Anda di halaman 1dari 13

Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

Volume 3, No 1, Maret 2016 (82-94)


Online: http://journal.uny.ac.id/index.php/hsjpi

PENINGKATAN HASIL DAN AKTIVITAS BELAJAR IPS


MODEL PROBLEM-BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA SMPN 2
KAWUNGANTEN
Suharto, Zamroni
SMPN 2 Kawunganten Cilacap, Universitas Negeri Yogyakarta
suharto95@ymail.com, zamronihardjowirono@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan hasil dan (2) Aktivitas belajar IPS siswa kelas VIII
C SMP Negeri 2 Kawunganten Cilacap. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK)
yang terdiri atas empat pertemuan dalam dua siklus, menggunakan desain Kemmis & Taggart. Subjek
penelitian adalah 35 siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Kawunganten Cilacap. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah observasi, tes hasil belajar, angket, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik
analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1)
Melalui model pembelajaran Problem-based learning berbantuan media dalam pembelajaran IPS dapat
meningkatkan hasil belajar. (2) Ada peningkatan ketuntasan hasil belajar ranah kognitif. Pada siklus I
ketuntasan belajar siswa 60,00%, dan siklus II menjadi 85,71%. (3) Ada peningkatan nilai sikap siswa
(hasil belajar ranah afektif). Rata-rata nilai sikap siswa 62,20 pada siklus I menjadi 67,97 pada siklus II
atau meningkat 5,77 poin. (4) Ada peningkatan aktivitas belajar siswa; siklus I rata-rata aktivitas belajar
siswa 3,01 menjadi 3,37 pada siklus II, atau meningkat 0,36 poin.

Kata Kunci: model pembelajaran Problem-based learning, media pembelajaran, hasil belajar.

IMPROVING LEARNING OUTCOME AND ACTIVITIES IN SOCIAL STUDIES


OF THE MEDIA-AIDED PROBLEM- BASED LEARNING INSTRUCTIONAL MODEL
SMPN 2 KAWUNGANTEN
Suharto, Zamroni
SMPN 2 Kawunganten Cilacap, Universitas Negeri Yogyakarta
suharto95@ymail.com, zamronihardjowirono@yahoo.com

Abstract
This study aims to: (1) improve the learning outcome and (2) activities of class VIII C, SMP Negeri 2
Kawunganten Cilacap. This study is classroom action research (CAR) consisting of two cycles, each of
which consisted of two meetings, using Kemmis & Taggart design. The subject is 35 students of class
VIII C, SMP Negeri 2 Kawunganten Cilacap. The data collection techniques used were observation,
achievement test, questionnaire, documentation, and field note. The data analysis used the quantitative
descriptive analysis. The results are as follows (1) The through of media-aided Problem-Based Learning
instructional model in social studies teaching can enchance learning outcomes. (2) There is an increasing
mastery of cognitive learning outcome. In the first cycle, it became 60,00%, and in the second cycle, it
became 85.71%. (3) There is an increase in students attitude (affective domain of learning outcome). The
average of students attitude score was 62.20 in cycle I and it became 67.97 in cycle II, or an increase of
5.57 point. (4) There is an increase in students learning activities; in the first cycle, the average score of
students activities was 3.01 and it became 3.37 in cycle II, or an increase of 0.36 point.

Keywords: Problem-Based Learing, instructional model, instructional media, learning outcome

Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS


p-ISSN: 2356-1807 e-ISSN:2460-7916
Peningkatan Hasil dan Aktivitas Belajar IPS ...... 83
Suharto, Zamroni

Pendahuluan Adapun fokus penelitian pada upaya


Hasil belajar siswa yang tercermin dalam meningkatan hasil dan aktivitas belajar IPS siswa
angka atau nilai mata pelajaran mempunyai melalui penerapan model problem-based learning
beberapa fungsi. Salah satu fungsi nilai hasil berbantuan media pembelajaran. Oleh karena
belajar sebagai data, informasi, dan petunjuk itu masalah yang dibicarakan berkaitan dengan;
mengenai tingkat pengetahuan, pemahaman, (1) Seberapa besar peningkatan hasil belajar
dan penguasaan materi serta keterampilan IPS siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan
siswa. Seorang guru dapat melakukan refleksi model problem-based learning berbantuan media
terhadap pembelajaran setelah menganalisis pembelajaran, (2) Seberapa besar peningkatan
hasil belajar siswa. Perubahan dan perbaikan aktivitas siswa selama pembalajaran IPS dapat
dalam pembelajaran bertujuan meningkatkan ditingkatkan melalui model problem-based
hasil belajar siswa pada materi ajar, SK atau learning berbantuan media pembelajaran.
KD tertentu. Perubahan dan perbaikan meliputi Tujuan penelitian ini sebagai berikut:
perencanaan pembelajaran, pengorganisasian (1) Menganalisis peningkatan hasil belajar IPS
materi ajar, pemilihan media, dan metode siswa setelah guru menerapkan pembalajaran
pembelajaran model problem-based learning berbantuan media
Hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas pembelajaran. (2) mengetahui tingkat perubahan
VIII SMP Negeri 2 Kawunganten Cilacap pada aktivitas siswa di kelas selama pembelajaran
tahun pelajaran 2013/2014 belum memuaskan. IPS melalui model problem-based learning
Hasil belajar IPS secara klasikal relatif rendah. berbantuan media pembelajaran.
Rendahnya nilai hasil belajar diketahui setelah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disebut
siswa mengerjakan Ujian Tengah Semester I. juga sosial studies. Social studies is the
Siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kawunganten interdisiplinary integration of social science and
Cilacap berjumlah 216 orang, terbagi menjadi 6 humanities concepts for the purpose of practicing
kelas rombongan belajar (6 rombel; 8A, B, C, D, citizenship skills on critical social issues (Barth,
E, dan 8F). Sebagaimana tabel 1, di bawah ini; 1990, p.28). Pendapat tersebut bermakna, IPS
merupakan perpaduan berbagai disiplin ilmu-
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Hasil UjianTengah ilmu sosial dan konsep-konsep humaniora
Semester I Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan tujuan utama kemampuan praktis
kewarganegaraan -seseorang atau masyarakat-
untuk mengkritisi isu-isu sosial.
IPS merupakan salah satu mata pelajaran
pada jenjang pendidikan dasar. IPS mengambil
bahan-bahan dari ilmu-ilmu sosial diantaranya:
geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi.
Sekalipun demikian, jumlah dan bagian isi ilmu
sosial yang diperlukan dalam pembelajaran
tidaklah sama kedalaman dan keluasan, karena
Sumber: Hasil UTS I tahun pelajaran harus disesuaikan dengan tujuan intruksional dan
2013/2014. Dokumen guru IPS SMP N perkembangan mental siswa.
2 Kawunganten. Hasil belajar siswa yang rendah pada mata
Tabel 1 menunjukkan siswa yang tuntas pelajaran IPS atau SK/KD tertentu dapat berfungsi
KKM berjumlah 62 orang atau 28,84% dari sebagai feed back bagi guru dan siswa pada proses
215 siswa dan siswa sebanyak 153 orang atau belajar-mengajar. Dimyati dan Mudjiono (1999,
71,16% belum tuntas. Ketuntasan belajar klasikal pp. 250-251), menyatakan bahwa: hasil belajar
berkisar antara 22,22% sampai dengan 33,33%. merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi
Nilai siswa yang lulus KKM dengan jangkauan yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Pada sisi siswa,
antara 72-93. Siswa yang mendapatkan nilai di hasil belajar merupakan tingkat perkembangan
atas nilai rata-rata kelas berjumlah 104 orang mental yang lebih baik bila dibandingkan pada
atau 48,37% dan siswa sebanyak 111 orang atau saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan
51,63% berada di bawah nilai rata-rata kelas. mental tersebut terwujud pada ranah kognitif,

