Anda di halaman 1dari 12

PENINGKATAN GOOD GOVERNANCE BERDASARKAN

UU NO. 32 TAHUN 2004 JO. UU. 12 TAHUN 2008 DI


KECAMATAN BOROBUDUR KABUPATEN MAGELANG

Arif Hidayat

Universitas Negeri Semarang

arifhd@staff.unnes.ac.id

Abstrak
Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan berbagai prinsip diharapkan mampu
menjembatani antara kepentingan Pusat dan Daerah. Perubahan penyelenggaraan
otonomi ini berkonsekuensi pada perubahan kelembagaan di daerah sesuai
dengan sumberdaya dan kebutuhan daerah masing-masing. Idealnya kewenangan
daerah tersebut diselenggarakan berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas
dan efisiensi sebagai pedoman standar pelayanan minimal. Rendahnya
pemahaman organisasi perangkat daerah mengenai urusan pemerintahan yang
bersifat pilihan berpotensi pada rendahnya upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang
bersangkutan sehingga perlu membentuk Organisasi Perangkat Daerah sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing dan ditetapkan dalam
Peraturan Daerah (Perda) sesuai dengan acuan UU No. 32 Tahun 2004 yang telah
direvisi dengan UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah. Daerah
diharapkan mampu menyusun kelembagaan penyelenggaraan otonomi di daerah,
termasuk perangkat organisasi Kecamatan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuannya. Tugas utama perangkat daerah adalah memberikan pelayanan
kepada masyarakat di daerah, memberdayakan berbagai sumber di daerah dan
melaksanakan program-program pembangunan di daerah. Berdasarkan Tiga
tujuan pokok tersebut, maka hal yang harus dicapai oleh Pemerintah Daerah
adalah pelayanan yang prima, Masyarakat yang mandiri dan optimalisasi
pendapatan asli daerah untuk pelaksanaan pembangunan daerah. Dengan
demikian, Pemerintah Daerah dapat mencapai pelayanan prima, masyarakat yang
mandiri, dan optimalisasi pendapatan daerah.

