Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Perkembangan energi baru terbarukan (EBT) yang meliputi sumber daya alam untuk
energi dan kelistrikan telah disinggung pada beberapa regulasi. Perkembangan pangsa pasar
untuk kelistrikan hingga 2009 lalu didominasi oleh minyak bumi, batu bara dan gas, di mana
pemakaiannya tiap tahun mencapai kenaikan untuk minyak bumi 0.52%, batu bara 13.70%
dan gas 1.81%. Sehingga total kenaikan sumber daya energi tersebut mencapai 16.01%
(Forum EBTKE, 2010). Pengelolaan energi di Indonesia adalah dengan banyaknya subsidi ke
masyarakat, di mana kondisi saat ini adalah energi fosil (batubara dan minyak bumi) tersebut
disubsidi dengan 91.18T rupiah dari negara ke masyarakat. Sehingga kondisi energi pada saat
ini di mana kebutuhan energi belum efisien termasuk untuk industri, rumah tangga, transport
dan komersial, kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan energi fosil dengan biaya
berapapun dan tetap disubsidi dan energi terbarukan hanya sebagai alternatif (energy suplay
side management).
Energi sangat penting bagi kemakmuran dunia. Namun, ketergantungan kita terhadap
bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama, dapat mendorong timbulnya perubahan iklim
global, kerusakan lingkungan, serta permasalahan kesehatan. Hidrogen (H 2) memiliki potensi
yang luar biasa sebagai energi (bahan bakar bersih) yang dapat diperbaharui.
Hidrogen memiliki densitas gravimetrik paling tinggi dari bahan bakar lain dan proses
pembakarannya untuk konversi energi tidak memproduksi emisi karbon yang berperan
menyebabkan polusi lingkungan dan global warming. Hidrogen dapat diproduksi dari
sejumlah proses seperti elektrolisis air, reformasi termokatalitik dari komponen organik yang
kaya akan hidrogen, dan proses biologi. Sekarang ini, hidrogen diproduksi secara eksklusif
dengan elektrolisis air atau reformasi uap/gas metana. Produksi secara biologi (biohidrogen),
menggunakan mikroorganisme, merupakan suatu terobosan baru yang menawarkan produksi
potensial penggunaan hidrogen dari berbagai sumber energi yang dapat diperbaharui. Sistem
biologi menyediakan suatu cakupan yang luas dalam menghasilkan hidrogen, meliputi
biophotolisis langsung, biophotolisis tak langsung, fermentasi cahaya, dan fermentasi gelap.
Indonesia dikenal dunia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah, terutama
minyak bumi dan gas alam. Hal ini yang menjadikan Indonesia memanfaatkan sumber daya
alam tersebut dalam jumlah yang besar untuk kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia

1
termasuk negara penyumbang minyak terbesar di dunia oleh karena itu hal ini dikhawatirkan
berdampak kepada sumber daya alam tersebut, dimana kita ketahui SDA minyak bumi dan
gas alam adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan lama-kelamaan akan
habis di gali. Kemungkinan Indonesia kehilangan SDA tersebut sangat besar, sehingga
menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang sekarang ini saja sudah terasa dampaknya,
dengan kelangkaan minyak tanah, dan harga minyak dunia yang
semakin tinggi.
Permasalahan di atas menjadikan kita harus berpikir bagaimana caranya untuk
mengganti SDA tersebut dengan sumber daya energi yang murah dan tepat guna? Sebagai
jawaban dari permasalahan tersebut adalah bioenergi. Bioenergi sendiri merupakan sumber
daya alternatif yang dapat digunakan berulang-ulang, untuk mengganti sumber daya fosil
yang banyak digunakan di Indonesia saat ini.
Oleh karena itu pemerintah Indonesia mencari solusi bagaimana mensosialisasikan
usaha bioenergi yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas kepada para wirausahaan, dan
dapat membuka lapangan pekerjaan, bagi kesejahteraan hidup?, dan dapat menemukan
bioenergi alternative.
Bioenergi ini sangat cocok diterapkan kepada masyarakat pedesaan yang umumnya
masih menggunakan BBM fosil sebagai bahan bakar pengepul dapur mereka, dengan
dilakukannya pengadaan bioenergi di pedasaan diharapkan dapat mengurangi penggunaan
BBM fosil yang sekarang mulai langka, dan harganya yang terus melonjak. Maka dari itu,
kami akan membahas Bioenergi mengenai Biohidrogen

