Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

ATERESIA ANI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat dalam Menjalani


Kepaniteraan Klinik Senior pada Bagian/SMF Ilmu Bedah
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala
Rumat Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

Oleh:

Fauziyah
Putri Sukma Dewi

Pembimbing:
dr. Dian Adi Syahputra, Sp.BA

BAGIAN/SMF ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SYIAH KUALA
RUMAH SAKIT dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016
2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
menciptakan manusia dengan akal dan budi dan berkat rahmat dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Atresia Ani.
Shalawat beriring salam penulis sampaikan kepada nabi besar Muhammad SAW,
atas semangat perjuangan dan panutan bagi umatnya.
Adapun tugas laporan kasus ini berjudul Apendisitis. Diajukan sebagai
salah satu tugas dalam menjalankan kepaniteraan klinik senior pada bagian/SMF
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Rumah Sakit Umum
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada dr. Dian Adi Syahputra, Sp.BA yang telah meluangkan waktunya untuk
memberi arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Saran
dan kritik dari dosen pembimbing dan teman-teman akan penulis terima dengan
tangan terbuka, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran dan bekal di masa
mendatang.

Banda Aceh, Desember 2016

Penulis
3

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................. 3


2.1 Definisi........................................................................................ 3
2.2 Embriologi .................................................................................. 3
2.3 Epidemiologi............................................................................... 3
2.4 Etiologi........................................................................................ 4
2.5 Klasifikasi.................................................................................... 4
2.6 Patofisiologi................................................................................. 4
2.7 Manifestasi Klinis........................................................................ 6
2.7.1 Gejala .............................................................................. 6
2.7.2 Tanda ............................................................................... 7
2.8 Pemeriksaan Fisik ....................................................................... 8
2.9 Pemeriksaan Penunjang .............................................................. 8
2.10 Diagnosis .................................................................................... 9
2.11 Penatalaksanaan .......................................................................... 9
2.11.1 Medikamentosa ............................................................... 10
2.11.2 Apendektomi ................................................................... 11
2.12 Komplikasi ................................................................................. 12
2.13 Prognosis .................................................................................... 12

BAB III PRESENTASI KASUS ............................................................. 13


3.1 Identitas Pasien ........................................................................... 13
3.2 Anamnesis .................................................................................. 13
3.3 Pemeriksaan Fisik ....................................................................... 14
3.4 Pemeriksaan Penunjang .............................................................. 16
3.5 Diagnosis .................................................................................... 17
3.6 Penatalaksanaan .......................................................................... 18
3.7 Prognosis .................................................................................... 18

BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................ 19

BAB V KESIMPULAN.......................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 23


5

BAB I
PENDAHULUAN

Atresia ani adalah suatu kelainan kongenital dimana menetapnya


membrane anus sehingga anus tertutup. Defek ini tidak selalu total,
kadangkala sebuah lubang sempit masih memungkinkan keluarnya isi usus.
Bila penutupannya total anus tampak sebagai lekukan kulit perineum,
keadaan ini seringkali disertai atresia rectum bagian bawah.
Atresia ani paling sering terjadi pada bayi yang baru lahir. Frekuensi
seluruh kelainan kongenital anorektal didapatkan 1 dari tiap 5000-10000
kelahiran, sedangkan atresia ani didapatkan 1 % dari seluruh kelainan
kongenital pada neonatus dan dapat muncul sebagai penyakit tersering.
Jumlah pasien dengan kasus atresia ani pada laki-laki lebih banyak ditemukan
dari pada pasien perempuan.2,3
Insiden terjadinya atresia ani berkisar dari 1500-5000 kelahiran hidup
dengan sedikit lebih banyak terjadi pada laki-laki. 20 % -75 % bayi yang
menderita atresia ani juga menderita anomali lain. Kejadian tersering pada
laki-laki dan perempuan adalah anus imperforata dengan fistula antara usus
distal uretra pada laki-laki dan vestibulum vagina pada perempuan.3
Angka kajadian kasus di Indonesia sekitar 90 %. Berdasarkan dari data
yang didapatkan penulis, kasus atresia ani yang terjadi di Jawa Tengah
khususnya Semarang yaitu sekitar 50 % dari tahun 2007-2009.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Atresia ani atau anus imperforata atau malformasi anorektal adalah


suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus tidak sempurna, termasuk
didalamnya agenesis ani, agenesis rekti dan atresia rekti. Insiden 1:5000 kelahiran
yang dapat muncul sebagai sindroma VACTRERL (Vertebra, Anal, Cardial,
Esofageal, Renal, Limb).1
6

