Anda di halaman 1dari 11

PENGGUNAAN ANTIPLATELET CLOPIDOGREL DALAM TERAPI ANGINA PECTORIS

Posted on December 29, 2007 by farmakoterapi-info

PENGGUNAAN ANTIPLATELET CLOPIDOGREL DALAM TERAPI ANGINA PECTORIS

Disusun oleh: Lestarining Wahyu Ndadari (078115016)

Angina pectoris adalah sekumpulan gejala klinis khas yang ditandai dengan rasa tidak nyaman (nyeri) di
dada, rahang, bahu, punggung, atau lengan. Gejala yang lain seperti rasa tertekan atau terbakar di dada.
Nyeri terjadi selama 0,5 hingga 30 menit. Faktor lain seperti lingkungan yang dingin, berjalan setelah
makan, peningkatan emosional, rasa takut atau rasa marah yang berlebih. Gejala dapat membaik setelah
beristirahat dan penggunaan nitroglycerin. Pada angina tidak stabil, saat istirahat pun dapat terasa nyeri
dada, dan terdapat resiko tinggi infark miokard (MI). Selain terapi menggunakan bloker , pasien juga
diterapi dengan obat antiplatelet untuk menurunkan agregasi platelet dan trombosis arteri. Clopidogrel
merupakan salah satu antiplatelet golongan thienopyridines yang mampu mengurangi agregasi dengan
menghambat reseptor adenosin difosfat (ADP) pada platelet secara ireversibel. Clopidogrel juga
digunakan pada pasien yang kontraindikasi terhadap aspirin (antiplatelet lain). Clopidogrel
direkomendasikan untuk pasien yang mengalami angina tidak stabil, non-ST segment myocardial
infarction (NSTEMI), infark miokard akut (AMI), dan ischemic heart disease (IHD).

Sasaran Terapi

Sasaran terapi Clopidogrel sebagai antiplatelet dalam terapi angina pectoris adalah agregasi platelet dan
trombosis arteri yang menyebabkan penyempitan ateromatosa arteri koroner. Penyempitan ini
menyebabkan permintaan/kebutuhan oksigen jantung lebih besar atau melampaui kemampuan suplai
oksigen sehingga jantung kekurangan oksigen dan menimbulkan rasa nyeri di dada.

Tujuan Terapi

Tujuan terapi Clopidogrel sebagai antiplatelet dalam terapi angina pectoris adalah mengurangi atau
mencegah gejala angina (yang membatasi kemampuan beraktivitas dan menurunkan kualitas hidup),
menghilangkan rasa nyeri dan sesak pada dada; menurunkan heart rate;

kontraktilitas jantung; mencegah terjadinya CHD (coronary heart disease) seperti MI, aritmia, gagal
jantung; dan meningkatkan kualitas hidup.

Strategi Terapi
Strategi terapi untuk angina pectoris ada dua macam yaitu terapi farmakologis (menggunakan obat-obat
untuk angina) dan terapi non-farmakologis (terapi tanpa menggunakan obat).

Terapi farmakologis pada angina pectoris meliputi:

Nitroglycerine sublingual; untuk pertolongan cepat untuk angina; mampu menurunkan suara arteriolar
dan venous, mengurangi kebutuhan oksigen jantung, memperbaiki aliran darah jantung dengan dilatasi
(pelebaran) pembuluh

Aspirin; Clopidogrel; sebagai antiplatelet untuk mengurangi agregasi platelet dan trombosis di arteri
sehingga juga dapat mengurangi sumbatan di pembuluh darah

-bloker dengan prioritas MI; memiliki mekanisme kerja mengurangi kebutuhan oksigen jantung selama
penggunaan dan stress dengan cara mengurangi kecepatan dan kontraktilitas denyut jantung

Inhibitor ACE untuk pasien dengan CAD (penyakit arteri koroner) dan diabetes atau disfungsi sistole left
ventricle (LV); mempunyai mekanisme kerja sebagai antagonis pelepasan mediator dari angiotensin II
pada sel otot polos, mencegah plak atherosclerotic ruptur dengan mengurangi inflamasi, mengurangi
hipertropi ventrikel kiri jantung, dan memperbaiki fungsi endotelial

Terapi untuk menurunkan LDL dengan CAD dan LDL konsentrasi >130 mg/dl (catatan: diturunkan
sampai kurang dari 100 mg/dl);

Calcium antagonist/long-acting nitrat untuk mengurangi gejala jika kontraindikasi -bloker; dengan cara
mengurangi kebutuhan oksigen jantung dan menginduksi vasodilatasi (pelebaran pembuluh) arteri
koroner

Calcium antagonist/long-acting nitrat dikombinasikan dengan -bloker jika pengobatan utama dengan -
bloker tidak berhasil;

Calcium antagonist/long-acting nitrat sebagai pengganti -bloker jika pengobatan utama dengan -bloker
mempunyai efek samping yang tidak dapat diterima.

