Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TUTORIAL April , 2016

MODUL 1 TRAUMATOLOGI

SOLAR ECLIPSE

DISUSUN OLEH :

NAMA : DEVY DAMAYANTI

STAMBUK : N 101 12 014

KELOMPOK : I (SATU)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2016
STEP 5

1. Diagnosis dari skenario?


2. Jenis-jenis syok? Management syok? Management pada anak dan dewasa khusus
pada kasus trauma?
3. Deskripsi GCS?
4. Patofisiologi dan manifestasi klinis pada skenario?
5. Kompetensi dokter umum alam menangani traumatologi?
6. Bagaimana pelaksanaan ORIF atau OREF ? Pembebatan dan rehabilitasi?
7. Klasifikasi dislokasi?
8. Indikasi vena section?
9. Jelaskan tentang spinal syok?
10. Diagnosis dan penatalaksanaan cedera medularis?

STEP 6

1. Sjamsuhidajat, de jong.2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta; EGC


2. Gruendemann, Barbara J. dan Billie Fernsebner. 2005. Kedokteran Perioperatif .
Jakarta : EGC
3. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Panduan praktis diagnosis dan
tatalaksana penyakit saraf. Jakarta: EGC; 2007.
4. Konsil kedok RI, 2012. Kompetensi kedokteran Indonesia. Jakarta : konsil
kedokteran.
5. Lubis, Mega. 2013. Dislokasi tulang. Jakarta ; medika salemba
6. Wuysang, Devi & ashari. 2015. Pemeriksaan Derajat kesadaran. Makassar; Unhas.
7. Rasjad, C. 2012. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedii. Makassar: Yayasan Wetempone.
8. Mardjono, M. 2003. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.
9. Muhiman, Muhardi, dkk. 2009. Anestesiologi, Staf Pengajar Bagian Anestesiologi
dan Terapi Intensif, Penerbit : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

STEP 7

1. Diagnosis skenario.
Multipel trauma atau politrauma adalah suatu istilah yang biasa digunakan untuk
menggambarkan pasien yang mengalami suatu cedera berat yang diikuti dengan cedera
yang lain, misalnya dua atau lebih cedera berat yang dialami pada minimal dua area
tubuh. Kondisi yang penting dalam menggambarkan penggunaan istilah ini adalah pada
keadaan trauma yang bisa disertai dengan shock dan atau perdarahan serta keadaan yang
dapat membahayakan jiwa seseorang.

Trauma abdomen
Abdomen dibagi 3 bagian:
1. Rongga peritoneum : terdiri dari liver, lien, gaster, usus halus, sebagian duodenum, dan
sebagian usus besar
2. Retroperitoneum : terdiri dari ginjal, ureter, pankreas, aorta dan vena cava.
3. Rongga pelvic : terdiri dari vesica urinaria, rectum dan genitalia interna pada wanita

Trauma abdomen juga dapat dibagi dua yaitu :


1.Trauma tumpul ( Blunt abdominal trauma )
2.Trauma tembus ( Penetrating abdominal trauma )

Trauma musculoskeletal

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Fraktur terbuka adalah fraktur dimana terdapat
hubungan fragmen fraktur dengan dunia luar, baik ujung fragmen fraktur tersebut yang
menembus dari dalam hingga kepermukaan kulit atau kulit dipermukaan yang mengalami
penetrasi suatu objek yang tajam dari luar hingga ke dalam.
Setelah patah tulang terjadi maka otot, pembuluh darah, dan jaringan lunak
lainnya mengalami kerusakan. Sebuah respon sel dengan sel-sel inflamasi dan sel
mesenkimal dibedakan yang menonjol dalam tiga sampai lima hari pertama. Peristiwa
biologis yang menyebabkan fraktur yang komplek tidak sepenuhnya dipahami.
Kebanyakan patah tulang sembuh dengan cara pembentukan kalus. Dalam penyembuhan
fraktur pada tulang panjang menjalani proses klinis dalam lima tahap : inflamasi,
proliferasi, pembentukan callus, konsolidasi, remodelling.
2. Jenis syok & Management syok
KLASIFIKASI SYOK
Klasifikasi syok tersebut antara lain sebagai berikut :

