Anda di halaman 1dari 5

Green transportation pada dasarnya adalah suatu bentuk transportasi yang mendorong

penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam upaya memenuhi kebutuhan transportasi


masyarakat dengan tujuan mengubah budaya warga untuk lebih menggunakan transportasi
yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan atau pengadaan suatu inovasi teknologi
yang menggunakan bahan bakar terbarukan.

Tahun 2009 data lingkungan yang ada menunjukkan bahwa sektor transportasi
umumnya berkontribusi sekitar 23% dari emisi gas CO (carbon monoxide/green house gas)
dan tumbuh lebih cepat dibandingkan penggunaan energi di sektor lainnya. Kerugian akibat
kemacetan lalulintas di perkotaan dilaporkan mencapai $ 1.000 per kapita/tahun di kota-kota
besar di Amerika. Untuk kota Jakarta menunjukkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan
mencapai Rp. 1,25 juta per kapita per tahun

Terdapat beberapa kriteria green transportation sebagai berikut:

Jenis bahan bakar ramah lingkungan : Kriteria ini bertujuan untuk mengetahui suatu kota
apakah dapat menghasilkan suatu sumber baru dalam pengadaan bahan bakar transportasi,
apapun bentuknya.

Penggunaan teknologi ramah lingkungan (Hybrid) : Penggunaan bahan bakar dan bahan
bakar yang baru juga memerlukan teknologi yang dapat mengolah bahan bakar ramah
lingkungan. Teknologi ramah lingkungan pada kriteria ini adalah suatu sarana transportasi
yang dapat digunakan dengan menggunakan bahan bakar hijau
Transportasi massal : Kriteria transportasi massal dalam penerapan green transportation
berfungsi guna mengurangi jumlah penggunaan prasarana transportasi yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kenyamanan dan keamanan dalam berkendara. Transportasi
massal berguna untuk mengurangi kemacetan dan mengurangi jumlah emisi yang dikeluarkan
akibat transportasi.

Fasilitas jalur sepeda : pengadaan fasiltas jalur sepeda adalah salah satu bentuk cara untuk
mengurangi jumlah penggunaan transportasi yang berbahan bakar fosil dan di samping itu
juga dapat membuat penduduk menjadi sehat dan bugar dalam beraktivitas transportasi.

Fasilitas pejalan kaki : bentuk penerapan green transportation yang berbeda bentuk dengan
fasiltas jalur sepeda, tetapi keberadaan fasilitas ini cukup penting agar penduduk dapat
beralih dari penggunaan transportasi yang membutuhkan bahan bakar fosil.

Tingkat emisi dan STMS (Smart Transportation Management System).

BEST PRACTICE : BOGOR

Di Indonesia, konsep green transportation telah diterapkan di Kota Bogor. Sejak


Tahun 2007 Kota Bogor sudah menjadi anggota dari International Council for Local
Environment (ICLEI), yaitu asosiasi dari kurang lebih 600 kota sedunia yang berkomitmen
untuk melestarikan lingkungan hidup dengan mengendalikan pemanasan global, melalui
Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, yang salah satunya berasal dari emisi kendaraan
bermotor. Beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah Bogor dalam menerapkan konsep
green transportation di Kota Bogor sendiri adalah:

Biodiesel

Sejak tahun 2007 pula Pemerintah Kota Bogor melaksanakan kegiatan pengolahan
limbah minyak jelantah menjadi bahan bakar (biodiesel), dimana biodiesel yang dihasilkan
dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar alat transportasi ramah lingkungan (Bus Trans
Pakuan). Dinas yang pertama kali mengusulkan inisiatif tersebut adalah Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Kota Bogor. Alasan pemerintah Kota Bogor memilih minyak jelantah
sebagai bahan bakar biodiesel dikarenakan minyak jelantah merupakan minyak goreng sisa /
bekas penggorengan yang tidak dapat lagi digunakan berulang kali yang pada umumnya
terbuat dari kelapa sawit.
Saat ini yang moda transportasi yang berbahan bakar biodiesel sudah lama diterapkan
di Kota Bogor adalah Bus Trans Pakuan. Biodiesel adalah BBM ramah lingkungan dan
sangat signifikan mengurangi pencemaran udara dan menyebarkan aroma harum minyak
tumbuhan sehingga ikut mengharumkan kota. Penggunaan biodiesel oleh kendaraan bermesin
diesel dapat membersihkan ruang bakar mesin sehingga mesin diesel dapat menjadi lebih
awet. Pengelolaan Biodiesel dari minyak jelantah untuk Bus Trans Pakuan di Kota Bogor
diatur oleh Pemerintah Daerah Kota Bogor dengan bekerjasama dengan Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (BPLH) Provinsi Kota Bogor, PT Bumi Energi Equatorial (BEE) atau
nama lain Mekanika Elektrika Egra (MEE) dan Perusahaan Daerah Jasa Transportasi kota
Bogor

