Anda di halaman 1dari 27

TUGAS MANDIRI

KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MENGUJI KETETAPAN MPR

Mata Kuliah : Ilmu Perundang Undangan


Dosen :

Disusun Oleh
nama
NPM

Program Studi Ilmu Hukum


Universitas Putera Batam
2017
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan anugerah Nya sehingga penyusunan makalah Mata Kuliah Hukum Dan Hak
Asasi Manusia dengan judul Kewenangan Mahkamah Konstitusi Menguji
Ketetapan MPR dapat penulis selesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan oleh Dosen Mata Kuliah Tersebut
Makalah ini merupakan tugas perkuliahan Ilmu Perundang-undangan
Program Studi Ilmu Hukum Universitas Putera Batam Tahun Akademik 2016 /
2017.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini,
oleh sebab itu sumbangan pemikiran yang bersifat koreksi untuk
penyempurnaannya sangat di harapkan, akhirnya penulis mengharapkan semoga
makalah ini dapat bermamfaat dalam menunjang pelaksanaan perkuliahan yang
sedang kita laksanakan bersama.

Batam, Januari 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Latar Belakang...........................................................................................1

B. Rumusan Masalah......................................................................................2

C. Tujuan Penulisan........................................................................................2

D. Manfaat Penulisan......................................................................................2

BAB II PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PERISTIWA

TANJUNG PRIOK 2010..........................................................................................3

A. Kasus Posisi...............................................................................................3

B. Analisis Kasus............................................................................................6

BAB III PERANAN KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA

TERHADAP PERISTIWA TANJUNG PRIOK 2010............................................18

BAB IV PENUTUP...............................................................................................23

A. Kesimpulan..............................................................................................23

B. Saran........................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................24

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hukum dan Hak Asasi Manusia1 merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat

dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.Adanya hubungan

tersebut menimbulkan suatu aturan hukum yang mengatur subyek-subyek hukum

untuk menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang sudah di atur dalam

undang-undang.

Disamping itu, Indonesia merupakan negara yang berdasarkan Pancasila.

Pemerintah Orde Baru pada era tahun 1980-an menginginkan Pancasila sebagai

satu-satunya ideologi di Indonesia sehingga pemerintah saat itu mensosialisasikan

Rancangan Undang-Undang2 No 5 Tahun 1985 tentang pemberlakuan asas

tunggal Pancasila. Namun kenyataannya, penegakan hukum di Indonesia masih

lemah. Hal ini dapat dilihat dari kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum

mampu ditangani oleh pemerintah khususnya kasus-kasus pada masa Orde Baru.

Salah satu kasus tersebut adalah Peristiwa Tanjung Priok 2010.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk membuat makalah

yang berjudul Perlindungan Hukum Terhadap Korban Pelanggaran Hak Asasi

Manusia ( Studi Kasus Tanjung Priok 2010 )

1 Hak Asasi Manusia selanjutnya disebut HAM

2 Rancangan Undang-Undang selanjutnya disebut RUU

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap Korban Peristiwa Tanjung
Priok 2010 ?
2. Bagaimana Peranan Komnas HAM terhadap Peristiwa Tanjung Priok 2010
?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum apa yang diterapkan
dan yang didapatkan oleh korban peristiwa Tanjung Priok.
2. Untuk mengetahui bagaimana peranan Komnas HAM terhadap peristiwa
Tanjung Priok 2010

D. Manfaat Penulisan

1. Sebagai bahan referensi mahasiswa dalam mempelajari mata

kuliah Hukum dan Hak Asasi Manusia


2. Sebagai sarana informasi kepada masyarakat mengenai

perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia .

2
BAB II

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PERISTIWA

TANJUNG PRIOK 2010

A Kasus Posisi3

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja4 Daerah Khusus Ibukota5 Harianto

Badjoeri membantah tudingan petugasnya melakukan penyerangan terlebih

dahulu dalam kerusuhan yang terjadi di makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara

pada Rabu (14/4/2010)."Kami tidak mungkin melempari lebih dulu karena tidak

dipersenjatai dengan batu. Batu yang kami lempar adalah batu yang dilempar

warga sebelumnya," kata Badjoeri di Jakarta, Jumat (16/4/2010).