2.2 Embriologi
Secara embriologi, saluran pencernaan berasal dari foregut, midgut dan
hindgut. Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan bagian bawah,
esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pankreas.
Midgut membentuk usus halus, sebagian duodenum, sekum, appendik, kolon
asenden sampai pertengahan kolon transversum. Hindgut meluas dari midgut
hingga ke membrana kloaka, membrana ini tersusun dari endoderm kloaka,
dan ektoderm dari protoderm atau analpit. Usus terbentuk mulai minggu
keempat disebut sebagai primitif gut. Kegagalan perkembangan yang lengkap
dari septum urorektalis menghasilkan 2 anomali letak tinggi atau supra
levator. Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek
perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada anomali letak tinggi, otot
levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot sfingter eksternus
dan internus dapat tidak ada atau rudimenter.1

Fungsi fisiologi anorectal


1. Motilitas kolon
a. Absorbsi cairan
b. Keluarkan isi feses dari kolon ke rectum
2. Fungsi defekasi
a. Keluarkan feses secara intermitten dari rectum
7

b. Tahan isi usus agar tidak keluar saat tidak defekasi

2.3 Epidemiologi
Angka kejadian rata-rata malformasi anorektal di seluruh dunia adalah 1
dalam 5000 kelahiran.2 Secara umum, malformasi anorektal lebih banyak
ditemukan pada laki-laki dari pada perempuan. Fistula rektouretra merupakan
kelainan yang paling banyak ditemui pada bayi laki-laki, diikuti oleh fistula
perineal. Sedangkan pada bayi perempuan, jenis malformasi anorektal yang paling
banyak ditemui adalah anus imperforata diikuti fistula rektovestibular dan fistula
perineal.3 Hasil penelitian Boocock dan Donna di Manchester menunjukkan
bahwa malformasi anorektal letak rendah lebih banyak ditemukan dibandingkan
malformasi anorektal letak tinggi.4

2.4 Etiologi
Penyebab utama apendisitis adalah oleh karena adanya penyumbatan pada
lumen apendik yang diikuti dengan terjadinya peradangan akut. Dimana sumbatan
ini dapat terjadi oleh karena fekalit, hiperplasia limfoid, benda asing, parasit,
adanya striktur atau tumor pada dinding apendik(4) dan sumbatan karena
fungsional, yang terjadi karena kurangnya makanan berserat sehingga
menimbulkan konstipasi. Konstipasi menyebabkan peningkatan pertumbuhan
flora normal kolon.(10)

2.5 Klasifikasi
Berbagai istilah telah digunakan untuk menjelaskan klasifikasi apendisitis,
seperti apendisitis akut, apendisitis supuratif, apendisitis gangren, dan apendisitis
perforasi. Perbedaannya tidak jelas, maka apendisitis dibedakan menjadi dua
sesuai dengan klinis yaitu apendisitis sederhana dan apendisitis komplikasi.
Karena apendisitis gangren dan perforasi sama-sama menggambarkan telah terjadi
kematian sel, maka kedua istilah tersebut akan digantikan dengan apendisitis
komplikasi.(1)

2.6 Patofisiologi
8

Apendisitis secara umum terjadi karena proses inflamasi pada apendiks


akibat infeksi. Penyebab utama terjadinya infeksi adalah karena terdapat
obstruksi. Obstruksi yang terjadi mengganggu fisiologi dari aliran lendir apendiks,
dimana menyebabkan tekanan intralumen meningkat sehingga terjadi kolonisasi
bakteri yang dapat menimbulkan infeksi pada daerah tersebut. Pada sebagaian
kecil kasus, infeksi dapat terjadi semerta-merta secara hematogen dari tempat lain
sehingga tidak ditemukan adanya obstruksi.(10)
Penyebab penyumbatan yang paling sering adalah fekalit, dimana fekalit
yang timbul dari bahan fekal dan garam inorgani dengan cairan lumen adalah
yang paling sering menimbulkan obstruksi dan didapatkan sekitar 11%- 52% dari
pasien yang menderita apendisitis, sedangkan pada anak lebih sering oleh karena
hiperplasia limfoid.(11) Akibat dari penyumbatan lumen apendik yang mengikuti
mekanisme close loop obstruction menyebabkan penumpukan mukus dan
meningginya tekanan intra lumen dan distensi lumen apendik. Peninggian tekanan
intralumen ini akan menyebabkan hambatan aliran limfe, sehingga terjadi edema
disertai hambatan aliran vena dan arteri apendik. Keadaan ini menyebabkan
terjadinya iskemik dan nekrosis, bahkan dapat terjadi perforasi.(9) Pada saat
terjadi obstruksi akan terjadi proses sekresi mukus yang akan menyebabkan
peningkatan tekanan intraluminer dan distensi lumen maka kondisi ini akan
menstimulasi serat saraf aferen viseral yang kemudian diteruskan menuju korda
spinalis Th8 Th10, sehingga akan timbul penjalaran nyeri di daerah epigastrium
dan preumbilikal. Nyeri viseral ini bersifat ringan, sukar dilokalisasi dan lamanya
sekitar 4-6 jam disertai timbulnya anoreksia, mual dan muntah.(12)
Peningkatan tekanan intraluminar akan menyebabkan peningkatan tekanan
perfusi kapiler, yang akan menimbulkan pelebaran vena, kerusakan arteri dan
iskemi jaringan. Dengan rusaknya barier dari epitel mukosa maka bakteri yang
sudah berkembang biak dalam lumen akan menginvasi dinding apendik sehingga
akan terjadi inflamasi transmural. Selanjutnya iskemia jaringan yang berlanjut
akan menimbulkan infark dan perforasi.(13) Proses inflamasi akan meluas ke
peritoneum parietalis dan jaringan sekitarmya, termasuk ileum terminal, sekum
dan organ pelvis.(12)
9

