Anda di halaman 1dari 23

LATAR BELAKANG LAHIRNYA TEORI SOSIOLOGI

A. SITUASI SOSIAL PERANCIS PADA ABAD KE 17


1. Feodalisme Perancis
Gambaran umum kehidupan Negara Perancis pada abad
ke 17 menggunakan sistem Feodalisme. Dalam konsep dasar
Feodalisme dikatakan bahwa seluruh tanah kerajaan beserta
isinya itu berasal dari raja. Raja sebagai pemilik tanah-tanah
luas yang terbentang di wilayah kerajaannya. Pengertian lain
bahwa Feodalisme dijelaskan adalah sebuah sistem
pemerintahan dimana seorang pemimpin memiliki anak buah
dari golongan bangsawan yang disebut vasal dan
mengharuskan bayar pajak, serta golongan bangsawan
mendapatkan pajak dari setiap abdi-abdi mereka. Dengan
begitu, muncul struktur hierarkis berbentuk piramida.
Masyarakat feodal menggantungkan hidupnya dari hasil
pertanian, karena itu tanah menjadi faktor produksi utama dan
jadilah pemilik tanah sebagai pihak yang berkuasa dan
menempati lapisan atas dalam struktur masyarakat atas
dukungan lapisan petani terbawah. Di lapisan tengah terdapat
pegawai kaum feodal dan pedagang.
Feodalisme di Perancis membagi masyarakat menjadi
tiga golongan, yaitu :
a. Golongan I (bangsawan)
b. Golongan II (kaum agama/gereja)
c. Golongan III (rakyat jelata)
Kaum bangsawan dan kaum agama tinggi memiliki hak
istimewa sedangkan kaum agama rendah dan rakyat jelata
tidak memiliki hak. Dengan hak-hak istimewanya, selain bebas
pajak kaum bangsawan pun dapat menarik pajak dari rakyat.

2. Kependudukan

1
Pada awal abad ke 17 Perancis merupakan Negara
terbanyak populasinya di Eropa dengan jumlah sekitar 20 juta
penduduk. Jumlah penduduk ini tetap bertahan dan tidak
sampai lebih dari 20 juta penduduk dari awal abad ke 15
sampai awal abad ke 18. Hal ini karena jumlah tingkat
kematian yang nyaris sama banyaknya dengan jumlah tingkat
kelahiran.
Di Perancis pada awal abad ke 17 pernikahan merupakan
akad suci tetap, yang dilakukan berdasarkan persetujuan
bebas antara suami-istri, sekaligus sebagai sebuah kontrak
sipil yang berisiberbagai kepentingan materi yang banyak atau
sedikitnya tergantung pada situasi sosial kedua calon
mempelai. Perkawinan harus pula merupakan penyatuan yang
setara, orang menikah dengan pasangan yang berasal dari
sesama lingkungan sosio-profesional, dan setidaknya dari
kalangan rakyat jelata, dengan sesama lingkungan paroki
dengan paroki tetangganya.
Pada abad ke 17 di Perancis, orang menikah pada usia
yang cukup lanjut, rata-rata pada usia 28-29 tahun bagi lelaki
dan 25-26 tahun bagi perempuan. Dengan menikah di usia
lanjut ditambah dengan kekurangan gizi, seringkali hilang
kesuburannya di usia dini akibat gangguan saat melahirkan,
sering meninggal di usia muda terutama ketika melahirkan.
Tingginya kematian masyarakat Perancis dikarenakan
perawatan kesehatan umum maupun kesehatan pribadi yang
masih sangat sederhana, makanan yang seringkali tidak
mencukupi secara kuantitas maupun kualitas dan pengobatan
yang sungguh tidak mujarab.
Banyaknya wabah penyakit merupakan gambaran umum
masyarakat Perancis pada abad ke 17 mengenai situasi
kesehatannya. Penyakit sampar terus-menerus menjadi

2
endemi sampai pertengahan abad ke 17, dan sesekali meledak
menjadi wabah besar dan mematikan. Beberapa penyakit
menular lainnya, yang menyerang paru-paru maupun saluran
pencernaan, seringkali diperparah oleh wabah kelaparan. Hal
ini disebabkan oleh krisis kebutuhan pokok, yakni menurunnya
hasil panen akibat buruknya iklim. Kelangkaan kebutuhan
kebutuhan pokok biasanya langsung diikuti oleh kenaikan
harga roti, makanan pokok rakyat jelata, yang tak mampu lagi
mereka beli, sehingga mudah terserang bermacam-macam
penyakit menular, kalaupun belun lebih dulu mati karena
kelaparan.

