Anda di halaman 1dari 69

SKRIPSI

Analisis Rasio Keuangan Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah


Daerah Kota Kupang

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan

OLEH:

ALVITA SEPTIANINGTIAS
1223753265

POLITEKNIK NEGERI KUPANG


PROGRAM STUDI SEKTOR PUBLIK
JURUSAN AKUNTANSI
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Lembaga pemerintahan merupakan organisasi yang diberi kekuasaan

untuk mengatur kepentingan bangsa dan negara. Lembaga pemerintahan

dibentuk umumnya untuk menjalankan aktivitas layanan terhadap masyarakat

luas. Sebagai organisasi nirlaba, lembaga pemerintahan mempunyai tujuan

untuk menyediakan layanan dan kemampuan meningkatkan layanan tersebut

di masa yang akan datang. Tujuan yang ingin dicapai biasanya ditentukan

dalam bentuk kualitatif, misalnya peningkatan keamanan dan kenyamanan,

mutu pendidikan, mutu kesehatan dan keamanan.

Sehubungan dengan banyaknya perubahan di bidang ekonomi, sosial

dan politik di era reformasi ini, berdampak pada percepatan perubahan

perilaku masyarakat, terutama yang berkaitan dengan tuntutan masyarakat

akan adanya transparansi pelaksanaan kebijakan pemerintah, demokratisasi

dalam pengambilan keputusan, pemberian pelayanan oleh pemerintah yang

lebih berorientasi pada kepuasan masyarakat dan penerapan hukum secara

konsekuen. Sebagai konsekuensinya, maka pemerintah memberlakukan

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, sekarang

menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor

25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan

Daerah sejak bulan Januari tahun 2001 yang sekarang menjadi Undang-

Undang Nomor 33 Tahun 2004.

2
Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal

pemerintah dituntut untuk memiliki kemandirian keuangan daerah yang lebih

besar. Dengan tingkat kemandirian keuangan yang lebih besar, berarti daerah

tidak akan lagi sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat dan

provinsi melalui dana perimbangan. Namun tidak berarti jika kemandirian

keuangan daerah yang tinggi, maka daerah sudah tidak memerlukan lagi dana

perimbangan. Dana perimbangan masih tetap diperlukan untuk mempercepat

pembangunan daerah.

Halim (2001:167) menjelaskan bahwa ciri utama suatu daerah yang

mampu melaksanakan otonomi, yaitu :

a. Kemampuan keuangan daerah.


Artinya daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk

menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan menggunakan

keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintahannya.
b. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin.
Hal ini agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber

besar, sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar. Namun

pada kenyataannya, sejak diberlakukan otonomi daerah hingga sekarang

ini, beberapa pemerintah daerah masih sangat bergantung pada

penerimaan yang berasal dari pemerintah pusat.

Pengukuran kinerja keuangan untuk kepentingan publik dapat

dijadikan evaluasi dan memulihkan kinerja dengan pembanding skema

kerja dan pelaksanaanya. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai tolak

ukur untuk peningkatan kinerja, khususnya keuangan pemerintah daerah

3
pada periode berikutnya. Adanya otonomi daerah tersebut mengakibatkan

terjadinya desentralisasi sistem pemerintahan pada Kota Kupang. Karena

itu Pemerintah Kota Kupang sebagai pihak yang diberi tugas menjalankan

roda pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat wajib

menyampaikan laporan pertanggung jawaban keuangan daerahnya untuk

menilai apakah pemerintah Kota Kupang berhasil menjalakan tugasnya

dengan baik atau tidak. Adanya penyelewengan-penyelewengan dana

Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang dilakukan pemerintahan pada

masa kekuasaan sebelumnya membuat masyarakat geram dan krisis

kepercayaan terhadap kinerja Pemerintah Kota Kupang. Untuk itu,

masyarakat sebagai salah satu sumber daya pembangunan yang memegang

dua peranan penting dalam pembangunan, yaitu sebagai subjek atau

pelaku sekaligus objek pembangunan, menginginkan adanya transaparansi

anggaran keuangan yang ada pada Pemerintah Kota Kupang, sehingga

masyarakat atau penduduk juga dapat memantau Kinerja Pemerintah Kota

Kupang.

Analisis kinerja Keuangan pada (Kantor Walikota) Kota Kupang

adalah suatu proses penilaian mengenai tingkat kemajuan pencapaian

pelaksanaan pekerjaan/kegiatan Kota Kupang dalam Bidang Keuangan

dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik

untuk melakukan penelitian dengan judul Analisis Rasio Keuangan

Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kota Kupang

4
Berikut ini adalah data mengenai Total Pendapatan Pemerintah

Kota Kupang Tahun 2013-2015.

Tabel 1.1

Total Pendapatan Pemerintah Kota Kupang

Tahun 2013-2015

Sumber : APBD Kota Kupang 2015

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang muncul sebagai

berikut :
a. Bagaimana Kinerja Keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah Kota Kupang dari Tahun 2013-2015 ?


1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui Kinerja Keuangan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah dari Tahun 2013-2015.

5
1.3.2 Manfaat Penelitian
a. Bagi Instansi
Sebagai bahan informasi mengenai kinerja Keuangan Pemerintah

Kota Kupang, baik jika dilihat dari Rasio Derajat Desentralisasi

Fiskal maupun jika dilihat dari Rasio Kemandirian Keuangan


b. Bagi Almamater
Sebagai bahan informasi bagi para peneliti yang akan melakukan

penelitian lebih lanjut tentang objek yang sama.


c. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam rangka

menyempurnakan pemahaman akan ilmu yang ditekuni dalam

perkuliahan
d. Bagi Pihak Lain
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan dan

berminat untuk melakukan penelitian dengan objek yang sama

6
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

2.1.1. Pengertian Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Kinerja Kinerja berasal dari kata job performance atau

actual performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi

sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Menurut Sedarmayanti

(2011:260) Performance atau kinerja merupakan hasil kerja seorang

pekerja dalam sebuah proses manajemen atau organisasi secara

keseluruhan. Sedangkan menurut Wibowo (2010:7), kinerja adalah

tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang di capai dari pekerjaan

tersebut.. Dari beberapa pengertian para ahli di atas, dapat diambil

kesimpulan bahwa pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil

kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang

pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung

jawab yang diberikan kepadanya.

Sementara itu, definisi Kinerja Keuangan Pemerintah

Daerah adalah keluaran atau hasil dari kegiatan/program yang akan

atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran daerah

dengan kuantitas dan kualitas yang terukur, kemampuan daerah

daerah dapat diukur dengan menilai efisiensi atas pelayanan yang

diberikan kepada masyarakat (Sumarjo, 2010). Sementara itu

7
menurut Mahsun (2006: 25) kinerja pemerintah daerah adalah

gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu

kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan,

misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning

suatu organisasi. Berdasarkan pengertian tersebut menunjukan

bahwa kinerja pemeritah daerah merupakan hasil dari pencapaian

program/kebijakan pemerintah dalam melaksanakan tugasnya pada

suatu organisasi.

Dari definisi para ahli diatas, dapat diambil kesimpulan

bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah adalah tingkat capaian

dari suatu hasil kerja di bidang keuangan daerah yang meliputi

anggaran dan realisasi anggaran dengan menggunakan indikator

keuangan yang diterapkan melalui suatu kebijakan atau ketentuan

perundang-undangan selama periode anggaran.


Organisasi sektor publik merupakan organisasi yang

bertujuan memberikan pelayanan kepada publik dengan sebaik-

baiknya, misalnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan

transportasi. Pelayanan publik diberikan kepada masyarakat yang

merupakan Stakehoder organisasi sektor publik, oleh karena itu

Pemerintah Daerah wajib menyampaikan laporan pertanggung

jawaban kepada DPRD selaku wakil rakyat di pemerintahan.

Dengan asumsi tersebut, dapat dikatakan bahwa Pemerintah Daerah

membutuhkan sistem pengukuran kinerja yang bertujuan

membantu manajer publik untuk menilai pencapaian suatu strategi

8
melalui alat ukur finansial dan non finansial. Sistem pengukuran

kinerja tersebut dapat dijadikan sebagai alat pengendali organisasi.

Kinerja pemerintah yang baik dapat dicapai ketika administrasi dan

penyediaan jasa oleh pemerintah daerah dilakukan pada tingkat

yang ekonomis, efektif dan efisien.


Untuk mengetahui kemampuan pemrintah daerah dalam

mengatur rumah tangganya sendiri, terdapat beberapa faktor yang

harus diperhatikan :
a. Kemampuan struktural organisasinya
Struktur Organisasi Pemerintah Daerah harus mampu

menampung segala aktivitas dan tugas-tugas yang menjadi

beban dan tanggung jawabnya, jumlah unit-unit beserta

macamnya cukup mencerminkan kebutuhan, pembagian tugas

wewenang dan tanggung jawab yang cukup jelas.


b. Kemampuan aparatur Pemerintah Daerah

Aparat Pemerintah Daerah harus mampu menjalankan tugasnya

dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya.

Keahlian, moral, disiplin dan kejujuran saling menunjang

tercapainya tujuan yang diidam-idamkan oleh daerah.

c. Kemampuan mendorong partispasi masyarakat

Pemerintah Daerah harus mampu mendorong agar masyarakat

mau berperan serta dalam kegiatan pembangunan.

d. Kemampuan Keuangan Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah harus mampu membiayai semua kegiatan

pemerintaha, pembangunan dan kemasyarakatan sebagai

9
pelaksanaan pengaturan dan pengurusan rumah tangganya

sendiri. Untuk itu, kemampuan keuangan daerah harus mampu

mendukung terhadap pembiayaan kegiatan pemerintahan,

pembangunan, dan kemasyarakatan.

2.1.2. Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Menurut Mardiasmo (2002:121), tujuan pengukuran kinerja

keuangan pemerintah daerah adalah :

a. Memperbaiki kinerja pemerintah daerah


b. Membantu mengalokasikan sumber daya dan pembuatan

keputusan.
c. Mewujudkan pertanggung jawaban publik dan memperbaiki

komunikasi kelembagaan.