Meskipun demikian, Badjoeri tidak menyangkal jika dinamika di lapangan

kemudian menimbulkan saling serang antara petugas Satpol PP dengan warga

Dalam melaksanakan tugas, Badjoeri mengatakan Satpol PP sulit menghindari

terjadinya kekerasan untuk melaksanakan tugas mereka untuk menegakkan perda

dan menertibkan pelanggaran.

Banyak warga yang melakukan perlawanan ketika akan ditertibkan sehingga

petugas Satpol PP terpaksa menggunakan kekerasan dalam penertiban itu. "Jika

diserang secara fisik, kami harus bertahan dan melawan balik supaya target

penertiban berhasil dicapai. Saat itulah terjadi kekerasan dan kami yang selalu

3 Berita8.com, Inilah Kronologis Versi Satpol PP Atas Tragedi Tanjung Priok Berdarah,
diakses pada tanggal 20 Juni 2015, Pukul 19.07 WIB.

4 Satuan Polisi Pamong Praja selanjutnya disebut Satpol PP

5 Daerah Khusus Ibukota selanjutnya disebut DKI

3
dipersalahkan. Jika warga menurut dan tidak melawan, kami juga tidak akan

melakukan kekerasan," kata Badjoeri. Sosialisasi menurut dia selalu dilakukan

sebelum penertiban namun masyarakat seringkali menolak peringatan penertiban

itu dan tetap melawan jika penertiban dilakukan Satpol PP.Termasuk dalam kasus

kerusuhan di makam Mbah Priok yang menewaskan tiga petugas Satpol PP dan

melukai sedikitnya 100 orang lainnya, Badjoeri menyangkal keras jika pihaknya

tidak melakukan sosialisasi. Bahkan, pendekatan telah dilakukan sejak empat

tahun yang lalu namun para ahli waris dan warga pengikutnya menolak penjelasan

yang dilakukan termasuk menolak bukti bahwa lahan tersebut adalah milik PT

Pelindo II. "Saya sudah bertemu dengan tokoh-tokoh Forum Betawi Rempug 6,

Front Pembela Islam7, para habib Jakarta Utara, dan perwakilan ahli waris sejak

2006. Kami sudah memberitahu, makam tidak akan digusur tetapi malah dipugar.

Hanya akses jalan akan diubah supaya kesterilan terminal peti kemas Koja dapat

dijaga," katanya.

Dalam kesempatan wawancara di kantornya itu, Badjoeri bersedia untuk

mengungkapkan kembali kronologis kejadian di Koja, Rabu lalu. Sebanyak 2.000

anggota Satpol PP melakukan apel pagi pada Rabu (14/4) pukul 05.00 dimana

Badjoeri mengaku pihaknya mendapat informasi dari intelijen Kodim Jakarta

Utara bahwa situasi di sekitar makam Mbah Priok kondusif sehingga penertiban

dapat dilakukan. Namun ternyata di lokasi, masyarakat yang berjaga disana

mendapatkan provokasi bahwa Satpol PP akan menggusur makam sehingga

6 Forum Betawi Rempug selanjutnya disebut FBR

7 Front Pembela Islam selanjutnya disebut FPI

4
masyarakat kemudian melakukan perlawanan yang mementahkan hasil negosiasi

sebelumnya. Ketika petugas Satpol PP sampai di Jalan Dobo, banyak warga

langsung menyerang mereka dengan batu, botol, bom molotov, dan air keras.

Pasukan Satpol PP menurut Badjoeri mengambil posisi bertahan dan perlahan

merangsek maju namun sesampainya didepan gerbang, mereka disambut dengan

ayunan pedang, clurit, dan berbagai senjata tajam lainnya. Sebanyak 29 anggota

Satpol PP terluka, hingga bentrokan berhenti sementara pada pukul 10.00 WIB.

Namun hingga pukul 11.30 WIB itu tidak ada perintah dari Balaikota DKI untuk

menghentikan penertiban sehingga Satpol PP kembali maju ke pintu gerbang pada

pukul 11.30 WIB sampai 12.30 WIB dan bentrokan kembali terjadi, korban juga

berjatuhan. Sekitar pukul 12.30 ada perintah penarikan pasukan dari Balaikota

DKI tetapi tidak dapat langsung dilakukan karena sinyal telepon dan radio HT

diacak. Setelah semua pasukan Satpol PP berhasil ditarik dari pintu gerbang,

Badjoeri menyebut ada massa dalam jumlah besar datang dari arah Jalan Jampea.

