Anda di halaman 1dari 27

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

UJI TOKSISITAS AKUT PADA PEMBERIAN INFUSA UMBI BAWANG


DAYAK (Eleutherine americana (Aubl.)) PADA TIKUS PUTIH
GALUR WISTAR (Rattus norvagicus L.)

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:
Joshua Alvin Ariadi I1011141011 Angkatan 2014
Angga Dominius I11112063 Angkatan 2012
Kevin Chikrista I1011141053 Angkatan 2014

UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

1
2
DAFTAR ISI

3
HALAMAN SAMPUL.................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
RINGKASAN.................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1
.
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian...................................................................... 2
1.4 Luaran yang Diharapkan.......................................................... 2
1.5 Manfaat Penelitian.................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 2
2.1 Bawang Dayak.......................................................................... 2
2.1.1 Klasifikasi......................................................................... 3
2.1.2 Manfaat Tanaman........................................................ 3
2.1.3 Kandungan Tanaman................................................... 3
2.1.4 Penelitian Terkini Mengenai Toksisitas Umbi Bawang
Dayak........................................................................ 3
2.2 Uji Toksisitas......................................................................... 4
2.2.1 Uji Toksisitas Akut Oral.................................................. 4
2.2.2 Uji Toksisitas Sub Akut Oral.............................. 4
2.2.3 Uji Toksisitas Kronik Oral........................................... 5
BAB III METODE PENELITIAN............................................................. 5
3.1 Rancangan Penelitian................................................................ 5
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian................................................. 5
3.3 Alat dan Bahan.......................................................................... 5
3.4 Cara Kerja................................................................................. 6
3.4.1 Penyediaan Bahan Baku dan Pembuatan Simplisia.......... 6
3.4.2 Perhitungan Dosis,........................................................ 6
3.4.3 Penyiapan Larutan Uji.................................................. 6
3.4.4 Pembuatan Hewan Coba............................................... 6
3.4.5 Perlakuan Pada Hewan Coba......................................... 7
3.4.6 Pembuatan Preparat Histopatologi.................................. 7
3.4.7 Analisis Data.............................................................. 8
3.4.8 Bagan Alur Penelitian.................................................. 8
3.5 Biaya dan Jadwal Kegiatan...................................................... 8
3.5.1 Anggaran Biaya................................................................ 8
3.5.2 Jadwal Kegiatan................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA.................................................................... 9
LAMPIRAN 11

4
RINGKASAN

Berdasarkan studi mengenai penggunaan pelayanan kesehatan tradisional


menunjukkan sekitar 30,4% penduduk Indonesia menggunakan pelayanan
kesehatan tradisional dan 49% diantaranya menggunakan terapi ramuan dan
52,7% penduduk meyakini ramuan tradisional dapat menjaga kesehatan dan
meningkatkan kebugaran. Pengobatan tradisional diketahui dapat mengobati
berbagai jenis penyakit infeksi, penyakit akut, dan penyakit kronis, seperti umbi
bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.)) sebagai agen antihipertensi,
antidiabetes dan anti kanker payudara. Masyarakat suku dayak memercayai
bawang dayak sebagai obat untuk memulihkan penyakit kanker, kolesterol,
hipertensi, diabetes dan ulser. Penggunaan umbi bawang dayak di masyarakat
masih dilakukan atas dasar bukti empirik sebab bawang dayak belum melalui uji
preklinik dan klinik yang lengkap dan terstandarisasi, sehingga tingkat keamanan
dari tanaman tradisional ini masih belum diketahui.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik pemberian akut
infusa umbi bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.)) pada tikus galur
wistar (Rattus novargicus L.) yang dinilai melalui perubahan histopatologi pada
jaringan hati dan ginjal. Target utama penelitian ini adalah mengetahui pada dosis
berapa infusa umbi bawang dayak menghasilkan efek toksik sehingga dari dosis
ini dapat menjadi bukti dasar mengenai efek toksisitas dari umbi bawang dayak
dan penggunaannya di masyarakat harus lebih diawasi.
Penelitian yang akan dilakukan ini adalah penelitian eksperimental
laboratorium secara in vivo dengan rancangan acak lengkap posttest only control
group design. Alur penelitian ini dimulai dari pengumpulan bahan tanaman
kemudian dideterminasi selanjutnya tanaman diolah menjadi simplisia. Simplisia
tersebut kemudian dibuat infusa dengan dosis I 2,25 mg/0,2KgBB, dosis II 4,5
mg/0,2 KgBB dan dosis III 9 mg/0,2 KgBB. Tikus putih kemudian diaklimatisasi
selama 7 hari. Jumlah tikus yang digunakan sebanyak 24 ekor tikus. Tikus
tersebut kemudian dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan yaiu kelompok I adalah
kontrol normal yang diberikan aquades, kelompok II adalah tikus yang diberikan
gentamisin 80 mg/Kg, kelompok III adalah tikus yang diberikan parasetamol 250
mg/Kg, kelompok IV adalah tikus yang diberikan dosis I, kelompok V adalah
tikus yang diberikan dosis II, kelompok VI adalah tikus yang diberikan dosis III.
Semua larutan uji diberikan per oral per hari selama 30 hari. Setelah itu tikus
dikurbankan dan diambil organ hati dan ginjal untuk dilakukan studi
histopatologi.

