Anda di halaman 1dari 4

METODE CONSENSUS DESIGN

Keuntungan Metode Consensus Design bagi Masyarakat dalam Menyelesaikan


Masalah Pengelolaan Sampah di Kampung Nelayan Mangarabombang

Risky Ayun Amaliyah


ayun.geng@gmail.com

Departemen Pengembangan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin

Abstrak
Permukiman pesisir dengan rumah-rumah yang terletak di atas badan air identik dengan masalah dalam
pengelolaan sampah. Masalah pengelolaan sampah ini memengaruhi langsung kualitas hidup masyarakat
dimana pengelolaan sampah yang tidak tepat dapat mengurangi kualitas lingkungan hidup permukiman
itu sendiri. Metode consensus design sebagai metode penelitian yang melibatkan masyarakat dalam
keseluruhan prosesnya diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah yang terjadi
di Kampung Nelayan Mangarabombang. Untuk itu, perlu diketahui keuntungan yang akan diperoleh oleh
masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah melalui metode consensus design.
Kegiatan dilakukan dengan metode consensus design dengan cara merumuskan masalah bersama
masyarakat juga dalam pengumpulan data, analisis, hingga perencanaan. Hasil dari kegiatan ini adalah
keuntungan yang akan dirasakan oleh masyarakat sebagai hasil dari upaya partisipasi aktif oleh
masyarakat itu sendiri dalam menyelesaikan masalah bersama.
Kata Kunci: Consensus Design, pengelolaan sampah, Kampung Nelayan Mangarabombang

Pendahuluan

Dewasa ini masalah sampah merupakan salah satu masalah serius dalam lingkungan hidup yang
sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Semua orang tidak bisa terlepas dengan
masalah sampah, sebagai pihak yang menghasilkan sampah. Maka boleh dikatakan sampah merupakan
konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Untuk mencapai kondisi masyarakat yang hidup sehat dan
sejahtera di masa yang akan datang, akan sangat diperlukan adanya lingkungan permukiman yang sehat.
Dari aspek persampahan, maka kata sehat akan berarti sebagai kondisi yang akan dapat dicapai bila
sampah dapat dikelola secara baik sehingga bersih dari lingkungan permukiman dimana manusia
beraktifitas di dalamnya (Permen PU nomor: 21/PRT/M/2006).
Ketidakpedulian terhadap permasalahan pengelolaan sampah berakibat terjadinya degradasi
kualitas lingkungan yang tidak memberikan kenyamanan untuk hidup, sehingga akan menurunkan
kualitas kesehatan masyarakat (Arif, 2012). Terutama di wilayah pesisir, perilaku pengelolaan sampah
yang tidak benar dapat mempengaruhi ekosistem laut secara langsung dan dapat memberikan dampak
yang buruk bagi wilayah pesisir itu sendiri. Dampak perilaku pembuangan sampah yang buruk bukan
hanya dirasakan oleh manusia, melainkan juga semua komponen biotik yang terdapat didalamnya.
Kampung nelayan mangarabombang merupakan permukiman pesisir yang terletak di pesisir pantai
Kota Makassar bagian utara, tepatnya di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo. Kampung ini terdiri atas
bangunan rumah yang sebagian besar terletak di atas badan air. Permukiman ini tidak dilayani oleh
sarana pengelolaan sampah oleh pihak berwenang serta kurangnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya pengelolaan sampah yang benar. Tidak tersedianya pewadahan sampah komunal serta
pengangkutan sampah di permukiman ini menyebabkan masyarakat membuang sampah langsung ke
badan air, sehingga air laut di bawah rumah-rumah dipenuhi dengan sampah-sampah, baik sampah