Harmoni Sisial: Jurnal Pendidikan IPS


Volume 3, No 1, Maret 2016
84 - Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

afektif, dan psikomotor. Sedangkan pada sisi belajar dalam lingkungan belajar. Hasil belajar
guru, hasil belajar merupakan saat terseleksinya IPS adalah serangkaian kemampuan yang
materi ajar, strategi, penggunaan media, dan dimiliki oleh siswa setelah belajar dan menerima
metode dalam penyampaian pesan pembelajaran pengalaman sebagai dampak interaksi dengan
atau pendidikan kepada siswa. lingkungan, sumber/materi ajar IPS.
Pembelajaran adalah aktivitas mengajar
Menurut Prawira (2012, p.229), bahwa:
seorang guru dan aktivitas belajar yang dilakukan
Hasil belajar adalah penguasaan sejumlah oleh sejumlah siswa. Aktivitas mengajar
pengetahuan dan sejumlah keterampilan baru menyangkut peranan dan fungsi guru dalam
dan sesuatu sikap baru ataupun memperkuat mengupayakan terjalinnya proses interaksi dan
sesuatu yang telah dikuasai sebelumnya, komunikasi pembelajaran. Pembelajaran bukan
termasuk pemahaman dan penguasaan nilai- hanya terbatas pada kejadian yang dilakukan oleh
nilai. guru saja, melainkan mencakup semua kejadian
Sedangkan Kennedy (2006, p.3) menyatakan: maupun kegiatan yang mempunyai pengaruh
langsung pada proses belajar siswa.
Learning outcomes are statements that
specify what learners will know or be able to Guru hendaknya dapat memotivasi siswa
do as a result of a learning activity. Outcomes agar aktivitas dalam pembelajaran dapat optimal.
are usually expressed as knowledge, skills Sehingga proses belajar akan lebih dinamis dan
or attitudes. menjamin setiap siswa memperoleh pengetahuan
dan keterampilan. Aktivitas belajar merupakan
Proses belajar-mengajar dikatakan fungsi siswa saat merespon stimulan yang
berhasil jika sebagian besar siswa dapat disajikan oleh guru pada lingkungan belajar.
menerima, memahami, dan mampu melakukan Menurut Sardiman (2011, p.95) belajar adalah
tindakan keterampilan sesuai dengan indikator berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku,
dari tujuan pembelajaran yang ditetapkan. jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar jika
Tujuan pembelajaran adalah hasil belajar yang tidak ada aktivitas. Pendapat tersebut, bermakna
dimiliki oleh siswa. Hamalik (2012, p.30), bahwa dalam pembelajaran, belajar, dan aktivitas
mengemukakan: hasil belajar adalah bila saling berhubungan sehingga proses pembelajaran
seseorang telah belajar akan terjadi perubahan berjalan optimal. Dengan kata lain, keterlibatan
tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari dan keberhasilan seorang siswa dalam aktivitas
tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan
menjadi mengerti. kecerdasannya, tetapi juga harus melibatkan fisik
Hasil belajar merupakan tingkat dan mental secara bersama-sama.
perkembangan mental siswa yang lebih baik Proses belajar akan berlangsung efektif
bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. bilamana siswa terlibat secara aktif dalam setiap
Hasil belajar biasanya mencakup sejumlah sesi pembelajaran dan berinteraksi dengan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa sumber daya belajar. Keterlibatan mental siswa
sebagai dampak berinteraksi dengan lingkungan dalam proses belajar sangat mempengaruhi
belajar. Masing-masing jenis hasil belajar dapat terhadap aktivitas belajarnya. Seperangkat
diisi dengan bahan atau materi ajar yang telah pengetahuan yang dibentuk melalui aktivitas
ditetapkan dalam kurikulum. Gagne (1975, sendiri pada seorang siswa akan lebih bermakna
pp.65-66), membagi lima kelompok kapabilitas bagi diri siswa. Hal ini sebagaimana pendapat
yang dipelajari, yakni; (1) informasi verbal, (2) Chickering & Gamson (2013, p.2):
keterampilan intelektual, (3) strategi kognitif,
(4) sikap dan (5) keterampilan gerak. Kelima ..students must do more than just listen: They
kapabilitas tersebut merupakan jenis tagihan must read, write, discuss, or be engaged in
(kompetensi) yang harus ditunjukkan oleh siswa solving problems. Most important, to be
selama dan sesudah pembelajaran. actively involved, students must engage
in such higher-order thinking tasks as
Hasil belajar dapat disimpulkan sebagai
analysis, synthesis, and evaluation. Within
serangkaian perubahan dan keterampilan yang
this context, it is proposed that strategies
dimiliki siswa setelah menerima pengalaman
promoting active learning be defined as

Volume 3, No 1, Maret 2016


Peningkatan Hasil dan Aktivitas Belajar IPS ...... 85
Suharto, Zamroni

instructional activities involving students in kepada peningkatan hasil belajar.


