Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada awalnya, istilah sikap di gunakan untuk menunjuk status mental
seseorang. Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari individu,
selalu di arahkan terhadap suatu hal atau objek tertentu dan sifatnya tertutup. Oleh
sebab itu, manifestasi sikap tidak dapat langsung di lihat, namun hanya dapat di
tafsirkan dari tingkah laku yang tertutup tersebut. Di samping sikap yang bersifat
tertutup, sikap juga bersifat sosial, dalam arti bahwa kita hendaknya dapat
beradaptasi dengan orang lain. Sikap menuntun tingkah laku kita sehingga kita
akan bertindak sesuai dengan sikap yang kita ekspresikan. Kesadaran individu
untuk menentukan tingkah laku nyata dan tingkah laku yang mungkin terjadi
itulah yang di namakan sikap.
Individu memiliki sikap terhadap bermacam macam objek, seperti
benda, orang, peristiwa, pemandangan, norma, nilai, lembaga, dan sebagainya.
Misalnya, sikap positif seorang pasien terhadap perawat yang memberikan
pelayanan keperawatan yang bermutu adalah menaati segala nasihat dari perawat
tersebut. Sifat individu dan sebagian besar masyarakat membenci tindakan
kekerasan yang akhir akhir ini sering terjadi di masyarakat.
Secara nyata, sikap menunjukkan adanya kesesuaian antar reaksi dan
stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari hari merupakan reaksi yang
bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap masih merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, bukan pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain,
sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas, namun merupakan suatu
kecenderungan untuk bertindak terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai
suatu penghayatan terhadap objek tersebut.
Selain sikap, manusia, termasuk diri kita dikaruniai pribadi yang sangat
unik, yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain itu kita juga dikaruniai
kemampuan untuk membangun pribadi sehingga kita dapai mengembangkan diri.
Yang perlu kita kembangkan tentu saja adalah pribadi yang menyenangkan baik
untuk diri sendiri maupun orang lain.

1
Pribadi yang menyenangkan sangat kita butuhkan untuk membangun langkah-
langkah keberhasilan dalam hidup, baik itu keberhasilan dalam pekerjaan, bisnis,
karier, maupun keluarga. Sebaliknya, pribadi yang membosankan yang tidak
dapat dikenal orang lain, akan menghadapi kesulitan dalam mengembangkan
diri. Termasuk hambatan dalam mengembangkan kesuksesan dalam setiap bidang
kehidupan. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, selain membangun pribadi yang
menyenangkan; menyenangkan bagi diri sendiri, juga bagi orang lain, terutama
orang-orang terdekat, rekan kerja, atasan, klien dan orang-orang yang
membutuhkan pertolongan kita.

B. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang masalah maka penulis dapat merumuskan masalah
sbb:
1. Definisi Sikap dan Kepribadian?
2. Apa saja Komponen Sikap?
3. Sebutkan Sumber dan Fungsi Sikap?
4. Bagaimana Proses Pembentukan Sikap?
5. Apa saja Faktor yang mempengaruhi Sikap?
6. Apa saja Tipe Aspek-aspek Kepribadian?
7. Sebutkan Faktor Penentu Kepribadian?
8. Apa saja Sifat Kepribadian?
9. Bagaimana Pengukuran Kepribadian?
10. Bagaimana Sifat Kepribadian yang mempengaruhi Perilaku Organisasi?

