Anda di halaman 1dari 19

Peran Agama Melahirkan Perdamaian

Peranan agama dalam menciptakan tata dunia baru yang berkeadilan sangat penting. Konflik di
Gaza mengajak kita semua merenungkan kembali makna hakiki yang mendasar mengenai sejauh
mana sumbangan agama dalam menciptakan perdamaian. Sejak konflik Gaza meletus, berbagai
tokoh agama di Indonesia bergandengan tangan mengusahakan perdamaian dan berupaya
mencari solusi menghentikan konflik. Mereka tidak hanya datang ke perwakilan PBB di Jakarta,
bahkan menulis surat kepada Presiden Obama agar politik Amerika segera mengubah haluan.
Berubah untuk lebih aktif dalam memelihara perdamaian dunia. Khususnya, mengusahakan
perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Dalam konteks politik Amerika, Thomas F Farr dalam World of Faith and Freedom
menggarisbawahi, pemahaman agama yang kurang mendalam dalam kebijakan politik mereka.
Pengalaman selama 21 tahun dalam pengabdian sebagai Direktur Kebebasan Beragama
Komunitas Internasional, Farr menyoroti kebijakan luar negeri Amerika yang sering kali tidak
tepat, misalnya dalam masalah Afghanistan dan Irak yang tidak peka terhadap kultur
keberagamaan.

Ini merupakan bentuk pelanggaran yang paling mendasar, yakni kebebasan beragama. Amerika
memaksakan demokrasi menjadi model konstitusi dengan mengabaikan aspek paling asasi
manusia, yakni agama. Agama kerap kali dijadikan alat pembenaran untuk menciptakan konflik,
terutama dalam melegalkan kekerasan atas nama agama. Padahal jelas bahwa agama merupakan
sarana yang teramat penting dalam menciptakan perdamaian dunia.

Tentu saja, kebebasan agama tidaklah hanya sekadar kebebasan dari penyiksaan atau hukuman
penjara yang tak adil. Kebebasan agama meliputi hak untuk berbagai tindakan publik dan dalam
rangka berperan untuk pembentukan kebijakan publik. Kebebasan agama mengarahkan klaim
bahwa agama dan status bisa secara terus-menerus didamaikan dan seimbang. Perang tidak akan
menyelesaikan masalah melainkan hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan baru.

Kehancuran Nilai Kemanusiaan

Cukup menarik memerhatikan seruan Paus Benediktus XVI dalam doa kepada dunia
mengharapkan agar gencatan senjata segera diwujudkan untuk menghentikan kekerasan. Apa
pun alasannya, kekerasan itu telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Desakan lebih kuat juga datang dari Konferensi Uskup Amerika yang meminta agar Amerika
segera menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh Israel. Namun, seruan para tokoh dunia ini
belum membuat Israel berhenti melakukan pengeboman terhadap warga sipil tidak berdosa.
Perang merupakan bibit kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Perang tidak akan membawa
perubahan terciptanya perdamaian. Perang tidak akan menyelesaikan masalah. Perang hanya
akan melahirkan masalah baru yang jauh lebih rumit dibandingkan sebelum perang.

Apa yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina jelas melanggar moralitas kemanusiaan, HAM,
dan melukai demokrasi yang telah susah payah dibangun di Palestina. Israel seperti monster yang
menakutkan. Demikian juga para militansinya yang kerap menjadikan penduduk sipil tak
bersalah sebagai tameng peperangan. Permasalahan Israel dan Palestina sudah bergeser dari
masalah-masalah ideologis menjadi masalah kemanusiaan universal. Dengan alasan itulah maka
setiap umat beragama apa pun dan dari kelompok mana pun yang mencintai perdamaian sudah
seharusnya menggerakkan spirit perdamaian yang lebih luas.

Salah satu tantangan yang sangat besar dalam menciptakan kerukunan agama adalah
fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam
berbagai bentuk kekerasan. Semua agama memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan kapan
pun dan dimana pun. Hakikat agama adalah untuk kedamaian. Agama telah menunjukkan jalan
terbaik sehingga sekarang tinggal bagaimana berbagai kepentingan tersebut bertemu satu meja,
dan terimplementasikan dalam kehidupan nyata masyarakat. Perlunya penyadaran bahwa
sebenarnya agama bukanlah kekuatan yang destruktif, tapi sebaliknya, transformatif.

Kesalehan Sosial

Dialog antaragama tidak boleh berhenti sebatas formalitas belaka. Pembumian makna dialog ini
berarti menepis hal-hal yang berbau ritual dan formal, tapi lebih menjunjung tinggi aspek
semangat dan rohnya. Lebih jauh lagi, pembumian makna dialog juga berarti bagaimana
masyarakat bawah menerima cahaya kedamaian ini guna menjalankan kehidupan dalam suasana
yang tenang tanpa ketakutan dan kecemasan.

Yang perlu mendapat prioritas adalah bagaimana membangun kesadaran dalam beragama.
Keberagamaan kita mestinya tidak sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga kesalehan
sosial. Kesalehan sosial, selain bermakna kepedulian di bidang ekonomi, juga kepedulian untuk
tidak menghardik umat dari agama lain.

Jika agama kita berwajah seperti itu, wajah agama kita amat manusiawi, sebab orientasinya tidak
egoistik, tetapi mengandung relasi dengan sesama, bahkan altruistik. Jika demikian, tiap ibadat
pun lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat
kemanusiaan.

Mempersembahkan korban bukan hal utama dalam agama, tetapi pemihakan kepada nilai-nilai
kemanusiaan.

Tugas umat beriman adalah menyucikan dunia dengan menegakkan kemanusiaan manusia dan
keadilan yang bermoral. Keberagamaannya bukan untuk kepentingan diri sendiri yang egostik,
tetapi sebaliknya altruistik. Romo Mangun (Alm) mengatakan, orang yang memiliki religiusitas
itu tidak memikirkan diri sendiri, justru memberikan diri untuk keselamatan orang lain. Iman
harus menghasilkan buah kebaikan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Intinya, beragama
secara benar adalah bila kita mampu mengendalikan organ tubuh kita sendiri untuk tidak
memuaskan diri sendiri.

Upaya menciptakan toleransi dan kerukunan antarumat beragama sering kali terhalang karena
yang ditonjolkan dalam diri setiap agama bukanlah persamaannya, melainkan perbedaannya.
Sudah dipahami bahwa agama satu berbeda dengan lainnya, namun jarang dipahami bahwa salah
satu cara baik untuk terus-menerus memperbaiki kehidupan beragama dalam bingkai pluralitas
adalah memperbesar dan menonjolkan aspek persamaan yang ada. Sikap keberagamaan umat
sangat tergantung dari sejauh mana umat dewasa melihat perbedaan sebagai potensi perdamaian,
bukan potensi konflik. Perbedaan adalah keniscayaan yang alamiah, dan karena itulah dimengerti
sebagai bekal untuk memupuk rasa persaudaraan dan kemanusiaan.
Islam dan Hubungan Antarumat Beragama di Indonesia
HUBUNGAN antarumat beragama di Indonesia tampaknya kembali mengalami cobaan dan
ujian berat dua tahun terakhir ini. Kalau diikuti dengan cermat tampak bahwa hal ini masih
akan berlangsung cukup lama.

Memulihkan hubungan yang semula tampak harmonis dan kemudian mengalami keretakan,
bukanlah hal yang mudah. Namun, masa depan kita sebagai bangsa banyak bergantung
kepada kemampuan pemulihan hubungan itu. Kegagalan dalam hal ini dapat mengakibatkan
ujung traumatik yang mengerikan: terpecah-belahnya kita sebagai bangsa.

