Anda di halaman 1dari 26

IMPLEMENTASI UNDANG UNDANG NOMOR 8

TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN


KONSUMEN TERHADAP PEREDARAN
PRODUK MAKANAN KADALUARSA

Dosen Pengampu : Lia Fadjriani, S.H., M.H.

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Hukum

Disusun Oleh :
Elizabeth Alfa
NPM 31114113

Fakultas Hukum
Universitas Batam
2017
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

penyusunan makalah Mata Kuliah Metodologi Penelitian Hukum dengan judul

Implementasi Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan

Konsumen Terhadap Peredaran Produk Makanan Kadaluarsa dapat penulis

selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Dosen Mata Kuliah

Tersebut.

Makalah ini merupakan tugas perkuliahan Hukum Perkawinan pada Jurusan

Ilmu Hukum Universitas Batam Tahun Akademik 2015 / 2016.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Lia Fadjriani, S.H., M.H. selaku Dosen Mata Kuliah Metodologi
Penelitian Hukum
2. Keluarga yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materiil
3. Semua rekan-rekan Jurusan Ilmu Hukum
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah

ini, oleh sebab itu sumbangan pemikiran yang bersifat koreksi untuk

penyempurnaannya sangat di harapkan, akhirnya penulis mengharapkan semoga

makalah ini dapat bermamfaat dalam menunjang pelaksanaan perkuliahan yang

sedang kita laksanakan bersama.

Batam, Januari 2017

Penulis

i
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................1
1.1. Latar Belakang Penelitian..............................................................1
1.2. Identifikasi Masalah.......................................................................7
1.3. Pembatasan Masalah......................................................................7
1.4. Perumusan Masalah........................................................................7
1.5. Tujuan Penelitian............................................................................8
1.6. Manfaat Penelitian..........................................................................8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................9
2.1. Teori Dasar.....................................................................................9
2.1.1. Teori Perlindungan Hukum........................................................9
2.1.2. Perlindungan Konsumen..........................................................10
2.1.3. Pengertian Konsumen..............................................................11
2.1.4. Pengertian Pelaku Usaha..........................................................14
2.1.5. Pengertian Tentang Obat dan Makanan...................................16
2.1.6. Pengertian Tentang Produk Obat dan Makanan.......................16
2.1.7. Badan Pengawas Obat dan Makanan.......................................16
2.2. Penelitian Terdahulu.....................................................................18
2.3. Kerangka Pemikiran.....................................................................19
BAB III METODE PENELITIAN...............................................................20
3.1. Jenis Penelitian.............................................................................20
3.2. Sumber Data.................................................................................21
3.3. Metode Pengumpulan Data..........................................................22
3.4. Alat Pengumpulan Data................................................................23
3.5. Metode Analisis Data...................................................................24
3.6. Lokasi Penelitian..........................................................................24
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Negaranegara yang sekarang ini disebut Negaranegara maju telah


menempuh pembangunannya melalui melalui tiga tingkat: unifikasi,
industrialisasi, dan Negara kesejahteraan. Pada tingkat pertama yang menjadi
masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan
persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan
ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas Negara yang
terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industriliasi, membetulkan
kesalahan ada tahap - tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan
masyarakat (Kristiyanti, 2008: 3).
Tugas Negara untuk melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, ini
merupakan ciri utama dari ajaran welfare state. Dalam ajaran welfare state Negara
dan pemerintah terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat,
sebagai langkah untuuk mewujudkan kesejahteraan umum, disamping menjaga
ketertiban dan keamanan (rust en orde) (Ridwan, 2014: 15). Keaktifan Negara dan
pemerintah ini ditunjukkan dengan dibuatnya regulasi untuk menjaga
kesejahteraan umum. Keterlibatan Negara dalam kehidupan sosial ekonomi
masyarakatnya bukan berarti Negara terlalu jauh mencampuri kehidupan sosial
masyarakatnya.
Ini menunjukkan bahwa tugas pemerintah tidaklah semata-mata hanya di
bidang pemerintahan saja, melainkan harus juga melaksanakan kesejahteraan
sosial dalam rangka mencapai tujuan yang dijalankan melalui pembangunan
nasional. Secara konstitusional, terdapat kewajiban Negara dan pemerintah untuk
mengatur dan mengelola perekonomian, cabang-cabang produksi, dan kekayaan
alam yadalam rangka mewujudkan kesejateraan sosial, memelihara fakir miskin
dan anak-anak terlantar, serta memberikan jaminan sosial dan kesehatan bagi

