Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM IV

BATANG

Oleh :
Kelompok 4
Ayyub Ramadhan (1532220060)
Dwi Putri Utami (1532220067)
Farida Wulansari (1532220069)
Fika Miftahul Huda (1532220071)
Fitri Utami (1532220073)
Indri Febriyanti (1532220075)

Dosen Pembimbing:
Ike Apriani, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) RADEN FATAH
PALEMBANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Batang merupakan sumbu dengan daun melekat
padanya. Di ujung titik tumbuhnya, batang dikelilingi daun
muda dan menjadi tunas terminal. Dibagian batang yang
lebih tua, yang daunnya saling berjauhan, buku (nodus)
tempat daun melekat pada batang di bedakan dari ruas
(internodus), yakni batang yang berurutan. Di ketiak daun
biasanya terdapat tunas ketiak. Bergantung pada
pertuumbuhan ruas dapat di bedakan bermacam-macam
tumbuhan. Batang bisa memperlihatkan sumbu yang
memanjang dengan buku dan ruas dengan jelas. Sebaliknya,
batang dapat juga amat pendek dan letak daunnya meerapat
membantuk roset. Taraf percabangan yang terjadi jika tunas
ketiak tumbuh menjadi ranting menambah keragaman
bentuk. Berkaitan dengn habitat tumbuh dibedakan batang
yang tumbuh dibawah tanah (rizoma, umbi lapis, atau umbi
batang), di dalam air, atau di darat. Batang juga ada yang
tegak, memanjat, atau merayap. Ragam lain adalah susunan
daun pada batang, ada atau tidak adanya tunas ketiak yang
tumbuh menjadi cabang, serta taraf percabangan, bila ada
(Hidayat, 1995).
Mengingat banyaknya fungsi dan struktur batang,
amatlah menakjubkan bahwa hanya ada satu struktur dasar
bagi semua tumbuhan berpembuluh. Jaringan pada batang
dapat dibagi menjadi jaringan dermal, jaringan dasar, dan
jaringan berpembuluh. Perbedaan struktur primer batang
pada spesies yang berlainan didasari oleh perbedaan dalam
jumlah jaringan dasar dan jaringan pembuluh. Pada conifera
dan dikotil, jaringan pembuluh pada ruas batang umumnya
tampak seperti silinder berongga yang dibatasi di sebelah
luar oleh korteks dan di sebelah dalam oleh empulur. Sistem
jaringan pembuluh pada batang primer berupa sejumlah
berkas yang jelas terpisah satu dari yang lain dan dinamakan
ikatan pembuluh. Ikatan pembuluh juga dinamakan fasikel
dan terletak dalam lingkaran. Parenkim di antara dua ikatan
pembuluh yang berdampingan di sebut parenkim interfasikel
atau jari-jari empulur, pada Gymnospermae dan dikotil, letak
ikatan pembuluh berada dalam lingkaran, sedangkan pada
monokotil letaknya tersebar (Hidayat, 1995).
Pada praktikum kali ini praktikan akan melakukan
pengamatan pada batang iler (Coleus sp), batang rumput teki
(Cyperus rotundus) dan batang pletekan (Ruella tuberosa).
Praktikum mengenai pengamatan batang ini perlu dilakukan
guna mahasiswa dapat memahami dan mempelajari struktur
anatomi maupun morfologi dari batang dikotil dan monokotil,
serta memahami lebih jelas lagi mengenai sistem
pertumbuhan meristem apeks.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pengamatan pada batang yaitu:
1. Untuk melihat dan mempelajari susunan anatomi batang
dikotil.
2. Untuk melihat dan mempelajari susunan anatomi batang
monokotil.
3. Untuk melihat meristem apeks pucuk.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Batang
Menurut Nugroho (2006), batang merupakan bagian
tubuh tumbuhan yang amat penting bagi tubuh tumbuhan.
Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut:
1) Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau
dapat pula mempunyai bentuk lain. Akan tetapi selalu
bersifat aktifnomorf, artinya dapat dengan sejumlah bidang
dibagi menjadi dua bagian yang setangkup.
2) Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh
buku-buku, dan pada buku-buku inilah terdapat daun.
3) Tumbuhnya biasanya ke atas, menuju cahaya atau
matahari (bersifat Fototrop atau helitrop)
4) Selalu bertambah panjang di ujungnya. Oleh sebab itu
sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan
yang tidak terbatas.
5) Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan
tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau
ranting yang kecil.
6) Umumnya tidak berwarna hijau,kecuali tumbuhan yang
umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang
masih muda.