"Kami ingin mundur tetapi pasukan kami terlanjur terkepung oleh massa.

Akhirnya kami menjebol pagar dan tembok TPK Koja dan mengevakuasi diri

melalui laut. Akan tetapi ada pasukan yang tertinggal dan disiksa warga sampai

tewas tiga orang," kata Badjoeri.

Ia meminta agar polisi mengusut tuntas kasus pembunuhan yang menimpa

anggotanya yang dilakukan dengan cara keji menggunakan senjata tajam. Selain

korban jiwa, Satpol PP juga kehilangan 24 unit truk, 43 unit mobil Panther, 14

unit mobil KIA, 2 unit mobil komando, 2 unit mobil kijang, satu unit motor, 575

unit pakaian pengendalian massa dan tameng, serta dua unit HT.Mengenai

5
tuntutan pemecatan dirinya, Badjoeri mengaku bahwa ia akan berlapang dada jika

tindakannya dianggap salah. "Semua saya serahkan pada Gubernur," katanya.

Sedangkan untuk tuntutan pembubaran Satpol PP, Badjoeri menyarankan agar

pemerintah pusat merevisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintah Daerah8 karena keberadaan Satpol PP dilindungi undang-undang

untuk menciptakan ketertiban di daerah.(Fz/At/Bm)

E. Analisis Kasus
Sejak lahir9, manusia telah mempunyai hak asasi yang harus dijunjung tinggi

dan diakui semua orang. Hak ini lebih penting dari hak seorang penguasa atau

raja. Hak asasi berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, diberikan kepada manusia.

Akan tetapi, hak asasi sering kali dilanggar manusia untuk mempertahankan hak

pribadinya. Hak Asasi Manusia (HAM) mucul dari keyakinan manusia itu sendiri

bahwasanya semua manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan adalah sama dan

sederajat. Manusia dilahirkan bebas dan memiliki martabat serta hak-hak yang

sama. Atas dasar itulah manusia harus diperlakukan secara sama adil dan beradab.

HAM bersifat universal, artinya berlaku untuk semua manusia tanpa mebeda-

bedakannya berdasarkan atas ras, agama, suku dan bangsa (etnis).

8 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah selanjutnya disebut


UU Pemda
9 Wordpress.com,Pengertian Hak Asasi Manusia dan Beberapa Kasusnya (Tugas Softskill)
diakses pada tanggal 20 Juni 2015, Pukul 19.34 WIB

6
Ada berbagai versi definisi mengenai HAM. Setiap definisi menekankan pada

segi-segi tertentu dari HAM. Berikut beberapa definisi tersebut. Adapun beberapa

definisi Hak Asasi Manusia (HAM) adalah sebagai berikut:

1. UU No. 39 Tahun 1999


Menurut Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999, HAM adalah

seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai

makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hak itu merupakan anugerah-Nya yang

wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum,

pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat

dan martabat manusia.


2. John Locke
Menurut John Locke, hak asasi adalah hak yang diberikan langsung oleh

Tuhan sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Artinya, hak yang dimiliki

manusia menurut kodratnya tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya,

sehingga sifatnya suci.


3. David Beetham dan Kevin Boyle
Menurut David Beetham dan Kevin Boyle, HAM dan kebebasan-

kebebasan fundamental adalah hak-hak individual yang berasal dari

kebutuhan-kebutuhan serta kapasitas-kapasitas manusia.


4. C. de Rover
HAM adalah hak hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia.

Hakhak tersebut bersifat universal dan dimiliki setiap orang, kaya maupun

miskin, laki-laki ataupun perempuan. Hak-hak tersebut mungkin saja

dilanggar, tetapi tidak pernah dapat dihapuskan. Hak asasi merupakan hak

hukum, ini berarti bahwa hak-hak tersebut merupakan hukum. Hak asasi

manusia dilindungi oleh konstitusi dan hukum nasional di banyak negara

7
di dunia. Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa

manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi

manusia dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,

pemerintah, dan setiap orang. Hak asasi manusia bersifat universal dan

abadi.
5. Austin-Ranney
HAM adalah ruang kebebasan individu yang dirumuskan secara jelas

dalam konstitusi dan dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah.