Karenanya, mau tidak mau kita harus mengerahkan kemampuan sekuat tenaga untuk
mewujudkan pemulihan hubungan antarumat beragama itu. Untuk keperluan itu, kita terlebih
dahulu harus memahami sebab-sebab paling dasar dari retaknya hubungan dan sisi-sisi
multidimensional dari kemelut yang dihadapi. Tanpa mengetahui penyakitnya, tentu tak
akan ditemukan obatnya, dan penyembuhan tidak akan mungkin dilakukan.

***

PADA hakikatnya, sebuah masyarakat heterogen yang sedang tumbuh, seperti bangsa kita, tentu
sulit untuk mengembangkan saling pengertian yang mendalam antara beraneka ragam
unsur-unsur etnis, budaya daerah, bahasa ibu, dan kebudayaannya. Kalaupun tidak
terjadi salah pengertian mendasar antara unsur-unsur itu, paling tidak tentu saling pengertian
yang tercapai barulah bersifat nominal belaka. Dengan kata lain, suasana optimal yang dapat
dicapai bukanlah saling pengertian, melainkan sekadar sangat kurangnya kesalahpahaman.

Pola hubungan "harmonis" seperti itu, dengan sendirinya tidak memiliki daya tahan yang
ampuh terhadap berbagai tekanan yang datang dari perkembangan politik, ekonomi, dan
budaya. Kerukunan yang ada hanyalah kondisi yang rapuh, yang mungkin dapat diistilahkan
dengan ungkapan dari masa Perang Dingin antara negara-negara adikuasa dahulu: hidup
berdampingan secara damai (peaceful co-existence).

Sudah tentu kedamaian yang terselenggara hanyalah sekadar sikap bertetangga baik,
tanpa rasa senasib dan sepenanggungan di antara orang yang merasa sesama bersaudara.
Hubungan baik yang disifati hanya oleh tatakrama dan rasa saling menghormati secara lahiriah
belaka. Persambungan rasa tentu akan sangat sedikit terjadi dalam keadaan demikian.

Perbedaan sikap dan pandangan, apalagi perbenturan kepentingan, dapat membuat


ketenangan suasana sewaktu-waktu berubah menjadi kebalauan. Mereka yang tadinya
saling menghormati, tiba-tiba dapat bersikap saling menyalahkan. Mereka yang tadinya
santun satu sama lain, sekonyong-konyong
dapat bersikap saling menyalahkan. Suasana kejiwaan yang dipenuhi rasa terkejut karena
semula keadaan baik-baik saja, menambah intens rasa "kehilangan" ketenangan semula. Hal itu
lalu memperbesar rasa tambah parahnya keadaan lebih dari kenyataan yang sebenarnya
berlangsung.

***

DARI apa yang diuraikan di atas, menjadi nyata bagi kita, bahwa masalah pokok kita dalam
hal hubungan antarumat beragama, adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus
dan berkelanjutan. Kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh, kalau umat agama-
agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekadar saling
menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya
hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain.

Karena Islam adalah agama golongan penduduk mayoritas bangsa kita, maka menjadi sangat
menyedihkan, bahwa sampai hari ini masih sangat luas sikap negatif mereka kepada pihak-
pihak lain. Materi khotbah dan ceramah para pemimpin Islam, dari kalangan ulama hingga
kalangan cendekiawan, masih berubah sewaktu-waktu menjadi sangat memprihatinkan.

Memang mayoritas bangsa kita, yang notabene, beragama Islam, masih dicengkam oleh
kemiskinan dan kebodohan, sehingga mudah "dirayu" untuk berpindah agama secara murahan.
Kondisi logis dari kenyataan itu sebenarnya adalah keharusan bagi gerakan Islam untuk
memajukan umat mereka. Ini berarti

keharusan untuk melakukan transformasi multidimensional atas kehidupan umat yang mereka
pimpin, bukannya mencari kambing hitam atas keterbelakangan dan ketertinggalan sendiri.

Ini tidak berarti, para pemimpin Islam di segenap tingkatan harus menutup mata terhadap
semua ekses yang terjadi dalam kehidupan beragama di negeri kita. Harus diambil
langkah-langkah untuk menangani dan mencegah terulangnya ekses-ekses itu, termasuk
cara penyebaran agama terlalu agresif, yang dilakukan oleh sementara kelompok penganut
agama dari golongan minoritas. Namun, cara penanganan dan penangkalan haruslah
dilakukan dengan bijaksana, tanpa harus melakukan generalisasi terhadap semua warga umat
dari agama tersebut.

Tentu kaum muslimin di negeri kita tidak mau dipersalahkan atas kegiatan negatif yang
dilakukan oleh minoritas muslimin di negeri-negeri lain. Kita hanya mampu mendudukkan
masalah ini secara proporsinal. Kenyataan sederhana ini dan kearifan seperti dituntut di atas,
memang tidak mudah untuk diwujudkan, apalagi untuk dikembangkan dalam lingkup, yang
luas. Namun, kita tidak punya pilihan lain, kalau masih diinginkan bangsa kita yang demikian
heterogen dapat mengembangkan diri menjadi bangsa yang kukuh sendi-sendi kehidupannya
dalam memasuki abad ke-21 nanti.

