Anda di halaman 1dari 6

Pernikahan usia dini

Amanda bunga darma lestari


Fmipa unsri
E-mail : amandabungadarmalestari@gmail.com

Abstrak
Pernikahan di usia muda kini sedang gempar di kalangan kaum elit maupun kaum menengah.
Tidak sedikit pernikahan di usia dini yang terjadi di berbagai daerah yang disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain karena keinginan orang tua dalam arti mereka di jodohkan, kurangnya
pendidikan, kecelakaan, hasrat ingin memiliki, dan keterbatasan ekonomi dan juga faktor lainnya.
Kasus pernikahan usia dini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia dengan berbagai
latarbelakang. Telah menjadi perhatian komunitas internasional mengingat risiko yang timbul
akibat pernikahan yang dipaksakan, hubungan seksual pada usia dini, kehamilan pada usia muda,
dan infeksi penyakit menular seksual. Hal penting yang berperan dalam pernikahan usia dini ini
yaitu risiko komplikasi yang terjadi di saat kehamilan dan saat persalinan, sehingga ini akan
meningkatkan angka kematian pada ibu muda dan bayi. Selain itu, pernikahan di usia dini juga
dapat menyebabkan gangguan perkembangan kepribadian dan menempatkan anak yang dilahirkan
berisiko terhadap kejadian kekerasan dan ketelantaran.

Kata kunci : pernikahan, hak anak, HAM

A. Pendahuluan
Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah
lain juga dapat berarti ijab qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan
antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditunjukkan untuk
melanjutkan ke pernikahan sesuai peraturan yang diwajibkan oleh islam.
Pembentukan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak didasarkan
pada pertimbangan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan
landasan yuridis dan bagian kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam
mewujudkan kehidupan anak dalam berbangsa dan bernegara.
Hak asasi manusia pada dasarnya merupakan hak yang paling hakiki yang
dimiliki oleh setiap manusia dalam kapasitasnya sebagai individu. Sepanjang hak
ini tidak menganggu hak orang lain, hak ini tidak boleh diganggu gugat oleh
siapapun, bahkan penjaminannya harus dilindungi oleh negara sekalipun
(nurhidayatuloh). Hak ini muncul dengan tujuan untuk melindungi manusia
sebagai individu seutuhnya. Negara berkewajiban menjamin perlindungan sosial
bagi masyarakat tanpa adanya perbedaan gender, agama, dan kasta. Jaminan
pertama hak-hak pribadi dalam islam dijelaskan didalam al-quran :
hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya...
(qs.24:27-28).
Ibnu hanbal dalam syarah tsulatsiyah musnad imam ahmad menjelaskan bahwa
orang yang melihat melalui celah-celah pintu atau melalui lubang tembok atau
sejenisnya selain membuka pintu, lalu tuan rumah melempar atau memukul
hingga mencederai matanya, maka tidak ada hukuman apapun baginya, walaupun
ia mampu membayar denda.
Disisi lain, secara filsafati juga merupakan pemberian tuhan kepada setiap
makhluknya yang tidak dapat ditinggalkan dengan alasan apapun. Hak asasi
manusia ini antara lain meliputi hak untuk hidup, hak untuk beragama, hak untuk
membina rumah tangga satu sama lain dsb (nurhidayatuloh).

B. Keluarga dan Hak Asasi Manusia

Kelompok kerabat kecil, yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak mereka
yang belum menikah. Kelompok semacam ini disebut keluarga inti. Keluarga inti
pada umumnya mempunyai beberapa fungsi penting, antara lain memberikan
bantuan kepada sesamanya, memberikan pengasuhan, dan pendidikan kepada
anak-anak, serta melakukkan usaha produktif bersama (koentjaraningrat, 1977).
Setiap manusia berhak untuk membina keluarga yang sakinah, mawadah dan
rohmah. Hal ini berangkat dari filosofi bahwa manuisa adalah makhluk sosial
dimana mereka tidak dapat hidup sendiri dan harus berdampingan dengan orang
lain,termasuk untuk membina keluarga (nurhidayatuloh).
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
1. Peranan ayah : ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari
kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Peranan ibu : sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan
sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Peranan anak : anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan
tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Fungsi keluarga
1. Fungsi pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak
bila kelak dewasa.
2. Fungsi sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah
bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3. Fungsi perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari
tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung
dan merasa aman.
4. Fungsi perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam
berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling
pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5. Fungsi religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan
mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan
tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain
yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
6. Fungsi ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-
sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala
keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu,
sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
7. Fungsi rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu
pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana
yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan
cara nonton tv bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
8. Fungsi biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk
meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.
9. Memberikan kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta
membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