doing things and thinking about what they Model pembelajaran yang dipilih dan
are doing. diterapkan oleh Guru untuk pembelajaran IPS
salah satunya adalah problem-based learning
Menurut pendapat Diedrich dalam (pembelajaran berbasis-masalah). Problem-based
Sardiman (2011, p.101), aktivitas belajar siswa learning (PBL) mefokuskan pada pembelajaran
dikelompokkan menjadi delapan yang meliputi: siswa bukan pada pengajaran guru di kelas.
(1) Visual Aktivities (2) Oral Aktivities, (3) Arends (2008, p.41) menyatakan, peran guru
Listening Aktivities, (4) Writing Aktivities, (5) dalam PBL hanya menyodorkan berbagai masalah
Drawing Aktivities, (6) Motor Aktivities, (7) autentik, memfasilitasi penyelidikan siswa, dan
Mental Aktivities, 8) Emotional Aktivities. mendukung pembelajaran siswa. sedangkan
Belajar hanya mungkin terjadi apabila pendapat Barr dan Tagg sebagaimana dikutip
siswa aktif mengalaminya sendiri serangkaian oleh Huda (2012, p.271), PBL merupakan salah
tindakan. Keaktifan dapat berupa; (1) kegiatan satu bentuk peralihan dari paradigma pengajaran
fisik seperti membaca, mendengar, menulis menuju paradigma pembelajaran. Dengan kata
dan sebagainya. (2) kegiatan psikis seperti lain, model PBL sebagai pembelajaran yang
mengunakan khazanah pengetahuan yang diperuntukkan bagi siswa menuju pemahaman
dimiliki dalam memecahkan masalah yang akan suatu masalah.
dihadapi, membandingkan konsep dengan yang Pembelajaran model PBL merupakan
lain, dan menyimpulkan hasil percobaan dan pembelajaran yang dimulai dengan pemberian
kegiatan psikis lainnya (Rusman, 2013, p.24) masalah biasanya masalah tersebut memiliki
Sebagaimana pendapat Eison (2010, p.1) konteks dengan dunia nyata, siswa secara
bahwa: berkelompok aktif merumuskan masalah
Active learning instructional strategies can dan melakukan identifikasi masalah. Mereka
be created and used to engage students in 1) mempelajari dan mencari sendiri materi yang
thinking critically or creatively, 2) speaking terkait dengan masalah dan melaporkan
with a partner, in a small group, or with the solusi dari masalah. Hal ini sebagaimana
entire class, 3) expressing ideas through dikemukakan oleh Arends & Kilcher (2010,
writing, 4) exploring personal attitudes and p.333);
values, 5) giving and receiving feedback, Problem-based learning begin with the
and 6) reflecting upon the learning process. presentatioan of problem situation and the
organisation of students into learning groups.
Maknanya adalah strategi pembelajaran Student groups are then asked to design and
aktif dirancang bertujuan untuk melibatkan execute their investigations in pursuit of
siswa dalam (1) berpikir kritis atau kreatif, (2) finding possible solutions. Studentsprogress
berbicara dengan pasangan, dalam kelompok is monitored by the teacher and by student
dengan kelompok, atau dengan seluruh kelas, themselves as the inquiries unfold. Finally,
(3) menyampaikan ide-ide melalui tulisan, (4) groups demonstrate their learning and
mengeksplorasi sikap pribadi dan nilai-nilai, (5) engage in reflection and debriefing.
memberi dan menerima umpan balik, dan (6)
merefleksikan proses pembelajaran. Menurut pendapat Barrows dan Kelson
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan dalam Amir (2009, p.21) bahwa:
aktivitas belajar merupakan serangkaian problem-based learning (PBL) adalah
tindakan yang dilakukan siswa sebagai reaksi kurikulum proses pembelajaran. Dalam
terhadap sejumlah stimulan dalam lingkungan kurikulumnya, dirancang masalah-masalah
pembelajaran. Setiap siswa dapat melibatkan yang menuntut mahasiswa mendapat
kemampuannya semaksimal mungkin. pengetahuan penting, membuat mereka mahir
Keterlibatan siswa secara aktif merupakan prinsip dalam memecahkan masalah, dan memiliki
penting dalam pembelajaran. Aktivitas yang strategi belajar sendiri serta memiliki
timbul dari siswa akan berdampak terbentuknya kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses
pengetahuan dan keterampilan yang mengarah belajarnya menggunakan pendekatan

Harmoni Sisial: Jurnal Pendidikan IPS


Volume 3, No 1, Maret 2016
86 - Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

yang sistemik untuk memecahkan masalah (c) Permasalahan membutuhkan perspektif


atau menghadapi tantangan yang nanti ganda (multiple perspective), (d) Permasalahan,
diperlukan dalam karier dan kehidupan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh
sehari-hari. siswa, sikap, dan kompetensi dalam belajar, (e)
Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,
Pembelajaran model PBL menekankan dan evaluasi sumber informasi, (f) Belajar
siswa mampu menyelesaikan masalah secara adalah kolaborasi, komunikasi, dan kooperatif,
sistematis. Model PBL merupakan pembelajaran (g) Pengembangan keterampilan inquiry
yang diperoleh melalui proses menuju dan pemecahan masalah dengan penguasaan
pemahaman akan resolusi suatu masalah. pengetahuan untuk mencari solusi.
Artinya proses belajar berorientasi pada proses Pada penerapan model Problem-Based
pengalaman langsung dari kehidupan sehari-hari Learning, guru lebih banyak berperan sebagai
siswa. Guru memberi kesempatan bagi siswa fasilitator, motivator, mediator, dan pembimbing.
untuk aktif mencari, menemukan, mengolah, dan Guru mengajukan masalah autentik atau
membentuk pengetahuan hasil belajarnya. mengorientasikan siswa kepada permasalahan
Keunggulan pembelajaran model PBL nyata yang terjadi di lingkungan kehidupan
sangat berkaitan dengan langkah-langkah atau siswa. Guru menyediakan pokok-pokok materi-
sintaks PBL itu sendiri. Adapun keunggulan ajar, membimbing dalam proses penyelidikan,
pembelajaran model PBL terletak pada rancangan memfasilitasi dialog antara siswa (diskusi),
masalah yang disajikan oleh guru. Masalah yang serta memberikan dukungan terhadap upaya
diberikan harus menantang dan mendorong meningkatkan temuan.
aktivitas siswa dalam belajar. Menurut Wee & Media yang dibantukan dalam
Kek dalam Amin, (2012, pp.32-33) menyatakan pembelajaran disebut media pembelajaran. Media
masalah yang baik bercirikan; (1). Punya keaslian pembelajaran yang dipakai pada proses belajar-
seperti di dunia nyata. (2). Dibangun dengan mengajar diharapkan mampu meningkatkan
memperhitungkan pengetahuan sebelumnya. hasil belajar dan aktivitas siswa. Sebagaimana
(3). Membangun pemikiran yang metakognitif pendapat Hamalik yang dikutip oleh Arsyad,
dan kontruktif. (4). Meningkatkan minat dan (2002, pp.15-16);
motivasi dalam pembelajaran. (5). Satuan Acara Pemakaian media pengajaran dalan proses
Perkuliahan (SAP) yang seharusny menjadi belajar mengajar dapat membangkitkan
sasaran mata kuliah tetap dapat terliputi dengan keinginan dan minat yang baru,
baik. membangkitkan motivasi dan rangsangan
Pendapat lain disampaikan oleh Barrows kegiatan belajar, dan bahkan membawa
dan Tamblyn (Brock & Jenkins, 2006, p.5) pengaruh-pengaruh psikologis terhadap
mengatakan bahwa keuntungan menggunakan siswa...,media pengajaran juga dapat
model pembelajaran PBL yaitu: (1). Belajar membantu siswa meningkatkan pemahaman,
cara belajar. (2). Belajar yang relevan untuk diri menyajikan data dengan menarik dan
sendiri. (3). Menjadi peserta aktif dan termotivasi terpercaya, memudahkan penafsiran data,
dalam proses belajar. (4). Belajar menjadi lebih dan memadatkan informasi.
puas. (5). Menilai kekuatan dan kelemahan diri
sendiri dalam belajar. (6). Mengevaluasi diri Media pembelajaran yang dipakai oleh
dalam berpikir. (7). Merefleksikan kekuatan dan guru dari bentuk sederhana sampai dengan
kelemahan diri sendiri. (8). Berpikir kritis. (9). bentuk modern. Media pembelajaran dapat
Mengelola informasi. (10). Bekerja sama sebagai berupa; gambar diam, gambar gerak, gambar
bagian dari kelompok. (11). Menggunakannya gerak-bersuara (audio visual) dan dapat pula
dalam praktek kesehatan. alat-alat peraga tiga dimensi serta bentuk-benda
Karakteristik problem-based learning tiruan (model). Menurut Rossi dan Breidle
(PBL) meliputi beberapa point penting sebagai sebagaimana dikutip oleh Sanjaya (2012,
berikut: (a) Permasalahan menjadi starting point p.58) media pembelajaran adalah seluruh alat
dalam belajar, (b) Permasalahan yang diangkat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan
adalah permasalahan yang ada di dunia nyata, pendidikan seperti radio, televise, buku, koran,
majalah dan sebagainya. Batasan ini lebih