1 MK Perencanaan dan Pengembangan Masyarakat


METODE CONSENSUS DESIGN

organik maupun sampah anorganik yang tidak mudah terurai. Kondisi ini juga menyebabkan
tersumbatnya saluran drainase dan menimbulkan bau busuk. Terlebih lagi, ekosistem air menjadi
terganggu sehingga tidak ada kegiatan pemanfaatan air misalnya sebagai sumber mata pencaharian
untuk nelayan. Hal ini juga dapat berdampak menurunnya kualitas hidup masyarakat, dimana kondisi
sanitasi yang buruk akan mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
Untuk itu, perlu adanya upaya dalam menyelesaikan masalah tersebut, tidak hanya dengan upaya
oleh akademisi tetapi juga dengan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berperan dalam
proses penyelesaian masalah. Dalam kegiatan ini, digunakan metode consensus design yang merupakan
sebuah metode penelitian dan perencanaan yang melibatkan masyarakat dalam keseluruhan prosesnya
secara aktif. Dalam metode ini, masyarakat tidak hanya sebatas informan saja, tetapi juga turut andil
dalam proses perumusan masalah, pengambilan data, analisis, hingga ke perencanaan yang dibuat
secara mufakat atau kesepakatan bersama.
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengidentifikasi keuntungan yang dapat diperoleh oleh
masyarakat dengan adanya penyelesaian masalah pengelolaan sampah di Kampung Nelayan
Mangarabombang melalui metode consensus design. Dengan diketahuinya keuntungan yang dapat
diperoleh masyarakat, metode consensus design dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk
pembuatan kebijakan dan juga bagi akademisi untuk penelitian selanjutnya yang melibatkan partisipasi
masyarakat.

Kegiatan

Kegiatan dilangsungkan di Kampung Nelayan Mangarabombang, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo,


Kota Makassar, tepatnya di 5o825 BT dan 119o2931 LS (BPS, 2016). Kecamatan Tallo terdiri atas 15
kelurahan dengan luas wilayah 5,83 km2.

Gambar 1. Peta Kampung Nelayan Mangarabombang, Kelurahan Tallo

Kelurahan Tallo, dengan luas 0,51 km2 terletak tepat di pinggir pantai. Berdasarkan data BPS di
dalam buku publikasi Kecamatan Tallo dalam angka, jumlah penduduk Kecamatan Tallo adalah sebesar
138.598 jiwa. Adapun kepadatan penduduk di kecamatan ini sebesar 23.773 jiwa per 1 km 2.

2 MK Perencanaan dan Pengembangan Masyarakat


METODE CONSENSUS DESIGN

Kegiatan ini dilakukan melalui 3 tahap yakni, pengumpulan data, analisis, dan penyusunan konsep
perencanaan.
1. Pengumpulan data, kegiatan pertama yang dilakukan yaitu diskusi bersama tokoh-tokoh masyarakat
dengan bantuan ketua RW bersama rekan tim penulis sebagai akademisi. Tokoh-tokoh masyarakat
yang turut serta dalam diskusi menjadi perwakilan dari warga, dimana tokoh-tokoh tersebut telah
mengetahui apa saja aspirasi dari masyarakat.
Di dalam diskusi ini, tim akademisi tidak mendominasi percakapan. Percakapan yang akan
dilakukan cenderung lebih didominasi oleh tokoh masyarakat sebagai wakil dari masyarakat dalam
menyampaikan aspirasi terkait permasalahan yang dibahas. Meskipun topik permasalahan telah
ditentukan, dalam diskusi ini tetap akan membahas mengenai bagaimana pandangan masyarakat itu
sendiri tentang masalah yang sedang dihadapi. Hal-hal yang dikemukakan tokoh masyarakat dalam
diskusi inilah yang menjadi rumusan masalah untuk selanjutnya dikumpulkan datanya melalui
observasi langsung di lapangan serta wawancara bersama masyarakat. Selain perumusan masalah,
dalam pertemuan pertama didiskusikan terkait pentingnya pengelolaan sampah yang benar. Dengan
konsep consensus design, diharapkan dalam pengumpulan data, tim akademisi didampingi oleh
salah satu tokoh masyarakat agar observasi yang dilakukan lebih terarah.

Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif, dan wawancara berguna
untuk mengumpulkan data bersifat kualitatif yang terkait bagaimana perilaku dari pengelolaan
sampah oleh masyarakat, dan seperti apa pandangan masyarakat tentang permasalahan yang
sedang dihadapi saat ini. Selain itu, juga dilakukan dokumentasi berupa foto untuk mendukung data
lainnya yang telah dikumpulkan.
Setelah data telah dikumpulkan bersama masyarakat, data tersebut lalu diolah oleh tim penulis.
Penyajian data ditampilkan dengan cara yang sederhana tetapi atraktif agar mudah dipahami oleh
masyarakat.

