Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

BIOGRAFI IMAM AL-GHAZALI

Nama lengkapnya adlah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Taus
Ath-Thusi Asy-Syafii Al-Ghazali. Ia dipanggil Al Ghazali atau Abu Hamid Al Ghazali. Ia
dipanggil Al-Ghazali karena dilahirkan di kampung Ghazlah, suatu kota di Khurasan, Iran,
pada tahun 450 H/1058 M, tiga tahun setelah kaum Saljuk mengambil alih kekuaaan di
Baghdad.
Ayah Al-Ghazali adalah seorang yang shaleh dan sangat sederhana. Pekerjaannya adalah
pemintal kain wol, dia seseorang yang taat, sangat menyenangi ulama, dan sering aktif
menghadiri majelis-majelis pengajian. Ketika menjelang wafatnya, ayahnya menitipkan Al-
Ghazali dan adiknya yang bernama Ahmad kepada seorang sufi. Ia menitipkan sedikit harta
kepada sufi itu seraya berkata dalam wasiatnya :
aku menyesal sekali karena aku tidak belajar menulis, aku berharap mendapatkan apa yang
tidak kudapatkan itu melalui dua putraku ini
Saat sufi menjalankan isi wasiat itu dengan cara mendidik dan mengajar keduanya, sampai
harta titipannya habis dan sufi itu tidak mampu lagi memberi makan keduanya. Selanjutnya,
sufi itu menyarankan kedua anak titipan kepada pengelola sebuah madrasah untuk belajar
sekaligus menyambung hidup mereka.
Di madrasah tersebut, Al-Ghazali mempelajari ILMU

2.1.1 Cabang-cabang keimanan

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Iman terbagi lebih dari
tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illAllah dan
yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu
cabang dari iman." HR. Muslim

2.1.2 Tingkatan-tingkatan Keimanan :

Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.

1. Adapun rasanya iman, maka Nabi SAW menjelaskan dengan sabda-Nya: "Yang
merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah SWT sebagai
Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad SAW sebagai rasul." HR.
Muslim

1
2. Adapun manisnya iman, maka Nabi SAW menjelaskan dengan sabdanya: "Ada tiga
perkara, barangsiapa yang ada padanya, niscaya dia merasakan nikmatnya iman:
bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya SAW lebih dicintainya dari apapun selain
keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah SWT, dan dia benci
kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka."
Muttafaqun 'alaih`
3 Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat
agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah
dan menolong, berjihad dan berinfak.

1, Firman Allah SWT:




[ : ]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah SWT gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya,
bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu)
orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami
berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.
Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta
rejeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal :2-4)

2, Firman Allah SWT:



[ : ]

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah SWT, dan orang-
orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang
muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh
ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 74)

2
3, Firman Allah SWT:


[ : ]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada


Allah SWT dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka pada jalan Allah SWT, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS.
Al-Hujuraat :15)

Seorang hamba tidak bisa mencapai hakekat iman hingga dia mengetahui bahwa apapun yang
menimpanya tidak akan terlepas darinya dan apapun yang terlepas darinya pasti tidak akan
menimpanya.

2.1.3 Rukun Iman

Rukun Iman ada 6 yaitu :

1. Beriman kepada ALLAH subhanahu wataala

2. Beriman kepada Malaikat-malaikat Allah

3. Beriman kepada Kitab-kitab Allah

4. Beriman kepada Rasul-rasul Allah

5. Beriman kepada Hari Kiamat

6. Beriman kepada Qada dan Qadar

Hal ini berdasarkan dalil yang berasal dari hadits jibril, di riwayatkan oleh muslim ra, berikut
ini hadits yang menjelaskan tentang rukun iman :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah
Shallallahualaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang

3
mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya
bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya.
Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada
kepada lututnya (Rasulullah Shallallahualaihi wasallam) seraya berkata: Ya Muhammad,
Beritahukan aku tentang Iman . Lalu beliau bersabda: Engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau
beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk , kemudian dia berkata: anda
benar. kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau
(Rasulullah) bertanya: Tahukah engkau siapa yang bertanya ?. aku berkata: Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui . Beliau bersabda: Dia adalah Jibril yang datang kepada
kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian . (Riwayat Muslim)

2.1.4 Kesempurnaan Iman

Cinta yang sempurna kepada Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan konsekuensi
adanya yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah SWT, sedang
keduanya adalah amal ibadah hati. Dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah
SWT, sedang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya keduanya menunjukkan
kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah SWT.