Semua pihak di kalangan kaum muslimin memikul tanggung jawab untuk menumbuhkan rasa
memiliki terhadap semua warga masyarakat bangsa kita, karena hanya dengan cara demikian
Islam dapat tumbuh menjadi kekuatan pelindung bagi seluruh penduduk negeri ini secara
keseluruhan.
Mewujudkan Masyarakat Madani
oleh Ir.H.Suparman,SH,M.Si
Inti utama agama diyakini sebagai ajaran hidup kemanusiaan universal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana telah disampaikan para nabi dan rasul yang
dibangkitkan Tuhan untuk setiap umat. Ajaran universal itu merupakan wujud rahmad
Tuhan kepada seluruh alam dan menjadi ajaran kasamaan (kalimat sawa) atau titik
temu semua agama (Q 3 : 64). Dalam Kitab Suci juga disebutkan bahwa ajaran
universal itu adalah jalan hidup atau Syariah yang diajarkan dalam semua agama,
sama seperti yang telah diajarkan Tuhan kepada nabi Nuh, Nabi Muhammad, serta
kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Karena itu ajaran kepatuhan kepada
Tuhan harus ditegakkan dan umat manusia tidak dibenarkan bertikai dalam ajaran itu,
suatu hal yang amat berat dan sulit dipahami oleh mereka yang tidak berpaham
Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid, yaitu kaum musyrik-(Q 42 : 13). Untuk dapat
menangkap ruh ajaran universal itu, manusia harus beriman kepada semua kitab suci
serta semua nabi dan rasul, tanpa membeda-bedakan salah seorang pun dari mereka,
dengan sikap semuanya berserah diri (berislam) kepada Tuhan dalam semangat
kedamaian (salam)-(Q 2 : 13). Oleh karena itu, Alquran menegaskan bahwa para
pengikut semua nabi dan rasul adalah umat yang tunggal dan semua mereka tidak
menyembah kecuali Tuhan Yang Maha Esa-(Q 21 : 92). Maka diingatkan agar kita tidak
bertikai dengan para penganut kitab suci, kecuali terhadap yang zalim dari kalangan
mereka. Kita diwajibkan percaya kepada ajaran semua kitab suci itu, sebab tuhan bagi
bagi semuanya adalah Tuhan yang sama. Yang Maha Esa, dan semuanya ber-isla,
tunduk-patuh kepada Tuhan dalam semangat kedamaian, yaitu salam-(Q 29 : 46).
Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa agama para nabi itu satu dan
sama, dan para nabi adalah bersaudara tunggal bapak lain ibu-(Hadist). Yaitu bahwa
mereka berpijak pada ajaran pokok yang sama, sekalipun mungkin berbeda-beda
dalam jalan dan cara pelaksanaan ajaran pokok itu, sesuai dengan tutuntan khusus
ruang dan waktu. Karena itu, kitab suci juga menegaskan bahwa Tuhan telah
menetapkan syirah (jalan) dan minhaj (cara) yang berbeda-beda untuk setiap golongan
umat manusia, sesuatu yang tudak dibenarkan menjadi bahan pertikaian, tetapi justru
harus mendorong
perlombaan menuju kepada berbagai kebaikan. Sebab, wewenang untuk menjelaskan
mengapa terjadi perbedaan itu di antara manusia hanya ada pada Tuhan, kelak jika
umat menusia telah kembali kepada-Nya-(Q 5 : 48).
Oleh karena itu, masing-masing golongan, dalam semangat kerinduannya
kepada sentralitas, punya arah sendiri ke mana mereka menghadap, yag semua itu
juga tidak perlu menjadi bahan pertengkaran, melaikan hendaknya juga menjadi
pendorong terjadinya perlombaan menuju kepada berbagai kebaikan-(Q 2 : 148).
Sebab, Tuhan adalah Pemilik timur dan barat, Pemilik dua timur dan dua barat, Pemilik
semua timur dan barat, yakni, Pemilik segenap penjuru angin, sehingga kemanapun
kita mengahadap di sana ada wajah Tuhan-(Q 2:152; 55:17; 70:40). Dan, kebajikan
tidaklah merupakan sikap menghadap ke timur ataupun ke barat dalam sikap kesalehan
lahiri, melainkan ada dalam tindakan dan amal nyata, dimulai dengan keimanan kepada
Tuhan sebagai dasar dan pangkal tolak, diteruskan kepada keteguhan menepati janji
antara sesama manusia dan ketabahan hati dan jiwa dalam menempuh jalan hidup
yang sulit, yang penuh dengan tantangan dan rintangan-(Q 2 : 177). Kita semua
menyakini adanya inti ajaran universal itu. Kita semua berpegang kepada petunjuk
Tuhan bahwa kita harus beriman kepada semua kitab suci dan semua nabi yang telah
dibangkitkan Tuhan pada setiap umat (Q 16 : 36). Kita beriman kepada kitab suci
manapun juga, yang semua para pengikut agama itu harus diperlakukan secara adil,
sebab pada dasarnya mereka meyembah Tuhan yang sama, dengan masing-masing
betanggung jawab atas amal-perbuatan mereka sendiri yang tidak perlu menjadi bahan
pertengkaran, karena kelak kita sekalian akan kembali kepada Tuhan, dan Tuhanlah
yang akan menentukan benar- salah serta baik-buruk segala amal-perbuatan itu-(Q 42 :
15).
Karena itu, kita percaya bahwa kearifan ada di mana-mana, dan kita harus
mencarinya meskipun ke Negeri Cina-(Hadist). Sebagai suri teladan umat
manusia, Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh bagaimana mewujudkan
semangat Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersambungan langsung dengan wawasan
sosial-sosial keagamaan dan politik yang berjiwa paham kemajemukan (pluralis) dan
yang serba meliputi (inklusif) itu dalam Masyarakat Madinah. Sebagai yang terakhir dan
yang menutup deretan panjang para pembawa ajaran Ilahi untuk umat manusia, Nabi
Muhammad SAW dengan madinah-nya telah mewariskan suatu model, bagaimana
mengatur masyarakat serta menyelesaikan persoalan penyelenggaraan pemerintahan
dan penggunaan kekuasaan yang benar-benar secara utuh dan memenuhi dambaan
lahir dan batin manusia: tidak lahir saja seperti yang sedang kita rasakan di zaman
yang menurut Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) terbelenggu oleh kedaulatan
kuantita sekarang ini; tetapi juga tidak batin saja melupakan yang lahir, suatu
pandangan hidup yang tidak adil kepada fitrah kepada diri manusia sendiri dan tidak
sejalan dengan kebaikan Tuhan yang telah menciptakan manusia dalam keutuhan jiwa-
raga, lahir-batin. Sebagai model penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan
kekuasaan, Madinah Nabi itu dalam penilaian Robert N Bellah, seorang ahli sosiologi
medern dengan otoritas yang sangat tinggi, merupakan model yang sangat modern
untuk zaman dan tempatya.
Masyarakat Madinah itu sangat modern dilihat dari tingginya tingkat komitmen,
keterlibatan, dan partisipasi seluruh jenjang anggota masyarakat. Masyarakat Madinah
itu juga modern karena kedudukan kepemimpinannya yang terbuka untuk kemampuan
yang diuji atas dasar pertimbangan universal dan dilambangkan dalam percobaan
melembagakan kepemimpinan tertinggi tidak berdasarkan keturunan. Akan tetapi,
Masyarakat Madinah itu tidak betahan lama, sebab saat itu, menurut Bellah, belum ada
prasarana sosial dan kultural untuk menopangnya. It was too modern to succeed, kata
Bellah. Pelembagaan kepemimpinan tertinggi berdasarkan pemilihan (umum) berhenti
sekitar 40 tahun setelah wafat Nabi, karena Khalifah Muawiyah yang menjalankan
kekuasaan dari Dasmaskus pada tahun 51 hijri menunjuk anaknya sendiri, yazid
sebagai pengganti. Meskipun ditentang oleh para pemuka masyarakat di madinah dan
Mekkah sebagai tradisi kaisar Romawi dan khusro Persi yang bertentangan dengan
tradisi Nabi dan para Khalifah Rasyidun, namun Muawiyah berjalan terus dengan
keputusannya, dengan mengandalkan kekuatan fisik militer. Dunia Islam mengalami
perubahan fundamental dari masyarakat yang menempatkan pemimpin tertinggi melalui
pemilihan menjadi masyarakat yang mengenal hanya kekuasaan dinasti geneologis,
kepemimpinan berdasarkan pertalian darah.
Sejak itu, sumber utama legitimasi politik ialah keturunan dan masyarakat tanpa
sadar menyimpang dari salah satu prinsip sosial-politik Madinah, terdorong untuk
berlomba-lomba saling unggul dalam hal garis keturunan dan silsilah. Suatu perubahan
yang merupakan gerak kembali ke faham klan dan kesukuan Jahiliah itu pada banyak
kalangan masyarakat Islam masih bertahan sampai sekarang. Penyimpangan itu telah
menjadi pangkal berbagai kesulitan dan bencana dunia Islam, karena faham dinasti