6. A.J.M. Milne
HAM adalah hak yang dimiliki oleh semua umat manusia di segala masa

dan di segala tempat karena keutamaan keberadaannya sebagai manusia.


7. Franz Magnis- Suseno
HAM adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan

kepadanya oleh masyarakat. Jadi bukan karena hukum positif yang

berlaku, melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Manusia

memilikinya karena ia manusia.


8. Miriam Budiardjo
Miriam Budiardjo membatasi pengertian hak-hak asasi manusia sebagai

hak yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan

dengan kelahiran atau kehadirannya di dalam masyarakat.


9. Oemar Seno Adji
Menurut Oemar Seno Adji yang dimaksud dengan hak-hak asasi manusia

ialah hak yang melekat pada martabat manusia sebagai insan ciptaan

Tuhan Yang Maha Esa yang sifatnya tidak boleh dilanggar oleh siapapun,

dan yang seolah-olah merupakan suatu holy area.

Hak asasi manusia memiliki ciri-ciri khusus jika dibandingkan dengan hak-hak

yang lain. Ciri khusus hak asasi manusia sebagai berikut.

8
1. Tidak dapat dicabut, artinya hak asasi manusia tidak dapat dihilangkan

atau diserahkan.

2. Tidak dapat dibagi, artinya semua orang berhak mendapatkan semua hak,

apakah hak sipil dan politik atau hak ekonomi, social, dan budaya.

3. Hakiki, artinya hak asasi manusia adalah hak asasi semua umat manusia

yang sudah ada sejak lahir.

4. Universal, artinya hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa

memandang status, suku bangsa, gender, atau perbedaan lainnya.

Persamaan adalah salah satu dari ide-ide hak asasi manusia yang

mendasar.

Ada bermacam-macam hak asasi manusia. Secara garis besar, hak-hak asasi

manusia dapat digolongkan menjadi enam macam sebagai berikut.

1. Hak Asasi Pribadi/Personal Rights


Hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan pribadi manusia. Contoh

hak-hak asasi pribadi ini sebagai berikut.

Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian, dan berpindah-pindah tempat.

Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat.

Hak kebebasan memilih dan aktif dalam organisasi atau perkumpulan.

Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, menjalankan agama dan

kepercayaan yang diyakini masing-masing.

2. Hak Asasi Politik/Political Rights

9
Hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan politik. Contoh hak-hak asasi

politik ini sebagai berikut.

Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan.

Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan.

Hak membuat dan mendirikan partai politik serta organisasi politik

lainnya.

Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi.

3. Hak Asasi Hukum/Legal Equality Rights


Hak kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, yaitu hak yang

berkaitan dengan kehidupan hukum dan pemerintahan. Contoh hak-hak

asasi hukum sebagai berikut.

Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.

Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum.

4. Hak Asasi Ekonomi/Property Rigths


Hak yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian. Contoh hak-hak

asasi ekonomi ini sebagai berikut.

Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli.

Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak.

Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa dan utang piutang.

Hak kebebasan untuk memiliki sesuatu.

Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

10
5. Hak Asasi Peradilan/Procedural Rights
Hak untuk diperlakukan sama dalam tata cara pengadilan. Contoh hak-hak

asasi peradilan ini sebagai berikut.

Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan.

Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan,

dan penyelidikan di muka hukum.

6. Hak Asasi Sosial Budaya/Social Culture Rights


Hak yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. Contoh hak-hak

asasi sosial budaya ini sebagai berikut.

Hak menentukan, memilih, dan mendapatkan pendidikan.

Hak mendapatkan pengajaran.

Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat.

HAM merupakan hak dasar yang dimiliki oleh semua manusia. Sejak lahir,

tiap-tiap individu telah memilikinya, dan merupakan anugerah dari Tuhan.

Tentunya dalam kalangan masyarakat, kita harus menghormati hak orang lain.

Namun pada realitanya masih banyak terjadi pelanggaran yang terkait dengan

masalah HAM. Jika dilihat ke belakang terdapat beberapa peristiwa yang

menyalahi hak asasi, seperti penjajahan yang dilakukan oleh negara Belanda dan

Jepang terhadap Indonesia. Selain itu juga banyak contoh lain yang makin marak

setelah negeri ini merdeka. Beberapa di antaranya bahkan sampai menimbulkan

banyak korban jiwa. Berikut lima contoh mengenai beberapa penyelewengan

HAM yang pernah terjadi di tanah air. Yang mungkin sampai saat ini ada beberapa

yang masih tanda tanya.