Dari Abu Umamah r.a, dari Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa cinta karena Allah
SWT, memberi karena Allah SWT, dan melarang karena Allah SWT, niscaya dia telah
menyempurnakan iman." HR: Abu Daud

2.1.5 Termasuk Perkara-perkara Iman

. Cinta kepada Rasulullah SAW.

. Mencintai kaum anshar.

. Mencintai orang-orang yang beriman.

. Mencintai saudaranya sesama Islam.

. Mencintai tetangga dan tamu, serta tidak bicara kecuali tentang yang baik.

. Memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar.

4
. Nasehat.

2.2 PENGERTIAN ISLAM

Kata Islam berasal dari bahasa Arab diangkat dari asal kata salima yang berarti selamat
sentosa. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya tunduk patuh, taat dan
memelihara diri.

Pengertian islam secara khusus adalah segala apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW,
sebagaimana yang diturunkan Allah dalam Al-Quran dan disampaikan oleh Nabi
Muhammad dalam sunnahnya yang shahih atau benar, yang berupa perintah-perintah,
larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan
kesejahteraan di hari kemudian atau akhirat.

Secara Umum, Pengertian islam adalah segala apa yang diisyaratkan oleh Allah dengan
perantara para Nabi dan Rasulnya yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan serta
petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia didunia dan kesejahteraan dihari kemudian
atau akhirat.

Berdasakan pada Hadist Nabi sebagai jawaban terhadap pertanyaan seorang badawi kepada
Nabi Muhammad SAW, Pengertian islam adalah engkau naik saksi bahwa tidak ada Tuhan
melainkan Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, engkau menegakkan shalat dan memberi
zakat, berpuasa pada bulan ramadhan, serta pergi haji ke baitullah jika engkau sanggup
melaksanakannya.

Pengertian islam yang diangkat dari kata aslama itu sendiri ialah kepatuhan dan ketaatan
serta mengikat diri dengan sukarela kepada Allah Swt. Dalam Pengertian islam ini terdapat
syarat suka rela atau ikatan, karena kepatuhan yang dipaksakan itu sepanjang mengenai
eksistensinya adalah umum bagi semua makhluk hingga tidak ada pahala melainkan hanyalah
hukuman.

5
Pengertian islam dari segi sistem adalah suatu sistem peraturan-peraturan undang-undang
yang meliputi peraturan-peraturan hidup manusia dan tata cara tingkah laku bagi manusia,
yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW dari Tuhannya, yang diperintahkan
kepadanya untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia dengan akibat pahala bagi
mentaatinya dan hukuman bagi yang mengingkarinya.

Melihat dari Substansi ajarannya maka dirumuskan, sebagai berikut.


Pengertian islam adalah keselamatan yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad
SAW yang terdiri dari hukum-hukum akidah, akhlak, peribadatan, muamalah dan berita
kisah-kisah yang kesemuannya terdapat dalam kitab Suci Al quran dan hikamah Rasulullah
yang diperintahkan Allah unyuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Demikianlah
pengertian hukum islam menurut para pakar, semoga tulisan saya mengenai pengertian islam
menurut para pakar dapat bermanfaat.

2.2.1 Misi Agama Islam

1. Mengajak dan menyuruh manusia untuk tunduh patuh (aslama) pada aturan-aturan Allah
dalam menjalani kehidupannya di dunia, baik suka atau tidak suka, sehingga dengannya
manusia mendapatkan kebahagiaan hakiki, lahir dan batin, di dunia dan akhirat.

