Anda di halaman 1dari 8

TAKE HOME KAJIAN ASUHAN KEBIDANAN

Oleh :
MIRANIE SAFARINGGA
1520332028

DOSEN PEMBIMBING :
Bd. Lisma Evareny, M. PH

PROGRAM MAGISTER ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
Soal Ujian TakeHome

Mata Kuliah Kajian Asuhan Kebidanan

1. Ibu R usia 25 tahun G2 P1 A0 usia kehamilan 9 bulan datang ke Bidan dengan keluhan
ingin melahirkan. Dari hasil pemeriksaan didapat : Vital Sign dalam batas normal TFU 3
jari bawah pusat, presentasi kepala, PUKI, penurunan kepala 3/5 DJJ 132 kali/menitkuat
dan teraturHis kuat 4 kali dlm 10 menit teratur. Hasil pemeriksaan dalam :pembukaan
lengkap, ketuban positif, penurunan kepala Hodge III+ ubun-ubun kecil kiri depan, tidak
ada moulase.30 menit kemudian dilakukan tindakan bayi lahir lengkap bayi lahir sehat,
bidan melakukan masage pada fundus uteri 15 menit kemudian plasenta lahir 10 menit
setelah itu terjadi perdarahan yang banyak, kontraksi lemah kandung kemih kosong.

Apakah penggunaan manajemen aktif kala tiga dapat mencegah perdarahan post partum.

Kajilah pertanyaan dibawah ini dengan menggunakan pertanyaan critical appraissal dengan
menggunakan PICO, buatlah kesimpulannya

2. Kajilah kasus lain yang berhubungan dengan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin,
nifas dan BBL serta pelayanan KB. Buatlahlengkap dengan skenario kasusnya
Jawab :

No 1.

Telah dilakukan tindakan penanganan bayi baru lahir, telah dilakukan masase pada
fundus uteri selama 15 menit, placenta lahir, 10 menit setelah itu terjadi perdarahan yang
banyak, kontraksi lemah kandung kemih kosong.

Pada kasus ini manajemen aktif kala III yang dilakukan dengan benar dapat mencegah
terjadinya pendarahan postpartum pada 24 jam pertama postpartum.

Secara teoritis Manajemen Aktif Kala Tiga adalah mengupayakan kontraksi yang adekuat
dari uterus dan mempersingkat waktu kala tiga, mengurangi jumlah kehilangan darah,
menurunkan angka kejadian retensio plasenta (Susilawati, 2009, hal. 140). Cara penatalaksanaan
kala persalinanan plasenta dapat menyebabkan variasi jumlah perdarahan yang dialami ibu.
Percobaan kala tiga Bristol di Ingris, yang umumnya memberikan obat oksitosin pada ibu setelah
bayi baru lahir (untuk memastikan distosia bahu tidak terjadi), menunjukkan bahwa lebih sedikit
darah yang hilang pada penatalaksanaan aktif kala tiga persalinan dibandingkan pada
penatalaksanaan fisiologis kala tiga. Penatalaksanaan Aktif Kala Tiga adalah pemberian oksitosin
segera setelah perlahiran bayi, dan menggunakan traksi tali pusat terkendali untuk pelahiran
plasenta. Penelitian selanjutnya menginformasikan kehilangan darah yang jauh lebih sedikit pada
penatalaksanaan aktif kala tiga, bahkan pada populasi yang beresiko rendah mengalami
perdarahan post-partum. Bidan harus yakin bahwa hanya ada satu bayi yang akan dilahirkan
sebelum memberikan oksitosin setelah pelahiran (Varney, 2008, hal. 827).

Manajemen Aktif Kala Tiga telah dianggap sebagai cara menurunkan hemoragi
postpartum pada ibu dengan factor resiko peningkatan kehilangan darah dan manajemen ini telah
didukung oleh World Health Organization (WHO) sebagai suatu cara menurunkan perdarahan
postpartum ketika ada keterbatasan akses mendapatkan produk darah atau sumber lain.
Manajemen aktif meliputi penggunaan oksitosin baik pada kelahiran bahu anterior bayi atau
segera setelah kelahiran bayi, pengkleman awal tali pusat, dan penarikan terkontrol terhadap tali
pusat untuk memudahkan kelahiran plasenta.
Manajemen aktif kala III terdiri dari :

Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir


Melakukan penegangan tali pusat terkendali
Masase fundus uteri

Tujuan manajemen aktif kala Tiga adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih
efektif sehingga dapat mempersingkat waktu keluarnya plasenta, mencegah perdarahan dan
mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan
fisiologis.