a. Syok hipovolemik kehilangan cairan/plasma (karena luka bakar, gagal ginjal,


diare, muntah), kehilangan darah (sebelum atau sesudah operasi).
b. Syok kardiogenik syok yang disebabkan kegagalan jantung, metabolisme
miokard. Apabila lebih dari 40% miokard ventrikel mengalami gangguan, maka
akan tampak gangguan fungsi vital dan kolaps kardiovaskular.
c. Syok distributif terjadinya gangguan distribusi aliran darah (pada seseorang
yang sehat mendadak timbul demam tinggi dan keadaan umum memburuk setelah
dilakukan tindakan instrumentasi atau prosedur invasif).
d. Syok obstruktif terjadinya gangguan anatomis dari aliran darah berupa
hambatan aliran darah.
e. Syok lainnya syok yang terjadi karena faktor lainnya, seperti : Reaksi
anafilaksis, hipoglikemia, kelebihan dosis obat, emboli paru, tamponade jantung,
dll.

Pada dasarnya penanganan syok ditujukan untuk hal-hal di bawah ini antara lain
sebagai berikut :

- Stabilisasi fungsi-fungsi vital


- Identifikasi dan koreksi gangguan hemodinsmik dan metabolik
- Identifikasi dan koreksi penyakit penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya syok.

Terapi Syok Hipovolemik :


a. Letakkan pasien pada posisi terlentang
b. Berikan oksigen sebanyak 5-10 L/menit dengan kanula nasal atau sungkup muka
c. Lakukan kanulasi vena tepi dengan kateter no. 16 atau 14 perkutanius atau vena
seksi. Kalau perlu jumlah kanulasi vena 2-3 tergantung pada tingkat kegawatan
syok.
d. Beri infus dengan cairan kristaloid atau koloid. Tujuan utama terapi adalah
memulihkan curah jantung dan perfusi jaringan secepat mungkin.
Referensi : muhiman, 2009.
3. Deskripsi GCS

GCS terdiri dari 3 pemeriksaan, yaitu penilaian: respons membuka mata (eye
opening), respons motorik terbaik(best motor response), dan respons verbal
terbaik(best verbal response).
Setelah dilakukan scoring maka dapat diambil kesimpulan : (Compos
Mentis(GCS: 15-14) / Apatis (GCS: 13-12) / Somnolen(11-10) / Delirium (GCS: 9-7)/
Sporo coma (GCS: 6-4) / Coma (GCS: 3)).
Referensi : Wuysang, Devi & ashari. 2015.

4. Patofisiologi dan manifestasi klinis pada skenario


Cedera pada daerah abdomen menyebabkan terjadinya penumpukan cairan pada
abdomen sehingga abdomen mengembung yang disebut dengan distensi abdomen.
Pengeluaran cairan yang terjadi terus menerus menyebabkan kurangnya pasokan
darah ke perifer sehingga munculah tanda-tanda syok serti konjungtiva anemis, akral
dingin, pucat dan penurunan kesadaran.
Referensi : rasjad, 2013.

5. Kompetensi dokter umum dalam menangani traumatologi?


Pada sistem saraf
Pada sistem integumen

Referensi: UKDI, 2012.


6. pelaksanaan ORIF atau OREF ? Pembebatan dan rehabilitasi.

ORIF
(Open Reduksi Internal Fiksasi) adalah sebuah prosedur bedahmedis, yang
tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengaturtulang, seperti yang
diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internalmengacu pada fiksasi sekrup
dan piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan.

Ada beberapa tujuan dilakukannya ORIF (Open Reduksi Fiksasi Internal), antara lain:
1. Memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas.
2. Mengurangi nyeri.
3. Klien dapat melakukan ADL dengan bantuan yang minimal dan
dalamlingkup keterbatasan klien.
4. Sirkulasi yang adekuat dipertahankan pada ekstremitas yang terkena
5. Tidak ada kerusakan kulit

Indikasi ORIF (Open Reduksi Fiksasi Internal) meliputi :


1. Fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani
denganmetode terapi lain, terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan.
2. Fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intra-artikular
disertai pergeseran.
3. Fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan padastruktur otot
tendon.

Kontraindikasi ORIF (Open Reduksi Fiksasi Internal) meliputi :


1. Tulang osteoporotik terlalu rapuh menerima implan
2. Jaringan lunak diatasnya berkualitas buruk
3. Terdapat infeksi
4. Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi.
(Barbara J. Gruendemann dan Billie Fernsebner, 2005)

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pembedahan Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau


Reduksi terbukadengan Fiksasi Internal akan mengimobilisasi fraktur dengan
melakukan pembedahan untuk memasukan paku, sekrup atau pen kedalam tempatfrak
tur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur secara bersama.