1
2

warga Negara, seperti yang ditentukan dalam Bab XIV Pasal 33 dan 34 Undang
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD
NRI 1945).
Sumber modal untuk melaksanakan pembangunan adalah masyarakat yang
menjadi warga dari bangsa/ Negara itu melalui penerimaan pajak dan investasi.
Penerimaan pajak dan investasi tentunya berkaitan dengan pendapatan perkapita.
Dengan pendapatan perkapita yang yang memadai, orang akan mampu membayar
pajak dan masih menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Tabungan
ada jika orang ada dapat menyisihkan sebagian dari penghasilannya dan dapat
menghemat pengeluarannya, terutama dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak
perlu atau pengeluaran-pengeluaran yang seharusnya tidak perlu terjadi. Dalam
kaitan ini konsumen perlu dilindungi sehingga konsumen tidak menanggung biaya
atau pengeluaran yang seharusnya tidak perlu ada, jika kebutuhannya terpenuhi
secara baik melalui penyedian barang dan jasa yang berkualitas.
Arus industrialisasi dan globalisasi yang terjadi dewasa ini tidak hanya
meliputi di satu bidang akan tetapi telah merambat ke semua bidang kehidupan.
Globalisasi yang merupakan gerakan perluasan pasar menyebabkan
berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia. Ditambah dengan
era pasar bebas dimana peredaran barang dan jasa semakin tinggi menyebabkan
kesenjangan antara Negara maju dan Negara pinggiran pada akhirnya membawa
akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka (Kristiyanti,
2008: 3). Globalisasi dan pasar bebas memberikan dampak yang signifikan dalam
kehidupan masyarakat, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Hidup bermasyarakat adalah bercampur dan bergaul dengan sesamanya
untuk dapat memenuhi segala kebutuhan agar dapat hidup layak sebagai manusia.
Dalam hidup bermasyarakat yang pending adalah sesama manusia melakukan
kerja sama yang positif sehingga kerja sama itu secara konkret dapat membawa
keuntungan yang besar artinya bagi kehidupan anggota masyarakat tersebut
(Arrasjid, 2008: 1).
Globalisasi dan perdagangan bebas yang yang didukung oleh kemajuan
teknologi telekomunikasi dan informatika telah memperluas ruang gerak arus
3

transaksi barang dan atau jasa melintasi batas batas wilayah suatu Negara,
sehingga barang dan atau jasa yang ditawarkan bervariasi baik produksi luar
negeri maupun produksi dalam negeri (Sadar dkk, 2012: 1).
Dalam kehidupan sehari hari produk barang dan jasa yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga
timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen
(Kristiyanti, 2008: 3). Hal ini menjadikan Perlindungan konsumen dalam era
pasar global menjadi sangat penting karena konsumen sebagai pengguna dari
suatu produk haruslah dilindungi hak hak terutama hak mendapatkan
kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
sebagaimana terdapat pada Pasal 4 (empat) butir (a) Undang Undang Nomor 8
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut Undang Undang
Perlindungan Konsumen). Hak atas keamanan dan keselamatan ini dimaksudkan
untuk menjamin keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang
atau jasa yang diperolehnya sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian
(fisik maupun psikis) apabila mengkonsumsi suatu produk (Atom, 2014: 1).
Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal
makin terasa sangat penting, mengingat semakin lajunya ilmu pengetahuan dan
teknologi yang merupakn motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi
prodesen atas barang atau jasa yang dihasilkannya dalam rangka mencapai sasaran
usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut, akhirnya baik
langsung maupun tidak langsung, konsumenlah yang pada umumnya akan
merasakan dampaknya. Dengan demikian, upaya upaya untuk memberikan
perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu
hal yang penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya, terutama di
Indonesia, mengingat sedemikian kompleksnya permasalahn yang menyangkut
perlindungan konsumen, lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang
akan datang.
Konsumen juga disebut sebagai pemakai kata pemakai ini menekankan
bahwa konsumen adalah sebagai konsumen akhir (Ultimate Consumer). Istilah
pemakai dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut
4