2. Membimbing manusia untuk menemukan kedamaian dan dalam menciptakan kedamaian,


baik dalam kehidupan kepribadiannya atau dalam kehidupan sosial bersama orang lain,
sehingga dengannya ia mendapatkan kebahagiaan hakiki, lahir dan batin di dunia

3. Memberikan jaminan kepada manusia dalam mendapatkan keselamatan dan terbebas dari
bencana hidup baik di dunia atau di akhirat, sehingga ia mendapatkan kebahagiaan hakiki di
akhirat kelak.

2.2.2 Rukun Islam

1.Mengucap Dua Kalimat Syahadat

Syahadat ini memiliki makna mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati lalu
mengamalkannya melalui perbuatan. Adapun orang yang mengucapkannya secara lisan
namun tidak mengetahui maknanya dan tidak mengamalkannya maka tidak ada manfaat sama
sekali dengan syahadatnya.

6
2.Mendirikan Shalat

Shalat merupakan ibadah yang sangat agung kedudukannya dan Shalat mendapat perhatian
dan prioritas utama dalam Islam. Keutamaan salat dan kedudukannya diantara ibadah-ibadah
yang lain telah dijelaskan dalam Islam. Ia merupakan sarana penghubung antara seorang
hamba dengan Tuhannya. Ia juga merupakan gambaran ketaatan seorang hamba akan segala
perintah Tuhannya.

3.Menunaikan Zakat

Zakat adalah kewajiban menyisihkan jenis harta tertentu untuk disalurkan kepada
sekelompok orang tertentu pada waktu tertentu.

4.Berpuasa di Bulan Ramadhan

Pengertian puasa merupakan ibadah kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Seorang
hamba meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya demi Allah. Hal itu di antara sarana
terbesar mencapai taqwa kepada Allah taala.

5.Menunaikan Ibadah Haji

Haji merupakan bentuk ibadah kepada Allah taala dengan ruh, badan dan harta.

2.3 UNIVERSALITAS ISLAM

2.3.1 Ruang Lingkup Islam sebagai Ajaran Universal

Islam sebagai ajaran yang haq dan sempurna hadir di bumi diperuntukkan untuk mengatur
pola hidup manusia agar sesuai fitrah kemanusiaannya, yakni sebagai khalifah di muka bumi
dengan kewajiban mangabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.

Iradat Allaw Swt., kesempurnana hidup terukur dari personality manusia yang integratif
antara dimensi dunia dan ukhrawi, individu dan sosial, serta iman, ilmu dan amal yang
semuanya mengarah terciptanya kemashlahatan hidup di dunia, baik secara individual
maupun kolektif.

7
Secara normatif Islam tidak hanya sekedar agama ritual yang cenderung individual, akan
tetapi merupakan suatu tata nilai yang mempunyai komunitas dengan kesadaran kolektif yang
memuat pemahaman/kesadaran, struktur dan pola aksi bersama demi tujuan-tujuan politik.

Substansi pada dimensi kemasyarakatan, agama memberikan spirit pada pembentukan moral
dan etika. Islam menetapkan Tuhan dari segala tujuan, menyiratkan perlunya peniru etika ke
Tuhanan, meliputi sikap rahmat (pengasih), barr (pemula), ghafur (pemaaf), rahim
(penyayang), dan ihsan (berbuat baik). Totalitas dari etika tersebut menjadi kerangka
pembentukan manusia yang kafah (tidak boleh mendua) antara aspek ritual dengan aspek
kemasyarakatan (politik, ekonomi dan sosial budaya).

Islam sebagai ajaran universal sangatlah menjunjung tinggi nilai kemasyarakatan, dimana
Islam memiliki ajaran yang cocok untuk seluruh kalangan masyarakat dimanapun ia tinggal
(tempat) dan sampai kapanpun (zaman).

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa, nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad
Saw., diutus Allah Swt. untuk menghadapi kaum mereka masing-masing. Misalnya saja Nabi
Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa yang diutus oleh Allah kepada Bani Israil. Atau Nabi
Shaleh yang khusus diutus Allah untuk kaum Tsamud, seperti yang tertera dalam surat Al-
Naml ayat 45:

Artinya:

Sesungguhnya kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang
berseru): Sembahlah Allah. Tetapi tiba-tiba mereka (menjadi) dua golongan yang
bermusuhan.

