Anda di halaman 1dari 11

Tugas Learning Objective 01 April 2016

Modul : Traumatologi

SOLAR ECLIPSE

NAMA : FADLUN
STAMBUK : N 101 12 023
KELOMPOK : I ( SATU )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016
Step 6
1. Sjamsuhidajat, de jong.2010.Buku Ajar IlmuBedah.EGC : Jakarta.
2. Setiati et all, 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi VI. Internal Publishing:
Jakarta.
3. Price & Sylia. 2009. Konsep-konsep Klinis Patogenesis Penyakit. EGC: Jakarta.
4. Fredberg,SR.,Magge,SN., Trauma to the Spine and Spinal Cord. In: Jones, HR.,
Srinivasan. Netters Neurology edisi 2. Elseiver, Saunders.2012.p. 57-71
5. National Spinal Cord Injury Statistical Center.Spinal Cord Injury Fats and Figures, at
a Glance. Brimingham, Alabama.2012. Downloaded from: http://www.nstsc.uab.edu
6. Konsil Kedokteran Indonesia Indonesian.2012 Medical Council.Penerbit: Konsil
Kedokteran Indonesi; Jakarta. from www.kki.go.id/assets/data/arsip/SKDI
Learning Objective
1. Diagnosis dan DD dari skenario?
Dignosis kerja: Multiple Trauma
DD : fraktus pelvis,fraktur vertebra,spinal injury.
2. Jenis-jenis syok dan manajemennya? Perbedaan Manajemen syok pada anak dan
dewasa pada kasus trauma?
Syokdiklasifikasikanberdasarkanetiologi,
penyebabdankarakteristikpolahemodinamik yang ditimbulkan, yaitu:
Jenissyo
k
SyokHi Kegagalanperfu hilangnyasirkulasi perdarahanakut, dehidrasi,
povolem sidansuplaioksig volume kehilangancairanpadaruangketig
ik en intravaskulersebesar>20 aatauakibatsekunderdilatasiarteri
-25% dan vena.
SyokKa kegagalanperfus kerusakan primer terganggunya preload, afterload,
rdiogeni idansuplaioksige fungsiataukapasitaspom kontraktilitas,
k n pajantunguntukmencuk frekuensiataupunritmejantung
upi volume
jantungsemenit
SyokDis kegagalanperfus menurunnya tonus vasodilatasi arterial,
tributif idansuplaioksige vaskuler penumpukan vena
n danredistribusialiran
darah
SyokOb kegagalanperfus terganggunyamekanism meningkatnyatekanan
struktif idansuplaioksige ealiranbalikdarah intrathorakalatauterganggunyaali
n rankeluar arterial jantung
Penatalaksanaan
a. Pengenalandanrestorasi yang cepatdariperfusiadalahkuncipencegahandisfungsi
organ-multipeldankematian.
b. Padasemuabentuksyok,
manajemenjalannafasdanpernafasanuntukmemastikanoksigenasipasienbaik,
kemudianrestorasicepatdenganinfuscairan.
c. Pilihanpertamaadalahkristaloid (Ringer laktat/Ringer asetat)
disusuldarahpadasyokperdarahan.
Keadaanhipovolemidiatasidengancairankoloidataukristaloidsekaligusmemperbaiki
keadaanasidosis.
d. Pengobatansyoksebelumnyadidahuluidenganpenegakan diagnosis etiologi.
Diagnosis awaletiologisyokadalahesensial,
kemudianterapiselanjutnyatergantungetiologinya.
e. Tindakaninvasifsepertiintubasiendotrakealdancricothyroidotomyatautracheostomy
dapatdilakukanhanyauntuklife savingolehdokter yang kompeten.

