Anda di halaman 1dari 207
I Cat ie Gia pt iW Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) SYAFI’I ANTONIO, Muhammad Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik / penulis, Muhammad Syafi'i Antonio ; penyunting Dadi M.H. Basri, Farida R. Dewi. --Cet. 1. ~Jakarta : Gema Insani Press, 2001. Xxvi, 256 hm. ; 24 cm. Bibliografi : him. 241 ISBN 979-561-688-9 1. Islam dan ekonomi. I. Judul. II, M.H. Basri, Dadi. III. Dewi, Farida R. Pasal2 (1) Hak cinta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara clomatis setelah suatu ciptaan dilhirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang beriaku. Pasal72 (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) ‘atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (salu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana peniara paling lama 7 (tujun) tahun ! w+). 66 6. Fatwa Lembaga-Lembaga Lain . 66 K. Dampak Negatif Riba 67 1, Dampak Ekonomi... 67 2. Sosial Kemasyarakatan 67 BAB V: RIBA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI 65 A. Pendahuluan... 68 stinence D. Bunga Sebagai Imbalan Sewa 70 E. Produktif-Konsumtif 71 E. Opportunity Cost 72 G. Teori Kemutlakan Produktivitas Modal 73 H. Teori Nilai Uang pada Masa Mendatang Lebih Rendah Dibanding Masa Sekarang...... 74 I. Inflasi.. 75 J. Bunga dan Egoisme Moral-Spiritual 77 K, Bunga dan Kepongahan Sosial-Budaya 77 L. Bunga dan Kezaliman Ekonomi 78 1. Pinjaman Kaum Dhu’afa 78 2. Monopoli Sumber Dana 78 3. Pinjaman Pemerintah . 79 M. Peringatan dari Imam ar-Razi 80 1. Merampas Kekayaan Orang Lain 2. Merusak Moralitas 4. Yang Kaya Semakin Kaya, yang Miskin Semakin Miskin..... 82 BAGIAN KETIGA: PRINSIP-PRINSIP DASAR PERBANKAN SYARIAH.. 8&3 BAB VI: PRINSIP TITIPAN ATAU SIMPANAN (DEPOSITORY/AL-WADI'AH).. 85 A, Pengertian al-Wadi'ah.. 85 B. Landasan Syariah 85 1. Al-Qur‘an...... 85 2. Al-Hadits 86 3. Ima... 86 C. Aplikasi Perbankan.... 87 BAB VII: BAGI HASIL (PROFIT-SHARING)... a A. Al-Musyarakah (Partnership, Project Financing Participation) ..... 90 P a sees 2. Pengertian al-Musyaraka\ 3. Landasan Syariah .. 4, Jenis-Jenis al-Musyarakah 91 5. Aplikasi dalam Perbankan 93 6. Manfaat al-Musyarakah 93 B, Al-Mudharabah (Trust Financing, Trust Investment) 95 1. Pengertian al-Mudharabal 95 2. Landasan Syariah . 95 3. Jenis-Jenis al-Mudharabah 97 4. Aplikasi dalam Perbankan 97 5. Manfaat al-Mudharabab i ttecttseecceetesssssttesssee 97 C. Al-Muzara‘ah (Harvest-Yield Profit Sharing) 99 1. Pengertian al-Muzara‘al 99 2. Landasan Syariah ... 99 D. Al-Musaqah (Plantation Management Fee Based on Certain Portion of Yield) 100 1, Pengertian al-Musaqah .. 100 2. Landasan Syariah .. 100 Bahan dengan hak cipta 101 101 BAB VIII: JUAL BELI (SALE AND PURCHASE)...... A. Bai’ Al-Murabahah (Deferred Payment Sale) 1. Pendahuluan ... . Pengertian Bai’ al-Murabahah .. . Landasan Syariah ... . Syarat Bai’ al-Murabahah . Beberapa Ketentuan Umum . . Aplikasi dalam Perbankan - Manfaat Bai’ al-Murabahah .. B. Bai’ as-Salam (In-front Payment Sale) 1. Pengertian Bai’ as-Salam . 2. Landasan Syariah 3. Rukun Bai’ as-Salam NOUN wN 108 108 108 109 4. Syarat Bai’ as-Salam .. 109 5. Salam Paralel .. 110 C. Bai’ al-Istishna’ (Purchase by Order or Manufacture) . 113 1. Pengertian Bai’ al-Istishna’ . 113 2. Landasan Syariah 114 3. Istishna’ Paralel 4. Contoh Kasus .. 115 116 BAB IX: SEWA (OPERATIONAL LEASE AND FINANCIAL LEASE) A. Al-ljarah (Operational 117 117 1. Pengertian al-Ijarah .. 117 2. Landasan Syariah 117 B, Al-Ijarah al-Muntahia bit-Tamiltk (Financial Lease with Purchase Option) .. 118 1. Pengertian al-ljarah al-Muntahia bit-Tamli 118 2. Bentuk al-Ijarah al-Muntahia bit-Tamlik, 3. Aplikasi dalam Perbankan 4. Manfaat dan Risiko yang Harus Diantisipasi 118 118 119 BAB X: JASA (FEE-BASED SERVICES) A. Al-Wakalah (Deputyship. 1. Pengertian al-Wakalah 2. Landasan Syariah B. Al-Kafalah (Guaranty, 1. Pengertian al-Kafalah . 120 120 120 120 123 Bahan dengan hak cipta 2. Landasan Syariah 124 3. Jenis al-Kajalah .... 124 C. Al-Hawalah (Transfer Service) .. 126 1. Pengertian al-Hawalah 126 2. Landasan Syariah 126 3. Aplikasi dalam Perbankan .. 127 4. Manfaat al-Hawalah........... 127 D. Ar-Rahn (Mortgage) 128 1, Pengertian ar-Rahn 2. Landasan Syariah .. 3. Aplikasi dalam Perbankan ... 130 4. Manfaat ar-Rahn .. 130 5. Risiko ar-Rahn. 130 E. Al-Qardh (Soft and Benevolent Loan) .. 