Gambar 2. Sampah berserakan akibat tidak tersedianya pewadahan sampah


Sumber: Dokumentasi Penulis
2. Analisis data. Setelah tahap pengumpulan data, pertemuan kembali diadakan bersama warga untuk
menampilkan data yang telah diolah dan dipresentasikan dihadapan anggota diskusi. Data-data
tersebut lalu dipaparkan oleh tim, yang selanjutnya dianalisis bersama masyarakat. Dalam diskusi ini
diberikan masukan-masukan terkait permasalahan pengelolaan sampah. Tokoh-tokoh masyarakat
diharapkan memberikan tanggapan terhadap analisis permasalahan yang dilakukan.
3. Penyusunan konsep perencanaan. Di dalam pertemuan kedua, setelah data telah dianalisis bersama,
apabila waktu memungkinkan maka diskusi dilanjutkan ke tahap penyusunan konsep perencanaan.
Dalam tahap penyusunan ini, para tokoh masyarakat memberikan masukan-masukan berupa solusi
terkait permasalahan, yang lalu disusun secara ilmiah oleh tim penyusun. Konsep perencanaan yang

3 MK Perencanaan dan Pengembangan Masyarakat


METODE CONSENSUS DESIGN

dilakukan dapat berupa penyediaan wadah sampah, dan juga pengolahan sampah untuk didaur
ulang ataupun digunakan kembali.
Apabila dalam penyusunan konsep ataupun implementasi konsep terdapat masalah, maka dilakukan
pertemuan selanjutnya hingga ditemukan mufakat atau kesepakatan bersama. Konsep perencaanaan
yang disusun merupakan hasil keputusan bersama oleh masyarakat itu sendiri, bukan semata-mata dari
tim akademisi. Meskipun melalui proses yang panjang, tetapi dalam prosesnya, masyarakat dapat terlibat
aktif sehingga, memberikan berbagai manfaat untuk masyarakat itu sendiri antara lain pengetahuan
terkait pentingnya menjaga lingkungan hidup, pengetahuan terkait pengelolaan sampah yang benar,
kemampuan mengolah sampah menjadi benda yang dapat digunakan kembali, serta seluruh aspirasi
masyarakat dapat tersalurkan. Dengan penyusunan konsep penyelesaian masalah oleh masyarakat itu
sendiri, masyarakat diharapkan dapat menjadi lebih afektif terhadap permasalahan tersebut.
Metode consensus design dapat memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat sebagai pusat
pengambilan keputusan, dimana masyarakat lah yang merumuskan masalah, hingga menyusun konsep
perencanaan berdasarkan pendapat yang telah disatukan.
Masalah pengelolaan sampah dapat diselesaikan dengan melibatkan masyarakat karena
bagaimanapun, sampah-sampah dihasilkan dari aktivitas masyarakat sehingga perlu kesadaran moral
tiap individu dalam pengelolaannya.

Pelajaran
Pelajaran yang dapat diperoleh dari kegiatan ini yaitu:
1. Metode consensus design lebih mengutamakan aspirasi masyarakat sebagai pusat pengambilan
keputusan, dengan peran aktif masyarakat dalam penyelesaian masalah dapat menumbuhkan
kesadaran moral bagi masyarakat itu sendiri.
2. Selain itu, dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait topik yang
dibahas.
3. Dengan metode consensus design, masyarakat dapat memberi aspirasi secara langsung terkait
permasalahan, bukan hanya sebagai informan, sehingga menduduki tingkatan partisipasi
masyarakat yang lebih aktif dan mencapai keputusan yang lebih tepat.

Kesimpulan
Metode consensus design yang diterapkan di Kampung Nelayan Mangarabombang dalam
menghadapi masalah pengelolaan sampah dapat melibatkan masyarakat secara aktif dalam seluruh
proses perencanaannya. Dari metode ini diharapkan konsep perencanaan yang disusun dapat tepat
sasaran dalam penyelesaian masalah.

Daftar Pustaka

Ekawati, Sri A. 2013. Penerapan Metode Consensus Design pada Penataan Kembali Sirkulasi Kampung
Kota di Kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2013.
Dwiyanto, B.M. 2011. Model Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Penguatan Sinergi dalam
Pengelolaan Sampah Perkotaan. Jurnal Ekonomi Pembangunan Volume 12, Nomor 2, Desember
2011, hlm.239-256.
Manik, dkk. 2016. Sistem Pengelolaan Sampah di Pulau Bunaken.
Day, Christopher. 2003. Consensus Design: Socially inclusive process. Architectural press. Diperoleh di
Sciencedirect.com

4 MK Perencanaan dan Pengembangan Masyarakat