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui tentang definisi sikap menurut para ahli, komponen sikap,
sumber sikap, fungsi sikap, proses pembentukan sikap, factor yang
mempengaruhi sikap, tipe sikap.
2. Mengetahui tentang definisi kepribadian menurut para ahli, aspek-aspek
kepribadian, faktor penentu kepribadian, sifat kepribadian, sifat kepribadian
yang mempengaruhi perilaku organisasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Sikap
Menurut Stephen dan Timothy, 2008:92 mendefinisikan Sikap (attitude)
adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak
menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa.
Menurut Ramdhani, 2008 sikap adalah cara menempatkan atau
membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku.
Menurut Kotler dan Armstrong (1997, p.157), sikap adalah Evaluasi,
perasaan, dan kecenderungan dari individu terhadap suatu obyek yang relatif
konsisten. Sikap menempatkan orang dalam kerangka pemikiran mengenai
menyukai atau tidak menyukai sesuatu, mengenai mendekati atau menjauhinya.
Menurut Muchlas (2005:151) sikap (attitudes) ialah sesuatu yang
kompleks, yang dapat didefinisikan sebagai pernyatan-pernyataan evaluatif, baik
yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau penilaian
mengenaiobjek, manusia, atau peristiwa-peristiwa. Sebahagian sikap terbentuk
melalui proses belajar sosial yang diperoleh dari orang lain.
Menurut Azwar (1995) sikap dapat dikategorikan ke dalam tiga orientasi
pemikiran, yaitu: sikap yang berorientasi pada respon, sikap yang berorientasi
pada kesiapan respon, dan sikap yang berorientasi pada skema triadic.
Thurstone memandang sikap sebagai suatu tingkatan afeksi baik yang
bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek
psikologis. Afeksi yang posistif, yaitu yang afeksi senang, sedangkan afeksi
negative adalah afeksi yang tidak menyenangkan.
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seeorang mengenai
objek atau situasi yang relative ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan
memberikan dasar pada kepada orang tersebut untuk membuat respons atau
berperilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya.
Sikap merupakan pengendalian perasaan individu, pikiran, dan
predisposisi untuk bertindak terhadap beberapa aspek dari lingkungan. Dengan

3
demikian sikap merupakan faktor yang menentukan perilaku, karena sikap itu
berhubungan dengan persepsi, kepribadian, belajar dan motivasi.
Sikap adalah kesiap-siagaan mental, yang diorganisasi lewat pengalaman,
yang mempunyai pengaruh tertentu kepada tanggapan seseorang terhadap orang,
objek dan situasi yang berhubungan dengannya

B. Komponen Sikap
Saifudin (1995) mengemukakan pendapat Kothandapani (1974) tentang
struktur sikap dan pendapat Mann (1969) tentang isi tiap komponen sikap.
Kothandapan (1974) mengungkapkan bahwa struktur sikap terdiri dari komponen
kognitif (kepercayaan, komponen internasional (perasaan), dan komponen tingkah
laku (tindakan). Sementara itu, Mann (1969) menyebutkan bahwa isi dari
komponen kognitif adalah persepsi, kepercayaan, dan stereotipe (sesuatu yang
sudah terpolakan pada individu). Komponen kognitif sering disamakan dengan
opini (pandangan), terutama yang menyangkut isu atau masalah yang
kontroversial. Selanjutnya, komponen afektif berisi perasaan individu terhadap
objek dan menyangkut masalah emosi. Terakhir, isi dari komponen perilaku
adalah kecenderungan bertindak.
Saifudin (1995) juga menyatakan bahwa sikap memiliki tiga komponen yang
membentuk struktur sikap. Ketiga komponen tersebut saling mendukung dan
menunjang, yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif. Berikut akan dijelaskan
secara ringkas mengenai ketiga komponen tersebut:
1. Kognitif atau evaluasi Kognitif atau evaluasi adalah segmen opini atau
keyakinan dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih
penting dari sebuah sikap.
Komponen kognitif dapat disebut juga dengan komponen persepsual, yang berisi
kepercayaan individu. Kepercayaan tersebut berhubungan dengan hal-hal
bagaimana individu memersepsikan objek sikap dengan apa yang dilihat dan
diketahui (pengetahuan), pandangan, keyakinan, pikiran, pengalaman pribadi,
kebutuhan emosional, dan informasi dari orang lain. Misalnya, individu
mengetahui bahwa kesehatan itu sangat berharga karena ia menyadari bahwa
apabila sakit, dirinya akan merasakan betapa nikmatnya itu sehat.