Sedangkan menurut Halim (2007 : 230), pengukuran kinerja

keuangan daerah bertujuan untuk :

a. Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai

penyelenggaraan pemerintah daerah


b. Mengukur efektivitas dan efisiensi dalam merealisasikan

pendapatan daerah
c. Mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah daerah dalam

membelanjakan pendapatan daerahnya.


d. Mengukur kontribusi masing-masing sumber pendapatan

dalam pembentukan pendapatan daerah.


e. Melihat pertumbuhan atau perkembangan perolehan

pendapatan dan pengeluaran yang dilakukan selama periode

waktu tertentu.
2.1.3 Indikator Kinerja Pemerintaah Daerah

10
Menurut Mahsun (2006: 77), indikator kinerja Pemerintah

Daerah terdapat beberapa jenis yaitu:

a. Indikator Masukan

Indikator masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar

pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan

keluaran. Contoh dari indikator ini adalah jumlsh dana yang

dibutuhkan, jumlah pegawai yang dibutuhkan, jumlah

infrastruktur yang ada dan jumlah waktu yang digunakan.

b. Indikator Proses
Dalam indikator ini, organisasi atau instansi merumuskan

ukuran kegiatan, baik dari segi kecepatan, ketepatan, maupun

tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Rambu yang

paling dominan dalam proses adalah tingkat efisiensi dan

ekonomis pelaksanaan kegiatan organisasi/ instansi. Contoh

dari indikator ini adalah ketaan pada perundangan yang berlaku

dan rata-rata yang diperlukan untuk memproduksi atau

menghasilkan layanan jasa.


c. Indikator Keluaran
Indikator Keluaran adalah sesuatu yang diharapkan langsung

dapat dicapai dari suatu kegiatan yang berupa fisik atau non-

fisik. Indikator ini digunakan untuk mengukur keluaran yang

dihasilkan dari suatu kegiatan. Contoh dari indikator ini adalah

jumlah produk atau jasa yang dihasilkan dan ketepatan dalam

memproduksi barang dan jasa.


d. Indikator Hasil

11
Indikator Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang

mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka

menengah (efek langsung). Outcome menggambarkan tingkat

pencapaian atas hasil lebih tinggi yang mungkin mencakup

kepentingan banyak pihak. Dengan indikator ini,

organisasi/instansi akan dapat mengetahui apakah hasil yang

telah diperoleh dalam bentuk output memang dapat

dipergunakan sebagaimana mestinya dan memberikan

kegunaan yang besar bagi masyarakat banyak. Contoh dari

indikator ini adalah tingkat kualitas produk atau jasa yang

dihasilkan dan produktivitas para karyawan atau pegawai


e. Indikator Manfaat
Indikator manfaat adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan

akhir dari pelaksanaan kegiatan. Indikator manfaat

menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indikator hasil.

Misalnya tingkat kepuasan masyarakat dan tingkat partisipasi

masyarakat.
f. Indikator Dampak
Indikator Dampak adalah pengaruh yang ditimbulkan baik

positif maupun negatif. Misalnya peningkatan kesejahteraan

masyarakat dan menurunnya jumlah pengangguran

Selain itu Palmer (1995) dalam Herminingsih (2009)

menyebutkan bahwa indikator kinerja antara lain :

a Indikator Biaya;

b Indikator produktifitas;

12
c Tingkat penggunaan;

d Target waktu;

e Volume pelayanan;

f Kebutuhan pelanggan;

g Indikator kualitas pelayanan;

h Indikator kualitas pelanggan dan

i Indikator pencapaian tujuan.

Sementara menurut Ulum MD (2004: 281) dalam Ratih

(2012), Ada enam indikator dasar yang perlu diikuti

pemerintah daerah dalam membangun sistem pengukuran

kinerja adalah sebagai berikut:

a. Memperkirakan kesiapan organisasi.


Keberhasilan dalam menerapkan sistem pengukuran

kinerja tergantung pada tingkat kesiapan organisasi.

Kesiapan berarti dimilikinya kombinasi yang tepat dari

orang, manejerial dan perlengkapan pada tempatnya


b. Merumuskan tujuan.
Tujuan pengembangan sistem pengukuran kinerja harus

dirumuskan secara jelas. Apakah sasarannya untuk

menyempurnakan pembuatan keputusan, perencanaan,

manajemen, penyusunan anggaran.


c. Mengembangkan rencana kerja.

13
Mencakup pengelolaan proyek, kepegawaian, rencana

kerja, anggaran, pelatihan, strategi dan kriteria

pemantauan
d. Merumuskan misi dan tujuan sasaran.
Tujuan dan sasaran akan memperlihatkan arah dan dapat

menciptakan antusiasme untuk adanya penyediaan

pelayanan publik yang berkualitas tinggi.


e. Mengenali pengukuran
Memperhitungkan sumber-sumber daya yang digunakan

dalam pelayanan yang tersedia

f. Pemantauan dan Evaluasi


Pemantauan yang cermat menyebabkan perbaikan sasaran,

ukuran, target kinerja prosedur pengumpulan bentuk

pelaporan dan rencana-rencana penyempurnaan dalam

memberi respon terhadap suatu masalah yang ditentukan

dengan kondisi yang berbeda-beda.

Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa keberhasilan pemerintah daerah dalam

menjalankan kegiatan pemerintahnya dapat dilihat melalui

beberapa indikator seperti indikator masukan, proses,

keluaran, hasil, dan evaluasi.

2.2 Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah adalah sistem terpadu yang

menggabungkan prosedur manual dengan proses elektronis dalam

pengambilan data pembukuan dan pelaporan semua transaksi keuangan,

14
aset, utang dan ekuitas seluruh entitas Pemerintah Daerah. Menurut Halim

(2012: 40) akuntansi keuangan daerah adalah proses pengidentifikasian,

pengukuran, pencatatan dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari

entitas pemerintah daerah (Kabupaten, Kota atau Provinsi) yang dijadikan

sebagai informasi dalam rangka pengambilan keputusan ekonomi oleh

pihak-pihak eksternal entitas pemerintah daerah (kabupaten, kota atau

provinsi). Sedangkan sistem akuntansi keuangan daerah adalah prosedur-

prosedur yang harus dilaksanakan untuk menghasilkan informasi yang

dibutuhkan oleh pihak-pihak didalam dan diluar organisasi dari suatu

entitas pemerintah daerah. Organisasi bebas merancang dan menerapkan

berbagai prosedur yang diharapkan dapat menghasilkan informasi yang

dibutuhkan. Akan tetapi karena informasi yang harus disajikan kepada

pihak-pihak diluar organisasi telah diatur dalam Standar Akuntansi maka

organisasi harus merancang sistem akuntansinya yang dapat menghasilkan

laporan keuangan sebagaimana ditetapkan dalam standar akuntansi untuk

menghasilkan informasi yang sesuai dengan standar akuntansi.

Menurut Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 232 mengatakan bahwa sistem

akuntansi pemerintah daerah adalah serangkaian prosedur mulai dari

proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan

pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan

APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi

komputer.

15
Menurut Eko Hariyanto (2007: 10) dalam Muthi (2012) bahwa

Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yaitu serangkaian secara sistematik

dari prosedur, penyelenggara, peralatan, dan elemen lain untuk

mewujudkan fungsi akuntansi sejak analisis transaksi sampai dengan

pelaporan keuangan di lingkungan organisasi pemerintah. Sedangkan

menurut Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002 menyebutkan bahwa Sistem

Akuntansi Keuangan Daerah adalah Sistem akuntansi yang meliputi proses

pencatatan, penggolongan, penafsiran, peringkasan transaksi, atau kejadian

keuangan serta pelaporan keuangannya dalam rangka pelaksanaan APBD,

dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berterima

umum.

Dalam sistem akuntansi keuangan daerah, contoh inputnya adalah

Bukti memorial, Surat Tanda Setoran, dan Surat perintah membayar.

Prosesnya adalah menggunakan catatan yang meliputi Buku Jurnal Umum,

Buku jurnal penerimaan kas, buku jurnal pengeluaran kas, buku besar, dan

buku pembantu. Sedangkan hasil dari akuntansi keuangan daerah berupa

laporan keuangan yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran (LRA).

Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). (Nunuy,2009: 18

dalam Muthi, 2012).

Sistem akuntansi pemerintah daerah dilaksanakan oleh pejabat

pengelola keuangan daerah (PPKD), sedangkan sistem akuntansi Satuan

Kerja Perangkat Dinas (SKPD) dilakukan oleh PPK-SKPD. Sistem

akuntansi dapat dijelaskan secara rinci melalui siklus akuntansi. Yang

16
dimaksud siklus akuntansi adalah tahap-tahap yang ada dalam sistem

akuntansi. Menurut Sugiri (2001: 13) dalam Abdul Halim (2004: 42).

Tahap-tahap tersebut meliputi:

a. Mendokumentasikan transaksi keuangan dalam buku dan

melakukan analisis transaksi keuangan tersebut.

b. Mencatat transaksi keuangan dalam buku jurnal. Tahap ini disebut

menjurnal.

c. Meringkas dalam buku besar, transaksi-transaksi keuangan yang

sudah dijurnal. Tahap ini disebut posting atau mengakunkan.

d. Menentukan saldo-saldo buku besar di akhir periode dan

menuangka dalam neraca saldo.

e. Menyesuaikan buku besar pada informasi yang paling up-to-date

(mutakhir).

f. Menentukan saldo-saldo buku besar setelah penyesuaian dan

menuangkan dalam neraca saldo setelah penyesuaian (NSSP).

g. Menyususn laporan keuangan berdasarkan neraca saldo setelah

penyesuaian (NSSP).

h. Menutup buku besar.

i. Menentukan saldo-saldo buku besar dan menuangkannya dalam

neraca saldo setelah tutup buku.

2.3 Prosedur Akuntansi Keuangan Daerah

Halim, (2012: 84) menjelaskan sistem akuntansi pemerintah daerah

secara garis besar terdiri atas empat prosedur akuntansi yaitu akuntansi

17
penerimaan kas, akuntansi pengeluaran kas, akuntasi selain kas, dan

akuntansi asset, dan disempurnakan oleh Permendagri menjadi 5 prosedur

sistem akuntansi keuangan daerah yang meliputi sebagai berikut:

a. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas

Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD adalah serangkaian

proses mulai dari pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan

pelaporan keuangan yangberkaitan dengan penerimaan kas dalam

rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan

secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

b. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas.

Prosedur akuntansi pengeluaran kas adalah serangkaian proses, baik

manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan

dan peringkasan transasksi atau kejadian keuangan, hingga pelaporan

keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang

berkaitan dengan pengeluaran kas pada SKPD dan/atau SKPKD

c. Prosedur Akuntansi Aset Tetap

Prosedur akuntansi asset adalah serangkaian proses, baik manual

maupun komputerisasi, mulai dari pencatatan dan pelaporan akuntansi

atas perolehan, hingga pemeliharaan, rehabilitas, penghapusan,

pemindah tanganan, perubahan klasifikasi dan penyusutan terhadap

asset yang dikuasai/digunakan skpd atau SKPKD. Prosedur akuntansi

asset digunakan sebagai alat pengendali dalam pengelolan asset yang

dikuasai/digunakan SKPD atau SKPKD.