I.2 Rumusan Masalah


Berikut ini beberapa rumusan masalah Makalah Biohidrogen :
1. Apa definisi dari Biohidrogen?
2. Bagaimana sejarah Biohidrogen ?
3. Apa saja macam bahan yang digunakan untuk Biohidrogen?
4. Bagaimana proses pembuatan Biohidrogen?
5. Apa saja kelemahan dan kelebihan dari Biohidrogen?

2
I.3 Tujuan
Berikut ini beberapa rumusan masalah Makalah Biohidrogen :
1. Mengetahui definisi dari Biohidrogen.
2. Mengetahui sejarah Biohidrogen.
3. Mengetahui macam bahan yang digunakan untuk Biohidrogen
4. Mengetahu proses pembuatan Biohidrogen?
5. Membandingkan kelemahan dan kelebihan dari Biohidrogen

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Hidrogen sebagai Energi Alternatif Potensial


Hidrogen (bahasa Latin: hydrogenium, dari bahasa Yunani: hydro: air, genes:
membentuk) adalah unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki simbol H dan nomor
atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna, tidak berbau, bersifat non-
logam, bervalensi tunggal, dan merupakan gas diatomik yang sangat mudah terbakar. Dengan
massa atom 1,00794 amu, hidrogen adalah unsur teringan di dunia.
Hidrogen juga merupakan unsur paling melimpah dengan persentase kirakira 75% dari
total massa unsur alam semesta. Kebanyakan bintang dibentuk oleh hidrogen dalam keadaan
plasma. Senyawa hidrogen relatif langka dan jarang dijumpai secara alami di bumi, dan
biasanya dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana.
Hidrogen juga dapat dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis, namun proses ini secara
komersial lebih mahal daripada produksi hidrogen dari gas alam.
Isotop hidrogen yang paling banyak dijumpai di alam adalah protium, yang inti
atomnya hanya mempunyai proton tunggal dan tanpa neutron. Senyawa ionic hidrogen dapat
bermuatan positif (kation) ataupun negatif (anion). Hidrogen dapat membentuk senyawa
dengan kebanyakan unsur dan dapat dijumpai dalam air dan senyawa-senyawa organik.
Hidrogen sangat penting dalam reaksi asam basa yang mana banyak rekasi ini melibatkan
pertukaran proton antar molekul terlarut. Oleh karena hidrogen merupakan satu-satunya atom
netral yang persamaan Schrdingernya dapat diselesaikan secara analitik, kajian pada
energetika dan ikatan atom hidrogen memainkan peran yang sangat penting dalam
perkembangan mekanika kuantum.
Gas hidrogen sangat mudah terbakar dan akan terbakar pada konsentrasi serendah 4%
H2 di udara bebas. Entalpi pembakaran hidrogen adalah -286 kJ/mol.
Hidrogen terbakar menurut persamaan kimia:

2 H2(g) + O2(g) 2 H2O(l) + 572 kJ (286 kJ/mol)


Ketika dicampur dengan oksigen dalam berbagai perbandingan, hidrogen meledak
seketika disulut dengan api dan akan meledak sendiri pada temperatur 560 C. Lidah api
hasil pembakaran hidrogen-oksigen murni memancarkan gelombang ultraviolet dan hampir
tidak terlihat dengan mata telanjang. Oleh karena itu, sangatlah sulit mendeteksi terjadinya
kebocoran hidrogen secara visual.
4
Karakteristik lainnya dari api hidrogen adalah nyala api cenderung menghilang
dengan cepat di udara, sehingga kerusakan akibat ledakan hidrogen lebih ringan dari
ledakan hidrokarbon. H2 bereaksi secara langsung dengan unsurunsur oksidator lainnya. Ia
bereaksi dengan spontan dan hebat pada suhu kamar dengan klorin dan fluorin,
menghasilkan hidrogen halida berupa hidrogen klorida dan hidrogen fluorida.
Menghadapi gelombang krisis global, bangsa-bangsa di dunia berlomba-lomba
memberikan solusi yang cepat dan tepat dalam menyelamatkan bumi dan memecahkan
permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang sangat signifikan dan strategis dalam menjawab
permasalahan tersebut adalah upaya pencarian energi baru dan terbarukan yang ramah
lingkungan (green energy) dan mengganti bahan-bahan yang berbasis petrokimia dengan
bahan dari biomasa.
Beberapa narasumber menawarkan berbagai solusi, antara lain dengan menggunakan
teknologi bersih menghasilkan bahan bakar baru dan terbarukan. Succes story pengembangan
bahan bakar generasi kedua yang menggunakan biomasa sebagai bahan baku seperti cellulose
ethanol. Bahkan bahan bakar generasi ke tiga yang menggunakan microalgae untuk
memproduksi biohydrogen suatu energi yang tidak mengeluarkan emisi C02 sudah
diperkenalkan.
Hidrogen (H2) memiliki potensi yang luar biasa sebagai energi (bahan bakar bersih)
yang dapat diperbaharui. Hidrogen merupakan bahan universal dengan jumlah tak terbatas di
alam dan dapat diproduksi selamanya. Hidrogen memiliki densitas gravimetrik paling tinggi
dari bahan bakar lain dan proses pembakarannya untuk konversi energi tidak memproduksi
emisi karbon yang berperan menyebabkan polusi lingkungan dan global warming. Hidrogen
dapat diproduksi dari sejumlah proses seperti elektrolisis air, reformasi termokatalitik dari
komponen organik yang kaya akan hidrogen, dan proses biologi. Sekarang ini, hidrogen
diproduksi secara eksklusif dengan elektrolisis air atau reformasi uap/gas metana. Produksi
secara biologi (biohidrogen), menggunakan mikroorganisme, merupakan suatu terobosan baru
yang menawarkan produksi potensial penggunaan hidrogen dari berbagai sumber energi yang
dapat diperbaharui.
Pada masa sekarang telah diyakini oleh banyak negara maju sepeti Amerika, Canada,
Jepang dan Eropa, untuk menjadikan khususnya teknologi fuel cell sebagai energi alternatif
pada masa perekonomian gas hidrogen tahun 2025, dimana hidrogen akan menjadi basis
pergerakan dunia menggantikan minyak bumi, dan bahkan tidak mungkin bahwa akan
menjadi lebih cepat lagi dengan desakan kebutuhan masyarakat.

5
Produksi energi hidrogen diperoleh secara alami maupun buatan (proses kimia, fisika
dan biologi). Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang menghadapi persolan energi
yang serius akibat ketergantungan yang sangat besar terhadap energi fosil. Bersyukurlah
akhir-akhir ini berbagai penelitian telah membuahkan hasil, antara lain biohidrogen.