Kata Kunci: Bawang Dayak, Toksisitas, Histopatologi, Akut, Infusa

5
1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan UU RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
mendefinisikan obat tradisional sebagai bahan atau ramuan bahan yang berupa
bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau
campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk
pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di
masyarakat. Obat tradisional mencakup jamu, obat herbal terstandar, dan
fitofarmaka. Perbedaan ketiga jenis obat tradisional ini adalah ada tidaknya data
pendukung terhadap manfaat obat, yaitu data empiris, data preklinik atau data
klinik dan ketiga jenis obat tersebut harus melalui standar penilaian yang
dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga khasiat dan
keamanannya terjamin (Yuningsih, 2012).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 80%
penduduk Asia dan Afrika menggunakan pengobatan tradisional. Pada tahun 2011
telah dilakukan pertemuan anggota ASEAN dan diperoleh kesepakatan
Tawangmangu Declaration, isinya adalah untuk mengintergrasikan pengobatan
tradisional ke dalam pengobatan konvensional pada tahun 2015. Berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) (2013) sekitar 30,4% penduduk Indonesia
menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dan 49% diantaranya
menggunakan terapi ramuan dan 52,7% penduduk meyakini ramuan tradisional
dapat menjaga kesehatan dan meningkatkan kebugaran. Pengobatan tradisional
diketahui dapat mengobati berbagai jenis penyakit infeksi, penyakit akut, dan
penyakit kronis, seperti umbi bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.))
sebagai agen antihipertensi, antidiabetes dan anti kanker payudara (Yuningsih,
2012; Ieyama et al., 2011).
Umbi bawang dayak adalah tanaman tradisional yang sering digunakan
oleh sebagian masyarakat di daerah Kalimantan. Bawang dayak adalah sejenis
bawang bawangan yang tumbuh liar di hutan pedalaman Kalimantan (Mangan,
2005). Masyarakat suku dayak memercayai bawang dayak sebagai obat untuk
memulihkan penyakit kanker, kolesterol, hipertensi, diabetes dan ulser (Kuntorini
dan Nugroho; Arung et al, 2011). Tanaman umbi bawang dayak adalah tanaman
liar di Kalimantan telah diyakini memiliki efek bagi tubuh namun penelitian
ilmiah masih balum banyak menguji mengenai hal tersebut. Banyak masyarakat
yang mengonsumsi umbi bawang dayak secara rutin namun masyarakat belum
mengetahui efek apa saja yang akan ditimbulkan pada organ manusia, terutama
masyarakat sering menggunakannya secara mandiri tanpa mengetahui dosis yang
tepat (Sastyarina, 2013).
Beberapa penelitian telah mulai mencari efek dari umbi bawang dayak
terhadap kesehatan seperti, penelitian Saragih et al (2014) menemukan ekstrak
umbi bawang dayak diketahui dapat menurunkan kadar total kolesterol, LDL,
HDL dan trigliserida pada manusia namun tidak signifikan. Menurut penelitian
Febrinda et al (2014) diketahui ekstrak bawang dayak dapat meningkatkan kadar
2