Kata Kunci : organisasi perangkat kecamatan, pelayanan prima, good


governance

PENDAHULUAN kepada Daerah untuk menyelenggarakan


Otonomi Daerah. Atas dasar hal tersebut maka
Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan dalam perkembangan masyarakat yang
Republik Indonesia menurut Undang-Undang semakin kritis dan dewasa secara politis,
Dasar (UUD) 1945 memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah dituntut
semakin responsif terhadap perubahan Urusan pemerintahan yang menjadi
masyarakat. Seiring dengan perubahan tersebut kewenangan pemerintah daerah terdiri atas
maka orientasi otonomi daerah lebih urusan wajib dan urusan pilihan.
menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang
peran serta masyarakat, pemerataan dan bersifat wajib berpedoman pada standar
keadilan, serta memperhatikan potensi dan pelayanan minimal dan dilaksanakan secara
keanekaragaman daerah. bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah.
Dalam menghadapi berbagai tantangan Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada
global yang semakin gencar, maka daerah disertai dengan sumber pendanaan,
penyelenggaraan otonomi daerah semakin pengalihan sarana dan prasarana, serta
dituntut memberikan kewenangan yang lebih kepegawaian sesuai dengan urusan yang
leluasa kepada daerah. Dalam hal ini konsep didesentralisasikan.
otonomi daerah yang luas, nyata dan Urusan pemerintahan kabupaten/kota
bertanggungjawab haruslah benar-benar yang bersifat pilihan meliputi urusan
dilaksanakan secara proporsional oleh Daerah. pemerintahan yang secara nyata ada dan
Pengaturan ini secara legal formal telah diatur berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan
dalam UU No. 22 Tahun 1999 tentang masyarakat sesusai dengan kondisi, kekhasan,
Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi dan potensi unggulan daerah yang
dalam UU No. 32 Tahun 2004 serta bersangkutan. Organisasi perangkat daerah
disempurnakan dengan dikeluarkannya UU dibentuk di tiap-tiap daerah kabupaten/kota
No. 12 Tahun 2008 sebagai penggantinya. sebagai pelaksana penyelenggara urusan
Penyelenggaraan otonomi daerah diwujudkan daerah pada setiap daerah kabupaten/kota
melalui pengaturan, pembagian, dan maka dibentuk Organisasi perangkat daerah
pemanfaatan sumber daya nasional, serta sebagai pelaksana dalam penyelenggaraan
perimbangan keuangan Pusat dan Daerah, urusan daerah. Organisasi Perangkat Daerah
sesuai dengan prinsip-prinsip demokratisasi, seperti halnya yang diuraikan dalam UU No.
peran serta masyarakat, pemerataan dan 32 Tahun 2004 terdiri dari Sekretariat Daerah,
keadilan, serta potensi dan keanekaragaman Sekretariat DPRD, Dinas Daerah dan
Daerah, yang dilaksanakan dalam kerangka
Perangkat Teknis Daerah Kabupaten/Kota,
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kecamatan, dan Kelurahan/Desa. Selanjutnya
Tugas-tugas pemerintah dalam bidang
Pemerintah Daerah yang bersangkutan akan
pemerintahan yang telah diserahkan kepada
menyusun organisasi perangkat daerah sesuai
daerah, dalam rangka asas desentralisasi pada
dengan kebutuhan dan kemampuannya
dasarnya menjadi wewenang dan tanggung
masing-masing yang ditetapkan dalam
jawab Daerah sepenuhnya. Prakarsa
Peraturan Daerah (Perda).
sepenuhnya diserahkan kepada Daerah, baik
Struktur Organisasi Perangkat Daerah
yang menyangkut penentuan kebijaksanaan,
merupakan struktur kerjasama antar satuan-
perencanaan, pelaksanaan, maupun yang
satuan unit kerja yang di dalamnya terdapat
menyangkut segi-segi pembiayaannya.
pejabat, tugas, serta wewenang yang masing-
Penyelenggaraan urusan dibagi berdasarkan
masing mempunyai peranan tertentu dalam
kriteria eksternal, akuntabilitas, dan efisiensi
kesatuan yang utuh. Organisasi Perangkat
dengan memperhatikan keserasian hubungan
Daerah adalah lembaga daerah yang
antar susunan pemerintahan. Penyelenggaraan
mempunyai tugas dan wewenang menangani
urusan pemerintahan ini merupakan
urusan otonomi Daerah.
pelaksananaan hubungan kewenangan antara
Permasalahan yang ada, tidak semua
Pemerintah dan pemerintah daerah provinsi,
Pemerintahan Kabupaten/Kota memiliki Perda
kabupaten dan kota atau antar pemerintah
yang mengatur tata kelola organisasi
daerah yang saling terkait, saling mendukung
Kecamatan, termasuk Pemda Kabupaten
dan sinergis sebagai suatu sistem
Magelang. Selama ini Pemda Kabupaten
pemerintahan.
Magelang berpedoman pada Peraturan Beberapa asas dalam manajemen
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang organisasi tersebut adalah penting diperhatikan
Pedoman Organisasi Perangkat Daerah oleh apartur penyelenggara pemerintahan di
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 14, daerah, termasuk di dalamnya organisasi
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4262) Pemerintah Kecamatan. Tujuan dari
dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor implementasi asas organisasi manajemen
158 Tahun 2004 tentang Pedoman Organisasi tersebut agar tercapai tujuan ideal dalam
Kecamatan. sehingga 73 pelimpahan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
kewenangan pada Kecamatan terkesan pemerintahan di Daerah. Dengan demikian
tumpang tindih dengan kewenangan lembaga pada akhirnya akan tercipta kesejahteraan,
teknis dan UPTD tiap-tiap dinas yang ada. keadilan dan kemandirian masyarakat.
Terbatasnya sarana dan prasarana, rendahnya Betapa pentingnya manajemen bagi
SDM yang dimiliki kecamatan serta besarnya organisasi karena di dalamnya mengandung
tanggungjawab pelayanan administrasi dasar proses dan tahapan yang tertata dengan baik
yang harus dilakukan sangat berpengaruh pada sehingga memungkinkan setiap elemen dalam
pelayanan prima yang diberikan (Pattiro, 2007; organisasi tersebut dapat berkontribusi secara
23). optimal. Kesempatan setiap unsur dalam
Berkaitan dengan permasalahan di atas, organisasi untuk dapat bekerja secara baik
merumuskan bagaimana strategi merupakan keberdayaan organisasi. Organisasi
penyelenggaraan Pemerintah Kecamatan yang perangkat daerah, seperti kecamatan, memiliki
efektif dan efisien berdasarkan prinsip-prinsip ciri sebagai organisasi yang ideal. Oleh
transparansi, akuntabilitas dan berbasis pada karenanya implementasi manajemen perlu
kemampuan lokal dan hambatan apa saja yang diperhatikan.
dihadapi. Merupakan hal yang penting dalam Strategi penyelenggaraan pemerintah
upaya untuk mewujudkan Organisasi kecamatan berdasarkan UU 32 Tahun 2004 ini
Perangkat Daerah yang baik dan efektif, sehat sangat diperlukan terkait dengan pembinaan
dan efisien, maka harus diterapkan asas-asas penyusunan program kerja kecamatan di
organisasi. Dengan demikian asas-asas wilayah Kabupaten Magelang, khususnya di
organisasi merupakan sarana untuk dapat Kecamatan Borobudur sebagai kecamatan baru
menciptakan kondisi yang baik guna hasil dari Kecamatan Ambarawa untuk
mewujudkan tujuan Organisasi Perangkat mencapai penyelenggaraan pemerintahan yang
Daerah. Oleh karena itu, maka penugasan dan baik berdasarkan prinsip-prinsip transparansi,
penerapan asas-asas organisasi ini dalam akuntabilitas dan berbasis pada kemampuan
Organisasi Perangkat Daerah merupakan lokal. Hal ini sejalan dengan konsep ideal
syarat mutlak yang harus benar-benar difahami pemerintahan Good and Clear Government
dan dihayati oleh pejabat dan pegawai yang pada akhirnya akan menciptakan Good
pemerintah daerah. Governance. Targetnya adalah
Asas-asas dalam Organisasi yang lebih terselenggaranya pembinaan spesifik dan
rinci dan memungkinkan untuk dilaksanakan teknis mengenai penyusunan program kerja
dalam Organisasi Perangkat Daerah adalah kecamatan secara efektif dan efisien. Untuk
sebagai berikut: (1) Perumusan Tujuan yang itu, elit pemerintahan kecamatan perlu
jelas; (2) Adanya Pembagian/pembidangan memiliki kemampuan dan wawasan tambahan,
pekerjaan (departementasi); (3) Pembagian yakni kemampuan menyusun program dan
Kerja; (4) Adanya Koordinasi; (5) Pelimpahan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan
wewenang; (6) Adanya rentang kontrol; (7) aspirasi masyarakat. Fokus manajemen
Adanya jenjang Organisasi (Jenjang Karier); penyelenggaraan pemerintah kecamatan
(8) Kesatuan Perintah; (9) Fleksibilitas; (10) dimaksudkan agar dampingan kemampuan dan
Keberlangsungan; dan (11) Kesinambungan. wawasan manajemen dimiliki dan dapat
dioptimalkan pada saat menyusun program,
baik aspek analisa permasalahan, kebutuhan, mengidentifikasi kebutuhan lanjutan hasil
kemampuan, proses dan mekanisme yang penyuluhan.
dibangun. Dengan demikian, program yang Model pemecahan masalah ini digunakan
disusun berusaha mendekatkan pada potensi agar masyarakat tidak merasa digurui sehingga
dan kebutuhan masyarakat lokal pada hasilnya diharapkan efektif.
kecamatan masing-masing. Dampaknya
diharapkan mampu meningkatkan daya
kreativitas dalam pelayanan publik yang
efektif dan efisien di negara kita sehingga
mampu mengurangi berbagai kesenjangan
yang ada.