Pada pasien-pasien tertentu akan mengalami penjalaran nyeri menuju perut


kanan bawah. Nyeri somatik ini bersifat terus-menerus dan lebih berat
dibandingkan dengan nyeri pada awal infeksi. Penjalaran nyeri ini tidak selalu
didapatkan dan titik nyeri maksimal mungkin tidak selalu di titik McBurney
tergantung dari lokasi apendiknya. Pasien dengan apendisitis sering tidak
mengalami febris atau dengan febris ringan. Adanya perforasi harus dicurigai bila
penderita mengalami febris lebih dari 38,3C. Jika terjadi perforasi maka terminal
ileum, sekum, dan omentum dan organ sekitar apendik akan membentuk dinding
untuk membatasi proses radang dan menutupi lubang perforasi dari apendik untuk
tidak tejadi penyebaran infeksi yang meluas yang disebut dengan wall off atau
appendicular mass. Peritonitis akan terjadi bila perforasi mengenai rongga
abdomen.(8)

2.7 Manifestasi Klinis


2.7.1 Gejala
Nyeri Perut. Nyeri perut merupakan keluhan utama yang biasanya
dirasakan pasien dengan apendisitis. Karakteristik nyeri perut penting
untuk diperhatikan klinisi karena nyeri perut pada apendisitis memiliki
ciri-ciri dan perjalanan penyakit yang cukup jelas. Nyeri pada apendisitis
muncul mendadak (sebagai salah satu jenis dari akut abdomen) yang
kemudian nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul.(14)Nyeri merupakan
suatu nyeri viseral yang dirasakan biasanya pada daerah epigastrium atau
periumbilikus. Nyeri viseral terjadi terus menerus kemudian nyeri
berubah menjadi nyeri somatik dalam beberapa jam. Lokasi nyeri
somatik umumnya berada di titik McBurney, yaitu pada 1/3 lateral dari
garis khayalan dari spina iliaka anterior superior (SIAS) dan umbilikus.
Nyeri somatik dirasakan lebih tajam, dengan intesitas sedang sampai
berat.(10) Pada suatu metaanalisis, ditemukan bahwa neyri perut yang
berpindah dan berubah dari viseral menjadi somatik merupakan salah
satu bukti kuat untuk menegakkan diagnosis apendisitis. Sesuai dengan
anatomi apendiks, pada beberapa manusia letak apendiks berada
retrosekal atau berada pada rongga retroperitoneal. Keberadaan apendiks
10

retrosekal menimbulkan gejala nyeri perut yang tidak khas apendisitis


karena terlindungi sekum sehingga rangsangan ke peritoneum minimal.
Nyeri perut pada apendisitis jenis ini biasanya muncul apabila pasien
berjalan dan terdapat kontraksi musculus psoas mayor secara dorsal.(14)
Mual dan Muntah. Gejala mual dan muntah sering menyertai pasien
apendisitis. Nafsu makan atau anoreksia merupakan tanda-tanda awal
terjadinya apendisitis.(10)
Gejala Gastrointestinal. Pada pasien apendisitis, keluhan gastrointestinal
dapat terjadi baik dalam bentuk diare maupun konstipasi. Pada awal
terjadinya penyakit, sering ditemukan adanya diare 1-2 kali akibat
respons dari nyeri viseral.(14) Diare terjadi karena perangsangan dinding
rektum oleh peradangan pada apendiks pelvis atau perangsangan ileum
terminalis oleh peradangan apendiks retrosekal. Akan tetapi, apabila
diare terjadi terus menerus perlu dipikirkan terdapat penyakit penyerta
lain. Konstipasi juga seringkali terjadi pada pasien apendisitis, terutama
dilaporkan ketika pasien sudah mengalami nyeri somatik.
2.7.2 Tanda
Keadaan Umum. Secara umum, pasien apendisitis memiliki tanda-tanda
pasien dengan radang atau nyeri akut. Takikardia dan demam ringan-
sedang sering ditemukan.(10) Demam pada apendisitis umumnya sekitar
37,5 38,5C. Demam yang terus memberat dan mencapai demam tinggi
perlu dipikirkan sudah terjadinya perforasi.(14)
Keadaan Lokal. Pada apendisitis, tanda-tanda yang ditemukan adalah
karena perangsangan langsung pada peritoneum oleh apendiks atau
perangsangan tidak langsung. Perangsangan langsung menyebabkan
ditemukannya nyeri tekan dan nyeri lepas pada perut kanan bawah,
terutama pada titik McBurney. Selain itu pada inspeksi dan palpasi
abdomen akan mudah dilihat terdapat deffense muscular sebagai respons
dari nyeri somatik yang terjadi secara lokal.(14) Perangsangan tidak
langsung ditunjukkan oleh beberapa tanda, antara lain Rovsing sign yang
menandakan nyeri pada perut kiri bawah apabila dilakukan penekanan
pada titik McBurney. Begitupula Blumberg sign adalah nyeri pada perut
11

