Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KEGIATAN

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK): STIMULASI SOSIALISASI PADA


KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL DI RUANG KATRILI
RSJ PROF. DR. V. L. RATUMBUYSANG MANADO

Disusun Oleh:

KELOMPOK 4

1. Rifal Raun, S.Kep 5. Ratna H. Adam, S.Kep.


2. Sugiyanto Umasugi, S.Kep 6. Nurhayati Hasan, S.Kep.
3. Sri Dewi R. Dudokia, S.Kep 7. Fachrudin Manoso, S.Kep.
4. Moetia Rahayu A. Manto, S.Kep.

Mengetahui
Preseptor

Ns. Robby Y. Engka, S,Kep.


NIP: 197911202006041010

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MUHAMMADIYAH MANADO
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain,
saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (Stuart dan Laraia, 2001. dalam
Keliat, 2004). Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus
ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif,
kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan,dan menarik (Yalom, 1995. dalam dalam Keliat,
2004). Semua kondisi ini akan memengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota
kelompok member dan menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang
terjadi dalam kelompok (Keliat, 2004).
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan
perawat kepada kelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di
dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan,
dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku lama yang maladaptive.
Tindakan keperawatan yang ditujukan pada sistem klien, baik secara individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat merupakan upaya menyeluruh dalam menyelesaikan
masalah klien. Terapi aktivitas kelompok merupakan terapi modalitas keperawatan untuk
ditujukan pada kelompok klien dengan masalah yang sama. Terapi aktivitas kelompok
yang dikembangkan adalah sosialisasi, stimulasi persepsi, stimulasi sensori, dan orientasi
realita (Keliat, 2004).
Atas dasar itu, saya melakukan terapi aktivitas kelompok sosialisasi (isolasi sosial)
dengan harapan klien dapat memperkenalkan diri pada orang lain.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Klien dapat bersosialisasi dengan sesama dan terlihat pada proses terapi aktivitas
kelompok.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat memperkenalkan diri dengan nama lengkap.
b. Klien dapat memperkenalkan diri dengan nama panggilan.
c. Klien dapat memperkenalkan diri dengan menyebutkan daerah asal.
d. Klien dapat menyebutkan hobi.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Isolasi Sosial

1. Pengertian Isolasi Sosial

Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan


atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien
mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain (Purba, dkk. 2008).

Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme


individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi
dengan orang lain dan lingkungan (Dalami, dkk. 2009).

Isolasi soaial adalah pengalaman kesendirian seorang individu yang diterima


sebagai perlakuan dari orang lain serta sebagai kondisi yang negatif atau mengancam
(Wilkinson, 2007).

Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena
orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Twondsend, 1998). Atau
suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak
mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak
diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak mampu
membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Budi Anna Kelliat, 2006 ). Menarik
diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain ( Pawlin, 1993 dikutip Budi Kelliat, 2001). Faktor
perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku
isolasi sosial. (Budi Anna Kelliat,2006).
2. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah:
1) Faktor Perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu
dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi, akan
menghambat masa perkembangan selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama
yang memberikan pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan
orang lain. Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari
ibu/pengasuh pada bayi, bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat
menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan tersebut dapat
mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain maupun lingkungan di
kemudian hari. Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak
tidak mersaa diperlakukan sebagai objek.
2) Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk
mengembangkan gangguan tingkah laku.
a) Sikap bermusuhan/hostilitas.
b) Sikap mengancam, merendahkan dan menjelek-jelekkan anak.
c) Selalu mengkritik, menyalahkan, anak tidak diberi kesempatan untuk
mengungkapkan pendapatnya.
d) Kurang kehangatan, kurang memperhatikan ketertarikan pada
pembicaananak, hubungan yang kaku antara anggota keluarga, kurang
tegur sapa, komunikasi kurang terbuka, terutama dalam pemecahan
masalah tidak diselesaikan secara terbuka dengan musyawarah.
e) Ekspresi emosi yang tinggi.
f) Double bind (dua pesan yang bertentangan disampaikan saat bersamaan
yang membuat bingung dan kecemasannya meningkat).
3) Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor
pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan oleh karena
norma-norma yang salah yang dianut oleh satu keluarga.seperti anggota tidak
produktif diasingkan dari lingkungan sosial.