serum insulin tikus. Semua penelitian membuktikan efek positif dari umbi bawang
dayak namun juga ditemukan efek negatif bawang dayak pada uji toksisitas akut
dan subakut ekstrak etanol bawang dayak oleh Sastyarina (2013), diperoleh
pemberian ekstrak bawang dayak selama 30 hari pada mencit dapat merubah
histologi hati mencit berupa nekrosis dan fibrosis.
Penggunaan umbi bawang dayak di masyarakat lebih sering dalam bentuk
rebusan dengan perbandingan dosis umbi bawang dayak dan air adalah 2:1.
Penelitian terdahulu telah menguji toksisitas umbi bawang dayak dengan bentuk
sediaan ekstrak etanol namun, penelitian toksisitas dengan sediaan infusa masih
belum dilakukan. Oleh sebab itu, peneliti ingin menguji efek toksisitas akut
pemberian infusa umbi bawang dayak pada tikus galur wistar (Rattus norvagicus
L.).
1.2 Rumusan Masalah
Apakah infusa umbi bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.))
memiliki efek toksik pada tikus galur wistar (Rattus novargicus L.) yang dilihat
dari perubahan histopatologi pada jaringan hati dan ginjal?
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui LD50 dan efek toksik pemberian akut infusa umbi bawang
dayak (Eleutherine americana (Aubl.)) pada tikus galur wistar (Rattus novargicus
L.) yang dinilai melalui perubahan histopatologi pada jaringan hati dan ginjal.
1.4 Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah hasil penelitian ini dapat
memberikan bukti mengenai efek toksik dari penggunaan rebusan umbi bawang
dayak di masyarakat sehingga masyarakat dapat lebih berhati hati dalam
menggunakan tanaman tradisional tersebut.
1.5 Manfaat Penelitian
1 Bagi penulis, menjadi sarana pembelajaran dalam meneliti potensi-potensi
tanaman tradisional terapi penyakit serta mengetahui efek toksik dari tanaman
tradisional tersebut.
2 Bagi profesi kedokteran, menjadi informasi berharga mengenai umbi bawang
dayak untuk melakukan penelitian klinis lebih lanjut.
3 Bagi masyarakat, menjadi informasi berharga dalam penggunaan rebusan
umbi bawang dayak di masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Bawang Dayak
Tanaman bawang dayak adalah tanaman satu musim dan tumbuh secara
merumpun dengan tinggi mencapai 30-40 cm (Gambar 1A dan B). Tanaman ini
memiliki batang semu dengan umbi berlapis dan berbentuk bulat telur memanjang
dengan warna merah menyala dan permukaan yang licin serta tidak berbau.
Daunnya serupa dengan daun anggrek tanah, dengan bentuk hijau bergerigi dan
lebarnya beberapa jari seperti bentukkan pita atau pedang berlekuk-lekuk
memanjang. Bentuk bunganya zigomorf, silindris dan majemuk (tumbuh di ujung
3

batang), terdapat dua daun kelopak bunga (sepal) yang berwarna kekuningan dan
terdapat empat helai mahkota bunga (petal) yang berwarna putih dengan jumlah
benang sari 3-5 buah yang berwarna kuning pada kepala sarinya. Bunga bawang
dayak mekar jam lima sore hari, dan menutup kembali pada jam tujuh (SITO,
2011; Napitupulu, 2011).

A B
Gambar 1A. Tanaman Bawang Dayak; 1B. Perkebunan Bawang Dayak.
2.1.1 Klasifikasi
Klasifikasi tanaman bawang dayak adalah sebagai berikut: Kingdom:
Plantae; Super Divisi : Spermatophyta; Divisi : Magnoliophyta; Kelas :
Liliopsida; Ordo : Asparagales; Famili : Iridaceae; Genus : Eleutherine; Spesies :
Eleutherine americana (Aubl.) Merr. ex K.Heyne.
2.1.2 Manfaat Tanaman
Kanker, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, kolesterol dan ulserasi
adalah beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan bawang dayak seperti
diyakini oleh Suku Dayak Kalimantan. Umumnya, pemanfaatan tanaman ini
dalam bentuk rebusan 7 butir umbi bawang dalam air sebanyak 3 gelas direbus
hingga volumenya menjadi setengah volume semula. Selanjutnya, air rebusan
tersebut digunakan 3 kali sehari (Febrinda et al., 2014; Napitupulu, 2011; Arung
et al., 2009).
2.1.3 Kandungan Tanaman
Bawang dayak mengandung senyawa-senyawa yang meliputi alkaloid,
glikosida, flavonoid, fenolik, triterpenoid/steroid dan antrakuinon (Galingging,
2009; Nur, 2011). Pada penelitian Kuntorini (2013), menyatakan kandungan
antioksidan tersebut akan mencapai kadar puncak pada umbi bawang dayak yang
berusia 12 minggu setelah tanam (mst). Penelitian sebelumnya mengenai senyawa
bioaktif yang terdapat di dalam tanaman bawang dayak diperoleh hasil isolasi
naftokuinon, naftalene dan turunannya seperti hongconin, elecanacin, eleuthoside
B, Isoeleutherine, eleutherin, eleutherol, eleutherinoside A (Ifesan et al., 2010).
Naftokuinon diketahui dapat meyebabkan aduksi DNA dan gangguan pada protein
membran bakteri (Chansukh et al., 2014).
2.1.4 Penelitian Terkini Mengenai Toksisitas Umbi Bawang Dayak
Menurut penelitian Sastyarina (2013), diperoleh pemberian akut ekstrak
etanol bawang tiwai (Eleutherine americana (Aubl.)) dengan dosis 0,52
mg/20gBB;2,6 mg/20gBB; dan 5,2mg/20gBB pada mencit relatif tidak berbahaya
namun, pemberian subakut ekstrak etanol bawang tiwai pada dosis yang sama
dapat menyebabkan perubahan histopatologi jaringan hati mencit.
4