geneologis itu tanpa dapat dihindarkan disusul dan disertai oleh kezaliman despotik,
otoriter dan totaliter di bidang sosial, politik, keagaman, dan seterusnya. Masyarakat
Madinah Nabi itu, menurut Martin Lings, merupakan solusi Ilahi paling akhir bagi
persoalan pemerintahan (The most recent of providences solutions to the problem of
government). Masyarakat Madinah itu memang tidak berlangsung lama. Namun berkat
pencatatan yang rinci oleh para ulama, sarjana, dan kaum ahli, seperti dikatakan martin
Lings Masyarakat Madinah itu sampai sekarang tetap menjadi idaman, teladan dan
pedoman. Semangat meneladani kembali Madinah itulah yang sampai sekarang
memenuhi alam pikiran dan menjiwai sepak terjang kaum muslim yang sadar. Sebab,
sejalan dengan penilaian Bellah, Madinah menjadi contoh komunitas nasional modern
dan menjadi tipe nasionalisme partisipatoris egaliter. Maka jika kaum Muslim sampai
sekarang tetap memandang contoh Madinah dengan penuh minat dan keyakinan,
menurut Bellah, hal itu sama sekali bukanlah fabrikasi ideologis yang tidak historis.
Walaupun begitu, dalam kenyataan sekarang ini, tidak mungkin mengingkari adanya
salah paham yang negatif oleh sebagian kaum Muslim sendiri terhadap wawasan
prinsipil Madinah, kemudian lebih-lebih lagi oleh orang lain di luar Islam. Disertai
dengan keterbatasan kemampuan menggali kembali ajaran suci, khazanah kebudayaan
dan sejarah, kesalahpahaman itu mendasari kemunculan dan penampilan sebagian
masyarakat kita yang tidak produktif, bahkan kontraproduktif.
Oleh karena itu, terdapat keperluan mendesak untuk menggali dan memahami
kembali semangat Madinah itu dan menjabarkannya dalam kehidupan sedemikian rupa,
sehingga ajaran kebenaran betul-betul menjadi wujud rahmad dan kasih sayang Tuhan
kepada seluruh umat manusia. Ditarik relevansinya dengan masa sekarang, wawasan
Madinah harus dikemukakan kembali sebagai tawaran tentang suatu sumber usaha
mencari penyelesaian bagi permasalahan zaman modern. Hampir-hampir telah
menjadi klise dan ucapan stereotipikal bahwa zaman modern telah berjalan pincang,
karena kuatnya kedaulatan kuantitas alias kehidupan kebendaan dan lemahnya
dimensi kualitas alias kehidupan kerohanian. Memang urusan dunia (umur al-dunya)
harus dikerjakan menurut hukum-hukum alamiahnya sendiri, sebagaimana ditetapkan
Allah dan Sunnah-Nya. Tetapi, urusan dunia yang sudah dikerjakan dengan cara
seharusnya itu jika tidak disertai atas taqwa dan ridho Tuhan, akan berkembang
menjadi tidak lebih daripada fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain
bayangan palsu.
Maka keunikan masyarakat Madinah tidak hanya segi pluralisme dan
inklusivismenya semata. Keunikan masyarakat Madinah ialah bahwa semua itu, serta
semua sendi kehidupan sosial-politiknya didasarkan pada azas taqwa dan ridho Allah,
yaitu asa Ketuhan Yang Maha Esa dalam arti yang sebenar-benarnya. Dalam peta luas
krisis dunia modern inti krisis pluralisme demokratis berpangkal pada pandangan
bahwa ide-ide pokok yang mendasari keabsahan faham pluralisme demokratis itu
disingkirkan dari wacana umum, apalagi jika ide-ide pokok itu bersumber pada ajaran
keagamaan dan dijabarkan dalam semangat keagamaan. Dalam masyarakat kita
terdapat ketakutan luar biasa pada wacana kehidupan sosial umum yang bersifat
keagamaan, dan sering diajukan argume bahwa kita tidak mungkin bertanya dengan
sungguh-sungguh apa makna keadilan atau dasar metafisis hak-hak asasi. Dengan
alasan bahwa kita adalah masyarakat majemuk. Tetapi sebenarnya, kemajemukan
serupa itu tidaklah sejati, karena ia menegaskan bahwa kita tidak mungkin melibatkan
diri satu sama lain pada titik-titik perbedaan yang ada pada kita. Mungkin kita harus
mengingatkan diri kembali bahwa apa yang sekarang ada di Amerika yang disebut
demokrasi sekuler pun tumbuh dari bibit-bibit perenungan keagamaan yang
mendalam, yang dibawa oleh para imigran dari Eropa ke Amerika seperti yang kelak
disana diwakili oleh pandangan-pandangan George Washinton, Benjamin Franklin,
Thomas Jefferson, John Adams serta (anaknya) John Quincy Adams, Alexander
Hamilton, James Madison, dan lain-lain. Sebagian dari mereka itu, seperti Thomas
Jefferson dan Alexander Hamilton, memang mengaku tidak beragama formal atau
beragama dalam arti menganut Deisme. Unitarianisme, dan Universalisme. Tetapi
mereka juga sekaligus mengaku bahwa dalam hal wawancara moral dan etika pribadi
dan sosial, mereka peroleh dasar-dasar metafisisnya dalam ajaran-ajaran Isa al Masih
yang bagi mereka adalah guru agung budi pekerti luhur. Mengingat dasar Ketuhanan
Yang Maha Esa yang kita pegang teguh, gejala dari menghindari dari wacana umum
keagamaan tersebut seharusnya tidak pernah terjadi. Dalam semangat kemajemukan
sebagaiman dikukuhkan dalam motto Bhineka Tunggal Ika, kita harus berani
melangkan lebih jauh dari pada sekedar pengakuan pasif tentang adanya
kemajemukan itu sendiri dan harus memasuki arena pada pelibatan umum langsung
dalam kemajemukan itu, dengan kesabaran positif tentang adanya lingkungan batas-
batas keadaban. Jika tidak demikian, maka jargon kemajemukan akan menjerumuskan
kita ke dalam jebakan netralisme prosedural yang hampa makna.
Memang dalam keadaan aneka ragam hakikat kebangsaan kita yang demikian
besar, sulit sekali bagi kita menemukan kesempatan penuh dalam segala hal. Tetapi,
setidaknya kita harus berusaha dengan cukup kesungguhan untuk menemukan kosa
kata yang sama atau mendekatkan satu sama lain dalam pandangan hidup umum. Hal
itu berarti bahwa masing-masing harus berusaha menemukan dalam khazanah budaya
atau sejarahnya sesuatu yang secara metafisis memperkuat wawasan bersama dalam
kehidupan umum itu, dengan menggali kembali bibit-bibit atau potensi-potensi dalam
khazanah itu, bukan sekedar perubahan-perubahan eksternalnya,; mempelajari kembali
contoh-contoh sejarah, bukan sekedar pengalaman-pengalaman kontemporer.
Kemudian semuanya itu diangkat ke daratan generalisasi yang cukup tinggi, sehingga
menjadi sifat universal-inklusif, berlaku untuk semua; tidak bersifat partikular-ekslusif,
yang berlaku hanya untuk golongan khusus tertentu semata. Maka, jika ada sesuatu
yang dapat ditemukan dengan cukup mantap untuk Universitas Paramadina ialah kita
InsyaAllah hendak ikut berusaha sebaik-baiknya untuk memberi sumbangan kepada
masyarakat dan bangsa dalam memperkembangkan wawasan Madinah menurut
pengertiannya yang benar dan otetik. Dikaitkan dengan perkembangan global yang
menyangkut bangsa kita saat ini sekarang wawasan Madinah itu bersambung langsung
dengan perjuangan mengembangkan masyarakat madani, civil society. Seorang
pejuang civil society yang mencatat keberhasilan gemilang ialah Vaclav Havel.
Cendikiawan (saat itu) Cekoslowakia yang kemudian menjadi presiden itu
mengambarkan masyarakat madani sebagai masyarakat yang dijiwai oleh cita rasa
baik (good ststes), yang merupakan manifestasi nyata kepekaan manusia kepada
dunia, lingkungan dan rakya. Havel berpikiran menuju ke arah terbentuknya semacam
masyarakat madani global, yang menekankan kembali nilai-nilai yang tidak sering
dikembangkan dalam politik dunia sekarang ini, yaitu keadaban, cita rasa baik,
kejujuran dan diatas semuaya, rasanya tanggung jawab.
Pengertian civil society Havel itu mengarah kepada pengertian kemanusiaan suci
primordial yang lebih menyeluruh, yaitu fitrahnya dari Tuhan. Dengan fitrah kesucian
yang memancar dalam pola kehidupan umum itu, masyarakat Madinah menjadi
tolokukur peradaban, sehingga peradaba atau civilization adalah madaniyah, dan yang
beradap atau civil adalah madani. Pandangan hidup madaniyah dan wawasan
madaniyah itu merambah dan meluas untuk meliputi seluruh bagian kehidupan sosial
dan politik. Dalam keseluruhan segi kehidupan itu, pandangan hidup madaniyah dan
wawasan madanuyah memperoleh manifestasinya yang paling kuat dalam perperangan
dalam keadaan perang pada umumnya.