II.2 Sejarah Biohidrogen


Hidrogen pertama kali diisolasi pada pertengahan tahun 1600 oleh Robert Boyle,
yang menjatuhkan paku besi ke dalam asam sulfat, disebut gas H 2 dikenal sebagai udara
buatan (Busby,2005). Kurang lebih 100 tahun kemudian, pada tahun 1766, Henry
Cavendish mengidentifikasi hidrogen sebagai elemen kimia ( disebut sebagai udara yang
mudah terbakar) dan menjelaskan sifat-sifat dari gas tersebut, seperti densitas dan berat
molar. Cavendish juga menunjukkan bahwa pembakaran H2 di udara menghasilkan air
mengoreksi kesalahan dari ide yang menyatakan air sebagai elemen dasar. Pada tahun 1783,
Antoine-Laurent Lavoisier mengenal oksigen sebagai komponen dari air, dan memberikan
hidrogen nama modernnya (penghasil air). Pada akhir tahun 1700 dan awal tahun 1800,
hidrogen digunakan pada udara panas balon penerbangan, dan sebagai bahan bakar pada
salah satu mesin pembakaran internal yang pertama. Hidrogen juga merupakan komponen
yang kaya pada kota gas digunakan untuk tujuan pemanasan dan penerangan (Busby,
2005). Pada tahun 1920 dan 1930, penelitian hidrogen sangat aktif dan beberapa aplikasi
utilitas pemindahan H2 dikembangkan, dari zeppelin dirigibles hingga kereta api , bus dan
kapal laut (Hoffmann, 2002). Kemajuan teknologi H2 dihentikan setelah perang dunia kedua
disebabkan rendahnya harga minyak dan bensin. Perhatian pada energi H2 kembali
meningkat pada tahun 1970 selama krisis energi, tetapi berkurang setelah harga minyak
merosot tajam (Hoffmann, 2002). Pada tahun 1990, perhatian H2 kembali meningkat dengan
pertumbuhan kecemasan publik pada dampak negatif bahan bakar fosil terhadap lingkungan
dunia (Benemann, 1996).
Produksi hidrogen oleh mikroorganisme terungkap pada akhir tahun 1800. Penelitian
dasar bakteri penghasil H2 ditemukan pada akhir tahun 1920 (Benemann,2002) dan ganggang
mikro pada awal tahun 1940 (Homann, 2003). Meskipun produksi H 2 secara mikrobiologi
tidak dipertimbangkan sebagai kemungkinan yang mudah dilaksanakan hingga tahun 1970
(Benemann,1996). Pada tahun 1970 dan 1980 penelitian biohidrogen kebanyakan
berkonsentrasi pada produksi H2 secara biologis menggunakan cahaya (Asada and
Miyake,1999). Penelitian mengenai produksi H2 dengan fermentasi gelap memperoleh

6
perhatian lebih pada akhir tahun 1990 dengan meningkatnya jumlah studi hingga sekarang
(Perttu Koskinen, 2008).

II.3 Biohidrogen, Inovasi Energi Alternatif yang Ramah Lingkungan


Biohidrogen merupakan energi baru dan terbarukan yang diharapkan dapat menjawab
keterbatasan energi fosil. Pemanfaatan limbah pertanian ini dapat meningkatkan fungsi dari
limbah yang biasanya hanya dianggap sampah. Biohidrogen dapat dihasilkan dari limbah
pertanian melalui proses bioteknologi yaitu fermentasi. Metode ini merupakan perpaduan
antara pendekatan secara kimiawi dan biologi. Secara biologi limbah pertanian yang menjadi
bahan baku pembuatan hidrokarbon ini didegradasi menggunakan berbagai jenis jamur.
Sedangkan secara kimiawi menggunakan asam kuat dari mulai yang pekat sampai yang telah
diencerkan.
Biohidrogen sebagai produk utama dari proses fermentasi itu menjadi salah satu
jawaban atas terbatasnya sumber energi fosil. Bakteri yang diketahui memproduksi hidrogen
termasuk spesies Enterobacter, Bacillus, and Clostridium. Di masa yang akan datang
biohidrogen, sebagaimana bioetanol dan biodiesel dimungkinkan menjadi bahan bakar yang
banyak digunakan oleh industri. Keistimewaan yang ada pada biohidrogen adalah bahwa
biohidrogen mudah dikonversi menjadi fuel atau listrik tanpa menyisakan polutan.
Melimpahnya biomassa dari limbah dan non limbah di Indonesia merupakan penunjang
ketersediaan substrat dalam jangka waktu yang panjang serta merupakan sumber energi baru
dan dapat diperbaharui. Di masa mendatang akan kita temukan berbagai pemanfaatan
bioenergi sebagai bahan bakar pengganti dari energi fosil yang tidak dapat diperbaharui.