Ayat di atas ialah salah satu contoh ayat al-Quran yang menerangkan bahwa setiap nabi
diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad SAW.. Adapun Nabi Muhammad
diutus untuk seluruh umat manusia sebagaimana yang telah disebutkan pada surat Al-Saba
ayat 28:

8
Artinya:

Tidaklah kami utus engkau kecuali untuk membawa kabar baik dan peringatan bagi seluruh
manusia, tetapi kebanyakan orang tidak tahu.

Maka Nabi Muhammad pun menyampaikan agama yang dibawanya tidak hanya kepada
kaumnya (Quraisy). Namun, juga kepada suku-suku Arab lainnya. Setelah bangsa Arab yang
berada di semenanjung Arabia menerima ajaran yang dibawanya, Nabi Muhammad mengirim
utusan dengan surat ke Raja Persia, Raja Ethiopia, penguasa Aleksandria, Muwaqis, dan
Gubernur Bizantium di Busra.

Menyampaikan Islam ke negara-negara lain, selain Arab yang berada di semenanjung Arabia,
dilanjutkan Khalifah Abu Bakar. Tetapi, usaha itu baru banyak berhasil pada zaman Khalifah
Umar bin Khattab. Pada masa pemerintahannya (634-644 M) ajaran Islam telah sampai ke
Mesir, Palestina, Suriah, Irak dan Persia. Pada masa Dinasti Umayyah seruan Islam
diteruskan lagi ke Spanyol dan Prancis di Eropa, melalui Afrika Utara, ke Cina melalui Asia
Tengah dan India melalui Afghanistan. Pada masa-masa sesedahnya, Islam masuk ke Eropa
Timur sampai ke perbatasan Wina, dan Asia Tenggara sampai ke Malaysia, Filipina, dan
Indonesia. Di Afrika bagian Utara dan Selatan, Islam dianut oleh manusia dalam berbagai
bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan. Tetapi sungguhpun demikian kesemuanya disatukan
oleh Al-quran. Islam telah menjadi agama universal.

Sabagai agama universal, Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang berlaku untuk semua
tempat dan zaman. Ajaran-ajaran dasar yang bersifat universal, absolut, mutlak benar, kekal,
tidak berubah dan tidak boleh diubah itu jumlahnya menurut para ulama- hanya kurang
lebih 500 ayat atau kurang lebih 14 % dari seluruh ayat Al-quran. Perincian tentang maksud
dan pelaksanaan ajaran-ajaran dasar yang terkandung dalam Al-quran itu disesuaikan
dengan situasi dan kondisi tempat dan zaman tertentu. Dengan demikianlah timbullah aliran-
aliran dan mazhab-mazhab dalam ajaran-ajaran Islam.

Dalam akidah atau teologi, timbul lima aliran, yaitu: Khawarij, Murjiah, Mutazilah dan
Asyariyah, serta Maturidiyah. Dalam fiqih atau hukum Islam, muncul empat mazhab:
Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Dalam politik lahir tiga aliran; Sunni, Khawarij, dan
Syiah. Dalam tasawuf tampil dua aliran: Sunni dan Syiah. Dalam filsafat timbul aliran Al-

9
Ghazali, aliran Al-Farabi, dan Ibn Rusyd. Aliran dan mazhab yang berbeda-beda itu timbul
sesuai dengan situasi dan kondisi tempat serta zaman masing-masing.

Karena semuanya adalah penafsiran dan penjabaran dari ajaran-ajaran dasar al-Quran, maka
semuanya berada dalam kebenaran. Tidak dibenarkan bahwa hanya satulah dari mazhab dan
aliran yang berbeda-beda itu yang benar dan yang lainnya salah. Mengenai kenyataan ini
hadist Nabi mengatakan: perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat.

Kecenderungan manusia berbeda-beda, maka dalam aliran dan mazhab yang berbeda-beda
itu, orang bisa menjumpai yang cocok dengan dirinya. Dalam hal itu, semuanya dalam
kebenaran, sehingga Islam yang dasarnya satu, yaitu al-Quran-berbeda-beda coraknya.
Belakangan timbul istilah Islam Mesir, Islam Saudi Arabia, Islam Iran, Islam Pakistan,
Islam Indonesia, Islam Malaysia, dan sebagainya. Yang dimaksud dengan istilah-istilah itu
adalah bahwa di dalam Islam terdapat ajaran-ajaran yang bersifat universal, tetapi penafsiran
dan cara pelaksanaan ajaran-ajaran universal itu berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain.