131 1. Pengertian al-Qardh 131 2. Landasan Syariah 131 3. Aplikasi dalam Perbankan 133 4. Sumber Dana... 133 5. Manfaat al-Qardh 134 BAGIAN KEEMPAT: SISTEM OPERASIONAL PERBANKAN SYARIAH... BAB XI: PROFIT SHARING SEBAGAI KARAKTERISTIK DASAR BANK SYARIAT A. Kontrak al-Mudharabah 1. Jenis-Jenis al-Mudharabah .. 2. Aplikasi al-Mudharabah dalam Bank Islam B. Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil 1. Faktor Langsung..... 2. Faktor Tidak Langsung C. Studi Kasus .. 1. Kuwait Finance House (KFH) 2. Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) 3. PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI), Tbk D.Contoh Kasus... 137 137 139 140 140 140 141 143 144 1, Perbandingan Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional 144 sunray aL) 2. Kesimpulan ..... BAB XII: SISTEM PENGHIMPUNAN DANA BANK SYARIAH 146 A. Pendahulua: 146 B. Modal... C. Titipan ......... 1. Wadi‘ah Yad al-Amanah (Tr 148 2. Wadi’ah Yad adh-Dhamanah (Guarantee Depository) 149 D. Investasi... 150 1. Mudharabah Muthlagah (General Investment) 150 2. Mudharabah Mugayyadal.... 151 BAB XIII: MENABUNG DI BANK SYARIAH. 153 A. Pendahuluan .. 153 1. Al-Qur’an 153 2. Al-Hadits 154 B. Beberapa Jenis Tabungan di Bank Syariah 155 1. Memilih antara Wadiah dan Mudharabah 155 2. Perbedaan Antara Menabung di Bank Syariah dan di Bank Konvensional ... 157 C. Contoh Perhitungan Tabungan dan Deposito di Bank Syariah 1. Contoh Kasus 2. Kesimpulan BAB XIV: SISTEM PEMBIAYAAN BANK SYARIAH.. A, Pendahuluan... B. Pembiayaan Moda! Kerja 1. Pembiayaan Likuiditas (Cash Financing) 2. Pembiayaan Piutang (Receivable Financing) 162 3. Pembiayaan Persediaan (Inventory Financing, 163 4, Pembiayaan Modal Kerja untuk Perdagangan 166 C. Pembiayaan Investas: 167 D. Pembiayaan Konsumti! BAB XV: MEMPEROLEH PEMBIAYAAN DARI BANK SYARIAH..... A. Urgensi Meminjam Dana untuk Usaha B. Etika Meminjam Secara Islami C. Syarat Administratif D. Contoh-Contoh Perhitungan Praktis 169 Bahan dengan hak cipta Al-Murabahah 171 Bai’ as-Salam .. 171 . Bai’ al-Istishna 172 . Al-Mudharabah .. . Musyarakan... NQyPrene . avert seca . Al-Ijarah ... 174 BAGIAN KELIMA: ASPEK-ASPEK PENDUKUNG SISTEM PERBANKAN SYARIAH 175 BAB XVI: MONEY MARKET DAN FOREX 17 A. Asset-Liability Management .... 177 1. Pendahuluan 2. Fungsi Manajemen Aset & Liabilitas. 3. Jenis-Jenis Risiko 178 4. Aplikasi Teori Asset /Liability Management pada Perbankan Syariah .... 182 5. Penutup A 183 B. Pasar Uang Berbasis Syariah (Islamic Money Market ). 183 1. Praktik Pasar Uang Konvensional .. 183 2. Harga di Pasar Uang Konvensional .. 184 3. Pandangan Islam terhadap Uang.... 185 4. Kebutuhan Bank Syariah terhadap Pasar Uang . 186 5. Strategi Pengembangan Pasar Uang Berbasis Syariah . 188 6. Kesimpulan .. 193 C. Norma-Norma Syariah dalam Pasar Valuta Asing (Foreign Exchang 194 1. Praktik Pasar Valuta Asing Konvensional 194 2. Keterlibatan Perbankan Syariah dalam Pasar Valuta Asing. 196 3. Norma-Norma Syariah dalam Pasar Valuta Asing ... 197 BAB XVII: ASPEK AKUNTANSI DALAM PERBANKAN ISLAM (ACCOUNTING ASPECT) 198 A. Pendahuluan 198 - Accounting and Auditing Standard for Islamic Financial Institution . 199 B. Pendekatan dan Fungs 200 1. Pendekatan yang Digunakan . 200 2. Fungsi Bank-Bank Islam... 200 Bahan dengan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG LENGKAP DAN UNIVERSAL A. ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG LENGKAP DAN UNIVERSAL Dewasa ini masih terdapat anggapan bahwa Islam menghambat ke- majuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (an obstacle to economic growth). Pandangan ini berasal dari para pemikir Barat.’ Meskipun demikian, tidak sedikit intelektual muslim yang juga meyakininya. Kesimpulan yang agak tergesa-gesa ini harnpir dapat dipastikan timbul karena kesalahpahaman terhadap Islam.’ Seolah-olah Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual, bukan sebagai suatu sistem yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembangunan ekonomi serta industri perbankan sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian. B. ISLAM SEBAGAI SUATU SISTEM HIDUP (WAY OF LIFE) Manusia adalah khalifah di muka bumi. Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. ' Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (London: George Allen &Unwin Lid, 1976); Irma Adelman dan Cynthia Taft Morris, Economic Growth and Social Equity in Developing Countries, (Stanford: Stanford Uni ity Press, 1973). 