3. Kegiatan Perekonomian
Sekitar 90 % penduduk Perancis pada saat itu tinggal di
desa dan sebagian besar hidup dari bercocok tanam. Tanaman
pokok mereka adalah serelia, gandum dan jagung. Hasil dari
panen mereka sangat rendah, hal ini dikarenakan buruknya
kualitas benih, terlalu sederhananya pekakas tani, dan tidak
cukupnya peralatan panarik beban.
Beberapa daerah, terutama yang letaknya tak jauh dari
kota, mengkhususkan diri dalam pembudidayaan sayuran dan
tanaman anggur. Selain gandum, sayuran, dan anggur, desa
juga memasokbahan-bahan mentah bagi kerajinan tekstil (wol
dari bulu domba, serat linen, sutra yang dihasilkan dari
tanaman nurbei serta peternakan alat sutra), aneka bahan
tambang, serta kayu. Kayu merupakan bahan yang digunakan,
baik sebagai bahan mentah, sumber energi maupun sebagai
bahan pemanas.
Karya industri merupakan kegiatan penduduk kota. Ada
dua ciri khusus yang menunjukkan kekhasan industri lama ini,
yakni ciri kerajinannya dan pengutamaannya pada industri
kain. Ciri kerajinannya pertama-tama terlihat dari

3
kesederhanan peralatan maupun teknik yang digunakan.
Kegiatan industri yang paling diandalkan adalah keterampilan
tangan manusia, adapun tenaga gerak yang digunakan adalah
tenaga hewan, air ataupun angin. Ciri keperkaryaan ini juga
tampak dari cara pengerjaannya yang terkelompok ke dalam
bengkel-bengkel kecil. Keadaan ini tidak menghalangi
kapitalisme yang terlihat pada tahap produksi. Tekstil
merupakan industri konsumtif yang menempati urutan
pertama, selain itu ada dari sektor industri bangunan, adapun
industri tambang dan baja tidak berperan besar.
Perdagangan menjadi salah satu roda penggerak
ekonomi Perancis pada abad ke 17. Sulitnya lalu lintas
perdagangan merupakan ciri dari perekonomian pada abad ke
17, namun hal ini tidak menjadi halangan masyarakat Perancis
dalam berdagang terutama ke beberapa Negara jajahannya
pada saat itu.
Terlalu dominannya sektor pertanian akhirnya menjadi
titik lemah bagi perekonomian pada abad ke 17 di Perancis.
Krisis bahan pokok, yang sebagaimana tercatat di atas
merupakan akibat dari buruknya iklim, yang segera
melumpuhkan sendi perekonomian. Ketika harga roti di kota
melonjak dua, tiga, bahkan empat kali lipat, maka bukan orang
miskin yang tak mampu membelinya, namun orang kaya pun
terpaksa menghentikan semua pengeluaran lain di luar belanja
makanan akibat terjadinya krisis bahan pokok ataupun krisis
dari sector pertanian. Akibatnya dari krisis di sektor pertanian
ini merembet menjadi krisis kekurangan konsumsi di sektor
industri, yang pada gilirannya menimbulkan banyak
pengangguran.

4. Agama dan Kebudayaan

4
Masyarakat Perancis beragama Kristen, namun di
kalangan masyarakatnya masih banyak yang percaya akan
supersititions (takhayul). Dari kepercayaan ini dapat terlihat
kesenjangan besar antara agama Kristen yang secara resmi
diajarkan oleh para rohaniawan dengan kepercayaan maupun
praktik peribadatan kebanyakan orang yang masih percaya
akan takhayul.
Kepercayaan ini meletakkan dogma Kristen dalam suatu
bentuk pandangan dunia yang mengaburkan batas-batas
antara dunia alamiah, dengan dunia gaib. Tuhan dan Iblis
senantiasa giat di dunia ini, demi kebahagiaan dan
kesengsaran manusia. Semua peristiwa yang terjadi, apa pun
bentuknya, merupakan akibat langsung tindakan dari Tuhan
atau Iblis. Itulah sebabnya mengapa suatu penyakit, misalnya,
dianggap bias disembuhkan dengan sembahyang kepada
Tuhan melalui perentaraan salah satu santo penyembuh atau
pun dengan bantuan seorang dukun pengusir roh jahat.
Praktik-praktik seperti ini dikutuk keras oleh pihak Gereja dan
penindasannya makin keras pada pertengahan abad ke 17,
meski tak mampu membasmi tuntas bentuk-bentuk ekspresi
budaya rakyat tersebut.
Akibat adanya penindasan ini, dulunya dari kalangan elit
dengan rakyat sangat erat akan persamaan, kini perlahan
mulai renggang pada abad ke 17 dan terus memburuk.
Kelompok minoritas tokoh Gereja, bangsawan dan borjuis yang
memegang kekuasa dan kekayaan, cenderung berpegang
pada nilai-nilai tersendiri dank arena itu menolak dan
meremehkan cara berfikir dan hidup, yang senantiasa
dianggap salah, bodoh dan kasar.