B. Fungsi Batang
Batang sangat berperan penting bagi kehidupan
tumbahan. Air yang diserap akar diangkut oleh pembuluh
kayu (xylem) sampai ke daun. Air dan garam-garam mineral
dari dalam tanah masuk ke tumbuhan secara osmosis, karena
cairan yang ada di dalam tumbuhan lebih pekat dari air yang
ada di dalam tanah. Air menumbus sel-sel, sehingga
menimbulkan suatu gaya pada akar yang disebut gaya tekan
akar, air masuk ke dalam batang secara kapilaritas, karena
pada batang terdapat lubang-lubang kecil memanjang yang
disebut kapiler batang yang terdapat pada korteks.
Sepanjang pembuluh xylem punya sel-sel berbentuk kapiler,
sehingga mempercepat kenaikan air sampai ke daun (Fahn,
1995).
Menurut Sumarni (1993), jika diinventarisir maka fungsi
batang pada tumbuhan adalah sebagi berikut:
1) Fungsi sebagai alat angkut (transportasi)
Batang tumbuhan memiliki macam-macam jaringan
yang hampir sama dengan akar. Jaringan pembuluh angkut
floem dan xylem saling bersambung dari akar ke batang
dan ke daun, dan tidak pernah putus. Air dan garam
mineral dari dalam di serap oleh bulu-bulu akar masuk ke
epidermis menuju korteks dan endodermis dan akhirnya
masuk ke pembuluh xylem untuk diangkut. Xylem yang
ada di dalam akar itu akan berkesinambungan atau
bersambung, tidak putus dengan pembuluh xylem yang di
dalam batang.
Air dari akar itu selanjutnya akan sampai di batang,
karena di angkut oleh xylem. Air di xylem batang di angkut
ke bagian tumbuhan lainnya yang lebih atas, seperti ke
daun. Xylem pada batang bentuknya tampak seperti
tabung atau rongga kecil yang disebut pipa kapiler.
Naiknya air pada pipa-pipa kapiler seperti pada xylem
disebut kapilaritas batang. Selain pembuluh kayu atau
xylem yang saling bersambungan mulai dari akar, batang
hingga ke daun, juga terdapat pembuluh angkut yang
berfungsi untuk menyangkut zat makanan hasil fotosintesis
dari daun keseluruh bagian tubuh tumbuhan. Jaringan
pembuluh ini disebut pembuluh tapis atau floem. Floem
juga selalu bersambung dari daun sampai akar. Floem yang
ada di batang berfungsi untuk penerimaan zat makanan
dari daun untuk dibawa keseluruh bagian tumbuhan
(Sumarni, 1993).
2) Fungsi batang sebagai alat penyimpanan zat makanan
Selain sebagai tempat transportasi zat makanan
batang juga dapat digunakan oleh beberapa tumbuhan
tertentu sebagai tempat penyimpanan zat makanan. Zat
makan tersebut dapat digunakan oleh tumbuhan itu ketika
ia memerlukan kekurangan zat makanan. Kentang adalah
umbi yang berasal dari batang yang mengembang berisi
zat makanan yang berupa zat tepung. Zat makanan
tersebut merupakan sisa dari proses aktivitas hidup
tumbuhan kentang, dan disimpan sebagai cadangan
makanan.
3) Fungsi batang sebagai penyokong tubuh
Batang pada tumbuhan juga berfungsi sebagai
penyokong tubuh tumbuhan, maksudnya adalah
menjadikan tumbuhan dapat tegak dan mengarah ke atas.
Di samping itu batang juga merupakan tempat melekatnya
daun-daun dari tumbuhan itu. Fungsi lainnya yang tidak
kalah pentingnya, sebagai penunjang bahwa tumbuhan
bagian dari makhluk ditunjang oleh fungsi batang sebagai
alat perkembangbiakan secara vegetatif, antara lain
perkembangbiakan menggunakan stek batang.
4) Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada diatas
tanah, yaitu: daun , bunga, dan buah
5) Alat perkembangbiakan.
Batang juga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan
vegetatif. Hampir semua pertumbuhan vegetatif, baik
secara alami maupun buatan, menggunakan batang. Bagi
manusia, batang tumbuhan yang membentuk kayu dapat
dimanfaatkan, antara lain, untuk membuat perabot rumah
tangga, contohnya batang pohon jati; untuk bahan
makanan, contohnya sagu, asparagus; untuk bahan
industri, contohnya tebu dan bambu.