Volume 3, No 1, Maret 2016


Peningkatan Hasil dan Aktivitas Belajar IPS ...... 87
Suharto, Zamroni

metitikberatkan pada sarana fisik yang digunakan ajar (keluasan dan kedalaman) berfungsi untuk
untuk saluran komunikasi yang digunakan guru mengukur kompetensi siswa dan kemajuan
untuk menyampaikan pesan pembelajaran belajar. Materi-ajar dijadikan standar pencapaian
kepada siswa. maka haruslah menantang dan dapat diwujudkan
Lebih tegas Gerlach dan Ely dalam oleh siswa maupun guru. Materi-ajar dapat
Sanjaya (2012, p.60), menyatakan A medium, diselesaikan dalam jangka waktu relatif singkat
conceived any person, material or even that sehingga penilaian dapat dilakukan selama atau
establish condition which enable the learner to di akhir pertemuan kelas.
acquicre knowledge, skill, and attitude. Materi ajar dan media pembelajaran yang
Jadi dapat disimpulkan bahwa media pem- disajikan secara bersamaan dalam pembelajaran
belajaran adalah suatu sarana komunikasi dan dapat meningkatkan sikap, motivasi, dan aktivitas
interaksi antara guru dengan siswa dalam mem- siswa. Penyajian materi ajar oleh guru akan lebih
peragakan suatu hal dan menvisualisasikan kon- mudah dan bermakna bagi siswa jika dilengkapi
sep tertentu dalam pembelajaran, dan membantu dengan media pembelajaran yang sesuai. Siswa
siswa mendapatkan informasi, pengetahuan, dan dalam menerima dan memahami pembelajaran
pemahaman serta pengalaman belajar yang leb- lebih merasakan kenyataan sesungguhnya.
ih nyata. Siswa dengan sendirinya terdorong pada
Salah satu tujuan media pembelajaran pencapaian tujuan pembelajaran. Namun sejauh
adalah sebagai alat bantu yang turut mem- ini keberhasilan model PBL belum pernah
pengaruhi iklim belajar, kondisi, dan lingkun- dilaksanakan dengan berbantuan media kreatif
gan belajar yang diciptakan guru baik di dalam untuk peningkatan hasil belajar siswa.
maupun di luar kelas. Sebagaimana pendap- Melangkah dari beberapa hasil penelitian
at Gafur (2012, p.110), fungsi media secara mengenai model problem-based learning dan
umum sebagai berikut: (1). Memperjelas konsep penggunaan media pembelajaran, dapat ditarik
(2). Menyederhanakan materi pelajaran yang kesimpulan; (1) ada peningkatan hasil belajar
kompleks (3). Menampakdekatkan yang jauh, siswa. (2) ada peningkatan aktivitas belajar
menampakjauhkan yang dekat (4). Menampak- siswa. (3) berpikir kritis dan penguasaan materi
besarkan yang kecil, menampakkecilkan yang oleh siswa lebih baik. (4) mempermudah,
besar (5). Menampakcepatkan dan menampak- memperjelas, dan mengefektifkan penguasaan
lambatkan sebuah proses (6). Menampakgerak- kompetensi oleh siswa.
kan yang statis, menampakstatiskan yang gerak Berdasar kajian teoritis dan hasil
(7). Menampilkan suara dan warna sesuai dengan kajian yang relevan, penelitian tindakan kelas
aslinya. diharapkan mampu meningkatkan hasil dan
Bertolak dari pendapat tersebut, maka aktivitas belajar IPS siswa SMP Negeri 2
tujuan dan fungsi media adalah: (1) Memperjelas Kawunganten Cilacap. Peningkatan hasil dan
penyajian pesan, (2) Meningkatkan kegairahan aktivitas belajar IPS siswa dapat dicapai melalui
belajar siswa dan mengatasi sikap pasif siswa, model PBL berbantuan media pembelajaran yang
(3) Memberikan rangsangan dan persepsi siswa sesuai dengan kompetensi dasar.
terhadap isi pelajaran, (4) Mengatasi keterbatasan Perubahan dan perbaikan terhadap
ruang, waktu, dan daya indera. metode pembelajaran IPS melalui penerapan
Pemilihan media pembelajaran didasarkan model problem-based learning berbantuan
atas pertanyaan yang berhubungan dengan tujuan media. Model PBL berbantuan media dapat
pembelajaran, materi ajar, dan karakteristik meningkatkan proses interaksi dan komunikasi
media serta gaya belajar siswa. Pemilihan media pembelajaran antara guru dengan siswa, siswa
pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan
dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran yang masalah, serta meningkatkan kemampuan berfikir
terikat oleh prinsip manfaat, ekonomis, mudah, kritis, inquiri, dan kontruktif. Dengan demikian,
dan bermutu. model PBL berbantuan media diharapkan dapat
Materi ajar yang dipilih dan ditetapkan meningkatkan aktivitas dan sikap siswa dalam
dalam pembelajaran merupakan panduan pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan
serangkaian tindakan subjek ajar. Standar materi- hasil belajar IPS secara komprehensif.

