Anda di halaman 1dari 13

Praktikum Kimia Dasar 1

I. JUDUL PERCOBAAN : SIFAT KOLIGATIF LARUTAN


II. TANGGAL PERCOBAAN : Rabu, 14 September 2016
III. SELESAI PERCOBAAN : Rabu, 14 September 2016
IV. TUJUAN PERCOBAAN :
Mempelajari pengaruh jenis larutan terhadap titik didihnya
V. TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa sifat penting tergantung pada banyaknya partikel zat
terlarut dalam larutan dan tidak bergantung pada jenis partikel zat terlarut.
Sifat sifat ini disebut sifat koligatif larutan. Semua sifat tersebut
bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut yang ada, apakah partikel
partikel tersebut atom, ion, atau molekul. Yang disebut sebagai sifat sifat
koligatif ialah penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik
beku, dan tekanan osmotik.
A. Penurunan Tekanan Uap
Jika zat terlarut tidak mudah menguap (nonvolatile artinya tidak
memiliki tekanan uap yang dapat diukur), tekanan uap dari larutan
selalu lebih kecil daripada pelarut murninya. Jadi, hubungan antara
tekanan uap larutan dan tekanan uap pelarut bergantung pada
konsentrasi zat terlarut dalam larutan. Hubungan itu dirumuskan dalam
hukum Raoult (dari nama kimiawan asal Perancis, Francois Raoult),
yang menyatakan bahwa tekanan parsial pelarut dari larutan, Pp adalah
tekanan uap pelarut murni, P10, dikalikan fraksi mol pelarut dalam
larutan X1:
P1 = X1 P10
dalam larutan yang mengandung hanya satu zat terlarut,
X1 = 1 X2, dimana X2 adalah fraksi mol zat terlarut.
P1 = (1 X2)P10
P10 P1 = P = X2 P1
Penurunan tekanan uap, P, berbanding lurus terhadap konsentrasi
(diukur dalam fraksi mol) zat terlarut yang ada.
Tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut
murninya. Hal tersebut dikarenakan terjadinya proses fisis dan proses
kimia yang dapat menyebabkan meningkatnya ketidakberaturan
semakin tidak teratur , semakin besar kecenderungan berlangsungnya
suatu proses. Penguapan meningkatkan ketidakberaturan suatu sistem
sebab molekul dalam fasa uap kurang teratur dibandingkan molekul
dalam fasa cairan. Karena larutan lebih tidak teratur dibandingkan

1
Praktikum Sifat Koligatif Larutan

pelarut murni, maka selisih ketidakteraturan antara larutan dan uap


lebih kecil dibandingkan antara pelarut murni dan uap. Dengan
demikian, molekul pelarut lebih kecil kecenderungannya untuk
meninggalkan larutan dibandingkan meninggalkan pelarut murni untuk
menjadi uap, dan tekanan uap larutan lebih kecil dibandingkan larutan
uap pelarut.
Jika kedua komponen larutan mudah menguap (volatil) maka
tekanan uap larutan aalah jumlah dari tekanan parsial masing masing
komponen. Hukum Raoult juga berlaku untuk kasus ini:
PA = XA PA0
PB = XB PB0
dengan PA dan PB adalah tekanan parsial larutan untuk komponen A dan
B, PA0 dan PB0 adalah tekanan uap zat murni, dan XA dan XB adalah
fraksi mol masing masing. Tekanan total yang diberikan oleh Hukum
Dalton untuk tekanan parsial:
PT = PA + PB
B. Kenaikan Titik Didih
Karena keberadaan zat terlarut yang tidak mudah menguap
menurunkan tekanan uap larutan, maka titik didih larutan pasti juga
terpengaruh karenanya. Titik didih larutan ialah suhu pada saat tekanan
uap larutan sama dengan tekanan atmosfer luar. Pada suhu berapapun,
tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut
murninya. Hal tersebut menunjukkan bahwa titik didih larutan lebih
tinggi daripada titik didih normal pelarut. Kenaikan titik didih, Td,
didefinisikan sebagai:
Td = Td Td0
dimana Td adalah titik didih larutan dan Td0 adalah titik didih pelarut
murni. Karena Td berbanding lurus dengan konsentrasi (molalitas)
larutan, dengan kata lain:
Td = m Kd
C. Penurunan Titik Beku
Es di jalanan dan trotoar yang beku akan meleleh bila ditaburi
garam seperti NaCl atau CaCl2. Cara pelelehan semacam ini berhasil
karena dapat menurunkan titik beku air. Penurunan titik beku, T b,
didefinisikan sebagai:
Tf = Tf0 Tf