Kehilangandarahdariluar yang akutakibat trauma tembusdanperdarahan


gastrointestinal yang beratmerupakanduapenyebab yang paling
seringpadasyokhemoragik.Syokhemoragikjugadapatmerupakanakibatdarikehilangandarah
yang akutsecarasignifikandalamrongga dada danrongga
abdomen.Duapenyebabutamakehilangandarahdaridalam yang cepatadalahcederapada
organ padatdanrupturnyaaneurisma aorta
abdominalis.Syokhipovolemikdapatmerupakanakibatdarikehilangancairan yang
signifikan (selaindarah).
3. Deskripsikan Hg GCS?
Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. Kesadaran dapat
didefinisikan sebagai keadaan yang mencerminkan pengintegrasian impuls eferen dan
aferen. Semua impuls aferen disebut input dan semua impuls eferen dapat disebut
output susunan saraf pusat. Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu
suatu interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri dan formasio
retikularis di batang otak yang intak. Penilaian derajat kesadaran dapat dinilai secara
kualitatif maupun secara kuantitatif. Penilaian gangguan kesadaran secara kualitatif
antara lain mulai dari apatis, somnolen, delirium, bahkan koma. Pada manual ini akan
diajarkan penilaian derajat kesadaran secara kuantitatif, yaitu dengan menggunakan
Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian derajat kesadaran ini sangat penting dikuasai
karena mempunyai harga praktis, yaitu untuk dapat memberikan penanganan,
menentukan perbaikan, kemunduran, dan prognosis.
GCS terdiri dari 3 pemeriksaan, yaitu penilaian: respons membuka mata (eye
opening), respons motorik terbaik(best motor response), dan respons verbal
terbaik(best verbal response). Skor tertinggi menunjukkan pasien sadar (compos
mentis) yakni GCS 15 dan skor terendah menunjukkan koma atau penueunan
kesadaran (GCS 3).
4. Patofisiologi dari manifestasi klinis (distensi abdomen, deformitas angulasi, dan tanda
syok)?
- Tekanandarahmenurunakibatadanyaperubahanperfusijaringandanmerupakantanda
awalsyok
- Nadibradikarditerjadiakibatperubahanperfusijaringanotak
- Kulitpucatakibatkareanaadanyaperubahankadar hemoglobin dalamdarah
- Tingkat kesadaranberubahsesuaikomplikasi yang mengganggu organ vital
- Memarterjadiakibatrupturnyapembuluhdarah
5. Penatalaksanaan ORIF dan OREF (Perbedaan), pembebatan serta rehabilitasinya?
ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
ORIF (Open Reduction Internal Fixation) adalah sebuah prosedur bedah medis,
yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang
diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup
dan piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan.
Ada beberapa tujuan dilakukannya ORIF (Open Reduction Internal Fixation),
antara lain :
a. Memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas.
b. Mengurangi nyeri.
c. Klien dapat melakukan ADL dengan bantuan yang minimal dan dalam
lingkup keterbatasan klien.
d. Sirkulasi yang adekuat dipertahankan pada ekstremitas yang terkena
e. Tidak ada kerusakan kulit
Indikasidilakukannya ORIF (Open Reduction Internal Fixation) meliputi :
a. Fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani dengan
metode terapi lain, terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan.
b. Fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intra-
artikular disertai pergeseran.
c. Fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan pada
struktur otot tendon.
Kontraindikasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation) meliputi :
a. Tulang osteoporotik terlalu rapuh menerima implan
b. Jaringan lunak diatasnya berkualitas buruk
c. Terdapat infeksi
d. Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi.