2M. Rodinson, Islam and Capitalism, (London: Allen Lane, 1974) Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik — 3 4 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik Untuk mencapai tujuan suci ini, Allah memberikan petunjuk melalui para rasul-Nya. Petunjuk tersebut meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, baik akidah, akhlak, maupun syariah. Duakomponen pertama, akidah dan akhlak, bersifat konstan. Keduanya tidak mengalami perubahan apa pun dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat, yang berbeda-beda sesuai dengan masa rasul masing-masing. Halini diungkapkan dalam Al-Qur’an, . shorn gz os Bgusas Seed the KS ... ”... Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan a aturan dan jalan yang ferang....” (al-Maa‘idah: 48) Juga oleh Rasulullah saw. dalam suatu hadits, GA oy 2 “Para rasul tak ubahnya bagaikan saudara sobepalk, ibunya pyar) berbeda-beda sedangkan dinnya (tavhidnya) satu.” (HR Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad)? Oleh karena itu, syariah Islam sebagai suatu syariah yang dibawa oleh rasul terakhir, mempunyai keunikan tersendiri. Syariah ini bukan saja me- nyeluruh atau komprehensif, tetapi juga universal. Karakter istimewa ini diperlukan sebab tidak akan ada syariah lain yang datang untuk menyempurna- kannya. Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidup- an, baik ritual (badah) maupun sosial (muamalah). Ibadah diperlukan untuk menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Khaliq-nya. Tbadah juga merupakan sarana untuk mengingatkan secara kontinu tugas manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumiini. Adapun muamalah diturunkan untuk menjadi rules of the game atau aturan main manusia dalam kehidupan sosial. Kelengkapan sistem muamalah yang disampaikan Rasulullah saw. terangkum dalam skema-skema pada halaman berikut. Universal bermakna syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai Hari Akhir nanti. Universalitas ini tampak jelas terutama pada bidang muamalah. Selain mempunyai cakupan luas dan fleksibel, muamalah tidak membeda-bedakan antara muslim dan nonmuslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, 3 Lihat alHakimi, Alamus Sunnah al-Mansyurah (Maktabah as-Suwady, 1988), hm 89. Bab I: Islam Sebagai Agama yang Lengkap dan Universal — 5 "Dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.” Sifat muamalah ini dimungkinkan karena Islam mengenal hal yang di- istilahkan sebagai tsawabit wa mutaghayyirat (='~+;—\2 - principles and variables). Dalam sektor ekonomi, misalnya, yang merupakan prinsip adalah larangan riba, sistem bagi hasil, pengambilan keuntungan, pengenaan zakat, dan lain-lain. Adapun contoh variabel adalah instrumen-instrumen untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut. Di antaranya adalah aplikasi prinsip jual beli dalam modal kerja, penerapan asas mudharabah dalam investasi atau penerapan bai’ as-salam dalam pembangunan suatu proyek. Tugas cende- kiawan muslim sepanjang zaman adalah mengembangkan teknik penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam variabel-variabel yang sesuai dengan situasi dan kondisi pada setiap masa. ISLAM A COMPREHENSIVE WAY OF LIFE a | SYARIAH aKHiaa | MUAMALAH | CRIMINAL LAWS: } CIVIL LAWS J INTERIOR AFFAIRS | | EXTERIOR AFFAIRS INTERNATIONAL RELATION CONSTITUENCY J ECONOMY ADMINISTRATIVE] FINANCE [ T I “I 1 LEASING J INSURANCE ] BANKING ) MORTGAGE ]} VENTURE cap } Sumber: Zarga (1959), al-Figh al-Am: aFigh al-Islamy fi Tsaubihi al-Jadid, dengan tambahan dan modifikasi 6 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik SYSTEM SECTOR POSSIBLE INSTITU- TION SOME RE- LEVANT SYARIAH LAWS BARE OUTLINE! OF THE ISLAMIC ECONOMIC SYSTEM ISLAMIC ECONOMIC SYSTEM SIYASI SECTOR TWUARI SECTOR (Public Sector) (Private Sector) > Maintenance of law, order justice and defence IJTIMAI SECTOR (Social Welfare Sector) Promulgation ané imple- JMO Creation of Weath mentation of economic policies > (Economic activitios of f | tstamic Socil Security (a production consumption Takaful al-iina’) Managementof propertes | and distribution under state ownership Economic Intervention as necessary Government Ministries Public-Sector Entitos: and Departments ‘Owner Operator «Bait ak Mal Statutory Bodies Sharikah (partnership wean een Jointstock company and J | O Prvate Sector Entties Government Companies ‘cocperatve society) «Charitable Oxganizatons ‘dividuals Varous Figh al-Muamalat Vanous Government ag- fLaws: ministration Laws: + atMudharabah ‘Various tina’ Laws: ‘+ Company Laws 4 atMusharakah + abZatah + Commercial Laws 4+ al Bai Al-Murabahah + Land Laws + al Bai Bithaman Aj 4 Mining Laws ¢ abjarah ‘sakSadagah Taxation Laws + alRatn + al-Qard al Hasan + alKafalah 4 Disadur dan dimodifikasi dari buku Abdul Halim Ismail. 