C. Jenis-jenis Batang
Menurut Mulyani (2006), jika membandingkan berbagai
jenis tumbuhan. Ada di antaranya yang jelas kelihatan
batangnya. Tetapi ada pula yang tampaknya tidak berbatang.
Oleh sebab itu jenis batang dibedakan menjadi beberapa
jenis:
1) Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis).tumbuh
tumbuhan yang benar tidak berbatang sesungguhnya tidak
ada. Hanya tampaknya saja tidak ada. Hal itu disebabkan
karena batang amat pendek, sehingga semua daunya
seakan-akan keluar dari bagian atas akarnya dan tersusun
rapat satu sama lain merupakan suatu roset (rosula),
seperti misalnya lobak (Raphanus sativus L). Tumbuhan
semacam ini akan memperlihatkan batang dengan nyata
pada waktu berbunga. Dari tengah-tengah roset daun
muncul batang yang tumbuh cepat dengan daun-daun
yang jarang-jarang, bercabang-cabang dan mendukung
bunga-bunganya.
2) Tumbuhan yang jelas berbatang.
Batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut:
a) Batang basah (herbaceus), yaitu batang yang lunak dan
berair, misalnya pada bayam (Amaranthus spinosus L)
dan Krokot (Portulaca oleracea L).
b) Batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang biasa keras
dan kuat, karena sebagian besar terdiri atas kayu, yang
terdapat pada pohon-pohon (arbores) dan semak-
semak (frutices) pada umumnya. Pohon adalah
tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan
bercabang jauh dari permukaan tanah, sedang semak
adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang
berkayu, bercabang-cabang dekat permukaan tanah
atau malahan dalam tanah. Contoh pohon: mangga,
semak: sidaguri.
c) Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras,
mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali
berongga, misalnya pada padi (oryza sativa L) dan
rumput( Gramineae) pada umumnya.
d) Batang mendong (calamus), seperti batang rumput,
tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang,
misalnya pada mendong (Fimbristylis globusa kunth),
wlingi (Scirpus grossus L) dan tumbuhan sebangsa teki
(cyperaceae).

D. Bentuk Batang
Tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) pada umumnya
mempunyai batang yang di bagian bawahnya lebih besar dan
ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat dipandang
sebagai suatu kerucut atau limas yang amat memanjang,
yang dapat mempunyai percabangan atau tidak. Tumbuhan
biji tunggal (Monocotyledoneae) sebaliknya mempunyai
batang yang dari pangkal sampai ke ujung boleh dikata tak
ada perbedaan besarnya. Hanya pada beberapa golongan
saja yang pangkalnya tampak membesar, tetapi selanjutnya
ke atas tetap sama, seperti terlihat pada bermacam-macam
palma (Palmae) (Mulyani, 2006).
Jika berbicara tentang bentuk batang biasanya yang
dimaksud ialah bentuk batang pada penampang
melintangnya. Menurut Mulyani (2006), bentuk batang dapat
dibedakan bermacam-macam sebagai berikut:
1) Bulat (teres), misalnya bambu (Bambusa sp), kelapa
(Cocos)
2) Bersegi (angularis). Dalam hal ini ada kemungkinan:
a. Bangun segi tiga (triangularis), misalnya batang
teki (Cyperus rotundus)
b. Segi empat (quadrangularis), misalnya batang
markisah (Passiflora quardrangularis L.)
3) Pipih dan biasanya lalu melebar menyerupai daun dan
mengambil alih tugas daun pula. Batang yang bersifat
demikian dinamakan:
a. Filokladia (phyllocladium), jika amat pipih dan
mempunyai daun dan mempunyai pertumbuhan yang
terbatas, misalnya pada jakang (Muehlenbeckia
platyclada-meissn)
b. Kladodia (cladodium), misalnya sebangsa kaktus
(Opuntia vulgaris Mill)