6. Klasifikasi dislokasi?
- Dislokasi Sendi bahu ( shoulder dislocation)
Sendi bahu secara anatomis terdiri dari kaput humerus yang besar dengan
kedangkalan kavitas glenoidalis sehingga stabilitas sendi itu tergantung dari kekuatan
otot-otot rotator (otot supra spinatus, infra supinatus, teresminor dan sub skapularis),
kapsul sendi dan ligamen (gleno humeralis, korako humeralis dan labrurn yang
memperdalam kavitas glenoidalis) daiam mempertahankan kedudukannya. Karena itu
sangat mudah terjadi dislokasi terutama ke arah anterior (80 - 90%) dengan
karakteristik teriihat lengan atas dalam posisi rotasi ekstemal parsial dan abduksi
adapun ke arah posterior sangat jarang dengan karakteristik lengan atas dalam posisi
adduksi dan rotasi internal dan biasanya disebabkan oleh kontraksi otot pada
penderita epilepsi mengalami kejang-kejang dan otot-ototnya tidak seimbang maka
terjadi dislokasi ke arah tersebut. Dapat juga dislokasi bahu ke arah inferior (luksasio
erecta)atau superior.
- Dislokasi Sendi Panggul (hip dislocation)
Sendi panggul lebih stabil dibanding sendi bahu karena mangkok asetabulum
sangat dalam disamping adanya ligamentum. Untuk terjadinya dislokasi sendi
panggul membutuhkan energi trauma yang berat seperti MVA (Motor Vehicle
Accident), contoh dislokasi posterior terjadi pada posisi sendi panggul dan lutut fleksi
seperti trauma dashboard (dashboard injury). Ligamentum anterior lebih kuat
daripada ligamentum posterior akibatnya kejadian dislokasi posterior lebih tinggi
dibanding ke anterior (> 85% ).
- Dislokasi Sendi Lutut
Dislokasi sendi lutut (anterior, posterior, lateral, medial atau rotasi, sangat
jarang karena ligamen di sekitar sendi sangat kuat dan bila terjadi dislokasi
membutuhkan energi besar maka ligamentum dan jaringan lunak sekitar sendi akan
terputus, demikian juga kerusakan sendi itu sendiri Arteri poplitea yang berada di
belakang sendi akan terjadi kerusakan terutama tunika intima sehingga memudahkan
terjadinya trombus oleh sebab itu perlu dipikirkan pembenan anti trombin. Hilangnya
distribusi darah ke perifer, resiko amputasi tidak dapat dielakkan. Dislokasi sendi ini
juga akan mengakibatkan teregang atau rusaknya saraf peroneus disamping terjadinya
sindrom kompartemen.
- Dislokasi Sendi Siku ( elbow dislocation)
Dislokasi sendi siku sering terjadi pada anak- anak, atletik dan kadang- kadang
disertai fraktur kaput radialis atau trauma arteri brakhialis dan saraf medianus di
samping terjadinya ruptur kolateral ligamen baik medial maupun lateral. Pada
pemeriksaan fisik terdapat deformitas, nyeri tekan daerah sendi, kadang-kadang
disertai gangguan neurovaskuler. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan nadi
dan pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan x-ray padaproyeksi konvensional cukup
memadai. Dislokasi bisa ke posterior, posterolateral, anterior, lateral, medial dan
divergen yang didasarkan atas lokasi ulna. Manajemen segera melakukan reposisi
tertutup anestesi lokal / obat sedasi, dan setelah reposisi harus dilakukan pemeriksaan
stabilitas sendi tersebut,kemudian memberikan imobilisasi dengan pembidaian selama
7 hari dan setelahitu dilakukan rehabilitasi. Reposisi terbuka dilakukan pada dislokasi
unstable atauterjadi entrapment tulang atau jaringan lunak.
7. Kompetensi dokter umum dalam menangani kasus traumatologi?
8. Indikasi dari vena section?
Indikasi diseksi vena dilakukan pada penderita syok hipovolemik yang dengan
cara non pembedahan (perkutaneus) tidak bisa didapatkan akses vena untuk resusitasi
cairan.
9. Jelaskan tentang spinal syok?
Syok spinal adalah istilah yang digunakan untuk menandakan efek cedera tiba-
tiba atau transeksi medula spinalis. Hal ini ditandai dengan sensorik, motorik dan
hilangnya refleks terjadi di bawah tingkat cedera. tingkat tinggi cedera tulang
belakang berhubungan dengan hilangnya kontrol sistem saraf otonom.Durasi syok
spinal bervariasi dari pasien ke pasien, dan beberapa gejala dapat bertahan hingga 12
minggu. Presentasi klinis syok spinal melibatkan perubahan otot rangka, respon
sensorik, pernapasan, jantung, pembuluh darah, respon vasomotor, suhu tubuh,
saluran pencernaan, kandung kemih dan alat kelamin. Somatosensori membangkitkan
potensi juga mencerminkan perubahan yang disebabkan oleh guncangan tulang
belakang. Tugas dokter adalah untuk mengobati gejala klinis diprovokasi oleh syok