METODE
Dalam kegiatan pengabdian pada
masyarakat ini, metode yang digunakan adalah
pembinaan dan penyadaran di bidang hukum
dan pemerintahan. Pembinaan ini
dimaksudkan untuk memberikan wawasan
pemahaman dan kemampuan tambahan
kepada elite pemerintahan kecamatan
mengenai prinsip dasar penyelenggaraan
pemerintahan yang baik dan strategi
penyusunan program kegiatan yang sesuai
dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Selain itu, kegiatan pengabdian ini dilakukan
dengan bentuk kegiatan berupa pelatihan dan
dialog interaktif serta simulasi.
Kerangka pemecahan masalah
pengabdian ini berbentuk kaji tindak dan
analisis kritis yuridis dalam penyelenggaraan
pemerintah kecamatan berdasarkan UU 32
Tahun 2004 jo. UU 12 Tahun 2008. Langkah
tindak kaji tersebut.
1. Observasi empiris eksistensi dan kegiatan
pelayanan publik di Kecamatan.
2. Identifikasi kebutuhan dan permasalahan
yang ditemukan dalam observasi.
3. Melakukan diskusi, sharing dan dialog
interaktif dengan Camat, Perangkat
Kecamatan dan Masyarakat.
4. Memberikan pembinaan dan simulasi
mengenai teknik penyusunan program
kegiatan dalam upaya strategis
meningkatkan manajemen dan tata kelola
pemerintahan kecamatan yang partisipatif,
transparan dan akuntabel berbasis
kemampuan lokal.
5. Melakukan evaluasi kegiatan penyuluhan
yang telah dilaksanakan sekaligus
Pemerintah Daerah:
Bupati/Walikota dan DPRD II
CAMAT
Kepala Desa dan BPD

Kondisi Konstruksi:
Pemecahan
Pemerintahan Masalah UU Pemda
Kecamatan Perda Kabupaten

Masyarakat Kecamatan:
Camat, Sekcam,
Perangkat, Desa/Kelurahan,
Masyarakat

Pelaksanaan MUSRENBANG di
tingkat Kecamatan yang partisipatif sesuai
kebutuhan masyarakat didukung oleh Strategi
kemampuan Desa menyusun Peraturan Peningkatan Good
Desa berdasarkan prinsip demokrasi Governance bagi
beserta aspek teknis-yuridisnya sehingga Pemerintahan Kecamatan
efektif berlaku dan bermanfaat bagi Berdasarkan UU 32 Tahun
kesejahteraan masyarakat 2004 jo UU 12 Tahun 2008