Terapi non-farmakologis meliputi: revaskularisasi, yang dilakukan dengan prosedur yang disebut
coronary artery bypass grafting (CABG) dan percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA).
Terapi-terapi tersebut terutama untuk pasien dengan gejala angina yang tidak dapat lagi diatasi dengan
terapi obat, pasien dengan stenosis arteri koroner kiri lebih besar dari 50% dengan atau tanpa gejala,
pasien dengan penyakit di tiga pembuluh darah dengan disfungsi ventrikel kiri jantung, pasien dengan
angina tidak stabil, dan pasien dengan post-infark miokard dengan lanjutan angina atau iskemik lebih
parah.

Selain terapi-terapi tersebut, disarankan untuk mengubah gaya hidup yang dapat dilakukan antara lain
menghentikan konsumsi rokok; menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan, melakukan olah raga
ringan secara teratur; jika memiliki riwayat diabetes tetap melakukan pengobatan diabetes secara teratur;
dan melakukan kontrol terhadap kadar serum lipid.

Obat Pilihan

Nama generik: Clopidogrel

Nama dagang di Indonesia: Plavix (Sanofi Aventis)

Indikasi

Mengurangi kejadian atherosclerotic (myocardial infarction, stroke, kematian pembuluh darah) pada
pasien dengan atherosclerosis dibuktikan oleh myocardial infarction (MI) yang belum lama berselang
terjadi, stroke yang belum lama berselang terjadi, atau penyakit arterial peripheral yang sudah terbukti;
sindrom coronary akut (angina tidak stabil atau MI non-Q-wave) yang terkontrol secara medis atau
melalui percutaneous coronary intervention/PCI (dengan atau tanpa stent)

Kontra-indikasi

Hipersensitivitas terhadap clopidogrel atau komponen lain dari formulasinya; perdarahan patologis aktif
seperti PUD atau hemoragi intrakranial; gangguan koagulasi; active peptic ulcer (tukak lambung aktif).

Bentuk sediaan: Tablet salut film 75 mg

Dosis

Oral, dewasa: myocardial infarction (MI) yang belum lama berselang terjadi, stroke yang belum lama
berselang terjadi, atau penyakit arterial peripheral yang sudah terbukti: satu kali sehari satu tablet 75 mg
Sindrom coronary akut: initial: loading dose 300 mg; diikuti dengan satu kali sehari satu tablet 75 mg
(dikombinasikan dengan aspirin 75-325 mg satu kali sehari satu tablet).

Pencegahan penutupan coronary artery bypass graft (saphenous vein): pasien dengan alergi terhadap
aspirin: dosis loading: 300 mg 6 jam ; dosis maintenance: 50-100 mg/hari

Aturan pakai

Satu kali sehari satu tablet 75 mg, dapat diminum dengan atau tanpa makanan.

Efek samping

Perdarahan gastrointestinal (saluran pencernaan), purpura, bruising, haematoma, epistaxis, haematuria,


ocular haemorrhage, perdarahan intracranial, nyeri abdominal (perut), gastritis, konstipasi, rash, dan
pruritus (gatal)

Resiko khusus (wanita hamil/gagal ginjal/kelainan hepar)

Pada kehamilan memiliki faktor resiko B; tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui;
pasien yang memiliki resiko peningkatan perdarahan dari suatu trauma, pembedahan atau kondisi
patologik lainnya. Pasien dengan penyakit hepatik sedang yang kemungkinan mengalami perdarahan
diatheses. Penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal dan pasien usia lanjut tidak diperlukan.

Daftar Pustaka

Koda-Kimble, M. A., Young, L. Y., Kradjan, W. A., Guglielmo, B. J., Alldredge, B. K., and Corelli, R. L.,
2005, Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs, Eight edition, 17-2, 17-24, 17-25, 17-31, 17-32,
18-8, 18-23, 18-24, Lippincott, Williams and Wilkins, USA

Lacy, C. F., Amstrong, L. L., Goldman, M. P., and Lance, L. L., 2006, Drug Information Handbook, 374,
375, Lexi-Comp Inc.