E. Percabangan Pada Batang


Batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang
tidak, yang tidak bercabang kebanyakan dari golongan
tumbuhan yang berbiji tunggal (Monocotyledoneoe), misalnya
jagung (Zea mays L.) . Umumnya batang memperlihatkan
percabangan, entah banyak entah sedikit (Nugroho, 2006).
Menurut Nugroho (2006), cara percabangan ada
bermacam-macam, biasanya dibedakan tiga macam cara
percabangan, yaitu :
1. Cara percabangan monopodial, yaitu jika batang pokok
selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang
(lebih cepat pertumbuhannya) dari pada cabang-
cabangnya, misalnya pohon cemara (Casuarina
equisetifolia L.)
2. Percabangan simpodial, batang pokok sukar ditentukan
karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu
menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah
cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan cabangnya
misalnya pada sawo manila (Achras zapota L.)
3. Percabangan menggarpu atau dikotom, yaitu cara
percabangan, dimana batang setiap kali menjadi 2 cabang
yang sama besarnya, misalnya paku andam (Gleichenia
linearis Clarke). Cabang yang besar yang biasanya
langsung keluar dari batang pokok lazimnya disebut dahan
(ramus). sedang cabang-cabang yang kecil dinamakan
ranting(ramulus).
Cabang-cabang suatu tumbuhan dapat melakukan
bermacam-macam sifatnya oleh karena itu cabang dapat
dibedakan menjadi sebagai berikut:
1. Geragih (flagellum, stolo), yaitu cabang-cabang kecil
panjang yang tumbuh merayap, dan dari buku-bukunya ke
atas keluar tunas baru dan kebawah tumbuh akar-akar.
Tunas pada buku-buku ini beserta akar-akarnya masing-
masing dapat terpisah merupakan suatu tumbuhan baru.
Cabang yang demikian ini dibedakan lagi dalam dua
macam :
a. Merayap di atas tanah, misalnya pada daun kaki kuda
(Centella asiatica Urb.) dan arbe (Fragraria vesca L.)
b. Merayap di dalam tanah , misalnya teki (cyperus
lrotundus L.), kentang (solanum tuberosum L.)
2. Wiwilan atau tunas air (virga singularis), yaitu cabang yang
biasanya tumbuh cepat dengan ruas-ruas yang panjang,
dan berasal dari kuncup yang tidur atau kuncup-kuncup
liar. Contoh dari wiwilan ini terdapat pada kopi (Coffea sp.)
dan pohon cokelat (Theobroma cacao L.).
3. Sirung panjang (virga), yaitu cabang-cabang yang biasanya
merupakan pendukung daun-daun, dan mempunyai ruas-
ruas yang cukup panjang. Pada cabang-cabang demikian
ini tidak pernah dihasilkan bunga, oleh sebab itu sering
disebut pula cabang yang mandul (steril).
4. Sirung pendek (virgula atau virgula sucrescens), yaitu
cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek yang
selain daun biasanya merupakan pendukung tanpa bunga
dan buah. Cabang yang dapat menghasilkan alat
perkembangbiakan bagi tumbuhan ini disebut pula cabang
yang subur (fertil).

F. Arah Tumbuh Batang


Cabang-cabang pada suatu tumbuhan biasanya
membentuk sudut yang tertentu dengan batang pokoknya.
Bergantung pada besar kecilnya sudut ini, maka arah tumbuh
cabang menjadi berlainan (Sumarni, 1993).
Menurut Sumarni (1993), umumnya arah tumbuh batang
dibedakan seperti berikut:
1. Tegak (fastigiatus), yaitu jika sudut antara batang dan
cabangnya amat kecil, sehingga arah tumbuh cabang
hanya pada pangkalnya saja sedikit serong ke atas, tetapi
selanjutnya hampir sejajar dengan batang pokoknya,
misalnya wiwilan pada kopi (Coffea sp.)
2. Condong ke atas (patens), jika cabang dengan batang
pokok membentuk sudut kurang lebih 45 derajat, misalnya
pada pohon cemara (Casuarina equisetifolia L.)
3. Mendatar (horizontalis), jika cabang dengan batang pokok
membentuk sudut sebesar kurang lebih 90 derajat Celcius,
misalnya pada pohon randu (Caiba pentandra gaertn)
4. Terkulai (declinatus), jika cabang pada pangkal mendatar,
tetapi ujungnya lalu melengkung kebawah, misalnya kopi
robusta (Coffea robusta Lindl.)
5. Bergantung (pendulus), cabang-cabang yang tumbuhnya
ke bawah, misalnya cabang-cabang tertentu pada Salix.

G. Struktur Anatomi dan Susunan Jaringan Pada Batang


1. Struktur Anatomis Batang
Menurut Hidayat (1995), pada ujung batang yang
sedang tumbuh, tepatnya berada dibelakng meristem
apikal, terbentuk jaringan primer. Dari luar ke dalam,
jaringan primer seperti yang terdapat diujung akar terdiri
atas jaringan berikut ini.
a) Protoderma, merupakan bagian luar yang akan
membentuk epidermis.
b) Prokambium, terletak di bagian tengah, akan
membentuk xilem, floem, dan kambium vascular.
c) Meristem dasar, akan membentuk empulur dan korteks.
Hanya tumbuhan dikotil yang memiliki kambium
sehingga dapat terjadi pertumbuhan sekunder. Hal tersebut
dapat menyebabkan tumbuhan dikotil memiliki struktur
sekunder.