Kebudayaan setempat besar pengaruhnya pada penafsiran dan pelaksanaan ajaran-ajaran


pokok yang bersifat unversal itu. Sebagai contoh dapat disebut pelaksanaan kewajiban
berpuasa bulan Ramadlan. Di Indonesia malam-malam Ramadlan diisi dengan shalat tarawih
beramai-ramai sehingga masjid-masjid ramai dengan jamaah. Tetapi setelah itu orang pergi
tidur seperti biasa. Di dunia Arab malam-malam Ramadlan berubah, menyerupai siang.
Kegiatan di dalam dan di luar rumah berlangsung sampai subuh. Idul fitri di Indonesia di
Indonesia dirayakan dengan halal bihalal, dan di Mesir dirayakan dengan beramai-ramai
berkunjung ke kuburan keluarga masing-masing. Di kuburanlah ucapan saling memaafkan
disampaikan. Di Indonesia hukum fiqih yang umum dipakai adalah hukum fiqih Imam
Syafii, tetapi di Mesir umapamanya, keempat hukum fiqih (Syafii, Maliki, Hanafi, dan
Hambali) telah dipakai.

Di indonesia, toleransi bermazhab kurang dijumpai hingga sering terjadi pertentangan antara
masing-masing penganut mazhab, sedangkan di Mesir pertentangan mazhab-mazhab tersebut
tidaklah kelihatan. Umat Islam di Indonesia menekankah ibadah sehingga keislaman
seseorang dinilai dari pelaksanaan ibadahnya. Di Mesir yang ditekankan adalah iman,
sehingga keislaman seeorang diukur dari keimanan melalui ucapan syahadat. Jadi, ajaran
dasar Islam bersifat universal, tetapi penafsiran dan cara pelaksanaannya bercorak lokal.

10
Inilah yang dimaksud dengan ungkapan: Islam adalah agama yang sesuai dengan semua
tempat dan segala zaman.

Contoh keuniversalan ajaran Islam, ditinjau dari zaman, adalah konsep musyawarah yang
disebut dalam Al-Quran. ayat mengatakan: Bermusyawaralah dengan mereka. Penjelasan
tentang musyawarah tidak ada dala Al-Quran. Maka dalam sistem pemerintahan monarki
Islam masa silam, musyawarah dilaksanakan melalui raja dengan meminta pendapat dari
pembantu-pembantu dekatnya, dan setelah mempertimbangkan pendapat-pendapat itu ia
kemudian mengambil keputusan. Di zaman demokrasi pemerintah republik yang sekarang
umum terdapat dalam pemerintahan Islam, musyawarah dilakukan di DPR. Dalam pada itu
pengambilan keputusan berbeda-beda pula dari satu negara ke negara Islam yang lainnya.
Kita di Indonesia memakai sistem mufakat, sedang di dunia Islam lain dipakai sistem suara
terbanyak.

Keuniversalan Islam digambarkan juga oleh ilmu yang dikembangkan ulama Zaman Klasik,
yaitu zaman antara abad ke-8 dan 13 M. Seperti dibuktikan oleh sejarah, yang dikembangkan
oleh ulama Islam di zaman itu bukan hanya ilmu-ilmu seperti tafsir, hadis, fiqih, tauhid,
tasawuf, dan lain-lain, tetap juga mengembangkan ilmu-ilmu keduniaan ynag sekarang kita
sebut sains, seperti ilmu kedokteran, matematika, astronomi, kimia, optika, geografi, dan
sebagainya.

Nama-nama yang termasyhur dalam ilmu kedokteran ialah Al-Thabari (abad IX), Al-Razi
(865-925 M), Ibn Sina (980-1037 M) dan Ibn Rusyd (1126-1198 M). Selain Ibn Rusyd di
Andalus atau Spanyol Islam dikenal juga Al-Zahrawi sebagai ahli bedah pada abad ke-9 M.
Dari keturunan Ibn Zur muncul dokter perempuan.