18
d. Prosedur Akuntansi Selain Kas.

Prosedur akuntansi selain kas adalah serangkaian proses mulai dari

pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang

berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat

dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

e. Penyajian Laporan Keuangan

Secara garis besar, tujuan umum penyajian laporan keuangan oleh

pemerintah daerah adalah untuk memberikan informasi yang

digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi, sosial dan politik

serta sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan.

2.4 Ciri-Ciri Akuntansi Keuangan Daerah

Akuntansi keuangan pemerintah daerah merupakan bagian dari

disiplin ilmu akuntansi yang mempunyai ciri-ciri tersendiri berbeda

dengan akuntansi komersial, yaitu:

a. Tidak bertujuan untuk mengukur laba.

Tujuan pemerintah daerah adalah memberikan pelayanan kepada

masyarakat, sehingga harus memberikan informasi keuangan mengenai

sumber-sumber yang digunakan untuk pelayanan dan dari mana

sumber-sumber tersebut diperoleh.

b. Tidak adanya kepentingan pemilik

19
Pemerintah tidak memiliki kekayaan sendiri sebagaimana

perusahaan.Bila asset melebihi hutang, maka kelebihan tersebut tidak

dapat dibagikan kepada rakyat sebagaimana layaknya badan usaha

komersial yang membagikan deviden pada akhir tahun buku.

c. Adanya akuntansi anggaran

Akuntansi anggaran mencakup akuntansi atas estimasi pendapatan,

estimasi pendapatan yang dialokasikan, otorisasi kredit anggaran

(allotment) serta realisasi pendapatan dan belanja untuk pembuatan

laporan yang menunjukan atau membuktikan ketaatan dengan syarat-

syarat yang ditetapakan dalam dokumen otorisasi kredit anggaran dan

peraturan-peraturan pelaksanaan anggaran yang berlaku. Kerangka

umum sistem akuntansi keuangan daerah adalah sebagai berikut:

1) Satuan kerja memberikan dokumen-dokumen sumber (DS)

seperti Surat Perintah Membayar Uang (SPMU) dan Surat

Tanda Setoran (STS) dari transaksi keuangannya kepada unit

Keuangan Pemerintah Daerah.


2) Unit Pembukuan dan Unit Perhitungan melakukan pembukuan

bulanan (DS) tersebut dengan menggunakan komputer

akuntansi (komputer yang telah disiapkan untuk keperluan

akuntansi) termasuk perangkat lunak (software) akuntansi.


3) Dari proses akuntansi tersebut dihasilkan jurnal sekaligus yang

diposting ke dalam buku besar dan buku pembantu secara

otomatis untuk setiap satuan kerja.

20
4) Bila dokumen diatas telah diverivikasi dan benar maka

dilanjutkan dengan proses komputer untuk pembuatan Laporan

Pertanggungjawaban (LPJ).
a) LPJ dikirimkan kepada Kepala Daerah sebagai

pertanggungjawaban satuan kerja atas pelaksanaan

anggaran, satu copy dikirim kepada satuan kerja yang

bersangkutan untuk kebutuhan pertanggungjawaban dan

manajemen, satu copy untuk arsip unit perhitingan.


b) LPJ konsolidasi juga harus diberikan kepada Kepala

Daerah agar dapat mengetahui keseluruhan realisasi

APBD pada suatu periode.

Dalam sistem akuntansi keuangan daerah informasi yang

dihasilkan oleh proses akuntansi berdasarkan SAP baru (PP No 71/2010)

terdiri dari:

a. Laporan Realisasi Anggaran


b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
c. Neraca
d. Laporan Operasional
e. Laporan Arus Kas
f. Laporan Perubahan Ekuitas
g. Catatan atas Laporan Keuangan

Selain tujuh bentuk unsur laporan keuangan yang dikemukakan di

atas, masing-masing daerah diharuskan menyampaikan informasi yang

berkaitan dengan keuangan daerah, yaitu laporan keuangan badan usaha

milik daerah, dan data yang berkaitan dengan kebutuhan dan potensi

ekonomi daerah. Data akuntansi yang dilaporkan, dikaitkan dengan data

non finansial seperti data statistik memungkinkan instansi pemerintah

21
untuk menilai efisiensi, sejauh mana sumber daya yang ada telah

dimanfaatkan secara ekonomis dan penilaian efektifitas suatu instansi

tersebut memberikan pelayanan maksimum dengan sumber yang tersedia,

termasuk menilai apakah hasil suatu program dapat mencapai

konsekuensi-konsekuensi yang dituju.

2.5 Bentuk dan Unsur-Unsur Laporan Keuangan Daerah

Secara umum unsur-unsur laporan keuangan daerah terdiri

atas :

a. Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan

mengenai asset, kewajiban dan ekuitas dana pada periode tertentu.

Unsur yang dicakup oeh neraca terdiri dari :

1) Asset
Asset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan atau

dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu,

dan darimana manfaat ekonomi atau sosial di masa depan

diharapka dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun

masyarakat, serta dapat diukur dengan satuan uang, termasuk

sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan

jasa bagi masyarakat umum dan untuk pemeliharaan sumber-

sumber daya karena alasan sejarah dan budaya. Manfaat ekonomi

masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut

untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak

langsung, baik kegiatan operasional pemerintah berupa aliran

22
pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. Aset

diklarifikasikan ke dalam aset lancar jika dapat direalisasikan atau

dimiliki untuk dijual dalam waktu 1 tahun sejak tanggal

pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria

tersebut diklasifikasikan sebagai aset non lancar. Aset lancar

meliputi kas dan setara kas, piutang dan persediaan. Aset non

lancar meliputi aset keuangan yang bersifat jangka panjang, aset

yang digunakan untuk kegiatan operasi pemerintah dan aset tidak

berwujud. Aset non lancar diklasifikasikan menjadi investasi

permanen, aset tetap lainnya dan kontruksi pengerjaan. Aset non

lancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya, termasuk

dalam aset ini adalah aset tidak berwujud dan dana cadangan.
2) Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu

yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan aliran keluar

sumber daya ekonomi pemerintahan. Karakteristik kewajiban

adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban masa kini yang

dalam penyelesaiannya akan datang.Kewajiban umumnya timbul

karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggung jawab untuk

bertindak di masa lalu. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban

muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan

pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintah

lain atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga

terjadi karena perikatan pegawai yang bekerja pada pemerintahan

23
atau dengan pemberi jasa lainnya. Setiap kewajiban dapat

dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak

yang mengikat atau peraturan perundang-undangan. Kewajiban

dikelompokkan menjadi kewajiban jangka pendek dan kewajiban

jangka panjang. Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang

harus diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 tahun. Sementara

kewajiban jangka panjang, jangka waktu penyelesaiannya lebih

dari 1 tahun sejak tanggal pelaporan.


3) Ekuitas Dana
Ekuitas dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan

selisih antara aset dan kewajiban pemerintah..

Ekuitas Dana dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a) Ekuitas Dana lancar, yaitu selisih antara asset lancar dan dana

cadangan atas kewajiban jangka pendek.

b) Ekuitas Dana Investasi, yaitu selisih antara asset nonlancar

dan dana cadangan atas kewajiban jangka panjang.

c) Ekuitas Dana Cadangan, yaitu dana yang dicadangkan untuk

tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan

peraturan perundang-undangan.

b. Laporan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Laporan realisasi menyajikan ikhtisar sumber, alokasi pemakaian

sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah, yang

menggambarkan perbandingan antara anggaran pendapatan, belanja

dan pembiayaan dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

24
Komponen yang dicakup secara langsung oleh Laporan Realisasi

Anggaran meliputi unsur pendapatan, belanja dan pembiayaan.

Masing-masing komponen didefinisikan sebagai berikut :

1) Pendapatan

Pendapatan adalah semua penerimaan kas umum negara atau kas

daerah yang menambah ekuitas dana dalam periode tahun

anggaran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah pusat atau

daerah, yang tidak perlu dibayar diperoleh dibayar kembali

pembayarannya oleh pemerintah.

2) Belanja

Belanja adalah semua pengeluaran kas umum negara atau kas

daerah yang menguarangi ekuitas dana lancar dam periode tahun

anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh kembali

pembayarannya oleh pemerintah.

3) Pembiayaan (financing)

Pembiayaan adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik

penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan

diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama

dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan

surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan dapat berasal dari

pinjaman dan hasil divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain

digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman kepada

entitas lain dan penyertaan modal oleh pemerintah.

25
c. Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan

kegiatan operasional, investasi, pembiayaan dan transaksi

nonanggaran menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran

dan saldo akhir kas pemerintah pada periode tertentu. Unsur yang

dicakup secara langsung dalam Laporan Arus Kas terdiri dari

penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing didefinisikan

sebagai berikut :

1. Penerimaan adalah semua penerimaan kas umum negara atau kas

yang dibukukan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.


2. Pengeluaran adalah semua pengeluaran kas umum negara atau kas

daerah yang dibukukan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.


d. Catatan atas Laporan Keuangan

Dalam laporan pertanggungjawaban keuangan daerah, terdapat tiga

bentuk laporan keuangan daerah dan sistem akuntansi keuangan

daerah ini, yaitu laporan perhitungan APBD, laporan arus kas dan

neraca daerah. Terdapat satu bentuk laporan lagi yang dipersyaratkan

oleh peraturan yang berlaku yaitu nota perhitungan APBD. Catatan

atas laporan keuangan APBD merupakan dokumen yang disampaikan

oleh Kepala Daerah dihadapan sidang paripurna DPRD. Catatan atas

laporan keuangan pada dasarnya menurut kinerja keuangan daerah dan

ringkasan realisasi APBD yang disajikan dalam laporan perhitungan

APBD.

26
Catatan atas laporan keuangan APBD ini merupakan laporan

yang bersifat komprehensif yang menurut baik informasi-informasi

keuangan maupun nonkeuangan. Oleh karena itu, penyusunannya

bukanlah dihasilkan secara langsung oleh sistem, melainkan ditambah

dengan berbagai data-data lainnya.