2
Praktikum Kimia Dasar 1

dimana Tf0 adalah titik beku pelarut murni, dan Tb adalah titik beku
larutan. Tf berbanding lurus dengan konsentrasi larutan:
Tf = Kf m
dimana dalam persamaan ini m adalah konsentrasi dari zat terlarut
dalam satuan molalitas, dan Kf adalah konstanta penurunan titik beku
molal. Seperti hal Ka, Kf mempunyai satuan 0C/m.
Pembekuan melibatkan transisi dari keadaan tidak teratur ke
keadaan teratur. Agar proses itu terjadi, energi harus diambil dari
sistem. Karena larutan lebih tidak teratur dibandingkan pelarut, maka
lebih banyak energi yang harus diambil darinya untuk menciptakan
keteraturan dibandingkan dalam kasus pelarut murni. Jadi, larutan
memiliki titik beku lebih rendah dibandingkan pelarut. Apabila larutan
membeku, padatan yang memisah ialah komponen pelarutnya.
Sedangkan zat terlarut harus bersifat tidak mudah menguap dalam kasus
kenaikan titik didih, pembatasan ini tidak berlaku untuk penurunan titik
beku. Contohnya, CH3OH yakni cairan yang cukup mudah menguap,
yang mendidih hanya pada 650 kadang kadang digunakan sebagai
antibeku dalam radiator mobil.
D. Tekanan Osmotik
Banyak proses kimia dan biologi tergantung pada aliran molekul
pelarut secara selektif melewati membran berpori dari larutan encer ke
larutan yang lebih pekat. Meskipun tekanan osmotik merupaka
fenomena yang umum dan sudah diteliti dengan baik, hanya sedikit
yang diketahui tentang bagaimana membran semipermiabel
menghentikan sebagian molekul untuk lewat. Dalam beberapa kasus, ini
hanyalah masalah ukuran, membran semipermiabel bisa mempunyai
pori yang cukup kecil untuk melewatkan hanya molekul pelarut. Dalam
kasus lain, mungkin mekanisme yang berbeda yang menyebabkan
selektivitas membran, misalnya kelarutan pelarut yang lebih besar
dalam membran. Tekanan osmotik dalam larutan dinyatakan dalam:
=MRT
dimana M adalah molaritas larutan, R adalah konstanta gas (0,0821
atm/K.mol), dan T adalah suhu mutlak. Tekanan osmotik dilakukan
pada suhu tetap, kita menyatakan konsentrasi disini dengan satuan yang
lebih mudah, yaitu molaritas bukannya molalitas.

3
Praktikum Sifat Koligatif Larutan

Seperti halnya kenaikan titik didih dan penurunan titik beku,


tekanan osmotik pun berbanding lurus dengan konsentrasi larutan.
E. Penerapan Penurunan Tekanan Uap
Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap
pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam
sangat tinggi ini terletak di daerah gurun yang sangat panas dan kering,
serta tidak berhubungan dengan laut bebas, sehingga konsentrasi zat
terlarutnya semakin tinggi.
F. Penerapan Penurunan Titik Beku
1. Antibeku pada radiator mobil
Di daerah beriklim dingin, air radiator mudah membeku sehingga
biasanya ditambahkan etilen glikol. Jika keadaan ini dibiarkan,
maka radiator kendaraan akan cepat rusak. Dengan penambahan
etilen glikol kedalam air radiator diharapkan titik beku air dalam
radiator menurun, dengan kata lain air tidak mudah membeku.
2. Membuat campuran pendingin
Cairan pendingin adalah larutan berair yang memiliki titik beku
jauh dibawah 00C. Cairan pendingin digunakan pada pabrik es, juga
digunakan untuk membuat es putar. Cairan pendingin dibuat dengan
dengan melarutkan berbagai jenis garam kedalam air.
G. Penerapan Tekanan Osmotik
1. Mesin cuci darah
Pasien penderita gagal ginjal harus menjalani terapi cuci darah.
Terapi menggunakan metode dialisis, yaitu proses perpindahan
molekul kecil kecil seperti urea melalui membran semipermiabel
dan masuk ke cairan lain, kemudian dibuang. Membran tak dapat
ditembus oleh molekul besar seperti protein, sehingga akan tetap
berada di dalam darah.
2. Pengawetan makanan
3. Mengontrol bentuk sel