C. Tujuan Pernikahan
Dari pengertian pernikahan atau perkawinan yang diungkapkan para pakar
diatas tidak terdapat pertentangan satu sama lain, karena intinya secara sederhana
dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengertian Pernikahan atau Perkawinan adalah
perjanjian antara calon suami dan calon isteri untuk membolehkan bergaul sebagai
suami isteri guna membentuk suatu keluarga.
| Tujuan Pernikahan atau Tujuan Perkawnian |
Berbicara mengenai tujuan pernikahan atau tujuan perkawinan, kedua belah
pihak antara laki-laki dan perempuan melangsungkan pernikahan atau perkawinan
bertujuan untuk memperoleh keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Untuk
mengetahui lebih jelas mengenai tujuan pernikahan akan dibahas sebagai berikut.
1. Tujuan Pernikahan Sakinah (tenang)
Salah satu dari tujuan pernikahan atau perkawinan adalah untuk memperoleh
keluarga yang sakinah. Sakinah artinya tenang, dalam hal ini seseorang yang
melangsungkan pernikahan berkeinginan memiliki keluarga yang tenang dan
tentram. Dalam Tafsirnya Al-Alusi mengatakan bahwa sakinah adalah merasa
cenderung kepada pasangan. Kecenderungan ini merupakan satu hal yang wajar
karena seseorang pasti akan merasa cenderung terhadap dirinya.
Apabila kecenderungan ini disalurkan sesuai dengan aturan Islam maka yang
tercapai adalah ketenangan dan ketentraman, karena makna lain dari sakinah
adalah ketenangan. Ketenangan dan ketentraman ini yang menjadi salah satu dari
tujuan pernikahan atau perkawinan. Karena pernikahan adalah sarana efektif
untuk menjaga kesucian hati agar terhindar dari perzinahan.
2. Tujuan Pernikahan Mawadah dan Rahmah
Tujuan pernikahan yang selanjutnya adalah untuk memperoleh keluarga yang
mawadah dan rahmah. Tujuan pernikahan Mawadah yaitu untuk memiliki
keluarga yang di dalamnya terdapat rasa cinta, berkaitan dengan hal-hal yang
bersifat jasmaniah. Tujuan pernikahan Rahmah yaitu untuk memperoleh keluarga
yang di dalamnya terdapat rasa kasih sayang, yakni yang berkaitan dengan hal-hal
yang bersifat kerohanian.
Mengenai pengertian mawaddah menurut Imam Ibnu Katsir ialah al mahabbah
(rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah ar-rafah (kasih sayang). Mawaddah
adalah makna kinayah dari nikah yaitu jima sebagai konsekuensi
dilangsungkannya pernikahan. Sedangkan ar rahmah adalah makna kinayah dari
keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil suatu pernikahan. Ada juga yang
mengatakan bahwa mawaddah hanya berlaku bagi orang yang masih muda
sedangkan untuk ar-rahmah bagi orang yang sudah tua.
Implementasi dari tujuan pernikahan mawaddah wa rahmah ini adalah sikap
saling menjaga, saling melindungi, saling membantu, saling memahami hak dan
kewajiban masing-masing. Pernikahan adalah lambang dari kehormatan dan
kemuliaan. Fungsi pernikahan diibaratkan seperti fungsi pakaian, karena salah
satu fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri bermakna sesuatu
yang memalukan, karena memalukan maka wajib untuk ditutup. Dengan demikian
seharusnya dalam hubungan suami istri, satu sama lainnya harus saling menutupi
kekurangan pasangannya dan saling membantu untuk mempersembahkan yang
terbaik.
D. Faktor Pernikahan Dini
Faktor Ekonomi
Biasanya ini terjadi ketika keluarga si gadis berasal dari keluarga kurang mampu.
Orang tuanya pun menikahkan si gadis dengan laki-laki dari keluarga mapan. Hal
ini tentu akan berdampak baik bagi si gadis maupun orang tuanya. Si gadis bisa
mendapat kehidupan yang layak serta beban orang tuanya bisa berkurang.
Faktor Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan orang tua, anak dan masyarakat membuat
pernikahan dini semakin marak. Menurut saya, Wajib Belajar 9 Tahun bisa
dijadikan salah satu 'obat' dari fenomena ini, dimisalkan seorang anak mulai
belajar di usia 6 tahun, maka saat dia menyelesaikan program tersebut, dia sudah
berusia 15 tahun. Di usia 15 tahun tersebut, seorang anak pastilah memiliki
kecerdasan dan tingkat emosi yang sudah mulai stabil. Apalagi bila bisa
dilanjutkan hingga Wajib Belajar 12 tahun. Jika program wajib belajar tersebut
dijalankan dengan baik, angka pernikahan dini pastilah berkurang.
Faktor Orang tua
Entah karena khawatir anak menyebabkan aib keluarga atau takut anaknya
melakukan 'zina' saat berpacaran, maka ada orang tua yang langsung menikahkan
anaknya dengan pacarnya. Niatnya memang baik, untuk melindungi sang anak
dari perbuatan dosa, tapi hal ini juga tidak bisa dibenarkan.
Faktor Media Massa dan Internet
Disadari atau tidak, anak di jaman sekarang sangat mudah mengakses segala
sesuatu yang berhubungan dengan seks dan semacamnya, hal ini membuat mereka
jadi "terbiasa" dengan hal-hal berbau seks dan tidak menganggapnya tabu lagi.
Memang pendidikan seks itu penting sejak dini, tapi bukan berarti anak-anak
tersebut belajar sendiri tanpa didampingi orang dewasa.
Faktor Biologis
Faktor biologis ini muncul salah satunya karena Faktor Media Massa dan Internet
diatas, dengan mudahnya akses informasi tadi, anak-anak jadi mengetahui hal
yang belum seharusnya mereka tahu di usianya. Maka, terjadilah hubungan di luar
nikah yang bisa menjadi hamil di luar nikah. Maka, mau tidak mau, orang tua
harus menikahkan anak gadisnya.
Faktor Hamil di Luar Nikah
Kenapa saya pisahkan dengan faktor biologis? Karena hamil di luar nikah bukan
hanya karena "kecelakaan" tapi bisa juga karena (maaf) diperkosa sehingga
terjadilah hamil di luar nikah. Orang tua yang dihadapkan dalam situasi tersebut
pastilah akan menikahkan anak gadisnya, bahkan bisa dengan orang yang sama
sekali tidak dicintai orang si gadis. Hal ini semakin dilematis karena ini tidak
sesuai dengan UU Perkawinan. Rumah tangga berdasarkan cinta saja bisa goyah,
apalagi karena keterpaksaan.
Faktor Adat
Faktor ini sudah mulai jarang muncul, tapi masih tetap ada.