5
5. Kehidupan Keluarga, Paroki Desa dan Kota
Di luar pemisahan antara yang berkuasa dan yang
tunduk, hampir setiap orang Perancis dari kalangan manapun
asalnya, hidup di dalam wadah-wadah sosial yang memberinya
ikatan kebersaaan dan naungan perlindungan sebagaimana
yang dibutuhkan. Wadah yang pertama adalah keluarga.
Keluarga ada yang berupa keluarga inti (ayah, ibu dan anak),
dan banyak pula yang tinggal bersama keluarga besar dan
rumah tangga yang terdiri dari beberapa pasangan. Seringkali
keluarga dijadikan sebagai sebuah unit produksi baik yang di
kota maupun di desa.
Di desa, setelah keluarga, paroki merupakan wadah
utama bagi kehidupan bersama. Pastor, yang nafkahnya
ditanggung oleh jemaat paroki, berperan sebagai pemimpin,
baik dalam kehidupan kerohanian maupun kehidupan duniawi.
Setiap saat bila diperlukan, majelis lokal yang terdiri dari para
kepala keluarga terkaya berkumpul untuk mengambil
keputusan bagi kepentingan bersama, terutama menyangkut
pembagian pembayaran pajak serta berbagai kegiatan
kemasyarakatan. Ruang seigneuri, yang luasnya bisa
mencakup sebuah paroki, sebagian dari paroki atau bahkan
beberapa paroki sekaligus, merupakan gabungan lahan-lahan
yang terkena pemberlakuan kewajiban hukum adat seigneuri.
Kewajiban ini berupa kerja paksa dan pajak, sebagai bentuk
pengakuan atas kedudukan seigneuri yang memegang hak
kepemilikan tertinggi, aneka macam monopoli (penggunaan
kincir air, penggilingan anggur, tungku pembakaran, kegiatan
berburu), serta hak mengadili.
Kota menikmati kehidupan yang bisa dikatakan otonom.
Dewan kota, yang diduduki orang terkaya, mengurusi berbagai

6
kepentingan kota, menjaga keamanan dengan memelihara
benteng pertahanan dan membentuk satuan polisi kota, serta
memungut pajak seperlunya demi kepentingan tersebut.
Otonomi ini lambat laun menciut sejalan dengan menguatnya
kekuasan monarkis, khususnya mulai masa Louis XIV. Di dalam
konteks kehidupan kota ini, paroki atau lingkungan
pemukiman, lebih-lebih lagi keanggotaan pada jenis pekerjaan
tertentu, pada badan atau komunitas tertentu, yang menjadi
wadah solidaritas paling mendasar.
Wadah-wadah sosial yang terdapat di Perancis pada
abad ke 17 tersebut, bagaimanapun juga memiliki
keterbatasan. Di satu sisi lain semakin meledaknya jumlah
kemiskinan tidak mampu lagi masuk dalam penampungan
wadah-wadah sosial tersebut dan dirasa sangat mengganggu
ketertiban umum. Di sisi lain, kehidupan masyarakat tidak
berlangsung begitu saja tanpa timbulnya aneka ketegangan.
Buruknya hasil panen, atau karena pungutan pajak kerajaan
yang terlalu memberatkan, kemarahan rakyat bisa tiba-tiba
meledak menjadi pemberontakan berdarah. Setelah meledak
sesaat, sering dengan memakan korban jiwa, luapan emosi
yang tanpa tujuan jelas serta kerap tanpa pemimpin itu, akan
reda dengan sendirinya atau diredam dengan aksi penindasan
keras. Keputusan akhir selalu ada di tangan Negara Monarkis,
dengan mempertimbangkan ketakutan yang cepat
menghinggapi para orang yang berada, untuk segera
memulihkan ketertiban umum, apapun caranya.