II.4 Definisi Biohidrogen


Biohidrogen adalah gas hidrogen yang dihasilkan oleh aktivitas mikroorganisme
seperti ganggang hijau, cyanobacteria, atau mikroorganisme fermentasi. Ganggang hijau dan
cyanobacteriamenggunakan energi sinar matahari untuk menghasilkan H2 dari air, sementara
bakteri fermentasi bersifat heterotrof (Das dan Veziroglu, 2001). Produksi hidrogen dari
sumber daya terbarukan dengan fermentasi adalah metode yang lebih menjanjikan di antara
alternatif proses produksi hidrogen yang lain. Sesuai dengan pembangunan berkelanjutan dan
masalah minimisasi limbah, produksi hidrogen biologis, yang dikenal sebagai "teknologi
hijau" telah menerima banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir dikarenakan
membutuhkan energi yang sedikit dan dapat dikombinasikan dengan proses pengolahan

7
limbah cair. Hidrogen tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak beracun ketika
digunakan sebagai bahan bakar karena tidak menghasilkan polutan tetapi menghasilkan air
sebagai produk tunggal. Dibandingkan dengan bahan bakar fosil, hidrogen menghasilkan
energi sebesar 122 kJ/g, 2,75 kali lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar hidrokarbon
(Mei Ling Chong dkk.,2009).
Adapun beberapa keuntungan dari penggunaan hidrogen ialah pembakaran hidrogen
pada automobile 50% lebih efisien dari pada bensin (Reith dkk., 2003). Kemudian hidrogen
mempunyai efisiensi konversi sebesar 55-60% (Nilai pembakaran gas H 2) dibandingkan
dengan gas metana yang hanya 33% (Van Groenestijn dkk., 2002) . Hidrogen dapat dijual
sebagai metal hydride (Dong dkk., 2007) serta transmisi hidrogen melalui perpipaan gas akan
lebih efisien daripada transmisi electricity down power line (Kloeppel dan Rogerson, 1991).
Selain itu gas H2 mempunyai aplikasi industri yang lebih luas dibandingkan gas metana (Li
dan Fang, 2007). Di antara metode produksi hidrogen, metode yang paling menjanjikan dan
ramah lingkungan adalah fermentasi gelap dari limbah organik karena menggabungkan
proses produksi hidrogen dengan pengolahan limbah (Benemann 1996).
Teknologi biohidrogen untuk sel bahan bakar ini menjanjikan, yaitu meninggalkan
ketergantungan terhadap minyak bumi, pemenuhan energi secara efisien, serta teknologi ini
ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang. Di Jepang terdapat hidrogen
city, kota ramah lingkungan karena mengoptimalkan pemanfaatan hidrogen sebagai sumber
energi dengan potensi sumber daya setempat.

II.5 Metode Produksi Biohidrogen


Ada beberapa metode memproduksi bahan bakar bersih ini. Di antaranya adalah
teknik biologi yang merupakan suatu pilihan menjanjikan. Ketika dikombinasikan dengan
treatment sampah, teknik ini bisa memecahkan dua permasalahan sekaligus yakni
pengurangan polusi dari degradasi sampah tak terkendalikan dan sebagai generasi bahan
bakar alternatif bersih.
Secara biologi, hidrogen dapat diproduksi dengan cara :
1. Fotosintesis
2. Fermentasi
A. Produksi Hidrogen (H2) Melalui Fotosintesis
Fotosintesis pada tumbuhan serta alga hijau dan hijau-biru
6H2O + 6CO2cahaya C6H12O6 + 6O2+ cellular energy
Fotosintesis produksi H2 pada alga hijau dan hijau-biru-biofotolisis
H2Ocahaya- 0.5O2 + H2
8
Produksi H2 pada alga hijau
2H+ +2 elektronhidrogenaseH2
Fotosintesis produksi H2 dalam alga hijau-biru dan bakteri nitrogenase
N2 + 8H+ + 8e- + energynitrogenase2NH3 + H2
Hidrogenase pada alga hijau
Terinduksi sedikit oleh kondisi pre-inkubasi yang gelap dan anaerob
Berperan mengatur transisi gelap/cahaya
Sifatnya sensitive terhadap O2, jadi produksi H2 menurun saat ada cahaya
karenanya diusulkan menggunakan 2 tahap proses.
Nitrogenase pada alga hijau-biru dan bakteri
Produksi lebih banyak H2 bila tidak ada N2
Terhambat oleh NH3, O2
Merupakan energi yang sangat dibutuhkan
Perputarannya 1000x lebih lambat dibanding hidrogenase
Produksi H2 oleh bakteri fotosintetis
Membutuhkan komponen organic
Tidak memproduksi O2