kiri bawah apabila dilakukan pelepasan pada titik McBurney.(10)Pada


apendisitis retrosekal, tanda-tanda umum di atas seringkali tidak muncul
akan tetapi dapat cukup khas ditegakkan dengan Psoas sign dan
Obturator sign. Tanda psoas adalah nyeri timbul apabila pasien
melakukan ekstensi maksimal untuk meregangkan otot psoas. Secara
praktis adalah dengan fleksi aktif sendi panggul kanan kemudian paha
kanan diberikan tahanan. Hal ini akan menimbulkan rangsangan
langsung antara apendiks denganotot psoas sehingga timbul nyeri. Tanda
obturator muncul apabila dilakukan fleksi dan endorotasi sendi panggul
yang menyebabkan apendiks bersentuhan langsung dengan muskulus
obturator internus. Biasanya untuk mengetahui terdapat tanda psoas
maupun obturator, dapat pula diperdalam mengenai timbulnya nyeri saat
berjalan, bernafas, dan beraktivitas berat.(14)

2.8 Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi tampak pasien berjalan
membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi
perforasi, dan penonjolan perut bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler
abses. Saat dilakukan auskultasi akan terdapat peristaltik normal atau dapat
meningkat. Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis
apendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi
peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok dubur (Rectal Toucher) akan terdapat
nyeri pada jam 9-12.Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit
kembung. Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit
tekanan, dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri. Status lokalis abdomen
kuadran kanan bawah dapat ditemukan nyeri tekan, nyeri lepas, defans muscular,
rovsing sign, psoas sign, maupun obturator sign. Demikian saat dilakukan perkusi
akan terdapat nyeri ketok.(15)

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Pada pemeriksaan laboratorium darah, biasanya didapati peningkatan
jumlah leukosit (10.000-18.000/mm3), jika >18.000/mm3 maka harus dipikirkan
kemungkinan telah terjadi perforasi.(16)Pemeriksaan radiologi berupa foto barium
12

usus buntu (Appendicogram) dapat membantu melihat terjadinya sumbatan atau


adanya skibala didalam lumen usus buntu. Pemeriksaan USG dan CT scan bisa
membantu dalam menegakkan adanya peradangan akut usus buntu atau penyakit
lainnya di daerah rongga panggul.(14)Namun dari semua pemeriksaan penunjang
ini, yang menentukan diagnosis apendisitis adalah pemeriksaan secara klinis.
Pemeriksaan CT scan hanya dipakai bila didapat keraguan dalam menegakkan
diagnosis. Pada anak-anak dan orang tua penegakan diagnosis apendisitis lebih
sulit dan dokter bedah biasanya lebih agresif dalam bertindak.(11)

2.10 Diagnosis
Diagnosis apendisitis bergantung pada penemuan klinis, yaitu dari
anamnesis mengenai gejala-gejala dan pemeriksaan fisik untuk menemukan
tanda-tanda yang khas pada apendisitis. Anamnesis mengenai gejala nyeri perut
beserta perjalanan penyakitnya, gejala penyerta seperti mual-muntah-anoreksia,
dan ada tidaknya gejala gastrointestinal.(5) Diagnosis apendisitis anak-anak tidak
mudah, unutk itu perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kesulitan dalam
mendiagnosis apendisitis anak-anak dalam upaya menekan apendektomi negatif
dengan cara yang mudah, murah dan tidak invasif.(16)
Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh karena tanda-tanda vital
juga sudah dapat mengarah ke diagnosis apendisitis. Takikardia dan demam
sedang merupakan tanda- tanda yang sering ditemukan.(14)Pada pemeriksaan gigi
dan mulut, sering ditemukana adanya lidah kering dan terdapat fethor oris. Pada
pemeriksaan abdomen dilakukan cermat pada tiap tahap. Dari auskultasi sering
ditemukan bising usus menurun karena terjadi ileus paralitik. Pada palpasi,
ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas serta terdapat tahanan (deffense muscular).
(10) Palpasi dilakukan pada beberapa titik diagnostik apendisitis yaitu titik
McBurney, uji Rovsig, dan uji Blomberg. Uji psoas dan uji obturator juga dapat
dilakukan terutama pada kecurigaan apendisitis yang terjadi secara retrosekal.(17)
Pemeriksaan penunjang kurang bermakna pada diagnosis apendisitis karena
penegakan diagnosis umumnya cukup berasal dari penemuan klinis. Pemeriksaan
urin dan darah perifer lengkap dapat membantu dengan menunjukkan adanya
tanda-tanda inflamasi secara umum, yaitu adanya leukositosis dan keberadaan
13

pyuria.(14) Dengan penemuan klinis dan pemeriksaan laboratorium, dapat


digunakan suatu alat bantu untuk diagnosis apendisitis, yaitu Pediatric
Appendicitis Score. Dengan memperoleh nilai lebih dari 6, maka apendisitis
umumnya sudah dapat ditegakkan dan indikasi untuk tindakan operasi.