B. REVOLUSI PERANCIS
1. Pengertian Revolsi Perancis
Revolusi Perancis adalah proses perubahan yang terjadi
di bidang pemerintahan atau ketatanegaraan dan

7
kemasyarakatan yang terjadi di Perancis. Sebelum meletus
revolusi, masyarakat Perancis terbagi kedalam tiga golongan
politik: pertama, golongan bangsawan kaya. Kedua, golongan
gereja atau agamawan, ketiga, rakyat Perancis biasa.
Revolusi Perancis terjadi pada tanggal 14 Juli 1789.
Revolusi prancis dibawah kekuasaan Raja bernama Louis XVI.
Revolusi ini terjadi ketika negara dalam keadaan sangat parah.
Para pelaku Revolusi ini adalah kaum Borjuis (golongan
masyarakat kota) yang ingin menggantikan peranan ulama
dan kaum bangsawan dalam pemerintahan.
Di bidang pemerintahan, terjadi perubahan kekuasaan
dari seorang raja yang bersifat Absolut menjadi pemerintahaan
demokrasi yang undang-undang dasar serta memiliki Dewan
Perwakilan Rakyat di bidang kemasyarakatan, masyarakat
yang terdiri atas golongan yang tidak memiliki hak sama sekali
memiliki berubah menjadi suatu masyarakat yang memiliki
hak yang sama.
Masyarakat kota kaum Borjuis merupakan penentang
utama dari pemerintah Raja Louis XVI. Sejak pemerintahan
Raja Louis anggaran negara selalu mengalami defisit. Adapun
tuntutan kaum Borjuis itu adalah :
a. Menjunjung tinggi kebebasan
b. Menjunjung tinggi asas persamaan
c. Penggunaan akal pikiran yang sehat dan serba perhitungan
d. Kehidupan masyarakat bersifat liberalis.
Pertentangan-pertentangan tersebut mengakibatkan
munculnya beberapa tokoh pembaharuan yang menentang
kekuasaan raja, diantaranya John Locke, Montesquieu,
Rousseau, dan Voltaire.

2. Sebab-sebab terjadinya Revolusi Perancis

8
Latar belakang terjadinya revolusi Perancis ditandai
dengan adanya peristiwa baik yang terjadi di dalam negeri
prancis sendiri maupun di luar negeri seperti revolusi yang
ada di Amerika. Sebab-sebab terjadinya revolusi Perancis
antara lain:
a. Adanya pemborosan dalam penggunan keuangan negara
yang dilakukan oleh raja dan bangsawan untuk kepentingan
dan kesenangan pribadi.
b. Adanya pengaruh dari luar, yaitu keberhasilan revolusi
rakyat Amerika untuk menentang ketidak adilan dan
penindasan oleh penjajah Inggris.
c. Usaha Jenderal Lafayette dalam mengobarkan semangat
serta cita-cita perang kemerdekaan Amerika guna
mendapatkan kemerdekaan, kebangsaan dan kebersamaan.
d. Kebencian rakyat kepada penjara bastille.

3. Jalannya Revolusi Perancis


Situasi di perancis semakin kritis ketika terjadi sidang
Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 5 Mei 1789 yang
dihadiri oleh :
a. Wakil golongan I (bangsawan) = 300 orang
b. Wakil golongan II (agamawan) = 300 orang
c. Wakil golongan III (Borjuis) = 600 orang
Wakil golongan 1 dan 2 menghendaki pemungutan suara
berdasar golongan. Mengapa demikian karena mereka akan
satu suara. Golongan 3, 32 menghendaki suara perorangan
sehingga berimbang bahkan mungkin ada tambahan suara
dari golongan 1 dan 2 yang bersimpati dengan mereka.
Terhadap perbedaan ini raja tidak bersikap tegas.
Pada tahap berikutnya golongan III menyatakan Etats
Genaraux sebagai Assemblee Nationale (Dewan Nasional)
yang melanjutkan Sidang tanpa megnenal golongan pada
tanggal 17 Juni 1789 Peristiwa ini dianggap sebagai awal
dimulainya Revolusi politik di Negara Perancis. Situasi politik di

9
Perancis semakin memanas dan puncaknya adalah serangan
rakyat terhadap penjara Bastille pada tanggal 14 Juli 1789.
Penjara Bastille merupakan lambang kekuasaan dan
sewenang-wenangan raja Louis, karena ditempat ini lah para
pemimpin rakyat di penjarakan. Dengan jatuhnya Bastille
ketangan Perancis, maka pada tahun 1791 Perancis menjadi
sebuah negara yang berbentuk Monarki konstitusi (kerajaan
berundang-undang).
Semboyan Revolusi Perancis adalah Liberte (kebebasan),
Egalite (persamaan) dan Freternite (persaudaraan). Dengan
hasil pemikiran J.J Rousseau yang kemudian diabadikan
dengan bentuk bendera merah, putih, biru dan tanggal 14 Juli
diperingati sebagai Hari Nasional Perancis.
Pada pelarian bangsa Perancis dibantu oleh kerajaan
Rusia dan Austria melakukan penyerangan untuk
mengembalikan kekuasaan absolut di Perancis. Raja Perancis
yaitu Raja Louis dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal
lehernya pada tahun 1792.
Kerajaan Perancis akhirnya diubah menjadi republik
dengan membantu pemerintahan Teror (sistem pemerintahan
secara diktator) dipimpin oleh Robespierre (1792-1794) dari
partai Montagne tetapi keadaan kacau dan Robespierre
berhasil digulingkan dijatuhi hukuman mati dengan pisau
Guillotine. Perancis dibawah kekuasaan Napoleon Bonaparte
semakin baik. Oleh karena itu rakyat Perancis memberi
kepercayaan penuh pada tahun 1804 ia diangkat menjadi
kaisar Perancis yang diresmikan oleh Paus Pius VII.