Catatan atas laporan keuangan lain meliputi penjelasan naratif

atau rincian dari angka yang tertera dalam laporan relisasi anggaran,

neraca dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan juga

mencakupi informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan

oleh entitas pelapor dan informasi lain yang diharuskan dan

dianjurkan untuk diungkapkan dalam Standar Akuntansi Pemerintahan

serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan

penyajian laporan keuangan secara wajar. Catatan atas laporan

keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut :

1) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal atau keuangan,

ekonomi makro, pencapaian target Undang-Undang APBN atau

Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam

pencapaian target.

2) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja selama tahun pelaporan.

3) Mengajukan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan

dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan

atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya.

27
4) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar

Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka

laporan keuangan.

5) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos asset dan kewajiban

yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual yang

dimodifikasi atas pendapatan dan belanja serta rekonsiliasinya

dengan penerapan basis kas.

6) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian

yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan

keuangan.
2.6 Analisis Kinerja Keuangan Daerah
Pemerintah Daerah sebagai pihak yang diberikan tugas

menjalankan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat

wajib melaporkan pertanggung jawaban keuangan atas sumber daya yang

dihimpun dari masyarakat sebagai dasar penilaian kinerja keuangannya.

Salah satu alat untuk menganalisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

dalam mengelola keuangan daerahnya adalah dengan melakukan analisis

keuangan terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakannya

( Halim, 2007:231).
Menurit Halim (2007:232) pihak-pihak yang berkepentingan

dengan Rasio Keuangan Pemerintah Daerah adalah :


a. Pihak Eksekutif sebagai landasan dalam menyusun APBD berikutnya.
b. Pemerintah pusat/provinsi sebagai masukan dalam membina

pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah.

28
c. Masyarakat dan kreditur, sebagai pihak yang akan turut memiliki

saham pemerintah daerah, bersedia memberi pinjaman maupun

membeli obligasi.

Dengan demikian setiap Pemerintah Daerah untuk mengukur

kinerja keuangan daerahnya menggunakan beberapa Rasio Kinerja

Keuangan Daerah, antara lain : Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal, Rasio

Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah, Rasio Efektivitas dan Efisensi

Keuangan Daerah.

a. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal


Derajat Desentralisasi Fiskal adalah kemampuan pemerintah daerah

dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli daerah guna membiayai

pembangunan. Di bawah ini adalah tabel tingkat Derajat

Desentralisasi Fiskal.
Tabel 2.1
Tingkat Derajat Desentralisasi Fiskal
Kemampuan
% Keuangan
Daerah
0,00-10,00 Sangat
Kurang
10,01-20,00 Kurang
20,01-30,00 Cukup
30,01-40,00 Sedang
40,01-50,00 Baik
>50,00 Sangat baik
Sumber : Anita Wulandari (2001: 22)

Derajat Desentralisasi Fiskal dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :


PADt
DDF = x 100
TPDt
Keterangan :
DDF = Derajat Desentralisasi Fiskal

29
PADt = Total Pendapatan Asli Daerah tahun t
TPDt = Total Pendapatan Daerah tahun t
b. Rasio Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah menunjukkan tingkat

kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan

pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat

yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber

pendapatan yang diperlukan daerah. Rasio kemandirian

ditunjukkan oleh besarnya pendapatan asli daerah

dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari

sumber lain (pihak ekstern) antara lain : Bagi hasil pajak, Bagi

hasil Bukan Pajak Sumber Daya Alam, Dana Alokasi Umum

dan Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat dan Dana Pinjaman

(Widodo, 2001 : 262).

Rumus yang digunakan untuk mengukur Rasio Kemandirian

Keuangan Daerah adalah sebagai berikut :

PAD
RKKD = x 100%
Pendapatan Transfer

Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan

daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi resiko

kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan

daerah terhadap bantuan pihak ekstern semakin rendah dan

demikian pula sebaliknya. Rasio kemandirian juga

menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam

pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian,

30
semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak

dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama

pendapatan asli daerah. Semakin tinggi masyarakat membayar

pajak dan retribusi daerah menggambarkan bahwa timgkat

kesejahteraan masyarakat semakin tinggi. Sebagai pedoman

dalam melihat pola hubungan dengan kemampuan daerah (dari

sisi keuangan) dapat dijelaskan dalam tabel di bawah ini

Tabel 2.2
Pola hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah
Kem
ampu
Kemandirian Pola
an
(%) Hubungan
Keua
ngan
Rend 0 25
ah Instruktif
sekali
Rend 25 50
Konsultatif
ah
Sedan 50 75
Partisipastif
g
Tingg 75 100
Delegatif
i
Sumber : Abdul Halim (2007 : 169)

(1) Pola hubungan instruktif


Pola hubungan ini menjelaskan bahwa peranan pemerintah

pusat lebih dominan daripada kemandirian pemerintah

daerah (daerah yang tidak mampu melaksanakan otonomi

daerah)
(2) Pola hubungan konsultatif

31
Pola ini menjelaskan bahwa campur tangan pemerintah

pusat sudah mulai berkurang karena daerah dianggap sedikit

lebih mampu melaksanakan otonomi daerah.


(3) Pola hubungan partisipatif
Pola hubungan ini menjelaskan bahwa peranan pemerintah

pusat sudah mulai berkurang, mengingat daerah yang

bersangkutan, tingkat kemandiriannya mendekati mampu

melaksakan otonomi daerah.


(4) Pola hubungan delegatif
Pola hubungan ini menjelaskan bahwa campur tangan

pemerintah sudah tidak ada, karena daerah telah benar-

benar mampu dan mandiri dalam melaksanakan otonomi

daerah.
c. Rasio Efektivitas PAD
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah

daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang

direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan

berdasarkan potensi riil daerah.

Rumus yang digunakan adalah :

Realisasi PAD
Rasio Efektivitas = x 100%
Anggaran PAD

Jika hasilnya :
a. X < 100%, maka tidak efektif
b. X = 100%, maka berimbang
c. X > 100%, maka efektif (Mahsun, 2009)
d. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah

Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektivitas

tersebut perlu dipersandingkan dengan rasio efisiensi yang

dicapai pemerintah daerah. Rasio efisiensi adalah rasio yang

32
menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang

dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi

pendapatan yang diterima.

Rumus yang digunakan adalah :

Realisasi Belanja Daerah


Rasio Efisiensi = x 100%
Realisasi Pendapatan Daerah

Kinerja pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan

pendapatan dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai

kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100 persen. Semakin kecil

rasio efisiensi berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik.

Untuk itu pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat

berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan

seiuruh pendapatan yang diterimanya, sehingga dapat

diketahui apakah kegiatan pemungutan pendapatan yang telah

dilaksanakan sudah efektif atau belum.

Berikut ini adalah tabel mengenai kriteria efisiensi kinerja

keuangan

Tabel 2.3
Kriteria efisiensi kinerja keuangan
Kriteria Efisiensi Persentase Efisiensi
> 100% Tidak efisien
90% - 100% Kurang Efisien
80% - 90% Cukup Efisien
60% - 80% Efisien
<60% Sangat Efisien
Sumber : Halim, 2007:234

e. Rasio Keserasian

33
Rasio keserasian menggambarkan bagaimana pemerintah

daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja operasi

dan belanja modal secara optimal. Semakin tinggi nilai

persentase dana yang dialokasikan untuk belanja operasi,

berarti persentase belanja modal yang digunakan untuk

menyediakan sarana dan prasarana ekonomi masyarkat

cenderung semakin kecil. Rasio keserasian dapat dihitung

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


Total Belanja Operasi
Rasio Belanja Operasi = x 100%
Total Belanja Daerah
Total Belanja Modal
Rasio Belanja Modal = x 100%
Total Belanja Daerah
Belum ada patokan yang pasti mengenai berapa besarnya

Rasio Belanja Operasi maupun Modal terhadap APBD yang

ideal, karena sangat dipengaruhi oleh dinamisasi kegiatan

pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang

diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan.

Namun demikian, sebagai daerah negara berkembang, peranan

pemerintah untuk memacu pelaksanaan pembangunan masih

relatif besar. Oleh karena itu, rasio belanja pembangunan yang

masih relatif kecil, perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan

pembangunan daerah.
2.7 Penelitian terdahulu
Penelitian yang berkaitan dengan judul skripsi ini adalah :

Pen Judul
Hasil Peneliti
eliti Peneliti
Wi Analisis Bahwa analisis Rasio keuangan

34
dod Rasio merupakan salah satu alat yang

o Keuanga dapat digunakan untuk menilai

n Pada Kinerja Pemerintah Daerah

APBD dalam pengelolaan Keuangan

Kabupat Daerah yang dituangkan dalam

en APBD.Kesimpulan lain yang

Boyolali dapat di ambil adalah Tingkat

Tahun Kemandirian Daerah

Anggara Kabupaten Boyolali dalam

n 1997- memnuhi kebutuhan

2000 penyelenggaran tugas-tugas

pemerintah,pembangunan dan

pelayanan social masyarakat

masih relative rendah dan

bahkan cenderung turun.


Lan Analisis agar tercapai pembangunan

diy terhadap berkelanjutan

ant kinerja yang berdasarkan partisipasi

o keuanga aktif dan sesuai dengan

n Kota kebutuhan masyarakat Kota

Surabaya Surabaya. Hasil analisis

dan penelitian Landiyanto (2005)

perumus menunjukkan bahwa

an Pemerintah Kota Surabaya

35
strategi memiliki ketergantungan yang

kebijaka tinggi pada Pemerintah

n dalam Pusat dikarenakan belum

meningk optimalnya penerimaan dari

atkan Pendapatan Asli Daerah

kinerja (PAD) Kota Surabaya. Oleh

keuanga karena itu, Pemerintah Kota

n Surabaya perlu

Pemerint meningkatkan penerimaan

ah Kota sumber daya dan


Surabaya
penerimaannya dengan

meningkatkan

penerimaan dari perpajakan

dan retribusi daerah agar dapat

lebih menyokong

PAD (Pendapatan Asli Daerah.