****

KITAB suci memperingatkan kita bahwa salah satu wujud keutamaan budi ialah
sikap teguh dan tabah dalam penderitaan, kesusahan, dan masa-masa sulit-(Q 2 :
177). Maka perperangan harus ditujukan hanya kepada mereka yang bertindak agresif,
dengan keteguhan jiwa dan sikap menahan diri, menghindari tindakan melewati batas,
karena Allah tidak suka pada orang-orang yang melewati batas-(Q 2 : 190). Apalagi
perperangan yang beradap itu memang diizinkan hanya untuk membela diri dan
bersama dengan itu juga untuk melindungi peradapan umat manusia, lebih-lebih
peradaban keagamaan yang diwujudkan dalam pranata-pranata suci seperti biara,
gereja, sinagog, dan mesjid sebagai tempat-tempat banyak diangungkan nama Tuhan,
dan dikembangkan nilai-nilai keagamaan-(Q 22 : 40). Oleh karena itu, ketika khalifah
Abu Bakar RA mengirim sebuah ekspedisi pembebasan, ia berpesan kepada
komandannya, Yazid Ibn Abi Sufyan, dengan sepuluh nuktah budi luhur dalam
perperangan, yaitu jangan membunuh perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia;
jangan memotong pohon berbuah, meruntuhkan bangunan, membunuh binatang
seperti kambing dan unta kecuali jika hendak dimakan; serta jangan merobohkan pohon
kurma, dan jangan membakarnya; janganlah bersifat kikir, dan jangan pula curang-
(Imam Malik dalam Al-Muwatta). Berkaca kepada petunjuk-petunjuk keagamaan itu,
kita dapat merasakan betapa mendesakanya saat-saat ini untuk menggali, menyadari,
dan meladani Masyarakat Madinah warisan Nabi. Wawasan Madinah itu sepenting-
penting Sunnah Nabi yang harus dihidupkan kembali. Dan wawasan Madinah itu
pulalah sesungguhnya wujud utama Syariah- yang juga diwasiatkan Allah kepada
semua nabi dan rasul yang wajib dilaksanakan dengan penuh keteguhan hati dan dan
istiqomah. Khususnya dengan peradaban kemanusiaan yang berpangkal pada ajaran
kesucian manusia serta harkat dan martabatnya sebagai puncak ciptaan Tuhan dan
yang Tuhan sendiri memuliakannya didaratan maupun dilautan (Q 17 : 70). Oleh
karena itu, kejahatan kepada seseorang adalah kejahatan kepada kemanusiaan
universal dan kebaikan kepada adalah juga kebaikan kepada kemanuasiaan universal.
Sebab barang siapa membunuh seorang jiwa tanpa alasan kejahatan pembunuhan
atau tindakan merusak dibumi, maka bagaikan ia membunuh umat manusia
seluruhnya; dan barang siapa menghidupi seorang jiwa, maka bagaikan ia menghidupi
umat manusia seluruhnya(Q 5 : 32).
Nilai-nilai Madinah itu diringkaskan dalam wasiat terakhir Nabi yang beliau
sampaikan dengan seluruh ketulusan jiwa beliau dalam Pidato Perpisahan (khutbah al-
wada), dengan inti pesan kesucian hidup, harta, dan harkat manusia (al-dima wa al-
amwal wa al-a radl-lives, property, diwahyukan kepada nabi bahwa Allah telah
menyempurnakan agama umat manusia dan melengkapkan rahmad karunia-Nya, serta
menyatakan Agama Islam telah mendapat ridho atau perkenan-Nya. Inti wasiat nabi itu
diterima dengan tulus oleh seluruh kaum beriman, dan dilaksanakan hampir-hampir
secara taken for granted, tanpa masalah. Inti wasiat nabi itu menyebar ke kalangan
umat-umat lain, dan tidak lama setelah terjadi kontak dunia Eropa dan dunia Islam
akibat Perang Salid, inti wasiat Nabi itu merembes ke Eropa dan mempengaruhi
perjalanan masyarakat di sana melalui falsafah kemanusiaan Giovani Pico della
Mirandola. Bangsawan sekaligus hartawan dan ilmuwan dari Italia itu pada tahun 1486
menyampaikan orasi tentang harkat dan martabat manusia (Oratio de hominis
dignitate-Oration on the Dignity of Man) didepan kaum intelektual Eropa yang ia
undang ke Roma. Diawali oleh falsafah kemanusiaan Pico pada akhir abad ke-15 itu,
ide hak-hak asasi manusia mulai berkembang di Eropa, yang sampainya ke tangan
John Locke hak-hak itu dirumuskan sekitar kesucian hidup, kebebasan, dan harta
(life, liberty, and estate atau property). Pandangan-pandangan John Locke banyak
mempengaruhi alam pikiran para bapak pendiri Amerika Serikat, khususnya mereka
yang menganut Deisme, unitarianisme dan universalisme. Dan, melalui pena Thomas
Jefferson yang amat fasih, kita mendapat dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika
rumusan nilai-nilai kesuciaan manusia sekilas life, liberty, and pursuit of happiness,
yang pada kalimat terkhir Deklarasi itu rumusannya ditegaskan sebagai lives, fortunes,
sacred honor;, persis seperti frasa Nabi dan Pidato Perpisahan. Sekarang nilai-nilai
hak asasi manusia itu telah menjadi khazanah universal umat manusia. Namun
berkenaan perlanggaran terhadap hak-hak azazi itu, apa yang kita saksikan di atas
panggung sejarah dunia selama paling tidak sekitar setengah abad terakhir ini adalah
tindakan-tindakan kejahatan kemanusiaan yang paling buruk selama bumi terbentang :
sejak genosida dan holokos di Eropa, terus ke bom atom di Jepang, dilanjutkan dengan
bombardemen napalm atas Vietnam, pemberondongan senapanmesin terhadap orang-
orang tak berdosa sewaktu mereka sembahyang dalam mesjid Hebron di Palestina,
dan seterusnya sampai tak terhitung lagi, hingga akhirnya tidak lama yang lalu peristiwa
tragis 11 September di Amerika. Dan, kembali ke Tanah Air kita sendiri, hampir setiap
hari kita disuguhi berita tentang tindakan kekejaman kemanusiaan yang memberi
kesan, betapa murahnya harga nyawa manusia dibagian bumi ini. Juka kita perhatikan
berbagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Tanah Air, jika kita bertanya-
tanya, kemanakah gerangan dasar negara Perikamanusiaan yang adil dan beradap
itu pergi dan lenyap dari kesadaran kehidupan kita berbangsa dan bernegara?