sekaligus menunjukkan bahwa barang dan/atau jasa yang dipakai tidak secara
langsung merupakan hasil dari transaksi jual beli. Artinya, yang diartikan sebagai
konsumen tidak selalu memberikan prestasinya dengan cara membayar uang
untuk memperoleh barang dan/atau jasa itu. Dengan kata lain, dasar hubungan
hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak harus kontraktual (The Privity Of
Contract).
Akan tetapi, kedudukan konsumen yang sangat awam terhadap barang-
barang yang dikonsumsinya dan adanya kesulitan untuk meneliti sebelumnya
mengenai keamanan dan keselamatan di dalam mengkonsumsi barang tersebut.
Kondisi dan fenomena tersebut dapat mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan
konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen selalu berada pada posisi yang
lemah. Untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen maka perlu
ditingkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian
konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku
usaha yang bertanggung jawab. Maka kewajiban untuk menjamin keamanan suatu
produk agar tidak menimbulkan kerugian bagi konsumen dibebankan kepada
produsen dan pelaku usaha, karena pihak produsen dan pelaku usahalah yang
mengetahui komposisi dan masalah-masalah yang menyangkut keamanan suatu
produk tertentu dan keselamatan di dalam mengkonsumsi produk tersebut.
Kerugian-kerugian yang diderita oleh konsumen merupakan akibat kurangnya
tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen (Shidarta, 2004: 6).
Dibentuknya Undang Undang Perlindungan Konsumen yang adalah
ketentuan hukum untuk melindungi konsumen dari kecurangan-kecurangan
pelaku usaha. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena
lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen (Kristiyanti, 2008:
10).Hal ini ditujukan untuk mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan
konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang sehat.
Piranti hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan untuk
mematikan usaha para pelaku usaha, tetapi justru sebaliknya perlindungan
konsumen dapat mendorong iklim perusahaan yang tangguh dalam menghadapi
persaingan melalui penyediaan barang dan atau jasa yang berkualitas. Pelaksanaan
5

Undang-undang Perlindungan konsumen tetap memberikan perhatian khusus


kepada pelaku usaha kecil dan menengah.
Selain hal diatas terbitnya Undang-undang tersebut maka diharapkan kepada
para pelaku bisnis untuk melakukan peningkatan dan pelayanan sehingga
konsumen tidak merasa dirugikan. Yang penting dalam hal ini adalah bagaimana
sikap produsen agar memberikan hak-hak konsumen yang seyogianya pantas
diperoleh. Di samping agar konsumen juga menyadari apa yang menjadi
kewajibannya. Di sini dimaksudkan agar kedua belah pihak saling memperhatikan
hak dan kewajibannya masing-masing. Apa yang menjadi hak konsumen
merupakan kewajiban bagi produsen. Sebaliknya apa yang menjadi kewajiban
konsumen merupakan hak bagi produsen. Dengan saling menghormati apa yang
menjadi hak maupun kewajiban masing-masing, maka akan terjadilah
keseimbangan . Dengan prinsip keseimbangan akan menyadarkan kepada setiap
pelaku bisnis agar segala aktivitasnya tidak hanya mementingkan dirinya sendiri,
namun juga harus memperhatikan kepentingan orang lain.
Masalah perlindungan konsumen tidak semata-mata masalah orang-
perorang, tetapi sebenarnya merupakan masalah bersama dan masalah nasional
sebab pada dasarnya semua orang adalah konsumen. Maka dari itu, melindungi
konsumen adalah melindungi semua orang. Karena itu, persoalan perlindungan
hukum kepada konsumen adalah masalah hukum nasional juga. Dengan demikian,
berbicara tentang perlindungan hukum kepada konsumen berarti kita berbicara
tentang keadilan bagi semua orang.
Saling ketergantungan karena kebutuhan dapat menciptakan suatu hubungan
yang terus menerus dan berkesinambungan sepanjang masa, sesuai dengan tingkat
ketergantungan dan kebutuhan yang tidak terputus-putus. Hubungan antara
produsen dan konsumen yang berkelanjutan terjadi sejak proses produksi,
distribusi padan pemasaran dan penawaran. Rangkaian kegiatan tersebut
merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai
akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak
maupun hanya terhadap pihak tertentu saja.
6