4
2. Afektif atau perasaan, Perasaan adalah segmen emosional atau perasaaan
dari sebuah sikap, yang menimbukan hasil akhir perilaku.
Komponen ini merujuk pada dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek
sikap, baik yang positif (rasa senang) maupun negatif (rasa tidak senang). Reaksi
emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai suatu yang
benar terhadap objek sikap tersebut. Misalnya, individu senang (sikap positif)
terhadap profesi keperawatan, berarti ia melukiskan perasaannya terhadap
keperawatan; masyarakat umumnya tidak senang (sikap negatif) terhadap
tindakan kekerasan, perjudian, pelacuran, dan kejahatan.
3. Konatif / Perilaku atau tindakan Perilaku atau tindakan adalah sikap
merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap
sesuatu atau seseorang.
Komponen konatif disebut juga komponen perilaku, yaitukomponen sikap yang
berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap
yang dihadapinya. Misalnya, individu mengetahui bahwa profesi keperawatan
adalah profesi yang mulia sehingga banyak lulusan SMA yang masuk Akademi
Keperawatan; remaja putri lulusan SMA banyak memilih untuk melanjutkan
sekolah ke Akademi Kebidanan karena lulusan Akademi Kebidanan menjanjikan
pekerjaan yang jelas.
Allport (1954) sebagaimana dijelaskan oleh Notoatmojo (1993) mengungkapkan
bahwa struktur sikap terdiri tiga komponen pokok, yaitu komponen kepercayaan
(keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek ; komponen yang meliputi
kehidupan emosional atau evaluasi individu terhadap suatu objek sikap ; dan
komponen predisposisi atau kesiapan/ kecenderungan individu untuk bertindak
(tend to behave). Ketiganya membuat total attitude. Dalam hal ini, yang menjadi
determinan sikap adalah pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi.

C. Sumber Dan Fungsi Sikap


Tiga sumber utama sikap (Calhoun dan Accocella, 1990):
1. Pengalaman Pribadi, sikap dapat merupakan hasil pengalaman yang
menyenangkan atau menyakitkan dengan objek sikap.

5
2. Pemindahan perasaan yang menyakitkan, pemindahan adalah secara tidak
sadar mengalihkan perasaan yang menyakitkan (terutama permusuhan) jauh
dari objek sebenarnya pada objek lain yang lebih aman.
3. Pengaruh sosial, sumber ini dapat dimungkinkan menjadi sumber utama
dalam sikap.
Menurut Atkinson, Smith, dan Bem (1996),mengungkapkan bahwa sikap
memiliki lima fungsi, yaitu instrumental, pertahanan, ego, ekspresi nilai,
pengetahuan,dan penyesuaian nilai.
1. Fungsi Instrumental
Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat, dan
menggambarkan keadaan keinginan. Bahwa untuk mencapai suatu tujuan,
diperlukan suatu sarana yang disebut sikap. Apabila objek sikap dapat membantu
individu mencapai tujuan, individu akan bersikap positif terhadap objek tersebut
atau sebaiknya.
2. Fungsi Pertahanan Ego
Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi diri dari kecemasan atau
ancaman harga dirinya.
3. Fungsi Ekspresi
Sikap ini mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu. Sistem nilai yang
terdapat pada diri individu dapat dilihat dari sikap yang diambilnya bersangkutan
terhadap nilai tertentu.
4. Fungsi Pengetahuan
Sikap ini membantu individu memahami dunia yang membawa keteraturan
terhadap bermacam-macam informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Setiap individu memiliki motif ingin tahu, ingin mengerti, dan
pengetahuan.
5. Fungsi Penyesuainan Sosial
Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal
ini sikap yang diambi individu tersebut akan sesuai dengan lingkungannya.

D. Proses Pembentukan Sikap


Sikap dapat terbetuk atau berubah melalui empat macam:

6
1. Adopsi
Kejadian- kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus
menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan
memengaruhi terbentuknya suatu sikap.
1. Diferensiasi
Dengan berkem bangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan
bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang
dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap objek tersebut dapat terbentuk
sikap tersendiri pula.
1. Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai
pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tentu sehingga akhirnya
terbentuk sikap menegenal hal tersebut.
2. Trauma
Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan
kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman
pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap.

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap (Azwar:1995;30):


1. Pengalaman Pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi
penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu
dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan,
seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis
yang akan membentuk sikap positif dan sikap negatif. Pembentukan tanggapan
terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan
individu yang bersangkutan, situasi di mana tanggapan itu terbentuk, dan ciri-ciri
obyektif yang dimiliki oleh stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan
sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu,
sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi
dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan

7
emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama
berbekas.
2. Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang
ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting akan banyak
mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang-orang yang
biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status
sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau
suami, dan lain-lain.
3. Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita
terutama kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan. Kebudayaan telah
menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan
telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula-lah yang
memberi corak pengalaman-pengalaman individu-individu yang menjadi anggota
kelompok masyarakatnya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan
kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan
sikap individual.
4. Media Massa
Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan
lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan
orang. Sebagai tugas pokoknya dalam menyampaikan informasi, media massa
membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini
seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif
baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang
dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuat, akan memberi dasar afektif
dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap. Walaupun pengaruh media
massa tidak sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam
proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil
artinya.
5. Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama

8
Kedua lembaga di atas, mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena
keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan
tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta
ajarannya. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat membentuk sistem
kepercayaan maka tidak mengherankan kalau konsep tersebut ikut berperan dalam
menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.
6. Pengaruh Faktor Emosional
Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi
yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme
pertahanan ego. Sikap ini dapat merupakan sikap yang sementara dan segera
berlalu begitu frustasi telah hilang. Akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang
dapat bertahan lama.

F. Tipe Sikap
Ada 3 (tiga) tipikal sikap seseorang, antara lain: (Ardana, 2009: 22)
1. Kepuasan kerja, seseorang yang mempunyai tingkat kepuasan kerja yang
tinggi akan cenderung menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan,
demikian sebaliknya.
2. Keterlibatan kerja, sampai sejauh mana seseorang memihak pada
pekerjaannya, berpartisipasi aktif didalamnya serta menanggapi kinerjanya
sangat penting bagi organisasi.
3. Komitmen pada organisasi, sampai tingkat mana seseorang pegawai
memihak pada organisasinya dan bertekad setia didalamnya.

G. Definisi Kepribadian
Menurut Gordon Allport (Pasaribu & Simandjuntak,
1984:95)Kepribadian didefinisikan sb: Personality is the dynamic organization
within the individual of those psychophysical system that determine his unique
adjustment to his environment,yang kurang lebih memiliki arti bahwa
kepribadian adalah organisasi yang dinamis pada individu di dalam system
psychophysical yang menentukan keunikan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

9
Psychophysical berarti bahwa kepribadian meliputi mental dan neural (susunan
syaraf) atau keseluruhan fisik-psikologis yang dimiliki seseorang.
Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah
suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan
tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud
menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan
tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi
interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan
kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki
kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu
tidak ada dua orang yang berperilaku sama.
Menurut Muchlas, (2005: 84) Kepribadian didefinisikan sebagai
gabungan dari semua cara dimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan
orang-orang lain, atau kadang-kadang didefenisikan sebagai organisasi internal
dari proses psikologis dankecenderungan perilaku seseorang.
Menururt Stephen dan Timothy, (2008:127), kepribadan juga
merupakan organisasi yang dinamis dalam sistem psikofisiologis individu yang
menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik terhadap lingkungan,
atau dengan kata lain kepribadian merupakan keseluruhan cara dimana seseorang
individu berekasi dan berinteraksi dengan individu lain.
Menurut Dorland, 2002: Kepribadian merupakan pola khas seseorang
dalam berpikir, merasakan dan berperilaku yang relatif stabil dan dapat
diperkirakan.
Menururt Weller, 2005: Kepribadian juga merupakan jumlah total
kecenderungan bawaan atau herediter dengan berbagai pengaruh dari lingkungan
serta pendidikan, yang membentuk kondisi kejiwaan seseorang dan
mempengaruhi sikapnya terhadap kehidupan

H. AspekAspek Kepribadian
Telah dikatakan bahawa kepribadian itu mengandung pengertian yang kompleks.
Ia terdiri dari bermacam-macam aspek, baik fisik maupun psikis. Meskipun telah