Harmoni Sisial: Jurnal Pendidikan IPS


Volume 3, No 1, Maret 2016
88 - Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

Metode Penelitian Pengamatan secara cermat dan sistematis


Desain penelitian yang digunakan adalah terhadap proses dan hasil belajar-mengajar guru
model Kemmis & Mc. Taggart (1990, p.11), dan siswa. Kegiatan pengamatan ini dilakukan
desain alur penelitian model spiral yang terdiri dengan alat bantu berupa instrumen pedoman
atas 3 (tiga) komponen yaitu: perencanaan, observasi untuk siswa serta catatan pengamatan
tindakan dan observasi, dan refleksi (plan, action untuk merekam aktivitas siswa dalam setiap
and observe, and reflect). siklus.
Refleksi.
Hasil observasi dikumpulkan kemudian
dianalisis dan dievaluasi. hasil ini sebagai acuhan
refleksi untuk melihat apakah tindakan yang
dilakukan sebelumnya sudah memenuhi harapan
atau mendekati tujuan yang ditetapkan. Refleksi
merupakan tahapan yang sangat penting dalam
penelitian ini dimana perubahan dan perbaikkan
ditentukan. Apabila refleksi belum sesuai harapan
ataupun tujuan maka akan ditempuh tindakan
untuk penyempurnaan pada siklus berikutnya
sehingga diperoleh hasil yang yang diharapkan.
Rencana Revisi.
Gambar 1. Alur Penelitian Model Spiral Kemmis & Tahapan penyusunan perubahan rencana
Mc.Taggart (1990: 11). melangkah dari kelemahan-kelemahan yang
terjadi pada tindakan siklus I setelah dilakukan
refleksi. Beberapa alternatif perubahan dan
Model tersebut mengandung prinsip
pelaksanaan tindak perbaikkan yang diyakini
kontinuitas dan fleksibitas, artinya jika pada
mampu meningkatkan hasil dan aktivitas belajar
pelaksanaan tindakan siklus pertama ditemukan
siswa dilakukan oleh guru untuk mencapai
kekurangan atau kelemahan maka harus
kriteria keberhasilan pembelajaran dan/atau
dilakukan tindakan perbaikan pada siklus
penelitian.
selanjutnya sampai target yang diinginkan atau
diharapkan tercapai. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan
Oktober sampai dengan bulan Desember tahun
Tahapan siklus dari rencana tindakan
2013 atau selama 3 bulan pada tahun pelajaran
sampai dengan refleksi yang dilakukan sebagai
2013/2014. Sedangkan tempat penelitian adalah
berikut:
SMP Negeri 2 Kawunganten Cilacap, beralamat
Perencanaan. di jalan Raya Karangbawang Kawunganten,
Kecamatan Kawunganten Kab. Cilacap. SMP
Tahap awal, menjajaki keadaan lingkungan Negeri 2 Kawunganten Cilacap mempunyai
kelas, sikap siswa terhadap pembelajaran, dan rombongan belajar 18 kelas yang terbagi menjadi
aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS melalui 3 (tiga) tingkatan yaitu kelas VII, VIII, dan IX.
observasi. Setiap tingkatan kelas terdiri dari 6 rombongan
Pelaksanaan Tindakan dan Observasi. belajar.
Pada tahap ini, melaksanakan pembelajaran Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan
IPS dengan mengintegrasikan model problem- pada kelas VIII C SMP Negeri 2 Kawunganten
based learning berbantuan media gambar-diam Cilacap. Pemilihan kelas VIII C sebagai subyek
yang sesuai kompetensi. Media pembelajaran penilitian dengan alasan hasil belajar Mapel IPS
(gambar-diam) yang dipakai bertujuan menarik pada ulangan tengah semester I paling flukturatif
perhatian, memberikan kemudahan, memperjelas dibandingkan dengan kelas VIII lainnya. Siswa
materi ajar dan menghindari kesalahpahaman kelas VIII C berjumlah 35 orang, terdiri dari
penerimaan pesan pembelajaran. siswa laki-laki 15 dan siswa perempuan 20
orang. Jadi seks rationya sebesar 75%. Pada sisi

Volume 3, No 1, Maret 2016


Peningkatan Hasil dan Aktivitas Belajar IPS ...... 89
Suharto, Zamroni

usia, siswa kelas VIII C termasuk kelompok usia Kriteria Penilaian Ketercapaian
remaja awal yaitu; 1215 tahun.
Skor Rerata Skor Klasifikasi
Observasi
> 31-36 >3,40-4,00 Sangat Tinggi
Pedoman observasi dapat disusun dalam
> 2531 > 2,803,40 Tinggi
bentuk skala, adanya rentang nilai. Skala ini dapat
berbentuk skala deskriptif. Peneliti menyiapkan > 1925 > 2,202,80 Sedang
pedoman observasi yang berisikan garis-garis > 13-19 > 1,602,20 Rendah
besar atau butir-butir umum kegiatan yang akan
diobservasi. 9 -13 1,60 Sangat Rendah

Dokumentasi, Tes hasil Belajar.


Merupakan suatu teknik pengumpulan Teknik pengumpulan data ini digunakan
data dengan menghimpun dan menganalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan
dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, pembelajaran terutama tentang hasil belajar
gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen siswa yang berhubungan dengan materi-materi
tersebut dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus yang telah dipelajari dengan penerapan model
masalah serta diurutkan sesuai dengan sejarah PBL berbantuan media pembelajaran. Kisi-
kelahiran, kekuatan, dan kesesuaian isinya kisi dan butir soal sebelum digunakan terlebih
dengan tujuan pengkajian dahulu dilakukan validasi oleh ahli dibidangnya
Angket atau kuesioner, sehingga menghasilkan tes yang valid.
Angket berisikan sejumlah pernyataan dan Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar IPS
pertanyaan yang harus dijawab oleh responden.
Instrumen/alat pengumpulan data secara tidak Aspek Intelektual
(Kognitif) Jml
langsung disebut angket atau kuesioner. INDI- Soal
Jumlah Skor Rerata
KATOR No Soal
No Kegiatan Kelas C1 C2 C3 C4 C5 C6
1 2 3 4 nilai
1 Siswa mengamati Mendis- 1, 5 3 5
kripsikan 2,
2 Siswa menyimak
pelaku 4
3 Siswa mendengarkan
ekonomi
4 Siswa aktif bertanya
BUMN/D 6 7, 3
5 Siswa aktif dan 8
menjawab Koperasi
6 Siswa berpartisipasi Peranan 9 10 2
dalam diskusi RT K, RTP,
7 Siswa mencatat poin- Pemerintah
penting
Faktor 11 13 12 3
8 Siswa ikut dalam produksi
pengambilan dan balas
kesimpulan jasa
9 Siswa antusias dalam
Kegiatan 14 1
pembelajaran
pelaku
Jumlah Skor ekonomi
Skor Rata-Rata Melacak 15 1
Klasifikasi aktivitas
Skor Aspek yang Diamati: pelaku
1 = Tidak Pernah 3 = Sering ekonomi
2 = Jarang 4 = Selalu JUMLAH 1 6 6 2 15