4. Dampak Revolusi Perancis


Revolusi Prancis yang dicetusi pada tanggal 14 Juli 1789
terdapatnya pengaruh dan perubahan diberbagai bidang,
diantaranya:

10
a. Bidang Politik
1) Negara menjadi Republik
2) Berkembang paham demokrasi modern
3) Timbulnya rasa nasionalisme
4) Undang-undang merupakan kekuasaan tertinggi
b. Bidang Ekonomi
1) Sistem pajak feodal dihapuskan
2) Sistem monopoli dihapuskan
3) Petani menjadi pemilik tanah
4) Industri dustri besar bermunculan
c. Bidang Sosial
1) Dibentuknya susunan masyarakat baru
2) Pendidikan dan pengajaran merata di semua lapisan
masyarakat
3) Sistem Feodalisme dihapuskan

C. REVOLUSI INDUSTRI INGGRIS


1. Latar Belakang
Pada abad pertengahan, kehidupan di Eropa diwarnai
oleh sistem Feodalisme. Sistem Feodalisme Eropa
mengandalkan sektor pertanian, lazim disebut Latifundia
(pertanian tertutup). Hubungan perdagangan antara Eropa
dengan dunia Timur (Timur Tengah dan Asia lainnya) tertutup
setelah perdagangan di Laut Tengah dikuasai oleh para
pedagang Islam abad ke 8 sampai abad ke 14.

Dengan meletusnya perang salib (1096-1291) hubungan


Eropa dengan dunia Timur hidup kembali. Muncul kota-kota
dagang antara lain Genoa, Florence dan Venesia yang semula
menjadi pusat pemberangkatan pasukan salib ke Yerusalem.

Lahirnya kembali kota-kota dagang diikuti oleh


munculnya kegiatan industri rumahan (home industry). Dari
kegaitan ini terbentuklah gilda (guild) yaitu perkumpulan dari
pengusaha sejenis yang mendapat monopoli dan perlindungan
usaha dari pemerintah. Kelompok gilda (guild) hanya

11
memproduksi jika ada pesanan dan hanya satu jenis barang
yang diproduksi misalnya gilda roti (loaf guild), gilda sepatu
(shoe guild), gilda senjata (weapon guild) dan lain-lain.

Sejak tahun 1350 (abad 14) muncul organisasi


perserikatan kota-kota dagang di Eropa utara yang disebut
Hansa. Tujuan pembentukan hausa adalah untuk bersama-
sama melindungi usaha perdagangan didukung oleh armada
laut dan pasukan sendiri.

Kemudian pada abad 15 dan 16, ditemukan banyak


wilayah baru atau tanah jajahan di Afrika, Asia, dan Amerika
oleh pelaut-pelaut Eropa sehingga berkembanglah
perdagangan lewat laut yang kemudian mengakibatkan
terbentuknya kaum borjuis yang kaya dan sangat berpengaruh
di Inggris, Belanda, Perancis, beberapa daerah di Jerman dan
Italia. Kemunculan golongan menegah ini, yang menguasai
sektor ekonomi dan melahirkan kapitalisme, akhirnya
berhadapan dan melahirkan ketegangan dengan tuan tanah
yang telah mendominasi sebelumnya.
Revolusi ini ditandai dengan penyebaran Pencerahan,
keberhasilan para filsuf dan karya - karya mereka. Mereka
berupaya memperluas kemampuannya dalam menguasai alam
dan memperbanyak pengetahuannya. Revolusi ini dalam
kaitannya dengan ekonomi, mereka bertekad mengurangi dan
mengganti kerja kasar atau tenaga manusia dengan mesin.
Kecenderungan ini terjadi menjelang tahun 1750, di Perancis,
Jerman, Belanda dan terutama di Inggris.
Dengan adanya bahan mentah yang melimpah dari
tanah jajahan ditambah kecenderungan untuk efisiensi kerja
untuk menghasilkan yang sebesar-besarnya, maka

12
perdagangan yang ada saat telah menghapus ekonomi semi-
statis abad-abad pertengahan menjadi kapitalisme yang
dinamis yang dikuasai oleh pedagang, bankir, dan pemilik
kapal. Inilah awal dari perubahan yang cepat dan keras dalam
dunia ekonomi yang kemudian memunculkan Revolusi Industri,
yang bukan hanya bergerak dalam perdagangan, tetapi
meluas juga pada dunia produksi.
Sebenarnya, ada dua faktor yang melatar belakangi
terjadinya revolusi industri, yaitu :

a. Faktor Ekstern

1) Terjadinya revolusi ilmu pengetahuan abad 16 dengan


munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, Rene
Descartes, Galileo Galilei, Copernicus, Isaac Newton dan
lain-lain.