4) Faktor Biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Insiden
tertinggi skizofrenia ditemukan pada keluarga yang anggota keluarga yang
menderita skizofrenia. Berdasarkan hasil penelitian pada kembar monozigot
apabila salah diantaranya menderita skizofrenia adalah 58%, sedangkan bagi
kembar dizigot persentasenya 8%. Kelainan pada struktur otak seperti atropi,
pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta perubahan struktur
limbik, diduga dapat menyebabkan skizofrenia.
b. Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor
internal maupun eksternal, meliputi:
1) Stressor Sosial Budaya.
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan,
terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah dengan
orang yang dicintai, kehilangan pasangan pada usia tua, kesepian karena
ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit atau dipenjara. Semua ini dapat
menimbulkan isolasi sosial.
2) Stressor Biokimia
Teori dopamine: Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik
serta tractus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan
meningkatkan dopamin dalam otak. Karena salah satu kegiatan MAO
adalah sebagai enzim yang menurunkan dopamin, maka menurunnya
MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
Faktor endokrin: Jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan pada pasien
skizofrenia. Demikian pula prolaktin mengalami penurunan karena
dihambat oleh dopamin. Hypertiroidisme, adanya peningkatan maupun
penurunan hormon adrenocortical seringkali dikaitkan dengan tingkah laku
psikotik.
Viral hipotesis: Beberapa jenis virus dapat menyebabkan gejala-gejala
psikotik diantaranya adalah virus HIV yang dapat merubah stuktur sel-sel
otak.

c) Stressor Biologik dan Lingkungan Sosial


Beberapa peneliti membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi
akibat interaksi antara individu, lingkungan maupun biologis.
d) Stressor Psikologis
Kecemasan yang tinggi akan menyebabkan menurunnya kemampuan
individu untuk berhubungan dengan orang lain. Intesitas kecemasan yang
ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu untuk
mengatasi masalah akan menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan
pada tipe psikotik.

3. Tanda dan Gejala


Menurut Purba, dkk. (2008) tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan
dengan wawancara, adalah:
a. Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b. Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c. Pasien mengatakan tidak ada hubungan yang berarti dengan orang lain.
d. Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
e. Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
f. Pasien merasa tidak berguna.
g. Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.

4. Akibat Yang Ditimbulkan


Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya perubahan persepsi
sensori halusinasi. Perubahan persepsi sensori halusinasi adalah persepsi sensori yang
salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi sensori yang tidak sesuai
dengan realita/ kenyataan seperti melihat bayangan atau mendengarkan suara-suara
yang sebenarnya tidak ada.
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera, di
mana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh
psikotik, gangguan fungsional, organik atau histerik. Halusinasi merupakan
pengalaman mempersepsikan yang terjadi tanpa adanya stimulus sensori eksternal
yang meliputi lima perasaan (pengelihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman,
perabaan), akan tetapi yang paling umum adalah halusinasi pendengaran.

5. Pohon Masalah
6. Penatalaksanaan
A. Terapi Psikofarmaka.
1. Chlorpromazine.
2. Haloperidol (HLP).
3. Trihexyphenidil (THP)
B. Terapi Individu.
C. Terapi Kelompok

B. Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)


1. Pengertian TAK
Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu upaya untuk memfasilitasi
psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau dan
meningkatkan hubungan antar anggota (Depkes RI, 1997).
Terapi aktivitas kelompok adalah aktivitas membantu anggotanya untuk
identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah tingkah laku yang maladaptive
(Stuart & Sundeen, 1998).
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan
yang sama. Aktivitas digunakan sebagi terapi, dan kelompok digunakan sebagai target
asuhan (Kelliat, 2005).