Kasus diatas dapat ditegakkan diagnosa sementara pasien dengan atonia uteri
dikarenakan kontraksi uterus yang lemah. Penyebab dari atonia uteri adalah:

Terjadi overdistensi uteus dimana terjadi pada (gemeli, polihidramnion,


makrosomia)
Kala I dan II yang memanjang
Persalinan presipitatus
Infeksi intrauterin
Multiparitas tinggi

Critical Appraisal dengan PICO


Pertanyaan Klinis : Apakah Penggunaan Manajemen Aktif Kala III dapat Mencegah Perdarahan
Postpartum?

P (Patient and Problem)


Ibu Ny. R mengalami perdarahan postpartum 10 menit setelah kelahiran plasenta. Kondisi ibu
pada kala I dan kala II persalinan baik. Setelah bayi lahir, bidan melakukan masase fundus
selama 15 menit, kemudian plasenta lahir, 10 menit kemudian terjadi perdarahan yang
banyak, kontraksi lemah, kandung kemih kosong

I (Intervention)
Intervensi yang ingin diketahui manfaat klinisnya adalah Manajemen Aktif Kala III yaitu
penggunaan manajemen aktif kala III dalam mencegah perdarahan, namun apabila telah
dilakukan dan pendarahan masih berlangsung maka dilakukan tindakan penatalaksanaan
atonia uteri :
Lakukan penilaian klinisnya dengan gejala kontraksi uterus yang lembek
Tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan pasang infus,beri uterotonika
kemudian masase uterus
Periksa kandung kemih
Apabila kontraksi uterus berkontraksi dengan baik evaluasi perdarahan,vital
sign,awasi penderita 15 menit pertama dan 30 menit kedua post partum.
Dapat dilakukan IMD agar uterus berkontraksi dengan baik,mengurangi
perdarahan postpartum pada ibu ,pada bayi berguna untuk daya immunnya
Apabila masih belum berkontraksi maka dilakukan Kompresi Bimanual Placenta

C (Comparison)
Berdasarkan jurnal yang ditelaah bahwa tindakan manajemen aktif kala III dimulai dari
pemberian suntikan oksitosin, penegangan tali pusat terkendali dan masase uterus.
Berdasarkan hasil jurnal disebutkan bahwa manajemen aktif kala tiga lebih efektif di banding
manajemen fisiologis, dimana kita hanya menunggu placenta lahir sendiri tanpa intervensi
apapun.
Komponen dasar dari dua strategi manajemen diuraikan dalam
Table 1. Physiological Versus Active Management

Physiological Management Active management

Uterotonic None or after placenta With delivery of anterior


delivered shoulder or baby
Uterus Assessment of size and tone Assessment of size and tone
Cord traction None Application of controlled
cord traction* when uterus
contracted
Cord clamping Variable Early
*Gentle downward cord traction with countertraction on the uterine body

Para pendukung manajemen fisiologis berpendapat bahwa proses alam yang diuraikan di atas
mendukung pemisahan normal dan plasenta dan menyebabkan komplikasi yang lebih sedikit.
Jika PPH berkembang, mungkin dikelola secara efektif dengan teknik yang tersedia dan obat-
obatan. Para pendukung menyatakan keprihatinan bahwa manajemen aktif meningkatkan PPH
dan rahim tarif inversi karena kabel traksi dan meningkatkan risiko plasenta karena jebakan
yang disebabkan oleh agen uterotonika. Plasenta terjadi oleh kontraksi rahim dan upaya
ekspulsif ibu, dan pemotongan tali pusat. Kepedulian juga ada terkait kasus kembar kedua
terdiagnosis jika uterotonics secara rutin digunakan pada saat pengiriman.
Para pendukung manajemen aktif berpendapat bahwa pemberian agen uterotonika profilaksis
memyebabkan kontraksi rahim yang kuat dan mengarah ke retraksi lebih cepat dan pelepasan
plasenta. Hal ini mengurangi jumlah kehilangan darah ibu dan tingkat PPH. Mereka juga
berpendapat bahwa aktivitas uterus yang lebih efektif menyebabkan penurunan kejadian
plasenta.
Peregangan tali pusat hanya diterapkan ketika rahim berkontraksi baik, dan rahim secara
manual dikendalikan di atas tingkat simfisis dengan countertraction (Brandt-Andrews
manuver). Manuver ini disebut sebagai peregangan tali pusat terkendali. Beberapa besar, acak,
percobaan dikontrol telah membahas pertanyaan apakah manajemen fisiologis atau
manajemen aktif adalah lebih baik. Percobaan ini telah secara konsisten menunjukkan bahwa
manajemen aktif mengarah ke beberapa manfaat dibandingkan dengan manajemen fisiologis.
Percobaan ini menggunakan 1 dari 3 agen uterotonika: ergonovin, oksitosin, atau Namun,
syntometrine, (kombinasi ergometrin dan oksitosin).