2.8 Kerangka Berfikir

Menganalisis Kinerja Keuangan Pemerintah Kota Kupang adalah

suatu proses penilaian mengenai tingkat kemajuan pencapaian pelaksanaan

pekerjaan/kegiatan Pemerintah Kota Kupang dalam bidang keuangan

untuk kurun waktu tertentu. Di bawah ini ada tiga macam rasio yang

digunakan oleh peneliti dalam menganalisis kinerja keuangan Pemerintah

Kota Kupang :

36
Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal dihitung berdasarkan

perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah dengan total

Pendapatan Daerah. Rasio ini menunjukkan derajat kontribusi PAD

terhadap total Pendapatan Daerah. Semakin tinggi kontribusi PAD maka

semakin tinggi kemampuan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan

desentralisasi. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah dihitung dengan cara

membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah dibagi

dengan jumlah pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan propinsi

serta pinjaman daerah. Semakin tinggi angka rasio ini menunjukkan

pemerintah daerah semakin tinggi kemandirian keuangan daerahnya.

Rasio Efektivitas PAD menggambarkan kemampuan pemerintah

daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan

dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Semakin

tinggi Rasio Efektivitas,PAD maka semakin baik kinerja pemerintah

daerah. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah menggambarkan perbandingan

antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan

dengan realisasi pendapatan yang diterima, sementara rasio keserasian

menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi

dananya pada belanja rutin dan pembangunan secara optimal.


Laporan Realisasi Anggaran
Pemerintah Kota Kupang :
a. Rasio Derajat
Desentralisasi Fiskal
b. Rasio Kemandirian
Keuangan Daerah
c. Rasio Efektifitas PAD
d. Rasio Efisiensi
Keuangan Daerah Kinerja Pemerintah Kota
e. Rasio Keserasian Kupang

37
2.9 Hipotesis

2.9 Hipotesis

Berdasarkan uraian pada kerangka berfikir maka dapat dirumuskan hipotesis

sebagai berikut :

Semakin besar nilai presentase Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal, Rasio

Keuangan Daerah, Rasio Efektifitas, dan semakin kecil niai Rasio Efisiensi

menunjukan bahwa kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang baik.

38
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan ini berlokasi pada Kantor Walikota Kota

Kupang.

3.2 Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini ialah Pemerintah Kota Kupang dan yang diteliti

yaitu APBD Kota Kupang tahun 2013-2015.

3.3 Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat studi kasus, yakni berupaya mengetahui kinerja

Pemerintah Kota Kupang dinilai dari Rasio Derajat Desentrlisasi Fiskal

Rasio Keuangan Kemandirian Daerah, Rasio Efektifitas PAD, Rasio

Efisiensi Keuangan Daerah dan Rasio Keserasian.

3.4 Jenis dan Sumber Data

3.4.1 Jenis Data

a. Data Kuantitatif ( Kuncoro, 2007:23) adalah data yang diukur

dalam skala numerik (angka).

b. Data Kualitatif (Siagian,2006:17 ) adalah data yang sifatnya

hanya menggolongkan saja.

3.4.2 Sumber Data

a. Data Primer (Umar, 2003:60), merupakan data yang didapat dari

sumber pertama,misalnya individu atau perseorangan, seperti

39
hasil wawancara, pengisian kuesioner atau bukti transaksi

seperti bukti tanda pembelian barang dan karcis parkir. Data ini

merupakan data mentah yang kelak akan diproses untuk tujuan-

tujuan tertentu sesuai dengan kebutuhan.

b. Data Sekunder (Umar, 2003:62), adalah data primer yang

diperoleh oleh pihak lain atau data primer yang telah diolah

lebih lanjut dan disajikan oleh pengumpul data primer atau

pihak lain. Data seperti ini biasanya disajikan dalam bentuk

tabel atau diagram

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah

sebagai berikut :

a. Observasi (Soeratno dan Lincolin, 2003 : 89) adalah cara

pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan secara cermat

dan sistematik.
b. Wawancara (Soeratno dan Lincolin, 2003:92) merupakan metode

pengumpulan data dengan cara bertanya langsung (berkomunikasi

langsung) dengan responden.


c. Dokumen dan Pustaka adalah dokumen yang memuat informasi

pengetahuan ilmiah dengan tujuan penciptaannya untuk kegiatan

kultural dan pendidikan.

3.6 Teknik Analisa Data

40
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

analisa data kuantitatif dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

a. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal


Tabel 3.1
Tingkat Derajat Desentralisasi Fiskal
Kemam
puan
%
Keuanga
n Daerah
0,00- Sangat
10,0 Kurang
0
10,0 Kurang
1-
20,0
0
20,0 Cukup
1-
30,0
0
30,0 Sedang
1-
40,0
0
40,0 Baik
1-
50,0
0
>50, Sangat
00 baik
Sumber : Anita Wulandari (2001: 22)

Derajat Desentralisasi Fiskal dapat dihitung dengan menggunakan

rumus sebagai berikut :


PADt
DDF = x 100
TPDt
Keterangan :
DDF = Derajat Desentralisasi Fiskal
PADt = Total Pendapatan Asli Daerah tahun t
TPDt = Total Pendapatan Daerah tahun t
b. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
Tabel 3.2

41
Pola hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah
Kemam
puan Kemandirian Pola
Keuang (%) Hubungan
an
Rendah 0 25 Instruktif
sekali
Rendah 25 50 Konsultatif
Sedang 50 75 Partisipasti
f
Tinggi 75 100 Delegatif
PAD
RKKD = x 100%
Pendapatan Transfer

c. Rasio Efektifitas PAD

Rumus yang digunakan adalah :

Realisasi PAD
Rasio Efektivitas = x 100%
Anggaran PAD

Jika hasilnya :
(5) X < 100%, maka tidak efektif
(6) X = 100%, maka berimbang
(7) X > 100%, maka efektif (Mahsun, 2009)
d. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah
Rumus yang digunakan adalah :

Realisasi Belanja Daerah


Rasio Efisiensi = x 100%
Realisasi Pendapatan Daerah

Tabel 3.3
Kriteria efisiensi kinerja keuangan
Kriteria Efisiensi Persentase
Efisiensi
> 100% Tidak efisien
90% - 100% Kurang Efisien
80% - 90% Cukup Efisien
60% - 80% Efisien
<60% Sangat Efisien
Sumber : Halim, 2007:234

42
e. Rasio Keserasian
dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Total Belanja Operasi
Rasio Belanja Operasi = x 100%
Total Belanja Daerah
Total Belanja Modal
Rasio Belanja Modal = x 100%
Total Belanja Daerah

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Kota Pemerintah Daerah


4.1.1 Kondisi Geografis Kota Kupang
Terletak pada 103614-103958 LS dan 1233223

1233701BT; Luas wilayah 180,27 Km2, dengan peruntukan Kawasan

Industri 735,57 Ha, permukiman 10.127,40 Ha, Jalur Hijau 5.090,05 Ha,

perdagangan 219,70 Ha, pergudangan 112,50 Ha, pertambangan 480 Ha,

pelabuhan laut/udara 670,1 Ha, pendidikan 275,67 Ha,

pemerintahan/perkantoran 209,47 Ha, lain-lain 106,54 Ha;

Suhu rata-rata di Kota Kupang berkisar antara 23,8 C sampai

dengan 31,6 C. Tempat-tempat yang letaknya dekat dengan pantai

43
memiliki suhu udara yang rata-rata relatif lebih tinggi. Kelembaban udara

rata-rata berkisar antara 73 persen sampai dengan 99 persen.

Curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan

sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu

tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan

Desember dengan 28 hari hujan.Batas Wilayah Utara berbatasan dengan

Teluk Kupang, Timur berbatasan dengan Kabupaten Kupang, Barat

berbatasan dengan Selat Semau dan Kabupaten Kupang, sedangkan

Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kupang.

Kota Kupang dipimpin oleh seorang Walikota dalam melaksanakan

kegiatan pemerintahan. Walikota dibantu oleh seorang Wakil Walikota,

yang dipilih melalui suatu pemilihan umum pada setiap 5 tahun. Kota

Kupang memiliki perangkat daerah[10] yaitu 18 dinas, 8 badan, 3 kantor

dan 8 bagian. Di samping itu terdapat 3 instansi vertikal, yaitu Badan

Pertanahan Nasional (BPN), Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementrian

Agama. Wilayah pemerintahan Walikota Kupang meliputi 6 daerah

kecamatan.

4.1.2 Sejarah Singkat

Awalnya Koepang Tempo Doeloe, bagi orang Helong dinamakan

Kai Salun-Buni Baun. Hal ini diketahui lewat sejarah dan asal-usul kota

Koepang. Adalah Raja Koen Bissi ll atau Koen Am Tuan memerintah

44
warganya untuk membangun pagar batu disekeliling pagar istana. Pagar

batu tersebut adalah batu Alam bersusun keatas berlapis empat. Kondisi

tersebut menurut bahasa Helong yaitu PAN. Oleh rakyat atau warga

yang ini berurusan atau menemui Raja Koen ditempat yang disebut PAN,

sehingga sering disebut KOENPAN. Dalam perkembangan penggunaan

bahasa (ucapan) secara etimologis kata KoenPan berubah menjadi

Koepang, selanjutnya dengan ejaan baru maka disesuaikan lagi menjadi

KUPANG. Sebagai tanda penghormatan terhadap leluhur Lai Bissi

yakni moyang dari KoEn Lai Bissi maka oleh pemerintah Kabupaten

Kupang menggantikan nama Kampung Cina menjadi Kelurahan Lai Bissi

Kopan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1978 tanggal 18

September 1978 Kupang diresmikan menjadi Kota Administrasi Kupang

oleh Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud. Selanjutnya melalui Undang

Undang No. 5 tahun 1996 tanggal 25 April 1996, Kupang diresmikan

sebagai Kota Madya Daerah Tingkat II. Jabatan Walikota pertama

dipegang oleh S.K.Lerik.

Sesuai dengan ketentuan perundang undangan, pada tahun 2007

dilakukan pemilihan langsung oleh rakyat yang dimenangkan Drs. Daniel

Adoe sebagai Walikota dan Drs. Daniel Hurek sebagai Wakilnya, periode

2007-2012. Proses yang sama dilaksanakan pada periode 2012-2017, yang

dimenangkan pasangan Walikota Jonas Salean, SH dan Wakil Walikota dr.

Hermanus Man.

45
4.1.3 Visi dan Misi
1)Visi

Mewujudkan Kota Kupang sebagai Kota Berbudaya, Modern,

Produktif dan Nyaman yang berkelanjutan

2) Misi
a. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi dan Pemberdayaan

Masyarakat
b. Mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Masyarakat

Kota Kupang yang Berkualitas


c. Meningkatkan Mutu Pelayanan Publik dan Penegakan

Supremasi Hukum
d. Mewujudkan Tata Ruang Wilayah dan Infrastruktur Perkotaan

yang Berkelanjutan
e. Merningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat.