10
banyak disinggung dalam uraian-uraian terdahulu, secara lebih terperinci ada
baiknya kita uraikan beberapa aspek kepribadian yang penting berhubungan
dengan pendidikan, dalam rangka pembentukan pribadi anak-anak didik.
1) Sifat-sifat kepribadian (personality traits)
Seperti telah dikemukakan dalam pasal-pasal yang lalu, yaitu sifat-sifat yang ada
pada individu seperti antara lain: penakut, pemarah, suka bergaul, peramah, suka
menyendiri, sombomg, dan lain-lain. Pendeknya sifat-sifat yang merupakan
kecenderungan- kecenderungan umum pada seorang individu untuk menilai
situasi-situasi dengan cara-cara tertentu dan bertindak sesuai dengan penilaian itu.
2) Intelejensi
Kecerdasan atau intelejensi juga merupakan aspek kepribadian yang penting.
Termasuk di dalamnya kewaspadaan, kemampuan belajar, kecepatan berpikir;
kesanggupan untuk mengambil keputusan yang tepat, kepandaian menangkap dan
mengolah kesan-kesan atau masalah, dan kemampuan mengambil kesimpulan.
3) Pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan. (Appearance and
Impression).
Termasuk ke dalam aspek ini antara lain ialah: kejujuran, berterus terang,
menyelimuti diri, pendendam, tidak dapat menyimpan rahasia, mudah melupakan
kesan-kesan, dan lain-lain.
4) Kesehatan
Kesehatan jasmaniah atau bagaimana kondisi fisik sangat erat hubungannya
dengan kepribadian seseorang.
5) Bentuk tubuh
Termasuk besarnya, beratnya, dan tingginya. Bentuk tubuh seseorang
berhubungan erat dengan appearance-nya, meskipun mungkin dua orang yang
berbentuk tubuh sama berbeda dalam appearance-nya. Namun demikian bentuk
merupakan faktor yang penting dalam kepribadian seseorang.
6) Sikapnya terhadap orang lain
Tentang sikap juga telah dibicarakan dalam permulaan bab ini. Sikap seseorang
terhadap orang lain tidak terlepas dari sikap orang itu terhadap dirinya sendiri.
Bermacam-macam sikap yang ada pada seseorang turut menentukan
kepribadiannya.

11
7) Pengetahuan
Kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki seseorang, dan jenis
pengetahauan apa yang lebih dikuasainya, semua itu turut menentukan
kepribadiaanya. Pengetahuan yang dimilikibseseorang memainkan peranan
penting di dalam pekerjaan/jabatannya, cara-cara penerimaan dan penyesuaian
sosialnya, pergaulannya, dan sebagainya.
8) Keterampilan (Skills)
Keterampilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu, sangat mempengaruhi
bagaimana cara orang itu bereaksi terhadap situasi-situasi tertentu. Termasuk di
dalam keterampilan ini antara lain: kepandaiannya dalam atletik, kecakapan
mengemudi mobil atau kendaraan-kendaraan bermotor lainnya, kecekatan dalam
mengerjakan/membuat pekerjaan-pekerjaan tangan, seperti tukang kayu, tukang
batu, dan lain-lain.
9) Nilai-nilai (Values)
Bagaimana pandangan dan keyakinan seseorang tehadap nilai-nilai atau ide-ide
turut pula menentukan kepribadiannya. Nilai-nilai yang ada pada seseorang
dipengaruhi oleh adat istiadat, etika, kepercayaan dan agama yang dianutnya.
Semua itu mempengaruhi sikap, pendapat dan pandangan kita, yang selanjutna
tercermin dalam cara-cara kita bertindak dan bertingkah laku.
10) Penguasaan dan kuat-lemahnya perasaan
Ada orang pandai menguasai perasaan yang timbul dalam dirinya, ada yang tidak.
Ada orang yang pemarah dan ada pula yang sabar. Seseorang mudah merasa
tersinggung, yang lain tidak. Demikian pula intensitas atau kuat-lemahnya
perasaan tidak sama pada tiap orang. Keadaan perasaan yang berbeda-beda pada
tiap individu sangat mempengaruhi kepribadiannya. Apa yang telah dibicarakan
dalam pasal yang lalu tentang temperamen, pembagian tipe watak dari Heymans,
dan juga tentang frustasi sangat erat hubungannya dengan masalah ini.
11) Peranan (Roles)
Yang dimaksud dengan peranan di sini ialah kedudukan atau posisi seseorang di
dalam masyarakat di mana ia hidup. Termasuk dalam peranan ini ialah tempat dan
jabatannya, macam pekerjaannya, dan tinggi-rendahnya kedudukan itu.kedudukan
seseorang dalam masyarakat menentukan tugas kewajiban dan tanggung