Harmoni Sisial: Jurnal Pendidikan IPS


Volume 3, No 1, Maret 2016
90 - Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

Analisis data dalam penelitian ini dengan melihat ketuntasan belajar siswa secara
mereflesksi hasil observasi aktivitas siswa, individual dan klasikal. Siswa dikatakan tuntas
aktivitas guru, dan penilaian hasil belajar siswa. bila memenuhi nilai KKM 68 dan secara
Analisis meliputi perencanaan, pelaksanaan klasikal memenuhi kriteria ketuntasan minimal
tindakan, observasi, dan reflesksi. Sedaangkan 75%.
nilai hasil belajar (tes) merupakan data proses
bagi peneliti dan/atau guru kolaborator. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Kegiatan analisis dimulai dari menghitung, Berdasarkan hasil analisis tindakan siklus
menggabungkan, dan mengorganisasikan data I dan siklus II diperoleh peningkatan hasil
sesuai dengan derajat kepercayaan. Pengujian belajar siswa melalui pembelajaran model PBL
derajat kepercayaan dalam penelitian tindakan berbantuan media. Peningkatan hasil belajar siswa
dapat berupa bentuk validasi. Melakukan sejalan dengan kemampuan guru yang semakin
validasi yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, baik dalam menerapkan pembelajaran model
kontruk atau analisis isi dari peneliti dengan PBL berbantuan media pembelajaran yang lebih
membandingkan hasil dari mitra peneliti atau konkret. Perubahan dan peningkatan hasil belajar
kolaborator. siswa terjadi setelah guru melakukan refleksi
Analisis secara deskriptif dengan terhadap tindakan siklus I. Beberapa kekurangan
menggunakan teknik persentase untuk melihat dan kelemahan tindakan siklus I yang terjadi
kecenderungan yang terjadi dan peningkatan hasil dicatat, diklasifikasikan, dan dianalisis untuk
belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. menentukan alternatif-alternatif solusi untuk
Hasil belajar siswa diperoleh melalui penilaian perbaikkan pada tindakan siklus II. Kekurangan
ulangan harian (tes formatif) siswa setiap dan kelemahan meliputi aspek siswa, media dan
akhir siklus. Perhitungan data menghasilkan metode pembelajaran yang dilakukan guru.
nilai persentase pencapaian hasil belajar yang Pada tindakan siklus I, guru memberi
selanjutnya diinterprestasikan dalam kalimat arahan/bimbingan kepada siswa kurang maksimal
bersifat kualitatif. terutama langkah-langkah pembelajaran model
Kriteria keberhasilan dalam penelitian PBL. Siswa merasa asing dan tidak sepenuhnya
tindakan kelas ini secara kualilatif dan kuantitatif. dapat menerima atau memahami metode
Indikator kualitatif jika sebagian besar siswa pembelajaran yang diterapkan. Langkah-langkah
menunjukkan aktivitas belajar lebih baik, (sintaks) model PBL sebagai hal baru bagi siswa
adanya peningkatan selama tindakan penelitian. dan membutuhkan serangkaian penyesusaian
Siswa berani berpendapat, menjawab pertanyaan, perilaku siswa berkaitan dengan orang lain
bertanya, dan melakukan kegiatan penyelidikan (kontak sosial dalam kelompok-kelompok
suatu masalah serta mampu mengkomunikasikan diskusi).
hasil dalam kelompok maupun kelas. Media pembelajaran berupa skema
Jumlah Persen- hubungan pelaku-pelaku ekonomi yang dipakai
Uraian Nilai Ket. untuk menjelaskan materi ajar kurang konkret.
Siswa tase (%)
Siswa mengalami kesulitan untuk memahami
Nilai Tertinggi 87 5 14,78 Tuntas
dan menganalisis isi materi. Skema hubungan
5 Belum
pelaku ekonomi tidak dapat dipahami dengan
Nilai Terendah 53 14,78 tuntas
sekali pengamatan. Materi pelaku-pelaku
Di atas ekonomi terindikasi berkompleksitas tinggi.
Nilai Rata-rata 69 KKM Guru harus melakukan apresepsi lebih banyak
Nilai KKM 21 60,00 dan memberikan contoh konkret pelaku-
Nilai < KKM 14 40,00
pelaku ekonomi dalam masyarakat. Pemilihan
dan menggunakan media pembelajaran yang
Target keberhasilan dalam penelitian berhubungan dengan materi pelaku ekonomi
ini adalah peningkatan hasil belajar siswa perlu adanya modifikasi oleh guru.

Volume 3, No 1, Maret 2016


Peningkatan Hasil dan Aktivitas Belajar IPS ...... 91
Suharto, Zamroni

Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siswa Tabel 4. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siswa
Pada Tindakan Siklus I Pada Tindakan Siklus II
Jumlah Persen-
Tabel 2. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Uraian Nilai Ket.
Siswa tase (%)
Pada Siklus I
Nilai 12
No Rentang Kategori Jumlah Persen- Tertinggi 93 32,00 Tuntas
Skor siswa tase (%) Nilai 5 Belum
1 > 32,6 - 36,0 Sangat Terendah 67 14,78 Tuntas
baik Nilai Di atas
2 > 28,2 32,6 Baik 12 34,29 Rata-rata 77 KKM
3 > 21,8 28,2 Cukup 14 40,00 Nilai 30
4 > 15,4 21,8 Kurang 9 25,71 KKM 85.71