Gambar 1.1 Pediatric Appendicitis Score (18)

2.11 Penatalaksanaan
Setelah penegakan diagnosis apendisitis dilakukan, tata laksana utama pada
apendisitis adalah Apendektomi. Tata laksana mulai diarahkan untuk persiapan
operasi untuk mengurangi komplikasi pasca-operasi dan meningkatkan
keberhasilan operasi.

2.11.1 Medikamentosa
Persiapan operasi dilakukan dengan pemberian medikamentosa berupa
analgetik dan antibiotik spektrum luas, dan resusitasi cairan yang adekuat.
Pasien apendisitis seringkali datang dengan kondisi yang tidak stabil karena
nyeri hebat sehingga analgetik perlu diberikan.(14) Antibiotik diberikan
untuk profilaksis, dengan cara diberikan dosis tinggi, 1-3 kali dosis
biasanya. Antibiotik yang umum diberikan adalah cephalosporin generasi 2 /
generasi 3 dan Metronidazole. Hal ini secara ilmiah telah dibuktikan
mengurangi terjadinya komplikasi post operasi seperti infeksi luka dan
pembentukan abses intraabdominal.(17)Pilihan antibiotik lainnya adalah
ampicilin-sulbactam, ampicilin-asam klavulanat, imipenem, aminoglikosida,
dan lain sebagainya. Waktu pemberian antibiotik juga masih diteliti. Akan
14

tetapi beberapa protokol mengajukan apendisitis diberikan dalam waktu 48


jam saja. Apendisitis dengan perforasi memerlukan administrasi antibiotik
7-10 hari.(19)

2.11.2 Apendektomi
Sampai saat ini, penentuan waktu untuk dilakukannya apendektomi yang
diterapkan adalah segera setelah diagnosis ditegakkan karena merupakan
suatu kasus gawat-darurat. Beberapa penelitian retrospektif yang dilakukan
sebenarnya menemukan operasi yang dilakukan dini (kurang dari 12 jam
setelah nyeri dirasakan) tidak bermakna menurunkan komplikasi post-
operasi dibanding yang dilakukan biasa (12-24 jam). Akan tetapi ditemukan
bahwa setiap penundaan 12 jam waktu operasi, terdapat penambahan risiko
5% terjadinya perforasi. Teknik yang digunakan dapat berupa, (1) operasi
terbuka, dan (2) dengan Laparoskopi. Operasi terbuka dilakukanndengan
insisi pada titik McBurney yang dilakukan tegak lurus terhadap garis
khayalan antara SIAS dan umbilikus. Di bawah pengaruh anestesi, dapat
dilakukan palpasi untuk menemukan massa yang membesar. Setelah
dilakukan insiis, pemebdahan dilakukan dengan identiifkasi sekum
kemudian dilakukan palpasi ke arah posteromedial untuk menemukan
apendisitis posisi pelvik. Mesoapendiks diligasi dan dipisahkan. Basis
apendiks kemudian dilakukan ligasi dan transeksi. Apendektomi dengan
bantuan laparoskopi mulai umum dilakukan saat ini walaupun belum ada
bukti yang menyatakan bahwa metode ini memberikan hasil operasi dan
pengurangan kejadian komplikasi post-operasi. Apendekotmi laparoskopi
harus dilakukan apabila diagnosis masih belum yakin ditegakkan karena
laparoskopi dapat sekaligus menjadi prosedur diagnostik.(17) Sampai saat
ini penelitian-penelitian yang dilakukan masih mengatakan keunggulan dari
metode ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Perbaikan nfeksi
luka tidak terlalu berpengaruh karena insisi pada operasi terbuka juga sudah
dilakukan dengan sangat minimal.(14)Komplikasi pasca-operasi dari
apendektomi adalah terjadinya infeksi luka dan abses inttraabdomen. Infeksi
luka umumnya sudah dapat dicegah dengan pemberian antibiotik
15

perioperatif. Abses intra-abdomen dapat muncul akibat kontaminasi rongga


peritoneum.(17)