spinal dalam upaya untuk mengurangi intensitas dan durasi. Hal ini dapat dicapai
dengan terapi operatif dan medicamentous, ketepatan dan keberhasilan menjadi
imperatif pengobatan.Syok spinal terjadi karena adanya cedera tulang belakang akut
yang dapat menyebablan tidak adanya semua aktivitas neurologis volunter dan refleks
di bawah tingkat cedera (refleks menurun, hilangnya sensasi, dan flacid paralisis di
bawah cedera). Spinal syok berlangsung berhari-hari sampai bulan (trasien).
10. Diagnosis dan penatalaksanaan cedera medularis?
Menurut American Spinal Injury Association (ASIA), cedera medularis
spinalis komplit didefinisikan sebagai cedera yang melibatkan seluruh segmen sakral
dari medula spinalis yaitu S4 dan S5 ( fungsi sensorik dan motorik tidak ada sama
sekali), sedangkan cedera inkomplit tidak melibatkan dua segmen sakral tersebut
(fungsi S4-S5 masih ada antara fungsi motorik dan atau sensorik) dan dapat masuk
dalam salah satu dari 4 sindrom klasik medula spinalis (Anterior Cord Syndrome,
Posterior Cord Syndrome, Central Cord Syndrome, dan Brown-Sequard Syndrome)
ataupun gabungan dari sindrom-sindrom tersebut.
Diagnosis pada kasus cedera medula spinalis :
a. Evaluasi klinis pada pasien dengan CMS membutuhkan penilaian status
neorologis lengkap, namun serupa dengan pasien trauma lainnya evaluasi klinis
awal dilakukan observasi primer, ABC (Airway, Breathing, Circulation) dinilai
terlebih dahulu. Setelah ketiga aspek tersebut dinilai stabil maka penilaian status
neurologis baru dilakukan (Disability).
b. Anamnesis, dugaanterhadap adanya CMS didapatkan melalui anamnesis yang
menyeluruh baik mengenai mekanisme trauma dan gejala yang berhungan dengan
trauma pada daerah spinal (umumnya nyeri) dan adanya gejala otonom (retensi
urin, konstipasi, ileus, hipotermia, hipotensi, bradikardia) defisit motorik
(hemiplegia, tetraplegia, paraplegia) dan sensorik (hemianastesia, hemihipestesia).
Pemeriksaan klinis neurologis lengkap dan detail (fungsi motorik,sensorik dan
fungsi sfingter) diperlukan untuk menilai perjalanan klinis dari CMS.
c. Pemeriksaan radiologi dengan standar yang tinggi merupakan aspek krusial dalam
mendiagnosis cedera spinal. Plain x-ray posisi lateral dan anteroposterior
merupakan pemeriksaan yang fundamental untuk mendiagosis cedera spinal,
sedangkan CT-Scan jauh lebih superior karena dapat melihat dari potongan
sagital, koronal atau potongan lainnya sesuai keinginan. Namun apabila CT-Scan
tidak tersedia, plain x-ray tetap memberikan gambaran penting untuk screening
dari fraktur dan dislokasi. Pemeriksaan MRI yang normal diperbolehkan
dilepasnya collar neck support dan mobilisasi dini, hal in dikarenakan MRI
servikal dapat memperlihatkan setiap cedera ada daerah servikal dari medula
spinalis, kompresi dari radiks, hernia diskus, dan cedera pada ligamen dan
jaringan lunak.
Prinsip utama tatalaksana CMS, antara lain mencegah keruskan sekunder dari CMS,
reduksi dan stabilisasi dari cedera (tulang dan ligamen), mencegah dan menangani
komplikasi dari CMS, dan rehabilitasi. Penatalaksanaan pada pasien cedera medula
spinalis :
a. Penanganan pra- rumah sakit
Prinsip penanganan awal pada umumnya serupa pada pra rumah sakit dan rumah
sakit yaitu prinsip advance truma life support yang mengutamakan survei primer
ABCD untuk merestorasi tanda-tanda vital dan survei sekunder. Survei sekunder
pada fase ini umumnya hanya fokus terhadap gejala dan tanda klinis CMS (nyeri
di leher atau punggung, nyeri tekan pada tulang belakang, paraplegia/tetraplegia,
paraestesia, inkontenensia,peningkatan temperatur dari kulit atau eritema). Posisi
netral (anatomis), stabilisasi dengan rigid cillar ditambah dengan karung pasir
(sandbags) atau bolster di kedua sisi leher dan wajah, spinal board, penggunaan
metode log-roll dan spinal lift untuk memindahkan pasien dengan minimal 4
penolong merupakan teknik-teknik untuk imobilisasi tulang belakang agar tidak
mengalami cedera lebih lanjut. Tindakan imobilisasi tetap dipertahankan sampai
pasien terbukti mengalami CMS.
b. Penanganan di rumah sakit
Penanganan di rumah sakit mencakup seluruh sistem yang mungkin mengalami
komplikasi adri CMS, yaitu mulai dari sistem respiratorik, kardiovaskular,
urologi, gastrointestinal,kulit, sampai tindakan reduksi baik non-operatif maupun
operatif.