Pelaksanaan pelatihan menggunakan terhadap asas-asas penyelenggaraan


media berupa kertas plano dan LCD milik pemerintahan yang baik berdasarkan prinsip-
Kecamatan Borobudur untuk mempermudah prinsip transparansi, akuntabilitas dan berbasis
penyampaian materi. Di samping media baca pada kemampuan lokal di kalangan elite
berupa makalah (terlampir) yang diberikan pemerintahan Kecamatan Borobudur.
pada peserta. Sebagai khalayak sasaran dalam Sasaran strategisnya adalah Camat dan
kegiatan pengabdian ini adalah aparatur jajarannya, Lurah/Kepala Desa, Sekretaris
pemerintah Kecamatan Borobudur Kabupaten Desa dan Lembaga Kemasyarakatan (Tokoh
Magelang dengan sasaran para elite Masyarakat) di lingkungan Kecamatan
pemerintahan Kecamatan Borobudur. Borobudur Kabupaten Magelang. Dengan
Khalayak sasaran ini dipilih dengan harapan agar para elite pemerintahan
pertimbangan bahwa Kecamatan Borobudur kecamatan tersebut mampu
merupakan satu-satunya kecamatan di mengimplementasikan fungsi pelayanan
Kabupaten Magelang yang memiliki aset (service), pemberdayaan (empowerment) dan
bertaraf dunia, yakni Candi Borobudur sebagai pembangunan (development) dalam
salah satu dari 7 Keajaiban Dunia. Dengan penyelenggaraan pemerintahan (Kecamatan)
dasar tersebut, maka tim pengabdian Borobudur melalui tindakan dalam bentuk
memandang perlu untuk melakukan sosialisasi aktivitas konkrit pada setiap proses dan
mengenai strategi penyelenggaraan pemerintah tahapan kerja di lingkungan tugas dan
kecamatan berdasarkan UU 32 Tahun 2004. kewenangannya masing-masing.
Kegiatan pengabdian ini juga berusaha untuk
menghindarkan terjadinya penyimpangan
HASIL DAN PEMBAHASAN daerah yang bertanggungjawab untuk
penyelenggaraan pemerintahan dalam
Penyelenggaraan Pemerintah Kecamatan kewenangan tertentu yang dilimpahkan
Proses penataan organisasi dan perangkat kepadanya. Tanggungjawab ini sebagai
daerah telah senantiasa diarahkan pada konsekuensi dari kedudukan sebagai pimpinan
efisiensi, produktifitas dan efektivitas di wilayah kecamatan yang bertugas
penyelenggaraan pemerintahan dan membantu Bupati. Dalam hal pelaksanaan
pembangunan. Hal ini mengandung pengertian tugasnya, camat memperoleh pelimpahan
bahwa organisasi perangkat daerah yang wewenang dari Bupati/Walikota untuk
disusun ditujukan untuk tercapainya menangani sebagian urusan otonomi daerah.
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang Camat berkewajiban: (1) Berkoordinasi
ideal sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan dengan dinas daerah dan lembaga teknis
kemampuan daerah masing-masing. daerah dan bagian dalam perencanaan,
UU No. 32 Tahun 2004 tentang pembiayaan, pelaksanaan, evaluasi dan
Pemerintahan Daerah, yang mengatur pokok- pelaporan sesuai dengan norma, standar,
pokok proses penyelenggaraan pemerintahan pedoman, arahan dan kebijakan Bupati. (2)
di daerah, di dalamnya menguraikan pula Dalam hal pelaksanaan sebagian wewenang
mengenai konsep kecamatan. Untuk yang berkaitan dengan pungutan retribusi dan
pengaturan lebih teknis mengenai organisasi pajak daerah yang telah diatur oleh Peraturan
perangkat daerah, maka telah dibuat peraturan Daerah maka pungutan tersebut merupakan
teknisnya. Misalnya dengan dikeluarkanya penerimaan daerah dan wajib disetorkan ke
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 Kas Daerah.
tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah Berdasarkan Organisasi dan Tata Kerja
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 14, Kecamatan, pada bidang tugas umum
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4262) pemerintahan, seorang camat juga memiliki
dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor tugas antara lain: (1) Mengkoordinasikan
158 Tahun 2004 tentang Pedoman Organisasi kegiatan pemberdayaan masyarakat; (2)
Kecamatan. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan
Secara konseptual pengertian kecamatan ketentraman dan ketertiban umum; (3)
telah diuraikan dalam UU No. 32 Tahun 2004 Mengkoordinasikan penerapan dan penegakan
pada Pasal 126, ayat (1) dan (2) tertulis: (1) pertauran perundang-undangan; (4)
Kecamatan dibentuk di wilayah Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana
Kabupaten/Kota dengan perda berpedoman dan fasilitas pelayanan umum; (5)
pada Peraturan Pemerintah. (2) Kecamatan Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan
dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat kecamatan; (6)
tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian Membina penyelenggaraan pemerintahan desa
wewenang Bupati atau Walikota untuk dan/atau kelurahan; (7) Melaksanakan
menangani sebagian urusan otonomi daerah. pelayanan masyarakat yang menjadi ruang
Pelimpahan Sebagian Wewenang Untuk lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat
Menangani Sebagian Urusan Otonomi Daerah dilaksanakan pemerintahan desa atau
Kepada Camat, diuraikan bahwa; (1) kelurahan.
Kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai Memperhatikan tugas dan wewenang