Akan tetapi hal tersebut dalam prakteknya masih banyak terdapat


pelanggaran terhadap hak tersebut. sebagai salah satu contohnya adalah di salah
satu mini market di kota Batam masih menjual produk makanan yang tanggal
kadaluarsanya telah lewat. Bila melihat pada rumusan Pasal 4 butir (a) tersebut
sudah barang tentu konsumen merasa haknya dikesampingkan. Hal ini
dikarenakan adanya kelalaian oleh produsen.
Seharusnya produk yang kadaluarsa tersebut ditarik dari pasaran karena
produk tersebut dinyatakan sebagai produk berbahaya sebagaimana dicantumkan
dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan (selanjutnya disebut Permenkes)
180/Men.Kes/Per/IV/1985 Makanan yang rusak, baik sebelum maupun sesudah
tanggal daluwarsa dinyatakan sebagai bahan berbahaya. Sehingga barang
tersebut seharusnya dilarang peredarannya sebagaimana tercantum dalam Pasal 21
butir (e) Undang Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan.
Selain itu di hampir setiap mini market pada nota (struck) pembayarannya
selalu dilampirkan klasusul baku yaitu Barang yang telah dibeli tidak dapat
dikembalikan. Padahal secara jelas dalam Undang Undang Perlindungan
Konsumen Pasal 18 Ayat (1) butir a yang berbunyi Pelaku usaha dalam
menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang
membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau
perjanjian apabila: Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan
kembali barang yang dibeli konsumen;. Hanya saja pelaku usaha seolah menutup
sebelah mata terhadap ketentuan yang tertera dalam Undang undang perlindungan
konsumen tersebut demi melegalkan cara untuk mencapai keuntungan secara
sepihak.

Dari contoh diatas dapat kita ketahui bahwa konsumen menjadi pihak yang
paling dirugikan. Selain konsumen harus membayar dalam jumlah atau harga
yang boleh dikatakan semakin lama semakin mahal, konsumen juga harus
menanggung resiko besar yang membahayakan kesehatan dan jiwanya. Hal yang
memprihatinkan adalah peningkatan harga yang terus menerus terjadi tidak
dilandasi dengan peningkatan kualitas atau mutu produk.
7

Hal inilah yang menjadi alasan penulis untuk memilih judul Implementasi
Pasal 4 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Terhadap Peredaran Produk Makanan Kadaluarsa (Studi Pada Balai Pengawas
Obat Dan Makanan Kota Batam).

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat di identifikasikan
masalah sebagai berikut :
1. Banyaknya Produk Makanan yang masih beredar walaupun telah melewati
tanggal kadaluarsa
2. Masih kurangnya Peran BPOM dalam pengawasan peredaran Produk Makanan.
3. Belum adanya pasal dalam Undang Undang Perlindungan Konsumen yang
secara tegas mengatur mengenai sanksi terhadap peredaran produk makanan
kadaluarsa

1.3. Pembatasan Masalah


Pembatasan permasalahan pada penelitian ini adalah :
1. Penelitian ini hanya membahas perlindungan konsumen pada produk makanan
2. Penelitian ini hanya menitik beratkan pada implementasi Pasal 4 butir a
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
3. Penelitian ini dilakukan pada BPOM kota Batam

1.4. Perumusan Masalah


Perumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang diatas adalah :
1. Bagaimana implementasi pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen terhadap produk makanan yang kadaluarsa ?
2. Bagaimana Peran BPOM Kota Batam terhadap peredaran produk makanan
yang kadaluarsa ?