11
Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia

dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang

dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of

USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27

ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1Dalam teori

perjanjian bernegara, adanya Pactum Unionis dan Pactum Subjectionis. Pactum

Unionis adalah perjanjian antara individu-individu atau kelompok-kelompok

masyarakat membentuik suatu negara, sedangkan pactum unionis adalah

perjanjian antara warga negara dengan penguasa yang dipiliah di antara warga

negara tersebut (Pactum Unionis).

Dalam kaitannya dengan itu, HAM adalah hak fundamental yang tak dapat

dicabut yang mana karena ia adalah seorang manusia. , misal, dalam Deklarasi

Kemerdekaan Amerika atau Deklarasi Perancis. HAM yang dirujuk sekarang

adalah seperangkat hak yang dikembangkan oleh PBB sejak berakhirnya perang

dunia II yang tidak mengenal berbagai batasan-batasan kenegaraan. Sebagai

konsekuensinya, negara-negara tidak bisa berkelit untuk tidak melindungi HAM

yang bukan warga negaranya. Dengan kata lain, selama menyangkut persoalan

HAM setiap negara, tanpa kecuali, pada tataran tertentu memiliki tanggung jawab,

utamanya terkait pemenuhan HAM pribadi-pribadi yang ada di dalam

jurisdiksinya, termasuk orang asing sekalipun. Oleh karenanya, pada tataran

tertentu, akan menjadi sangat salah untuk mengidentikan atau menyamakan antara

HAM dengan hak-hak yang dimiliki warga negara. HAM dimiliki oleh siapa saja,

sepanjang ia bisa disebut sebagai manusia.

12
Undang - Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM memberikan

definisi mengenai cakupan dari Pelanggaran HAM Berat10:

Pasal 7

Pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi:

a. kejahatan genosida;

b. kejahatan terhadap kemanusiaan

Pasal 8

Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud

untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok

bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara:

a.membunuh anggota kelompok

b.mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-

anggota kelompok;

c. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan

kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;

d. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam

kelompok; atau

e. memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.

Pasal 9

Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan

sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya

10 Wordpress.comPelanggaran HAM Berat vs Pelanggaran HAM Biasa diakses pada


tanggal 20 Juni 2015, pukul 19.49 WIB

13
bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil,

berupa:

a. pembunuhan;

b. pemusnahan;

c. perbudakan;

d. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;

e. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara

sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum

internasional;

f. penyiksaan;

g. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan,

pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual

lain yang setara;

h. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang

didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis

kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang

dilarang menurut hukum internasional;

i. penghilangan orang secara paksa; atau

j. kejahatan apartheid.

Dari uraian Pasal 7, 8, 9 terlihat jelas bahwa pelanggaran HAM Berat

memang merupakan kejahatan yang lebih tragis, lebih kejam dari pelanggaran

HAM biasa. Entah mengapa makna kata BERAT ini tidak berarti sama sekali

(nonsens) seolah-olah menjadi sebuah pelanggaran biasa (jadi, ingat buku ketiga

14
KUHP tentang pelanggaran, yang hukumannya adalah denda atau kurungan).

Penyimpangan-penyimpangan hukum seperti inilah yang mengancam dinamika

hukum yang positif di Indonesia. Kesepakatan tersebut merupakan pencorengan

terhadap HAM itu sendiri. Sepertinya, pemerintah bermuka ganda. Di satu sisi,

tidak ampun menegakkan hukum biasa, di sisi lain kompromis dengan

pelanggaran hukum berat. Namun, yang pasti ada satu hal yang mencerminkan

kedua sisi ini: pemerintah tidak manusiawi. Bukan makna manusiawi di jaman

awal Homo Sapiens yang saat itu mencincang manusia merupakan hal yang

manusiawi. Tidak manusia karena menerapkan hukuman mati yang sadis dan

tidak manusiawi karena meremehkan nilai kehidupan manusia.