Perangkat Daerah Kabupaten yang bertugas Camat sebagaimana halnya tercantum dalam
membantu Bupati. (2) Kecamatan dipimpin Kebijakan Bupati tersebut di atas, maka
oleh seorang Camat yang berada di bawah seorang camat dituntut untuk memiliki
Bupati dan bertanggung jawab kepada Bupati pengetahuan, wawasan, dan kemampuan
melalui Sekretaris Daerah. dalam manajemen penyelenggaraan
Berdasarkan uraian pengertian di atas, pemerintahan. Dengan demikian rentang
menunjukkan bahwa Camat sebagai perangkat kendali dan distribusi kewenangan perlu
dilakukan juga kepada unsur yang ada di pokoknya, Seksi Ketentraman dan
bawahnya. Ketertiban mempunyai fungsi: (1)
Selanjutnya tentang Organisasi dan Tata Pengumpulan dan pengolahan data
kerja Kecamatan, maka Tugas Pokok dan ketentraman dan ketertiban umum
Fungsi dalam penyelenggaraan pemerintah wilayah Kecamatan; (2) Penyusunan
kecamatan idealnya di bagi dalam beberapa konsep kebijakan, pedoman dan petunjuk
Seksi - seksi yang mempunyai tugas sebagai teknis pembinaan ketentraman dan
berikut: penanggulangan ketertiban umum; dan (3)
Pembinaan ketentraman dan pelaksanaan
1. Seksi Pemerintahan kerjasama dengan unit kerja terkait dalam
Seksi Pemerintahan mempunyai penanggulangan ketertiban umum.
tugas pokok melaksanakan kegiatan Sedangkan Kepala Seksi
administrasi dan teknis pembinaan Ketentraman & Ketertiban Umum
kegiatan pemerintahan yang meliputi mempunyai tugas: (1) Membuat rencana
Pembinaan Pemerintahan Umum dan kegiatan dan anggaran tahunan seksi; (2)
Keagrariaan. Menyusun pedoman dan petunjuk
Untuk melaksanakan tugas pelaksanaan administrasi dan teknis
pokoknya, Seksi Pemerintahan pembinaan ketentraman dan
mempunyai fungsi: (1) Pengumpulan dan penanggulangan ketertiban umum
pengolahan data kegiatan pemerintahan Kecamatan; (3) Membagi tugas dan
dan keagrariaan kecamatan; (2) memberi petunjuk kepada bawahan sesuai
Penyusunan konsep kebijakan, pedoman bidang tugasnya; (4) Memeriksa dan
dan petunjuk teknis pembinaan menyempurnakan hasil kerja bawahan; (5)
pemerintahan dan keagrariaan; (3) Melaksanakan pembinaan administrasi
Pembinaan dan pengawasan kegiatan dan prestasi kerja bawahan; dan (6)
Pemerintahan Desa/Kelurahan; (4) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas
Menyiapkan bahan pemberian Surat kepada Camat.
Keterangan permohonan pelepasan hak
3. Seksi Pembangunan
atas tanah, menyiapkan bahan pengelolaan
dan pembinaan administrasi data Seksi Pembangunan mempunyai
kependudukan yaitu: Pelayanan Kartu tugas pokok melaksanakan kegiatan
Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, Kartu administrasi dan teknis pembinaan
Identitas Penduduk Musiman (KIPEM), pembangunan di Wilayah Kecamatan.
Surat Keterangan Tempat Tinggal, Surat Dalam menyelenggarakan tugas pokok,
Keterangan Lahir, Mati, Lahir- Mati, Seksi Pembangunan mempunyai fungsi:
Surat Keterangan Pindah antar Desa (1) Pengumpulan dan pengolahan data
dalam Kecamatan, antar Kecamatan kegiatan pembangunan di wilayah
dalam Kabupaten dan antar Kabupaten Kecamatan; (2) Penyusunan konsep
dalam Propinsi serta Pelayanan Surat Kebijakan, pedoman dan petunjuk teknis
Keterangan Ahli Waris dan Hubungan pembinaan pembangunan wilayah; (3)
Waris. Penyusunan konsep perijinan bidang
2. Seksi Ketentraman dan Ketertiban. pembangunan sesuai pelimpahan
Seksi ketentraman dan ketertiban kewenangan; dan (4) Pelaksanaan
mempunyai tugas pokok membantu pembinaan dan pengawasan kegiatan
Camat dalam melaksanakan kegiatan pembangunan wilayah.
administrasi dan pembinaan dan Sedangkan Kepala Seksi
penanggulangan ketertiban umum wilayah Pembangunan mempunyai uraian tugas:
kecamatan.Untuk melaksanakan tugas (1) Membuat rencana kegiatan dan
anggaran tahunan seksi; (2) Menyusun
pedoman dan petunjuk pelaksanaan kepada bawahan sesuai bidang tugasnya;
administrasi dan teknis pembinaan (4) Memeriksa dan menyempurnakan
Pembangunan Kecamatan; (3) Membagi hasil kerja bawahan; (5) Melaksanakan
tugas dan memberi petunjuk kepada pembinaan administrasi dan prestasi kerja
bawahan sesuai bidang tugasnya; (4) bawahan; (6) Menginventarisasi data
Memeriksa dan menyempurnakan hasil kegiatan ekonomi dan kemasyarakatan di
kerja bawahan; (5) Melaksanakan wilayah kecamatan; (7) Menyiapkan
pembinaan administrasi dan prestasi kerja bahan pemberian fasilitasi terhadap
bawahan; (6) Melaksanakan kegiatan Parpol, LSM, Ormas, Organisasi
pembangunan di Kecamatan; (7) Kepemudaan dan Organisasi lain; dan (8)
Menginventarisasi data kegiatan Menyiapkan bahan pemberian ijin
pembangunan di wilayah Kecamatan; (8) pendirian Taman Kanak-kanak (TK).
Melaksanakan pendataan penggalian
potensi sesuai bidang tugasnya; (9) 5. Seksi Pendapatan
Melaksanakan kegiatan pembangunan Seksi Pendapatan mempunyai tugas
bersama Unit Pelaksana Teknis Dinas atau pokok melaksanakan kegiatan
unit kerja terkait baik yang pemerintah administrasi dan teknis pembinaan
atau swadaya; (10) Memberikan kegiatan pendapatan. Untuk
pemantauan kegiatan pembangunan melaksanakan tugas pokoknya, Seksi
sebagai bahan pelaporan; (11) Pendapatan mempunyai fungsi: (1)