Dalam bidang matematika dikenal Al-Khawarizmi (750-850 M), bapak ilmu aljabar. Dalam
bidang astronomi dikenal Al-Fazari yang merupakan astronom Islam pertama. Ada Ibn
Hayyan yang merupakan bapak ilmu kimia yang mengarang buku mengenai konsentrasi air
raksa. Dan tentu masih ada banyak lagi ilmuan-ilmuan Islam yang lainnya.

Dalam ilmu pengetahuan alam, ulama-ulama Islam menulis tentang ilmu hewan, ilmu
tumbuh-tumbuhan, antropologi, geografi, geologi, dan lain-lain. Terdapat banyak nama-nama
masyhur dalam berbagai bidang, misalnya Al-Jahiz, Ibn Miskawih, dan Ikhwan Al-Shafa
yang mengemukakan teori evolusi jauh tujuh abad sebelum teori evolusi Darwin.

11
Universitas-universitas didirikan di dunia Islam. Ke sana mahasiwa-mahasiswa dari prancis,
inggris, dan lain-lain, datang menuntut ilmu yang dikembangkan ulama-ulama Islam itu. Di
antara mahasiswa itu adalah Roger Bacon dan Michael Scott. Buku-buku karangan ulama
Islam diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, dan Toledo menjadi pusat penerjamahan.
Penerjemah-penerjemah terkenal adalah Adelard Bath, Gerard Cremona dan lain-lain. pada
penutup abad ke-13 M, filsafat dan sains yang dikembangkan ulama Islam itu telah berpindah
ke-Eropa. Akibatnya, renaisans pun timbul di benua itu.

Kenyataan sejarah ini diakui oleh penulis-penulis Barat sendiri, misalnya, Alfred Guillaume
ketika ia mengatakan:

Sekiranya orang Arab bersifat ganas seperti orang Mongol dalam menghancurkan api ilmu
pengetahuan Renaisnans di Eropa mungkin akan terlambat lebih dari dari seratus tahun.

Sementara itu Lebon menulis:

Orang Islamlah yang menyebabkan orang-orang Eropa mempunyai peradaban. Merekalah


yang menjadi guru orang Eropa selama enam ratus tahun tahun.

Demikianlah universalitas ajaran Islam dan sains yang dikembangkan Islam, sehingga Islam
dianut di seluruh dunia, Islam adalah agama universal yang cocok untuk semua tempat dan
zaman, untuk semua manusia, bangsa, bahasa, kebudayaan, dan adat istiadat. Berbahagialah
orang yang memilih Islam sebagai agamanya. Dan kita wajib memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah Swt. atas nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita.

2.3.2 Hakikat Kehidupan Manusia

Alangkah murahnya nilai hidup ini, kalau hanya semata-mata terbatas pada kebendaan.
Apalah harganya manusia ini, kalau fikirannya hanya tertuju kepada nasi dan gulai. Tak
pernah matanya singgah kepada bunga yang sedang mekar atau bintang berkelip di halaman
langit.

Beberapa kalimat bermajas di atas menunjukkan sindiran (biasa dikenal dengan majas ironi)
terhadap manusia yang tidak memanfaatkan hidupnya sebagaimana mestinya. Menjalani
hidup yang tidak sesuai dengan hakikat kehidupan manusia di dunia. Kita sebagai makhluk
yang berakal haruslah menjalani hidup ini sesuai dengan hakikat hidup yang sebenarnya.

12
Membahas tentang hakikat kehidupan manusia, maka sama halnya dengan berbicara
mengenai status, fungsi, dan tugas serta tujuan hidup manusia di dunia ini. oleh karena itu,
akan lebih jelas jika langsung diuraikan tentang hal-hal tersebut.

a) Status dan Fungsi

Abdi (hamba) Allah Swt.


(56 : ).

Artinya:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (menyembah)
kepada-Ku..