12
jawabnya, yang selanjutnya menentukan sikap dan tingkah lakunya. Sartain
mengatakan tentang hal ini sebagai berikut: A role is the set of behavior that
typical of occupants of a position. People have norms standards of behavior for
roles and also expectations regarding how people in a position will be have.
Tidak disangsikan lagi bahwa peranan (roles) turut menentukan kepribadian
seseorang. Seorang dokter akan berlainan sikap dan tindakannya dengan seorang
alim-ulama misalnya. Demikian pula seorang guru/pendidik tidak akan sama
tindakan dan perbuatannya dengan seorang angkatan bersenjata.
12) The Self
Apa yang telah kita bicarakan dalam bab yang baru lalu tentang the self , sangat
erat hubungannya dengan kepribadian. The self merupakan aspek kepribadian
yang sangat penting. The self adalah individu sebagaimana diketahui dan
dirasakan oleh individu itu sendiri. Ia terdiri dari self-picture, yaitu aspek-aspek
yang disadari dari pandangan individu tentang dirinya sendiri, dan kepercayaan
serta perasaan individu tentang dirinya sendiri yang tidak disadari. Dengan kata
lain: the self adalah anggapan dan perasaan individu tentang siapa, apa, dan di
mana sebenarnya dia berada.
Sedangkan kepribadian seperti telah diuraikan ialah organisasi sistem-sistem
psiko-fisik individu yang menentukan cara-cara penyesuaian dirinya yang unik
terhadap lingkungannya. Dengan membandingkan kedua pengertian tersebut
kepribadian dan the self menjadi jelas bahwa kepribadian itu mencakup the self.
Kepribadian/personality tidak hanya mencakup apa yang dipikirkan dan dirasakan
individu tentang dirinya, tetapi juga tingkah lakunya dan kecenderungan-
kecenderungannya terhadap sesuatu, baik yang menjadi bagian daripada dirinya
maupun yang tidak.

I. Faktor-faktor Penentu Kepribadian


Kepribadian seseorang dihasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan
kondisi situasional (Stephen dan Timothy, 2008:127), antara lain:
Faktor Keturunan
Faktor keturunan ditransimisikan melalui gen, yang berada dalam kromosom,
yang menentukan keseimbangan hormon, bentuk fisik, dan menentukan atau

13
membentuk kepribadian. Kepribadian tidak seluruhnya dipengaruhi oleh faktor
keturunan, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi bentuk kepribadian
seseorang.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat memberikan tekanan kepada kepribadian seseorang
adalah kultur masyarakat dimana seseorang dibesarkan, norma-norma keluarga,
teman-teman dan kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami.
Kultur akan membentuk norma, sikap, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu
generasi ke genarasi berikutnya yang terus menerus berlangsung secara konsisten.
Kondisi Situasional
Kondisi situsional dapat mempengaruhi efek dari faktor-faktor keturunan dan
lingkungan terhadapa kepribadian. Kepribadian seseorang meskipun relatif stabil
dan konsisten, namun dapat berubah pada situasi-situasi yang berbeda. Tuntutan
yang berbeda pada situasi yang berbeda dapat menimbulkan reaksi dan aspek
yang berbeda pada kepribadian seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya tidak
melihat corak kepribadian secara terisolasi, tetapi juga mengetahui bahwa situasi-
situasi tertentu lebih relevan dari situasi-situasi lain dalam mempengaruhi
kepribadian sehingga dapat dilihat adanya perbedaan-perbedaan individual yang
signifikan.

J. Sifat-sifat Kepribadian
Sifat-sifat kepribadian merupakan karakteristik yang sering muncul dan
mendeskripsikan perilaku seorang individu. Semakin konsisten dan sering
munculnya karakteristik tersebut dalam berbagai situasi, maka akan semakin
mendiskripsikan karakteristik seorang individu.
Para peneliti menyakini bahwa sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses
seleksi karyawan, menyesuaikan bidang pekerjaan dengan individu, dan memandu
keputusan pengembangan karier. Dalam 20 tahun terakhir ini, digunakan dua
pendekatan yang dijadikan kerangka untuk mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan sifat-sifat seseorang, yaitu:
1. Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)