1.5. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah :
8

1. Untuk mengetahui implementasi pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun


1999 tentang Perlindungan Konsumen terhadap produk makanan yang
kadaluarsa
2. Untuk mengetahui Peran BPOM Kota Batam dalam mengatasi peredaran
produk makanan yang kadaluarsa

1.6. Manfaat Penelitian


Sesuai dengan tujuan tersebut diatas, maka diharapkan agar penelitian ini
dapat membawa kegunaan sebagai berikut :
1. Teoritis, bahwa hasil penelitian ini dapat sumbangan pengetahuan dalam
mempelajari Hukum Perlindungan Konsumen pada khususnya dan Hukum
Perdata pada umumnya
2. Praktis, bahwa hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan bagi BPOM dan
pembaca
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Dasar


2.1.1. Teori Perlindungan Hukum

Menurut Philipus M. Hadjon (1987 : 3) bahwa Perlindungan Hukum adalah


perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi
manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari
kesewenangan. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan
perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak
terpenuhinya hak-hak tersebut.
Untuk memberikan perlindungan hukum tersebut dibutuhkan sarana. Sarana
perlindungan hukum dibagi menjadi 2 yaitu :
2.1.1.1.Sarana Perlindungan Preventif
Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan
kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu
keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya sengketa.
Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi tindak
pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan adanya
perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati
dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi. Di indonesia belum
ada pengaturan khusus mengenai perlindungan hukum preventif
(Tesisihukum.com :2014).

2.1.1.2.Sarana Perlindungan Represif


Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.
Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan Peradilan
Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini. Prinsip
perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari

9
10

konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia


karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-
pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah.
Prinsip kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak
pemerintahan adalah prinsip negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan
terhadap hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan
dengan tujuan dari negara hukum.

2.1.2. Perlindungan Konsumen


Dalam Pasal 1 angka 1 Undang Undang Perlindungan Konsumen
disebutkan : Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya
kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
Dalam Undang Undang Perlindungan Konsumen Pasal 3, disebutkan bahwa
tujuan perlindungan konsumen adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;
2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya
dari ekses negatif pemakaian barang dan / atau jasa;
3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan
informasi;
5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam
berusaha;
6. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang, menjamin kelangsungan
usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan konsumen.
11

2.1.2.1.Asas Perlindungan Konsumen


Berdasarkan Undang Undang Perlindungan Konsumen pasal 2, ada lima
asas perlindungan konsumen.
a. Asas manfaat
Maksud asas ini adalah untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi kepentingankonsumen dan pelau usaha secara keseluruhan.
b. Asas keadilan
Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bias diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk
memperoleh haknyadan melaksanakan kewajibannya secara adil.
c. Asas keseimbangan
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan
konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti material maupun spiritual.
d. Asas keamanan dan keselamatan konsumen
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan
keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan
barang/jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
e. Asas kepastian hukum
Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati
hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen, serta Negara menjamin kepastian hukum.

2.1.3. Pengertian Konsumen


Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (Inggris
Amerika), atau consument/konsument (Belanda). Pengertian dari consumer atau
consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada (kristiyanti,2014:22).
Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang
menggunakan barang. Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan
termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. Begitu pula Kamus
12

Bahasa Inggris - Indonesia memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau
konsumen.
Menurut Pasal 1 Angka 2 Undang undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Kosumen, yang dimaksud dengan konsumen adalah setiap orang
pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi
kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan
tidak untuk diperdagangkan.
Sedangkan di dalam penjelasan Pasal 1 Angka 2 disebutkan bahwa di dalam
kepustakaan ekonomi dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen antara.
Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk,
sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk
sebagai bagian dari proses produksi atau produk lainnya. Pengertian konsumen
dalam Undang undang ini adalah konsumen akhir.
Melihat dari penjelasan tersebut diatas terdapat beberapa pengertian dari
konsumen itu sendiri. Bila dilihat dalam naskah naskah akademik dan / atau
berbagai naskah pembahasan rancangan peraturan perundang undangan, cukup
banyak dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup
perlindungan konsumen (Kristiyanti, 2014:23).
Menurut Shidarta, konsumen dapat juga diartikan setiap orang pemakai
barang dan/jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan. Masyarakat umum mengartikan konsumen sebagai pembeli,
penyewa, nasabah dari suatu lembaga jasa perbankan/asuransi, penumpang dari
angkutan kota, pelanggan suatu perusahaan, dan masih banyak lagi lainnya.
Pengertian yang diberikan oleh masyarakat tersebut tidaklah salah, sebab
secara yuridis dalam hukum positif Indonesia terdapat subyek hukum yang
dianggap sebagai konsumen. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata
digunakan istilah pembeli (Pasal 1457 dst), penyewa (Pasal 1548 dst), peminjam
pakai (Pasal 1470 dst) dan lain sebagainya. Semuanya memang dimaksudkan
sebagai konsumen, pengguna barang dan jasa, namun tidak jelas apakah
konsumen antara ataukah konsumen akhir.
13