Tierney, L. M., McPhee, S. J., and Papadakis, M. A., 2006, Current Medical Diagnosis and Treatment,
45th Edition, 343-361, The McGraw-Hill Companies, Inc., USA

Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., and Posey, L. M., 2005,
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 274, 279, 285, 291, 299, 304, 305, 307,
308, 310, 314, The McGraw-Hill Companies, Inc., USA
Sunthornsaj, N., Fun, L. W., Evangelista, L. F., Labandilo, L. D., Romano, M. B., 2005, MIMS, 101st
Edition, 81, CMPMedica Asia Pte. Ltd., Singapore

Penggunaan Obat Golongan Nitrat pada Angina Pektoris

Angina pektoris adalah deskripsi dari sekumpulan gejala khas yang berkaitan dengan iskemia miokard
dan biasanya diakibatkan oleh penyempitan ateromatosa arteri koroner. Gejala ini termasuk rasa terikat
pada dada, biasanya retrosternal dan sering menjalar ke lengan, dispresipitasi oleh aktivitas, dan membaik
dengan istirahat serta pemberian nitrat. Angina pektoris terjadi dimulai dari arteri koroner yang
mengalirkan darah ke jantung. Dengan meningkatnya usia, plak ateromatosa secara progresif
mempersempit arteri, dan obstruksi pada aliran darah pada suatu saat bisa menjadi sangat parah. Pada saat
aktivitas meningkatkan konsumsi oksigen jantung, darah yang melalui arteri tidak cukup untuk memberi
darah pada jantung. Otot yang mengalami iskemia kemudian memberikan gejala khas angina pektoris,
kemungkinan karena produk-produk sisa yang dilepaskan selama kontraksi otot tertumpuk dalam jaringan
yang perfusinya buruk.
Secara klinis dikenal tiga jenis angina pektoris, yaitu angina klasik (angina stabil kronik, effort-induced
angina) terjadi karena adanya sumbatan anatomik berupa aterosklerosis koroner sehingga aliran koroner
tidak dapat memenuhi kebutuhan jantung yang meningkat (paling umum ditemui setelah kerja fisik,
emosi atau makan); angina varian (angina Prinzmetal) terjadi karena vasospasme koroner (sumbatan
fungsional) dan timbul sewaktu istirahat, yang mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen pada jaringan
jantung; angina tidak stabil ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan lama serangan angina
(crescendo), diinduksi oleh adanya stimulus ringan dan terjadi baik sewaktu istirahat maupun kerja fisik.
Angina tidak stabil meliputi: kelompok penderita yang baru (dalam 6 minggu) mengalami serangan
angina yang berat dan sering; yang mengalami angina sewaktu istirahat; angina stabil yang bertambah
berat, lebih sering dan lebih lama; dan angina yang mengalami infark jantung akut atau infark yang
semakin memburuk

Sasaran terapi untuk angina pektoris meliputi relaksasi otot polos jantung, dilatasi pembuluh vena besar,
dan melebarkan pembuluh darah koroner. Pemberian terapi antiangina bertujuan untuk mengatasi atau
mencegah serangan akut angina pektoris, pencegahan jangka panjang serangan angina. Tujuan ini dapat
tercapai dengan mengembalikan imbangan dan mencegah terjadinya ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen miokard, dengan cara meningkatkan suplai oksigen (meningkatkan aliran darah
koroner) ke bagian miokard yang iskemik dan/atau mengurangi kebutuhan oksigen jantung (mengurangi
kerja jantung).

Strategi terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi angina pektoris meliputi terapi non farmakologis
dan terapi farmakologis. Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan mengontrol emosi, mengurangi
kerja yang berat dimana membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya, mengurangi konsumsi
makanan berlemak, dan istirahat yang cukup. Terapi farmakologis untuk angina pektoris meliputi
penggunaan obat golongan nitrat, obat golongan antagonis adrenoreseptor dan antagonis kalsium.