14
Merupakan instrumen penilaian yang berisi 100 pertanyaan mengenai bagaimana
individu akan merasa atau bertindak dalam situsai tertentu. Berdasarkan jawaban-
jawaban yang diberikan dalam tes tersebut, individu diklasifikasikan ke dalam 4
macam karakteristik, yaitu
Ekstraver versus Introver (E vs I), ekstraver digambarkan sebagai individu
yang ramah, suka bergaul, dan tegas. Sedangkan introver digambarkan
sebagai individu yang pendiam dan pemalu.
Sensitif versus Intuitif (S vs N), sensitif digambarkan sebagai individu yang
praktis dan lebih menyukai rutinitas dan urutan. Sedangkan intuitif
mengandalkan proses-proses tidak sadar dan melihat gambaran umum.
Pemikir versus Perasa (T vs F), pemikir digambarkan sebagai individu
yang menggunakan alasan dan logika untuk menangani berbagai masalah.
Sedangkan perasa mengandalkan nilai-nilai dan emosi pribadi.
Memahami versus Menilai (J atau P), memahami digambarkan sebagai
individu yang menginginkan kendali dan lebih suka dunia teratur dan
terstruktur. Sedangkan menilai digambarkan sebagai individu yang
cenderung lebih fleksibel dan spontan.
Meskipun MBTI merupakan instrumen yang paling banyak digunakan dalam
penilaian kepribadian seseorang, MBTI masih mempunyai kelemahan yakni
memaksakan seseorang untuk dikategorikan sebagai satu jenis atau jenis yang
lain, msalnya anda adalah introver atau ekstrover. Tidak ada yang di tengah-
tengah, meskipun individu bisa jadi ekstrover dan introver pada tingkat tertentu.
2. Model Lima Besar
Sifat-sifat kepribadian (personality traits) adalah karateristik yang sering muncul
dan mendeskripsikan perilaku seorang individu. Ada 5 (lima) faktor yang
mempengaruhi kepribadian seseorang atau Big Five Model, antara lain: (Stephen
dan Timothy, 2008:131)
Ekstraversi (Extraversion), merupakan dimensi kepribadian yang
mengungkapkan tingkat kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan
individu lain. Mendiskripsikan seseorang yang suka bergaul, suka berteman,
dan tegas.

15
Mudah Akur Atau Mudah Sepakat (Agreeableness), merupakan dimensi
kepribadian yang merujuk pada kecenderungan individu untuk patuh
terhadap individu lainnya. Mendeskripsikan seseorang yang bersifat baik,
kooperatif, dan penuh kepercayaan.
Sifat Berhati-Hati (Conscientiousness), merupakan dimensi kepribadian
yang menjadi ukuran kepercayaan. Mendeskripsikan seseorang yang
bertanggung jawab, bisa dipercaya, gigih, dan teratur.
Stabilitas Emosi (Emotional Stability), merupakan dimensi kepribadian
yang menilai kemampuan seseorang untuk menahan stres. Menggolongkan
seseorang sebagai orang yang tenang, percaya diri, memiliki pendirian yang
teguh (positif).
Terbuka Terhadap Hal-Hal Yang Baru (Openness To Experience),
merupakan dimensi yang mengelompokkan individu berdasarkan lingkup
minat dan ketertarikannya terhadap hal-hal baru.

K. Pengukuran Kepribadian
Sobur (2003) menyatakan bahwa terdapat beberapa cara untuk mengukur
kepribadian, diantaranya yaitu dengan cara sebagai berikut:
1. Observasi Direk
Observasi direk merupakan observasi yang berbeda dengan observasi biasa.
Observasi ini mempunyai sasaran yang khusus, sedangkan observasi biasa
mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk dilakukan dengan
memilih situasi tertentu, yaitu pada saat dapat diperkirakan munculnya indikator
dari ciri-ciri yang ingin diteliti, dilakukan dalam situasi yang dikontrol, dapat
diulang dan dapat dibuat replikasinya. Observasi direk juga disebut dengan
observasi quasi experimental. Ada tiga tipe metode dalam observasi direk, yaitu:
1. Time Sampling Method
Setiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Periode tersebut bisa
berlangsung selama beberapa detik, beberapa menit, atau bahkan beberapa jam,
tergantung pada tipe tingkah laku atau indikator atau ciri-ciri yang ingin diteliti.
1. Incident Sampling Method

