Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Didalam perut bumi tempat kita tinggal ternyata banyak sekali mengandung zat-
zat yang berguna untuk keperluan hidup kita sehari-hari, misalnya minyak tanah,
bensin, solar dan lain-lainnya yang disebut minyak bumi. Disamping itu juga
terdapat unsur-unsur kimia yang berguna bagi manusia seperti bijih besi, nikel,
tembaga, uranium, titanium, timah dan masih banyak lagi, beserta mineral dan
batu-batuan. Banyaknya logam yang terkandung dalam bijih itu berbeda-beda.
Logam dalam keadaan murni jarang sekali terdapat di dalam bumi, kebanyakan
merupakan senyawa-senyawa oksida, sulfida, karbonat, dan sulfat yang
merupakan bijih logam yang perlu diproses menjadi bahan logam yang
bermanfaat bagi manusia. Salah satu proses dalam pembuatan besi tersebut adalah
dengan menggunakan dapur aduk.

1 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dapur aduk?
2. Bagaimana cara kerja dapur aduk?
3. Apa produk yang dihasilkan dan untuk apa penggunaan hasil dari dapur

aduk?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mendiskripsikan pengertian dapur aduk?
2. Mendiskripsikan cara kerja dapur aduk?
3. Mendiskripsikan produk yang dihasilkan dan penggunaandari dapur aduk?

1
2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Dapur Aduk

Pada proses ini besi kasarnya dipanaskan dengan zat pembakar yang tidak
bersentuhan dengan besi tadi. Proses itu berlaku dalam suatu dapur nyala, dalam
hal ini dinamakan dapur aduk yang dipakai sejak tahun 1784 ketika Henry Cort di
inggris memakai dapur itu untuk pertama kalinya.

Dapur itu terdiri dari suatu tungku api dan suatu tungku kerja yang ditutup dengan
satu dinding atas, untuk mengantar nyala dari tungku api kedalam tungku kerja
melalui besi yang harus dikerjakan. Suatu cerobong mengeluarkan gas-gas asap
dari dapur itu ke suatu ketel uap, dimana kalornya dipakai selanjutnya.

Tungku kerja (panjang 1,70 a 2 m dan lebar 1,60 a 1,70 m) terdiri dari suatu
telapak tungku besi, pembatas pada sisi-sisinya dibentuk oleh pinggiran besi yang
dituang kosong melalui mana dialirkan air pendingin. Untuk melindungi isi dapur
itu terhadap suhu yang tinggi ( 1200 oC) maka ruang dalamnya dilapisi dengan
lempung dan terak yang mengandung oksid besi yang sukar mencair, yang
dicairkan merata pada suhu yang tinggi, dan selanjutnya didinginkan.

Dibelakang rangka bakar tungku api terdapat jembatan api yang terdiri dari batu-
batu tahan api.

Dinding atas dan dinding-dinding samping dapur itu satukan oleh plat-plat baja
yang kuat, juga terdiri dari batu-batu tahan api. Bahan bakar yang digunakan
adalah batu bara. Pada dinding dapur terdapat sebuah pintu pengisi bahan bakar
dan sebuah pintu kerja. Pintu kerja ini gunanya untuk mengisi dan mengosongkan
tungku dan disitu terdapat lubang yang digunakan oleh pekerja untuk
menggerakkan suatu batang baja yang panjang selama pengerjaan (proses aduk).
Dan besi kasar kelabu sebagai bahan dasarnya.
3

Gambar 1. Dapur Aduk

2.2 Cara Kerja Dapur Aduk

Pada permulaan proses, didalam dapur aduk yang panas itu masih terdapat terak
dari pengerjaan sebelumnya, kemudian dimasukkan 300 kg besi kasar. Apabila
nyala apinya besar maka besi tersebut mencair dalam waktu 35 menit. Selama
proses berlangsung terus menerus dilakukan pengadukan dengan kait/batang
untuk membongkar penutup terak yang terbentuk di dalam dapur dan permukaan
besi kasar itu tetap dapat disentuh oleh nyala api. Sehingga kandungan manggan,
zat arang dan zat asam dalam besi akan terbakar.

Dari pembakaran tersebut terjadi oksid arang yang berbentuk gas, pada sat besi itu
mendidih mengakibatkan sebagian dari terak-teraknya keluar melalui lubang
kerja. Setelah beberapa waktu kandungan zat arang pada besi itu menjadi sangat
4

sedikit, sehingga pada suhu tinggi di dalam dapur, besi itu tidak dapat lagi
mempertahankan keadaan cairnya. Maka terbentuklah kristal-kristal yang menjadi
gumpalan, sehingga tidak dapat dilakukan pengadukan lagi.

Isi dapur itu kini telah menjadi baja, tetapi zat arangnya belum dapat dikeluarkan
secara merata. Pekerja kemudian mengganti kait/batang adukannya dengan kait
jenis lain yang lebih panjang agar dapat melepaskan besi yang telah membeku,
membalikkan gumpalan-gumpalan tadi dan mengumpulkannya lagi. Hal ini
diulangi satu sampai dua kali, setelah itu isinya dibagi dalam 4-6 bagian yang
masing-masing beratnya 50 kg. Kemudian baja tadi digulungkan-gulungkan
dengan kait/batang agar menjadi batang-batang bulat dan padat yang selanjutnya
didorong ke jembatan api. Setelah itu suhu dapur itu dinaikkan lebih tinggi agar
terak yang tersisa didalam dapur menjadi cair, lalu ditaruh dibawah suatu martil
uap, untuk menekan terak agar dapat keluar.