Memberikan pelayanan dan informasi Pengumpulan dan pengolahan data
kegiatan sekasi; (12) Melaksanakan kegiatan Pendapatan; (2) Penyusunan
hubungan kerja sama dengan unit kerja konsep kebijakan, pedoman, dan petunjuk
terkait; dan (13) Melaksanakan tugas teknis pembinaan pendapatan; dan (3)
kedinasan lainnya sesuai perintah atasan. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan
kegiatan pendapatan.
4. Seksi Ekonomi Dan Kemasyarakatan
Sedangkan melaksanakan fungsinya,
Seksi Ekonomi dan Kemasyarakatan Kepala Seksi Pendapatan, mempunyai
mempunyai tugas pokok melaksanakan tugas: (1) Menyusun pedoman dan
kegiatan administrasi dan teknis petunjuk pelaksanaan administrasi dan
pembinaan kegiatan ekonomi dan teknis pembinaan pendapatan; (2)
kemasyarakatan. Untuk melaksanakan Membagi tugas dan memberi petunjuk
tugas pokoknya, Seksi Ekonomi dan kepada bawahan sesuai bidang tugasnya;
Kemasyarakatan mempunyai fungsi: (1) (3) Memeriksa dan menyempurnakan
Pengumpulan dan pengolahan data hasil kerja bawahan; (4) Melaksanakan
kegiatan ekonomi dan kemasyarakatan; pembinaan administrasi dan prestasi kerja
(2) Penyusunan konsep kebijakan bawahan; (5) Melaksanakan pendataan,
pedoman dan petunjuk teknis pembinaan penggalian potensi pajak daerah dan
ekonomi dan kemasyarakatan; dan (3) retribusi di kecamatan; (6) Melaporkan
Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan pendapatan pajak daerah dan retribusi
kegiatan ekonomi dan kemasyarakatan. kepada unit kerja sesuai bidangnya; (7)
Sedangkan Kepala Seksi Ekonomi Menyiapkan bahan pemberian ijin
dan Kemasyarakatan mempunyai uraian reklame papan merk ukuran sampai
tugas: (1) Membuat rencana kegiatan dan dengan 2 m2 (dua meter persegi dan
anggaran tahunan seksi; (2) Menyusun spanduk serta umbul-umbul); (8)
pedoman dan petunjuk pelaksanaan Menyiapkan bahan pemberian Surat
administrasi dan teknis pembinaan Keterangan terhadap permohonan ijin
ekonomi dan kemasyarakatan; (3) reklame diluar ketentuan; dan (9)
Membagi tugas dan memberi petunjuk
Melaksanakan pemantauan kegiatan 2. Tegaknya Supremasi Hukum; Kerangka
pendapatan sebagai bahan pelaporan. hukum harus adil dan diberlakukan tanpa
Aparatur pemerintah daerah yang pandang bulu, termasuk di dalamnya
menduduki posisi dalam struktur hukum-hukum yang menyangkut hak
organisasi pemerintah kecamatan harus asasi manusia.
secara bersama-sama melaksanakan tugas 3. Transparansi; Tranparansi dibangun atas
pokok dan fungsinya secara baik. dasar arus informasi yang bebas. Seluruh
Pengaturan normatif yang ditetapkan proses pemerintahan, lembaga-lembaga
tentang Organisasi dan Tata kerja dan informasi perlu dapat diakses oleh
Kecamatan harus dilaksanakan secara pihak-pihak yang berkepentingan, dan
proporsional sesuai dengan kapasitas informasi yang tersedia harus memadai
pemerintah kecamatan sebagai bagian dari agar dapat dimengerti dan dipantau.
perangkat pemerintah daerah. 4. Peduli pada Stakeholder; Lembaga-
lembaga dan seluruh proses pemerintahan
Strategi Good Governance dalam harus berusaha melayani semua pihak
Penyelenggaraan Pemerintah Kecamatan yang berkepentingan.
5. Berorientasi pada Konsensus; Tata
Good and Clean Government merupakan
pemerintahan yang baik menjembatani
pemerintah yang taat azas, tidak ada
kepentingan-kepentingan yang berbeda
penyelewengan dan penyalahgunaan
demi terbangunnya suatu konsensus
wewenang serta efisien, efektif, hemat dan
menyeluruh dalam hal apa yang terbaik
bebas KKN. Tujuan akhir dari Good and clean
bagi kelompok-kelompok masyarakat,
government adalah terwujudnya Good
dan bila mungkin, konsensus dalam hal
Governance. Good Governance pada
kebijakan dan prosedur-prosedur.
umumnya diartikan sebagai pengelolaan
6. Kesetaraan; Semua warga masyarakat
pemerintahan yang baik. Kata baik disini
mempunyai kesempatan memperbaiki
dimaksudkan sebagai mengikuti kaidah-kaidah
atau mempertahankan kesejahteraan
tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar
mereka.
Good Governance.
7. Efektifitas dan Efisiensi; Proses-proses
Kunci utama memahami good
pemerintahan dan lembaga-lembaga
governance adalah pemahaman atas prinsip-
membuahkan hasil sesuai kebutuhan
prinsip di dalamnya. Bertolak dari prinsip-
warga masyarakat dan dengan
prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja
menggunakan sumber-sumber daya yang
suatu pemerintahan. Baik-buruknya
ada seoptimal mungkin.
pemerintahan bisa dinilai bila ia telah
8. Akuntabilitas; Para pengambil keputusan
bersinggungan dengan semua unsur prinsip-
di pemerintah, sektor swasta dan
prinsip good governance. Menyadari
organisasi-organisasi masyarakat
pentingnya masalah ini, prinsip-prinsip good
bertanggung jawab baik kepada
governance dapat dilihat sebagai berikut:
masyarakat maupun kepada lembaga-
1. Partisipasi Masyarakat; Semua warga
lembaga yang berkepentingan. Bentuk
masyarakat mempunyai suara dalam
pertanggung jawaban tersebut berbeda
pengambilan keputusan, baik secara
satu dengan lainnya tergantung dari jenis
langsung maupun melalui lembaga-