2. Tujuan TAK
Depkes RI (1997) mengemukakan tujuan terapi aktivitas kelompok secara
rinci sebagai berikut:
a. Tujuan umum
1) Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan yaitu memperoleh
pemahaman dan cara membedakan sesuatu yang nyata dan khayalan.
2) Meningkatkan sosialisasi dengan memberikan kesempatan untuk berkumpul,
berkomunikasi dengan orang lain, saling memperhatikan memberikan
tanggapan terhadap pandapat maupun perasaan orang lain.
3) Meningkatkan kesadaran hubungan antar reaksi emosional diri sendiri
dengan prilaku defensif yaitu suatu cara untuk menghindarkan diri dari rasa
tidak enak karena merasa diri tidak berharga atau ditolak.
4) Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti
fungsi kognitif dan afektif.
b. Tujuan khusus
1) Meningkatkan identifikasi diri, dimana setiap orang mempunyai identifikasi
diri tentang mengenal dirinya di dalam lingkungannya.
2) Penyaluran emosi, merupakan suatu kesempatan yang sangat dibutuhkan
oleh seseorang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Di dalam kelompok
akan ada waktu bagi anggotanya untuk menyalurkan emosinya untuk
didengar dan dimengerti oleh anggota kelompok lainnya.
3) Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk kehidupan sehari-hari,
terdapat kesempatan bagi anggota kelompok untuk saling berkominikasi
yang memungkinkan peningkatan hubungan sosial dalam kesehariannya.
BAB III
ISI

A. Konsep TAK
1. Kriteria anggota kelompok
a. Klien yang mengikuti TAK adalah klien dengan isolasi sosial.
b. Klien tenang dan kooperatif
c. Klien yang dirawat di Ruang Rawat Inap Katrili
d. Keadaan fisik klien sehat dan baik.
2. Proses seleksi
a. Perawat mengidentifikasi jenis TAK yang akan diberikan yaitu TAK Isolasi
Sosial.
b. Perawat mengidentifikasi masalah keperawatan klien yaitu klien dengan Isolasi
Sosial.
c. Perawat mengidentifikasi jumlah klien dengan isolasi sosial.
3. Uraian struktur kelompok
a. Tempat Pertemuan : Ruangan Rehabilitasi
b. Hari/Tanggal/Jam : Kamis/ 22 Desember 2016/ Pkl 09.30 WITA s/d
Selesai.
c. Lama : 45 menit
d. Jumlah Anggota : 6 orang
e. Perilaku yang Diharapkan : Peserta dapat memperkenalkan diri pada orang lain
f. Metode : Diskusi dan dinamika kelompok
g. Alat yang Digunakan : Bola, name tag, speaker, laptop, kertas karton, spidol.
h. Pengorganisasian :
1) Leader : Sugiyanto Umasugi, S.Kep.
Tugas:
a) Menyusun rencana aktifitas kelompok (proposal)
b) Mengarahkan kelompok dalam mencapai tujuan
c) Memfasilitasi setiap anggota untuk mengekspresikan perasaan, mengajukan
pendapat dan memberikan umpan balik
d) Sebagai role model
e) Memotivasi anggota untuk mengemukakan pendapat dan memberikan umpan
balik, mengungkapkan perasaan dan pikiran
f) Menciptakan suasana dimana anggotanya dapat menerima perbedaan dalam
perasaan dan perilaku dengan anggota lain
g) Membuat tata tertib bagi anggota kelompok demi kelancaran diskusi
2) Observer sekaligus operator: Rifal Raun, S.Kep.
Tugas :
a) Mengobservasi setiap respon klien.
b) Mencatat semua proses yang terjadi dan semua perubahan perilaku klien.
c) Memberikan umpan balik pada kelompok.
d) Mengatur sound dan music.