2.2 Uji Toksisitas


Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
(PerKBPOM) RI No. 7 tahun 2014 tentang Pedoman Uji Toksisitas Nonklinik
Secara In Vivo mendefinisikan uji toksisitas adalah suatu uji untuk mendeteksi
efek toksik suatu zat pada sistem biologi dan untuk memperoleh data dosis-respon
yang khas dari sediaan uji.
2.2.1 Uji Toksisitas Akut Oral
Uji toksisitas akut oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek
toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian sediaan uji yang
diberikan secara oral dalam dosis tunggal, atau dosis berulang yang diberikan
dalam waktu 24 jam (PerKBPOM RI No.7/2014).
Prinsip uji toksisitas akut oral yaitu, sediaan uji dalam beberapa tingkat
dosis diberikan pada beberapa kelompok hewan uji dengan satu dosis per
kelompok, kemudian dilakukan pengamatan terhadap adanya efek toksik dan
kematian. Hewan yang mati selama percobaan dan yang hidup sampai akhir
percobaan diotopsi untuk dievaluasi adanya gejala-gejala toksisitas. Tujuan uji
toksisitas akut oral adalah untuk mendeteksi toksisitas intrinsik suatu zat,
menentukan organ sasaran, kepekaan spesies, memperoleh informasi bahaya
setelah pemaparan suatu zat secara akut, memperoleh informasi awal yang dapat
digunakan untuk menetapkan tingkat dosis, merancang uji toksisitas selanjutnya,
memperoleh nilai LD50 suatu bahan/ sediaan, serta penentuan penggolongan
bahan/ sediaan dan pelabelan (PerKBPOM RI No.7/2014).
2.2.2 Uji Toksisitas Sub Akut Oral
Uji toksisitas subkronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek
toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang yang
diberikan secara oral pada hewan uji selama sebagian umur hewan, tetapi tidak
lebih dari 10% seluruh umur hewan (PerKBPOM RI No.7/2014).
Prinsip dari uji toksisitas subkronis oral adalah sediaan uji dalam beberapa
tingkat dosis diberikan setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji dengan satu
dosis per kelompok selama 28 atau 90 hari, bila diperlukan ditambahkan
kelompok satelit untuk melihat adanya efek tertunda atau efek yang bersifat
reversibel. Selama waktu pemberian sediaan uji, hewan harus diamati setiap hari
untuk menentukan adanya toksisitas. Hewan yang mati selama periode pemberian
sediaan uji, bila belum melewati periode rigor mortis (kaku) segera diotopsi,dan
organ serta jaringan diamati secara makropatologi dan histopatologi. Pada akhir
periode pemberian sediaan uji, semua hewan yang masih hidup diotopsi
selanjutnya dilakukan pengamatan secara makropatologi pada setiap organ dan
jaringan. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan hematologi, biokimia klinis dan
histopatologi (PerKBPOM RI No.7/2014).
Tujuan uji toksisitas subkronis oral adalah untuk memperoleh informasi
adanya efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut; informasi
kemungkinan adanya efek toksik setelah pemaparan sediaan uji secara berulang
5

dalam jangka waktu tertentu; informasi dosis yang tidak menimbulkan efek toksik
(No Observed Adverse Effect Level / NOAEL); dan mempelajari adanya efek
kumulatif dan efek reversibilitas zat tersebut (PerKBPOM RI No.7/2014).
2.2.3 Uji Toksisitas Kronik Oral
Uji toksisitas kronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek
toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji secara berulang sampai seluruh
umur hewan. Uji toksisitas kronis pada prinsipnya sama dengan uji toksisitas
subkronis, tetapi sediaan uji diberikan selama tidak kurang dari 12 bulan. Tujuan
dari uji toksisitas kronis oral adalah untuk mengetahui profil efek toksik setelah
pemberian sediaan uji secara berulang selama waktu yang panjang, untuk
menetapkan tingkat dosis yang tidak menimbulkan efek toksik (NOAEL). Uji
toksisitas kronis harus dirancang sedemikianrupa sehingga dapat diperoleh
informasi toksisitas secara umum meliputi efek neurologi, fisiologi,
hematologi, biokimia klinis dan histopatologi (PerKBPOM RI No.7/2014).