2.12 Komplikasi
Komplikasi yang paling berbahaya dari apendisitis apabila tidak dilakuka
penanganan segera adalah perforasi. Sebelum terjadinya perforasi, biasanya
diawali dengan adanya masa periapendikuler terlebih dahulu.(13) Masa
periapendikuler terjadi apabila gangren apendiks masih berupa penutupan lekuk
usus halus. Sebenarnya pada beberapa kasus masa ini dapat diremisi oleh tubuh
setelah inflamasi akut sudah tidak terjadi. Akan tetapi, risiko terjadinya abses dan
penyebaran pus dalam infilitrat dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga massa
periapendikuler ini adalah target dari operasi apendektomi.(4)
Perforasi merupakan komplikasi yang paling ditakutkan pada apendisitis
karena selain angka morbiditas yang tinggi, penanganan akan menjadi semakin
kompleks. Perforasi dapat menyebabkan peritonitis purulenta yang ditandai nyeri
hebat seluruh peruhk, demam tinggi, dan gejala kembung pada perut.(13)
Peristaltik usus dapat menurun atau bahkan menghilang karena ileus paralitik
yang terjadi. Pus yang menyebar dapat menjadi abses inttraabdomen yang paling
umum dijumpai pada rongga pelvis dan subdiafragma. Tata laksana yang
dilakukan pada kondisi berat ini adalah laparotomi eksploratif untuk
membersihkan pus-pus yang ada. Sekarang ini sudah dikembangkan teknologi
drainase pus dengan laparoskopi sehingga pembilasan dilakukan lebih mudah.(10)

2.13 Prognosis
Kebanyakan pasien setelah operasi apendektomi sembuh spontan tanpa
penyulit, namun komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telah
terjadi peritonitis/peradangan di dalam rongga perut. Cepat dan lambatnya
penyembuhan setelah operasi usus buntu tergantung dari usia pasien, kondisi,
keadaan umum pasien, penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus, komplikasi
dan keadaan lainya yang biasanya sembuh antara 10 sampai 28 hari.(10)
Alasan adanya kemungkinan ancaman jiwa dikarenakan peritonitis di dalam
rongga perut ini menyebabkan operasi usus buntu akut/emergensi perlu dilakukan
secepatnya. Kematian pasien dan komplikasi hebat jarang terjadi karena usus
16

buntu akut. Namun hal ini bisa terjadi bila peritonitis dibiarkan dan tidak diobati
secara benar.(10)

BAB III
PRESENTASI KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Alif Hafizh
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 06 Desember 2016
Umur : 9 Hari
Alamat : Johan Pahlawan, Aceh Barat
Agama : Islam
No CM : 1-11-16-70
Tanggal Masuk : 7 Desember 2016
Tanggal Pemeriksaan : 15 Desember 2016

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Lahir tanpa anus
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dirujuk dari rumah sakit daerah meulaboh, dirujuk karena
tidak ada anus saat lahir dan perut kembung sejak pasien lahir kurang lebih 1 hari
yang lalu. Pasien tidak ada BAB, semakin rewel, mual dan muntah (-), Pasien
dilahirkan secara sectio secaria pasien merupakan anak ke 8 dan Berat badan bayi
baru lahir 3070 gr. Ibu pasien memiliki riwayat hipertensi pada saat hamil dan
meminum obat antihipertensi yang tidak tau nama obat nya apa.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat mengalami sakit yang sama sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat mengalami sakit yang sama sebelumnya disangkal.

Riwayat Penggunaan Obat


Pasien menggunakan obat antihipertensi saat hamil, nama obat yang
digunakan tidak diketahui

Riwayat Kebiasaan/Sosial
Pasien merupakan anak ke 8 dan bayi lahir 1 hari
17

Riwayat Imunisasi
Tidak ada

Riwayat Kehamilan

ANC teratur

Lahir sectio secaria

Mempunyai riwayat hipertensi saat hamil

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Heart rate : 140x/menit
Pernapasan : 30x/menit
Suhu : 36,5oC
Berat Badan sekarang : 45 kg
PanjangBadan : 152 cm

STATUS INTERNUS
a. Kulit
Warna : Normal
Turgor : Normal
Sianosis : (-)
Ikterus : (-)
Oedema : (-)
Pucat : (-)

b. Kepala
Kepala : Normochepali
Rambut : Warna hitam, distribusi rata, tidak mudah dicabut
Wajah : Simetris, ikterik (-)
Mata : Konjungtiva pucat (-/-)
Telinga : Normotia
18

Hidung : NCH (-)


Mulut : Bibir pucat (-), sianosis (-)
c. Leher
Inspeksi : Simetris, pembesaran KGB (-)

d.Paru
Inspeksi : Simetris, retraksi (-), laju nafas 30 x/menit,
reguler
Palpasi : Fremitus taktil normal
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler (+/+)

e. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V LMCS
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : HR: 92 x/menit, Regular (+), Bising (-)

f. Abdomen
Inspeksi : Distensi (+), darm saifum(-), darm cournter (-)
Auskultasi : Bising usus (-)
Palpasi : Soepel (+),
Perkusi : Timpani (+) di keempat kuadran

f. Genitalia: Kesan Normal

g. Anus : anus (-), fistel (-)

h. Tulang Belakang : Kesan Normal

i. Ekstremitas :
Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sianosis - - - -
- -

- -
Pucat - - - -
Akral Dingin - - - -
19

Capillary refill <2 <2 <2 <2


- -

- -

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Laboratorium (7 Desember 2016)