1990, Bank Islam Malaysia: Principle and Operation (Kuala Lumpur, 1990); Bank Islam Malaysia Berhad, Islamic Banking Practice From The Practitioner's Perspective (Kuala Lumpur: BIMB, 1994), hm. 9 Bab I: Islam Sebagai Agama yang Lengkap dan Universal — 7 Skema di atas memperlihatkan gambaran umum tentang sistem ekonomi Islam. Secara garis besar, sistem ini dapat dibagi menjadi tiga sektor besar: (1) sektor publik, (2) sektor swasta, (3) sektor kesejahteraan sosial. Bila diamati lebih saksama, masing-masing dari tiga sektor di atas mempunyai fungsi, insti- tusi, dan landasan syariah tersendiri. C. PANDANGAN ISLAM TERHADAP HARTA DAN EKONOMI> Secara umum, tugas kekhalifahan manusia adalah tugas mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan (al-An’aam: 165) serta tugas pengabdian atau ibadah dalam arti luas (adz-Dzaariyaat: 56). Untuk menunaikan tugas tersebut, Allah SWT memberi manusia dua anugerah nikmat utama, yaitu manhaj al-hayat'sistem kehidupan’ dan wasilah al-hayat ’sarana kehidupan’, sebagaimana firman-Nya, biaKer th Nab escalyecitoatiis ae CBC oe ey SLO, jis sah 3d Z 4 5 ay ably Tide kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan me- nyempumakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan, di antara manusia ada yang membaniah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Luqman: 20) Manhaj al-hayat adalah seluruh aturan kehidupan manusia yang ber- sumber kepada Al-Qur‘an dan Sunnah Rasul. Aturan tersebut berbentuk ke- harusan melakukan atau sebaiknya melakukan sesuatu, juga dalam bentuk larangan melakukan atau sebaiknya meninggalkan sesuatu. Aturan tersebut dikenal sebagai hukum lima (+i! -\S-5'), yakni wajib, sunnah (mandub), mu- bah, makruh, atau haram. Aturan-aturan tersebut dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia sepanjang hidupnya, baik yang menyangkut keselamatan agama, keselamatan diri Giwa dan raga), keselamatan akal, keselamatan harta benda, maupun keselamatan nasab keturunan. Hal-hal tersebut merupakan kebutuhan pokok atau primer (a/-haajat adh-dharuriyyah- », 2 2\-\4'). Pelaksanaan Islam sebagai way of life secara konsisten dalam semua kegiatan kehidupan, akan melahirkan sebuah tatanan kehidupan yang baik, sebuah tatanan yang disebut sebagai hayatan thayyibah (an-Nahl: 97). 5 Sebagian dari materi ini disadur dari bahan pelatihan Perbankan Syariah Tazkia Institute yang. disiapkan oleh Drs. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.. 8 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik Sebaliknya, menolak aturan itu atau sama sekali tidak memiliki keinginan mengaplikasikannya dalam kehidupan, akan melahirkan kekacauan dalam ke- hidupan sekarang, ma‘isyatan dhanka atau kehidupan yang sempit, serta kecelakaan di akhirat nanti (Thaahaa: 124-126). Aturan-aturan itu juga diperlukan untuk mengelola wasilah al-hayah atau segala sarana dan prasarana kehidupan yang diciptakan Allah SWT untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Wasilah al-hayah ini dalam bentuk udara, air, tumbuh-tumbuhan, hewan ternak, dan harta benda lainnya yang berguna dalam kehidupan. esas Aes iiarsi (ie ay Akt wong wee E585 me “Dialah Allah yang menjadikan segala yang oe di bum unt ker den Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadiikan-Nya tujuh langit, Dan, Dia Maha Mengetahui segala sesuatv.” (al-Baqarah: 29) Sebagaimana keterangan di atas, Islam mempunyai pandangan yang jelas mengenai harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama: pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. ce NS Mee oltek SIS. vate (fail on AC sulte ss Se ast a A OF. oA “Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang: orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya mendapatkan pahala yang besar.” (al-Hadiid: 7) Z Bhi STEM AN Sod BBS .. “... dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang di- karuniakan-Nya kepada kalian....” (an-Nuur: 33) Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda, Bab |: Islam Sebagai Agama yang Lengkap dan Universal — 9 Sey ag Abe oho deg “oo take 6) boy ud Le a i ews) teal bey ooh Ga ts 43 “Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan.” a Kedua: status harta yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut. 1. Hartasebagai amanah (titipan, as a trust) dari Allah SWT. Manusia hanya- lah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada. Dalam bahasa Einstein, manusia tidak mampu menciptakan energi; yang mampu manusia lakukan adalah mengubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Pencipta awal segala energi adalah Allah SWT. 2. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk memiliki, menguasai, dan menikmati harta. Firman-Nya, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecinta- an kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahtah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14) Sebagai perhiasan hidup, harta sering menyebabkan keangkuhan, kesombongan, serta ke- banggaan diri (al-’Alaq: 6-7). 3. Harta sebagai ujian keimanan. Hal ini terutama menyangkut soal cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam ataukah tidak (al-Anfaal: 28). 4. Harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan perintah-Nya dan. melaksanakan muamalah di antara sesama manusia, melalui kegiatan zakat, infak, dan sedekah (at-Taubah: 41, 60; Ali Imran: 133-134). Ketiga: pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha (@’mal) atau mata pencaharian (maisyah) yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Banyak ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi yang mendorong umat Islam bekerja mencari nafkah secara halal. Bosh RUSE SLAIN GMI IE cs aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab |: Islam Sebagai Agama yang Lengkap dan Universal — 13 (EMSA SAGAN ly Sb aii me tet Money es el “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak sypaya kamu beruntung.” (al Jumu’ah: 10) Penyeimbangan aspek dunia dan akhirat tersebut merupakan karakteris- tik unik sistem ekonomi Islam. Perpaduan unsur materi dan spiritual ini tidak dijumpai dalam sistem perekonomian lain, baik kapitalis maupun sosialis. Tidak ada yang meragukan peran sistem kapitalis dalam mengefisienkan produksi. Peran sistem sosialis dalam upaya pemerataan ekonomi pun sangat berharga. Akan tetapi, kedua sistem tersebut telah mengabaikan pemenuhan kebutuhan spiritual yang sangat dibutuhkan manusia. 2. Keadilan dan Persaudaraan Menyeluruh Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid. Dalam tatanan itu, setiap individu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagai satu keluarga. Sebuah persaudaraan yang universal dan tak diikat batas geografis. Xehiass kw 3 Sak, 2 Gy B48 wih AN Sate ailace “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suky agar kamu saling mengenal, Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 13) aces oe BSG ASE AGS SEI fe sat 4 Zeke 2s 4-3 Zesed € fo Aves 1255 UOT al Sal Jct (esac gsc Ae one pw SSS “Hai orang-orang yang beriman, hendich ke kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan, janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 28 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik sun 0006 NAYLNOdOM + L00z Wenuer Jed ejeq AWE 0007+ + aalyesadooy s1WeY}S] | aoueuld |eske4-|NG + injeyey Awey « Injeye] jesauey « | eoueunsu] | L J juaweBeuey jessy WNd + puny jenny esyay eueq - [ yoysew jeydeg | SUO!}N}I}SuU] |/eloueUly ojwe|s} Buysixy oy, | __f yuegjeuny = ite (paumo aje}s) wipuey yeueXs yueg - @SNOH Ul4-O491, Suda sl + “9b ING uvavr ‘udoxng ‘141 yueg jeuoljuaAUOD, jo youesg 1We|S| (gequd) yereweny yueg yueg jeloseuu0g Bab Ketiga PERBEDAAN ANTARA BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL alam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanis- me transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum mem- peroleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan se- bagainya. Akan tetapi, terdapat banyak perbedaan mendasar di antara kedua- nya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja. A. AKAD DAN ASPEK LEGALITAS Dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Seringkali nasabah berani melanggar kesepakatan/ perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti.26 Setiap akad dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya, harusmemenuhiketentuan akad, seperti hathal berikut. 1. Rukun Seperti: 26 Afzalur Rahman, Economic Doctrines of slam (Lahore: Islamic Publication, 1990). Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik — 29 30— Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik penjual, pembeli, barang, harga, akad/ijab-qabul. 