Perikemausiaan adalah prinsip kita dalam kehidupan berbangsa dan bangsa yang
melanggar prinsipnya sendiri tidak akan bertahan (a nation against its own principle will
never stand)! Sudah tentu kita dapat memperkirakan apa sebab musababnya. Yaitu
terjadinya pembangunan bangsa yang tertunda pada negara kita, akibat deretan
panjang beberapa kebijakan nasional pemerintah dalam sejarah Republik kita yang
sebagianya salah arah dan menyimpang dari tujuan kita bernegara, menciptakan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Tekanan yang terlalu berat kepada pembangunan ekonomi namun tidak disertai
pembangunan etika dan moral pribadi dan sosial melalui keteladanan para pemimpin,
telah menjerumuskan sebagian anggota masyarakat kita kepada pandangan hidup
hedonistik, enak-kepenak, dengan obsesi bagaimana mengumpulkan kekayaan pribadi
sesingkat-singkatnya dan semudah-mudahnya, menempuh jalan pintas tanpa peduli
kepada hukum serta norma-norma etika dan moral. Ditengah kemiskinan dan
penderitaan rakyat yang mencekam, ada segolongan masyarakat kita yang fasiq, yang
dengan penuh kebanggaan memamerkan kekayaan dan kemewahan. Akibatnya ialah
tumbuhnya jurang perbedaan yang menganga antara golongan kecil yang kaya dan
super kaya denagn rakyat umum yang melarat hidup nestapa! Inilah perlawanan
prinsipil terhadap azas keadilan sosial! Inilah kezaliman yang menjadi pemicu segala
rupa tindakan perusakan akibat kekcewaan dan putus asa. Iilah tanda zaman bagi
hancurnya sebuah bangsa, dengan akibat-akibat mengerikan yang saat ini belum bisa
diperkirakan. Dilihat dari sejarah perkembangan konsep-konsepnya, memang bangsa
kita sekarang ini dapat dikatakan masih ditegah proses pertumbuhan dan
penjadiaanya. Indonesia adalah suatu negara yang menjadi a nation in making. Sejak
para pembangun kebangsaan modern memulai gagasan mereka awal abad yang lalu,
proses pemcarian akan hakikat kebangsaan kita telah bersemi. Mula-mula mereka
meminjam istilah ilmu sosial dan kebahasaan Indonesia buatan ilmuwan Jerman Adolf
Bastian (1864) untuk menjadi alat identifikasi dan nama bagi keseluruhan bangsa yang
mereka dambakan. Kemudian mereka mengangkat bahasa Melayu dialek Riau
sebagai bahasa persatuan bagi seluruh unsur kebangsaan yang beraneka ragam,
suatu bahasa yang telah tumbuh sejak zaman sriwijaya dan menjadi lingua franca
Austronesia, yang kemudian dikembangkan oleh Aceh menjadi bahasa literer, dan
mengalami pembakuan klasik di Riau dengan kontribusi dari banyak tokoh yang berasal
dari berbagai suku, dan akhirnya digarap lebih lanjut oleh para cendikiawan modern,
khususnya di Sumatera Barat. Kini kita mewarisi sebuah bahasa modern, Bahasa
Indonesia. Inilah aset kebangsaan kita yang paling penting, paling nyata, dan paling
menentukan.
Dan, jika kita punya cukup alasan bahwa bangsa kita tidak akan pecah
berantakan, sebagian besar adalah karena suksesnya kita mengembangkan bahasa
nasional itu, paling sukses diantara semua-semua bangsa baru yang muncul setelah
Perang Dunia II. Akan tetapi, alasan optimisme berdasarkan adanya bahasa persatuan
tentu tidak akan menjadi jaminan mutlak. Yang akan lebih menjamin masa depan kita
adalah pelaksaan sungguh-sungguh tujuan negara menciptakan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat, dan penerapan yang bijak dan konsekuen prinsip kemajemukan dalam
semangat Bhineka Tunggal Ika. Keadilan sosial adalah lebih kurang pedanan
pemerataan. Dan kemajemukan adalah lebih kurang padanan pengakuan dan
peberian ruang berbagai golongan dan daerah untuk pengembangan diri menurut
pandangan dan pola budaya masing-masing, dalam bingkai kesatuan keindonesiaan.
Tetapi, yang sekarang ini kita saksikan dan alami adalah warisan gejala kesenjangan
diberbagai bidang kehidupan, khususnya kesenjangan ekonomi berupa jurang pemisah
kelompok kecil yang kaya dan rakyat umumnya yang miski, yang dalam gabungannya
dengan kesenjangan dibidang penyelenggaraan pemerintahan dan pengembangan
wilayah, kita menyaksikan jurang pemisah yang sedemikian lebar antara pusat dan
daerah.
Nafsu memusatkan kekuasaan pada kalangan elite terbatas telah mendorog
terjadinya proses sentralisme dan sentralisasi yang sangat berlebihan dibidang politik,
sosial, ekonomi, dan seterusnya. Akibat negatif sampingannya ialah hilangnya
kemampuan mengambil inisiatif dari bawah, baik pada tingkat perorangan maupun
pada tingkat kelompok dan wilayah. Karena telah terbiasa dengan proses-proses top
down dalam kehidupan nasional, sebagian besar masyarakat tumbuh dalam mentalitas
selalu menunggu penyeleaiaan dari atas, suatu betuk botte-feeding effect. Namun,
akhirnya syukur kepada Tuhan, bangsa kita mulai bergeser dari tigkat a nation in
making naik ke tingkat a nation comin of age, suatu bangsa yang sedang berkebang
menuju ke tingkat kedewasaan. Pandangan yang bernada penuh harapan itu
didasarkan pada keberhasilan gerakan Reformasi yang telah membuahkan berkah
kepada bangsa kita berupa kebebasan-kebebasan sipil (civil liberties), yaitu kebebasan
menyatakan pendapat, kebebasan berkumpul, dan kebebasan berserikat. Dan yang
langsung terkait dengan lembaga ini, lembaga pendidikan tinggi, ialah kebebasan
akademik. Seperti halnya kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan kebebasan
beribadat, kebebasan akademik adalah karakteristik esensial masyarakat demokratis.
(Academic freedom ranks with freedom of speech, freedom of the press, and freedom
of worship as an essential characteristic of democratic society).