JenisPemeriksaan Hasil Nilairujukan


Hemoglobin 17,9 15-24,6 gr/dl
Hematokrit 52 53-63 %
Eritrosit 4,6 4,4-5,8 x 106mm3
Leukosit 14,2 5-21,0 x 103/ul
Trombosit 188 150-450 x103/ul
Eosinofil 1 0-6 %
Basofil 0 0-2 %
Netrofil Segmen 77 50-70 %
Netrofil Batang 0 2-6 %
Limfosit 14 20-40 %
Monosit 8 2-8 %
Faal Hemostasis
Waktu perdarahan 3 1-7 menit
Waktu pembekuan 8 5-15 menit
Kimia Klinik
Elektrolit
Na 141 132-147 mmol/l
K 3,6 3,6-6,1 mmol/l
Cl 110 95-116 mmol/l
Ginjal-Hipertensi
Ureum 16 13-43 mg/dL
Kreatinin 0,90 0,67-1,17 mg/dL
Diabetes
Gula darah 59 <200 mg/dl
sewaktu

2. Foto Radiologi
a. Foto Polos Thorax AP (4 Oktober 2016)
20

Kesimpulan : Dalam batas normal

V. Diagnosis
Apendisitis Akut

VI. Penatalaksanaan
- IVFD RL 20 gtt/menit
- Inj. Novalgin 1 gram/8jam
- Laparotomi eksplorasi emergensi + apendektomi

VII. Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
21

Quo ad sanactionam : dubia ad bonam


22

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada anamnesis, pasien datang dengan keluhan pertama yaitu anoreksia.


Berdasarkan teori, anoreksiaberperanpentingpada diagnosis apendisitis,
terutamapadaanak-anak, karenaseoranganak yang jarangmakanjarang pula
terkenaapendisitis.Nyeri yang pertama kali dirasakan adalah nyeri
periumbilikus.Berdasarkan teori, apendisitis disebabkan oleh penyumbatan lumen
appendiks umumnya oleh karena fekalit. Karena elastisitas dinding appendiks
mempunyai batas, dinding appendiks yang terus-menerus memproduksi mukus
tidak bisa keluar karena pintu keluarnya dibendung sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intra lumen.
Distensidariapendiksmengakibatkanteraktivasinyaserabutsarafnyeri visceral,
dermatom T8-T10, yang menghasilkannyeri di periumbilikal.Tekanan intralumen
yang terus meningkat menyebabkan distensi
apendiksterusberlanjutkarenasekresimukus yang tidakberhenti,
makaakanmenyebabkanperangsanganmualmuntah. Pasien juga mengalami
demam, berdasarkan teori lumenapendiks yang obstruksimenjaditempat yang
baikbagipertumbuhanbakteri yang terperangkap.
Saattekananintralumenmeningkat, drainaselimfatikakanterhambat, menimbulkan
edema danswelling. Terakhir, tekanan yang semakintinggimenyebabkanobstruksi
vena yang membuatiskemikjaringan, infark, dan
gangrene.Bakterimulaiberinvasimelaluidindingapendiks.Munculahdemamdanleuk
ositosissebagaiakibatpelepasan mediator olehjaringan yang iskemik,
seldarahputih, danbakteri.Beberapa jam kemudian, nyeri yang dirasakan pasien
akan berpindah ke kanan bawah. Berdasarkan teori,
saateksudatinflamasidaridindingapendikskontakdengan peritoneum parietal,
serabutsarafnyerisomatikakanterangsangdannyeriakanterlokalisir di
dekatlokasiapendiks, yang dikenalsebagaititikMcBurney. Pada palpasi, dapat
diketahui adanya massa di regio kanan bawah abdomen. Berdasarkanteori,
omentumdanusus yang
23

berdekatandenganapendiksakanbergerakkearahapendiksuntukmelokalisasidaerah
yang
mengalamiinflamasiyaitudenganmengelompokdanmembentuksuatuappendicealm
ass untukmencegahpenyebaraninfeksikearah peritoneum.

Pemeriksaan rektal tidak dilakukan karena berdasarkanteori, pemeriksaan


ini dalammendiagnosisapendisitismasihdipertanyakan.
Nyeriselamapemeriksaaninitidakspesifikuntukapendisitis.Jikasign yang
lainmenunjukanapendisitismakapemeriksaaninitidakperludilakukan. Pemeriksaan
laboratorium selain leukositiosis, juga didapatkanNeutrophil-lymphocyte
ratio(NLR) diatas 3,5 yang berarti sedang terjadi proses inflamasi. Berdasarkan
teori, NLR yaitunilaineutrofildibagidengannilailimfosit. Berdasarkanteori,NLR
memilikispesifisitasdansensitivitas yang
lebihbaikdibandingkannilaileukositdanneutrofil.Padakasusini,
jikanilaineutrofiladalah85 % danlimfositadalah9%, makahasilnyaadalah9,4.