Berdasarkan pengertian konsumen yang ada, maka secara umum


konsumen dapat diartikan secara luas maupun sempit. Secara luas, konsumen
mencakup semua pemakai barang dan atau jasa, yang berarti pengertian ini tidak
dibatasi apakah penggunaan barang dan atau jasa tersebut hanya untuk memenuhi
kebutuhannya atau untuk didistribusikan lagi kepada orang lain. Sedangkan secara
sempit, pengertian konsumen mengacu pada konsumen akhir.

2.1.3.1.Hak dan Kewajiban Konsumen


Sebenarnya, hak dasar konsumen yang sudah berlaku secara universal
adalah terdiri dari 4 (empat) macam, yaitu sebagai berikut (Fuandy, 2012:228) :
a. Hak atas keamanan dan kesehatan
b. Hak atas informasi yang jujur
c. Hak pilih
d. Hak untuk didengar
Empat hak dasar diatas diakui secara internasional. Dalam
perkembangannya, organisasi organisasi internasional konsumen yang
tergabung dalam The International Organization of Consumer Union (IOCU)
menambahkan lagi beberapa hak, seperti hak mendapatkan perlindungan
konsumen, hak mendapatkan ganti kerugian, dan hak mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat (Kristiyanti, 2014:31).
Hak konsumen menurut Pasal 4 UU Perlindungan Konsumen :
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa
b. Hak untuk memilih dan mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai dengan nilai
tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
dipergunakan
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif
14

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila


barang dan/atau jasa yang diterima tidak sebagaimana mestinya 9) Hak-hak
yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
Disamping hak hak yang disebutkan dalam UU Perlindungan Konsumen
diatas, pembuat Undang undang juga mengantisipasi mengenai persaingan curang
sebagaimana diatur pada pasal 382 bis Kitab Undang undang Hukum Pidana
bahkan membuat Undang undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat guna mengantisipasi adanya
perebutan konsumen.
Kewajiban konsumen menurut Pasal 5 UU Perlindungan Konsumen:
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut

2.1.4. Pengertian Pelaku Usaha


Pasal 1 angka 3 Undang Undang Perlindungan Konsumen menyebutkan
bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik
Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.

2.1.4.1.Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha


Seperti halnya konsumen, pelaku usaha juga memiliki hak dan kewajiban.
Hak pelaku usaha sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Undang Undang
Perlindungan Konsumen adalah:
15

a. Hak menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi


dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
b. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad tidak baik.
c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian
hukum sengketa konsumen.
d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa
kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan
e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Kewajiban Pelaku Usaha diatur dalam Pasal 7 Undang undang
Perlindungan Konsumen, yaitu :
a. Beritikad baik dalam kegiatan usahanya
b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberikan penjelasan, penggunaan,
perbaikan dan pemeliharaan
c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif
d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu dan/atau jasa yang
berlaku
e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba
barang dan/atau jasa yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan
f. Memberi kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan.
g. Memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian bila barang dan/atau
jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

2.1.5. Pengertian Tentang Obat dan Makanan


Obat adalah bahan atau zat yang berasal dari tumbuhan, hewan,mineral
maupun zat kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit,
memperlambat proses penyakit dan atau menyembuhkan penyakit.
16

Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan maupun tumbuhan dan
dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan dana tenaga nutrisi. Makanan
dibutuhkan manusia biasanya dibuat melalui bertani atau berkebun yang meliputi
sumber hewan dan tumbuhan.

2.1.6. Pengertian Tentang Produk Obat dan Makanan


Dalam pengertian luas, produk ialah segala barang dan jasa yang dihasilkan
oleh suatu proses sehingga produk berkaitan erat dengan teknologi. Menurut Pasal
1 angka 4 Undang Undang Perlindungan Konsumen bahwa : Barang adalah
setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak
bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk
diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen.

2.1.7. Badan Pengawas Obat dan Makanan


Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat BPOM adalah sebuah
lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan
makanan di Indonesia. BPOM adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen
(LPND) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000
jo Nomor 103 Tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan,
susunan organisasi dan tata kerja lembaga pemerintah non departeman. Untuk
melaksanakan tugas pengawasan tersebut, BPOM membentuk Balai Besar POM
di setiap provinsi.