Obat golongan nitrat merupakan lini (pilihan) pertama dalam pengobatan angina pektoris. Mekanisme
kerja obat golongan nitrat dimulai ketika metabolisme obat pertama kali melepaskan ion nitit (NO2-),
suatu proses yang membutuhkan tiol jaringan. Di dalam sel, NO2- diubah menjadi nitrat oksida (NO),
yang kemudian mengaktivasi guanilat siklase, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi guanosin
monofosfat siklik (cGMP) intraseluler pada sel otot polos vaskular. Bagaimana cGMP menyebabkan
relaksasi, belum diketahui secara jelas, tetapi hal tersebut akhirnya menyebabkan defosforisasi miosin
rantai pendek (MCL), kemungkinan dengan menurunkan konsentrasi ion Ca2+ bebas dalam sitosol. Hal
tersebut akan menimbulkan relaksasi otot polos, termasuk arteri dan vena. Nitrat organik menurunkan
kerja jantung melalui efek dilatasi pembuluh darah sistemik. Venodilatasi menyebabkan penurunan aliran
darah balik ke jantung, sehingga tekanan akhir diastolik ventrikel (beban hulu) dan volume ventrikel
menurun. Beban hulu yang menurun juga memperbaiki perfusi sub endokard. Vasodilatasi menyebabkan
penurunan resistensi perifer sehingga tegangan dinding ventrikel sewaktu sistole (beban hilir) berkurang.
Akibatnya, kerja jantung dan konsumsi oksigen menjadi berkurang. Ini merupakan mekanisme antiangina
yang utama dari nitrat organik.

Dilihat dari farmakokinetiknya, nitrat organik mengalami denitrasi oleh enzim glutation-nitrat organik
reduktase dalam hati. Golongan nitrat lebih mudah larut dalam lemak, sedangkan metabolitnya bersifat
lebih larut dalam air sehingga efek vasodilatasi dari metabolitnya lebih lemah atau hilang. Eritritil
tetranitrat (berat molekul tinggi, bentuk padat) mengalami degradasi tiga kali lebih cepat daripada
nitrogliserin (berat molekul rendah, bentuk seperti minyak). Sedangkan isosorbid dinitrat dan
pentaeritritol tetranitrat (berat molekul tinggi, bentuk padat) mengalami denitrasi 1/6 dan 1/10 kali dari
nitrogliserin. Kadar puncak nitrogliserin terjadi dalam 4 menit setelah pemberian sublingual dengan
waktu paruh 1-3 menit. Metabolitnya berefek sepuluh kali lebih lemah, tetapi waktu paruhnya lebih
panjang, yaitu kira-kira 40 menit. Isosorbid dinitrat paling banyak digunakan, tetapi cepat dimetabolisme
oleh hati. Penggunaan isosorbid mononitrat yang merupakan metabolit aktif utama dari dinitrat bertujuan
untuk mencegah variasi absorpsi dan metabolisme lintas pertama dari dinitrat yang dapat diperkirakan.

Dalam mengatasi serangan angina, maka yang terpenting adalah memilih nitrat organik dengan mula
kerja obat yang cepat. Sebaliknya, untuk pencegahan timbulnya angina, maka yang terpenting adalah
lama kerja obat. Mula kerja (onset) dan lama kerja (durasi) obat tergantung dari cara pemberian dan
formulasi farmasi. Pemberian nitrat organik sublingual efektif untuk mengobati serangan angina akut.
Dengan cara ini absorpsi berlangsung cepat dan obat terhindar dari metabolisme lintas pertama di hati,
sehingga bioavailabilitasnya sangat meningkat (isosorbid dinitrat 30% dan nitrogliserin 38%). Mula kerja
obat tampak dalam 1-2 menit, tetapi efeknya dengan cepat akan menurun sehingga setelah 1 jam hilang
sama sekali. Nitrat organik dapat diberikan secara oral (p.o) untuk tujuan pencegahan timbulnya serangan
angina. Dalam hal ini, obat tersebut harus diberikan dalam dosis cukup besar agar kemampuan
metabolisme hati untuk obat ini menjadi jenuh. Mula kerja nitrat organik oral adalah lambat, puncaknya
tercapai dalam 60-90 menit dan lama kerja berkisar 3-6 jam. Nitrat organik dapat juga diberikan intravena
(i.v) agar kadar obat dalam sirkulasi sistemik yang tinggi cepat tercapai. Nitrogliserin i.v bermanfaat
untuk pengobatan vasospasme koroner dan angina pektoris tidak stabil dan mungkin merupakan cara
terbaik untuk mengobati segera angina akut. Pemberian nitrogliserin dalam bentuk salep atau disk
dimaksudkan untuk tujuan profilaksis karena obat diabsorpsi secara perlahan lewat kulit. Efek terapi
tampak dalam 60 menit dan berakhir dalam 4-8 jam. Pada sediaan disk, nitrogliserin terdapat sebagai
depot dengan reservoir suatu polimer pada plester. Mula kerja lambat dan puncak efek tercapai setelah 1-
2 jam.

