Anda di halaman 1dari 5

Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.

) Steenis) merupakan jenis tanaman obat


yang saat ini sangat potensial untuk dikembangkan. Binahong dipercaya memiliki khasiat untuk
membantu pengobatan luka, tipus, maag, radang usus, ambeien, pembengkakan, pembekuan
darah, rematik, luka memar, asam urat, stroke, dan diabetes melitus (Utami dan Desty, 2013).
Hasil penelitian Rahmawati et al., (2014), sari daun binahong memiliki aktivitas antibakteri yang
mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif yaitu Bacillus cereus dan bakteri Gram
negatif yaitu Salmonella enteritidis.
Menurut Rachmawati, (2008) dalam Ekaviantiwi et al., (2013), kandungan metabolit
sekunder daun binahong, yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, steroid, triterpenoid, saponin, dan
minyak atsiri. Berdasarkan hasil uji fitokimia batang binahong mengadung senyawa polifenol,
flavonoid, dan saponin (Kumalasari dan Nanik, 2011). Senyawa ini diduga memberikan
konstribusi dalam aktivitas antimikroba. Menurut penelitian Sugiyarto dan Paramita, (2014),
kadar flavonoid total sampel kalus daun binahong bertekstur kompak diperoleh 0,0019%, sampel
kalus remah sekitar 0,0017%, dan sampel daun sekitar 0,015%.
Metabolit sekunder dapat diekstrak dari simplisia segar tanaman atau kalus melalui kultur
jaringan tanaman. Kultur jaringan tanaman terdiri dari sejumlah teknik untuk menumbuhkan
organ, jaringan dan sel tanaman (Wetter dan Constabel, 1991). Kultur kalus dapat memproduksi
metabolisme sekunder yang lebih beraneka ragam.
Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan untuk menginduksi kalus ialah auksin dan
sitokinin. Kombinasi zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam medium merupakan
faktor utama penentu keberhasilan kultur in vitro. Penambahan 2,4-D dalam media akan
merangsang pembelahan dan pembesaran sel pada eksplan sehingga memacu pembentukan dan
pertumbuhan kalus serta meningkatkan senyawa kimia alami flavonoid (Rahayu et al., 2003).
BAP memiliki struktur yang mirip dengan kinetin, aktif dalam pertumbuhan dan poliferasi kalus
(Sari et al., 2013). Hasil penelitian Rosyidah et al., (2014), menyatakan bahwa kombinasi
konsentrasi 1 mg/l 2,4-D dan 1 mg/ 1 BAP berpengaruh terhadap waktu induksi kalus daun
tanaman melati (Jasminum sambac) secara in vitro, menghasilkan pertumbuhan kalus yang
optimal yaitu waktu induksi kalus pada hari ke-6. Menurut penelitian Syahid et al., (2010),
kombinasi perlakuan 2,4-D 0,3 mg/l + BA 0,1 mg/l merupakan perlakuan terbaik yang dapat
menghasilkan struktur kalus yang lebih remah.
Dalam prosesnya, keberhasilan kultur jaringan selain dikarenakan oleh kondisi
lingkungan yang terkendali juga ditentikan oleh media kultur. Media kultur merupakan salah
satu faktor penentu keberhasilan. Media kultur merupakan komponen faktor lingkungan yang
menyediakan unsure pertumbuhan tanaman seperti unsure hara makro, unsure hara mikro,
karbohidrat, vitamin dan zat pengatur tumbuh, param-garam organic, persenyawaan komplek
alamiah, arang aktif dan bahan pemadat (George and Sherington, 1984).
Media yang terlalu padat dapat mengakibatkan akar sukar tumbuh, sebab akar-akar sulit
untuk menembus ke dalam media. Sedangkan media yang terlalu lembek akan menyebabkan
kegagalan dalam pekerjaan. Kegagalan dapat berupa tenggelamnya eksplan yang ditanam,
terutama ekspaln yang berat seperti eksplan wartel, melinjo, eksplan bawang putih, eksplan
kedelai, dan lain sebagainya. Pemakaian media cair lebih ditekankan pada suspensi sel, yaitu
untuk menumbuhkan plb (protocorm like bodies atau disebut juga protokormus). Dari
protokarmus ini nantinya dapat tumbuh menjadi planlet apabila dipindahkan ke dala media padat
yang sesuai (Hendaryono dan Wijayani, 2007).
Media invitro yang biasa digunakan biasa berupa media padat sebab memiliki beberapa