2.1.7.1.Tugas Badan Pengawas Obat dan Makanan


Berdasarkan pasal 68 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, Dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen Tugas Badan Pengawasan Obat dan
Makanan adalah :
a. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan obat
dan makanan;
b. pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan obat dan makanan;
17

c. koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPOM;


d. pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan
instansi pemerintah dan masyarakat di bidang pengawasan obat dan
makanan;
e. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang
perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana,
kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan
rumah tangga.

2.1.7.2.Wewenang Badan Pengawas Obat dan Makanan


Berdasarkan pasal 69 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, Dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen, Wewenang Badan Pengawasan Obat dan
Makanan adalah :
a. penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;
b. perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan
secara makro;
c. penetapan sistem informasi di bidangnya;
d. penetapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu
untuk makanan dan penetapan pedoman pengawasan peredaran obat dan
makanan;
e. pemberian izin dan pengawasan peredaran obat serta pengawasan industri
farmasi;
f. penetapan pedoman penggunaan konservasi, pengembangan dan
pengawasan tanaman obat.

2.2. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu yang juga membahas tentang perlindungan


Konsumen diantaranya:
Skripsi Vicky F. Taroreh dengan judul Kajian Hukum Perlindungan
Konsumen Terhadap Produk Pangan Kadaluarsa dengan rumusan masalah adalah
Bagaimana pengaturan produk pangan yang kadaluarsa dalam kaitannya dengan
18

perlindungan konsumen dan Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap


konsumen yang menggunakan produk pangan kadaluarsa.
Dengan melihat rumusan masalah tersebut maka dapat diketahui mengenai
perbedaan mendasar antara penelitian yang akan penulis angkat yaitu
Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Terkait dengan Produk Makanan
Kadaluarsa. Sementara Skripsi diatas membicarakan mengenai Kajian Hukum
Perlindungan Konsumen Terhadap Produk Pangan Kadaluarsa.

Tugas dan wewenang


BPOM
Tugas
1. Mengkaji
2.3. dan
Kerangka Pemikiran
Menyusun kebijakan
Nasional
2. Pelaksanaan
Kebijakan
3. Hak
Koordinasi kegiatan
Hak Konsumen
4. Pemantauan
1. Hak Mendapat
5. Pembinaan
Informasi
Wewenang
2. Hak Keaman dan Peredaran Produk
1. Menyusun
kenyamanan rencana Makanan Kadaluarsa
3. nasional
Hak memilih
2.
4. Perumusan
Hak kebijakan
didengar
3. Penetapan
pendapat sistem
informasi
4. Penetapan persyaratan
penggunaan bahan
tambahan
5. Pemberian izin
6. konservasi
Konsumen
terlindungi
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian yuridis empiris yaitu cara atau prosedur
yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian dengan meneliti data
sekunder terlebih dahulu untuk kemudian meneliti data primer yang ada di
lapangan.
Aspek yuridis dalam penelitian hukum ini melingkupi ilmu hukum
perlindungan konsumen dan dimulai dengan mengkaji peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan penelitian, yaitu:
a. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
b. Undang Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan
c. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
d. Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelengaraan Perlindungan Konsumen
e. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintah Non Departemen (LPND)
f. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor
05018/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Sedangkan aspek empirisnya adalah usaha-usaha nyata dari BPOM Batam
sebagai wujud perlindungan konsumen dari peredaran produk makanan
kadaluarsa. Sebagai perwujudan ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam
peraturan-peraturan yang telah disebutkan di atas. Aspek-aspek empiris tersebut
juga meliputi hambatan-hambatan yang dihadapi oleh BPOM Batam dalam
menghadapi permasalahan tersebut, serta bagaimana cara pemecahan masalah
tersebut.