4.2 Analisis Dan Pembahasan

4.2.1 Hasil Penelitian

Analisa Kinerja Keuangan Kota Kupang dalam penelitian ini

adalah suatu proses penilaian mengenai tingkat kemajuan pelaksanaan

kegiataan pemerintah kota Kupang yang berhubungan dengan keuangan

dalam kurun waktu 2013-2015. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini

adalah : Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal, Rasio Kemandirian Keuangan

Daerah, Rasio Efektifitas, Rasio Efisiensi dan Rasio Keserasian. Data yang

dianalisa dalam penelitian ini adalah Laporan APBD dan Laporan

Realisasi PBD Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015.

46
Dari data tersebut, nantinya dapat diketahui bagaimana kinerja

keuangan pemerintah kota Kupang tahun 2013-2015. Berikut ini adalah

hasil perhitungan untuk setiap Rasio:

1. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal


Rumus yang digunakan untuk mengukur Rasio ini adalah :

PADt
DDF = x 100
TPDt

Keterangan :

DDF = Derajat Desentralisasi Fiskal

PADt = Total Pendapatan Asli Daerah tahun t

TPDt = Total Pendapatan Daerah tahun t

Rasio ini menunjukkan derajat kontribusi PAD terhadap total

penerimaan daerah.

Hasil dari perhitungan Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

(DDF) tahun 2013-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Rasio DDF tahun 2013-2015

Sumber : Data Skunder oleh penulis 2016

Berdasarkan hasil perhitungan tabel diatas, dapat dilihat bahwa kinerja

keuangan Pemerintah Kota Kupang diukur berdasarkan Rasio Derajat

Desentralisasi Fiskal cenderung kurang. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Pemerintah Kota Kupang pada tahun 2013 adaah sebesar 9,89% dan masuk

47
dalam kategori sangat kurang, karena nilai yang didapat masih berada di

bawah 10%. Pada tahun 2014, Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal Pemerintah

Kota Kupang mengalami kenaikan sebesar 1,86% atau menjadi 11,75%.

Selanjutnya pada tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar 2,47% atau

menjadi 14,22%. Meskipun Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal Pemerintah

Kota Kupang selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, namun hasil

perhitungan menunjukkan bahwa Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Pemerintah Kota Kupang cenderung berada dalam kategori kurang

dikarenakan nilai yang didapat dari hasil penelitian masih berada di bawah

20%.

2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah


Rasio Kemandirian Keuangan Daerah menunjukkan

tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri

kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada

masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai

sumber pendapatan yang diperlukan daerah.


Rumus yang digunakan untuk mengukur Rasio Kemandirian

Keuangan Daerah adalah sebagai berikut :


PAD
RKKD = x 100%
Pendapatan Transfer
Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah

terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi resiko

kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan

daerah terhadap bantuan pihak ekstern semakin rendah dan

demikian pula sebaliknya.

48
Hasil dari perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

(RKKD) Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 dapat

dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Rasio KKD

Sumber : Data Skunder oleh penulis 2016

Berdasarkan hasil perhitungan tabel diatas, dapat dilihat bahwa

kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang diukur berdasarkan

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah cenderung bersifat

Instruktif. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah

Kota Kupang pada tahun 2013 adalah sebesar 11,01%. Pada

tahun 2014, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah

Kota Kupang mengalami kenaikan sebesar 2,32% atau menjadi

13,33%. Selanjutnya pada tahun 2015 juga mengalami

kenaikan sebesar 3,32% atau menjadi 16,65%. Meskipun

Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Kota Kupang

selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, namun hasil

perhitungan menunjukkan bahwa Rasio Kemandirian

Keuangan Daerah Pemerintah Kota Kupang cenderung berada

49
dalam kategori instruktif dikarenakan nilai yang didapat dari

hasil penelitian masih berada di bawah 20%. Hal ini

menunjukkan bawa tingkat ketergantungan Pemrintah Kota

Kupang terhadap pihak eksternal, terutama bantuan dari

pemerintah pusat dan provinsi cenderung masih sangat tinggi

3. Rasio Efektifitas PAD

Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah

dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan

dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil

daerah.

Rumus yang digunakan adalah :

Realisasi PAD
Rasio Efektivitas = x 100%
Anggaran PAD

Jika hasilnya :

X < 100%, maka tidak efektif

X = 100%, maka berimbang

X > 100%, maka efektif (Mahsun, 2009)

Hasil dari perhitungan Rasio Efektifitas PAD (REPAD)

Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 dapat dilihat pada

tabel di bawah ini

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Rasio EPAD

50
Sumber : Data Skunder oleh penulis 2016

Berdasarkan hasil perhitungan tabel diatas, dapat dilihat bahwa

kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang diukur berdasarkan

Rasio Efektifitas PAD cenderung bersifat efektif. Rasio

Efektifitas PAD Pemerintah Kota Kupang pada tahun 2013

adalah sebesar 103,36%. Pada tahun 2014, Rasio Efektifitas

PAD Pemerintah Kota Kupang mengalami kenaikan sebesar

8,64% atau menjadi 112%. Selanjutnya pada tahun 2015 juga

mengalami kenaikan sebesar 4,01% atau menjadi 116,01%.

Secara umum dapat dikatakan bahwa Rasio Efektifitas PAD

Pemerintah Kota Kupang berada dalam kategori efektif

dikarenakan nilai Rasio Efektifitas PAD yang diperoleh sudah

melebihi 100%.
4. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah
Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan

perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk

memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang

diterima.
Rumus yang digunakan adalah :
Realisasi Belanja Daerah
Rasio Efisiensi = x 100%
Realisasi Pendapatan Daerah

51
Kinerja pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan

pendapatan dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai

kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100 persen. Semakin kecil

rasio efisiensi berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik.


Hasil dari perhitungan Rasio Efisiensi Keuangan Daerah

(REKD) Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 dapat

dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Rasio EKD

Sumber : Data Skunder oleh penulis 2016

Berdasarkan hasil perhitungan tabel diatas, dapat dilihat bahwa

kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang diukur berdasarkan

Rasio Efisiensi Keuangan Daerah cenderung bersifat kurang

efisien. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah Pemerintah Kota

Kupang pada tahun 2013 adalah sebesar 96,50%. Pada tahun

2014, Rasio Efisiensi Keuangan Daerah Pemerintah Kota

Kupang mengalami penurunan sebesar 3,28% atau menjadi

93,22%. Selanjutnya pada tahun 2015 mengalami kenaikan

sebesar 3,36% atau menjadi 96,58%. Hal ini diakibatkan

52
adanya selisih yang cukup besar antara pendapatan yang

diperoleh dengan belanja yang dikeluarkan.


5. Rasio Keserasian
Rasio keserasian menggambarkan bagaimana

pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada

belanja operasi dan belanja modal secara optimal. Semakin

tinggi nilai persentase dana yang dialokasikan untuk belanja

operasi, berarti persentase belanja modal yang digunakan untuk

menyediakan sarana dan prasarana ekonomi masyarkat

cenderung semakin kecil. Rasio keserasian dapat dihitung

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


A. Rasio Belanja Operasi

Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Total Belanja Operasi


Rasio Belanja Operasi = x 100%
Total Belanja Daerah

Hasil dari perhitungan Belanja Operasi Pemerintah Kota Kupang

tahun 2013-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Rasio Belanja Operasi 2013-2015

Sumber : Data Skunder oleh penulis 2016

Berdasarkan hasil perhitungan tabel diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata

kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang diukur berdasarkan Rasio

Belanja Operasi adalah sebesar 86,15%. Rasio Belanja Operasi Pemerintah

53
Kota Kupang pada tahun 2013 adalah sebesar 87,56 %. Pada tahun 2014,

Rasio Belanja Operasi Pemerintah Kota Kupang mengalami penurunan

sebesar 1,30% atau menjadi 93,22%. Selanjutnya pada tahun 2015 juga

mengalami penurunan sebesar 1,62% atau menjadi 84,64%.


B. Rasio Belanja Modal
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Total Belanja Modal
Rasio Belanja Modal = x 100%
Total Belanja Daerah
Hasil dari perhitungan Rasio Belanja Modal Pemerintah Kota

Kupang tahun 2013-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Rasio Belanja Modal 2013-2015

Sumber : Data Skunder oleh penulis 2016

Berdasarkan hasil perhitungan tabel diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata

kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang diukur berdasarkan Rasio

Belanja Modal adalah sebesar 13,82%. Rasio Belanja Modal Pemerintah

Kota Kupang pada tahun 2013 adalah sebesar 12,40%. Pada tahun 2014,

Rasio Belanja Operasi Pemerintah Kota Kupang mengalami kenaikan

sebesar 1,31% atau menjadi 13,71%. Selanjutnya pada tahun 2015 juga

mengalami kenaikan sebesar 1,64% atau menjadi 15,35%.

4.2.1 Pembahasan
A. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

54
Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa PAD

Pemerintah Kota Kupang selalu mengalami kenaikan dari

tahun 2013-2015. Pada tahun 2013, jumlah PAD Kota Kupang

adalah sebesar Rp 80.729.275.769,24 atau sebesar 9,89% dari

total Pendapatan Daerah. Pada Tahun 2014 besarnya PAD Kota

Kupang adalah sebesar Rp 113.032.803.506,97 atau sebesar

11,75% dari total Pendapatan Daerah. Jumlah PAD tahun 2014

mengalami kenaikan sebesar 1,86% dari jumlah PAD tahun

2013. Pada tahun 2015, jumlah PAD Kota Kupang adalah

sebesar Rp 145.154.792.156,20 atau sebesar 14,22% dari total

Pendapatan Daerah. Jumlah PAD tahun 2015 ini mengalami

kenaikan sebesar 2,47% dari total PAD tahun 2014.

Total Pendapatan Daerah Kota Kupang tahun 2013-2015 juga

selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2013, jumlah Pendapatan Daerah

Kota Kupang adalah sebesar Rp 815.933.407.553,24. Pada tahun 2014

jumlah Pendapatan Daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp

962.222.151.821,97 atau mengalami peningkatan sebesar 17,93% dari

total Pendapatan Daerah pada tahun 2013. Pada tahun 2015, total

Pendapatan Daerah Kota Kupang juga mengalami kenaikan sebesar 6,10%

dari tahun 2014 atau menjadi Rp 1.020.930.686.935,20.