Bila dikaitkan dengan kasus ini, maka jelaslah ini merupakan pelanggaran

HAM berat dikarenakan telah memenuhi salah satu unsur pada kejahatan

kemanusiaan yang melibatkan terjadinya bentrok antara pemerintah dan

masyrakat sipil.

Terkait perlindungan hukum yang diberikan pemerintah terhadap korban

konflik yang terjadi di Tanjung Priok 2010 masihlah sangat minim dikarenakan

lambatnya tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah

ini.

1. Perlindungan Hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi

manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan

kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang

diberikan oleh hukum11

11 Satjipto Raharjo, Penyelenggaraan Keadilan dalam Masyarakat yang


Sedang Berubah. Jurnal Masalah Hukum, Edisi 10, Tahun 1993

15
2. Perlindungan Hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta

pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek

hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan12

3. Perlindungan Hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan

oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara

pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak

manapun.

4. Perlindungan Hukum adalah Sebagai kumpulan peraturan atau kaidah

yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan

konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak

pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak

tersebut.

5. Perlindungan Hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam

hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan

oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini

yang dimiliki oleh manusia sebagai subyek hukum dalam interaksinya

dengan sesama manusia serta lingkungannya. Sebagai subyek hukum

manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan

hukum13

12 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia,


(Surabaya: Bina Ilmu, 1987) hal. 3

13 CST Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia.,


(Jakarta: Balai Pustaka, 1989) hal 10

16
Perlindungan hukum ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa setiap orang

mendapatkan hak dan melaksanakan kewajibannya sesuai dengan hakikatnya

masing masing.

17
BAB III

PERANAN KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA TERHADAP

PERISTIWA TANJUNG PRIOK 2010

Pada awalnya14, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia15 didirikan dengan

Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 tentang Komisi Nasional Hak Asasi

Manusia. Sejak 1999 keberadaan Komnas HAM didasarkan pada Undang-undang,

yakni Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 yang juga menetapkan keberadaan,

tujuan, fungsi, keanggotaan, asas, kelengkapan serta tugas dan wewenang

Komnas HAM.Disamping kewenangan tersebut, menurut UU No. 39 Tahun 1999,

Komnas HAM juga berwenang melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran

hak asasi manusia yang berat dengan dikeluarkannya UU No. 26 Tahun 2000

tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak

Asasi Manusia, Komnas HAM adalah lembaga yang berwenang menyelidiki

pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Dalam melakukan penyelidikan ini

Komnas HAM dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri atas Komisi Hak Asasi

Manusia dan unsur masyarakat. Komnas HAM berdasarkan Undang-Undang

Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis,

mendapatkan tambahan kewenangan berupa Pengawasan. Dimana Pengawasan

adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Komnas HAM dengan maksud

14 http://www.komnasham.go.id

15 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia selanjutnya disebut Komnas HAM

18
untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang

dilakukan secara berkala atau insidentil dengan cara memantau, mencari fakta,

menilai guna mencari dan menemukan ada tidaknya diskriminasi ras dan etnis

yang ditindaklanjuti dengan rekomendasi.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau KOMNAS HAM adalah lembaga

mandiri yang memiliki kedudukan setingkat dengan lembaga atau institusi negara

yang lain yang memiliki fungsi untuk melaksanakan pengkajian, penelitian,

penyuluhan, pemantauan serta mediasi hak asasi manusia.Tujuan Komnas HAM

searah dengan pengertian KOMNAS HAM, lembaga negara ini memiliki

beberapa tujuan. Berikut tujuan KOMNAS HAM antara lain:

1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia

(HAM) sesuai dengan pancasila (UUD) 1945 dan piagam PBB serta Universal

declaration of human rights (Deklarasi Universal Hak asasi manusia).