Secara umum efek samping yang timbul akibat penggunaan obat golongan nitrat untuk antiangina, antara
lain: dilatasi arteri akibat nitrat menyebabkan sakit kepala (30-60% dari pasien yang menerima terapi
nitrat), sehingga seringkali dosisnya dibatasi. Efek samping yang lebih serius adalah hipotensi dan
pingsan. Refleks takikardia seringkali terjadi. Dosis tinggi yang diberikan jangka panjang bisa
menyebabkan methemoglobinemia sebagai akibat oksidasi hemoglobin. Sesekali juga dapat
menyebabkan rash. Penggunaan nitrat yang berkelanjutan dapat menyebabkan terjadinya toleransi, bukan
saja pada efek samping, tapi juga pada efek antiangina dari nitrat kerja lama. Ketergantungan pada nitrat
terjadi pada pemberian nitrat kerja lama (oral maupun topikal). Penghentian terapi kronik harus dilakukan
secara bertahap untuk menghindari timbulnya fenomena rebound berupa vasospasme yang berlebihan
dengan akibat memburuknya angina sampai terjadinya infark miokard dan kematian mendadak. Udem
perifer juga kadang-kadang terjadi pada pemberian nitrat kerja lama (oral maupun topikal). Nitrat yang
diberikan secara oral dapat menimbulkan terjadinya dermatitis kontak.

Beberapa contoh obat antiangina dari golongan nitrat:

1. Isosorbid mononitrat

Generik: -

Merek dagang (brand name):

Distributor dari Indonesia: Elantan (Pharos) tablet 20 mg, 40 mg; Monecta* (Pratama Nirmala) tablet
10 mg, 20 mg; Pentacad (Darya Varia) tablet 20 mg.

Distributor dari luar negeri: Imdur ( Astra pharmaceuticals-Australia) tablet pelepasan lambat 60 mg;
Mono Mack (Heinrich Mack Nachf-Jerman) tablet 40 mg dan tablet pelepasan lambat 50 mg; Mono
Mack 50 D (Heinrich Mack Nachf-Jerman) tablet pelepasan lambat 50 mg dan Drops 40 mg.

Indikasi: profilaksis angina, tambahan pada gagal jantung kongestif.

Kontraindikasi: hipersensitif terhadap nitrat, hipotensi dan hipovolemia, kardiopati obstruktif hipertrofik,
stenosis aorta, tamponade jantung, perikarditis konstriktif, stenosis mitral, anemia berat, trauma kepala,
pendarahan otak, dan glaukoma sudut sempit.
Dosis dan aturan pakai: dosis awal 20 mg, 2-3 kali sehari atau 40 mg, 2 kali sehari (10 mg, 2 kali sehari
pada pasien yang belum pernah menerima nitrat sebelumnya), bila perlu sampai 120 mg sehari dalam
dosis terbagi.

Efek samping: sakit kepala berdenyut, muka merah, pusing hipotensi postural, takikardi (dapat terjadi
bradikardi paradoksial).

Risiko khusus:

- Kehamilan : faktor risiko C

- Menyusui : ekskresi melalui air susu tidak diketahui

- Gagal ginjal : obat dapat memperparah kerusakan ginjal karena obat selain diekskresi melalui feses juga
dieksresi melalui urin, akantetapi pengubahan dosis obat tidak dibutuhkan pada pasien usia lanjut yang
mengalami gangguan fungsi ginjal.

- Kelainan hepar : obat dapat memperparah kerusakan hati karena obat dimetabolisme di hati, akantetapi
pengubahan dosis obat tidak dibutuhkan pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan fungsi hepar.

2. Isosorbid dinitrat

Generik: Isosorbid Dinitrat tablet sublingual 5 mg, 10 mg.

Merek dagang (brand name):

Distributor dari Indonesia: Isoket (Pharos) tablet 5 mg, 10 mg; Isoket Retard (Pharos) tablet pelepasan
lambat 20 mg, 40 mg, cairan injeksi 1 mg/ml, aerosol 25 mg/ml, krim 100 mg/g; Farsorbid (Pratama
Nirmala) tablet sublingual 5 mg, 10 mg; Cedocard (Darya Varia) tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg; Cedocard
Retard (Darya Varia) tablet pelepasan lambat 20 mg.

