Anda di halaman 1dari 7

Peleburan Dengan Tanur Induksi

1. Pendahuluan.

Penggunaan tanur induksi di industri pengecoran logam dewasa ini telah semakin
berkembang. Hal ini terutama karena tanur induksi menjanjikan beberapa kelebihan antara
lain:

Hasil peleburan bersih.

Mudah dalam mengatur/mengendalikan temperatur.

Komposisi cairan homogen.

Efisiensi penggunaan energi panas tinggi.

Dapat digunakan untuk melebur berbagai jenis material.

Namun demikian terdapat pula hambatan/kendala yang perlu diperhatikan yaitu:

Infestasi biaya beban tetap yang cukup besar menuntut loading yang tinggi.

Biaya operasi yang besar menuntut tingkat kegagalan yang rendah.

Dibutuhkan operator maupun teknisi berpengalaman dalam mengoperasikannya.

Tingkat bahaya besar, mengingat tanur ini menggunakan enerji listrik yang sangat
besar.

Biaya perawatan besar.

Dengan demikian walaupun tanur induksi menjanjikan banyak keuntungan namun menuntut
perlakuan dan pengoperasian yang BENAR meliputi:

Keterampilan operator.

Penggunaan bahan baku dengan spesifikasi jelas.

Preventive maintenance yang intensiv.

2. Prinsip proses peleburan dengan tanur induksi.

Tanur induksi bekerja dengan prinsip transformator dengan kumparan primer dialiri arus AC
dari sumber tenaga dan kumparan sekunder. Kumparan sekunder yang diletakkan didalam
medan mahnit kumparan primer akan menghasilkan arus induksi. Berbeda dengan
transformator, kumparan sekunder digantikan oleh bahan baku peleburan serta dirancang
sedemikian rupa agar arus induksi tersebut berubah menjadi panas yang sanggup
mencairkannya.

Sesuai dengan frekuensi kerja yang digunakan, tanur induksi dikatagorikan sebagai tanur
induksi frekuensi jala-jala (50 Hz 60 Hz) dengan kapasitas lebur diatas 1 ton/jam dan tanur
induksi frekuensi menengah (150 Hz 10000 Hz) untuk tanur dengan kapasitas lebur rendah.

Frekuensi jala-jala pada tanur induksi frekuensi menengah diubah terlebih dahulu dengan
menggunakan thyristor menjadi freukensi yang lebih tinggi sebelum dialirkan kekumparan
primer.

Skema tanur induksi frekuensi


menengah2.

Secara umum tanur induksi terdiri dari 2 jenis yaitu:

Tanur induksi jenis saluran, yang digunakan sebagai holding furnace (hanya berfungsi
untuk menahan temperatur cairan agar tidak turun).

Tanur induksi jenis krus, yang digunakan sebagai tanur peleburan.

Prinsip pemanasan tanur induksi jenis saluran2.

Pemanasan hanya dilakukan pada bagian saluran cairan. Bahan cair yang panas akan bergerak
keatas, sedangkan bahan cair yang dinggin bergerak kebawah mengisi saluran. Dengan
demikian cairan didalam tanur akan mengalami sirkulasi.
Potongan melintang tanur induksi jenis
saluran2.

Prinsip pemanasan tanur induksi jenis krus2.

Potongan melintang tanur induksi jenis krus2.

Tanur induksi jenis krus dikonstruksi sedemikian rupa disesuaikan dengan ukuran dan jenis
bahan yang dilebur, sehingga terdapat tanur induksi frekuensi jala-jala, tanur induksi
frekuensi menengah dan tanur induksi frekuensi tinggi.
Daerah kerja
2
frekuensi terhadap kapasitas muat tanur .

Hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih frekuensi kerja tanur induksi adalah
hubungannya dengan ukuran minimum bahan baku yang dapat ditembus oleh frekuensi
tersebut, sebagai berikut:

dimana:

= kedalaman penetrasi elektromagnetik [m].

K = Konstanta bahan baku.

f = Frekuensi kerja [Hz].

Ukuran minimum bahan baku yang dapat dilebur tanpa bantuan cairan adalah:

D = 3,5 x

Oleh Brown Bovery Co. ditabelkan sebagai berikut.


Dimensi
minimum bahan baku [mm]

Dengan demikian bahan baku peleburan pada tanur induksi dengan frekuensi kerja terpasang
yang memiliki dimensi lebih kecil dari harga yang tertulis pada tabel diatas, harus dilebur
dengan bantuan sisa cairan didalam tanur.