2. Susunan Jaringan Pada Batang


a) Epidermis
Epidermis biasanya terdiri dari satu lapisan sel
yang memiliki mulut daun (stomata) dan rambut
(trikomata). Sel epidermis adalah sel hidup dan mampu
bermitosis. Hal itu penting dalam memperluas wilayah
apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan
sekunder. Respons sel epidermis tehadap tekanan itu
adalah dengan melebar tangensial dan membelah
antiklinal (Hidayat, 1995).
b) Korteks dan empulur
Korteks adalah kawasan di antara epidermis dan
sel silinder pembuluh paling luar. Batang biasanya
terdiri dari parenkim yang dapat berisi kloroplas. Di tepi
luar sering terdapat kolenkim atau sklerenkim. Batas
antara korteks dan daerah jaringan pembuluh sering
tak jelas karena tidak ada endodermis. Namun,
beberapa dikotil membentuk pita caspary pasa sel
lapisan korteks paling dalam dan beberapa tumbuhan
paku menunjukan endodermis yang jelas. Tak ada ruang
antar sel diantara sel endodermis. Pada pita caspary,
suberin yang bersifat hidrofob menembus dinding
primer dan tak hanya melekat saja. Meskipun dari segi
morfologi tak terlihat endodermis, telah dibuktikan
bahwa lapisan korteks terdalam memiliki sifat kimiawi
dan fisiologi yang serupa dengan endodermis. Jadi, ada
batas fisiologis antara korteks dan daerah jaringan
pembuluh (Hidayat, 1995)
Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat
mengandung kloroplas. Bagian tengah empulur dapat
dirusak di waktu pertumbuhan. Sering hal itu terjadi
hanya di daerah ruas, sementara di daerah buku,
empulurnya utuh, disebut diafragma buku. Dalam
empulur terdapat ruang antarsel yang mencolok
besarnya. Sel-sel di bagian tepi empulur berukuran
lebih kecil, tersusun kompak, dan berdaya hidup lebih
lama. Oleh karena empulur juga disebut dengan
medula, maka daerah tepi dengan sel berukuran kecil
dan kompak dinamakan seludang perimedula. Baik
korteks maupun empulur dapat mengandung berbagai
idioblast, yaitu sel berisi kristal, benda ergastik lain, dan
sklereid maupun latisifer (Tjitrosomo, 2015).
c) Sistem jaringan pembuluh
Menurut Hidayat (1995), sistem jaringan pembuluh
primer (sistem jaringan pembuluh yang terdapat dalam
tumbuhan yang belum menghasilkan kambium
pembuluh jadi, keadaannya primer) terdiri dar sejumlah
berkas pembuluh yang berbeda-beda ukurannya. Posisi
xylem dan floem dalam berkas atau juga di sebut ikatan
pembuluh, beragam. Pada penampang melintang dapat
dibedakan macam ikatan pembuluh:
1. Ikatan pembuluh kolateral: floem bertempat
disebelah luar xylem.
2. Ikatan pembuluh bilakolateral: seperti kolateral,
namun terdapat floem disebelah dalam xylem
sehingga ada floem eksternal dan floem internal.
3. Ikatan pembuluh konsentris, amfikribal: floem
mengelilingi xylem (amfikribal). Ikartan pembuluh
amfikribal sering terdapat pada paku dan juga
terdapat sebagai ikatan pembuluh kecil pada bunga,
buah, dan biji Angiospermae.
4. Ikatan pembuluh konsentris amfivasal: xylem
mengelilingi floem, ditemukan pada beberapa
dikotil, seperti pada ikatan pembuluh medula dan
begonia dan pada monokotil seperti Liliaceae
5. Ikatan pembuluh radial: pada akar, letak berkas
xylem bergantian dan berdampingan dengan berkas
floem. Susunan seperti itu disebut susunan radial.