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium secara in
vivo dengan rancangan acak lengkap posttest only control group design.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium nonmikroskopis, Laboratorium
mikroskopis, Laboratorium Hewan Fakultas Kedokteran dan Laboratorium
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Tanjungpura. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama 3 bulan (April - Juni
2016)
3.3 Alat dan Bahan
3.3.1 Alat
Alat-alat gelas (pyrex), timbangan analitik (Precisa), pH meter (Hanna,
blender (Philips), spuit (Terumo), mortal gerus, mikropipet, sedotan diameter
0,5 cm, kertas saring Whatmann no.1, inkubator, sonde, kandang tikus,
handscoon. Hot plate (Memmert), sendok stainless, oven (Memmert),
mikroskop (OlympusCX 21)
3.3.2 Bahan
Umbi bawang dayak usia 12 Minggu Setelah Tanam (mst), aquades,
Hematoksilin eosun, buffer netral formalin, makanan tikus, pereaksi Mayer,
pereaksi Dragondorf, magnesium serbuk (Mg) (Merck), asam klorida (HCl)
pekat (Merck), asam Klorida (HCl) 2 N (Merck), besi (III) klorida (FeCl3) 1%
dan 5%, asam asetat (CH3COOH) glasial (Merck), H2SO4 pekat (Merck), NaCl
2%, H2O2 3%, NaOH 15%, etanol 70%.
3.4 Cara Kerja
3.4.1 Penyediaan Bahan Baku dan Pembuatan Simplisia
6

Penyediaan sampel penelitian berupa umbi bawang dayak yang diperoleh


dari kebun petani yang terletak di RT 1/RW 9 Jalan Objek Patok 35 di desa
Limbung Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Umbi yang telah terkumpul selanjutnya dideterminasi di Laboratorium Biologi
FMIPA Untan dan kemudian memasuki proses pembuatan simplisia.
Langkah dalam pembuatan simplisia umbi bawang dayak adalah sebagai
berikut: Pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian dengan air PDAM,
pengubahan bentuk, pengeringan dengan menggunakan oven dengan suhu 40 OC,
sortasi kering adalah pemisahan simplisia yang gosong dan yang layak digunakan,
pengecilan ukuran dan yang terakhir adalah pengepakan dan penyimpanan.
3.4.2 Perhitungan Dosis
Konsentrasi infusa umbi bawang dayak yang digunakan dalam penelitian
ini menyesuaikan dengan pemakaian sehari hari di masyarakat yaitu dengan
rasio umbi bawang dayak dan air yaitu 1:2 (1 Kg umbi: 2 liter air) sama dengan
500 mg/mL per hari atau setara dengan 125 mg simplisia kering. Pada penelitian
ini digunakan 125 mg simplisia umbi bawang dayak yang kemudian
dikonversikan ke dosis tikus dengan berat 200 g yaitu 125 mg x 0,018 = 2,25
mg/0,2 KgBB tikus. Untuk menetapkan peringkat dosis digunakan faktor
perkalian dua sehingga diperoleh peringkat dosis 2,25 mg/0,2 KgBB, 4,5
mg/0,2KgBB dan 9 mg/0,2KgBB.
Kelompok I : hanya diberikan aquades
Kelompok II : diberikan gentamisin dengan dosis 80mg/kgBB tikus per hari.
Kelompok III ; diberikan paracetamol dengan dosis 250 mg/KgBB tikus per hari.
Kelompok IV : diberikan infusa umbi bawang dayak dosis 2,25 mg/0,2 KgBB.
Kelompok V : diberikan infusa umbi bawang dayak dosis 4,5 mg/0,2 KgBB.
Kelompok VI : diberikan infusa umbi bawang dayak dosis 9 mg/0,2 KgBB.
3.4.3 Penyiapan Larutan Uji
Larutan uji yang dibuat adalah larutan dengan konsentrasi 0,225%, 0,45%
dan 0,9%. Pada konsentrasi pertama diambil 0, 225 g simplisia dimasukkan ke
dalam 100 mL aquades, kemudian direbus selama 15 menit setelah air mendidih
hingga didapatkan volume infusa 100 mL. Konsentrasi selanjutnya dibuat sesuai
dengan metode yang telah dijelaskan.
3.4.4 Penyiapan Hewan Coba
Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan galur wistar yang
diperoleh dari Pusat Pengembangbiakan hewan uji tikus dan mencit bersertifikasi
di Kota Pontianak. Kriteria inklusi sampel adalah tikus jantan galur wistar (Rattus
norvegicus) usia 6-8 minggu berat badan 200-300 gram, tidak ada abnormalitas
anatomi dan metabolik. Sedangkan, kriteria eksklusi adalah tikus mengalami
kecacatan, tikus tampak sakit, dan tikus yang mati selama proses penelitian. Besar
sampel berjumlah 24 ekor yang terbagi dalam 6 kelompok, tiap kelompok terdiri 4
ekor tikus sesuai dengan perhitungan rumus federer (t-1)(n-1) 15. Untuk
menghindari dropout, sampel ditambah 20% dari total sampel, sehingga sampel
seluruhnya adalah 29 ekor.
7