Berdasarkan hasil perhitungan Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Pemerintah Kota Kupang dari tahun 2013-2015 dapat dikategorikan sangat

kurang hingga kurang. Pada tahun 2013, besarnya nilai Rasio Derajat

55
Desentralisasi Fiskal Kota Kupang adalah sebesar 9,89%. Kemudian pada

tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 1,86% menjadi 11,75%, dan pada

tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar 2,47% menjadi 14,22% dari

tahun 2014. Meskipun besarnya nilai Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Pemerintah Kota Kupang selalu mengalami kenaikan, namun dapat

dikatakan bahwa kinerja keungan Pemerintah Kota Kupang dari tahun

2013-2015 masing kurang. Hal ini dikarenakan nilai Rasio yang dicapai

masih berada di bawah 20%.

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diambil kesimpulan bahwa Rasio

Derajat Desentralisasi Fiskal Pemerintah Kota Kupang selama kurun

waktu 2013-2015 masih kurang, dikarenakan nilai rasio yang dicapai

masih berada di bawah 20%. Hal ini menunjukkan bahwa PAD kurang

memiliki kemampuan dalam membiayai pembangunan daerah. Hal ini

dikarenakan besarnya nilai PAD Kota Kupang yang masih relatif kecil bila

dibandingkan dengan total Pendapatan Daerah setiap tahunnya. Selain itu,

partisipasi masyarakat dan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak

dan retribusi daerah masih kurang, hingga menyebabkan PAD hanya

memiliki pengaruh yang kecil dalam membiayai kegiatan pembangunan

Kota Kupang. Hal ini juga sekaligus menunjukkan bahwa pelaksanaan

kegiatan pembangunan daerah Kota Kupang masih sangat bergantung

pada bantuan dari pihak lain, terutama dari pemerintah pusat dan

pemerintah provinsi NTT. Oleh karena itu, diharapkan kedepannya

Pemerintah Kota Kupang meningkatkan PAD nya dengan

56
mengembangkan potensi-potensi yang sudah ada, serta berusaha mencari

potensi-potensi baru guna meningkatkan PAD Kota Kupang.

B. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah


Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa PAD

Pemerintah Kota Kupang selalu mengalami kenaikan dari

tahun 2013-2015. Pada tahun 2013, jumlah PAD Kota Kupang

adalah sebesar Rp 80.729.275.769,24 atau sebesar 9,89% dari

total Pendapatan Daerah. Pada Tahun 2014 besarnya PAD Kota

Kupang adalah sebesar Rp 113.032.803.506,97 atau sebesar

11,75% dari total Pendapatan Daerah. Jumlah PAD tahun 2014

mengalami kenaikan sebesar 1,86% dari jumlah PAD tahun

2013. Pada tahun 2015, jumlah PAD Kota Kupang adalah

sebesar Rp 145.154.792.156,20 atau sebesar 14,22% dari total

Pendapatan Daerah. Jumlah PAD tahun 2015 ini mengalami

kenaikan sebesar 2,47% dari total PAD tahun 2014.

Total Pendapatan Tranfer Kota Kupang tahun 2013-2015 selalu

mengalami kenaikan. Pada tahun 2013, jumlah Pendapatan Tranfer Kota

Kupang adalah sebesar Rp 732.954.131.784. Pada tahun 2014 jumlah

Pendapatan Transfer Kota Kupang adalah sebesar 848.156.798.315 atau

mengalami peningkatan sebesar 15,72% dari total Pendapatan Transfer

pada tahun 2013. Pada tahun 2015, total Pendapatan Transfer Kota

Kupang juga mengalami kenaikan sebesar 2,77% dari tahun 2014 atau

menjadi Rp 871.608.894.779

57
Berdasarkan hasil perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan

Daerah Pemerintah Kota Kupang dari tahun 2013-2015 dapat

dikategorikan sangat kurang hingga kurang. Pada tahun 2013, besarnya

nilai Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kota Kupang adalah sebesar

11,01%. Kemudian pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 2,32%

menjadi 13,33%, dan pada tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar

3,32% menjadi 16,65% dari tahun 2014. Meskipun besarnya nilai Rasio

Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Kota Kupang selalu

mengalami kenaikan, namun dapat dikatakan bahwa kinerja keungan

Pemerintah Kota Kupang dari tahun 2013-2015 bersifat intruktif. Hal ini

dikarenakan nilai Rasio yang dicapai masih berada di bawah 25%.

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diambil kesimpulan bahwa

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Kota

Kupang selama kurun waktu 2013-2015 masih sangat rendah

dan bersifat intruktif, dikarenakan nilai rasio yang dicapai

masih berada di bawah 25%. Hal ini menunjukkan bahwa

peranan pmerintah pusat lebih dominan daripada kemandirian

keuangan daerah atau tergolong dalam daerah yang belum

mampu melaksanakan otonomi daerah. Pemerintah Kota

Kupang belum mampu mengoptimalkan PAD untuk

pembangunan daerahnya. Partisipasi masyarakat dan kesadaran

masyarakat yang kurang dalam membayar pajak dan retribusi

daerah menyebakan PAD yang diterima hanya sedikit, sehingga

58
menyebabkan pembangunan daerah Kota Kupang masih sangat

bergantung dari bantuan pemerintah pusat maupun provinsi.

Pemerintah Kota Kupang harus terus mengupayakan agar

jumlah PAD yang dihasilkan besar.


C. Rasio Efektifitas PAD
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa Anggaran

PAD Pemerintah Kota Kupang selalu mengalami kenaikan dari

tahun 2013-2015. Pada tahun 2013, jumlah Anggaran PAD

Kota Kupang adalah sebesar Rp 78.104.204.057 atau sebesar

9,42% dari total Anggaran Pendapatan Daerah. Pada Tahun

2014 besarnya Anggaran PAD Kota Kupang adalah sebesar Rp

100.923.871.583 atau sebesar 10,69% dari total Anggaran

Pendapatan Daerah. Jumlah PAD tahun 2014 mengalami

kenaikan sebesar 1,27% dari jumlah Anggaran PAD tahun

2013. Pada tahun 2015, jumlah Anggaran PAD Kota Kupang

adalah sebesar Rp 125.125.330.759 atau sebesar 12,05% dari

total Anggaran Pendapatan Daerah. Jumlah PAD tahun 2015 ini

mengalami kenaikan sebesar 1,36% dari total PAD tahun 2014.


Realisasi PAD Kota Kupang selalu mengalami kenaikan

dari tahun 2013-2015. Pada tahun 2013, jumlah PAD Kota

Kupang adalah sebesar Rp 80.729.275.769,24 atau sebesar

9,89% dari total Pendapatan Daerah. Pada Tahun 2014

besarnya PAD Kota Kupang adalah sebesar Rp

113.032.803.506,97 atau sebesar 11,75% dari total Pendapatan

Daerah. Jumlah PAD tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar

59
1,86% dari jumlah PAD tahun 2013. Pada tahun 2015, jumlah

PAD Kota Kupang adalah sebesar Rp 145.154.792.156,20 atau

sebesar 14,22% dari total Pendapatan Daerah. Jumlah PAD

tahun 2015 ini mengalami kenaikan sebesar 2,47% dari total

PAD tahun 2014.


Berdasarkan hasil perhitungan Rasio Efektifitas PAD

Kota Kupang dari tahun 2013-2015 dapat dikategorikan sudah

efektif. Pada tahun 2013, besarnya nilai Rasio Efektifitas PAD

Kota Kupang adalah sebesar 103,36%. Kemudian pada tahun

2014 mengalami kenaikan sebesar 8,64% menjadi 112%, dan

pada tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar 4,01%

menjadi 116,01% dari tahun 2014. Dari hasil perhitungan

tersebut dapat diketahui bahwa kinerja keuangan Pemerintah

Kota Kupang bisa dikatakan sudah efektif. Hal ini dikarenakan

nilai rasio efektifitas PAD setiap tahun selalu lebih besar dari

100%.
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diambil kesimpulan bahwa

Rasio Efektifitas PAD Pemerintah Kota Kupang selama kurun

waktu 2013-2015 sudah efektif, dikarenakan nilai rasio yang

dicapai sudah berada di atas 100%. Hal ini disebabkan oleh

jumlah realiasi PAD yang diterima selalu lebih besar dibanding

anggaran PAD setiap tahunnya. Pemerintah Kota Kupang harus

tetap mempertahankan dan meningkatkan jumlah Realisasi

PAD dengan cara mengoptimalkan penerimaan dari potensi

60
pendapatan yang telah ada dan terus berusaha mencari potensi-

potensi yang bisa memberikan kenaikan bagi Realisasi PAD

untuk tahun yang akan datang.


D. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa Realisasi

Total Belanja Pemerintah Kota Kupang selalu mengalami

kenaikan dari tahun 2013-2015. Pada tahun 2013, jumlah

belanja daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp

787.363.117.900. Pada Tahun 2014 besarnya belanja daerah

Kota Kupang adalah sebesar Rp 897.022.423.328,20. Jumlah

belanja daerah tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar

13,93% dari jumlah Belanja Daerah tahun 2013. Pada tahun

2015, jumlah Belanja Daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp

985.978.546.217,85. Jumlah Belanja Daerah tahun 2015 ini

mengalami kenaikan sebesar 9,92% dari total Belanja Daerah

tahun 2014.
Total Pendapatan Daerah Kota Kupang tahun 2013-

2015 juga selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2013, jumlah

Pendapatan Daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp

815.933.407.553,24. Pada tahun 2014 jumlah Pendapatan

Daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp 962.222.151.821,97

atau mengalami peningkatan sebesar 17,93% dari total

Pendapatan Daerah pada tahun 2013. Pada tahun 2015, total

Pendapatan Daerah Kota Kupang juga mengalami kenaikan

61
sebesar 6,10% dari tahun 2014 atau menjadi Rp

1.020.930.686.935,20.
Berdasarkan hasil perhitungan Rasio Efisiensi

Keuangan Daerah Kota Kupang dari tahun 2013-2015 dapat

kurang efisien. Pada tahun 2013, besarnya nilai Rasio Efisiensi

Keuangan Daerah Kota Kupang adalah sebesar 96,50%.

Kemudian pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar

3,28% menjadi 93,22%, dan pada tahun 2015 mengalami

kenaikan sebesar 3,36% menjadi 96,58% dari tahun 2014. Dari

hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa kinerja

keuangan Pemerintah Kota Kupang bisa dikatakan kurang

efisien. Hal ini dikarenakan nilai Rasio Efisiensi Keuangan

Daerah setiap tahun selalu berada di interval 90-100%.