organisasi yang bersangkutan.
lembaga perwakilan sah yang mewakili
9. Visi Strategis; Para pemimpin dan
kepentingan mereka. Partisipasi
masyarakat memiliki perspektif yang luas
menyeluruh tersebut dibangun
dan jauh ke depan atas tata pemerintahan
berdasarkan kebebasan berkumpul dan
yang baik dan pembangunan manusia,
mengungkapkan pendapat, serta kapasitas
serta kepekaan akan apa saja yang
untuk berpartisipasi secara konstruktif.
dibutuhkan untuk mewujudkan
perkembangan tersebut. Selain itu mereka oknum-oknum yang mengarah pada tidak
juga harus memiliki pemahaman atas terciptanya good and clean governance.
kompleksitas kesejarahan, budaya dan Pada setiap tingkatan dan lini
sosial yang menjadi dasar bagi perspektif penyelenggaraan pemerintahan harus
tersebut. mengupayakan tercapainya pemerintahan yang
Memperhatikan prinsip-prinsip Good baik. Termasuk pula dalam pemerintahan
Governance di atas, maka sebetulnya daerah dan segenap lembaga perangkat daerah
Pelaksanaan Good and Clean Government lainnya termasuk Pemerintah Kecamatan.
merupakan suatu tahapan proses yang ideal. Clean and Good Governement dalam
Banyak pihak yang mengatakan relatif susah penyelenggaraan pemerintahan di daerah harus
untuk mencapainya. Banyak kendala dan melibatkan stakeholders yang ada. Baik unsur
hambatan yang merintanginya. Penyebab tidak pemerintah, swasta (dunia usaha) dan
terjadinya Clean Government dapat dibagi masyarakat. Karena tiga komponen ini yang
dalam 4 (empat) aspek yaitu aspek individu, terkait secara langsung. Upaya dalam rangka
aspek organisasi, aspek masyarakat dan aspek menciptakan Clean Government di lingkungan
peraturan perundangan. lembaga atau badan penyelenggaraan
Empat aspek tersebut adalah: (1) Aspek pemerintahan termasuk pula pada
individu merupakan penyakit sosial yang pemerintahan di daerah dibagi dalam 3 (tiga)
berkaitan dengan moral dan akhlak manusia; tahap yaitu: Strategi Preventif, Strategi
(2) Aspek organisasi berkaitan dengan sistem Detektif dan Strategi Represif.
akuntabilitas kinerja dan kelemahan dalam Strategi Preventif dimaksudkan sebagai
sistem pengendalian manajemen unit serta upaya dalam rangka mencegah timbulnya
kultur organisasi yang kurang mendukung; (3) penyelewengan, penyalahgunaan wewenang,
Aspek masyarakat berkaitan dengan nilai-nilai inefisiensi, tidak efektif, tidak hemat dan
yang berlaku di masyarakat yang kurang adanya KKN. Contoh strategi preventif:
mendukung terciptanya Clean Government pengharusan setiap seksi membuat
misalnya masyarakat kurang peduli dan kurang perencanaan stratejik dan Laporan
menyadari bahwa yang paling dirugikan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
adalah masyarakat sendiri, masyarakat juga (LAKIP), Peningkatan kualitas penerapan
ikut terlibat dalam setiap praktek Sistem Pengendalian Manajemen (SPM),
penyimpangan dan pemberantasannya hanya Peningkatan kualitas pelayanan kepada
akan berhasil bila masyarakat ikut aktif masyarakat, Perlunya dibuat prosedur tata
melakukannya; dan (4) Aspek peraturan kerja atau sistem prosedur operasional
perundang-undangan terkait dengan kualitas kegiatan, Peningkatan kualitas pengawasan
peraturan perundang-undangan yang belum melekat, Perlunya dilakukan sosialisasi Clean
memadai, sanksi yang terlalu ringan dan Government, Peningkatan pembinaan sumber
penerapan ketentuan yang tidak konsisten. daya manusia (SDM) dan Perlunya sistem
Variabel tersebut merupakan komponen yang perencanaan yang baik.
perlu mendapatkan perhatian dalam upaya Strategi Detektif merupakan upaya untuk
mewujudkan clean government. dapat mengetahui secara dini atau dalam waktu
Sedangkan kegiatan-kegiatan yang rawan sesingkat-singkatnya dan seakurat-akuratnya
terhadap tidak terciptanya Clean Government agar penyimpangan dapat ditindaklanjuti
adalah masalah-masalah perizinan, pelelangan, dengan cepat dan tepat untuk mencegah
pengadaan, pemberian fasilitas, penerimaan kerugian negara yang lebih besar atau akibat
pendapatan, penetapan pungutan, penetapan yang lebih parah atas penyimpangan yang
keputusan, perencanaan, pengawasan dan terjadi. Strategi detektif antara lain dapat
pembuatan peraturan. Pada kegiatan-kegiatan dilakukan melalui: Peningkatan kemampuan
tersebut banyak liku-liku dan cara serta aparat pengawasan, Penyempurnaan sistem
perlakuan-perlakuan yang dilakukan oleh pengaduan masyarakat dan tindak lanjutnya.
Strategi Represif dimaksudkan sebagai aspek yaitu aspek individu, aspek
upaya untuk menyelesaikan secara hukum organisasi, aspek masyarakat dan aspek
dengan sebaik-baiknya atas penyimpangan peraturan perundangan. Aspek individu
yang telah terjadi. Strategi Represif antara lain merupakan penyakit sosial yang berkaitan
dapat dilakukan dengan: Pengusutan, dengan moral dan akhlak manusia. Aspek
penyidikan, penuntutan, peradilan dan organisasi berkaitan dengan sistem
penindakan kepada yang terlibat, Sistem akuntabilitas kinerja dan kelemahan
pemantauan penyelesaian tindak lanjut dalam sistem pengendalian manajemen