3.4.5 Perlakuan Pada Hewan Coba


Hewan uji diaklimatisasi dalam suasana laboratorium selama 7 hari untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan meminimalisasi efek stres yang
dapat berpengaruh pada metabolisme. Hewan uji diberi makan pakan standar dan
minum ad libitum.Infusa umbi bawang dayak diberikan secara per oral satu kali
sehari selama 30 hari pada tikus putih galur wistar. Setiap kelompok diberikan
konsentrasi infusa umbi bawang dayak dengan volume 3 mL dengan
menggunakan sonde.
3.4.6 Pembuatan Preparat Histopatologi
Setelah 30 hari pemberian infusa umbi bawang dayak selesai selanjutnya
hewan uji dikorbankan 48 jam setelah pemberian infusa dengan cara dibius
dengan kloroform dan dipatahkan cervical-nya, selanjutnya organ hati dan ginjal
diambil dan dibersihkan. Jaringan disiapkan dengan melakukan fiksasi
menggunakan buffer netral formalin dan dilanjutkan dengan pewarnaan
Hematoxyline eosin terhadap organ untuk mengetahui keadaan sitologinya serta
tingkat kerusakkan berdasarkan dari pengamatan pada hati dan ginjal yang
normal, skor 1 untuk jaringan hati dan ginjal yang mengalami abnormalitas
ringan, skor 2 untuk jaringan hati dan ginjal yang mengalami abnormalitas sedang
dan skor 3 untuk jaringan hati dan ginjal yang mengalami abnormalitas berat.
Abnormalitas dalam penelitian ini berupa fibrosis, nekrosis dan inflamasi
(Sastyarina, 2013).
3.4.7 Analisis Data
Data yang diperoleh adalah termasuk dalam data interval, hasil data
penelitian disajikan dalam bentuk gambar dan tabel. Data yang diperoleh
dianalisis sebaran normalitas data dengan uji Saphiro-Wilk dan homogenitas data
dengan uji Levene. Data yang telah diolah tersebut selanjutnya memasuki proses
uji hipotesis dengan uji one way ANOVA pos hoc Bonferroni untuk mengetahui
perbedaan secara signifikan dari data satu kelompok perlakuan infusa umbi
bawang dayak dengan kelompok lainnya.

Tikus Adaptasi
30 ekor (7 hari)

Berhasil Gagal
Randomisasi Eksklusi

KII
KI 3.4.8 Bagan KIII
Alur Penelitian KIV KV K VI
(4 ekor) (4 ekor) (4 ekor) (4 ekor) (4 ekor) (4 ekor)

Aquades
Gentamisisn 80 mg/Kg PCT Dosis 1 Dosis 2 Dosis 3
(3 mL) 250 mg/Kg (2,25 mg/200gBB) (4,5mg/200gBB) (9mg/200gBB)

30 hari 30 hari 30 hari 30 hari 30 hari

Histopatologi hati dan ginjal

Analisis data
8

BAB IV Biaya dan Jadwal Kegiatan


4.1 Anggaran Biaya
Ringkasan anggaran biaya penelitian ini disusun dalam tabel 1.
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp.)
.
1. Peralatan Penunjang (25%) 3.158.400
2. Bahan Habis Pakai (35%) 4.376.800
3. Perjalanan (25%) 3.048.800
3. Publikasi dan Laporan (15%) 1.866.000
Jumlah 12.450.000
4.2 Jadwal Kegiatan
Februari Maret April
Kegiatan
I II III IV I II III IV I II III IV
Penyiapan alat dan bahan
Pembuatan Simplisia
Pengkondisian hewan uji
Pemberian dosis infusa
Pengorbanan hewan
Uji Histopatologi
Pengumpulan Data dan Analisis
Publikasi dan pembuatan laporan

DAFTAR PUSTAKA
Arung ET, Kusuma IW, Christy EO, Shimizu K and Kondo R. 2009. Evaluation
of medicinal plants from Central Kalimantan for antimelanogenesis.
Journal of Natural Medicines; 63: 473-80.
9

Chansukh K, Charoensup R, Palanuvej C dan Ruangrungsi N. 2014.