20
21

3.2. Sumber Data

Untuk memperoleh data yang akurat dan objektif, maka dalam penelitian ini
sumber data yang digunakan yaitu, data primer dan data sekunder
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama
(Soekanto, 2010: 12). Dalam penelitian ini yaitu data yang diperoleh langsung
dari lapangan. Pengumpulan data primer pada penelitian ini dilakukan melalui
wawancara. Wawancara adalah cara untuk memperoleh informasi dengan
bertanya langsung pada yang diwawancarai.
Teknik wawancara yang dilakukan adalah wawancara terarah. Dalam
wawancara terarah ini dipergunakan daftar pertanyaan yang dipersiapkan terlebih
dahulu. Dengan mempersiapkan daftar pertanyaan diharapkan wawancara dapat
dilakukan dengan lebih menghemat waktu. Wawancara dalam penelitain ini
dilakukan langsung kepada responden.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan, yaitu mempelajari
literatur karangan para ahli hukum dan peraturan perundang-undangan yang
berhubungan dengan objek dan permasalahan yang diteliti (Soekanto, 2010: 12).
Data sekunder dalam penelitain ini meliputi:
1) Bahan Hukum Primer
Bahan-bahan hukum yang melindungi kekuatan mengikat (Sunggono,
2012: 113). Adapun yang digunakan sebagai bahan hukum primer yang
berhubungan dengan permasalahan penelitian ini yang berupa berbagai
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengawasan Balai
Besar POM dan perlindungan konsumen yaitu:
a) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
b) Undang Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan
c) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
22

d) Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan


Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.
e) Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departeman (LPND).
f) Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor
05018/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan
Makanan.
2) Bahan Hukum Sekunder
Bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan-bahan hukum primer
(Sunggono, 2012: 114) dan dapat membantu menganalisis dan memahami
bahan hukum primer, misalnya :
a) Kepustakaan yang berhubungan dengan perlindungan konsumen
b) Bahan-bahan karya para sarjana
3) Bahan Hukum Tersier
Bahan bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan
sekunder (Sunggono, 2012: 114), misalnya :
a) Kamus Hukum
b)Kamus Besar Bahasa Indonesia
Data-data yang diperoleh tersebut selanjutnya merupakan landasan teori
dalam melakukan analisis data serta pembahasan masalah. Data sekunder ini
diperlukan untuk lebih melengkapi data primer yang diperoleh melalui penelitian
lapangan.

3.3.Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis guna melengkapi yang


dibutuhkan, maka penulis melakukan teknik pengumpulan data yang diperlukan
sebagai berikut:
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian untuk
23

memperoleh data sekunder dengan cara mencari dan mempelajari serta


menelah buku-buku yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
Studi ini dilakukan untuk memperoleh sebanyak mungkin data dan dasar teori
yang dapat digunakan sebagai pedoman landasan berpikir dalam pembahasan
masalah.
2. Penelitian Lapangan (field Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan
mengadakan penelitian langsung terhadap perusahaan yang menjadi objek
penelitian dengan cara:
a. Observasi, merupakan penelitian secara langsung terhadap objek
penelitian guna memperoleh data dan informasi yang diperlukan.
b. Wawancara, merupakan pengumpulan data yang diperoleh dengan cara
melakukan tanya jawab langsung maupun tidak langsung dengan
memberikan daftar draft pernyataan dan ditanda tangani oleh nara sumber
yang dianggap kompeten dan akan memberikan data akurat dan benar.
c. Dokumentasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan cara
mengumpulkan dan menganalisa data-data penting tentang produk produk
makanan yang kadaluarsa.

3.4. Alat Pengumpulan Data


Adapun alat penggumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah
1. Lembar check list
2. Lembar Daftar pertanyaan
3. Kamera
4. Alat perekam suara
24

3.5. Metode Analisis Data


Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan
cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan
yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2012: 244).
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif
data yang diperoleh adalah data deskriptif, yaitu apa yang telah diteliti dan
dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Dengan menganalisis data yang telah
terkumpul tersebut kemudian diuraikan dan dihubungkan antara data yang satu
dengan data yang lainnya secara sistematis, untuk selanjutnya data tersebut
disusun dan disajikan dalam bentuk penulisan hukum. Dalam metode kualitatif
tidak perlu diperhitungkan data dari kemampuannya mewakili keadaan yang nyata
dalam kehidupan sehari-hari.

3.6. Lokasi Penelitian


Lokasi Penelitian dilakukan di Balai Pengawas Obat dan Makanan Kota
Batam yang terletak di Komplek Citramas Indah Blok E28, Jln, Hang Jebat Kel.
Batu Besar Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.