2) Ditunjang adanya lembaga-lembaga riset yaitu:

The Royal Society for Improving Natural Knowledge

The Royal Society of England (1662)

b. Faktor Intern

1) Keamanan dan politik dalam negeri yang mantap

2) Berkembangnya kegiatan wiraswasta dari masyarakat


kaya dan pemilik modal

3) Munculnya minat masyarakat pada industri manufaktur

4) Inggris, memiliki jajahan yang luas

13
5) Kaya akan sumber alam antara lain batubara (cokes) dan
biji besi yang tinggi mutunya.

6) Munculnya paham ekonomi liberal

7) Munculnya revolusi agraria yaitu perubahan sangat cepat


dalam penataan tanah dengan berlakunya metode baru
dalam pertanian yaitu dengan:

Pemagaran dan pengelolaan yang terus- menerus

Pemupukan

Irigasi

8) Pada abad 17 berkembanglah dunia pelayaran dan


perdagangan. Di Inggris banyak berdiri kongsi dagang
seperti : EIC, Virginia Co, Plymouth Co dan Massachussets
Bay Co.

2. Kemunculan Revolusi Industri Inggris

Revolusi industri, pertama kali, ditandai dengan


penggunaan mesin untuk pabrik pemintalan kapas. Dari tahun
1760 sampai 1870 banyak disaksikan penggunaan mesin-
mesin ini. Salah satu yang dikembangkan adalah mesin
pemintal benang yang diberi nama Jenny yang diciptakan
James Hargreaves, pada tahun 1767, yang diambil dari nama
istrinya. Hanya saja, mesin ini ternyata tidak kuat, sampai di
temukannya kerangka air oleh Ricard Arkwight dua tahun
kemudian. Pada tahun 1779, Samuel Croupton

14
menggabungkan alat pemintal Jenny dengan karangka air
menjadi sebuah mesin yang diberi nama Mule. Salanjutnya,
ditemukan juga mesin tenun oleh Cartwright pada tahun 1785
yang disempurnakan beberapa tahun kemudian.
Penemuan-penemuan ini, pada gilirannya mendorong
munculnya sistem pabrik. Sebab, mesin pemintal benang,
kerangka air, penggulung benang dan lainnya adalah mesin-
mesin besar dan berat yang tidak bisa dipasang di kedai yang
dioperasionalkan oleh seorang pekerja. Artinya, disini perlu
dana dan lahan yang besar. Untuk itulah, maka pada pertama
kalinya, tahun 1771, Ricard A, penemu mesin kerangka air,
mendirikan sebuah pabrik.
Pada perkembangan selanjutnya, dengan ditemukan
mesin uap yang bisa dipergunakan sebagai penggerak mesin
berat, sistem pabrik menjadi semakin berkembang. Pada
gilirannya, sistem kerja mesin-mesin dalam pabrik ini
kemudian melahirkan temuan-temuan mesin baru yang
mendorong lahirnya industri-industri besar berikutnya.
Pada tarap berikutnya, munculnya industri-industri besar
hasil penemuan mesin-mesin sederhana sebelumnya,
melahirkan penemuan dalam bidang tranportasi, kereta api,
kendaraan bermesin (otomobil), navigasi uap (kapal uap),
telegram dan alat-alat pertanian. Kenyataan ini, pada
gilirannya juga melahirkan industri baru untuk mendukung
penemuan-penemuan tersebut.
Penemuanpenemuan lainya :
a. John Kay menemukan kumparan terbang.
b. Edmund Cartwright menemukan alat tenun dengan tenaga
uap tahun 1785.

15
c. James Watt menemukan mesin uap yang dipatenkan pada
tahun 1796.
d. George Stephenson menemukan Kereta Api yang
dinamakannya Rocket pada tahun 1829.