Khalifah fil-ardi

Sesungguhnya ketauhidan manusia adalah fitrah (Q.S. Ar-Rum :30) yang diawali dengan
perjanjian primordial dalam bentuk persaksian kepada Allah sebagai Zat pencipta (Q.S. Al-
Araf:172). Bentuk pengakuan tersebut merupakan penggambaran penyerahan diri manusia
kepada Zat yang mutlak. Kesanggupan manusia menerima perjanjian primordial tersebut
sejak peniupan ruh Allah ke dalam jasadnya di alam rahim memiliki konsekuensi logis
kepada manusia untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia kepada Allah
sebagai pemberi mandat kehidupan.

b) Tugas

Tugas hidup manusia sangatlah sederhana, yaitu: beriman, berilmu, dan beramal.

Hidup yang benar dimulai dengan percaya atau iman kepada Tuhan. Hidup beriman tentu saja
personal, pribadi sifatnya. Setiap manusia harus menyadari, tidak bisa tidak, harus punya
nilai. Oleh karena itu iman adalah primer. Iman adalah segalanya. Oleh karena iman di situ
adalah sandaran nilai-nilai kita. Kemudian, kerja manusia dan kerja kemanusiaan tanpa ilmu
tidak akan mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu tanpa rasa kemanusiaan tidak akan
membawa kebahagiaan bahkan menghancurkan peradaban. Ilmu pengetahuan adalah karunia
Tuhan yag besar artinya bagi manusia. Mandalami ilmu pengetahuan harus didasari oleh
sikap terbuka. Mampu mengungkapkan perkembangan pemikiran tentang kehidupan

13
berperadaban dan berbudaya. Kemudian mengambil dan mengamalkan diantaranya yang
terbaik.

c) Tujuan

Dan setelah memikirkan akan tujuan hidupnya, maka manusia akan menemukan satu jawaban
yang mutlak benar, yakni untuk mencari ridlo illahi. Segala yang telah dan akan dilakukan
haruslah berdasarkan hanya karena mencari keridloan-Nya semata.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota
tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat. Selain itu, Iman adalah
keyakinan yang kokoh dan menjadi motivasi untuk melakukan perintah-perintah Allah dan
Rosulnya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang
berhubungan dengan sesama manusia. Iman sangat erat hubungannya dengan agama Islam.

Pengertian islam secara khusus adalah segala apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW,
sebagaimana yang diturunkan Allah dalam Al-Quran dan disampaikan oleh Nabi
Muhammad dalam sunnahnya yang shahih atau benar, yang berupa perintah-perintah,
larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan
kesejahteraan di hari kemudian atau akhirat. Islam sendiri masuk kedalam berbagai dimensi
kehidupan manusia, dalam hal ini nilai universalitas Islam, maksudnya adalah Islam sebagai

14
ajaran yang haq dan sempurna hadir di bumi diperuntukkan untuk mengatur pola hidup
manusia agar sesuai fitrah kemanusiaannya, yakni sebagai khalifah di muka bumi dengan
kewajiban mangabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.

3.2 Saran

Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat menambah wawasan dan pengetahuan
pengertian Iman, Islam dan Nilai Universlitas Islam. Dan saya juga berharap pembaca dapat
memahami semua penjelasan yang diberikan dalam makalah ini, sehingga apabila ada yang
kurang jelas atau kesalahan dalam penyusunan makalah ini, pembaca dapat memberi
masukan demi sempurnanya makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen PAI UPI, 2008, ISLAM Tuntunan dan Pedoman Hidup. Bandung. Value Press

M. Alwi Nawawi, 1988. Pengantar Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Lembaga Percetakan
dan Penerbitan Universitas Muslim Indonesia.

Madjrie, Abdur Rahman, 1989. Meluruskan Tauhid Kembali ke Akidah Salaf. Bandung.
Prima Press Bandung

Tarmizi, Erwandi Universitas Islam Madinah Bidang Riset & Kajian Ilmiah, 2005. Rukun
Iman. Rabwah. Islamic Propogation

Ziyad, Eko Haryanto Abu, 2010. Panduan Tauhid Level -1. Indonesia. Islamhouse.com

Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri, 2012. Ringkasan Fiqih Islam. Islamhouse.com

15