B. Produksi Hidrogen (H2) Melalui Fermentasi

Memiliki banyak jenis bakteri, terutama Clostridia

Proses gelap dan anaerobic

Karbohidrat sebagai substrat penyokong

Melibatkan hidrogenase

Hasil/yield H2 maksimum dengan asam asetat sebagai produk fermentasi

Metode yang cocok digunakan untuk produksi biohidrogen selama ini adalah dengan
menggunakan metode fermentasi anaerobik dengan memanfaatkan biomassa atau limbah
biomassa cair dan agen mikroba anaerobik akan tetapi untuk memperoleh yield yang lebih
tinggi dikembangakan sistem fotofermentasi dengan menggunakan bakteri fotosintetik.

II.6 Sistem pada Biohidrogen

Terdapat 4 macam sistem biohidrogen, yaitu:

a. Biophotolisis langsung

9
Fotosintesis memproduksi hidrogen dari air adalah suatu proses secara biologi yang
memanfaatkan cahaya matahari, menghasilkan energi kimia dengan reaksi sebagai berikut :

2H2O-Energi cahaya.2H2 +O2

Alga hijau, di bawah kondisi anaerob, dapat menggunakan H2 sebagai suatu donor elektron di
dalam proses fiksasi CO2 atau meningkatkan H2. Produksi hidrogen oleh mikroalga hijau
membutuhkan waktu beberapa menit hingga beberapa jam dari inkubasi anaerob dalam
kondisi gelap untuk menginduksi pengaktifan dan/atau sintesa enzim yang dilibatkan dalam
metabolisme H2, termasuk reversible enzim hidrogenase. Hidrogenase mengkombinasi proton
(H+) dalam medium dengan elektron untuk membentuk dan menghasilkan H 2. Dengan begitu,
mikroalga hijau mampu secara genetik, enzimatik, metabolik, dan transport elektron menuju
ke photoproduce gas H2. Sintesis H2 memungkinkan elektron melalui rantai transport elektron,
yang mendukung sintesis ATP.

Proses fotosintesis alga mengoksidasi H2O dan meningkatkan O2. Energi cahaya
diabsorbsi oleh fotosistem II (PSII) menghasilkan electron yang ditransfer ke ferredoxin, lalu
menggunakan energi cahaya diabsorbsi oleh fotosistem I (PSI). Hidrogenase reversible
menerima elektron secara langsung dari ferredoxin yang telah dikurangi untuk menghasilkan
H2. Karena enzim hidrogenase yang bertanggung jawab pada evolusi molekuler H 2 adalah
sangat sensitive terhadap O2, produksi fotosintesis dari H2 dan O2 haruslah sementara dan/atau
terpisah.

Dalam 2 fase proses, selama fotosintesis normal (fase1),CO 2 pertama tercampur dalam
substrat yang kaya H2, diikuti dengan generasi cahaya tengah dari molekuler H2 saat
mikroalga dierami di bawah kondisi anaerob (fase 2). Fase 2 dari dua tahap proses dapat
dicapai dengan inkubasi mikroalga dalam medium yang tidak mengandung sulfur. Contoh
kultur alga hijau adalah Chlamydomonas reinhardtii.

b. Biofotolisis tak langsung

Cyanobacteria dapat juga mensintesis dan meningkatkan H2 melalui jalur fotosintesis


mengikuti proses sebagai berikut :

12H2O + 6CO2Energi cahaya.C6H12O6 + 6O2;

10
C6H12O6 + 12H2O Energi cahaya .12H2 + 6CO2

Cyanobacteria (disebut juga blue-green algae, cyanophyceae, or cyanophytes) adalah


suatu grup besar dari mikroorganisme photoautotrophic. Cyanobacteria mengandung pigmen
fotosintesis, seperti klorofil, karotenoid, dan fikobiliprotein, serta dapat menyuguhkan
fotosintesis oksigenik. Nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme ini cukup sederhana yakni
udara (N2 dan O2), air, garam mineral, dan cahaya. Spesies ini memiliki beberapa enzim yang
secara langsung meningkatkan metabolisme H2 dan sintesis molekuler H2. Termasuk
nitrogenase yang mengkatalis produksi H2 sebagai by-product dari reduksi nitrogen menjadi
ammonia, pengambilan hidrogenase yang mengkatalis oksidasi dari sintesis H2 oleh
nitrogenase, dan bi-directional hydrogenases yang mempunyai kemampuan untuk
mengoksidasi dan sintesis H2. Produksi hidrogen dengan Cyanobacteria telah diteliti lebih
dari 3 dekade dan terungkap bahwa efisien fotokonversi dari H 2O menjadi H2 dipengaruhi
oleh banyak faktor.

