Anda di halaman 1dari 4

PERKAWINAN DAN PERCERAIAN

Dalam istilah bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata "kawin" yang menurut
bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis; melakukan hubungan
kelamin atau bersetubuh.

Perkawinan disebut juga "pernikahan", yang berasal dari kata "nikah" yang menurut
bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti
bersetubuh.

Dalam konteks hukum Islam, terdapat beberapa definisi, di antaranya adalah:

"Perkawinan menurut syara' yaitu akad yang ditetapkan syara' untuk membolehkan
bersenang-senang antara laki-laki dengan perempuan dan menghalalkan
bersenang-senangnya perempuan dengan laki-laki".

Abu Yahya Zakariya Al-Anshari mendefinisikan nikah sebagai berikut:

"Nikah menurut istilah syara ialah akad yang mengandung ketentuan hukum
kebolehan hubungan seksual dengan lafadz nikah atau dengan kata-kata yang
semakna dengannya".

Muhammad Abu Ishrah memberikan definisi yang lebih luas tentang perkawinan,
yaitu :
"Akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga
(suami-istri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong-menolong dan
memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban bagi masing-
masing".

Menurut Kompilasi Hukum Islam, pengertian perkawinan tercantum dalam pasal 2


yang berbunyi sebagai berikut:

Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat
kuat atau mitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah
Pengertian

Menurut Ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mengatakan bahwa talak adalah
pelepasan ikatan perkawinan secara langsung untuk masa yang akan datang
dengan lafal yang khusus.

Menurut mazhab Syafi'i, talak adalah pelepasan akad nikah dengan lafal talak
atau yang semakna dengan itu.

Menurut ulama Maliki, talak adalah suatu sifat hukum yang menyebabkan
gugurnya kehalalan hubungan suami istri.

Perbedaan definisi diatas menyebabkan perbedaan akibat hukum bila suami


menjatuhkan talak Raj'i pada istrinya. Menurut Hanafi dan Hanbali, perceraian ini
belum menghapuskan seluruh akibat talak, kecuali iddah istrinya telah habis.
Mereka berpendapat bahwa bila suami jimak dengan istrinya dalam masa iddah,
maka perbuatan itu dapat dikatakan sebagai pertanda rujuknya suami. Ulama Maliki
mengatakan bila perbuatan itu diawali dengan niat, maka berarti rujuk. Ulama
syafi'i mengatakan bahwa suami tidak boleh jimak dengan istrinya yang sedang
menjalani masa iddah, dan perbuatan itu bukanlah pertanda rujuk. karena menurut
mereka, rujuk harus dilakukan dengan perkataan atau pernyataan dari suami secara
jelas, bukan dengan perbuatan.

Pembagian Talak

Dari segi cara suami menjatuhkan[sunting | sunting sumber]

Dilihat dari segi cara suami menjatuhkan talak pada istrinya, talak dibagi menjadi 2,
yaitu:

1. Talak Sunni: talak yang dijatuhkan suami pada istrinya dan istri dalam
keadaan suci atau tidak bermasalah secara hukum syara', seperti haidh, dan
selainnya.

2. Talak Bid'i: talak yang dijatuhkan suami pada istrinya dan istrinya dalam
keadaan haid, atau bermasalah dalam pandangan syar'i.
Dilihat dari segi boleh tidaknya suami rujuk dengan istrinya, maka talak dibagi
menjadi dua, yaitu talak raj'i dan talak ba'in.

1. Talak Raj'i: Talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya (talak 1 dan 2) yang
belum habis masa iddahnya. Dalam hal ini suami boleh rujuk pada istrinya
kapan saja selama masa iddah istri belum habis.

2. Talak Ba'in: Talak yang dijatuhkan suami pada istrinya yang telah habis masa
iddahnya. Dalam hal ini, talak ba'in terbagi lagi pada 2 yaitu: talak ba'in
sughra dan talak ba'in kubra.

Talak ba'in sughra adalah talak yang dijatuhkan suami pada istrinya (talak 1 dan 2)
yang telah habis masa iddahnya. suami boleh rujuk lagi dengan istrinya, tetapi
dengan aqad dan mahar yang baru. sedangkan talak ba'in kubra adalah talak yang
dijatuhkan suami pada istrinya bukan lagi talak 1 dan 2 tetapi telah talak 3. dalam
hal ini, suami juga masih boleh kembali dengan istrinya, tetapi dengan catatan,
setelah istrinya menikah dengan orang lain dan bercerai secara wajar. oleh karena
itu nikah seseorang dengan mantan istri orang lain dengan maksud agar mereka
bisa menikah kembali (muhallil) maka ia dilaknat oleh Rasulullah SAW. dalam salah
satu haditsnya. * Talak dua: pernyataan talak yang dijatuhkan sebanyak dua kali
dan memungkinkan suami rujukdengan istri sebelum selesai masa iddah * Talak
tiga: pernyataan talak yang bersifat final. Suami dan istri tidak boleh rujuk lagi,
kecuali sang istri pernah dikawini oleh orang lain lalu diceraikan olehnya.

PENGERTIAN, HUKUM RUJUK


1. Pengertian rujuk

Menurut bahasa Arab, kata rujuk berasal dari kata roja yang berarti kembali,
atau mengembalikan. Dalam istilah hukum Islam, para fuqoha mengenal istilah
Ruju yang keduanya sama maknanya. Ulama Hanafiyah memberi depenisi ruju
sebagaiamana dikemukakan oleh Abu Zahra, sebagai berikut : Ruju ialah
melestarikan perkawinan dalam masa iddah talak raji. Menurut Imam Asy syafii
Rujuk adalah mengembalikan status perkawinan sebagai suami istri di tengah-
tengah iddah setelah terjadinya talak roji . Dengan demikian dapat dirumuskan
bahwa ruju ialah mengembalikan status hokum perkawinan secara penuh setelah
terjadi talak roji yang dilakukan oleh bekas suami terhadap bekas istrinya dalam
masa iddah dengan ucapan tertentu.

Dari rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan terjadinya talak antara
suami istri meskipun bersetatus talak roji, namun pada dasarnya talak ini dapat
mengakibatkan haram melakukan hubungan suami istri, karena itu kendati bekas
suami dalam masa iddah berhak merujuk bekas istri itu dan mengembalikannya
sebagaimana suami istri yang sah secara penuh, namun karena timbulnya
keharaman itu berdasarkan talak yang diucapkan oleh bekas suami terhadap bekas
istrinya itu, maka untuk menghalalkan kembali bekas istrinya menjadi istri lagi
haruslah dengan pernyataan rujuk yang diucapkan oleh bekas suami dimaksud.

Dengan terjadinya talak roji maka kekuasaan bekas suami terhadap istri
menjadi berkurang, namun masih ada pertalian hak dan kewajiban antara keduanya
selama istri dalam masa iddahnya, berkewajiban menyediakan tempat tinggal serta
jaminan, dan sebagai imbangannya bekas suami memiliki hak prioritas untuk
merujuk bekas istrinya itu dalam arti mengembalikannya kepada kedudukannya
sebagai istri secara penuh dan dengan pernyataan ruju itu menjadi halal bekas
suami mencampuri bekas istrinya dimaksud, dengan demikian status perkawinan
mereka kembali sebagaimana biasa. Karena itu untuk laki-laki lain selain bekas
suami tidak berhak mengawini bekas istri itu sebelum berakhir masa iddah(waktu
tunggu istri yang ditalak suaminya selama tiga kali suci atau tiga bulan puluh
hari ), hak prioritas merujuk itu menjadi hilang ketika berakhirnya masa iddah
dimaksud.