Antimicrobial Activities of Selected Thai Medicinal Plants Bearing
Quinonoids. RJPBCS; 5(2): 425-32.
Febrinda AE, Yuliana ND, Ridwan E, Wresdiyati T dan Astawan M. 2014.
Hyperglycemic Control and Diabetes Complication Preventive Activities
of Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr.) Bulbs Extracts in
Alloxan-Diabetic Rats. IFRJ; 21(4): 1405-11.
Galingging RY. 2009. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) sebagai Tanaman
Obat Multifungsi. Warta Penelitian dan Pengembangan Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. 15(3): 10-6.
Ieyama T, Gunawan-Puteri MDPT, Kawabata J. 2011. a-Glucosidase inhibitors
from the bulb of Eleutherine americana. Food Chem; 128: 308-11.
Ifesan B, Ibrahim D, Voravuthikunchai S. 2010. Antimicrobial Activity of Crude
Ethanolic Extract From Eleutherine americana. J of Food, Agricl &
Enviro; 8(3&4): p. 1233-36.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset kesehatan dasar (RISKESDAS). Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI.
Kuntorini EM dan Nugroho LH. 2010. Structural development and bioactive
content of red bulb plant (Eleutherine americana: a traditional medicines
for local Kalimantan people). Biodiversitas; 11: 102-106.
Kuntorini EM. 2013. Kemampuan Antioksidan Bulbus Bawang Dayak
(Eleutherine americana Merr) pada Umur Berbeda. Prosiding seminar
SEMIRATA FMIPA UNILA. 297-301.
Mangan Y. 2005. Cara Bijak Menaklukan Kanker. Jakarta:Agromedia Pustaka.
Napitupulu RM. 2011. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari
Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) [Skripsi].
Medan: Program Ekstensi Sarjana Farmasi Fakultas Farmasi Universitas
Sumatera Utara.
Nur AM. 2011. Kapasitas Antioksidan Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)
dalam Bentuk Segar, Simplisia dan Keripik, Pada Pelarut Nonpolar,
Semipolar dan Polar [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Saragih B, Pasaikan M, Saraheni dan Wahyudi D. 2014. Effect of herbal drink
plants Tiwai (Eleutherine americana Merr) on lipid profile of
hypercholesterolemia patients. IFRJ; 21(3): 1199-1203.
Sastyarina Y. 2013. Uji Toksisitas Akut dan Subakut Pada Pemberian Ekstrak
Etanol Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.). J. Trop. Pharm.
Chem; 2(2): 118-124.
Yuningsih R. 2012. Pengobatan Tradisional di Unit Pelayanan Kesehatan. Info
Singkat Kesejahteraan Sosial; 4(5): 9-12.
10

Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pembimbing


11
12
13
14
15
16

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan


17

1. Peralatan Penunjang
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Total
Pemakaian (Rp.) (Rp)
Kandang TIkus Tempat 5 50.000 250.000
50x50x40 cm pemeliharaan tikus
Botol Air Minum Tempat minum 10 10.000 100.000
Tikus Tikus
Timbangan Penimbang bobot 1 136.000 136.000
(Oxon) tikus putih
Spuit 3 cc Penginjeksi tikus 1 kotak 100.000 100.000
(Terumo)
Sonde Alat intervensi oral 3 50.000 150.000
pada tikus

Blender (Philips Penghalus 1 574.000 574.000
HR 2116) simplisia
Sendok steinless Pengaduk 5 11.000 55.000
Kain Kasa Penyaring infusa 10 kotak 7.000 70.000
Hidrofil
Alumunium Foil Pembungkus 2 roll 35.000 70.000
simplisia
Cawan Porslen Pengujian kualitas 3 25.000 75.000
simplisia
Corong Kaca Alat penyaring 3 28.000 84.000
(Iwaki Pyrec),
Labu Ukur 100 Alat penyampur 2 78.000 156.000
ml (Iwaki Pyrex) reagen
Labu Ukur 50 ml Alat penyampur 2 75.000 150.000
(Iwaki Pyrex) reagen
Gelas Ukur 50 ml Alat pengukur 2 50.000 100.000
(Iwaki Pyrex) larutan
Tabung Alat pembantu 3 36.000 108.000
Erlenmeyer 250 menyaring dan
ml (Iwaki Pyrex) mencampur infusa
Beaker glass 600 Alat penampung 2 65.000 130.000
ml (Iwaki Pyrex) larutan
Beaker glass Alat penampung 2 98.000 196.000
1000 ml (Iwaki larutan
Pyrex)
Tabung reaksi 15 Alat pencampur 10 10.000 100.000
ml (Iwaki Pyrex) infusa
Batang Pengaduk Alat pengaduk 4 7.000 28.000
(Iwaki Pyrex) infusa
Object glass Alat untuk melihat 1 kotak 22.100 22.100
(Iwaki Pyrex) morfologi bakteri
Cover glass Alat untuk 1 kotak 110.000 110.000
(Iwaki Pyrex) membuat sediaan
mikroskop bakteri
18