Rehabilitation:
mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin Penatalaksanaanawal
fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint. Status neurologis
danvaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun 7 sesudah reposisi
danimobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi
awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan
penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan
operasi dengan ORIF maupun OREF.
Referensi : samsuhidayat, 2010.

7. Klasifikasi dislokasi

Klasifikasi :
Dislokasi congenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi.
misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh
kekuatan tulang yang berkurang.
Dislokasi traumatic : Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf
rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat
oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat
sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin
juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular.

A. Dislokas sendi bahu


Klasifikasi : Dislokasi anterior, posterior, inferior dan dislokasi disertai
dengan fraktur
1. Dislokasi anterior (preglenoid, subkorakoid, subklavikuler)
2. Dislokasi posterior
Biasanya akibat trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna.
Ditemukan adanya nyeri tekan serta benjolan dibagian belakang sendi.
3. Dislokasi inferior
Akibat kaput humerus mengalami jepitan dibawah glenoid dimana lengan
mengarah keatas sehingga terjadi dislokasi inferior. Ditangani dengan reposisi
tertutup seperti pada dislokasi anterior, bila tidak berhasil dengan reposisi terbuka
secara operasi.
4. Dislokasi disertai dengan fraktur tuberositas mayor humerus Biasanya tipe
dislokasi anterior disertai dengan fraktur. Bila reposisi dilakukan pada daerah
dislokasi maka fraktur akan tereposisi dan melekat kembali pada humerus.
Referensi : lubis, 2013.

8. Indikasi vena section

Indikasi utama dilakukannya vena seksi adalah untuk memperoleh akses vena
pada pasien yang tidak berhasil melalui akses vena perifer dan akses sentral
merupakan suatu kontraindikasi bagi pasien. Untuk memasukkan cairan langsung ke
dalam vena untuk waktu yang lama atau keadaan vena pungsi gagal dilakukan,
misalnya pada keadaan vena kolaps (syok, dehidrasi berat). Pada prinsipnya
vena seksi dapat dilakukan pada semua vena, terutama vena superfisial. Lokasi
tersering dilakukan pada: vena safena magna, vena femoralis, vena-vena pada daerah
dorsal tangan, venasefalika, vena kubiti, vena jugularis,vena temporalis.

Teknik ini sangat tepat untuk: pasien yang menggunakan obat secara intravena
dimana akses perifer tidak dapat dilakukan, adanya skar pada akses sentral,
pasienluka bakar dengan pembuluh darah yang kolaps dan mengalami skar, pasien
henti jantung paru, pasien trauma dengan kondisi hipovolemik yang
memerlukan resusitasi. Penderita syok hipovolemik yang dengan cara non
pembedahan (perkutaneus) tidak bisa didapatkan akses vena
untuk resusitasi cairan. Oleh karena itu, Pada syok hipovolemi sangat baik diterapi
melalui vena seksi karena unit darah dapat diinfuskurang dari 3 menit masuk ke vena.
Hal ini juga merupakan teknik yang sangat baik untuk akses pembluh darah pada
situasi kegawatdaruratan pada pediatri.
Referensi: barbara, 2005.

9. Jelaskan tentang spinal syok

Definisi
Spinal syok / syok pada medula spinalis adalah suatukeadaan disorganisasi fungsi
medula spinalis yangfisiologis dan berlangsung untuk sementara waktu, keadaan
ini timbul segera setelah cedera dan dapatberlangsung dari beberapa jam hingga
beberapa minggu.

Etiologi
Cedera medulla spinalis dapat terjadi akibatkecelakaan mobil, cedera karena terjatuh
dan cederaolah raga (olah raga kontak fisik dan menyelam merupakan penyebab
utama quadriplegia).

Terdapat 4 fase:
Tahap 1 hilangnya atau melemahnya dari semua refleks bawah spinal cord injury
(SCI) berlangsung selama sehari.Neuron yang terlibat menjadi hyperpolarized dan
karenanya kurang responsif terhadap rangsangan. Waktunya 0 -1days Areflexia /
Hyporeflexia.