3) Fasilitator: Sri Dewi Rahayu Dodokia, S.Kep., Fachrudin Manoso, S.Kep.,


Nurhayati Hasan, S.Kep., Ratna H. Adam, S.Kep., Moetia Rahayu A. Manto,
S.Kep.
Tugas :
a) Membantu klien meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus di lakukan.
b) Mendampingi peserta TAK.
c) Memotivasi klien untuk aktif dalam kelompok.
d) Mendampingi klien dalam pelaksanaan TAK.
e) Mengingatkan klien tentang aturan permainan.,
f) Mengikuti jalanya TAK.

i. Setting Tempat :
Keterangan :

: Leader : Fasilitator

: Observer : Klien
BAB IV
TERAPI SOSIALISASI (ISOLASI SOSIAL)

1. Tujuan
Klien dapat memperkenalkan diri kepada orang lain.

2. Setting
3) Terapis dan klien berdiri bersama.
4) Ruangan nyaman dan tenang.

3. Alat
a. Karton putih
b. Spidol
c. Buku catatan
d. LapTop
e. Bola
f. Sound Sistem
g. Cok Roll

4. Metode
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
c. Permainan

5. Proses Pelaksanaan
a. Tahap Persiapan
a) Terapis memilih klien sesuai dengan indikasi
b) Terapis membuat kontrak dengan klien
c) Terapis mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
d) Peserta dan Terapis memakai name tag
b. Tahap Orientasi
a. Salam dari terapis kepada klien
b. Peserta memakai papan nama yang akan ditulis sesuai dengan nama panggilan
yang disenangi oleh masing-masing peserta kegiatan.
c. Evaluasi/ Validasi
Terapis menanyakan perasaan klien saat ini.

d. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu memperkenalkan diri.
2. Terapis menjelaskan aturan main yaitu :
a) Bila ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
fasilitator.
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
e. Tahap Kerja
1. Jelaskan kegiatan yaitu musik akan dihidupkan serta bola diedarkan dengan
arah jarum jam (dari kanan ke kiri) dan pada saat music dimatikan yang
memegang bola mendapatkan giliran untuk memperkenalkan diri.
2. Hidupkan musik dan edarkan bola sesuai dengan arah jarum jam.
3. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat
giliran untuk mempraktekan memperkenalkan diri dengan cara:
a. Memberi salam
b. Menyebutkan nama lengkap
c. Menyebutkan nama panggilan
d. Menyebutkan daerah asal.
e. Menyebutkan hobi
Dengan leader ikut pada putaran pertama dan mendapat giliran pertama yaitu
leader dan leader mencontohkan memperkenalkan diri, kemudian dilanjutkan
pada peserta terapi aktivitas kelompok sosialisasi. Pada peserta kegiatan yang
telah memperkenalkan diri untuk masing-masing fasilitator memberikan
papan nama sesuai dengan nama panggilan yang disenanginya.
4. Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan member
tepuk tangan serta reward positifn untuk klien.
5. Ulangi langkah 1, 2, 3, dan 4 sampai semua anggota kelompok mendapatkan
giliran.
F. Tahap Terminasi
1. Evaluasi respon subjektif
Meminta beberapa klien mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti terapi
dan memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
2. Evaluasi respon objektif
a. Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih untuk memperkenalkan diri
kepada orang lain di kehidupan sehari-hari.
b. Memasukan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal kegiatan klien

3. Tindak lanjut
a. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu berkenalan dengan anggota kelompok
b. Menyepkati waktu dan tempat pelaksanaan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi berikutnya.
4. Kontrak yang akan datang

6. Jalannya Strategi pelaksanaan


a. Orientasi
Salam Terapeutik
Leader: Selamat pagi semuanya! Perkenalkan nama saya Sugiyanto Umasugi, saya
biasa dipanggil Sugi, saya dari STIKES Muhammadiyah Manado yang akan
memimpin jalannya permainan sampai dengan selesai.

b. Evaluasi/ validasi
Leader : Bagaimana perasaan pagi ini?
Leader : Bagaimana tidurnya tadi malam?