c. Photo-fermentation (fermentasi cahaya)


Bakteri Purple non-sulfur meningkatkan molekuler H2 dikatalis oleh nitrogenase di
bawah kondisi defisiensi nitrogen menggunakan energi cahaya dan asam-asam organic.
C6H12O6 + 12H2O Energi cahaya .12H2 + 6CO2
Secara umum, kecepatan produksi hidrogen oleh bakteri photoheterotrophic sangat besar
ketika sel berhenti di dalam matriks padat dibandingkan ketika sel hidup bebas.
d. Dark-fermentation (fermentasi gelap)
Hidrogen dapat diproduksi pula oleh bakteri anaerob, yang tumbuh di tempat gelap
dan kaya akan karbohidrat. Reaksi fermentasi dapat berlangsung pada kondisi mesofilik (25
40.C), thermophilic (4065.C), extreme thermophilic(6580.C), or hyperthermophilic
(>80.C). Di samping protolisis langsung dan tak langsung yang memproduksi H 2 murni,
proses ini memproduksi campuran biogas yang mengandung utamanya H 2 dan CO2, selain itu
juga sedikit metana, CO, dan H2S.

II.7 Keuntungan dan Kelemahan Biohidrogen


Keuntungan bio-hidrogen adalah sebagai berikut :
1. Biaya energi lebih rendah

11
Gambar 1. Perbandingan biaya energi saat ini dengan biaya energi masa depan menggunakan
bio-hidrogen di German.
2. Dapat menyokong energi otonom, pertanian, dan kebijakan keamanan (tidak ada
perang minyak)
3. Perlindungan lengkap pada lingkungan dan iklim ( proteksi ganda dari CO2)
4. Semua sumber daya energi memiliki akses bagi seluruh pasar (diversifikasi).
Kelemahan bio-hidrogen adalah :
1. Produksi hydrogen dapat terhambat oleh ammonia
2. Enzim hidrogenase yang berperan pada produksi hydrogen inactive dengan adanya
oksigen
3. Merupakan sumber energi yang lemah dibanding metana. Jika 12.5 liter gas metana
mempunyai 100 kalori energi yang tersedia, sementara dengan volume yang sama gas
hidrogen hanya mempunyai 30 kalori energi yang tersedia.

II.8 Merealisasikan Biohidrogen Sebagai Sumber Energi Alternatif


Pada masa ini, belum ada proses produksi biohidrogen yang bisa langsung
dipraktekkan dalam skala besar. Akan tetapi, banyak konsep yang dapat mewujudkan hal
tersebut. Seperti konsep mengubah bahan organik menjadi hidrogen, pemaksaan kondisi
mikroba agar menghasilkan hidrogen, perbedaan suhu pada suatu proses, yang kemudian
dibandingkan dengan proses lain melalui dua tahap, penggunaan suhu tinggi, hingga
pemakaian katalis bisa dijadikan konsep produksi biohidrogen.
Meski hanya konsep dasar, bukan berarti tidak dapat diaplikasikan. Hasil biohidrogen
melalui fermentasi anaerobik hanya bisa mencapai kurang dari 20% dengan menggunakan
substrat limbah organik lebih kecil daripada produksi CH4. Hasil lebih besar bisa diperoleh
dengan peningkatan suhu, pembatasan nutrisi dan juga melalui pendekatan rekayasa
metabolisme dari bakteri. Fotofermentasi, perubahan bahan organik melalui bakteri
12
fotosintetik pengikat nitrogen, dapat menghasilkan biohidrogen yang lebih tinggi, akan tetapi
sistem masih bergantung pada cahaya. Tidak efisiennya sifat dari enzim nitrogenase, maka
penggunaan enzim hidrogenase yang irreversible lebih diprioritaskan. Fermentasi biasa secara
anaerobik bisa menjadi lebih baik untuk pengolahan limbah organik menjadi biohidrogen
dibandingkan dengan fotofermentasi karena tingginya modal pembuatan fotobioreaktor
(Benneman, 1997).