E. Penutup
Penikahan usia dini terjadi karena beberapa faktor, yaitu pengaruh adat, tradisi
dan budaya, dijodohkan, kurangnya pendidikan, ekonomi, pergaulan bebas, dan
kemauan diri dari anak tersebut. Bukan berarti dengan menikah dini hidup akan
menjadi sejahtera namun itu justru malah menambah masalah baru dan juga bisa
meningakatkan angka kematian ibu muda, dan ketidaksiapan dalam mengasuh
anak.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. Pengertian dan Tujuan Pernikahan perkawinan. 2015. (online).
http://.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-tujuan-pernikahan-perkawin
an.html.

Anonymous. Faktor Penyebab Pernikahan Dini. 2014. (online),


http://genbagus.blogspot.com/2014/05/faktor-penyebab-pernikahan-dini.html.

Citrarhmdn. Pengertian-bentuk-fungsi-peranan. 2014. (online), http://citra


rhmdn.blogspot.co.id/2014/11/pengertian-bentuk-fungsi-peranan-dan.html.

Nurhidayatuloh dan Leni Marlina. Perkawinan di Bawah Umur Perspektif Hukum


( Studi Kasus di Desa Bulungihit, Labuhan Batu, Sumatera Utara). 2013. (online),
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=8758&val=577.