Atas hasil temuannya James Watt sering digelari sebagai


Bapak Revolusi Industri walaupun sebenarnya penemuannya
merupakan penyempurnaan dari mesin uap hasil penemuan
Thomas New Comen tahun 1712. Penemuan berikutnya tidak
hanya dibidang mesin produksi tekstil saja tetapi juga alat
transportasi darat, laut dan udara, elektronika yaitu pesawat
telepon, telegraph dan radio serta bidang kimia. Penemuan
tidak hanya di Inggris melainkan juga merambah ke negara
lain seperti Perancis, Italia, Belanda, Amerika Serikat dan
beberapa Negara lainnya.

Untuk sampai pada tingkat industri modern, pembuatan


barang-barang dimulai dari tingkat kerajinan yang secara
bertahap berkembang sebagai berikut:
a. Domestic System (kerajinan rumah tangga), ciri - cirinya
adalah:
1) Pengrajin membuat barang-barang di rumah masing-
masing dan dikerjakan secara manual.
2) Menggunakan alat produksi yang masih trasidional milik
sendiri.
3) Hasil produksi dijual kepada pengusaha.
b. Manufaktur Industry
1) Pekerja bekerja di rumah majikan dengan alat produksi
yang masih digerakkan dengan tenaga manusia.
2) Jumlah pekerja sekitar 10 orang.
3) Rumah majikan berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat
bekerja sekaligus tempat berjualan.
c. Factory System

16
1) memproduksi barang-barang secara masal menggunakan
mesin
2) tempat berproduksi di kawasan industri terpisah dengan
tempat tinggal dan tempat penjualan barang

Industrialisasi berkembang pesat di Inggris buktinya jika


pada abad 17 Inggris mengimpor bahan katun dari India yang
disebut Kaliko maka setelah revolusi industri India berbalik
mendatangkan kain buatan Inggris. Pada tahun 1851 ratu
Victoria membuka pameran mesin-mesin. Selain itu pada peta
di bawah ini tampak bertebaran pusat-pusat industri dan
pertambangan di seluruh Inggris.

Peta pusat industri dan pertambangan Inggris

3. Revolusi Industri Kedua

Setelah berjalan satu abad, sekitar tahun 1860,


Revolusi Industri memasuki fase baru yang berbeda dari apa

17
yang sudah lalu, yang dikenal sebagai Revolusi Industri tahap
kedua. Kejadian-kejadian yang terjadi pada periode itu
terutama ada tiga hal: perkembangan proses Bessemer dalam
membikin baja pada tahun 1856; penyempurnaan dinamo
kira-kira pada tahun 1873; dan penciptaan mesin pembakaran
di dalam pada tahun 1876. Perbedaan antara Revolusi Industri
tahap kedua ini dibanding tahap pertama adalah :

a. Adanya penggantian baja ditempat besi sebagai bahan


industri pokok

b. Penggantian batu arang dengan gas dan minyak sebagai


sumber pokok tenaga dan penggunaan listrik sebagai
bentuk pokok tenaga industri.

c. Perkembangan mesin otomatis dan peningkatan yang tinggi


spesialisasi buruh.

d. Penggunaan campuran dan metal yang ringan dan hasil


industri kimia.

e. Perubahan radikal dalam transportasi dan komunikasi.

f. Pertumbuhan bentuk-bentuk baru organisasi kapitalis.

g. Tersiarnya industrialisasi di Eropa Tengah dan Timur dan


bahkan di Timur Jauh.

4. Dampak Dampak Revolusi Industri

Dampak revolusi industri bagi umat manusia terasa


dalam berbagai bidang, yaitu :

18
a. Munculnya industri secara besar-besaran.

b. Peningkatan mutu hidup, hidup menjadi lebih dinamis,


manusia bisa menciptakan berbagai produksi untuk
memenuhi kebutuhannya.

c. Harga barang menjadi murah dikarenakan ongkos produksi


berkurang.

d. Meningkatnya urbanisasi ke kota-kota industri.

e. Berkembangnya kapitalisme modern.

f. Golongan kapitalis mendesak pemerintah untuk


menjalankan imperialisme modern.

Dampak negatif revolusi industri khususnya di Inggris


adalah upah buruh yang murah. Upah buruh yang murah
menyebabkan timbulnya keresahan yang berakibat pada
munculnya kriminalitas dan kejahatan.

Upaya untuk memperbaiki nasib buruh dan masalah


sosial di Inggris melahirkan aliran sosialisme dan revolusi
sosial yang ditandai dengan keluarnya undang-undang berikut
ini:

a. Catholic Emancipation Bill (1829) menetapkan hak yang


sama bagi umat protestan dan katolik untuk menjadi
pegawai negeri dan anggota parlemen . Sebelumnya berlaku
Test Act sejak tahun 1673 yang melarang umat katolik
menjadi pegawai negeri dan anggota Parlemen, sehingga
mereka banyak yang pindah terutama ke Amerika.