2. Syarat Senert syarat berikut. Barang dan jasa harus halal sehingga transaksi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal demi hukum syariah. Harga barang dan jasa harus jelas. Tempat penyerahan (delivery) harus jelas karena akan berdampak pada biaya transportasi. Barang yang ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan. Tidak boleh menjual sesuatu yang belum dimiliki atau dikuasai seperti yang terjadi pada transaksi short sale dalam pasar modal. B. LEMBAGA PENYELESAI SENGKETA. Berbeda dengan perbankan konvensional, jika pada perbankan syariah terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai tata cara dan hukum materi syariah. Lembaga yang mengatur hukum materi dan atau berdasarkan prinsip syariah di Indonesia dikenal dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indo- nesia atau BAMUI yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.2” C. STRUKTUR ORGANISASI Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konven- sional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat men bedakan antar bank syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah. Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karenaitu, biasanya penetapan anggota Dewan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat Umum 27 Lihat buku Arbitrase Islam di Indonesia (1994) karya penulis bersama rekan-rekan editorial lainnya. Bab III: Perbedaan Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional — 31 Pemegang Saham, setelah para anggota Dewan PengawasSyariah i itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional. 1. Dewan Pengawas Syariah (DPS) Peran utama para ulama dalam Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi jalannya operasional bank sehari-hari agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hal ini karena transaksi-transaksi yang berlaku dalam bank syariah sangat khusus jika dibanding bank konvensional. Karena itu, diperlukan garis panduan (guidelines) yang mengaturnya. Garis panduan ini disusun dan ditentukan oleh Dewan Syariah Nasional.2° Dewan Pengawas Syariah harus membuat pernyataan secara berkala (biasanya tiap tahun) bahwa bank yang diawasinya telah berjalan sesuai dengan ketentuan syariah. Pernyataan ini dimuat dalam laporan tahunan (annual report) bank bersangkutan. Tugas lain Dewan Pengawas Syariah adalah meneliti dan membuat reko- mendasi produk baru dari bank yang diawasinya. Dengan demikian, Dewan Pengawas Syariah bertindak sebagai penyaring pertama sebelum suatu produk diteliti kembali dan difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional. Mekanisme kerja DPS dapat digambarkan sebagai berikut. + Rapat DPS dengan Direksi dan Bag / Dept. Terkait + Implementasi dan Pengajuan al Rancangan Produk /Jasa / Pertanyaan Sosialisasi Bag / Dept Terkait Direksi * Diskusi 28 Pembahasan lebih lanjut tentang tugas dan fungsi DPS pada lembaga keuangan Islam inter- nasional, hat AAOIFI, Accounting and Auditing and Governance Standards for Islamic Financial Institution, 32 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik 2. Dewan Syariah Nasional (DSN) Sejalan dengan berkembangnya lembaga keuangan syariah di Tanah Air, berkembang pulalah jumlah DPS yang berada dan mengawasi masing-masing lembagatersebut. Banyaknya dan beragamnya DPS di masing-masing lembaga keuangan syariah adalah suatu hal yang harus disyukuri, tetapi juga diwaspadai. Kewaspadaan itu berkaitan dengan adanya kemungkinan timbulnya fatwa yang berbeda dari masing-masing DPS dan hal itu tidak mustahi] akan membingung- kan umat dan nasabah. Oleh karena itu, MUI sebagai payung dari lembaga dan organisasi keislaman di Tanah Air, menganggap perlu dibentuknya satu dewan syariah yang bersifat nasional dan membawahi seluruh lembaga ke- uangan, termasuk di dalamnya bank-bank syariah. Lembaga ini kelak kemudian dikenal dengan Dewan Syariah Nasional atau DSN Dewan Syariah Nasional dibentuk pada tahun 1997 dan merupakan hasil rekomendasi Lokakarya Reksadana Syariah pada bulan Juli tahun yang sama. Lembaga ini merupakan lembaga otonom di bawah Majelis Ulama Indonesia dipimpin oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan Sekretaris (ex-officio). Kegiatan sehari-hari Dewan Syariah Nasional dijalankan oleh Badan Pelaksana Harian dengan seorang ketua dan sekretaris serta beberapa anggota. Fungsi utama Dewan Syariah Nasional adalah mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah Islam. Dewan ini bukan hanya mengawasi bank syariah, tetapi juga lembaga-lembaga lain seperti asuransi, reksadana, modal ventura, dan sebagainya. Untuk keperluan peng- awasan tersebut, Dewan Syariah Nasional membuat garis panduan produk syariah yang diambil dari sumber-sumber hukum Islam. Garis panduan ini menjadi dasar