Transportasi massal

Jumlah angkutan kota saat ini yang ada di Bogor saat ini sekitar 3.421 unit dengan
luas wilayah Bogor yang hanya 118.5km. Ini berarti jumlah yang cukup banyak untuk luas
wilayah kota Bogor. Oleh sebab itu sebagian akan dikonversi ke transportasi massal, yaitu
Bus Trans Pakuan. Pada tahun 2009 lalu jumlah penumpang Bus Trans Pakuan mencapai
1.102.075 penumpang yang memanfaatkan layanan pada jalur Cidangiang Bubulak dan
Cidangiang Harjasari. Jumlah armada Bus Trans Pakuan saat ini hanya30 unit. Pemerintah
berencana untuk menambah jumlah armada 150-200 unit untukmengurangi kemacetan kota
Bogor.

Fasilitas Berjalan dan Bersepeda

Kota Bogor sudah menerapkan untuk Car Free Day (CFD) setiap hari minggu pukul
06.00-09.00. CFD ini sudah diterapkan sejak Desember 2009. CFD ini diterapkan disekitar
Jalan Jalak Harupat, Jl Salak, dengan pusatnya Lapangan Sempur. Hanya sepeda yang boleh
dilalui di area ini. Sehingga, warga bebas untuk berjalan kaki dan polusi juga berkurang.
Namun, pada hari kerja, belum terdapat jalur khusus sepeda disepanjang jalan kota Bogor ini.
Kota Bogor telah memiliki beberapa pedestrian jalan untuk fasilitas pejalan kaki. Jalan Nyi
Raja Permas dan Jalan Kapten Muslihat telah dibangun fasilitas pedestrian yang sangat baik,
pembangunan ini mempertimbangkan jalan tersebut merupakan akses jalan masyarakat
Kota Bogor menuju Stasiun Kota Bogor yang merupakan salah satu pusat bangkitan dan
tarikan terbesar di Kota Bogor.7.
Smart Transportation Management Systems (STMS)
Manajemen sistem transportasi yang sudah ada di Kota Bogor adalah:

- Pengujian kendaraan bermotor yang optimal


- Penggunaan ruang lalu lintas dan menyediakan simpul transportasi untuk
mengantisipasi dan merespon secara positif mobilitas lalu lintas
- Pengujian emisi buang di dalam pelaksanaan pelayanan pengujian kendaraan
bermotor dan sosialisasi di dalam penggunaan bahan bakar berpolutan rendah melalui
Program Langit Biru
- Pelayanan yang optimal ditinjau dari aspek kualitas pelayanan, aksesibilitas trayek
angkutan umum dan tarif yang terjangkau

Selain upaya-upaya diatas, terdapat juga beberapa Kebijakan Pemerintah Kota Bogor
dalam menerapkan green transportation yaitu :

1. Peraturan Daerah RTRW Kota Bogor tahun 2011 - 2031 Bagian Ketiga tentang
Rencana Pengembangan Jaringan Gas, pada paragraf kedua Rencana Sistem Jaringan
Prasarana Kota pasal 39 poin b disebutkan mengenai rencana pengembangan Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Gas untuk kendaraan bermotor dan pada poin c disebutkan
rencana pengembangan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji. Hal ini merupakan
realisasi untuk pelaksanaan 50 Angkot BBG yang sudah mulai beroperasi bulanNovember
2015

2. RTRW Kota Bogor Tahun 2011 2031 Bab 6 mengenai Rencana struktur ruang
wilayah, pada bagian tiga rencana pengembangan sistem jaringan, paragraf 1 rencana
jaringan Transportasi pasal 18 ayat (4) huruf a disebutkan rencana peningkatan pelayanan
angkutan umum massal. Realisasi dari huruf (a) ini adalah:

- Angkutan umum massal Trans Pakuan untuk pelayanan dalam kota serta angkutan
umum masal antar kota seperti kereta api dan pengumpan angkutan umum masal Trans
Jakarta

- Pengembangan jalur angkutan umum masal dalam kota yang menghubungkan rencana
terminal Ciawi-Cidangiang-rencana Terminal Dramaga, rencanaTerminal Ciawi-rencana
Terminal Dramaga melalui Bogor Inner Ring Road Selatan, rencana Terminal Dramaga-
rencana Terminal Tanah Baru-Sentul, rencana Terminal Tanah Baru-rencana Terminal
Cibinong, rencana pengembangan jalur tengah kota melalui Stasiun Kereta Api Bogor

- Pengembangan sarana dan prasarana pendukung sistem angkutan umum masal seperti
halte, sarana parkir untuk peralihan moda, rambu lalu lintas, dan pengembangan jalur
bus;3. RTRW Kota Bogor Tahun 2011 2031 Bab 6 huruf (c) disebutkan Rencana
penyediaan angkutan umum yang ramah lingkungan. Realisasi dari huruf (c) ini adalah
Bus Trans Pakuan