H. Struktur primer dan Sekunder batang


1) Struktur Primer Batang
Semua tumbuhan memiliki struktur primer, yaitu
struktur jaringan yang terbentuk pada awal pertumbuhan
batang pada ujung batang. Berikut ini akan dibahasa
tentang struktur primer batang monokotil dan dikotil.
a) Struktur Primer Batang Monokotil
Struktur primer batang monokotil terdiri atas
epidermis pada bagian luar, dan pada bagian dalam
terdiri atas seklerenkima, parenkima korteks, ikatan
pembuluh, dan parenkima empulur. Ikatan pembuluh
pada struktur primer batang monokotil tersebar acak
hingga ke empulur, sehingga batas korteks dan empulur
tidak tampak (Tjitrosomo, 2015).
b) Struktur Pimer Batang Dikotil
Menurut Mulyani (2006), Struktur primer batang
dikotil dibangun oleh jaringan-jaringan primer sebagai
berikut.
1. Epidermis, terbentuk atas sel-sel pipih yang berfungsi
melindingi jaringan yang ada di dalamnya, umumnya
satu lapis. Dinding sel tebal dan dilapisi kitin atau
kutikula.
2. Korteks, daerah di bawah epidermis yang tersusun dari
sel-sel parenkim, fungsinya dapat untuk menyimpan
cadangan makanan. Pada beberapa jenis tumbuhan,
dinding sel-sel parenkimnya menebal membentuk
kolenkima dan seklerenkima, yang berfungsi
memperkuat batang.
3. Stele atau silinder pusat, merupakan bagian terdalam
dari batang. Setele tersebut disusun oleh xylem,
floem, kambium vascular, dan empulur.
a. Floem primer merupakan jaringan korteks yang
tersusun oleh beberapa macam sel yang mampu
mengangkut zat organik hasil fotosintesis dari daun
ke tempat lain. Misalnya, floem dan serabut floem.
b. Kambium vascular (kambium pembuluh),
merupakan jaringan yang bersifat meristematis dan
terbentuk dari prokambium. Kambium ini terletak di
antara jaringan xylem dan floem. Pembelahan
kearah luar sel-sel kambium akan membentuk floem
sekunder sedangkan kea rah dalam akan
membentuk xylem sekunder.
c. Xylem primer, merupakan jaringan yang kompleks,
yang tersusun atas pembuluh xylem (trakea) dan
trakeid, terbentuk pada pembuluh primer.
d. Empulur, baian dalam batang yang tersusun oleh sel
parenkima dan dapat berfungsi sebagai tempat
penyimpanan makanan.
2) Struktur Sekunder Batang
Menurut Nugroho (2006), hanya tumbuhan dikotil
yang memiliki kambium sehingga hanya tumbuhan dikotil
yang mengalami pertumbuhan sekunder. Macam-macam
jaringan sekunder yang dimiliki oleh tumbuhan dikotil akan
dijelaskan sebagai berikut.
a) Floem sekunder , merupakanjaringan floem yang
letaknya lebih dalam dari jaringan floem primer, yang
dibentuk oleh kambium kea rah luar. Akibat terus
terbentuknya jaringan floem sekunder kulit batang
tanaman dikotil membesar atau mengalami
pertumbuhan sekunder.
b) Xylem sekunder, merupakan jaringan xylem yang
dibentuk oleh jaringan kambium kea rah dalam. Letak
xylem sekunder lebih ke arah luar dari pada letak xylem
primer. Pertumbuhan xylem sekunder menyebabkan jari-
jari xylem semakin besar. Pertumbuhan jari-jari xylem
tidak sama setiap tahun, tergantung pada curah hujan,
persediaan air, makanan, dan pengaruh musim.
Fenomena tebal tipisnya pertumbuhan jari-jari batang
menyebabkan terbentuknya lingkaran tahun.
c) Gabus dan kambium gabus, Gabus (felem) merupakan
jaringan yang dibentuk oleh kambium gabus (felogen) ke
arah luar. Sebaliknya kea rah dalam felogen akan
membentuk feloderma atau parenkim gabus. Gabus
terdiri dari sel-sel yang dinding selnya mengalami
penebalan oleh suberin, dan bersifat impermeabel. Pada
jaringan gabus di kulit batang, terdapat lentisel.
Tabel 1. Perbedaan batang dikotil dan monokotil.

No Monokotil Dikotil
1. Batang tidak bercabang-cabang Batang bercabang-cabang
2. Hipodermis berupa sklerenkim Hipodermis berupa kolenkim
3. Pembuluh angkut tersebar Pembuluh angkut teratur dalam
susunan lingkaran atau berseling
radial
4. Tidak mempunyai jari-jari Jari-jari empulur berupa deretan
empulur parenkim diantara berkas
pengangkut
5. Tidak mempunyai kambium
Mempunyai kambium vascular,
vascular, sehingga tidak dapat
sehingga dapat tumbuh membesar
tumbuh membesar
6. Empulur tidak dapat dibedakan Dapat dibedakan daerah korteks
dengan daerah korteks dan empulur
7. Tidak ada kambium diantara Ada kambium diantara xylem dan
xylem dan floem floem
8. Hanya mengalami pertumbuhan Mengalami pertumbuhan primer
primer dan pertumbuhan sekunder.

BAB III
METODOLOGI RAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan 1
Pengamatan Batang ini dilakukan pada hari Selasa, 29
November 2016 Pukul 13.20 WIB Di Laboratorium Biologi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
(UIN) Raden Fatah Palembang.