Pada tanur induksi frekuensi jala-jala (50 Hz), mengingat dimensi bahan baku minimumnya
sedemikian besar, maka peleburan pertama selalu dimulai dengan bahan berukuran besar
sebagai starting-block serta selalu disisakan sekurang-kurangnya 1/3 cairan didalam tanur
untuk membantu proses peleburan berikutnya.

Akibat dari adanya arus induksi yang terus menerus mengalir didalam cairan maka akan
terjadi pergerakan cairan yang disebut sebagai stirring. Kualitas dan kuantitas stirring
ditentukan oleh tinggi atau rendahnya frekuensi kerja dan jumlah fasa listrik yang digunakan.

Stirring pada
1 fasa (a) dan 3 fasa (b).

Sedangkan frekuensi kerja yang semakin rendah akan mengakibatkan stirring secara kualitatif
menjadi semakin besar namun kuantitatif sedikit sehingga akan muncull sebagai gejolak
cairan. Frekuensi kerja yang semakin tinggi akan mengakibatkan stirring yang terjadi kecil
namun merata disetiap bagian dari cairan, sehingga cairan akan tampak lebih tenang.

3. Pemuatan bahan peleburan.

Proses peleburan dengan tanur induksi akan semakin efisien bila menggunakan bahan baku
yang masif (berukuran besar) dan kompak. Keuntungan yang diperoleh dari bahan masif
adalah:
1. Bahan yang dilewati oleh medan induksi lebih banyak sehingga menghasilkan enerji
panas yang lebih besar.

2. Permukaan bahan yang bersentuhan dengan udara sedikit sehingga mengurangi efek
oksidasi.

3. Bahan homogen dengan komposisi yang serupa sehingga mengurangi faktor


kesalahan peramuan.

4. Mengurangi kemungkinan bahan asing dan kotoran ikut terbawa pada saat pemuatan
sehingga lebih dapat menjamin pencapaian komposisi yang dikehendaki serta
mengurangi terak ataupun bahaya-bahaya lain yang ditimbulkannya.

Ketersediaan cairan didalam tanur juga akan dapat meningkatkan kecepatan peleburan. Maka
dalam hal pemuatan bahan kedalam tanur indsuksi berlaku urutan sebagai berikut:

Tanur induksi frekuensi jala-jala:

1. Sarting blok untuk awal peleburan.

2. Sisa cairan, yaitu 1/3 dari kapasitas tanur untuk peleburan lanjutan.

3. Besi kasar.

4. Bahan daur ulang.

5. Besi bekas.

6. Baja bekas.

7. Carburisher (bersama baja bekas).

8. Bahan paduan, dimana padfuan dengan kehilangan terbakar (melting loss) tinggi
dimuatkan paling akhir.

Poin 1 merupakan tuntutan wajib bagi tanur induksi frekuensi jaringan, sebab tanpa starting
block proses peleburan tidak dapat berlangsung. Sedangkan poin 2 adalah upaya untuk
meningkatkan efisiensi enerji peleburan. Poin 3 sampai 8 merupakan urutan prioritas bila
bahan-bahan tersebut digunakan.

Tanur induksi frekuensi menengah dan tinggi:

1. Sarting blok untuk awal peleburan (bila tersedia).

2. Besi kasar.

3. Bahan daur ulang.

4. Besi bekas.
5. Baja bekas.

6. Carburisher (bersama baja bekas).

7. Bahan paduan, dimana padfuan dengan kehilangan terbakar (melting loss) tinggi
dimuatkan paling akhir.

Poin 1 lebih baik dilakukan walaupun tanpa sarting blok proses peleburan dengan tanur
induksi frekuensi menengah sampai tinggi tetap dapat dilakukan. Sedangkan poin 2 sampai 7
merupakan urutan prioritas bila bahan-bahan tersebut digunakan.

Rangkuman.

1. Tanur induksi digunakan pada proses peleburan besi, baja cor dan sedikit nonferro.

2. Enerji peleburan diperoleh dari bahan bakar listrik.

3. Tanur induksi terdiri dari dua jenis yaitu jenis saluran (untuk proses penahanan
temperatur) dan jenis krus (untuk proses peleburan).

4. Ukuran bahan baku sangat ditentukan oleh frekuensi kerja tanur induksi.

5. Kualitas peleburan sangat ditentukan oleh lining tanur induksi.

Efisiensi peleburan akan naik bila bahan baku yang digunakan berukuran besar dan masif
(kompak).