Tahap 2 terjadi selama 2 hari berikutnya dan ditandaidengan kembalinya beberapa


refleks bawah spinalcord injury, reflek pertama yang muncul adalah polysinaptic,
refleks tendon. Waktunya 1-3days kembali awal refleks

Fase 3 dan 4 yang ditandai dengan hyperreflexia, ataurefleks abnormal yang kuat
biasanya biasanya dihasilkan dgn stimulasi minimal. Waktunya 1-4 weeks
hyperreflexia (awal)

Fase 4 disisi lain, adalah somadimediasi, dan akan memakan waktu lebih lama untuk
soma untuk mengangkut berbagai faktor pertumbuhan ,termasuk protein ke ujung
akson. Waktunya 1-12 monts hyperreflexia, Spastisitas.
Referensi : dewanto, 2007.
10. Diagnosis dan penatalaksanaan fraktur medularis

Diagnosis
A. Cedera medulla spinalis
Dalam menegakkan diagnosis pada Cedera medulla spinalis, dilakukan
anamnesis yang lengkap, dimana keluhan dan riwayat adanya trauma atau
kelainan tulang belakangataupun adanya osteoporosis merupakan resiko
terjadinya cedera medulla spinalis. Selainitu dilakukan pemeriksaan fisik yang
lengkap, dan penunjang yang sesuai untuk menegaggakan diagnosis. Dengan
menggunakan panduan American Spinal Scale Neurologi dapat menegakkan
diagnosis, dan dapat menegakkan diagnose sementara bilahasil pemeriksaan
penunjang belum keluar.
Apabila medulla spinalis tiba-tiba mengalami cedera, maka aka nada 3
kelainanyang muncul yaitu :
1. Semua pergerakan volunteer dibawah lesi hilang secara mendadak dan
bersifat permanen, sedangkan reflex fisiologis bisa menghilang atau
meningkat.
2. Sensasi sensorik reflex fisiologis bisa menghilang atau meningkat.
3. Terjadi gangguan fungsi otonom.Cedera medulla spinalis dapat menghasilkan
satu atau lebih tanda-tanda klinis dibawah ini yaitu :
a. Nyeri menjalar
b. Kelumpuhan atau hilangnya pergerakan atau adanya kelemahan
c. Hilangnya sensasi rasa.
d. Hilangnya kemampuan peristaltic usus.
e. Spasme otot atau bangkitan reflex yang meningkat.
f. Perubahan fungsi seksual.
Penatalaksanaan

Prinsip utama penatalaksanaan Trauma Medula Spinalis

1. ABC : pertahankan jalan nafas, beri oksigen bila ada keadaan sesak, beri
cairan infuse 2line untuk mencegah terjadinya shok.
2. Immobilisasi : Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat
kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat, yang pertama ialah
immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal dengan menggunakan
cervical collar. Cegah agar leher tidak terputar (rotation). Baringkan penderita
dalam posisi terlentang (supine) padatempat atau alas yang keras.
3. Stabilisasi Medis : Terutama sekali pada penderita tetraparesis atau tetraplegia.
a. Periksa vital signs.
b. Pasang NGT.
c. Pasang kateter urind. Segera normalkan vital signs. Pertahankan tekanan
darah yang normal dan perfusi jaringan yang baik. Berikan
oksigen, monitor produksi urin, bila perlu monitor AGDA(analisa gas
darah), dan periksa apa ada neurogenic shock. Pemberian megadoseMethyl
Prednisolone, Sodium Succinate dalam kurun waktu 6 jam setaleh
kecelakaandapat memperbaiki konntusio medula spinalis.
4. Mempertahankan posisi normal vertebra (Spinal Alignment) : Bila terdapat
fraktur servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield tong atau Gardner Wells
tong dengan beban 2.5 kg perdiskus. Bila terjadi dislokasi traksi diberikan
dengan beban yang lebih ringan, beban ditambah setiap 15 menit sampai
terjadi reduksi.
5. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal : Bila terjadi realignment artinya terjadi
dekompresi.Bila realignment dengan cara tertutup ini gagal maka dilakukan
open reduction danstabilisasi dengan approach anterior atau posterior.
6. Rehabilitasi : Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini mungkin. Termasuk
dalam program ini adalah bladder training, bowel training, latihan otot
pernafasan, pencapai anoptimal fungsi-fungsi neurologik dan program kursi
roda bagi penderita paraparesis/paraplegia.
Referensi : Mardjono, M. 2003.