VI. ALAT DAN BAHAN


A. Alat:
1. Gelas kimia 100ml 4 buah
2. Kaki tiga dan kasa 1 buah
3. Termometer 1 buah
4. Pembakar spirtus 1 buah
5. Stopwatch/jam 1 buah
B. Bahan:
1. Garam dapur (NaCl)

4
Praktikum Kimia Dasar 1

2. Gula (C12H22O11)
3. Aquades

5
Praktikum Kimia Dasar 1

VII. ALUR PERCOBAAN


1. Mengamati kenaikan titik didih larutan elektrolit dan non elektrolit

Aquades 50 mL Aquades 50 mL
Aquades 50 mL

Dimasukkan kedalam gelas kimia Dimasukkan


Dimasukkan kedalam gelas
kedalam
kimia gelas kimia

Ditambahkan 3,42 gr gula (C12H22O11)


Ditambahkan Ditambahkan
0,58 gr garam0,58
dapur
gr (NaCl)
garam dapur (NaCl)

Dipanaskan sampai mendidih


Dipanaskan sampai mendidih
Aquades

2. Mengamati kenaikan suhu larutan elektrolit dan non elektrolit


Larutan gula Larutan garam

AquadesAquades
50 mL 50 mL

Dimasukkan
Dimasukkan kedalamkedalam gelas
gelas kimia kimia
100 ml 100 ml

Diberi label 1a,label


Diberi 2a, 3a,
1b, 4a
2b, 3b, 4b

Dipanaskan sampai mendidih


Dipanaskan sampai mendidih

Dicatat suhunya
Dicatat suhunya
Ditambahkan gula kedalam gelas kimia 1a(3,42gr); 2a(6,84gr); 3a(10,26gr);4a(13,68gr)
Ditambahkan garam kedalam gelas kimia 1b(0,58gr); 2a(1,17gr); 3b(1,75gr); 4b(2,35gr)

Diaduk sampai larut


Diaduk sampai larut
Dipanaskan sampai mendidih
Dipanaskan sampai mendidih
Dicatat suhunya
Larutan GulaDicatat suhunya

Larutan Gula
Praktikum Kimia Dasar 1

VIII. HASIL PENGAMATAN


No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/ Reaksi Kes
Perc Sebelum Sesudah
1. Mengamati Kenaikan Titik Didih Larutan Sebelum Praktikum KimiaPada
Sesudah Dasar 1
pemanasan Ber
Elektrolit dan Non Elektrolit dipanaskan, larutan dipanaskan pertama diduga perc
Aquades 50 ml gula, larutan garam larutan garam, garam lebih cepat yan
dimasukkan ke dalam gelas dan aquades berada larutan gula dan mendidih daripada dila
kimia pada suhu kamar aquades masing- gula karena garam dap
ditambahkan 3, 42 gram gula yaitu 320C. masing suhunya merupakan larutan disi
Larutandipanaskan
Gula sampai mendidih 940C, 980C, 950C elektrolit, dan bah
Aquades 50 ml pada waktu 23 larutan elektrolit perc
dimasukkan ke dalam gelas
detik dan 1 menit memiliki partikel dap
kimia
untuk aquades. lebih banyak men
ditambahkan 3, 42 gram garam
daripada gula yang perb
dipanaskan sampai mendidih merupakan larutan ken
Aquades 50 ml non elektrolit. didi
Larutandimasukkan
Garam kedalam gelas
ken
kimia
anta
dipanaskan sampai mendidih
Aquades elek
non
2. Mengamati Kenaikan Suhu Larutan Sebelum - Sesudah
Elektrolit dan Non Elektrolit dipanaskan suhu dipanaskan
Aquades 50 ml aquades adalah suhu aquades
Dimasukkan kedalam gelas 320C. adalah 940C.
kimia 100 ml - Sesudah
dipanaskan
Diberi identitas 1a, 2a, 3a, 4a
larutan gula
Dipanaskan sampai mendidih
dengan massa
Dicatat suhunya 3, 42 g, 6,84 g,
Ditambahkan gula kedalam 10,26 g, 13,68
1a(3, 42 gr),sampai
dipanaskan 2a(6, 84mendidih
gr), 3a(10, g suhunya
dimasukkan kedalam gelas kimia
100 ml masing-
Larutan Gula masing adalah
diberi
Aquades 50identitas
ml 1a, 2a, 3a, 4a
960C, 930C,
dipanaskan sampai mendidih 950C, 960C.
- Sesudah
dicatat suhunya
dipanaskan
ditambahkan gula kedalam
larutan garam
1a(3, 42 gr), 2a(6, 84 gr), 3a(10,
26 gr), 4a(13, 68 gr) dengan massa
0,58 g; 1,17 g;
diaduk sampai larut
1, 75 g; 2, 35 g
dipanaskan sampai mendidih
masing-
Larutan
dicatat
Garamsuhunya masing
Praktikum Kimia Dasar 1

