Anda di halaman 1dari 4

Skenario C Blok 16 tahun 2017

Burhan, anak laki2, usia 2 tahun, dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan batuk
dan sukar bernapas disertai demam sejak dua hari yang lalu, dan hari ini
keluhannya bertambah berat.

Pemeriksaan fisis:
Keadaan umum: tampak sakit berat, kesadaran: kompos mentis
RR: 60xx/menit, nadi: 132z/menit, suhu: 38,6C
Panjang badan: 85 cm, berat badan: 12 kg
Keadaan spesifik:
Kepala: napas cuping hidung (=)
Toraks: paru:
Inspeksi: simetris, retraksi intercostal, subcostal
palpasI: stem fremitus kiri=kanan
Perkusi: redup pada basal kedua lapangan paru
Auskultasi: peningkatan suara nafas vesikuler, ronki basah halus
nyaring, tidak terdengan wheezing
Pemeriksaan lain dalam batas normal
Informasi tambahan: tidak ada riwayat atopi dalam keluarga

Pemeriksaan laboratorium
HB: 12,1 gr/dl ht: 36 vol%, leukosit: 18000/mm3, LED:25mm/jam,
trombosit:220.000/mm3, hitung jenis : 0/2/1/75/19/3, CRP: 24

Pemeriksaan radiologi:
thoraks AP: infiltrat di parahilar kedua paru.

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Wheezing: jenis bunyi kontinyu seperti bersiul (dorland)


2. Atopi: Predisposisi genetik untuk membentuk reaksi hipersensitivitas cepat
terhadap antigen lingkugan umum atau alergi atopik. (dorland)
3. CRP: singkatan cari C Reactive Protein yaitu globulin yang membentuk
presipitat dengan polisakarida C dan T dari pneumokokus infiltrum.
(dorland)
4. Stem fremitus: getaran pada thorax yang timbul ketika seseorang
berbicara (dorland)
5. Batuk: Penyakit pada jalan pernapasan atau paru-paru yang kerap kali
menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan sehingga merangsang
penderita mengeluarkan bunyi yang keras seperti menyalak (KBBI)
6. Sukar bernapas: Mengah-mengah, berasa sesak dalam dada sehingga
tidak dapat bernapas dengan lega. (KBBI)
7. Napas cuping hidung: Nafas bayi atau anak-anak dengan kedua hidungnya
ikut kembang kempis. (dokterindonesia.com)
8. Retraksi intercostal: Tindakan tarik menarik kembali atau tindakan
menarik kembali yang terletak di antara dua iga. (dorland)
9. Suara nafas vesiculer: merupakan suara dengan nada rendah didengar
saat auskultasi pada paru-paru normal selama ventilasi (dorland)
10.Ronki basah: Suara yang berisik yang terputus akibat aliran udara yang
melewati cairan. (dorland)
11.Infiltrat: Difusi atau penimbunan patologis substansi di suatu jaringan
yang normalnya tidak terdapat pada jaringan tersebut atau dalam jumlah
yang lebih normal. (dorland)
12.Parahilar: Dekat lubang sebuah organ tempat keluar masuknya pembuluh
darah dan saraf (Dorland).
13.Demam: sakit yang menyebabkan suhu badan menjadi lebih tinggi dari
biasanya (KBBI)

IDENTIFIKASI MASALAH

1. Burhan, anak laki2, usia 2 tahun, dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan
batuk dan sukar bernapas disertai demam sejak dua hari yang lalu, dan
hari ini keluhannya bertambah berat.
2. Pemeriksaan fisis:
Keadaan umum: tampak sakit berat, kesadaran: kompos mentis
RR: 60xx/menit, nadi: 132z/menit, suhu: 38,6C
Panjang badan: 85 cm, berat badan: 12 kg
Keadaan spesifik:
Kepala: napas cuping hidung (=)
Toraks: paru:
Inspeksi: simetris, retraksi intercostal, subcostal
palpasI: stem fremitus kiri=kanan
Perkusi: redup pada basal kedua lapangan paru
Auskultasi: peningkatan suara nafas vesikuler, ronki basah
halus nyaring, tidak terdengan wheezing
Pemeriksaan lain dalam batas normal
Informasi tambahan: tidak ada riwayat atopi dalam keluarga
3. Pemeriksaan laboratorium
HB: 12,1 gr/dl ht: 36 vol%, leukosit: 18000/mm3, LED:25mm/jam,
trombosit:220.000/mm3, hitung jenis : 0/2/1/75/19/3, CRP: 24
4. Pemeriksaan radiologi:
thoraks AP: infiltrat di parahilar