16
Dalam metode ini, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku. Laporan
observasinya berupa catatan-catatan yang mencakup intensitas, lama waktunya,
dan efek-efek setelah respon.
1. Metode Buku Harian Terkontrol
Dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah laku khusus
yang ingin diketahui oleh yang bersangkutan.
Syarat penggunaan metode ini yaitu peneliti adalah orang dewasa dan cukup
inteligen, serta dilakukan untuk pengabdian pada perkembangan ilmu
pengetahuan.
2. Wawancara (Interview)
3. Stress Interview
Stress Interview digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang untuk
bertahan terhadap hal-hal yang mengganggu emosinya dan seberapa lama
seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan ditiadakan.
4. Exhaustive Interview
Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama,
dan diselenggarakan secara nonstop. Tujuannya adalah membuat interviewee
lelah dan melepaskan sikap defensifnya dengan berbicara terus terang. Cara ini
biasanya digunakan untuk meneliti para tersangka tindak kriminal dan sebagai
pemeriksaan taraf ketiga. Selain itu juga digunakan dalam memilih pegawai untuk
jabatan penting.
5. Tes Proyektif
Metode ini dilakukan untuk mengetahui proyeksi pribadi seseorang melalui
gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes ini memberi peluang kepada
testee untuk bisa secara bebas memberikan makna atau arti terhadap hal yang
disajikan, dan tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah.
6. Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk
melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini
mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada setiap orang, dan jawabannya biasanya
diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai

17
L. Sifat Kepribadian Utama Yang Mempengaruhi Perilaku Organisasi
1) Evaluasi Inti Diri
Evaluasi inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai
diri mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif,
dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya
atas lingkungan mereka. Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua
elemen utama: harga diri dan lokus kendali. Harga diri didefinisikan sebagai
tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu menganggap diri
mereka berharga atau tidak berharga sebagai seorang manusia.
2) Machiavellianisme
Machiavellianisme adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis,
mempertahankan jarak emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada
proses. Karakteristik kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo
Machiavelli, penulis pada abad keenam belas yang menulis tentang cara
mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.
3) Narsisisme
Narsisisme adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan
diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri
sendiri. Sebuah penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir
mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan
mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih
buruk. Individu narsisis seringkali ingin mendapatkan pengakuan dari individu
lain dan penguatan atas keunggulan mereka sehingga individu narsisis cenderung
memandang rendah dnegan berbicara kasar kepada individu yang mengancam
mereka. Individu narsisis juga cenderung egois dan eksploitif, dan acap kali
memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya.
4) Pemantauan Diri
Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya
dengan faktor situasional eksternal. Individu dengan tingkat pemantauan diri yang
tinggi menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku
dengan faktor-faktor situasional eksternal.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk
bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam
menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap
juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif
terhadap obyek atau situasi.
Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan
berinteraksi dengan individu lain. Selain itu beberapa aspek kepribadian juga turut
andil seperti bentuk tubuh, kesehatan dan nilai-nilai. Namun dalam kehidupan
sehari-hari tak semua bentuk kepribadian itu sama, ada yang kepribadian sehat
dan tidak sehat.
Besarkecilnya suatu keberhasilan atau kesuksesan ditentukan oleh banyak faktor.
Salah satunya adalah faktor kepribadian. Di samping itu kita dapat melihat
kedalam diri kita, dan pribadi seperti apa yang telah kita miliki. Selalu masih ada
waktu dan kesempatan untuk membangun dan menunjukkan keperibadian pribadi
yang menyenangkan untuk diri sendiri dan juga orang lain, apabila kita merasa
belum sepenuhnya berhasil membangunnya untuk keberhasilan diri yang kita
ingingkan itu.

B. Saran
Dengan adanya Sikap dan Kepribadian, kita bisa lebih mudahu ntuk
menilai seseorang. Dengan begitu kita juga bisa menginstropeksi diri sendiri
terlebih dulu sebelum memperlakukan orang lain atau melakukan orang lain
sesuai dengan kemauan kita sendiri. Sikap dan kepribadian sangat penting, demi
membentuk individunya agar bisa lebih baik lagi dalam melakukan, menghadapi
dan menilai suatu hal, baik itu terhadap objek, manusia lain, respon dsb.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26923/4/Chapter%20II.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian
http://nadhirin.blogspot.com/2008/07/kepribadian_8205.html
http://princessdeklov03.blogspot.com/2012/03/kepribadian-dan-sikap.html
http://alcmuthya.blogspot.com/2014/10/makalah-tentang-sikap_22.html
http://devitiyas.blogspot.com/2014/01/makalah-kepribadian.html
http://universitasislamoki.blogspot.com/2013/03/makalah-kepribadian.html

20