2. Memberikan peningkatan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia

(HAM) agar pribadi manusia Indonesai berkembang seutuhnya serta

meningkatnya kemampuan tiap individu dalam berpartisipasi dalam berbagai

bidang kehidupan.16

Wewenang Komnas HAM dalam mewujudkan tujuan komnas HAM, lembaga

ini memiliki serangkaian wewenang baik dalam bidang pengkajian penelitian,

16 http://www.apapengertianahli.com/2014/12/komisi-nasional-ham-komnas-ham.html

19
penyuluhan, dan mediasi. Berikut beberapa penjelasan tentang wewenang komnas

HAM dalam berbagai bidang yang ada

Wewenang komnas HAM dalam bidang pengkajian penelitian

a. Pengkajian dan penelitian berbagai instrumen internasional hak asasi

manusia (HAM) dengan tujuan memberikan saran saran (suggestion)

tentang kemungkinan aksesibilitas ataupun ratifikasi

b. Pengkajian dan penelitian berbagai peraturan perundang-undangan untuk

memberikan rekomendasi pembentukan, perubahan, dan pencabutan

peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak asasi manusia

(HAM

c. Penerbitan hasil pengkajian dan penelitian

d. Studi kepustakaan, studi lapangan, dan studi banding di negara lain

mengenai hak asasi manusia (HAM)

e. Pembahasan berbagai masalah yang berkaitan dengan perlindungan,

penegakan dan pemajuan hak asasi manusia.

f. Kerja sama pengkajian dan penelitian dengan organisasi, lembaga atau

pihak lainnya, baik tingkat nasional, regional maupu internasional dalam

bidang hak asasi manusia.

20
Dilihat17 dari uraian diatas penulis berpendapat bahwa fungsi dari Komnas

HAM belum terlaksana dengan maksimal, dilihat dari teori Friedman Dalam studi

ilmu hukum, kebanyakan orang terutama para sarjana hukum di Indonesia sangat

dipengaruhi oleh pandangan Lawrence Friedman tentang sistem hukum. Menurut

Laurence M. Friedman, sistem hukum mencakup tiga komponen atau sub-sistem,

yaitu komponen struktur, substansi hukum, dan budaya hukum. Secara sederhana,

teori Friedmann itu memang sulit dibantah kebenarannya. Namun, kurang disadari

bahwa teori Friedman tersebut sebenarnya didasarkan atas perspektifnya yang

bersifat sosiologis (sociological jurisprudence). Yang hendak diuraikannya dengan

teori tiga sub-sistem struktur, substansi, dan kultur hukum itu tidak lain adalah

bahwa basis semua aspek dalam sistem hukum itu adalah budaya hukum.

Sistem hukum bila ditinjau dari strukturnya, lebih mengarah pada lembaga-

lembaga (pranata-pranata), seperti legislatif, eksekutif, dan yudikatif, bagaimana

lembaga tersebut menjalankan fungsinya. Struktur berarti juga berapa anggota

yang duduk sebagai anggota legislatif, apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan

presiden, bagaimana aparat penegak hukum menjalankan tugasnya dan lainnya.

Dengan kata lain sistem struktural yang menentukan bisa atau tidaknya hukum

dilaksanakan dengan baik.Bila ditinjau dari dari substansinya, sistem hukum

diarahkan pada pengertian mengenai ketentuan yang mengatur tingkah laku

manusia, yaitu peraturan, norma-norma dan pola perilaku masyarakat dalam suatu

sistem. Dengan demikian, substansi hukum itu pada hakikatnya mencakup semua

peraturan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis, seperti keputusan pengadilan

17 fidianurulmaulidah.wordpress.com

21
yang dapat menjadi peraturan baru ataupun hukum baru, hukum materiil (hukum

substantif), hukum formiL, dan hukum adat.

Dengan kata lain substansi juga menyangkut hukum yang hidup (living law),

dan bukan hanya aturan yang ada dalam undang-undang (law in

books).Sedangkan bila ditinjau dari budaya hukum, lebih mengarah pada sikap

masyarakat, kepercayaan masyarakat, nilai-nilai yang dianut masyarakat dan ide-

ide atau pengharapan mereka terhadap hukum dan sistem hukum. Dalam hal ini

kultur hukum merupakan gambaran dari sikap dan perilaku terhadap hukum, serta

keseluruhan faktor-faktor yang menentukan bagaimana sistem hukum

memperoleh tempat yang sesuai dan dapat diterima oleh warga masyarakat dalam

kerangka budaya masyarakat. Semakin tinggi kesadaran hukum masyarakat, maka

akan tercipta budaya hukum yang baik dan dapat merubah pola pikir masyarakat

selama ini. Secara sederhana tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum,

merupakan salah satu indikator berfungsinya hukum.

22
BAB IV PENUTUP

A Kesimpulan

F. Saran

23
DAFTAR PUSTAKA

24