19
b. Abolition Bill (1833) berisi penghapusan sistem perbudakan
di daerah jajahan Inggris.

c. Factory Act (1833) yang menetapkan:

1) Anak-anak yang berusia 9 tahun tidak boleh dipekerjakan


sebagai buruh perusahaan dan tambang.

2) Anak-anak di atas usia 9 tahun boleh bekerja 9 jam sehari


dengan 2 jam mendapat pendidikan dari majikan.

d. Poor Law (1834) berisi pendirian rumah-rumah bagi


pengemis dan penganggur agar tidak berkeliaran. Bantuan
bagi yang berusia lanjut serta perawatan bagi penganggur
dan pengemis yang cacat atau sakit.

D. Pengaruh Situasi Sosial Pasca Revolusi Perancis dan


Revolusi Inggris Terhadap Lahirnya Teori Sosiologi

Perkembangan pengetahuan suatu masyarakat akan


sangat berhubungan dengan situasi sosial yang
melatarbelakanginya. Hal ini terjadi pada pengetahuan
tentang sosiologi. Sebuah pemikiran sosiologi tidak saja
dibentuk dari sebuah situasi sosial tetapi juga menempatkan
situasi sosial tersebut sebagai suatu perhatian utama (subject
matter). Beberapa situasi sosial pada abad ke 19 dan awal
abad ke 20 merupakan kondisi yang sangat penting dalam
perkembangan sosiologi. Diantaranya adalah situasi yang
berkaitan dengan revolusi politik, revolusi industri, dan
munculnya kapitalisme.

20
Rizer mengemukakan beberapa kekuatan sosial yang
melatarbelakangi munculnya teori-teori sosial dan sekaligus
menjadi fokus perhatian para ahli sosial, sebagian adalah
dalam teori filsafat. Kekuatan sosial yang diidentifikasi oleh
Rizer sebagai dasar kelahiran teori-teori sosial adalah revolusi
politik, revolusi industri dan kapitalisme, perkembangan
sosialisme, feminisme, urbanisasi, perubahan agama, serta
pertumbuhan ilmu pengetahuan. Perkembangan teori-teori
sosial tersebut tidak hanya terjadi di satu Negara, tetapi di
beberapa kawasan negara di kawasan Eropa, di antaranya
Perancis, Jerman, Italian, dan Inggris. Di Perancis kekuatan
sosial tersebut telah melahirkan para pemikir seperti
Montesquieu (1689-1755), Rousseau (1712-1778), De Bonald
(1754-1840), De Maistre (1753-1821), Saint Simon (1780-
1825), Comte (1702-1857), Martineau (1802-1876), dan
Durkheim (1858-1917). Tokoh-tokoh tersebutlah yang
mempengaruhi proses lahirnya teori-teori sosial. Pengaruh dari
lahirnya teori-teori sosial itu membawa perubahan terhadap
revolusi perancis yaitu berubahnya proses yang terjadi
dibidang pemerintahan atau ketatanegaraan dan
kemasyarakatanyang terjadidi perancis. Begitupun dengan
revolusi industri bahwa terjadinya revolusi itu adanya sistem
pengolahan teknologi seperti mesin uap dan berbagai
teknologi lainnya yang menggantikan pekerjaan manusia dan
hewan.

Perkembangan teori sosiologi tidak dapat dipisahkan


dengan proses urbanisasi. Sebagai salah satu dampak revolusi
industri yang tumbuh dikota-kota adalah perpindahan
sejumlah besar penduduk dari desa ke kota yang terjadi pada
abad ke-19 dan abad ke-20. Perpindahan penduduk secara

21
besar-besaran ke kota dari desa terutama disebabkan adanya
peluang kesempatan kerja yang diciptakan oleh dunia industri
di kota.

DAFTAR RUJUKAN

Rujukan dari buku

22
Carpentier, Jean & Francouis Lebrun. 2011. Sejarah Perancis:
Dari Zaman Prasejarah Hingga Akhir Abad ke-2, Jakarta.
Gramedia

Sundoro, Mohammad Hadi. 2009. Dari Renaisans sampai


Imperialisme Modern. Jember. University Press

Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa: Dari Eropa Kuno hingga


Eropa Modern. Jogjakarta, Ombak.

Furet, Francouis & Deni Richet, 1989. Revolusi Prancis,


Jogjakarta, Gajah Mada University Press.

Ritzer, George. 1996. Classical Sociological Theory. New


York, McGraw-Hill, Inc.

Rujukan Dari Internet

Sholeh, A Khudori. 2014. Revolusi Industri Di Inggris.


<hhtps://id.scribd.com/doc/4812047/Revolusi-Industri-
Inggris> [27/2/2017]

23