi

pinjaman/lenders, dan kreditor lainnya dalam pembuatan keputusan tentang penyediaan

sumberdaya bagi entitas tersebut. Sementara itu, dalam chapter 3 tentang karakteristik kualitatif

informasi keuangan, mengidentifikasi tipe-tipe informasi yang sangat berguna bagi investor dan

calon investor, pemberi pinjaman/lenders, dan kreditor lainnya dalam pembuatan keputusan

tentang entitas pelaporan yang menjadi dasar informasi dalam laporan keuangannya.

Karakteristik kualitatif yang dijelaskan dalam statement ini terdiri dari dua karakteristik

fundamental dan empat karakteristik tambahan yang sifatnya meningkatkan mutu dari dua

karakteristik fundamental tersebut. Dua karakteristik fundamental tersebut yaitu relevance dan

faithful representation. Kemudian, agar kegunaan suatu informasi keuangan semakin meningkat,

maka harus didukung oleh empat karakteristik tambahan yaitu comparability, verifiability,

timeliness, dan understandability.

Dalam SFAC nomor 2, informasi yang relevan harus disajikan secara tepat waktu

(timeliness), memiliki nilai prediktif (predictive value) dan nilai umpan balik (feedback value).

Sementara di SFAC nomor 8, informasi keuangan yang relevan adalah mampu membuat

perbedaan dalam keputusan jika memiliki nilai prediktif (predictive value) dan nilai konfirmasi

(confirmatory value).

Hal yang sama juga berlaku pada faithful representation, dalam SFAC nomor 8, untuk

menjadi faithful representation yang sempurna maka harus memiliki karakteristik lengkap
(complete), netral (neutral), dan bebas dari kesalahan (free from error). Sementara dalam SFAC

nomor 2, faithful representation atau representational faithfulness menjadi bagian dari reliability.

Dua karakteristik fundamental tersebut memerlukan comparability, verifiability,

timeliness, dan understandability untuk meningkatkan kualitas informasi yang bermanfaat dalam

pengambilan keputusan. Comparability merupakan karakteristik kualitatif yang memungkinkan

pengguna mengidentifikasi dan memahami persamaan dan perbedaan antara dua item ataupun

dua perangkat fenomena ekonomi, misalnya dua perangkat statemen keuangan yang

merepresentasi kegiatan dua badan usaha (Suwardjono, 2012). Sedangkan verifiability berarti

bahwa suatu informasi mampu memberikan keyakinan yang tinggi kepada para pemakai karena

tersedianya sarana bagi para pemakai untuk menguji secara independen kebenaran informasi

tersebut. Selain itu, kualitas informasi akan semakin meningkat ketika informasi itu tersedia

secara tepat waktu (timeliness) pada saat dibutuhkan oleh para pembuat keputusan. Informasi

tersebut juga harus mampu dicerna atau dipahami (understandability) maknanya oleh para

pemakai. Suatu laporan keuangan disediakan untuk pengguna yang memiliki pengetahuan yang

cukup tentang bisnis dan kegiatan ekonomi serta bagi mereka yang melakukan review dan

analisis informasi ekonomi dengan rajin.

KESIMPULAN

Dari penjelasan yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa informasi

akuntansi merupakan salah satu faktor penting bagi pengguna laporan keuangan dalam membuat

suatu keputusan ekonomi. Informasi akuntansi harus disajikan sedemikian rupa agar berguna dan

bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Karakteristik kualitatif informasi akuntansi yang

dikeluarkan oleh dewan standar dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda. Dalam ASOBAT
disebut sebagai Standards for Accounting Information, sedangkan dalam APB Statement No. 4

disebut sebagai Qualitative Objectives. Kemudian dalam SFAC No. 2 disebut sebagai

Qualitatitive Characteristics of Accounting Information, sedangkan dalam SFAC No. 8 juga

hampir sama dengan SFAC No. 2 yaitu disebut sebagai Qualitative Characteristics of Useful

Financial Information.

Teori kegunaan-keputusan informasi akuntansi tercermin dalam bentuk kaidah-kaidah

yang harus dipenuhi oleh komponen-komponen pelaporan keuangan agar dapat bermanfaat

dalam rangka pengambilan keputusan ekonomi. ASOBAT, APB Statement 4, SFAC No. 2, dan

SFAC No. 8 mengungkapkan karakteristik kualitatif informasi akuntansi untuk membantu

pengguna informasi dalam pegambilan keputusan ekonomi. Walaupun sebenarnya karakteristik

kualitatif informasi akuntansi yang dikeluarkan dalam statement tersebut berbeda-beda satu sama

lain, namun kesemuanya adalah bertujuan untuk bagaimana bisa membantu dalam pengambilan

keputusan yang bermanfaat oleh pengguna. Berikut adalah perbandingan dari keempat statement

tersebut tentang karakteristik kualitatif informasi akuntansi:

Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi


APB
ASOBAT SFAC No. 2 SFAC No. 8
Statement No. 4
Relevance Relevance Primary Decision-Specific Fundamental
Qualities: Qualitative
Verifiability Understandabilit Relevance Characteristic:
y Predictive Value Relevance
Freedom from Feedback Value Predictive Value
Bias Verifiability Timeliness Confirmatory Value

Quantifiabilit Neutrality Reliability Faithful


y Verifiability Representation
Representational Faithfulness Complete
Timeliness
Neutrality Free From Error
Neutral
Comparability Secondary & Interactive Enhancing
Qualities: Characteristics:
Comparability (Including Comparability
Consistency) Verifiability
Completeness Threshold for Recognition: Timeliness
Materiality Understandability

DAFTAR PUSTAKA

Financial Accounting Standards Board, 1980. Statement of Financial Accounting Concepts No. 2

Qualitative Characteristics of Accounting Information. Norwalk, CT: FASB

Financial Accounting Standards Board, 2010. Statement of Financial Accounting Concepts No. 8

Conceptual Framework for Financial Reporting. Norwalk, CT: FASB

Safira, SE.Ak.M.Si. Kerangka Kerja Konseptual Untuk Akuntansi & Pelaporan Keuangan (Review

untuk Akuntansi Konvensional). Pusat Pengembangan Bahan Ajar. Universitas Mercu Buana.

Schattke, R.W. 1972. An Analysis of Accounting Principles Board Statement No. 4. The Accounting

Review, Vol. 47, No. 2 (Apr., 1972), pp. 233-244.


Sterling, Robert R., 1967. A Statement of Basic Accounting Theory: A Review Article. Journal of

Accounting Research, Vol. 5, No. 1 (Spring, 1967) , pp 95-112

Suwardjono, 2012. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi Ketiga. BPFE,

Yogyakarta

Wolk, Harry I., et al. 2013. Accounting Theory Conceptual Issues in a Political and Economic

Environment. Eighth Edition. SAGE Publication Inc. USA

Zeff, Stephen A. 1999. The Evolution of The Conceptual Framework for Business Enterprises In The

United States. Accounting Historians Journal, Vol. 26, No. 2