5 9,0 15,4 Sangat Nilai 5


kurang > KKM 14,29

Pada tindakan siklus II, Guru memberikan Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada
arahan/bimbingan kepada siswa sesuai dengan Pratindakan, Siklus I dan II.
Siswa mengalami kemajuan belajar yang baik.
Adanya peningkatan aktivitas siswa dan hasil Tindakan Nilai
belajar siswa. Pergerakkan nilai tertinggi, nilai Uraian
Pratin- Siklus Siklus Rata-rata
terendah, dan nilai rata-rata kelas pada siklus I dakan I II Tindakan
dan siklus II adalah baik. Sebagaimana tabel 5
Nilai
dibawah ini.
Tertinggi 93 87 93 90
pembelajaran model PBL. Langkah- Nilai
langkah pembelajaran model PBL yang Terendah 42 53 67 60
membutuhkan serangkaian perilaku siswa
Nilai Rata-
berkaitan dengan orang lain sudah dapat
rata 61 69 77 73
dilaksanakan dengan efektif. Banyak siswa dapat
menerima dan memahami isi materi ajar sepenuh. Nilai 9 21 30
KKM orang orang orang
Media pembelajaran, berupa gambar-
gambar pasar tradisional dan modern yang Nilai < 26 14 5
dipakai pada materi ajar pasar sangat konkret KKM orang orang orang
(contoh nyata mudah ditemukan) dan siswa dapat
memahami dan menganalisis. Gambar-gambar Melangkah dari tabel tersebut, peningkatan
pasar tradisional dan modern dapat disinkonkan hasil belajar siswa secara klasikal (rata-rata
dengan kenyataan dalam kehidupan. siswa kelas) dari 69 menjadi 77, nilai terendah dari 53
mempunyai pengetahuan lengkap tentang materi menjadi 67, dan nilai tertinggi dari 87 menjadi 93.
pasar sesuai pengalaman diri masing-masing. Perolehan nilai hasil belajar siswa pada tindakan
siklus I dan tindakan siklus II, mengalami
Tabel 3.Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa perbaikan secara individual maupun klasikal.
Pada Siklus II Perbaikkan tersebut meliputi penyebaran nilai
No Rentang Kategori Jumlah Persen-tase hasil belajar yang semakin merata. Hal ini terlihat
Skor siswa (%) dengan semakin kecilnya selisih nilai tertinggi
1 > 32,6 - 36,0 Sangat 7 20,00 dan nilai terendah pada siklus II daripada siklus I.
baik Walaupun pada siklus II masih ada 5 orang siswa
2 > 28,2 32,6 Baik 18 51,43
yang belum tuntas (14%), tetapi pembelajaran
yang dilakukan guru sudah baik. Persentase
3 > 21,8 28,2 Cukup 10 28,57
ketuntasan belajar siswa secara individual
4 > 15,4 21,8 Kurang
maupun klasikal sudah memenuhi harapan guru
5 9,0 15,4 Sangat dan peneliti. Tabel 5 dapat dibuat grafik batang
kurang sebagai berikut;

Harmoni Sisial: Jurnal Pendidikan IPS


Volume 3, No 1, Maret 2016
92 - Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

siswa dalam pembelajaran kurang mampu


menguasai materi ajar dan bekerja sama dalam
kelompok diskusi. Kelompok diskusi yang
dibentuk berdasarkan kelompok piket harian
ternyata kurang baik sebagai sarana berinteraksi
dan berkomunikasi antar-siswa. Hal ini terjadi
karena siswa tidak biasa belajar kelompok,
kurangnya pengarahan dan penjelasan guru
mengenai pentingnya kerja sama dan koordinasi
dalam kelompok diskusi berkaitan dengan
kemampuan interpersonal siswa. Kemampuan
interpersonal dalam kelompok sebagai bentuk
dasar keahlian yang perlu dikembangkan pada
diri siswa di lingkungan kelas/sekolah.
Gambar 2. Hasil Belajar Siswa Pada Pratindakan, Aspek afeksi. Siswa kelas VIII C secara
Siklus I dan Siklus II. umum menerima dan menghargai pembelajaran
model PBL berbantuan media. Siswa merespon
Bila dibandingkan dengan standar besaran dan mengapresiasi terhadap tahapan-tahapan
KKM Mapel IPS (68) dan kriteria belajar tuntas, pembelajaran model PBL dengan baik. Setiap
sebagaimana pendapat Usman dan Setiawati arahan dan bimbingan yang dilakukan guru
(1993: 8) atau Djamarah (2006: 121) maka ditindaklanjuti dengan sikap dan perilaku yang
pelaksanaan tindakan selama penelitian ini telah sesuai. Pada proses pembentukan kelompok siswa
berhasil dan pembelajaran yang dilakukan guru tidak menolak/meminta teman duduknya dalam
adalah baik optimal. Kriteria baik optimal untuk kelompok yang sama termasuk pemilihan atau
hasil belajar siswa adalah 76%-99%, sedangkan penetapan materi diskusi, dan pembagian tugas-
hasil belajar siswa pada tindakan penelitian tugas kelompok. Sebagian besar siswa menerima
ini mencapai 85,71%. Perubahan terjadi pada dan menanggapi materi ajar, media pembelajaran,
aspek kognitif, psikomotor, dan afektif selama dan penjelasan/ulasan guru mengenai pertanyaan
dan/atau setelah mengalami proses belajar, dan jawaban pada setiap akhir sesi diskusi.
yang ditunjukkan pada tabel-tabel hasil belajar,
aktivitas, dan sikap tersebut di atas. Simpulan dan Saran
Peningkatan hasil belajar siswa dan Simpulan
kemampuan guru yang semakin baik dalam Berdasarkan hasil penelitian pada tindakan
menerapkan model PBL berbantuan media siklus I sampai dengan akhir tindakan siklus
pembelajaran ternyata bersifat linier positif. II dapat disimpulkan bahwa; (1) Penerapan
Perubahan perlakuan guru dalam membentuk pembelajaran model PBL berbantuan media
dan/atau membagi kelompok-kelompok diskusi gambar-diam dapat meningkatkan hasil belajar
dan penataan tempat serta posisi duduk siswa siswa secara komprehensif yang meliputi ranah
pada tindakan siklus II telah meningkatkan sikap kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil belajar,
dan aktivitas siswa. Motivasi, apresiasi, dan aktivitas, dan sikap siswa pada setiap siklus
penjelasan mengenai materi ajar oleh guru pada menunjukkan adanya perubahan yang semakin
awal pertemuan membuahkan hasil yang baik. baik. Hasil belajar pada tindakan siklus I dengan
Pemilihan dan penanyangan media pembelajaran nilai tertinggi, terendah, dan rata-rata sebesar 87,
yang lebih konkret (sesuai dengan kenyataan) 53, dan 69 meningkat menjadi 93, 67, dan 77 pada
memberi kemudahan kepada siswa untuk siklus II. Sedangkan standar devisiasi nilai hasil
memahami, menganalisis dan mengevaluasi belajar pada siklus I dan siklus II sebesar 9,73
materi ajar pada tindakan siklus II. dan 7,79. Ketuntasan belajar klasikal meningkat
Aspek psikomotor. Aktivitas siswa dalam dari 60,00% menjadi 85,71%. (2) Penerapan
kelompok diskusi, diskusi kelas, dan kemampuan pembelajaran model PBL berbantuan media
berfikir kritis mengajukan pertanyaan dan gambar-diam dapat meningkatkan aktivitas siswa
menjawab- mengalami kemajuan positif. Selama selama pembelajaran. Peningkatan aktivitas
perlakuan tindakan pertama, sebagaian besar siswa sebesar 0,36 dari rata-rata skor 3,01