ANALISIS MASALAH

1. Burhan, anak laki2, usia 2 tahun, dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan
batuk dan sukar bernapas disertai demam sejak dua hari yang lalu, dan
hari ini keluhannya bertambah berat.
a. Bagaimana anatomi dan fisiologi saluran napas atas? (normal)
b. Bagaimana anatomi dan fisiologi saluran napas bawah? (normal)
c. Bagaimana hubungan umur dan jenis kelamin dengan keluhan yang
dialami pasien?
d. Bagaimana menilai anak batuk dan susah bernapas?
e. Bagaimana mekanisme dan penyebab batuk terkait kasus?
f. Bagaimana mekanisme dan penyebab sukar bernapas
g. Bagaimana mekanisme dan penyebab demam?
h. Bagaiamana tata laksana awal pada kasus ini?
i. Apa klasifikasi batuk?
j. Mengapa keluhannya bertambah berat?
k. Bagaimana klasifikasi demam?
l. Bagaimana klasifikasi sukar bernapas?

2. Pemeriksaan fisis:
Keadaan umum: tampak sakit berat, kesadaran: kompos mentis
RR: 60xx/menit, nadi: 132z/menit, suhu: 38,6C
Panjang badan: 85 cm, berat badan: 12 kg
Keadaan spesifik:
Kepala : napas cuping hidung (=)
Toraks : paru :
Inspeksi : simetris, retraksi intercostal, subcostal
palpasI : stem fremitus kiri=kanan
Perkusi : redup pada basal kedua lapangan paru
Auskultasi : peningkatan suara nafas vesikuler, ronki basah halus
nyaring, tidak terdengan wheezing
Pemeriksaan lain dalam batas normal
Informasi tambahan: tidak ada riwayat atopi dalam keluarga
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisis? (disertai gambar)
b. Bagaimana mekanisme abnormalnya?
c. Bagaimana IMR anak ini?
d. Bagaimana hubungan riwayat atopi dengan kasus?
e. Bagaimana cara pemeriksaan fisik paru pada anak (sesuai kasus)?
f. Apa sajakah bunyi napas tambahan?
g. Apa sajakah bunyi napas pokok?
h. Bagaimana cara menilai napas cepat pada anak?
i. Bagaimana makna klinis kesadaran? (sesuai kasus, cth: penurunan
kesadaran -> infeksi parah)

3. Pemeriksaan laboratorium
HB: 12,1 gr/dl ht: 36 vol%, leukosit: 18000/mm3, LED:25mm/jam,
trombosit:220.000/mm3, hitung jenis : 0/2/1/75/19/3, CRP: 24
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan laboratorium?
b. Bagaimana mekanisme abnormalnya?
c. Mengapa dilakukan pemeriksaan CRP pada kasus ini? (indikasi
pemeriksaannya)
d. Bagaimana prosedur pemeriksaan CRP?

4. Pemeriksaan radiologi:
thoraks AP: infiltrat di parahilar
a. Mengapa dilakukan pemeriksaan AP bukan PA?
b. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan radiologi? (disertai
gambar!)
c. Bagaimana mekanisme abnormalnya?

HIPOTESIS: Burhan, anak laki-laki, usia 2 tahun, mengalami batuk,


sukar bernapas, dan demam et causa pneumonia.
1. Definisi
2. Etiologi
3. Klasifikasi
4. Epidemiologi
5. Faktor resiko
6. Patofisiologi
7. Manifestasi klinis
8. Diagnosis banding
9. Algoritma diagnosis (anamnesis, pemfis, pemeriksaan penunjang)
10. Tatalaksana dan edukasi
11. Prognosis
12. Komplikasi
13. Pencegahan
14. SKDI