TAHUN MEKANISME SUBSTRAT HASIL REFERENSI


1997 fotofermentasi 7.5 mM asam 120 mL total Eroglu, I
malat
1997 fotofermentasi limbah susu 85 mL total Turkarslan, S
2000 fotofermentasi 50 mM na laktat 269 mL % total Barbosa, M. J.
2006 Kombinasi 40 mM glukosa 52 mL total Redwood, M. D.
2006 fotofermentasi 28 mM glukosa 5 mL H2 Fang, H. H. P.
2007 fotofermentasi 30 mM glukosa 70 mL total Li, R. Y.
2007 fotofermentasi 30 mM na laktat 255.4 mL total Li, R. Y.
2008 fotofermentasi 25 mM glukosa 45 mL H2 Penelitian sekarang
2008 fotofermentasi 50 mM glukosa 120 mL H2 Penelitian sekarang
2008 fotofermentasi hidrolisat 50 mL H2 Penelitian sekarang
limbah tebu
Telah dilakukan berbagai penelitian dalam produksi biohidrogen untuk mendapatkan
hasil yang maksimal meskipun bisa dikatakan belum efisien. Berikut adalah catatan dari
banyak penelitian tentang biohidrogen secara fotofermentasi seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Produski biohidrogen dari berbagai referensi
Demi mengurangi penggunaan energi berbasis fosil yang sudak tidak ramah
lingkungan dan bersifat kontroversial serta menjawab persoalan krisis energi maka
dibutuhkan penelitian secara lanjut untuk mengembangkan produksi biohidrogen ini untuk
skala besar agar dapat digunakan sebagai komoditas energi baik di Indonesia maupun dunia.
Sehingga kebutuhan energi dunia dapat terpenuhi dan lingkungan pun terlindungi dari
permasalahan global warming yang menjadi issu utama bagi dunia saat ini.

13
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Biohidrogen merupakan energi baru dan terbarukan yang diharapkan dapat menjawab
keterbatasan energi fosil. Pemanfaatan limbah pertanian ini dapat meningkatkan fungsi dari
limbah yang biasanya hanya dianggap sampah. Biohidrogen dapat dihasilkan dari limbah
pertanian melalui proses bioteknologi yaitu fermentasi. Teknologi biohidrogen untuk sel
bahan bakar ini menjanjikan, yaitu meninggalkan ketergantungan terhadap minyak bumi,
pemenuhan energi secara efisien, serta teknologi ini ramah lingkungan karena tidak
menghasilkan emisi gas buang. Secara biologi, hidrogen dapat diproduksi dengan cara
fotosintesis dan fermentasi. Keuntungan yang didapat ketika kita menggunakan bio-hidrogen
sebagai komoditi energi adalah biaya energi lebih rendah, dapat menyokong energi otonom,
pertanian, dan kebijakan keamanan (tidak ada perang minyak), perlindungan lengkap pada
lingkungan dan iklim (proteksi ganda dari CO2) serta semua sumber daya energi memiliki
akses bagi seluruh pasar (diversifikasi). Disisi lain bio-hidrogen juga memiliki kelemahan
yang terpusat pada proses produksinya.

III.2 Saran
Demi mengurangi penggunaan energi berbasis fosil yang sudak tidak ramah
lingkungan dan bersifat kontroversial serta menjawab persoalan krisis energi maka
dibutuhkan penelitian secara lanjut untuk mengembangkan produksi biohidrogen ini untuk
skala besar agar dapat digunakan sebagai komoditas energi baik di Indonesia maupun dunia.
Sehingga kebutuhan energi dunia dapat terpenuhi dan lingkungan pun terlindungi dari
permasalahan global warming yang menjadi issu utama bagi dunia saat ini.

14