Berdasarkan tabel 4.4 dapat diambil kesimpulan bahwa

Rasio Efisiensi Keuangan Daerah Pemerintah Kota Kupang

selama kurun waktu 2013-2015 kurang efisien, dikarenakan

nilai rasio yang dicapai berada pada interval 90-100%. Hal ini

disebabkan oleh jumlah belanja daerah yang dikeluarkan,

besarnya mendekati dengan total pendapatan daerah Kota

Kupang. Sehingga dikatakan bahwa kinerja pemerintah Kota

Kupang masih buruk, karena belum mampu menekan jumlah

belanja daerahnya. Diharapkan untuk tahun yang akan datang,

Pemerintah Kota Kupang dapat menekan jumlah belanja daerah

62
setiap tahunnya dan terus meningkatkan jumlah pendapatan

daerah guna meningkatkan efisiensi belanja daerah.


E. Rasio Keserasian
Berdasarkan Tabel 4.5 dan 4.6 menunjukkan bahwa

Realisasi Total Belanja Pemerintah Kota Kupang selalu

mengalami kenaikan dari tahun 2013-2015. Pada tahun 2013,

jumlah belanja daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp

787.363.117.900. Pada Tahun 2014 besarnya belanja daerah

Kota Kupang adalah sebesar Rp 897.022.423.328,20. Jumlah

belanja daerah tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar

13,93% dari jumlah Belanja Daerah tahun 2013. Pada tahun

2015, jumlah Belanja Daerah Kota Kupang adalah sebesar Rp

985.978.546.217,85. Jumlah Belanja Daerah tahun 2015 ini

mengalami kenaikan sebesar 9,92% dari total Belanja Daerah

tahun 2014.
Berdasarkan hasil perhitungan Rasio Belanja Operasi,

dapat dilihat bahwa rata-rata kinerja keuangan Pemerintah Kota

Kupang diukur berdasarkan Rasio Belanja Operasi adalah

sebesar 86,15%. Rasio Belanja Operasi Pemerintah Kota

Kupang pada tahun 2013 adalah sebesar 87,56 %. Pada tahun

2014, Rasio Belanja Operasi Pemerintah Kota Kupang

mengalami penurunan sebesar 1,30% atau menjadi 93,22%.

Selanjutnya pada tahun 2015 juga mengalami penurunan

sebesar 1,62% atau menjadi 84,64%.

63
Sementara berdasarkan hasil perhitungan Rasio Belanja Modal,

dapat dilihat bahwa rata-rata kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang

diukur berdasarkan Rasio Belanja Modal adalah sebesar 13,82%. Rasio

Belanja Modal Pemerintah Kota Kupang pada tahun 2013 adalah sebesar

12,40%. Pada tahun 2014, Rasio Belanja Operasi Pemerintah Kota

Kupang mengalami kenaikan sebesar 1,31% atau menjadi 13,71%.

Selanjutnya pada tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar 1,64% atau

menjadi 15,35%.

Menurut hasil penelitian mengenai Rasio Belanja Operasi dan

Belanja Modal, dapat diketahui bahwa pemerintah Kota Kupang lebih

memprioritaskan untuk kebutuhan belanja operasi, sehingga rasio belanja

modal menjadi lebih kecil. Besarnya pengeluaran belanja operasi terutama

dikarenakan besarnya nilai untuk belanja pegawai. Hal ini menunjukkan

bahwa Pemerintah Kota Kupang lebih condong pada pengeluaran-

pengeluaran rutin untuk pemenuhan aktivitas pemerintahan dan belum

memperhatikan pembangunan daerah. Hal ini dikarenakan belum adanya

patokan yang pasti untuk belanja modal, sehingga pemerintah daerah

masih berkonsentrasi pada pemenuhan belanja operasi yang

mengakibatkan belanja modal untuk pemerintah kota kupang belum

terpenuhi. Oleh karena itu, di tahun yang akan datang hendaknya

Pemerintah Kota Kupang lebih memperhatikan pembangunan daerah dan

pelayanan kepada masyarakat yang nantinya akan langsung bisa dinikmati

oleh masyarkat. Karena pada dasarnya dana pada anggaran daerah adalah

64
dana publik, sehingga dana tersebut harus dimanfaatkan untuk

kepentingan publik.

Berdasarkan hasil pembahasan diatas, secara garis besar

menujukkan bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah kota Kupang

dapat dikatakan masih kurang baik. Hal ini terutama disebabkan oleh

rendahnya realisasi PAD Kota Kupang. Meskipun hasil realisasi PAD

menunjukkan bahwa realisasi PAD lebih besar daripada anggaran PAD,

namun nyatanya realisasi PAD yang diterima masih sangat kecil

dibandingkan dengan total Realisasi Pendapatan Daerah Kota Kupang.

Rendahnya realisasi PAD Kota Kupang, secara umum disebabkan oleh

beberapa faktor sebagai berikut :

1) Masih terbatasnya jumlah sarana prasarana atau potensi-potensi yang

dapat meningkatkan jumlah penerimaan PAD, terutama dalam hal

penerimaan pajak.
2) Masih terbatasnya Sumber Daya Manusia dalam hal pengelolaan

keuangan daerah.
3) Terbatasnya tenaga/petugas lapangan dalam penagihan pajak dan

retribusi daerah.

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis diatas maka dapat ditarik kesimpulan

65
1. Kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 jika

diukur dengan menggunakan Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

dapat dikategorikan masih kurang, karena nilai Rasio yang didapat

yaitu tahun 2013 sebesar 9,89% tahun 2014 sebesar 11,75% dan

tahun 2015 sebesar 14,22%. Semua nilai itu masih dibawah 20%.

Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Kupang belum

mampu memaksimalkan penerimaaan PAD.


2. Kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 jika

diukur dengan menggunakan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

dapat dikategorikan bersifat instruktif, karena nilai Rasio yang

didapat yaitu tahun 2013 sebesar 11,01%, tahun 2014 sebesar

13,33% dan tahun 2015 sebesar 16,65% masih dibawah 25%. Hal

ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Kupang belum mampu

melaksanakan Otonomi Daerah.


3. Kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 jika

diukur dengan menggunakan Rasio Efektifitas PAD dapat dikatakan

sudah efektif, karena nilai Rasio yang didapat yaitu tahun 2013

sebesar 103,36%, tahun 2014 sebesar 112% dan tahun 2015 sebesar

116,01% sudah berada di atas 100%. Hal ini menunjukka bahwa

realisasi penerimaan PAD Pemerintah Kota Kupang sudah melebihi

dari anggaran PAD yang ditetapkan.


4. Kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 jika

diukur dengan menggunakan Rasio Efisiensi Keuangan Daerah

dapat dikategorikan masih kurang efisien, karena nilai Rasio yang

didapat yaitu tahun 2013 sebesar 96,50%, tahun 2014 sebesar

66
93,22% dan tahun 2015 sebesar 96,58 sudah sangat mendekati

100%. Dimana pada rasio ini, apabila semakin besar nilai yang

didapat, maka semakin tidak efisien kinerjanya, karena

menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Kupang belum

memperhatikan pembangunan daerahnya.


5. Kinerja keuangan Pemerintah Kota Kupang tahun 2013-2015 jika

diukur dengan menggunakan Rasio Keserasian dapat dikategorikan

masih belum stabil, karena penegeluaran untuk belanja operasi

masih jauh lebih besar daripada belanja modal. Rasio Belanja

Operasi dari tahun 2013 adalah sebesar 87,56%, tahun 2014 sebesar

86,26% dan tahun 2015 sebesar 84,64%. Sementara untuk belanja

modal, nilai rasionya adalah tahun 2013 sebesar 12,40%, tahun

2014 sebesar 13,71% dan tahun 2015 sebesar 15,35%.

5.2 SARAN
Setelah menarik kesimpulan seperti di atas, peneliti memberikan saran

sebagai berikut :
1. Pemerintah Kota Kupang harus berupaya meningkatkan jumlah

PAD dengan cara mengembangkan dan mengoptimalkan potensi-

potensi yang bisa meningkatkan jumlah PAD Kota Kupang, serta

mencari potensi-potensi baru yang bisa dipergunakan untuk

meningkatkan PAD. Hal ini bisa dilakukan dengan cara seperti

pengoptimalan pemungutan pajak dan retribusi daerah, serta

pendirian BUMD sektor potensial. Apabila PAD meningkat, maka

67
akan mengurangi ketergantuan dari pemerintah pusat maupun

pemerintah provinsi.
2. Pemerintah Kota Kupang harus lebih memperhatikan belanja

modal serta menekan besarnya belanja operasi. Dengan menekan

belanja operasi dan menaikkan belanja modal diharapkan dapat

menciptakan kestabilan rasio keserasian, sehingga akan

bermanfaat dan bisa dinikmati secara langsung oleh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim. 2007. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah.


Jakarta : Salemba Empat.

Nurlaia. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia 1. Jakarta : LepKhair

Luthans, F. 2005. Orgnizational Behavior. New York : McGraw-hill

Dressler, Gary. 2007. Manajemen Personalia, Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga

Anita Wulandari. (2001). Kemampuan Keuangan Daerah di Kota Jambi Dalam


Melaksanakan Otonomi Daerah. Jurnal Kebijakan dan
Administrasi Publik, Kemampuan Keuangan Daerah (Vol. 5,
No. 2). November.
Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah.

Mardiasmo. (2002). Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta:


Andi.

Mohammad Mahsun. (2009). Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta :


BPFE.

Suwardjono (2003)Proses Penciptaan Data Pendekatan Sistem, Edisi Ketiga

68
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta

Suwardjono (2005) Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan,

Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta

Mahmudi (2016). Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Edisi


tiga

Yogyakarta : UPP STIM YKPN

Hendro Sumarjo (2010). Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap


Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Skripsi Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret.

Ibnu Syamsi (1986). Pokok-pokok Kebijaksanaan,Perencanaan,Pemograman, dan


Penganggaran Pembangunan Tingkat Nasional dan Regional.Jakarta: CV
Rajawali

Jonathan Sarwono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif.

Yogyakarta: Graha Ilmu.


Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.

Soeratno dan Arsyad Lincolin : 2003. Metodologi Penelitian untuk Ekonomi dan
Bisnis. Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.

Umar. 2003. Metode Riset Akuntansi Terapan. Jakarta: Ghalia Indonesia

Siagian, Dergribson. 2006. Metode Statistika untuk bisnis dan Ekonomi. Jakarta :
PT Gramedia Pustaka Utama

69