penanganan perkara dan Perlunya publikasi unit serta kultur organisasi yang kurang
kasus berserta analisisnya. mendukung. Aspek masyarakat berkaitan
dengan nilai-nilai yang berlaku di
SIMPULAN DAN SARAN masyarakat yang kurang mendukung
Simpulan terciptanya Clean Government.
Sedangkan aspek peraturan perundang-
Berdasarkan hasil pembahasan tentang undangan terkait dengan kualitas
Strategi Penyelenggaraan Pemerintah peraturan perundang-undangan yang
Kecamatan Berdasarkan UU. 32 Tahun 2004 belum memadai, sanksi yang terlalu
Tentang Pemerintah Daerah di Kecamatan ringan dan penerapan ketentuan yang
Borobudur Kabupaten Magelang terdapat tidak konsisten.
simpulan sebagai berikut: 3. Upaya Mengatasi Hambatan dalam
1. Strategi Penyelenggaraan Pemerintah Penyelenggaraan Pemerintah Kecamatan
Kecamatan Berdasarkan UU. 32 Tahun Berdasarkan UU. 32 Tahun 2004 Tentang
2004 Tentang Pemerintah Daerah di Pemerintah Daerah
Kecamatan Borobudur Kabupaten Pada setiap tingkatan dan lini
Magelang penyelenggaraan pemerintahan harus
Kunci utama memahami good mengupayakan tercapainya pemerintahan
governance adalah pemahaman atas yang baik. Termasuk pula dalam
prinsip-prinsip di dalamnya tolak ukur pemerintahan daerah dan segenap
kinerja suatu pemerintahan. Baik- lembaga perangkat daerah lainnya
buruknya pemerintahan bisa dinilai bila ia termasuk Pemerintah Kecamatan. Clean
telah bersinggungan dengan semua unsur and Good Governement dalam
prinsip-prinsip good governance. Prinsip- penyelenggaraan pemerintahan di daerah
prinsip good governance tersebut adalah: harus melibatkan stakeholders yang ada.
partisipasi masyarakat; tegaknya Baik unsur pemerintah, swasta (dunia
supremasi hukum; transparansi; peduli usaha) dan masyarakat. Karena tiga
pada stakeholder; berorientasi pada komponen ini yang terkait secara
konsensus; kesetaraan; efektifitas dan langsung. Upaya-upaya dalam rangka
efisiensi; akuntabilitas; dan visi strategis. menciptakan Clean Government di
2. Hambatan dalam Penyelenggaraan lingkungan lembaga atau badan
Pemerintah Kecamatan Berdasarkan UU. penyelenggaraan pemerintahan
32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah termamsuk pula pada pemerintahan di
Daerah daerah dibagi dalam 3 (tiga) tahap yaitu:
Pelaksanaan Good and Clean Strategi Preventif, Strategi Detektif dan
Government merupakan suatu tahapan Strategi Represif.
proses yang ideal. Banyak kendala dan
hambatan yang merintanginya. Variabel
yang perlu mendapatkan perhatian serius
dalam upaya mewujudkan clean
government dapat dibagi dalam 4 (empat)
Saran Haris, Syamsuddin Dkk (Editor), 2004.
Desentralisasi dan Otonomi Daerah,
Dari temuan-temuan yang ada di Jakarta: LIPI Press
lapangan, maka perlu kiranya Juliantara, Dadang (Editor), 2005. Peningkatan
direkomendasikan saran berikut: Kapasitas Pemerintah Daerah dalam
1. Perlunya tindak lanjut penyuluhan dan Pelayanan Publik, Yogyakarta:
simulasi ini melalui workshop maupun Pembaruan
Kurniawan, Agung, 2005. Transformasi
pelatihan khusus berkaitan dengan strategi
Pelayanan Publik, Yogyakarta:
manjerial dan tata kelola kecamatan untuk Pembaruan
diperluas cakupannya di kecamatan- Novenanto, Anton, 2006 Birokrasi dan Politik
kecamatan yang lain secara terpadu. Pemda Artikel Opini di Harian Kompas
2. Perlunya dilakukan kerjasama dengan Edisi Jawa Timur 09 Maret 2006
institusi lain sebagai stakeholders ataupun Piliang, Indra J. dkk (editor), 2003. Otonomi
institusi yang memiliki kaitan langsung Daerah: Evaluasi dan Proyeksi, Jakarta:
dengan materi penyuluhan dan simulasi Yayasan Harkat Bangsa
penyusunan program kerja, baik tingkat Purwanto, Erwan Agus, 2005. Pelayanan Publik
Partisipatif dalam Agus Dwiyanto
kecamatan maupun kabupaten.
(editor), 2005. Mewujudkan Good
Governance Melalui Pelayanan Publik,
DAFTAR PUSTAKA Yogyakarta : JICA bekerjasama dengan
Gajah Mada University Press
Afadlal (editor), 2003. Dinamika Birokrasi Lokal Subarsono, AG., 2005. Pelayanan Publik yang
Era Otonomi Daerah, Jakarta: Pusat Efisien, Responsif, dan Non-Partisan
Penelitian Politik (P2P) LIPI dalam Agus Dwiyanto (editor), 2005.
Asfar, M. (Editor), 2001. Implementasi Otonomi Mewujudkan Good Governance Melalui
Daerah (Kasus Jatim, NTT, Kaltim), Pelayanan Publik, Yogyakarta: Gajah
Surabaya: diterbitkan oleh CPPS Mada University Press
Surabaya bekerjasama dengan CSSP dan Wicaksono, Bambang, Diskusi Kelompok
Pusdeham Surabaya Terarah dalam Agus Dwiyanto, 2005,
Dwiyanto, Agus dkk, 2002. Reformasi Birokrasi Mewujudkan Good Governance melalui
Publik di Indonesia, Yogyakarta: Pusat Pelayanan Publik, Japan Internasional
Studi Kependudukan danKebijakan Corporate Agency (JICA) dan Gadjah
UGM Mada University Press
Dwiyanto, Agus, 2005. Mengapa Pelayanan Widijantoro, J. 2003. Korupsi Pelayanan
Publik dalam Agus Dwiyanto (Editor), Umum dan Upaya Pemberdayaan
2005. Mewujudkan Good Governance Masyarakat Tulisan artikel laporan
Melalui Pelayanan Publik, Yogyakarta: penelitian dalam Jurnal Ilmu Sosial
JICA bekerjasama dengan UGM Press Transformatif Wacana No. XIV/2003,
Yogyakarta: Insist Press