Batang-batang besi baja kemudian diselidiki bidang patahannya. Berdasarkan sifat


bidang patahnya dapat ditentukan kualitasnya dan menurut bidang patahnya inilah
batang-batang itu disusun dalam paket-paket yang masing-masing terdiri dari
batang-batang dengan kualitas yang sama. Paket-paket itu dipanaskan lagi dalam
dapur nyala sehingga akhirnya didapatkan suatu hasil yang teratur dengan kualitas
yang dikehendaki.

Kalau kita mengerjakan besi kasar putih, maka pengeluaran zat arangnya telah
mulai ketika besi itu mencair, karena tidak adanya silisium yang melindunginya.
Sehingga prosesnya menjadi sangat singkat yang mengakibatkan kerugian besi
karena oksidasi dan pemakaian bahan bakar menjadi berkurang. Jadi untuk
pembuatan baja itu biasanya yang sering dipakai adalah besi kasar putih sebagai
bahan dasarnya.

Kalau kita membuat besi dengan kadar C yang tinggi (yang dulu disebut baja)
maka pengeluaran zat arangnya tidak boleh dilanjutkan lebih jauh lagi. Setelah
mengaduk maka segera kita membuat gumpalan-gumpalan sebanyak-banyaknya
dibawah perlindungan terak. Disini besi kasar putih itu tidak baik sebagai bahan
5

dasar, prosesnya akan berlangsung dengan cepat sehingga belerangnya tidak


cukup terbakar.

Oleh karena ini besi ini dibuat dari besi kasar kelabu atau dari campuran besi
kasar kelabu dan besi kaca, oleh karena silisium dan manggan memperlambat
pengeluaran zat arangnya.

Belerang menyebabkan besi yang dalam keadaan pijar merah menjadi getas yang
menyebabkan berkurangnya sifat dapat ditempa. Pada panas pijar putih bahan itu
dapat ditempa lagi.kadar fosfor menyebabkan besi dan baja menjadi getas dingin
artinya getas pada suhu kamar, jadi kurang harganya. Oleh karena dalam dapur
aduk itu tidaklah mungkin untuk membuang cukup fosfor dari besi itu dengan
jalan oksidasi. Kita hanya memperoleh hasil akhir yang baik dengan memakai
besi kasar yang tak mengandung fosfor.

Kerugian-kerugian besi karena pembakaran itu berkisar dari 6-15%. Setiap ton
besi pemakaian zat bakarnya ialah 750-2000 kg.

2.3 Macam Hasil Produk

Pada pembuatan dari besi kasar kelabu dalam waktu 25 jam kita kerjakan 10
pengisian dari 225kg dengan hasil 1840-2000kg welijzer.

Kalau kita membuat welijzer dari besi kasar putih maka dalam waktu yang sama
itu kita kerjakan 12-30 pengisian dari 300kg, seluruhnya kurang lebih
menghasilkan 4600kg hasil kasar.

Penghasilan yang kurang, pemakaian bahan bakar yang banyak dan pekerjaan
yang berat untuk pekerja-pekerja menyebabkan proses aduk itu hanya sangat
sedikit dipakai.

Untuk pekerjaan seni tempa dan untuk pekerjaan-pekerjaan yang memperoleh


bentuknya dengan tempaan yang banyak, maka welijzer lebih banyak banyak
dipakai daripada baja.

BAB III
6

PENUTUP

1 Kesimpulan

Dapur Aduk dipakai sejak tahun 1784 ketika Henry Cort di inggris memakai
dapur ini untuk pertama kalinya.

Dengan ukuran tungku kerja (panjang 1,70 a 2 m dan lebar 1,60 a 1,70 m). Pada
dinding dapur terdapat sebuah pintu pengisi bahan bakar dan sebuah pintu kerja.
Dan besi kasar kelabu sebagai bahan dasarnya.

Pada permulaan proses, didalam dapur aduk yang panas itu masih terdapat terak
dari pengerjaan sebelumnya, kemudian dimasukkan 300 kg besi kasar. Apabila
nyala apinya besar maka besi tersebut mencair dalam waktu 35 menit.

Kerugian-kerugian besi karena pembakaran itu berkisar dari 6-15%. Setiap ton
besi pemakaian zat bakarnya ialah 750-2000 kg.

Penghasilan yang kurang, pemakaian bahan bakar yang banyak dan pekerjaan
yang berat untuk pekerja-pekerja menyebabkan proses aduk itu hanya sangat
sedikit dipakai dan hasil dari dapur aduk ini banyak digunakan dalam seni tempa
dan untuk pekerjaan-pekerjaan yang memperoleh bentuknya dengan tempaan
yang banyak.

2 Saran

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan

dari tenaga makanik ke tenaga otomatis yang dilakukan oleh mesin, jadi sudah

seharusnya dalam proses pengadukan besi dalam ruang kerja iru dilakukan

pembaharuan secara otomatis sehingga tidak terlalu banyak tenaga yang

dikeluarkan dan proses menjadi semakin cepat.

DAFTAR RUJUKAN
7

Beumer, B J M. 1985. Ilmu Bahan Logam Jilid 1 . Jakarta: Bhratara Katya Alsara.

Soejoto, D.Tenologi Mekanik Jilid A . Jakarta: STAM Kluwer.

Vohdin. 1982. Mengolah Logam. Jakarta: Pradnya Paramita.