Tujuh percobaan telah menjadi subyek dari meta-analisis di Cochrane Library, di mana
manajemen aktif menunjukkan penurunan risiko rata-rata perdarahan primer maternal (lebih
dari 1000 mL) saat lahir dan hemoglobin ibu kurang dari 9 g / dL setelah kelahiran. Tidak ada
perbedaan yang ditemukan dalam kejadian masuk ke unit neonatal atau pengobatan penyakit
kuning yang membutuhkan bayi.
Para penulis juga melaporkan penurunan yang signifikan dalam kehilangan darah utama yang
lebih besar dari 500 mL dengan manajemen aktif, serta penurunan rata-rata kehilangan darah
ibu pada saat lahir, transfusi darah ibu, dan uterotonics terapi. Peningkatan yang signifikan
pada tekanan darah diastolik ibu, muntah setelah lahir, setelah sakit, dan penggunaan
analgesia dari lahir sampai debit dilaporkan. Penurunan berat lahir bayi juga ditemukan
dengan manajemen aktif.
Link jurnal : http://emedicine.medscape.com/article/275304-overview#a3

O Outcome
Manajemen aktif kala III dapat mencegah perdarahan, jikan dilakukan dengan urutan yang
benar, sebaliknya jika dilakukan dengan tidak benar akan menimbulkan efek buruk, seperti
yang terjadi pada kasus diatas, masase fundus yang merupakan bagian dari manajemen aktif
kala III, namun seharusnya masase fundus dilakukan setelah kelahiran plasenta. Pada kasus
tidak disebutkan pemberian suntik oksitosin dan penegangan tali pusat terkendali, sehingga
manajemen aktif kala III tidak dilakukan dengan baik yang mengakibatkan terjadinya
perdarahan

Kasus no 2

Seorang ibu berusia 25 tahun, usia kehamilan 12 minggu ,datang ke BPM dengan keluhan kram
pada perut bagian bawah dan perdarahan dari kemaluannya. Hasil pemeriksaan bidan diketahui
TD 120/80 mmHg, nadi 88x/,pernafasan 24 x/m,suhu 37,5 OC ,ekspulsi sebagian hasil konsepsi
dan pemeriksaan dalam serviks terbuka.
analisa PICO

(P) Problem :

Ibu hamil dengan usia kehamilan kurang 20 minggu, mengalami abortus inkompletus

Pathogenese.
Terjadi perdarahan dan nekrose dalam jaringan decidua, hasil konsepsi terlepas
sebagian atau seluruhnya dan sebagai benda asing, merangsang rahim
berkontraksi,mengeluar kan hasil konsepsi.
Kehamilan kurang 10 mgg, pengeluaran hasil konsepsi lengkap, karena villi chorialis
belum tertanam kuat dalam jaringan decidua, sehingga mudah terlepas semuanya.
Kehamilan lebih10 mgg, chorion tumbuh cepat, hubungan villi chorialis dengan
jaringan decidua kuat, sehingga hanya sebagian yang lepas, saat terjadi abortus masih
ada sisa tertinggal.

Abortus inkompletus yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang
kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya makin muda kehamilan
waktu terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum (50-80%

(I) Intervensi

Prinsip pengobatan abortus inkomplit adalah pembersihan sisa konsepsi dari kavum uteri.
Cara pelaksanaannya tergantung usia kehamilan,besar uterus,dan hasil penghitungan HPHT,
serta sarana dan prasarana difasilitas pelayanan kesehatan .

Evakuasi sisa konsepsi pada abortus inkomplit hingga usia keehamilan 12-14 minggu dapat
dilakukan dengan aspirasi vakum atau dilatasi dan kuretase

( C ) Comparation

Beberapa hasil penelitian aspirasi vakum menunjukan resiko yang lebih rendah jika
dibandingkan dengan kurate tajam. Aspirasi vakum tidak memerrlukan anastesi umum dan
tidak memerlukan ruang khusus (dapat dilayani secara rawat jalan)

Pada jurnal diatas dapat diberikan mifepristone 200 mg

( O ) Out come

Beberapa hasil penelitian aspirasi vakum menunjukan resiko yang lebih rendah, sehingga
pada kasus abortus inkompletus dapat di gunakan metoda aspirasi vakum,
Link_artikel :
http://eprints.unsri.ac.id/1613/1/Kinerja_Tenaga_Medis_Puskesmas_Dalam_Tindakan_Aspirasi_
Vakum_Manual_(AVM)_Pada_Abortus_Inkomplit.pdf