Pipet tetes (Iwaki Alat untuk 1 bungkus 10.000 10.000


Pyrex) membuat sumuran
Tip mikropipet Alat untuk 1 bungkus 150.000 150.000
(Acura) meneteskan larutan
ke sumuran
Pipet Ukur 10 mL Untuk mengukur 6 33.000 198.000
larutan
Termometer Ukur Untuk mengukur 3 12.100 36.300
suhu larutan
SUBTOTAL (Rp.) 3.158.400
2. Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi Kuantitas Harga Total
Pemakaian Satuan (Rp.)
(Rp.)
Umbi Bawang Dayak Bahan uji 10 Kg 10.000 100.000
Aquades Pelarut 20 L 10.000 200.000
Kertas saring Whatman Penyaring 1 kotak 44.000 44.000
no.1
Tikus Putih Sampel 30 ekor 40.000 1.200.000
penelitian
Makanan Standard Tikus Bahan konsumsi 1 karung 95.000 95.000
tikus
Asam Klorida (Merck) Reagen fitokimia 50 ml 1.400 70.000
Magnesium serbuk Reagen fitokimia 10 gram 9.100 91.000
Asam Asetat (Merck) Reagen fitokimia 250 ml 117.000 117.000
Etanol 96% Pembersih alat 4 botol 70.000 280.000
uji
NaCl analis Reagen fitokimia 500 gr 485.000 485.000
Asam Sulfat Reagen fitokimia 100 ml 13.000 13.000
Natrium Hidroksida Reagen fitokimia 2 Kg 23.400 46.800
Alkohol 70% Pelarut dan 10 liter 70.000 700.000
Sterilisasi
Carboxylmethylcelullos Melarutkan 5 liter 70.000 350.000
e infusa
Formalin Pengawet 10 liter 58.500 585.000
jaringan
SUBTOTAL (Rp.) 4.376.800
3. Perjalanan
Perjalanan Tujuan Kuantitas Harga Satuan Total
(Rp.) (Rp.)
Kendaraan Untuk memanen 10 Liter 7.800 78.000
Bermotor umbi bawang
dayak dan
transportasi peneliti
lainnya
Menghadiri Pontianak Jakarta 2 orang 1.444.000 2.888.000
PIMNAS 2016 Jakarta Pontianak
19

(Apabila PKM Per Oktober 2016


Lulus ) (Garuda Indonesia)
Pengangkutan Dana untuk 1 82.800 82.800
Umbi Bawang transportasi umbi
Dayak bawang dayak dari
tempat panen ke
laboratorium
SUBTOTAL (Rp.) 3.048.800
4. Alat yang Dipinjam di Laboratorium
Material Justifikasi Kuantitas Harga Keterangan
Pemakaian Satuan
(Rp.)
Neraca Analitik Penimbangan - - -
bahan secara teliti
Mikropipet Alat pengambil - - -
isolate dan bahan
lain.
Oven Pengering bahan. - - -
Desikator Alat pembantu
dalam menghitung
susut pengeringan
Mortal gerus Penghancur sampel - - -
Mikroskop Alat untuk - - -
(OlympusCX 21 menghitung jumlah
leukosit
Hematoksilin Pewarna Jaringan - - -
eosin
5. Lain Lain
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Total
Pemakaian (Rp.) (Rp.)
Kertas A4 80 Alat untuk 4 rim 36.000 144.000
GSM pembuatan
proposal dan
laporan akhir
Kertas Cover Alat untuk 20 lembar 500 10.000
Putih pembuatan
proposal dan
laporan akhir
Biaya Penyewaan Biaya untuk 3 bulan 278.000 834.000
Laboratorium membayar
penggunaan
laboratorium
Map Jepit Biru Alat untuk 3 buah 6000 18.000
memudahkan
konsultasi karya
kepada
pembimbing
20

Tinta Printer
Alat untuk 6 botol 45.000 405.000
Warna mencetak karya
Tinta Printer
Alat untuk 2 botol 35.000 70.000
Hitam mencetak karya
Dana fotokopi Dana untuk 500 lembar 250 125.000
fotokopi guna
memudahkan
proses pembuatan
karya
Dana Pengajuan Dana untuk 1 260.000 260.000
Kaji Etik melengkapi syarat
Kedokteran administrasi
SUBTOTAL (Rp.) 1.866.000
TOTAL KESELURUHAN 12.450.000
21

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas


No Nama / NIM Program Bidang Alokasi Uraian Tugas
Studi Ilmu Waktu
(jam/mgg)
1 Joshua Alvin Pendidikan Kedokteran 42 1. Menyusun
Ariadi/I1011141011 Dokter dan Kesehatan jam/minggu metodologi
penelitian.
2. Mengawal alur
penelitian yang
berlangsung.
3. Membimbing
penyusunan
laporan hasil
2 Angga Pendidikan Kedokteran 42 1. Survei harga.
Dominius/I1112063 Dokter dan Kesehatan jam/minggu 2. Menyusun Bab
II,
3. Mengumpulkan
bahan penelitian.
4. Melakukan alur
penelitian.
5. Menyusun
laporan hasil.
3 Kevin Pendidikan Farmakologi 42 1. Menyusun
Chikrista/I10111410 Dokter dan Kesehatan jam/minggu pendahuluan
53 proposal,
2. Mengoreksi
usulan penelitian,
3. Mengumpulkan
alat penunjang
penelitian,
4. Melakukan alur
penelitian,
5. Membantu
menyusun
laporan hasil.
22

Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Peneliti