c. Kontrak
Leader : Pagi ini kita akan melakukan suatu kegiatan, tujuannya agar semuanya
dapat memperkenalkan diri dengan anggota kelompok yang lain.
Leader : Apabila ada yang ingin BAK ataupun ingin minum, harus memberi tahu
saya dulu ataupun pada perawat disebelah kalian dengan cara menunjuk
tangan tapi jangan lupa untuk kembali lagi kesini.
Leader : Lama kegiatan kita ini adalah 45 menit dan semuanya harus mengikuti dari
awal hingga akhir.

d. Tahap Kerja
Leader : Kita akan membuat suatu kegiatan. Disini saya mempunyai sebuah bola
dan musik. Nanti bola ini akan saya edarkan berlawanan dengan arah jarum
jam. Bila musiknya berhenti maka siapa yang memegang bola, maka dia
harus memperkenalkan dirinya yaitu dengan menyebutkan nama lengkap,
nama panggilan, asal dan hobi.
Leader : Apakah sudah bisa mengerti semuanya?
Leader : Jika sudah mengerti kita akan memulai kegiatan ini!.
e. Tahap Terminasi
- Evaluasi
Leader : Nah, bagaimana perasaannya setelah mengikuti kegiatan ini?.
Leader : Apakah masih ada yang ingin memperkenalkan diri lagi?
Leader :Wah... bagus sekali, ternyata semuanya sudah bisa memperkenalkan dirinya
masing-masing dengan baik.

- Rencana Tindak Lanjut


Leader : Semuanya jangan lupa yah untuk memperkenalkan diri dengan teman-
teman yang lain diruangan nanti .

f. Kontrak yang akan datang


Leader : Baiklah karena waktu kita sudah habis jadi pertemuan kita sampai disini
dulu. Terima kasih ya semuanya.

BAB V

PENUTUP

Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
sosialisasi isolasi sosial, kemampuan yang diharapkan adalah klien dapat memperkenalkan
diri kepada orang lain.
Formulir evaluasi sebagai berikut:

Stimulasi sosialisasi : Memperkenalkan diri


a. Kemampuan Verbal
No Aspek yang dinilai Inisial Klien
Tn. Tn.
Tn. H Tn. T Tn.W Tn. J
A.G D.Y
1 Menyebutkan nama

lengkap
2 Menyebutkan nama

panggilan
3 Menyebutkan daerah

asal
4 Menyebutkan hobi
Jumlah 4 4 4 4 4 4

b. Kemampuan Non Verbal


Inisial Klien
No Aspek yang dinilai Tn. Tn.
Tn. H Tn. T Tn. W Tn. J
A.G D.Y
1 Kontak mata
2 Berdiri tegak
Menggunakan bahasa
3 x x x
tubuh yang sesuai
Mengikuti kegiatan
4
dari awal sampai akhir
Jumlah 3 3 4 4 4 3

Kesimpulan:
Berdasarkan TAK sesi 1 semua peserta lolos dalam sesi pertama TAK Sosialisasi dengan
kriteria baik dari penilaian verbal maupun non verbal dengan nilai atau skor 3 dinyatakan
lolos dan dibawah nilai 3 dinyatakan tidak lolos ketahap selanjutnya.
Petunjuk:
1. Untuk tiap klien semua aspek dinilai dengan memberi tanda jika ditemukan pada
klien atau tanda x jika tidak ditemukan.
2. Jumlah kemampuan yang ditemukan, jika nilai 3 atau 4 klien mampu, dan jika nilai
0,1, atau 2 klien belum mampu.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta:
DirjenYanmed

Herawaty, Netty. 1999. Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta : EGC.

Keliat, Budi Anna dan Akemat. 2004. Keperawatan Jiwa: terapi aktivitas kelompok. Editor:
Monica Ester. Jakarta: EGC

Stuart, Gail Wiscart & Sandra J. Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi
3. Jakarta : EGC

Yosep, Iyus . 2007. Keperawatan Jiwa . Bandung: Refika Aditama


DOKUMENTASI