keuntungan antara lain penggunaan eksplan terkecil akan lebih muda terlihat, eksplan berada di
atas permukaan media sehingga tidak perlu memerlukan alat Bantu untuk aerasi, tunas dan akar
akn lebih muda tumbuh pada media yang diam. Namun pada media cair juga terdapat beberapa
keuntungan yang tidak dimiliki pada media padat yaitu antara lain tidak memerlukan tambahan
bahan pemadat, tepat untuk proses kultur protoplasma maupun kultur sel, eksudat yang
dikeluarkan oleh eksplan tidak terakumulasi disekitar eksplan, kontak ekslan dengan media lebih
besar (George and Sherington, 1984).
Media kultur yang biasa digunakan adalah media dengan formulasi Murashige and Skoog
(MS). Media MS merupakan media dasar yang mempunyai formulasi yang sangat lengkap.
Komposisi media MS ini pada umumnya dapat digunakan pada hampir semua jenis tanaman
(Pierik,1987).
Teknik penanaman kultur jaringan sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan
tanaman yang sering disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium
pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril. dengan cara demikian sebaian sel pada
permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang
terbentuk dipindahkan kedalam medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman
kecil yang lengkap dan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan
kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalam jumlah
yang besar (Anonim,2009).
Eksplan yang telah ditanam, agar dapat tumbuh menjadi kalus dan kemudian menjadi
planlet, membutuhkan pemeliharaan yang rutin dan tepat. Artinya, eksplan atau kalus yang sudah
waktunya untuk dipindahkan ke dalam media tanam yang baru harus segera dilaksanakan, tidak
boleh sampai terlambat. Pemindahan yang terlambat dapat menyebabkan pertumbuahn eksplan
atau kalus dapat terhenti atau dapat mengalami brownig atau terkontaminasi oleh jamur atau
bakteri.Sebelum digunakan, enkas harus diterilisasi dengan menggunakan hand sprayer berisi
spirtus atau campuran formalin 10% dan alkohol 70%, dengan perbandinga 1:1. setelah
disemprot kemudian dibiarkan terlebih dahulu kurang lebih 10 menit, baru kemudian boleh
digunakan. Alat-alat dissecting set dan glass ware yang akan digunakan untuk kultur jaringan,
setelah dicuci dan dikeringkan kemudian dibungkus dengan kertas payung dan disterilisasi di
dalam autoklaf dengan suhu 121 oC, tekanan 15 lb, dan lama sterilsiasi 20-30 menit.Botol-botol
eksplan yang sudah berisi medium setelah ditutup dengan alumunium foil, kemudian
disterilisasi. Sterilisasi medium lebih sedikit waktunya dibandingkan dengan sterilisasi alat-alat,
yakni 15 menit, tetapi suhu dan tekannya sama (Hendra,2007).
Sterilisasi eksplan dilaksanakan dengan dua cara yaitu: a) Sterilisasi eksplan secara
Mekanis, Cara ini digunakan untuk eksplan yang keras atau berdaging, yaitu dengan membakar
eksplan tersebut di atas lampu spirtus sebanyak tiga kali.b) Sterilisasi Eksplan secara Kimiawi,
sterilisasi ini gunakan untuk eksplan yang lunak. Sterilisasi ini menggunakan bahan kimia.
Bahan-bahan yang digunakan untuk sterilisasi: Sodium hipoklorit, Mercuri chlorit, Alkohol
70% (Anonim,2008).
Menabur eksplan dilakukan di dalam Laminar Air Flow Cabinet dengan kondisi aseptik.
Sebelum kita bekerja di dalam laminar air flow cabinet, semua perhiasan tangan harus dilepas,
dan tangan dibasuh terlebih dahulu dengan alkohol 70%. Eksplan yang siap ditaman dipotng
dengan menggunakan scalpel di da lam cawan petri. Potongan eksplan dimasukan kedalam
erlenmeyer yang berisi media tumbuh, hingga permukaan yang teriris bersentuhan dengan
medium. Setelah semua pekerjaan menabur selesai, kemudian alat-alat yang sudah dipakai
dibersihkan (Wetherel,2008).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Proses Atau Skematis Kultur Jaringan. http://id.answers.yahoo.com.htm. Diakses


pada tanggal 7 Januari 2016.