B. Alat dan Bahan


1. Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini
yaitu:
a. Mikroskop
b. Objek glass
c. Pipet tetes
d. Silet
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini
yaitu:
a. Batang rumput teki (Cyperus rotundus)
b. Batang pletekan (Ruellia tuberosa)
c. Batang tanaman iler (Coelus Sp)

C. Cara Kerja
Pengamatan pada batang Dikotil
1. Buat lah sayatan pada batang Dikotil, kemudian letakkan
diatas preparat.
2. Amatilah dibawah mikroskop.
3. Gambarlah bagan batang dengan detail satu sektor dan
beri keterangan bagian-bagiannya.
Pengamatan pada batang Monokotil
1. Buat lah sayatan pada batang Monokotil, kemudian
letakkan diatas preparat.
2. Amatilah dibawah mikroskop
3. Gambar bagan dengan detail satu sektor dan beri
keterangan bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Pengamatan pada batang Rumput Teki (Cyperus rotundus)

Gambar pengamatan

1
1
2
2
3 3
4 4
5 5

Perbesaran Perbesaran
4x10 10x10

Keterangan Klasifikasi

Perbesaran 4x10 Menurut (Mulyani, 2006):


1. Epidermis
Regnum: Plantae
2. Korteks
Divisi :Spermathophyta
3. Xylem
Kelas :Monocotyledoneae
4. Empulur
Ordo :Cyperaus
5. Floem
Famili :Cyperaceae
Genus :Cyperus
Spesies :Cyperus rotundus
Perbesaran 10x10:
Nama Daerah: Rumput teki
1. Epidermis
2. Korteks
3. Xylem
4. Empulur
5. Floem

Tabel 2. Pengamatan batang pletekan (Ruellia tuberosa)

Gambar pengamatan
1
2
1
2 3
3 4
4 5
5 6
8

Perbesaran Perbesaran
4x10 10x10

Keterangan Klasifikasi

Perbesaran 4x10: Menurut (Mulyani, 2006):


1. Epidermis
Regnum :Plantae
2. Korteks
Divisi :Spermathophyta
3. Empulur
Kelas :Dicotyledoneae
4. Kambium
Ordo :Solanales
5. Xylem
Famili :Acanthaceae
6. Floem
Genus :Ruellia
Spesies :Ruellia tuberosa
Nama Daerah: Pletekan
Perbesaran 10x10:
1. Epidermis
2. Korteks
3. Empulur
4. Kambium
5. Xylem
6. Floem

Tabel 3.Pengamatan pada batang iler (Coleus sp)

Gambar pengamatan

1
2
3
4
5

6
1
2
3
4
5
6

Perbesaran
4x10 Perbesaran
10x10

Keterangan Klasifikasi
Menurut (Nugroho, 2006):
Perbesaran 4x10:
Regnum: Plantae
1. Protoderm
Divisi :Spermathophyta
2. Meristem apikal
Kelas :Dicotyledoneae
3. Primordia
Ordo :Lamiales
4. Tunas aksil
Famili :Lamiaceae
5. Prokambium
Genus :Coleus
6. Meristem dasar
Spesies :Coleus sp
7. primordia
Nama Daerah: Iler

Perbesaran 10x10:
1. Protoderm
2. Meristem apikal
3. Primordia
4. Tunas aksil
5. Prokambium
6. Meristem daar