Volume 3, No 1, Maret 2016


Peningkatan Hasil dan Aktivitas Belajar IPS ...... 93
Suharto, Zamroni

menjadi 3,37. Sedangkan sikap siswa terhadap berbantuan media pembelajaran.


pembelajaran mengalami peningkatan sebesar Meningkatkan pengadaan sarana atau
5,77 dari 62,20 menjadi 67,97 pada siklus I dan media pembelajaran untuk terwujudnya
siklus II. (3) Hasil belajar, aktivitas, dan sikap pembelajaran yang efektif.
siswa pada setiap siklus menunjukkan adanya
perubahan yang semakin baik. Hasil belajar pada Memfasilitasi perijinan kepada guru, siswa
tindakan siklus I dengan nilai tertinggi, terendah, dan/atau kelas melakukan observasi terhadap
dan rata-rata sebesar 87, 53, dan 69 meningkat sumber belajar di luar lingkungan sekolah.
menjadi 93, 67, dan 77 pada siklus II. Sedangkan
standar devisiasi nilai hasil belajar pada siklus I Daftar Pustaka
dan siklus II sebesar 9,73 dan 7,79. Ketuntasan Amir, M T. (2013). Inovasi pendidikan melalui
belajar klasikal meningkat dari 60,00% problem based learning: Bagaimana
menjadi 85,71%. (4) Penerapan pembelajaran pendidik memberdayakan pemelajar di
model PBL berbantuan media gambar-diam era pengetahuan. Jakarta: Predana Media
dapat meningkatkan aktivitas siswa selama Group.
pembelajaran. Peningkatan aktivitas siswa Andreson, L.W., & Krathwohl, D.R. (2010).
sebesar 0,36 dari rata-rata skor 3,01 menjadi 3,37. Kerangka landasan untuk pembelajaran,
Sedangkan sikap siswa terhadap pembelajaran pengajaran, dan assesmen, (edisi
mengalami peningkatan sebesar 5,77 dari 62,20 Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom).
menjadi 67,97 pada siklus I dan siklus II. Yogyakarata: Pustaka Pelajar.
Arends R.I. (2008). Learning to teach. Jilid I.
Saran Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Judul asli
Berdasarkan temuan hasil penelitian, Learning to teach (7th ed). New York:
pembelajaran model PBL berbentuan media McGraw Hill Companies. (2007).
dapat meningkatkan hasil dan aktivitas belajar ------------. (2008). Learning to teach. Jilid II.
terhadap mapel IPS pada siswa kelas VIII C SMP Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Judul asli
Negeri 2 Kawunganten Cilacap. Melangkah dari Learning to teach (7th ed). New York:
hal tersebut, dapat diajukan saran-saran sebagai McGraw Hill Companies. (2007).
berikut;
------------. (2010). Teaching for student learning.
Guru Yogyakarta: Pustaka Pelajar. New York:
Guru dalam pelaksanaan pembelajaran dapat Library of Congress Cataloging in
memilih model PBL dengan memperhatikan Publication Data.
materi ajar dan perkembangan usia dan Arsyad, A. (2002). Media pembelajaran. Jakarta:
mental siswa. PT Raja Grafindo Persada.
Guru berusaha menerapkan pendekatan Barth, J.L., (1984). Methodes of intruction in
pembelajaran berpusat pada siswa (centred social studies education, (3rd ed). Lanham,
learner), pembelajaran mandiri siswa Maryland: University Press of America.
menemukan masalah, mencari alternatif, Brock. S & Jenkins.J. (2006). Problem Based
menentukan solusi, dan mengungkapkan. Learning resource handbook. www.wlv.
Guru beradaptasi dengan perkembangan ac.uk/docs/soh-pbl.doc
teknologi informasi yang dapat diterapkan Dimyati, & Mudjiono. (2010). Belajar dan
pada pembelajaran sebagai sumber/ pembelajaran. Jakarta: DepDikBud. Co.
materi ajar dan media pembelajaran untuk Rineka Cipta.
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas Djamarah, S.B & Zain, A. (2006). Strategi
siswa. belajar-mengajar. (edisi revisi). Jakarta:
Rineka Cipta.
Kepala Sekolah
Gafur, A. (2012). Desain pembelajaran
Memotivasi dan membina guru-guru konsep, model, dan aplikasinya dalam
menerapkan model-model pembelajaran perencanaan pelaksanakan pembelajaran.
khususnya model problem-based learning Yogyakarta: Ombak.

Harmoni Sisial: Jurnal Pendidikan IPS


Volume 3, No 1, Maret 2016
94 - Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS

berorentasi strandar proses pendidikan.


Gagne, R.M. (1988). Prinsip-prinsip belajar Jakarta: Kencana Prenada Media group.
untuk pengajaran. Surabaya: Usana Offset
Printing. Judul asli Essentials of Learning Sardiman A.S. dkk. (2002). Media pendidikan:
for Instruction. New York: Holf (1975). Pengertian, pengembangan, dan
pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafido
Jarolimek, J. (1993). Social studies in elementary Persada.
education (9th Ed). New York:: Mac.
Millan Publishing Company. Suleiman, A.H. (1985). Media audio-visual untuk
pengajaran, penerangan, dan penyuluhan.
Johnson, A.P. (2010). Making connections in Jakarta: Gramedia.
elementary and midlle school social
studies.(2nd ed). New York: Library of Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu:
Congess Cataloging in Publication Data. konsep, strategi, dan implementasinya
dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan
Kemmis, S. & Taggar, R Mc. (1990). The
(KTSP). Jakarta: Bumi Aksara.
Action research planner. Victoria: Deakin
University Press. Usman, M.U., & Setiawati, L. (1993). Upaya
Martorella, P.H. (1994). Social studies for optimalisasi kegiatan belajar mengajar.
elementary school childen. developing Bandung: Remaja Rosdakarya.
young citizens. New York. Macmillan Warsita, B. (2008). Teknologi pembelajaran:
College Publishing Company, inc. Landasan dan aplikasinya. Jakarta: Rineka
Rusman. (2012). Model-model pembelajaran: Cipta.
mengembangkan profesional guru. Warsono,dkk. (2012). Pembelajaran Aktif,
Jakarta: Rajawali. Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja
Sanjaya, W. (2011). Strategi pembelajaran Rosdakarya

Volume 3, No 1, Maret 2016