Anonim. 2009. Teknik Kultur Jaringan http://www.bbpp-lembang.info.htm. Diakses pada


tanggal 7 Januari 2016.

Ekaviantiwi, Tyas Ayu, Enny Fachriyah, Dewi Kusrini. 2013. Indentifikasi Asam Fenolat Dari
Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Dan Uji Aktivitas
Antioksidan. Jurnal Chem Info 1(1).

George, E.F. & P.D. Sherrington. 1984 Plant propagation by tissue culture. Handbook and
directory of commercial laboratories. Exegetics Ltd., Basingstoke, England. 546 p.

Hendaryono dan Ir Ari Wijayani, 2007. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius, Yogyakarta.

Hendra, T. 2007. Kultur Jaringan. http://lelos66.blog.friendster.com.htm. Diakses Pada tanggal


22 Desember 2011 Rahardja, P.E. 1988. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman
Secara Modern.Panebar Swadaya.

Kumalasari, Eka dan Nanik Sulistyani. 2011. Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Batang
Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) Terhadap Candida albicans Serta
Skrining Fitokimia. Jurnal Ilmiah Kefarmasian 1(2).

Pierik, R.I. 1987. In vitro Culture oF Higher Plants. Netherlands: Martinus Martinus Nijhoff
Publishers.

Rahayu, Bekti Solichatun, dan Endang Anggarwulan. 2003. Pengaruh Asam 2,4-
Diklorofenoksiasetat (2,4-D) terhadap Pembentukan dan Pertumbuhan Kalus serta
Kandungan Flavonoid Kultur Kalus Acalypha indica L. Biofarmasi 1(1).
Rahmawati, Fahmi dan Siti Harnina Bintari. 2014. Studi Aktivitas Antibakteri Sari Daun
Binahong (Anredera cordifolia) Terhadap Pertumbuhan Bacillus cereus dan Salmonella
enteritidis. Unnes J Life Sci 3(2).

Rosyidah, Muchuriyah, Evie Ratnasari, dan Yuni Sri Rahayu. 2014. Induksi Kalus Daun Melati
(Jasminum sambac) dengan Penambahan Berbagai Konsentrasi Dichlorophenoxyacetic
Acid (2,4-D) dan 6-Benzylamino Purine pada Media MS secara In Vitro. LenteraBio
3(3).

Sari, Novita, Evie Ratnasari, Isnawati. 2013. Pengaruh Penambahan Berbagai Konsentrasi 2,4-
Dikhlorofenoksiasetat (2,4-D) dan 6- Bensil Aminopurin (BAP) pada Media MS terhadap
Tekstur dan Warna Kalus Eksplan Batang Jati (Tectona grandis Linn. F.) JUL.
LenteraBio 2(1):70.
Sugiyarto, Lili dan Paramita Cahyaningrum Kuswandi. 2014. Pengaruh 2,4-
Diklorofenoksiasetat (2,4-D) dan Benzyl Aminopurin (BAP) Terhadap Pertumbuhan
Kalus Daun Binahong (Anredera cordifolia L.) Serta Analisis Kandungan Flavonoid
Total. Jurnal Penelitian Saintek 19(1).

Syahid, Sitti Fatimah, Natalini Nova Kristin, dan Deliah Seswita. 2010. Pengaruh Komposisi
Media Terhadap Pertumbuhan Kalus dan Kadar Tannin Dari Daun Jati Belanda
(Guazuma ulmifolia Lamk) Secara In Vitro. Jurnal Litri Vol 16(1).

Utami, Prapti dan Desti Ervira Puspaningtyas. 2013. The Miracle Of Herb ( Daun, Umbi, Buah,
dan Batang Tanaman Ajaib Penakluk Aneka Penyakit. Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka.

Wetherel, D.F. 2008. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. Avery Publishing Group Inc. New
Jersey. Jakarta.
Wetter, L. R. dan F. Constabel. 1991. Metode Kultur Jaringan Tanaman Edisi Kedua. Bandung:
ITB.