Distributor dari luar negeri: Isomack Retard (Heinrich Mack Nachf-Jerman) kapsul 20 mg; Isomack
Spray (Heinrich Mack Nachf-Jerman) buccal spray 13,9 mg/ml; Td. Spray Iso Mack (Heinrich Mack
Nachf-Jerman) spray transdermal 96,7 mg/ml; Vascardin (Nicholas) tablet 5 mg, 10 mg.

Indikasi: profilaksis dan pengobatan angina, gagal jantung kiri.

Kontraindikasi: lihat Isosorbid mononitrat.


Dosis dan aturan pakai: oral, sehari dalam dosis terbagi, angina 30-120 mg; gagal jantung kiri 40-160 mg
sampai 240 mg bila perlu. Infus intravena 2-10 mg/jam, dosis lebih tinggi sampai 20 mg/ jam mungkin
diperlukan.

Efek samping: lihat isosorbid mononitrat

Risiko khusus:

- Kehamilan : faktor risiko C

- Menyusui : ekskresi melalui air susu tidak diketahui

- Gagal ginjal : obat dapat memperparah kerusakan ginjal karena obat selain diekskresi melalui feses juga
dieksresi melalui urin, sehingga dosis obat perlu diturunkan.

- Kelainan hepar : obat dapat memperparah kerusakan hati karena obat dimetabolisme di hati, sehingga
dosis obat perlu diturunkan.

3. Gliseril trinitrat

Generik: -

Merek dagang (brand name):

Distributor dari Indonesia: -

Distributor dari luar negeri: Glyceryl Trinitrate (Davil Bull Lab-Australia) cairan injeksi 5 mg/ml; Nitro
Mack Retard (Heinrich Mack Nachf-Jerman) kapsul pelepasan lambat 2,5 mg, 5 mg; Minitran (3M
Pharmaceutical Pty Ltd-Australia) tansdermal 0,2 mg/jam, 0,4 mg/jam; Nitradisc (Searle
Pharmaceutical Inc-U.S.A) transdermal 16 mg, 32 mg; Nitro-Dur (Key-U.S.A) transdermal 2,5 mg/24
jam, 5 mg/24 jam, 7,5 mg/24 jam, 10 mg/24 jam; Nitrocin (Schwarz-West Germany) cairan injeksi 1
mg/ml; Nitroderm Tts (Novartis-Switzerland) transdermal 250 mg, 500 mg, 750 mg; Nitrodisc
(Novartis-Switzerland) 160 mg; Nitrostat (Parke Davis-Australia) tablet 0,3 mg, 0,6 mg.

Indikasi: profilaksis dan pengobatan angina, gagal jantung kiri.

Kontraindikasi: lihat Isosorbid mononitrat.


Dosis dan aturan pakai: sublingual, 0,3-1 mg, bila perlu diulang; oral profilaksis angina, 2,6-2,8 mg 3 kali
sehari atau 10 mg 2-3 kali sehari; infus intravena 10-200 mcg/menit.

Efek samping: lihat isosorbid mononitrat

Risiko khusus:

- Kehamilan : faktor risiko C

- Menyusui : ekskresi melalui air susu tidak diketahui

- Gagal ginjal : obat dapat memperparah kerusakan ginjal karena obat selain diekskresi melalui feses juga
dieksresi melalui urin, sehingga dosis obat perlu diturunkan.

- Kelainan hepar : obat dapat memperparah kerusakan hati karena obat dimetabolisme di hati, sehingga
dosis obat perlu diturunkan.

Referensi:

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 58-68, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Anonim, 2005, British National Formulary, Edisi 50, 104-108, British Medical Association, Royal
Pharmaceutical Society of Great Britain.

Anonim, 2007, MIMS Indonesia: Petunjuk dan Konsultasi, Edisi VI, 37-38, PT. InfoMaster Lisensi dari
CMPMedica.

Lacy, C.F, dkk, 2006, Drug Information Handbook, Edisi XIV, 871-874,1909, Lexi-Comp Inc., Hudson,
Ohio.

Neal, M.J., 2006, At a Galance Farmakologi Medis, Edisi V, 38-39, Erlangga, Jakarta.

Setiawati, A. dan Suyatna, F.D., 2001, Farmakologi dan Terapi: Obat Antiangina, Edisi IV, 343-363,
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, Edisi
45, 343-350, Lange Medical Books, McGraw-Hill.