pengawasan bagi Dewan Pengawas Syariah pada lembaga-lem- baga keuangan syariah dan menjadi dasar pengembangan produk-produknya. Fungsi lain dari Dewan Syariah Nasional adalah meneliti dan memberi fatwa bagi produk-produk yang dikembangkan oleh lembaga keuangan syariah. Produk-produk baru tersebut harus diajukan oleh manajemen setelah direko- mendasikan oleh Dewan Pengawas Syariah pada lembaga yang bersangkutan. Selain itu, Dewan Syariah Nasional bertugas memberikan rekomendasi para ulama yang akan ditugaskan sebagai Dewan Syariah Nasional pada suatu lembaga keuangan syariah. Dewan Syariah Nasional dapat memberi teguran kepada lembaga ke- uangan syariah jika lembaga yang bersangkutan menyimpang dari garis pan- duan yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan jika Dewan Syariah Nasional and Auditing Organization For Islamic financial Institution {AAOIFI] Manama, 1999), chapter “Governance”, him, 1-19. Bab III: Perbedaan Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional — 33 telah menerima laporan dari Dewan Pengawas Syariah pada lembaga yang bersangkutan mengenai hal tersebut. Jika lembaga keuangan syariah tersebut tidak mengindahkan teguran yang diberikan, Dewan Syariah Nasional dapat mengusulkan kepada otoritas yang berwenang, seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan, untuk memberikan sanksi agar perusahaan tersebut tidak mengembangkan lebih jauh tindakan-tindakannya yang tidak sesuai dengan syariah.”? Secara garis besar, tugas dan mekanisme kerja DSN dapat digambarkan sebagai berikut. Rapat dengan Direksi Pembahasan Pombahasan dan BapDept. Terkatt 6 * © Badan Pelaksana Harian @~” Dewan Pengtwas Syarh Dewan Syariah Nasional Dewan Syariah Nasional ‘sebagai wakil DSN Jawaban Pengajuan @ Rancangan Produk/Jasa ‘1 Pertanyaan Diskusi Implementasi dan Sosialisasi D. BISNIS DAN USAHA YANG DIBIAYAI Dalam bank syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari saringan syariah. Karena itu, bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang terkandung di dalamnya hal-hal yang diharamkan.°? Dalam perbankan syariah suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum. dipastikan beberapa hal pokok, di antaranya sebagai berikut. 1. Apakah objek pembiayaan halal atau haram? 2. Apakah proyek menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat? 3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/asusila? 4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian? 29 Bank Indonesia, Petunjuk Pelaksanaan Pembukaan Kantor Bank Syariah (Jakarta: Bank Indonesia, 1999) 30 Muhammad Syafii Antonio, “Prinsip dan Btika Bisnis dalam Islam”, paper dipresentasikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatra Utara, 1994 34 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik 5. Apakah usaha itu berkaitan dengan industri senjata yang ilegal atau ber- orientasi pada pengembangan senjata pembunuh massal? 6. Apakah proyek dapat merugikan syiar Islam, baik secara langsung mau- pun tidak langsung? E. LINGKUNGAN KERJA DAN CORPORATE CULTURE Sebuah bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat a¢manah dan shiddiq, harus melandasi setiap karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Di samping itu, karyawan bank syariah harus skillful dan profesional (fathanah) , dan mampu melakukan tugas secara team-work di mana informasi merata di seluruh fungsional organisasi (tabligh). Demikian pula dalam hal reward dan punishment, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syariah.*! Selain itu, cara berpakaian dan tingkah laku dari para karyawan merupa- kan cerminan bahwa mereka bekerja dalam sebuah lembaga keuangan yang membawa nama besar Islam, sehingga tidak ada aurat yang terbuka dan tingkah laku yang kasar. Demikian pula dalam menghadapi nasabah, akhlak harus senantiasa terjaga. Nabi saw. mengatakan bahwa senyum adalah sedekah. fF. PERBANDINGAN ANTARA BANK SYARIAH DAN KONVENSIONAL Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional disajikan dalam tabel berikut. BANK ISLAM BANK KONVENSIONAL Melakukan investasi-investasi yang halal saja. 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual- beli, atau sewa. ‘ 3. Profit dan falah oriented. * Profit oriented. 4. Hubungan dengan nasabah dalam | Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan. __ bentuk hubungan debitor-debitor. 