B. Pembahasan
Pada pengamatan sayatan tipis rumpu teki (Cyperus
rotundus) dapat dilihat dengan warna kecoklatan sert dapat
berwarna kehitaman, jika diamati di sekelilingnya terlihat
epidermis, korteks, xylem dan floem. Batang rumput teki
termasuk kedalam batang monokotiledon dan mempunyai
berkas pengangkut tipe kolateral tertutup dan berkas
pengangkut terletak tersebar.
Menurut mulyani (2006), yang utama pada kolateral
tertutup ialah antara pembuluh kayu dan pembuluh tapis
tidak terdapat kambium, dalam hal ini yang berperan sebagai
penghubung antara pembuluh kayu (xylem) dengan
pembuluh tapis (floem) yakni jaringan parenkim. Tidak jarang
pula berkas pengangkut ini terletak dikelilingi oleh sklerenkim
oleh karenanya sering pula disebut sebagai selubung
sklerenkim.
Menurut Nugroho (2006), tipe kolateral yaitu letak
xylem dan floem berdampingan, umumnya floem disebelah
luar xylem, dan xylem berada di sebelah dalam floem.
Sedangkan bila antara xylem dan floem berdampingan secara
langsung tanpa adanya kambium disebut tipe kolateral
terbuka.
Pada pengamatan sayatan tipis batang pletekan (Ruella
tuberosa) dapat dilihat dengan warna kecoklatan dapat
dilihat epidermis, korteks, floem, xylem, kambium, dan
empulur. Batang pletekan termasuk kedalam batang
tumbuhan dikotil dan mempunyai berkas pengangkut tipe
kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur
di luar lingkaran.
Menurut Nugroho (2006), epidermis pada batang adalah
sel hidup yang mamu bermitosis, Korteks adalah kawasan
diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar,
korteks batang terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas,
ditepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim. Batas
daerah korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak
jelas karena sering tidak di temukan epidermis apalagi pada
batang yang masih muda.
Menurut Mulyani (2006), kekhususan yang utama pada
kolateral terbuka adalah terdapatnya kambium dalam berkas
ini yang berfungsi sebagai jaringan penghubung antara floem
dan xylem. Selain itu dapat berperan sebagai pembentuk
pembuluh-pembuluh pengangkut.
Menurut Tjitrosomo (2015), empulur biasanya terdiri
dari parenkim yang terdapat mengandung kloroplas, bagian
tengah empulur dapat rusak diwaktu pertumbuhan, sering hal
ini terjadi dibagian daerah ruas, sementara didaerah buku
empulur utuh.
Pada pengamatan sayatan batang iler (Coleus Sp)
dapat dilihat dengan warna kecoklatan serta terdapat pigmen
ungu yang terdapat ditengah, dapat dilihat dibawah
mikroskop terdapat primordial daun, meristem tepi, meristem
pucuk, korpus dan prokambium. Prokambium berfungsi
berkembang membentuk jaringan pengangkut berupa xylem
dan floem dan primordial daun yang akan membentuk bakal
daun.
Menurut Nugroho (2006), Husntein membagi ujung akar
menjadi tiga daerah yaitu dermatogen, periblem, dan ploron.
Dermatogen akar akan berkembang menjadi epidermis,
Periblem akar akan berkembang menjadi korteks, dan Ploron
akan berkembang menjadi stele. Sementara submit membagi
ujung batang menjadi dua bagian korpus dan tunika. Korpus
merupakan bagian paling luar dari satu sel tunggal dan titik
tumbuh, sedangkan tunika merupakan bagian pusat titik
tumbuh.
Menurut Tjitrosomo (2015), pada tumbuhan
Angiospermae dan gymnospermae, titik tumbuh vegetasi
terdiri dari sekelompok sel meristem yang membentuk
seluruh batang beserta daun-daunnya. Sementara pada
tumbuhan Ptedhpyta titik tumbuh vegetasi hanya terdiri dari
satu sel tunggal yang disebut sel apikal.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada pengamatan tentang susunan anatomi batang dikotil
yang di lakukan pada sayatan tipis batang pletekan (Ruella
tuberosa) terlihat ada epidermis, endodermis, korteks dan
empulur. Pada korteks terdapat jaringan gabus (kambium) dan
jaringan pengangkut (xylem dan floem). Pada struktur anatomi
batang dikotil jaringan pengangkut xylem dan floem tersusun
secara beraturan, dengan kambium yang berada diantara
xylem dan floem.
Pada pengamatan tentang susunan anatomi batang
monokotil yang dilakukan pada sayatan tipis batang rumput
teki (Cyperus rotundus) terlihat epidermis, endodermis,
korteks dan empulur. pada batang monokotil bagian kortek
hanya terdiri dari jaringan pengangkut xylem dan floem yang
tersusun tersebar secara acak tanpa adanya kambium.
Pada pengamatan jaringan meristem apeks yang
dilakukan pada sayatan tipis batang iler (Coleus Sp) dapat
dilihat dengan warna kecoklatan serta terdapat pigmen ungu
yang terdapat ditengah, dapat dilihat dibawah mikroskop
terdapat primordial daun, meristem tepi, meristem pucuk,
korpus dan prokambium. Prokambium berfungsi berkembang
membentuk jaringan pengangkut berupa xylem dan floem
dan primordial daun yang akan membentuk bakal daun.

B. Saran
Sebaiknya pada saat melakukan praktikum praktikan harus
lebih berhati-hati dalam hal pengamatan karena bila terjadi
kesalahan maka, akan mempengaruhi hasil yang didapat dan
bisa pula hasil yang didapat tidak akan sesuai dengan yang
diharapkan. Selain itu praktikan harus lebih mendengarkan
arahan yang diberikan oleh asisten dosen yang bersangkutan
agar proses praktikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Fahn, A. 1995. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada


University Press.

Hidayat, E. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bamdung: ITB.

Sumarni, I. 1993. Struktur Dan Perkembangan Tumbuhan.


Yogyakarta: UGM Presss.

Mulyani, S. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: PT Kanisius.

Nugroho, L. H. Dkk. 2006. Struktur Dan Perkembangan


Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tjittrosomo, S. S. 2015. Botani umum 1. Bandung: Penerbit


Angkasa.