Anda di halaman 1dari 4

4.

4 Kebiasaan Makan dan Cara Makan Ikan Lalawak

4.4.1 Indeks Preponderan

Kebiasaan makanan dianalisis dengan menggunakan indeks preponderan


Indeks preponderan adalah gabungan metode frekuensi kejadian dan volumetric. Hasil
analisis isi perut ikan nilem terdiri dari 5 kelompok pakan yaitu fitoplankton,
zooplankton, bagian tumbuhan, bagian hewan dan detritus. Berdasarkan hasil
penelitian, Indeks Preponderan ikan sampel berkisar antara 0,00% sampai 72,64%.

Indeks Preponderan (IP) Ikan Nilem


80.00%
60.00%
40.00% 71.64%
20.00%
12.48% 11.74%
0.00% 0.00% 2.29% 0.75%
0.02% 0.15%
0.00% 0.27%
0.00% 0.10%
0.06%
0.15% 0.32%
0.04% 0.00%

Gambar 16. Indeks Preponderan Ikan Nilem


Menurut Nikolsky (1963) dalam Lena (2012) setiap kelompok pakan dapat
dikategorikan berdasarkan nilai Indeks Preponderan (IP) yaitu sebagai kelompok
pakan utama bagi ikan apabila IP lebih besar dari 25%, pakan pelengkap apabila 5%
IP 25% dan pakan tambahan apabila IP kurang dari 5%.
Berdasarkan nilai IP , menunjukkan bahwa ikan nilem yang diambil dari
Ciparanje pakan utamanya yaitu detritus, sedangkan pakan pelengkapnya adalah
fitoplankton kelas Chlorophycae dan bagian tumbuhan. Sedangkan sisanya adalah
pakan tambahan. Nilai detritus yang tinggi bisa diasumsikan karena ikan nilem
merupakan ikan yang kebanyakan hidupnya berada didasar perairan, hal ini
didasarkan dari dua sungut peraba. Serta akumulasi detritus di dasar perairan sangat
tinggi, dikarenakan berat jenis detritus lebih berat daripada air sehingga detritus akan
mengendap di dasar perairan dan menjadi pakan utama ikan nilem.
Menurut Ankiq (2007) didapatkan makanan ikan nilem di 3 stasiun atau situ
berbeda. Stasiun 1 berada di Situ Pasir adalah fitoplankton sebagai pakan utama,
fitoplankton sebagai makanan pelengkap dan zooplankton sebagai pelengkap. Pada
stasiun 2 atau Situ Lengkong adalah fitoplankton dan detritus sebagai pakan utama,
serta zooplankton sebagai pakan tambahan. Stasiun III atau Situ Anyar adalah
fitoplankton dan detritus sebagai pakan utama, serta zooplankton sebagai pakan
tambahan. Pada Situ Anyar dan Situ Lengkong data makanan yang dimakan ikan
nilem mempunyai makanan kesukaan yang sama dengan data hasil praktikum. yaitu
berupa detritus. Hal ini berbeda dengan yang didapatkan pada Situ Pasir. Perbedaan
indeks preponderan dikarenakan kebiasaan makan ikan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain habitat hidupnya dan kesukaan terhadap jenis makanan tertentu.
Sesuai dengan data diatas tiap habitat ikan nilem yang berbeda mempengaruhi indeks
preponderan dan perairan Ciparanje banyak bahan organik.

4.4.2 Indeks Pilihan


Hasil analisis pakan kegemaran ikan nilem yaitu kelompok yang digemari
oleh ikan sebanyak 11 kelompok pakan yaitu Bacillariophycae, Desmidiacae,
Chlorophycae, Chrysophycae, Copepoda ,Plathyhelmintes. Nemata , Rotatoria,
Detritus, bagian tumbuhan dan bagian tumbuhan. Sedangkan kelompok pakan yang
tidak digemari yaitu Rhizopoda. Sedangkan yang lainya merupakan tidak ada seleksi
oleh ikan nilem.