5. Penghimpunan dan penyaluran | Tidak terdapat dewan sejenis. dana_harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah. Investasi yang halal dan haram. Memakai perangkat bunga alur Rahman, Islamic Doctrine on Banking and Insurance Muslim Trust Company (London: Muslim Trust Company, 1980) 32 Falak berarti menceri kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat. BAGIAN KEDUA BUNGA VS RIBA Bab Keempat Riba dalam Perspektif Agama dan Sejarah Bab Kelima Riba dalam Perspektif Ekonomi aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab IV: Riba dalam Perspektif Agama dan Sejarah — 43 terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari dua ribu tahun silam. Masalah riba telah menjadi bahan bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba. Karena itu, sepantasnya bila kajian tentang riba pun melihat perspektif dari kalangan nonmuslim tersebut. Ada beberapa alasan mengapa pandangan dari kalangan nonmusiim tersebut perlu pula dikaji. Pertama, agama Islam mengimani dan menghormati Nabi Ibrahim, Ishak, Musa, dan Isa. Nabi-nabi tersebut diimani juga oleh orang Yahudi dan Nasrani. Islam juga mengakui kedua kaum ini sebagai Ahli Kitab karena kaum Yahudi di- karuniai Allah SWT kitab Taurat, sedangkan kaum Kristen dikaruniai kitab Injil. Kedua, pemikiran kaum Yahudi dan Kristen perlu dikaji karena sangat banyak tulisan mengenai bunga yang dibuat para pemuka agama tersebut. Ketiga, pendapat orang-orang Yunani dan Romawijuga perlu diperhatikan karena mereka memberikan kontribusi yang besar pada peradaban manusia. Pendapat mereka juga banyak mempengaruhi orang-orang Yahudi dan Kristen serta Islam dalam memberikan argumentasi sechubungan dengan riba. 1. Konsep Bunga di Kalangan Yahudi Orang-orang Yahudi dilarang mempraktikkan pengambilan bunga. Pe- larangan ini banyak terdapat dalam kitab suci mereka, baik dalam Old Testament (Perjanjian Lama) maupun undang-undang Talmud. Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25 menyatakan, "Jika engkau meminjamkan uang kapada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia: janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya.” Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19 menyatakan, ”"Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apa pun yang dapat dibungakan.” Kitab Levicitus (Imamat) pasal 25 ayat 36-37 menyatakan, "Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup di antara- mu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.” 2. Konsep Bunga di Kalangan Yunani dan Romawi Pada masa Yunani, sekitar abad VI Sebelum Masehi hingga I Masehi, telah terdapat beberapa jenis bunga. Besarnya bunga tersebut bervariasi ber- 44 — Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik gantung pada kegunaannya. Secara umum, nilai bunga tersebut dikategorikan sebagai berikut. Pinjaman biasa 6% - 18% Pinjaman properti 6% - 12% Pinjaman antarkota 7% - 12% Pinjaman perdagangan dan industri 12% - 18% Pada masa Romawi, sekitar abad V Sebelum Masehi hingga IV Masehi, terdapat undang-undang yang membenarkan penduduknya mengambil bunga selama tingkat bunga tersebut sesuai dengan "tingkat maksimal yang dibenar- kan hukum” (maximum legal rate). Nilai suku bunga ini berubah-ubah sesuai dengan berubahnya waktu. Meskipun undang-undang membenarkan peng- ambilan bunga, tetapi pengambilannya tidak dibenarkan dengan cara bunga- berbunga (double countable). Pada masa pemerintahan Genucia (342 SM), kegiatan pengambilan bunga tidak diperbolehkan. Akan tetapi, pada masa Unciaria (88 SM), praktik tersebut diperbolehkan kembali seperti semula. Terdapat empat jenis tingkat bunga pada zaman Romawi, yaitu sebagai berikut. Bunga maksimal yang dibenarkan B% - 12% Bunga pinjaman biasa di Roma 4% - 12% Bunga untuk wilayah (daerah taklukan Roma) 6% - 100% Bunga khusus Byzantium 4% - 12% Meskipun demikian, praktik pengambilan bunga dicela oleh para ahli filsafat. Dua orang ahli filsafat Yunani terkemuka, Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), mengecam praktik bunga. Begitu juga dengan Cato (234-149 SM) dan Cicero (106-43 SM). Para ahli filsafat tersebut mengutuk orang-orang Romawi yang mempraktikkan pengambilan bunga. Plato mengecam sistem bunga berdasarkan dua alasan. Pertama, bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat. Kedua, bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin. Adapun Aristoteles dalam menyatakan keberatannya mengemukakan bahwa fungsi uang adalah sebagai alat tukar atau medium of exchange. Ditegaskannya bahwa uang bukan alat untuk menghasilkan tambahan melalui bunga. Ia juga menyebut bunga sebagai uang yang berasal dari uang yang keberadaannya