IX. ANALISIS DATA


1. Mengamati kenaikan titik didih larutan elektrolit dan nonelektrolit.
Pada percobaan pertama sifat koligatif larutan ini, yang kami
lakukan adalah menyiapkan tiga buah gelas kimia yang masing masing
kami isi dengan 50 ml aquades. Kemudian pada gelas pertama kami
tambahkan 3,42 gram gula dan pada gelas kedua kami tambahkan 3,42
gram garam. Selanjutnya kami panaskan ketiga gelas kimia dengan
kompor secara bersamaan. Fungsi dari pemanasan ini adalah agar kami
mampu menganalisis kenaikan titik didih pada setiap larutan serta
perbedaan kenaikan titik didih antara larutan elektrolit (garam) dan
larutan nonelektrolit (gula).
2. Mengamati kenaikan suhu larutan elektrolit dan nonelektrolit.
Pada percobaan kedua yaitu mengamati kenaikan suhu larutan
elektrolit dan nonelektrolit. Pertama tama kami mengisi gelas kimia
dengan aquades sebanyak 50ml. Kemudian kami melabelinya dengan
label 1a,2a, 3a, dan 4a. Selanjutnya kami memanaskan aquades tersebut
hingga mendidih pada suhu 940C. Kami pun memasukkan gula sebanyak
3,42 gram ke gelas berlabel 1a, gula sebanyak 6,84 gram ke gelas
berlabel 2a, gula sebanyak 10,26 gram ke gelas berlabel 3a, dan gula
sebanyak 13,68 gram ke gelas berlabel 4a. Setelah itu kami aduk agar
partikel partikel zat terlarut (gula) benar benar tercampur secara
merata dengan pelarutnya. Lalu kami memanaskannya kembali dan
kami ukur suhunya agar kami dapat membedakan perbedaan kenaikan
suhu pada saat aquades dan setelah menjadi larutan gula.
Pada percobaan selanjutnya kami mengisi gelas kimia dengan
aquades sebanyal 50 ml. Kemudian kami melabelinya dengan label 1b,
2b, 3b, dan 4b. Selanjutnya kami memanaskan aquades tersebut hingga
mendidih pada suhu 940C. Kami pun memasukkan garam sebanyak 0,58
gram ke gelas berlabel 1b, garam sebanyak 1,17 gram ke gelas berlabel
2b, garam sebanyak 1,75 gram ke gelas berlabel 3b, dan garam sebanyak
2,35 gram ke gelas berlabel 4b. Setelah itu kami aduk agar partikel
partikel zat terlarut (garam/NaCl) benar benar tercampur secara merata
dengan pelarutnya. Lalu kami memanaskannya kembali dan kami ukur
Praktikum Kimia Dasar 1

suhunya agar kami dapat membedakan perbedaan kenaikan suhu pada


saat aquades dan setelah menjadi larutan gula.

X. PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama, kami memanaskan larutan gula, larutan
garam, dan aquades hingga mendidih. Dari percobaan didapat data bahwa
larutan garam lebih dulu mendidih dengan suhu 980C. Kemudian aquades
mendidih pada suhu 950C, dan larutan gula mendidih pada suhu 98 0C. Hal
ini menunjukkan bahwa larutan elektrolit lebih dulu mendidih daripada
larutan nonelektrolit karena larutan elektrolit memiliki partikel partikel
terlarut yang lebih banyak daripada larutan nonelektrolit.
Pada percobaan kedua, kami mengamati kenaikan suhu larutan
elektrolit (garam/NaCl) dan nonelektrolit (gula). Setelah diukur suhunya
didapatkan data, larutan gula 3,42 gram; 6,84 gram; 10,26 gram; 13,68 gram
masing masing suhunya 960C, 930C, 950C, dan 960C. Sedangkan untuk
larutan garamnya didapatkan data, larutan garam 0,58 gram; 1,17 gram;
1,75 gram; 2,35 gram masing masing suhunya ialah 95 0C, 930C, 930C,
940C.
Dilihat dari hasil yang didapat, bisa dilihat bahwa data tersebut tidak
sesuai dengan teori dan mengenai hal tersebut akan kami bahas dalam bab
diskusi.

XI. DISKUSI
Berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan yang telah
dilakukan, hasil tersebut tidak sesuai dengan teori yang digunakan.
Seharusnya semakin besar massa zat terlarut yang dilarutkan pada
pelarutnya, maka semakin tinggi nilai Tb (selisih antara titik didih larutan
dengan suhu pelarutnya) karena semakin besar kemolalannya, maka
semakin besar titik didihnya dan semakin besar pula kenaikan titik didihnya.
Hal tersebut dapat terjadi karena pada saat kami mengukur suhu larutan,
larutan tersebut belum benar benar dalam keadaan mendidih secara total.
Sehingga yang diperoleh bukan nilai Tb yang sebenarnya.
Kemudian pada saat pengadukan, kami mengaduk kurang merata.
Apabila kami melakukan secara merata maka larutan tersebut memiliki
kelarutan yang tinggi sehingga suhu larutan tersebut juga semakin tinggi.
Praktikum Kimia Dasar 1

XII. KESIMPULAN
Pada percobaan yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Dari percobaan ini, kita dapat mengetahui perbedaan kenaikan titik
didih dan kenaikan suhu antara larutan elektrolit dan non elektrolit.
2. Larutan elektrolit lebih dulu mendidih daripada larutan nonelektrolit
karena larutan elektrolit memiliki partikel partikel terlarut yang lebih
banyak daripada larutan nonelektrolit.
3. Semakin besar massa zat terlarut yang larut dalam pelarutnya, maka
semakin tinggi titik didihnya.

XIII. JAWABAN PERTANYAAN


1. Mengapa titik didih larutan gula lebih tinggi dibandingkan titik didih
air?
Titik didih larutan gula lebih tinggi dibandingkan titik didih air karena
dalam larutan gula terdapat partikel partikel zat terlarut yang
menghalangi peristiwa penguapan partikel partikel pelarut. Oleh
karena itu, penguapan partikel partikel pelarut membutuhkan energi
yang lebih besar.
2. Mengapa sifat koligatif larutan elektrolit lebih besar dibandingkan
larutan nonelektrolit?
Sifat koligatif larutan elektrolit lebih besar dibandingkan larutan
nonelektrolit karena larutan elektrolit memiliki partikel partikel
terlarut yang lebih banyak daripada larutan nonelektrolit.

XIV. DAFTAR PUSTAKA


- Chang, Raymond 2008 Kimia Dasar Jilid 2 Jakarta : Erlangga.
- Ijang Rohman dan Sri Mulyani 2004 Kimia Dasar 2 Jakarta: Jica.
- www.wikipedia.com

XX. LAMPIRAN FOTO


Penimbangan Penimbangan Gula
Garam

Gula dan Garam dimasukkan Penambahan aquades 50


kedalam gelas kimia ml

Larutan gula dan Pendidihan larutan gaaram


garam dan gula menggunakan
kompor listrik
Mendidihkan aquades 50Setelah
ml mendidih,
dicampurkan dengan
gula/garam yang sudah
disiapkan /gram

Tunggu perubahan pada


larutan garam/gula yang
telah dicampur dengan
quades mendidih
Amati perubahan suhu
yang terjadi pada larutan
garam dan larutan gula