Secara sistematis penegakan diagnosis pada pasien ini sesuai dengan teori.
Data yang didapatkan berdasarkan anamnesa memberikan gambaran yang cukup
mencurigakan bila pasien yang sehat tiba-tiba mengalami serangan nyeri abdomen
yang disebabkan oleh proses apendisitis terjadi. Nyeri mula-mula di epigastrium
(nyeri visceral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah.
Anak juga mengalami mual dan muntah oleh karena nyeri visceral. Massa dapat
teraba pada regio kanan bawah di abdomen. Gejala lain adalah anak tampak lemah
dan kurang nafsu makan, penderita tampak kesakitan, menghindarkan pergerakan
karena di perut terasa nyeri.(10)

Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi tindakan pre operatif, operatif, dan
post operatif. Tindakan pre operatif dberikan antibiotik dan pasien diminta untuk
tirah baring. Berdasarkan jurnal, penggunaan antibiotik menjadi alternatif untuk
tindakan operasi, apendisitis dapat dikelola secara konservatif dengan antibiotik
sebagai profilaksis untuk operasi definitif. Namun, bukti saat ini tidak mendukung
penggunaan tunggal antibiotik sebagai modalitas pengobatan alternatif untuk
24

apendektomi dalam pengelolaan apendisitis. Tindakan operatif adalah dengan


melakukan apendektomi. Tindakan post operatif meliputi pasien dirawat selama
beberapa hari, lakukan mobilisasi, luka jahitan diangkat, dan pulangkan pasien.(4)

Apendisitis umumnya prognosisnya baik setelah dilakukan apendektomi.


Namun pada apendisitis perforasi, umumnya lebih buruk prognosisnya. Kematian
dapat terjadi pada beberapa kasus. Mortalitas adalah 0,1 % jika apendisitis belum
perforasi. Kematian biasanya karena sepsis, emboli paru, atau aspirasi. Morbiditas
meningkat dengan ruptur dan usia tua. Dengan diagnosis yang akurat serta
pembedahan, tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil.
Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi
komplikasi. (10)
25

BAB V
KESIMPULAN

Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks. Etiologi


terbanyak disebebkan oleh karena adanya fekalit. Diagnosa penyakit ini sudah
bisa ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jika masih ragu dalam
menentukan diagnosis, dapat dibantu dengan pemeriksaan penunjang. Awalnya
pasien akan merasakan nyeri perut di periumbilikal dan merasakan mual muntah.
Nyeri kemudian akan berpindah ke perut sebelah kanan bawah yang menunjukan
adanya rangsangan perioteneum lokal pada titik McBurney. Nyeri kanan bawah
juga akan dirasakan saat dilakukan penekanan pada kiri yang dinamakan Rovsing
Sign, bila tekanan dilepaskan juga akan dirasakan nyeri kanan bawah (Blomberg
Sign). Riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik adalah hal yang paling
penting untuk mendiagnosis apendisitis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Grosfeld JL. Pediatric Surgery. 6th ed. Philadelphia: Elsevier; 2006. 1514
p.

2. Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Kelima. Jakarta; 2007.

3. Tzanakis NE, Danulidis K. A New Approach to Accurate Diagnosis of


Acute Appendicitis World J Surg. 2005;29:11516.

4. Hartman GA. Acute Appendicitis. Jakarta: Universitas Indonesia; 2008.

5. Mazziotti MV. Appendicitis: Surgery Perspective. Emedmag; 2008.

6. Hessa A. Post Appendectomy. Collection of Health Science; 2010.

7. Puri P, Hollwarth M. Pediatric Surgery: Diagnosis and Management.


London: Springer; 2009.

8. Andersson N, Cockroft A. Acute Abdomen. Br Med J. 2012;1536.


26

9. Sandy C. Appendicitis. Emedicine Medsp. 2004;

10. Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2011.

11. Richrad S. Demographic and Epidemiologic Features of Acute


Appendicitis: A Collection of Essays from Around the World. 2012.

12. Way LW. Current Surgical Diagnosis and Treatment. New York: McGraw-
Hill Companies; 2008.

13. Garba A. Appendicitis in the Elderly: A Collection of Essays from Around


the World. 2012.

14. Humes DJ, Simpson J. Clinical Review: Accute Appendicitis. Br Med


Journal2. 2007;

15. UGM DBF. Pemeriksaan Fisik dan Klinis. Yogyakarta: Ilmu Bedah FK
UGM; 2010.

16. Kartika BW. Sistem Skor pada Diagnosis Apendisitis Akut Anak.
Semarang: Bagian Ilmu Bedah FK Undip; 2000.

17. Jeffri JT, Anders JS. Textbook of Surgery. Blackwell Publishing; 2006. 123-
127 p.

18. Sugiharto S. Diagnosis Apendisitis Akut dengan Skor Alvarado dan


Modifikasinya. Ebers Papyrus Jurnal, FK Untar; 2009.

19. Morris PJ. Oxfords Textbook of Surgery. 2nd ed. Oxford eBook; 2007.