Berdasarkan penelitian Ankiq (2007) indeks pilihan ikan nilem terhadap pakan
alami yang terdapat di Stasiun I atau Situ Pasir menyukai fitoplankton kelompok
Cyanophycae, Bacillariophycae dan dari kelompok zooplankton tidak ditemukan.
Pada Stasiun II atau Situ Lengkong indeks pilihan ikan nilem menyukai fitoplankton
dari kelompok Chlorophycae, Cyanophycae, Euglenophyta, dan zooplankton dari
kelompok Rotatoria dan Rhizopoda. Stasiun III atau Situ Anyar indeks pilihan
fitoplankton dari kelompok Bacillariophycae dan Euglenophycae sedangkan dari
kelompok zooplankton tidak ditemukan. Berdasarkan data diatas dapat diketahui
bahwa pada perairan indeks pilihan ikan nilem berbeda beda, baik ikan nlem yang
berada di 3 situ tersebut atau dari Ciparanje.
Menurut Effendi (2007) dalam Lena (2012) kesukaan ikan terhadap
makanannya sangat relatif. Karena belum tentu melimpahnya suatu pakan alami
dalam perairan dapat dimanfaatkan oleh ikan dikarenakan beberapa faktor yaitu
penyebaran organisme sebagai makanan ikan, ketersediaan makanan, pilihan dari
ikan, serta faktor-faktor fisik yang mempengaruhi perairan. Umumnya kesuburan
suatu badan perairan terhadap kelimpahan makanan selalu berfluktuasi hal ini
disebabkan oleh daur hidup, iklim dan kondisi lingkungan yang berubah bergantung
musim.
Hal ini bisa terjadi karena saat ikan nilem menghisap fitoplankton atau detritus
ada zooplankton yang terbawa masuk kedalam mulut ikan nilem. Perbandingan
zooplankton yang terdapat di lambung ikan nilem yang lebih sedikit dengan
fitoplankton yang berada pada perairan lebih banyak. Selain itu dapat berbeda pula
dengan waktu lainnya walaupun pengambilan dilakukan pada tempat yang sama. Hal
tersebut disebabkan oleh perubahan suasana lingkungannya (Ankiq 2007).

4.4.3 Indeks Trofik

Tingkat trofik adalah urutan-urutan tingkat pemanfaatan makanan atau


material dan energi seperti yang tergambarkan oleh rantai makanan. Tingkat trofik
ikan dikategorikan menjadi tingkat trofik 2 yaitu untuk ikan yang bersifat herbivora,
tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan tingkat trofik 3 atau lebih untuk
ikan yang bersifat karnivora (Lena 2012). Berdasarkan hasil data praktikum mengenai
tingkat trofik pada ikan nilem diperoleh sebagai berikut :

Tingkat Trofik Ikan Nilem


3.00 2.7273
2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00
TINGKAT TROFIK

Gambar. Tingkat Trofik Ikan Nilem


Berdasarkan hasil perhitungan tingkat trofik, ikan nilem didapatkan nilai
2,7273 yang berarti termasuk ikan omnivora. Hal ini dapat terlihat dari jenis makanan
yang ada dalam saluran pencernaannya yang kebanyakan berupa detritus, fitoplankton
dan bagian tumbuhan. Menurut Lena (2012) tingkat trofik ikan nilem didapatkan nilai
2,08 yang berarti termasuk ikan herbivora. Hal ini berbeda dengan apa yang
didapatkan praktikum. Perbedaan makanan yang dikonsumsi ikan merupakan salah
satu faktor yang membedakan tingkat trofik. Menurut Effendie (2002) dalam Agus
(2016) menyatakan bahwa perbedaan jumlah organisme yang dimakan ikan terjadi
karena perbedaan sebaran organisme tersebut pada masing-masing wilayah. Secara
umum kebiasaan makan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor habitat
hidupnya, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, ukuran makanan, warna
makanan dan umur ikan tersebut. Perubahan persediaan makanan disuatu badan
perairan yang disebabkan oleh perubahan lingkungan perairan akan merubah pola
kebiasaan makan ikan.