Civil liberties itulah asset teramat penting bangsa kita dalam tahap perkembanganya
sekarang ini. Itulah tumpuan harapan paling utama bahwa bangsa kita akan mampu
mewujudkan cita-citanya, yaitu terwujudnya keadilan bagi seluruh rakyat, dalam bingkai
sebuah negara kebangsaan modern yang berdaulat (sovereign modern nation state).
Dengan kebebasan-kebebasan sipil itu dalam masyarakat kita dapat diharapkan akan
berkembang mekanisme pangawasan dan pengimbangan (checks and balances), yang
membuat semua kegiatan dan kenyataan oleh siapapun dan menyangkut siapapun
tidak akan terbiarkan berlangsung dengan merugikan warga masyarakat, karena
semuanya akan terbeber dalam wacana umum dan bebas. Dan dengan civil liberties
itu proses-proses dalam masyarakat yang menyangkut kehiddupan umum akan
berlangsung transparan, accountable, dan auditable. Juga dengan adanya, civil
leberties itu, kita Insya Allah menyaksikan tumbuhnya kemampuan mayarakat luas
untuk ambil inisiatif-inisiatif, yang akan mendorong produktifitas mereka. Dan dibidang
ilmu pengetahuan, kita akan juga Insya Allah menyaksikan perkembangan kreativitas
ilmiah umum, sehingga akan besar sekali peranannya dalam meningkatkan mutu
sumber daya manusia kita. Sudah saatnya kita segera mengakhiri praktik-praktik
kejahatan sosial sepertti korupsi dan bentuk-bentuk penyelewengan harta publik
lainnya. Dengan modal civil liberties kita harus menyingsingkan lengan baju, cancut tali
wondo, memulai kehidupan nasional baru yang lebih serius, lebih sungguh-sungguh,
lebih terarah, dan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nasional sekali dan
untuk selamanya (once and for all), Insya Allah.
Namun, untuk itu kita harus mulai dengan sungguh memperjuangkan nasib
rakyat. Sebagian dari mereka telah tertindas sejak zaman kolonial dan dalam zaman
kemerdekaan pun mereka selalu terkena diskualifikasi, setiap kali terjadi konsolidasi
negara dan pemerintahan. Sebabnya ialah tingkat pendidikan yang masih rendah,
padahal merekalah yang paling berkorban melawan penjajah sejak mereka datang ke
bagian bumi ini, dan dimasa-masa merebut kemerdekaan dan mempertahankannya.
Mereka adalah batu sudut bangunan Republik kita yang dilupakan oleh para
pembangunnya sendiri (the corner stone of the house neglected by the builders).
Karena itu, mereka tumbuh dengan gumpalan rasa kecewa yang membara, yang
sewaktu-wAktu dapat meledak dalam tindakan-tindakan kekerasan. Demikian pula
halnya dengan daerah-daerah, demi keadilan sosial dan demi semangat Bhineka
Tunggal Ika, kita harus memberi pengakuan dan penghargaan pada semuanya dengan
pelaksanaan sungguh-sungguh desentralisadi dan otonomisasi. Sebagian daerah-
daerah itu telah memainkan peranan sejarah yang amat menentukan bagi bangunya
Republik, seperti Aceh yang oleh Bung Karno dengan penuh penghargaan disebut
Daerah Modal. Namun telah sekian lama mereka merasa terabaikan, lagi-lagi adalah
sebuah kasus the corner stone of the house neglected by the builders. Banyak pula
dari daerah-daerah itu yang berperan sebagai penyumbang utama kekayaan nasional,
seperti Aceh, Riau, Kalimantan Timur, dan Irian Jaya. Namun, lagi-lagi untuk sekian
lama mereka diingkari, sebuah kejadian lain kasus the corner stone of the house
neglected by the builders. Kita tidak mungkin berketerusan menjalani kehidupan
nasional yang penuh dengan kezoliman sosial serupa itu. Jika kita teruskan juga, maka
kezoliman sosial itulah jaminan paling pasti bahwa bangsa kita akan bubar dan negara
kita akan ambruk berantakan. Maka, tidak ada jalan lain kecuali kita bertekad memulai
kehidupan nasional baru, dengan patriotisme baru, yang menuntut semua kita untuk
hidup prihatin, menunda kesenangan, mengingkari diri sendiri, (self denial) dalam
semangat setia kawan kepada rakyat yang masih sangat menderita kemiskinan dan
kemelaratan. Paling tidak kita memerlukan jangka waktu satu generasi untuk
membangun bangsa ini, sebelum Indonesia tampil sebagai negara Demokratis ketiga
terbesar dimuka bumi, sebuah masyarakat yang adil, terbuka, bebas, dan egaliter
dengan ridho Allah subhanahu wa taala. Itulah wawasan masyarakat Madinnah yang
harus kita junjung bersama, masyarakat madani, civil society. Insya Allah WaI-Lah-u
alam-u bi al shawab.
ISLAM DAN PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA

Oleh : Prof. Dr.H.Ramli Abdul Wahid, MA

Setiap tahun umat manusia memperingati hari direncanakannya Deklarasi Hak-hak Asasi
Manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, tanggal 10 Desember 1948.
Hak-hak asasi manusia menurutnya berpokok pada 8 macam hak utama, yaitu : kebebasan
memeluk agama dan melaksanakan ibadah, kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan
bekerja, kebebasan belajar, kebebasan sipil, hak mendapat perlindungan jiwa, hak perlindungan
harta dan hak perlindungan kehormatan.

Beberapa negara demokrasi modern seperti Inggris dan Perancis mengaku berjasa dalam
mendeklarasikan HAM ini. Padahal kalau kita jujur Risalah Muhammad saw. 14 abad
sebelumnya telah memprklamirkan HAM ini dalam rangka mengangkat harakat dan martabat
manusia dan mereformasi masyarakat dari berbagai isinya. Jadi agama Islam adalah agama yang
paling pertama dan utama dalam mendeklarasikan HAM ini baik dari segi historis, kualitas, dan
keluasan cakupannya.
HAM menurut konsep Islam telah ada sejak kelahiran Islam itu sendiri. Dalam Alquran banyak
ayat-ayat yang menjelaskan pentingnya penegakan HAM, antaralain adalah :
1. Hak hidup dan keselamatan diri, hak memperoleh lindungan diri, kehormatan dan harta,
sebagaimana bisa dilihat dalam Alquran Surah Al-Maidah ayat 32, dan Al-An`am ayat 151, yang
intinya adalah tentang larangan membunuh tanpa alasan yang dibenarkan agama, karena
manusia memiliki hak hidup.
2. Hak untuk memperoleh perlindungan diri, kehormatan dan rumah tangga, dalam surat An-Nur
ayat 27-28, intinya izin masuk rumah orang lain.
3. Hak merdeka beragama (HAM yang paling asasi), diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat
256, Yunus ayat 99, An-Nisa ayat 47, kesemua ayat itu menjelaskan tidak boleh memaksakan
agama kepada orang lain dan perlindungan kepada semua pemeluk agama.
4. Hak memiliki hak milik, da fungsi sosial dari hak milik itu. Surat An-Nisa ayat 32, Ali-Imran
ayat 189 dan Al-Baqarah 255. Intinya bahwa manusia memperoleh hak ekonominya sesuai apa
yang dihasilkannya, tetapi dari hasilnya itu ada juga yang menjadi hak milik orang lain atau
berfungsi sosial, yakni yang harus diberikan kepada yang berhak menerima.
5. Memperoleh pekerjaan yang layak, sesuai dengan kemanusiaan. Surat Al-Mulk 15. Intinya
bumi diciptakan Allah untuk kebeikan manusia tetapi manusia harus mengambil inisiatif sendiri
secara bebas untuk menentukan pilihan terhadap pekerjaanya.
6. Hak memperoleh kemerdekaan berfikir, berpendapat, dan hak memperoleh pendidikan dan
pengajaran. Surat Al-A`raf ayat 179, An-Nisa ayat 148, At-Taubah 122. Intinya kebebasan
manusia dalam berfikir, berpendapat dan memperoleh ilmu pengetahuan mutlak yang diberikan
Allah kepada manusia, tetapi ada batasan fungsi untuk umum dimana kebebasan itu berkaitan
dengan kepentingan umum dalam rangka menciptakan kemaslahatan manusia itu sendiri atau
keseempurnaan akhlak yang memiliki hak itu sendiri (Tim MG Bina Kewarganegaraan, 2004 :
52)
Manusia adalah ciptaaan Allah Yang Maha Esa yang mempunyai martabat yang tinggi. Karena
itu manusia sebagai makhluk ciptaan Allah mempunyai hak asasi yang melekat pada dirinya agar
harga diri dan nilai kemanusiaan yang ada pada dirinya terjaga.
Penegakan hak-hak asasi manusia merupakan tanggung jawab kita bersama, artinya semua warga
masyarakat harus menghormati dan menghargai hak-hak asasi orang lain sekaligus selalu
berusaha mempejuangkan hak asasi orang lain dan tidak hanya memperjuangkan hak asasinya
sendiri.
Oleh sebab itu, hendaklah masing-masing warga masyarakat memahami hak-hak asasinya dan
mengetahui dengan jelas langkah penerapannya. Atas dasar itu maka pada umat Islam
dimanapun berada senantiasa melindungi hak-hak asasinya, dan tidak sekali-kali melanggar hak
asasi orang lain. Untuk menjabarkan masalah itu maka pada tanggal 21 Dzulqa`idah 1401H (19
September 1981), para ulama dan pakar Islam mengadakan muktamar di London untuk melihat
rincian hak-hak asasi yang dideklarasikan Islam 15 abad yang lalu dalam Alquran. Muktamar
tersebut meringkas HAM dalam Islam sebagai berikut : 1. Hak hidup, 2. Hak mendapat
kebebasan, 3. Hak persamaan, 4. Hak mendapat keadilan, 5. Hak mendapat perlakuan pengadilan
yang adil, 6. Hak mendapat perlindungan dari penyiksaan, 7. Hak mendapat perlindungan atas
kehormatan dan nama baiknya, 8. Hak mendapat suaka di negara Islam, 9. Hak mendapatkan
kebebasan dalam berfikir, memeluk suatu keyakinan dan kebebasan berpendapat, 10. Hak ikut
serta dalam kehidupan umum, 11. Hak untuk menghormati hak-hak kelompok minoritas, 12. Hak
kebebaasan beragama, 13. Hak berdakwah dan menyampaikan ajaran, 14. Menikmati hak-hak
ekonomi, 15. Hak mendapat perlindungan milik pribadi, 16. Hak mendapat pekerjaan, 17. Hak
mendapat kebutuhan pokok untuk hidup layak, 18. Hak untuk membangun keluarga, 19. Hak
mendapatkan pendidikan yang layak, 20. Hak masing-masing suami dan istri, 21. Hak individu
untuk mendapatkan perlindungan hal-hal khusus priadinya, 22. Hak untuk bepergian dan
bertempat tinggal (Dr. Ashim Ahmad Ujailah, Al hurriyah al fikriyah, Nahdhoh Misr, hal. 13-14
dalam Ahmad Satori dkk: 64-65).
Bila diteliti secara cermat, ringkasan HAM dalam Islam di atas, kita dapatkan hak-hak tersebut
amat luas dan mencerminkan kebutuhan utama manusia yang harus dijunjung tinggi rakyat dan
penguasa. Berbeda dengan HAM versi PBB, HAM dalam Islam bila dilanggar, pelakunya akan
diberi sanksi hukum di dunia dan siksa di akhirat setelah mati. Dua macam sanksi inilah yang
menjadi HAM dalam Syari`ah Islamiyah kedudukan tinggi dan amat ditaati pengikutnya.
HAM versi PBB yang tidak mengenal sanksi ukhrawi ini akan mudah dilanggar oleh banyak
negara. Saat HAM dideklarasikan pada tahun 1948, terdapat satu bangsa secara keseluruhan
yang diinjak-injak hak-haknya oleh Israel. Barat cuma berpangku tangan dan bahkan mendukung
Israel yang merampas hak-hak bangsa Palestina. Kita sering menyaksikan, negara-negara yang
sering mengangkat panji demokrasi dan HAM ternyata mempraktekkan ras diskriminasi dalam
semua bidang kehidupan. Baik dalam hak-hak bidang politik, bidang pendidikan dan
pemanfaatan fasilitas umum atau pun fasilitas sosial.
Daalam deklarasi HAM versi PBB yang dibanggakan barat dan menimbulkan revolusi di dunia
kebebasan dan perlindungan kemanusiaan, ternyata belum menyantumkan banyak hak-hak
kebebasan yang dibutuhkan umat manusia. Sebagai contoh hak masing-masing dari suami dan
istri dalam keluarga dan setelah cerai. Hak kedua orangtua, hak orang miskin, hak qisas dan
sebagainya.
Ada hal penting yang ingin saya isyaratkan bahwa bicara tentang hak asasi tidak termasuk dalam
kajian bidang syari`ah dan perundang-undangan, khususnya perundang-undangan yang mengatur
kehidupan manusia dan hubungan sosialnya.
Lain dari pada itu, dari sisi akhlak yang amat erat hubungannya dengan manusia, HAM versi
PBB mencantumkan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak dan undang-undang
secara umum. Hal ini sering dikritik oleh para ahli. Diantaranya adalah apa yang tercantum pada
pasal 2 ayat 14 dinyatakan bahwa hak-hak ini tidak bisa digunakan untuk menuntut ke
pengadilan dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan masalah politik atau dalam hal yang
bertentangan dengan tujuan PBB.
Agama Islam adalah agama yang tegas dan menunjung tingggi persamaan dan keadilan. Oleh
sebab itu Islam menghalangi sebagian hak dan membeda-bedakannya antara satu hak dengan
lainnya. Setiap manusia memiliki hak sempurna untuk menuntut haknya dan kebebasannya baik
kafir atau orang zalim. Bahkan mungkin si kafir dan si zalim tadi amat membutuhkan hak-hak itu
ketika dia dituduh dengan berbagai kriminalitas yang dilakukannya.
Islam tidak mengenal ras diskriminasi. Semua manusia berkedudukan sama dan sejajar. Yang
membedakan cuma ketakwaannya saja. Sebagaimana firman Allah Surah Al-Hujurat ayat 13
yaitu :
Sesungguhnya orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang paling taqwa
diantara kamu.
Dalam pandangan Islam, tidak ada perbedaan antara pejabat tinggi dan rakyat rendah, antara
pimpinan dan bawahan, antara konglomerat dengan orang yang melarat, antara yang kaya
dengan yang miskin papa. Semua sama dalam pandangan Allah. Nilai tertinggi dalam Islam
bukan terletak pada pangkat, jabatan, dan harta kekayaan, namun ukur ketinggian derajat
hanyalah diukur dengan kesalehan amal dan ketakwaannya. Rasulullah bersabda : man sarrahu
an yakuuna akraman naasi fal yattaqillaha. Barangsiapa yang suka menjadi orang yang paling
mulia diantara manusia maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah

Like this:
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Salah satu tujuan demokrasi adalah untuk menegakkan
keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia mengapresiasi agama dan
demokrasi, sehingga keduanya bisa berjalan secara bersama-sama dalam menegakkan keadilan.

Demikian ditegaskan Achmad Gunaryo, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Setjen
Kementerian Agama ketika menyampaikan hikmah peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara,
Jakarta, Jumat (26/07) malam.

Al-Quran banyak mengajarkan kebaikan pada manusia, salah satunya yang terkait dengan
hukum demokrasi dalam bernegara, kata Gunaryo dalam uraiannya bertajuk Kontekstualisasi
Al-Quran dalam Hukum dan Kebebasan.

Menurut Gunaryo, Al-Quran mengajarkan bahwa pembunuhan manusia terhadap manusia lain
adalah kejahatan kemanusiaan. Hak-hak kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat juga
diatur dalam Islam. Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan tanpa batas. Kode etik kebebasan
dalam Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab, kata Gunaryo.

Dia mengatakan, Indonesia sebagai Negara Pancasila, bukan negara sekuler. Di Indonesialah
ajaran Islam dan nilai-nilai demokrasi bisa berjalan beriringan. Indonesia adalah eksperimen
bangsa lain dalam hal demokrasi, kata dia.

Demokrasi adalah nikmat lain dari Allah Swt yang diberikan kepada Indonesa. Maka jangan
sia-siakan nikmat itu, kata Gunaryo. Dengan demokrasi yang baik, apresiasi terhadap
kehidupan dalam masyarakat dapat meningkat dengan baik pula, dan itu sejalan dengan Al-
Quran.

Dia menegaskan bahwa umat yang dibimbing oleh Al-Quran sudah selayaknya dapat
menciptakan masyarakat yang rahmatan lil alamin. Jika dalam aplikasinya, kita belum menjadi
khaira ummah, tentu bukan pesan Al-Quran yang salah, tapi cara memaknai dan beragama kita
yang salah, kata Gunaryo.